
Kota Dua Dunia
Konstantinopel, Juli 1908
Dari jendela lantai dua Kementerian Keuangan, Kemal Rauf dapat melihat dua Konstantinopel sekaligus. Di sebelah selatan, kubah Aya Sofya dan Masjid Sultan Ahmed bertumpuk di atas rumah-rumah kayu Semenanjung Bersejarah. Menara-menara masjid berdiri menembus kabut pagi. Burung camar berputar di atas Tanduk Emas, mengikuti kapal-kapal kecil yang membawa sayuran, ikan, arang, kain, serta manusia dari Üsküdar, Kadıköy, dan desa-desa di sepanjang Bosporus.
Di sebelah utara, melewati Jembatan Galata, tampak kota yang lain. Gedung bank, kantor perusahaan pelayaran, rumah dagang, perusahaan asuransi, dan konsulat asing memenuhi jalan-jalan menanjak menuju Pera. Papan nama berbahasa Prancis, Inggris, Yunani, Italia, dan Armenia tergantung di atas toko. Di sanalah wesel diperdagangkan, obligasi ditawarkan, pengiriman diasuransikan, dan nilai kekaisaran diterjemahkan ke dalam angka yang dapat dibaca para bankir di London serta Paris.

Di antara kedua kota itu mengalir Tanduk Emas. Airnya sama. Benderanya sama. Namun uangnya bergerak menuju pusat kekuasaan yang berbeda. Kemal berdiri di depan jendela sambil membawa setumpuk buku besar. Usianya belum genap tiga puluh tahun. Tubuhnya kurus, wajahnya panjang, dan kumisnya baru tumbuh cukup lebat untuk membuatnya tampak seperti pegawai tetap, bukan mahasiswa yang tersesat di antara arsip negara.

Ia telah bekerja selama lima tahun sebagai juru tulis tingkat dua di Kementerian Keuangan Ottoman. Tugasnya tidak penting: menyalin angka penerimaan, memeriksa cap, membandingkan laporan provinsi, serta memastikan jumlah dalam satu kolom sama dengan jumlah dalam halaman berikutnya.
Namun pekerjaan kecil mempunyai satu kelebihan. Orang-orang penting jarang memperhatikan pegawai yang hanya memindahkan angka. Karena itulah Kemal dapat melihat hal-hal yang tidak lagi diperhatikan para atasannya. Pagi itu ia membawa laporan bea pelabuhan Salonika, pendapatan garam dari Anatolia, cukai alkohol, pajak sutra Bursa, serta pendapatan tembakau dari beberapa provinsi.
Semua laporan tersebut seharusnya masuk ke dalam buku penerimaan negara. Namun sebagian angka diberi garis tinta merah. Di samping garis itu terdapat huruf kecil: Düyun-u Umumiye. Administrasi Utang Publik Ottoman. Kemal meletakkan buku-buku itu di atas mejanya. Ruangan tempatnya bekerja panjang dan sempit. Lemari arsip menjulang hingga mendekati langit-langit. Bau kertas tua, debu, tinta, dan kelembapan dari laut bercampur dengan asap rokok para pegawai.
Kipas di langit-langit berputar lambat. Setiap putaran hanya memindahkan udara panas dari satu sudut ke sudut lain. Di luar pintu, seorang pelayan berjalan membawa gelas-gelas kecil berisi teh hitam. Dari halaman terdengar derap kuda, teriakan kusir, dan bunyi roda kereta menghantam batu jalan.
Kemal membuka laporan pertama. Pendapatan garam tidak langsung masuk ke kas kementerian. Sebagian telah dialokasikan kepada Administrasi Utang Publik. Pendapatan tembakau berada di bawah pengelolaan Régie, perusahaan monopoli yang dibentuk untuk menjamin pembayaran kepada kreditur. Bea meterai, pajak alkohol, pajak perikanan, dan sebagian pendapatan sutra juga telah mempunyai tujuan sebelum uangnya tiba.
Ia mengambil selembar kertas kosong, lalu membuat dua kolom.
Di sebelah kiri ia menulis: Pendapatan Kekaisaran. Di sebelah kanan: Pendapatan yang Masih Dapat Digunakan Kekaisaran. Setelah satu jam, kolom kanan terlihat jauh lebih pendek. “Jangan terlalu lama menatap angka,” terdengar suara dari belakang. “Angka tidak akan berubah hanya karena kau merasa kasihan kepadanya.”
Kemal menoleh. Hasan Tevfik Efendi, kepala bagiannya, berdiri di ambang pintu. Lelaki itu berusia hampir enam puluh tahun. Janggutnya telah memutih, tetapi matanya tetap tajam. Ia mengenakan jas panjang berwarna gelap, rompi, dan fez merah yang sedikit miring ke kanan. Hasan Tevfik telah bekerja di kementerian sejak sebelum Kemal lahir. Ia mengenal sejarah keuangan kekaisaran bukan dari buku, melainkan dari perubahan bentuk formulir, cap, dan bahasa yang digunakan untuk menyembunyikan keadaan sebenarnya.
Kemal menunjuk garis merah pada laporan. “Pendapatan ini milik negara.”
“Benar.”
“Namun negara tidak dapat menggunakannya.”
“Juga benar.”
“Kalau begitu, milik siapa?”
Hasan Tevfik menutup pintu sebelum menjawab. “Secara hukum, milik kekaisaran. Secara kontrak, milik kreditur sampai kewajiban tertentu dibayar.”
“Bagaimana sesuatu dapat menjadi milik kita kalau kita tidak bebas menggunakannya?”
“Pertanyaan semacam itu membuat karier pegawai negeri menjadi pendek.”
Kemal mendorong kedua kolom buatannya ke arah sang atasan.
“Garam, tembakau, alkohol, bea meterai, perikanan, dan sutra. Mereka tidak hanya memegang obligasi. Mereka memegang sumber pembayarannya.”
Hasan Tevfik mengamati catatan tersebut. “Mereka tidak memungut seluruh pajak kekaisaran.”
“Tidak perlu seluruhnya. Cukup yang paling mudah dipungut dan paling sulit disembunyikan.”
Untuk pertama kalinya pagi itu, Hasan Tevfik tersenyum. Bukan senyum bangga, melainkan senyum seorang guru yang mendapati muridnya telah sampai pada kesimpulan yang seharusnya tidak menyenangkan. “Duduklah,” katanya.
Kemal duduk di kursi kayu. Hasan Tevfik menarik kursi di hadapannya, kemudian membuka buku besar yang sampulnya telah retak. “Ketika aku masih seusiamu,” katanya, “aku juga percaya kekaisaran kehilangan kedaulatannya pada saat tentara asing memasuki kota. Ternyata aku salah. Kadang kedaulatan hilang ketika seorang pejabat menandatangani daftar pendapatan yang telah dijanjikan kepada orang lain.”
Ia membalik beberapa halaman. “Tahukah kau kapan kita mengambil pinjaman luar negeri pertama?”
“Perang Krimea. Tahun 1854.”
“Dan untuk apa?”
“Membiayai perang melawan Rusia.”
“Jawaban resmi.”
Hasan Tevfik menunjuk angka-angka pada halaman. “Perang membutuhkan uang tunai. Tentara harus digaji setiap bulan. Senapan, mesiu, seragam, gandum, kuda, dan kapal tidak dapat dibayar dengan janji bahwa pajak akan tiba setelah panen. Kekaisaran mempunyai tanah luas dan jutaan rakyat, tetapi kas pusat selalu menunggu uang dari provinsi.”
Ia mengangkat satu jari. “Di atas peta, negara kita kaya.”
Kemudian jari kedua. “Di dalam kas, kita miskin.”
Kemal melihat angka pinjaman itu. Obligasi diterbitkan dengan nilai nominal tertentu, tetapi uang yang benar-benar diterima kekaisaran lebih kecil. Sebagian hilang melalui diskonto, komisi, biaya penjaminan, serta pembayaran kepada perantara.
“Kalau obligasi bernilai seratus,” kata Kemal, “mengapa kas hanya menerima enam puluh atau tujuh puluh?”
“Karena pasar menganggap kita berisiko.”
“Tetapi bunga dihitung atas seratus.”
“Tentu.”
“Itu berarti bunga efektifnya jauh lebih tinggi daripada kupon yang tertulis.”
Hasan Tevfik mengangguk. “Sekarang kau mulai memahami mengapa bankir lebih menyukai aritmetika daripada meriam.”
Ia mengambil pensil dan menulis di tepi kertas: Nilai nominal obligasi: 100 Uang bersih yang diterima negara: 65 Kupon tahunan: 6. “Dalam pidato,” katanya, “bunga utang itu hanya enam persen. Sebab kupon dihitung dari angka seratus yang tertulis pada obligasi. Tetapi negara tidak pernah menerima seratus. Setelah diskonto, komisi, dan biaya penempatan, yang masuk ke kas hanya enam puluh lima.”
Kemal menghitung cepat. “Berarti enam dibagi enam puluh lima. Lebih dari sembilan persen.”
“Itu baru hasil kupon terhadap uang yang sungguh-sungguh diserahkan bankir.”
“Belum biaya lainnya?”
“Belum. Dan belum pula keuntungan ketika obligasi dilunasi.”
“Ketika jatuh tempo, negara membayar enam puluh lima?”
Hasan Tevfik menggeleng. “Seratus.”
Kemal terdiam.
“Jadi negara menerima enam puluh lima, membayar bunga enam setiap tahun, kemudian mengembalikan seratus?”
“Benar. Karena itu kuponnya memang enam persen, tetapi biaya utangnya jauh lebih mahal..”
Dalam bahasa para bankir sekarang, angka sebenarnya disebut yield to maturity
Ia meletakkan pensil. “Pemerintah menjual utang dengan bahasa persentase. Bankir menghitungnya dengan arus kas.”
Kemal kembali memandang Tanduk Emas. Sebuah kapal uap menarik tongkang yang dipenuhi peti. Bendera Ottoman berkibar di buritannya. Di belakang kapal itu tampak menara Galata dan bangunan-bangunan bank yang berjajar di perbukitan. “Namun mengapa pemerintah menyetujuinya?”
“Karena pada hari pinjaman ditandatangani, masalah yang harus diselesaikan selalu terasa lebih mendesak daripada bunga yang harus dibayar sepuluh tahun kemudian.”
Hasan Tevfik bangkit dan berjalan menuju lemari. Ia mengeluarkan sebuah koin tembaga tua, hitam di pinggirnya, lalu meletakkannya di atas meja. “Kau tahu ini?”
Kemal mengambilnya. “Mangır.”
“Uang tembaga. Nilainya kecil. Tetapi benda kecil kadang dapat menjelaskan keruntuhan kerajaan lebih baik daripada mahkota.”
Koin itu terasa ringan di telapak tangan Kemal. Tulisan Arab Ottoman di permukaannya telah aus. Ia dapat melihat sisa tuğra sultan, tetapi tahun pencetakannya hampir tidak terbaca.
“Setelah perang besar pada akhir abad ketujuh belas,” kata Hasan Tevfik, “negara memerlukan uang. Perak tidak cukup. Pemerintah mencetak uang tembaga dan menetapkan nilai resminya. Negara berkata dua keping mempunyai nilai tertentu. Namun pedagang menghitung berapa nilai tembaga di dalamnya.”
“Nilai nominal melawan nilai logam.”
“Lebih tepatnya, perintah negara melawan kepercayaan pasar.”
Ketika koin tembaga dicetak dalam jumlah besar, lanjutnya, nilainya merosot. Pemalsuan berkembang. Pedagang mulai menolak menerima uang berdasarkan nilai resmi. Mereka meminta perak atau menaikkan harga barang.
“Negara memiliki percetakan uang,” kata Hasan Tevfik. “Pedagang memiliki barang yang ingin dibeli rakyat. Menurutmu siapa yang menang?”
“Pedagang.”
“Bukan karena mereka lebih bermoral. Karena mereka dapat menolak transaksi.”
Hasan Tevfik mengambil kembali koin itu. “Tembaga tidak menjatuhkan kekaisaran. Tidak pernah ada satu kartel tembaga yang datang membawa surat dan mengalahkan Sultan. Namun perdagangan tembaga memperlihatkan perubahan yang lebih besar. Negara menguasai tambang, tetapi pedagang menguasai kapal. Negara menetapkan harga, tetapi pedagang mengetahui harga di Venesia, Livorno, Amsterdam, dan London. Negara mempunyai cap, tetapi pedagang mempunyai wesel, asuransi, gudang, serta jaringan pembayaran.”
“Jadi pihak yang memiliki barang belum tentu menguasai perdagangan.”
“Benar. Kekuasaan tidak selalu berada pada orang yang memiliki tembaga. Ia berada pada orang yang dapat membiayai pengiriman tembaga, mengasuransikan kapal, menentukan pasar penjualan, dan menunggu pembayaran.”
Di luar ruangan terdengar lonceng telepon. Seorang pegawai berlari melewati koridor sambil membawa telegram. Dari Makedonia, pikir Kemal. Selama beberapa minggu terakhir, telegram datang lebih sering. Perwira-perwira di Salonika dan Manastır bergerak menuntut pemulihan konstitusi 1876 yang telah dibekukan Sultan Abdul Hamid II.
Namun Hasan Tevfik belum selesai. “Dahulu pedagang asing datang membeli barang dari kita,” katanya. “Kemudian mereka mulai memberi kredit kepada pedagang lokal. Setelah itu mereka membiayai pemungut pajak, gubernur, bahkan pejabat istana. Mereka memindahkan uang antarprovinsi dengan wesel ketika negara tidak sanggup memindahkannya cukup cepat.”
“Lalu pedagang menjadi bankir.”
“Dan ketika negara mulai bergantung kepada bankir, bankir tidak lagi hanya bertanya berapa banyak tembaga yang tersedia. Ia bertanya berapa pendapatan bea cukai yang dapat dijadikan jaminan.”
Hasan Tevfik berjalan kembali ke meja dan membuka peta besar. Peta itu menunjukkan jalur perdagangan dari Anatolia menuju pelabuhan Laut Tengah, Laut Hitam, dan Konstantinopel. Titik-titik tinta menandai tambang, gudang, tempat penimbangan, serta kantor bea.
Di dekat beberapa wilayah penghasil tembaga terdapat catatan mengenai harga resmi pemerintah. “Negara membeli barang strategis dengan harga yang ditetapkan,” katanya. “Tembaga dibutuhkan untuk persenjataan, peralatan, dan pencetakan uang. Gandum diperlukan bagi ibu kota dan tentara. Kulit untuk sepatu. Bahan tertentu untuk mesiu. Pemerintah memaksa produsen menjual melalui saluran resmi dengan harga rendah.”
“Supaya biaya negara murah.”
“Ya. Tetapi harga rendah menciptakan penyelundupan. Pedagang menawarkan harga lebih tinggi. Produsen menyembunyikan hasil. Pejabat menerima bagian. Barang yang seharusnya masuk gudang negara keluar melalui pelabuhan lain.”
Kemal mengikuti garis pada peta. “Pemerintah mempunyai kekuasaan menetapkan harga, tetapi tidak memiliki cukup petugas untuk mengawasi seluruh jalur.”
“Dan petugas yang tidak cukup dibayar mudah menjadi mitra pedagang.” Ia menunjuk Galata. “Di sana harga tidak ditentukan oleh dekret. Harga ditentukan oleh kabar mengenai panen, perang, permintaan, ongkos kapal, asuransi, serta ketersediaan kredit. Ketika pemerintah memerlukan komoditas, ia harus membeli dari pasar yang sebelumnya coba dikendalikannya.”
Kemal melihat keseluruhan pola itu. Negara menekan harga untuk menghemat uang. Harga rendah mendorong penyelundupan. Penyelundupan memperkuat pedagang. Pedagang mengumpulkan modal. Modal digunakan untuk memberikan pinjaman kepada pejabat. Pejabat menjaminkan penerimaan pajak. Hak atas pendapatan negara perlahan berubah menjadi aset yang diperdagangkan.
“Pajak pun menjadi komoditas,” katanya.
Hasan Tevfik mengangguk. “Hak memungut pajak dilelang. Pemodal membayar uang di muka kepada pemerintah, kemudian memungutnya kembali dari rakyat. Bagi kas, itu menghasilkan likuiditas segera. Bagi pemodal, itu menghasilkan keuntungan. Bagi petani, itu berarti berhadapan dengan orang yang harus memperoleh kembali modal, bunga, dan laba.”
“Dan kalau pemerintah kembali kekurangan uang?”
“Ia menjual hak atas pendapatan berikutnya.”
Kemal menutup mata sesaat. “Masa depan dipakai untuk membayar hari ini.”
“Itulah definisi utang yang paling jujur.”
Menjelang tengah hari, panas menekan kota. Bau ikan dari dermaga bercampur dengan kotoran kuda dan asap batu bara. Kemal meninggalkan kementerian membawa dua gulungan peta di bawah lengan.
Ia berjalan melewati jalan-jalan sempit menuju Eminönü. Para pedagang berteriak menawarkan rempah-rempah, kain, kopi, sabun, minyak, dan perkakas dari Eropa. Kuli pelabuhan memikul peti bertuliskan nama perusahaan asing. Seorang penjual air berjalan sambil membunyikan cangkir kuningan. Di depan sebuah toko, Kemal melihat kain buatan Manchester ditumpuk tinggi. Warnanya cerah, ukurannya seragam, dan harganya lebih murah daripada kain tenunan bengkel lokal.
Seorang pembeli memeriksa ujung kain dengan jarinya. “Buatan Inggris,” kata pemilik toko dengan bangga. “Lebih halus dan tahan lama.”
Beberapa pintu dari sana, seorang penenun Ottoman duduk di depan toko yang hampir kosong. Ia menjual kain buatan keluarganya. Harganya lebih mahal karena dikerjakan dengan alat sederhana dan diproduksi dalam jumlah kecil. Kemal berhenti sebentar.
Kekaisaran mengekspor kapas, membeli kain, lalu meminjam uang untuk menutup kekurangan penerimaan dari industri yang tidak pernah tumbuh cukup besar. Bahan mentah meninggalkan pelabuhan. Barang jadi kembali melalui pelabuhan yang sama. Selisih nilainya tinggal di Manchester, Marseille, atau London. Selisih itu kemudian kembali ke Konstantinopel dalam bentuk pinjaman. Mereka menjual kapas kepada Eropa dengan harga komoditas. Mereka membeli kain dari Eropa dengan harga industri. Setelah itu mereka meminjam surplus yang diperoleh Eropa dari perdagangan tersebut dan membayar bunga atasnya.
Kemal merasa sedang melihat mesin yang sempurna. Mesin itu tidak memerlukan konspirasi. Setiap pihak cukup mengejar kepentingannya sendiri. Pedagang mencari laba. Bankir mencari bunga. Pemerintah mencari uang tunai. Pejabat mencari ketenangan sampai akhir masa jabatannya. Hasil akhirnya tetap sama: kekaisaran bekerja lebih keras, tetapi ruang keputusannya semakin sempit.
Ia menyeberangi Jembatan Galata. Di bawahnya, perahu-perahu kecil berdesakan di permukaan air. Pemancing berdiri sepanjang pagar. Kereta kuda, pedagang, pegawai konsulat, tentara, pelaut, pengemis, dan wisatawan Eropa bergerak dalam arus yang hampir tidak pernah berhenti. Di ujung utara jembatan, suasana kota berubah. Bank-bank berdiri dengan dinding batu tebal, pintu tinggi, dan jendela besar. Di dalamnya terdapat meja kasir, mesin hitung, brankas, kabel telegraf, serta pegawai yang mampu mengubah kabar perang di Balkan menjadi perubahan harga obligasi dalam hitungan menit.
Kemal berhenti di depan kantor sebuah bank asing. Di balik kaca, papan kecil menampilkan harga surat utang Ottoman. Nilainya naik dan turun menurut kabar mengenai Makedonia. Seorang sultan menerima laporan pemberontakan di istana. Seorang bankir di Galata mengubah harga obligasi. Seorang pedagang di London membaca telegram dan meminta imbal hasil lebih tinggi.
Ketakutan politik mempunyai harga. Dan harga itu akhirnya dibayar dari pajak rakyat yang mungkin tidak pernah mendengar nama London.
Di seberang kota, di perbukitan Beşiktaş, Istana Yıldız berdiri di balik tembok tinggi, taman, paviliun, pos penjagaan, dan gerbang besi. Sultan Abdul Hamid II menerima telegram dari Makedonia di ruang kerjanya. Lampu kristal tetap menyala meskipun matahari belum sepenuhnya tenggelam. Tirai berat menutup sebagian jendela. Peta Balkan terbuka di atas meja. Titik-titik merah menandai garnisun, jalur kereta, serta kota-kota tempat para perwira mulai membangkang.
Seorang ajudan berdiri beberapa langkah di belakang Sultan. Ia menunggu tanpa bergerak. Di luar ruangan, pelayan berjalan hampir tanpa suara. Dari paviliun lain terdengar musik kamar dimainkan untuk tamu istana.
Abdul Hamid membaca telegram itu dua kali. Perwira di Resna telah bergerak ke pegunungan. Unit-unit lain di Salonika dan Manastır menunjukkan simpati. Mereka menuntut agar konstitusi dipulihkan. Sultan meletakkan telegram dan memandang peta. Selama tiga puluh tahun, ia memerintah melalui jaringan laporan, polisi rahasia, penunjukan pejabat, serta keseimbangan antara Rusia, Inggris, Prancis, Jerman, dan Austria-Hungaria.
Ia tidak menganggap dirinya tiran. Ia menganggap dirinya penjaga terakhir sebuah rumah besar yang seluruh penghuninya sedang mencoba merobohkan dinding untuk membangun kamar masing-masing. Bangsa Armenia menuntut perlindungan dan reformasi. Kelompok nasionalis Balkan menghendaki kemerdekaan. Perwira muda menuntut konstitusi. Kreditur Eropa menuntut pembayaran. Setiap kekuatan asing berbicara tentang perdamaian sambil menghitung wilayah yang mungkin diperolehnya jika kekaisaran terpecah.
Sultan tidak sepenuhnya salah ketika merasa dikepung. Masalahnya, orang yang dikepung terlalu lama akhirnya tidak mampu lagi membedakan penasihat dengan musuh, kritik dengan pengkhianatan, serta perubahan dengan penyerahan.
“Berapa banyak pasukan yang masih setia?” tanyanya.
Ajudan menyebutkan beberapa angka.
“Dan jalur kereta?”
“Masih terbuka, Paduka.”
“Telegram?”
“Masih berada di bawah pengawasan.”
Abdul Hamid mengangguk. Selama rel, telegram, dan tentara masih mematuhi perintah, negara tampak dapat dikendalikan. Namun ia tidak melihat peta lain yang sedang dibentangkan Kemal Rauf di sebuah kamar sewaan kecil tidak jauh dari Süleymaniye.
Malam turun di Konstantinopel. Dari jendela kamarnya, Kemal melihat lampu-lampu kapal di Tanduk Emas. Suara azan terakhir berbaur dengan lonceng gereja, musik dari kedai Pera, dan peluit kapal uap.
Di atas lantai, ia membentangkan dua peta. Peta pertama adalah peta resmi ibu kota. Di sana terdapat Istana Yıldız, kementerian, barak, pelabuhan, kantor telegraf, gudang persenjataan, masjid, dan jalur kereta. Peta itu memperlihatkan kekuasaan sebagaimana ingin dilihat negara. Peta kedua dibuatnya sendiri. Di atasnya, Kemal menandai penerimaan yang telah dijaminkan, monopoli yang dikelola untuk pembayaran kreditur, kantor bank, perusahaan pelayaran, perusahaan asuransi, jaringan pedagang, dan gedung Administrasi Utang Publik. Peta itu memperlihatkan kekuasaan sebagaimana uang benar-benar bergerak.
Pada peta pertama, pusat kekaisaran berada di Istana Yıldız. Pada peta kedua, tidak ada satu pusat. Kekuasaan tersebar di antara Galata, kantor Administrasi Utang Publik, pelabuhan, ruang direksi bank, pasar obligasi Paris, dan rumah-rumah keuangan London.
Kemal menancapkan ujung pensil pada gambar istana. Ia menarik garis menuju kementerian. Dari kementerian menuju kantor utang. Dari kantor utang menuju pelabuhan. Dari pelabuhan menuju Galata. Dari Galata, garis itu keluar dari peta. Ia teringat koin tembaga Hasan Tevfik.
Sultan dapat mencetak tuğranya di atas logam dan menyatakan bahwa benda itu mempunyai nilai. Namun nilai hanya bertahan selama pasar, pedagang, dan rakyat bersedia mempercayainya. Demikian pula sebuah dinasti. Ia dapat menempatkan bendera di atas istana, potret Sultan di kantor, dan pasukan di jalan. Tetapi kekuasaan hanya bertahan selama perintahnya masih dapat dibiayai, dilaksanakan, dan dipercaya.
Dari sebuah kedai kopi di jalan bawah terdengar suara orang berdebat tentang konstitusi. Seseorang menyebut kebebasan. Yang lain menyebut pengkhianatan. Seorang mahasiswa berteriak bahwa negara harus dikembalikan kepada rakyat. Seorang lelaki tua menjawab bahwa rakyat tidak dapat membayar tentara. Kemal menutup jendela, tetapi suara itu tetap terdengar. Ia kembali duduk di antara kedua peta.
Di Istana Yıldız, lampu kristal masih menyala. Para pelayan masih berjalan tanpa suara. Musik masih dimainkan. Penjaga masih berdiri di gerbang. Bendera kekaisaran masih berkibar di atas bangunan. Namun garam telah mempunyai penagihnya. Tembakau telah mempunyai pengelolanya. Pajak sutra telah mempunyai tujuan sebelum dipungut. Dan setiap kali pemerintah memerlukan uang untuk mempertahankan dirinya, orang-orang di Galata menghitung risiko, menambahkan bunga, lalu meminta jaminan baru.
Keesokan harinya, Kemal membawa kedua peta itu ke kementerian dan meletakkannya di hadapan Hasan Tevfik. Atasannya mempelajarinya lama. “Peta pertama menunjukkan tempat pemerintah berada,” kata Kemal.
“Dan yang kedua?”
“Menunjukkan siapa yang dibayar lebih dahulu.”
Hasan Tevfik memandang pintu, memastikan tidak ada orang di koridor. “Jangan menyebut ini kehilangan kedaulatan.”
Kemal menatapnya. “Lalu saya harus menyebutnya apa?”
Hasan Tevfik menggulung peta kedua perlahan. “Administrasi utang.”
Di luar, sebuah telegram baru dari Makedonia tiba. Seorang pegawai berlari menuju ruang menteri. Beberapa perwira telah menolak perintah Sultan. Tuntutan pemulihan konstitusi menyebar dari satu garnisun ke garnisun lain.
Kemal berdiri di depan jendela. Kapal-kapal masih bergerak di Tanduk Emas. Pedagang masih membuka toko. Bank masih menghitung bunga. Para menteri masih memasuki kantor dengan kereta resmi. Kota tampak berjalan sebagaimana biasanya. Namun untuk pertama kalinya ia memahami bahwa sebuah kekaisaran dapat tetap memiliki bendera sementara sebagian pendapatannya tidak lagi dikuasainya.
Ia juga memahami sesuatu yang lebih menakutkan. Dinasti Osman mungkin masih memiliki istana, tentara, dan sejarah enam abad. Tetapi untuk mempertahankan semuanya, ia membutuhkan uang dari orang-orang yang tidak berkepentingan apakah dinasti itu hidup atau mati—selama kupon obligasi dibayar tepat waktu.
Perwira dari Salonika
Salonika, Juli 1908
Salonika terbangun oleh suara kapal. Sebelum matahari muncul dari balik perbukitan, peluit kapal uap telah bersahutan di pelabuhan. Buruh-buruh Yahudi Sephardik menurunkan peti dari Marseille. Pedagang Yunani memeriksa tong minyak dan karung gandum. Kuli Muslim mengangkut tembakau dari gudang menuju dermaga. Di antara mereka berjalan pelaut Italia, pegawai konsulat Prancis, pemilik toko Armenia, petani Slavia, serta serdadu Ottoman yang seragamnya telah memudar.
Dari Menara Putih di tepi laut, kota itu terlihat seperti sebuah dunia yang dipadatkan ke dalam satu teluk. Menara masjid berdiri di antara kubah gereja dan atap sinagoge. Bahasa Turki terdengar di kantor pemerintah. Bahasa Ladino memenuhi pasar. Bahasa Yunani digunakan para pedagang. Di kedai-kedai dekat Jalan Vardar, orang dapat mendengar bahasa Bulgaria, Prancis, Armenia, Albania, dan Italia dalam satu sore. Semua orang hidup di dalam kekaisaran yang sama. Namun tidak semua merasa diperlakukan sebagai warga negara yang sama.
Letnan Yusuf Demir berjalan melewati kawasan pelabuhan ketika azan Subuh baru saja berakhir. Ia mengenakan seragam Angkatan Darat Ketiga Ottoman. Pedangnya tergantung di pinggang, tetapi sepatu botnya tertutup debu setelah semalaman berada di luar barak. Usianya dua puluh delapan tahun. Ia lahir di sebuah kota kecil di Anatolia barat, anak seorang petugas pajak yang menganggap kesetiaan kepada Sultan sebagai bagian dari iman.
Di rumah mereka, nama Abdul Hamid II selalu disebut dengan kehormatan. Potret Sultan tergantung di ruang tamu, bersebelahan dengan kaligrafi ayat Al-Qur’an. Ayah Yusuf sering berkata bahwa selama Sultan masih berada di Istanbul, kekaisaran belum kehilangan perlindungan Tuhan.
Namun di Salonika, keyakinan semacam itu tidak dapat bertahan tanpa pertanyaan. Kota tersebut terlalu terbuka untuk dikendalikan oleh satu cerita. Koran dari Paris dan Jenewa masuk melalui kapal. Buku-buku politik diselundupkan bersama kain dan mesin. Pegawai telegraf membocorkan kabar dari ibu kota. Para perwira membaca tulisan tentang konstitusi, parlemen, nasionalisme, dan revolusi di kamar-kamar belakang kedai kopi.
Angkatan Darat Ketiga yang ditempatkan di Makedonia seharusnya menjadi alat kekuasaan Sultan. Namun justru di dalam barak-baraknya tumbuh perlawanan paling berbahaya terhadap pemerintahan Abdul Hamid. Para perwira muda marah karena gaji terlambat, promosi ditentukan hubungan, serta keputusan militer dicampuri mata-mata istana. Mereka melihat wilayah Balkan perlahan terlepas, sementara laporan kepada Sultan selalu mengatakan keadaan terkendali.
Yusuf sendiri baru menerima gajinya setelah terlambat dua bulan. Prajurit di bawah komandonya membeli roti dengan berutang kepada pedagang. Namun dari Istanbul datang perintah agar mereka lebih waspada terhadap kegiatan revolusioner. Negara tidak mampu mengirim gaji tepat waktu. Tetapi laporan rahasia selalu datang tepat waktu.
Pagi itu Yusuf tidak langsung kembali ke barak. Ia memasuki sebuah kedai kopi sempit di belakang gudang tembakau. Pintu depannya masih tertutup, tetapi pemilik kedai mengenal ketukan tiga kali yang digunakan para perwira. Ia mengetuk. Pintu terbuka sedikit. Seorang lelaki tua melihat wajahnya, kemudian membiarkannya masuk. Di dalam, enam orang telah menunggu. Tirai jendela ditutup. Lampu minyak menyala di atas meja. Bau kopi, tembakau, keringat, dan pakaian lembap memenuhi ruangan. Di dinding tergantung potret Sultan Abdul Hamid II. Pemilik kedai tidak berani menurunkannya. Tepat di bawah potret itu, para perwira sedang membicarakan cara memaksanya memulihkan konstitusi.
Mayor Selim Nihat berdiri dekat jendela. Ia berusia empat puluh tahun dan pernah bertugas di Anatolia timur. Sebagian rambutnya telah memutih. Wajahnya tenang, tetapi suaranya selalu terdengar seperti perintah. Di atas meja terbuka peta jalur kereta Salonika–Monastir dan Salonika–Konstantinopel. Beberapa titik diberi tanda pensil. Pos telegraf, gudang senjata, barak, serta kediaman pejabat yang dianggap setia kepada istana.
“Resneli Niyazi Bey telah meninggalkan garnisunnya,” kata Selim. “Ia membawa pengikut dan senjata ke pegunungan.”
Seorang kapten muda mengangkat kepala. “Apakah itu sudah dikonfirmasi?”
“Telegram dari Resna datang tadi malam.”
“Berapa orang bersamanya?”
“Tidak banyak.”
“Kalau begitu pemerintah dapat menghancurkannya.”
Selim menunjuk peta. “Jumlah mereka tidak menentukan. Yang menentukan adalah berapa banyak garnisun yang menolak bergerak melawannya.”
Ia menjelaskan bahwa Enver Bey juga telah meninggalkan Salonika. Perwira-perwira yang tergabung dalam Komite Persatuan dan Kemajuan mulai menunjukkan diri. Mereka menuntut pemulihan Konstitusi 1876 dan dibukanya kembali parlemen. Tidak semua orang di dalam ruangan menghendaki republik. Bahkan sebagian besar masih menganggap gagasan menghapus kesultanan terlalu berbahaya. Bagi mereka, Sultan adalah lambang yang menghubungkan berbagai wilayah kekaisaran. Tanpa Sultan, orang Arab, Albania, Turki, Kurdi, Armenia, Yunani, dan Slavia mungkin tidak lagi mempunyai alasan untuk hidup di bawah satu negara.
Namun mereka juga memahami bahwa sebuah kerajaan tidak dapat diselamatkan hanya dengan melarang rakyat membicarakan keretakannya. “Kita tidak sedang melawan Sultan,” kata Mayor Selim.
Yusuf menatapnya. “Lalu siapa yang kita lawan?”
“Ketakutannya.”
Ruangan menjadi sunyi.
Selim memandang potret Abdul Hamid yang tergantung di atas mereka. “Sultan melihat pengkhianatan di mana-mana. Ia mengirim mata-mata untuk mengawasi perwira yang seharusnya menjaga perbatasan. Ia menutup parlemen karena takut kehilangan kekuasaan. Ia melarang berita buruk karena takut rakyat kehilangan kepercayaan.”
“Dan kalau ketakutannya beralasan?” tanya Yusuf. “Rusia menunggu kesempatan. Austria mengincar Balkan. Inggris menguasai Mesir. Setiap kelompok meminta otonomi.”
“Ketakutannya memang beralasan,” jawab Selim. “Namun ketakutan yang benar dapat menghasilkan keputusan yang salah.”
Ia mencondongkan tubuh ke arah meja. “Kalau setiap kritik disebut pengkhianatan, hanya penjilat yang akan tinggal di sekitar penguasa. Kalau hanya penjilat yang berbicara, penguasa akan mengetahui kekaisarannya runtuh setelah semua orang lain mengetahuinya.”
Seorang perwira lain menunjuk daftar nama anggota komite. “Ada orang Armenia di sini.”
“Juga Yunani dan Yahudi,” jawab Selim.
“Mereka mempunyai kepentingan sendiri.”
“Kita semua mempunyai kepentingan.”
“Orang Armenia telah memberontak.”
Selim menatapnya tajam. “Sebagian organisasi Armenia mengangkat senjata. Apakah itu membuat seluruh orang Armenia menjadi pemberontak?”
Perwira itu tidak menjawab.
“Kalau seorang perwira Muslim berkhianat,” lanjut Selim, “apakah seluruh umat Islam harus dihukum?”
“Tentu tidak.”
“Lalu mengapa hukum berubah hanya karena tertuduh berdoa di gereja?”
Pertemuan berakhir sesaat sebelum matahari naik. Yusuf keluar melalui pintu belakang, menembus gang sempit di antara gudang.
Kota mulai penuh. Kereta kuda membawa karung tembakau menuju pelabuhan. Anak-anak berlari sambil membawa roti bundar. Seorang penjual susu membunyikan lonceng kecil. Dari sebuah rumah terbuka terdengar perempuan menyanyikan lagu dalam bahasa Ladino.
Yusuf berjalan menuju rumah sakit militer. Tangan kirinya terluka dua hari sebelumnya ketika kudanya terkejut oleh suara tembakan latihan. Luka itu tidak dalam, tetapi mulai membengkak. Rumah sakit berdiri di bangunan bekas sekolah dekat kawasan Hamidiye. Dindingnya berwarna kuning pucat. Di koridor, prajurit yang terluka berbaring bersebelahan tanpa dibedakan asal-usulnya. Seorang petani Muslim dari Kosovo batuk di samping prajurit Albania. Seorang serdadu Yahudi membaca surat dekat jendela. Di ujung ruangan, seorang perawat Yunani mengganti perban tentara Turki.
Dokter Aram Sarkisian memeriksa tangan Yusuf. Aram berusia tiga puluh lima tahun. Tubuhnya tinggi, rambutnya mulai menipis, dan sepasang kacamata bundar selalu melorot ke ujung hidung ketika ia bekerja. Ia lahir di Erzurum, belajar kedokteran di Konstantinopel, lalu ditempatkan di Salonika.
“Lukanya tidak buruk,” katanya. “Yang buruk adalah cara kalian membersihkan pedang.”
“Kuda yang membuatnya.”
“Kalau kuda dapat menulis laporan, mungkin ia akan menyalahkan perwiranya.”
Yusuf tersenyum.
Aram membersihkan luka dengan cairan antiseptik. Gerakannya tenang dan teliti. Di atas meja terdapat alat bedah, botol obat, buku anatomi berbahasa Prancis, serta sebuah foto keluarga. Dalam foto itu, Aram masih remaja. Ia berdiri di samping ayah, ibu, dan dua adik perempuannya. Mereka mengenakan pakaian terbaik dan menatap kamera dengan sikap kaku.
“Di mana keluargamu sekarang?” tanya Yusuf.
Tangan Aram berhenti sesaat. “Ibu dan adik perempuan saya berada di Tiflis.”
“Ayahmu?”
“Tidak pernah sampai ke sana.”
Yusuf memandang foto itu kembali. Aram melanjutkan membalut tangannya. “Apa yang terjadi?”
“Erzurum, tahun 1895.” Hanya itu yang dikatakannya. Namun Yusuf mengetahui arti tahun tersebut. Ia masih anak-anak ketika kabar pembunuhan orang Armenia menyebar ke berbagai kota. Di rumah, ayahnya mengatakan kekerasan terjadi karena pemberontak Armenia bekerja untuk Rusia. Koran pemerintah menyebutnya gangguan keamanan dan bentrokan antarkelompok.
Di sekolah militer, penjelasannya lebih sederhana: negara menghadapi gerakan separatis dan harus menjaga keutuhan wilayah. Tidak ada pelajaran yang menjelaskan mengapa anak-anak, pedagang, pendeta, pengrajin, dan perempuan yang tidak membawa senjata ikut dibunuh.
“Apakah ayahmu anggota organisasi?” tanya Yusuf.
Aram mengikat ujung perban, lalu menatapnya. “Itukah pertanyaan yang menentukan apakah kematiannya pantas?”
Yusuf menunduk. “Bukan begitu maksudku.”
“Tidak. Tetapi itulah pertanyaan pertama yang selalu diajukan.”
Aram duduk di seberangnya.
“Ayah saya seorang apoteker. Ia mengenal huruf Arab, Armenia, dan Prancis. Orang Muslim datang membeli obat darinya. Orang Kristen juga. Ketika seseorang sakit, ia tidak pernah bertanya agama pasien sebelum menimbang obat.”
“Lalu mengapa ia dibunuh?”
“Karena pada hari itu, menjadi orang Armenia dianggap sebagai bukti.”
Di luar ruangan terdengar roda ranjang didorong melewati koridor. Seorang prajurit mengerang. Bau karbol memenuhi udara. “Ada kelompok Armenia yang menggunakan kekerasan,” kata Yusuf hati-hati. “Saya tahu.”
“Mereka menyerang pejabat dan mengambil alih Ottoman Bank.”
“Saya juga tahu.”
“Pemerintah menganggapnya ancaman terhadap negara.”
Aram melepas kacamatanya dan membersihkan lensanya. “Kalau seseorang mengambil senjata, tangkap dia. Kalau ia membunuh, adili dia. Kalau kesalahannya terbukti, hukum dia.”
Ia memasang kembali kacamatanya. “Tetapi mengapa toko milik paman saya dibakar? Mengapa tetangga kami dibunuh? Mengapa anak berusia enam tahun harus membayar kejahatan seseorang yang bahkan tidak dikenalnya?”
Yusuf tidak menjawab.
“Kesalahan melekat pada perbuatan,” lanjut Aram. “Bukan pada darah.” Ia menunjuk prajurit-prajurit yang terbaring di ruangan sebelah. “Kalau seorang dokter membunuh pasien, kalian tidak menangkap semua dokter. Kalau seorang perwira berkhianat, kalian tidak menembak semua tentara. Tetapi ketika seorang Armenia memberontak, tiba-tiba seluruh bangsa menjadi tertuduh.”
“Negara sedang takut kehilangan Anatolia seperti kehilangan Balkan.”
“Lalu ketakutan memberi negara hak membunuh?”
“Tidak.”
“Jawabanmu terlalu cepat.”
Yusuf mengangkat wajah. “Karena jawabannya memang tidak.”
Aram memperhatikannya lama, seolah mencoba mengetahui apakah jawaban itu lahir dari keyakinan atau hanya kesopanan. “Negara selalu mempunyai nama yang baik untuk kekerasannya,” katanya kemudian. “Ketertiban. Keamanan. Persatuan. Perlindungan agama. Tetapi orang mati tidak dapat hidup kembali hanya karena pembunuhnya memilih kata yang sopan.”
Yusuf melihat perban di tangannya. “Konstitusi akan mengubahnya?”
“Konstitusi hanyalah kertas.”
“Lalu mengapa orang-orang memperjuangkannya?”
“Karena kertas dapat menjadi tembok apabila tentara, hakim, pejabat, dan rakyat bersedia berdiri di belakangnya.”
Aram mengambil foto keluarganya dan meletakkannya kembali. “Saya tidak meminta hukum mencintai saya. Saya hanya meminta hukum tidak membenci saya.”
Siang itu Yusuf kembali ke barak melalui pasar. Percakapannya dengan Aram terus mengikuti langkahnya. Di antara kerumunan, ia mulai memperhatikan perbedaan yang selama ini dianggapnya biasa.
Seorang pedagang Yahudi memberikan uang kepada petugas bea. Seorang pemilik toko Yunani menurunkan suara ketika dua polisi lewat. Seorang perempuan Armenia menarik tangan anaknya agar memberi jalan kepada serdadu Ottoman. Mereka semua rakyat Sultan. Namun sebagian bergerak seolah negara adalah rumah mereka. Sebagian lain bergerak seperti tamu yang sewaktu-waktu dapat diusir.
Di depan sebuah kedai, dua lelaki sedang memperdebatkan kabar dari Makedonia. “Konstitusi akan menghancurkan kekaisaran,” kata lelaki pertama. “Setiap bangsa akan menuntut haknya sendiri.”
“Kalau memberikan hak dapat menghancurkan negara,” jawab lelaki lain, “mungkin negara itu selama ini berdiri di atas perampasan hak.”
Orang-orang di sekeliling mereka tertawa gugup.
Yusuf terus berjalan.
Di halaman barak, para prajurit sedang membersihkan senapan Mauser. Seorang sersan berdiri dekat gudang, membaca daftar persediaan. Peti amunisi telah dikunci. Dua perwira yang dikenal setia kepada istana tidak terlihat sejak pagi.
Di kamar perwira, Yusuf menemukan selembar surat tanpa nama pengirim di atas ranjangnya. Besok malam. Gudang kereta. Datang sendiri. Ia membakar surat itu di atas mangkuk logam. Api memakan kertas perlahan. Namun sebelum tulisan hilang, ia membaca kalimat terakhir sekali lagi: Negara tidak dapat diselamatkan oleh orang yang takut kepada rakyatnya sendiri.
Malam berikutnya, gudang perawatan kereta militer berada dalam kegelapan. Hanya satu lampu minyak menyala di ujung ruangan. Bau besi, oli, kayu basah, dan batu bara memenuhi udara.
Mayor Selim menunggu bersama empat perwira lain. Aram juga berada di sana.
“Kau bukan tentara,” kata Yusuf.
“Saya dokter militer.”
“Maksudku, kau bukan anggota komite.”
“Belum.”
Selim meminta mereka duduk mengelilingi peti kayu yang dijadikan meja. Kali ini ia tidak mengajak mereka mengulang perdebatan tentang kesetaraan. Ia membuka daftar nama komandan, jadwal kereta, dan posisi kantor telegraf. Setiap orang diminta menyatakan apakah ia bersedia menolak perintah menembaki sesama prajurit Ottoman hanya karena mereka menuntut konstitusi.
Kapten Halit ragu ketika melihat Aram berdiri di antara para perwira.
“Seorang dokter akan mengetahui siapa yang pertama kali mengingkari sumpahnya,” kata Aram. “Saya datang untuk merawat yang terluka, siapa pun seragamnya.”
Selim menaikkan sumbu lampu. Satu demi satu, tangan diletakkan di atas peta. Tidak ada pidato. Di ruangan berbau oli itu, konstitusi berubah dari gagasan menjadi risiko yang harus mereka tanggung sendiri.
Berita bergerak lebih cepat daripada perintah Sultan. Dari Resna, Niyazi Bey menyerukan pemulihan konstitusi. Enver Bey muncul sebagai tokoh pemberontakan. Garnisun-garnisun mulai menyatakan dukungan. Pejabat yang dikirim untuk menghentikan gerakan kehilangan kepastian apakah pasukannya akan mematuhi perintah.
Di ruang telegraf, pesan dari satu kota disalin dan dikirim ke kota lain. Setiap telegram menambah jumlah orang yang percaya bahwa mereka tidak sendirian. Kekuasaan Abdul Hamid dibangun melalui pengawasan. Namun jaringan telegraf yang digunakannya untuk mengawasi kekaisaran kini menyebarkan pembangkangan.
Yusuf menerima perintah untuk menyiapkan satu kompi. Tidak dijelaskan ke mana mereka akan dikirim. Para prajurit berdiri di halaman dengan ransel dan senapan. Sebagian tampak cemas. Mereka telah mendengar bahwa mereka mungkin diperintahkan menghadapi perwira Ottoman sendiri.
Seorang prajurit muda mendekati Yusuf. “Apakah kita akan melawan pemberontak?”
Yusuf memandang wajah-wajah di hadapannya. Orang Turki, Albania, Bosniak, Slavia Muslim, dan seorang Arab dari Damaskus berdiri dalam seragam yang sama.
“Kita menunggu perintah,” jawabnya.
“Perintah siapa?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Secara resmi, jawabannya sederhana: perintah Sultan. Namun dalam negara yang kehilangan kepercayaan, setiap perintah memerlukan alasan selain cap dan tanda tangan.
Malam itu, Yusuf membuat keputusan. Ia memerintahkan prajurit kembali ke barak dan membuka gudang makanan. Tepung, kacang, minyak, dan kopi dibagikan kepada pasukan yang gajinya terlambat. Ia tidak memimpin pemberontakan ke pegunungan. Ia hanya menolak membawa anak buahnya menembak perwira-perwira yang menuntut pemulihan hukum dasar kekaisaran. Keputusan kecil itu dilakukan pula oleh banyak perwira di tempat lain. Sultan masih mempunyai tentara. Namun ia mulai kehilangan kesediaan tentara untuk mempertahankan ketakutannya.
Pada 24 Juli 1908, kabar itu tiba. Sultan Abdul Hamid II memulihkan Konstitusi 1876 dan memanggil kembali parlemen. Mula-mula tidak ada yang percaya. Orang-orang berkumpul di depan kantor telegraf. Salinan pengumuman dibacakan dalam bahasa Turki, lalu diterjemahkan ke bahasa Yunani, Ladino, Bulgaria, dan Prancis. Setelah kalimat terakhir dibacakan, kota meledak dalam kegembiraan.
Lonceng gereja berbunyi. Orang-orang berlari keluar dari kedai dan rumah. Bendera muncul dari jendela. Musisi memainkan lagu di jalan. Pelabuhan berhenti bekerja bukan karena mogok, melainkan karena para buruh meninggalkan peti dan berpelukan.
Yusuf berjalan menuju Lapangan Kebebasan bersama Aram dan Mayor Selim.
Di sepanjang jalan, orang-orang yang sehari sebelumnya saling mencurigai mendadak berbicara seperti saudara. Seorang imam berdiri di samping pendeta Ortodoks. Rabi dari komunitas Yahudi disambut tepuk tangan. Pedagang Armenia membagikan minuman. Buruh Muslim menari bersama kuli Yunani.
Seorang perempuan tua Armenia memegang tangan Yusuf. Ia tidak mengenalnya. Ia hanya melihat seragam Ottoman dan menganggap tentara itu kini menjadi pelindung konstitusi. Perempuan tersebut mencium tangannya. Yusuf segera menariknya dan memegang kedua bahunya. “Tidak,” katanya. “Hari ini tidak ada yang perlu membungkuk.”
Perempuan itu tidak memahami bahasa Turkinya, tetapi memahami gerakannya.
Aram berdiri beberapa langkah dari mereka. Matanya basah.
“Apakah ini yang kau inginkan?” tanya Yusuf.
Aram memandang lautan manusia. “Ini yang dijanjikan.”
“Bukan yang akan terjadi?”
“Belum tentu.”
Kegembiraan berlangsung sampai malam. Lampu-lampu dinyalakan di sepanjang dermaga. Kapal membunyikan peluit. Orang-orang membawa poster bertuliskan kebebasan, persaudaraan, keadilan, dan persamaan. Seorang pemuda berteriak bahwa zaman tirani telah berakhir. Massa menyambutnya. Mayor Selim tidak ikut berteriak. Ia berdiri di antara Yusuf dan Aram sambil memandang orang-orang menari. “Mengapa kau diam?” tanya Yusuf.
“Karena menjatuhkan ketakutan seorang Sultan lebih mudah daripada menghapus ketakutan yang telah hidup di dalam jutaan orang.”
“Setidaknya kita telah menang.”
“Kita baru memulihkan selembar kertas.”
“Bukankah Aram mengatakan kertas dapat menjadi tembok?”
“Kalau cukup banyak orang bersedia berdiri di belakangnya.”
Di depan mereka, seorang lelaki Muslim memeluk pedagang Armenia. Dua buruh Yahudi mengangkat seorang perwira Ottoman ke atas bahu. Seorang pendeta dan imam saling menggenggam tangan di hadapan kerumunan.
Untuk malam itu, segala perbedaan tampak dapat diselesaikan oleh satu kata: konstitusi. Yusuf ingin mempercayainya. Ia ingin percaya bahwa kekaisaran dapat diselamatkan tanpa memaksa semua orang menjadi Turki atau Muslim. Ia ingin percaya bahwa bangsa Armenia dapat menuntut keadilan tanpa disebut pengkhianat, bahwa seorang Muslim dapat mempertahankan agamanya tanpa menjadikan agama orang lain sebagai ancaman, dan bahwa hukum dapat berdiri lebih tinggi daripada rasa takut.
Ia menoleh kepada Aram. “Kalau konstitusi ini bertahan, apakah keluargamu akan kembali?”
Aram memandang ke arah laut. “Ibu saya mungkin.”
“Dan kau?”
“Saya tidak pernah pergi.”
Yusuf mengerutkan kening. Aram menunjuk tanah di bawah kaki mereka. “Ini juga negeri saya. Mengapa saya harus kembali ke tempat yang tidak pernah saya tinggalkan?”
Di tengah sorak-sorai itu, Yusuf memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan sekolah militernya. Kekaisaran tidak sedang menghadapi persoalan karena terlalu banyak bangsa hidup di dalamnya. Kekaisaran menghadapi persoalan karena sebagian rakyat harus terus-menerus membuktikan bahwa mereka berhak berada di tanah kelahirannya sendiri.
Malam semakin larut. Di atas Salonika, kembang api meledak dan memantulkan cahaya pada permukaan teluk. Musik memenuhi jalan. Orang Islam, Kristen, dan Yahudi saling berpelukan. Semua percaya zaman baru telah dimulai. Tidak seorang pun mengetahui bahwa setahun kemudian darah kembali mengalir di Adana. Tidak seorang pun mengetahui bahwa konstitusi yang menjanjikan persamaan akan hidup berdampingan dengan nasionalisme yang semakin keras. Tidak seorang pun mengetahui bahwa Aram kelak akan kembali ditanya apakah dirinya seorang dokter Ottoman atau seorang Armenia—seolah seorang manusia tidak boleh menjadi keduanya. Dan tidak seorang pun pada malam itu dapat membayangkan bahwa beberapa tahun kemudian, ketika perang besar datang, negara akan kembali mengubah identitas menjadi tuduhan.
Namun pada Juli 1908, harapan masih memenuhi Salonika. Yusuf berdiri di tengah lautan manusia dengan seragam Sultan di tubuhnya dan konstitusi di tangannya. Untuk pertama kalinya ia merasa keduanya mungkin dapat hidup bersama. Ia belum mengetahui bahwa suatu hari ia harus memilih salah satunya.
Putri dari Ruang Tertutup
Konstantinopel, musim gugur 1908
Leyla Hanım mengenali suasana hati ayahnya dari cara lelaki itu meletakkan tongkat. Jika tongkat disandarkan perlahan di dekat pintu, hari di Istana Yıldız berlangsung tenang. Jika ujungnya menghantam lantai marmer, sebuah laporan buruk baru saja tiba dan seseorang di dalam istana sedang mencari orang lain untuk disalahkan. Sore itu tongkat Halil Pasha jatuh dengan bunyi keras.
Rumah mereka di Beşiktaş menghadap gang menanjak menuju perbukitan Yıldız. Dari jendela ruang tamu, Leyla dapat melihat kereta pejabat keluar-masuk gerbang istana. Pohon-pohon plane menggugurkan daun di atas jalan yang basah. Penjual simit mendorong gerobaknya melewati prajurit jaga, sementara kabut dari Bosporus menelan atap rumah satu demi satu.
Halil Pasha masuk tanpa memberi salam. Seorang pelayan membawakan kopi, tetapi percakapan antara ayah dan putrinya berhenti sampai perempuan itu keluar dan pintu tertutup kembali.
“Dahulu kita diam ketika mata-mata Sultan berada di luar rumah,” kata Leyla. “Sekarang kita diam di depan pelayan sendiri.”
“Di kota ini, seseorang tidak perlu menjadi mata-mata untuk menjual sebuah kalimat.”
Halil menjelaskan bahwa konstitusi telah dipulihkan, tetapi ketakutan tidak ikut meninggalkan istana. Abdul Hamid masih menerima laporan mengenai para perwira, wartawan, orang Armenia, nasionalis Balkan, diplomat Rusia, dan agen Inggris. Setiap halaman menyebut ancaman baru. Setiap ancaman membenarkan pengawasan berikutnya.
Leyla pernah melihat Sultan dari dekat ketika mengantar ayahnya. Ia tidak melihat monster. Ia melihat lelaki tua berjanggut putih, sopan kepada pelayan, teliti membaca laporan, dan selalu menempatkan kursinya membelakangi dinding. Kecerdasannya nyata; demikian pula ketakutannya.
“Ia merasa semua orang mengepungnya,” kata Leyla.
“Banyak yang memang mengepungnya.”
“Tetapi jika setiap pintu dikunci, orang-orang di dalam rumah juga menjadi tahanan.”
Halil memandang ke arah istana. Lampu-lampunya mulai menyala di balik pepohonan. Dari kejauhan, Yıldız tampak hangat dan aman. Hanya orang-orang di dalamnya yang mengetahui bahwa keamanan telah berubah menjadi cara hidup yang tidak lagi membedakan perlindungan dari penjara.
Leyla menyentuh kaca jendela yang dingin. Ia memahami bahwa Sultan bukan sekadar penguasa otoriter. Ia adalah seorang lelaki yang terlalu lama memerintah melalui ketakutan hingga akhirnya tidak dapat hidup tanpa ketakutan itu. Dan seorang penguasa yang melihat musuh di mana-mana, lambat laun akan menciptakan musuh dari siapa pun yang masih berani berkata jujur.
Sultan yang Diturunkan
Konstantinopel, April 1909
Suara tembakan datang dari arah barak Taşkışla sebelum fajar. Burung-burung beterbangan dari kubah masjid. Di jalan sekitar Galata, toko-toko menutup daun pintu, trem berhenti, dan orang-orang mengintip dari balik tirai. Pemberontakan pasukan serta kelompok konservatif mengguncang ibu kota. Mereka menuntut perubahan pemerintahan dan berbicara atas nama agama. Dalam kekacauan itu, menteri diburu, anggota parlemen diserang, dan orang-orang yang baru setahun merayakan kebebasan kembali bersembunyi.
Dari Salonika bergerak Pasukan Aksi. Yusuf Demir ikut bersama mereka. Kereta penuh tentara berhenti di luar kota, kemudian pasukan memasuki Konstantinopel melalui jalan-jalan yang masih berbau asap mesiu. Yusuf melihat warga berdiri tanpa bersorak. Mereka telah terlalu sering diberi tahu bahwa pasukan datang untuk menyelamatkan negara.
Pertempuran berlangsung singkat tetapi meninggalkan mayat di halaman barak. Setelah pemberontakan dipatahkan, Majelis memutuskan menurunkan Abdul Hamid II.
Di Istana Yıldız, delegasi menemui Sultan di sebuah ruangan dengan karpet tebal, jam Prancis, dan lukisan kapal Ottoman. Di luar, taman musim semi dipenuhi bunga tulip. Alam tidak mengetahui bahwa sebuah masa pemerintahan sedang berakhir.
“Apakah rakyat menghendaki ini?” tanya Abdul Hamid.
Salah seorang anggota delegasi menjawab, “Rakyat menghendaki ketenangan.”
Sultan tersenyum pahit. “Rakyat selalu disebut setelah orang bersenjata mengambil keputusan.”
Ia tidak melawan. Ia hanya meminta keselamatan keluarganya. Beberapa jam kemudian, kamar-kamar diperiksa dan lemari dibuka. Istana yang selama puluhan tahun mengumpulkan laporan tentang kehidupan orang lain kini menjadi objek pemeriksaan.
Yusuf berdiri di halaman ketika kereta membawa Sultan menuju pengasingan di Salonika. Ia menyangka akan merasa menang. Yang dirasakannya justru kehampaan. Dinasti tetap berdiri dan Mehmed V naik takhta, tetapi semua orang memahami bahwa sultan baru tidak lagi memegang kekuasaan seperti pendahulunya. Mahkota belum diambil. Namun pusat keputusan telah berpindah dari kepala yang memakainya.

Buku Besar Utang
Gedung Administrasi Utang Publik Ottoman berdiri di Cağaloğlu seperti sekolah yang dibangun untuk mendidik sebuah kekaisaran mengenai akibat keterlambatan membayar. Dinding batunya tebal, jendelanya tinggi, dan lantainya mengilap. Pegawainya bekerja dalam bahasa Turki, Prancis, Inggris, Yunani, serta Armenia.
Kemal Rauf dipindahkan ke sana pada awal 1910. Pada hari pertama, ia tidak lagi terkejut melihat daftar penerimaan yang dijaminkan; ia telah memahaminya di Kementerian Keuangan. Yang mengejutkannya adalah ketelitian lembaga itu mengikuti sekarung garam dari pesisir Anatolia sampai berubah menjadi pembayaran kupon di Eropa. Setiap karung ditimbang, setiap gudang mengirim salinan, dan setiap selisih beberapa kuruş melahirkan surat pemeriksaan. Atasannya, Monsieur Delacroix, tidak pernah membawa senjata. Ia hanya membawa pensil merah.
“Kalian tidak menjajah kami,” kata Kemal suatu sore.
Delacroix tetap memeriksa angka. “Tidak.”
“Kalian hanya memastikan kami bekerja untuk membayar kalian.”
“Itulah isi kontraknya.”
Pada akhir bulan, laporan dari sebuah gudang garam di İzmir menunjukkan penyusutan yang lebih besar daripada batas normal. Delacroix menahan pengiriman dana dan meminta pemeriksaan lapangan. Dalam satu goresan pensil, ia dapat menunda uang yang dibutuhkan sebuah distrik untuk membayar pegawai. Bukan karena ia membenci Ottoman, melainkan karena mandatnya hanya satu: melindungi arus kas bagi para pemegang surat utang.
Dari jendela gedung, Kemal melihat seorang pemungut garam datang membawa laporan dari Anatolia. Di desa jauh, petani membayar lebih mahal untuk garam. Di Konstantinopel, angka itu masuk buku. Di Paris dan London, pemegang obligasi menerima kupon.
Kemal akhirnya memahami perbedaan antara kementerian dan gedung ini. Kementerian berbicara tentang kebutuhan negara; Administrasi Utang berbicara tentang urutan pembayaran. Kedaulatan tidak selalu dirampas. Kadang ia menyusut menjadi pertanyaan mengenai siapa yang berhak menerima uang lebih dahulu.
Barang dari Manchester
Bengkel ayah Kemal berada di Üsküdar, di sebuah jalan sempit yang menurun ke dermaga. Selama tiga puluh tahun, suara alat tenun memenuhi rumah sejak pagi. Ibunya memintal benang di lantai atas, ayahnya mengatur pola, dan empat pekerja mengoperasikan alat tenun kayu di bawah.
Pada musim semi 1910, suara itu berhenti. Kemal tiba ketika ayahnya menurunkan gulungan kain terakhir. Debu kapas melayang dalam cahaya. Di pojok ruangan, alat tenun berdiri seperti hewan besar yang mati dalam keadaan tegak. “Pesanan dari pedagang dibatalkan,” kata ayahnya. “Kain Manchester datang lebih murah.”
Ayah Kemal membuka buku pesanan. Tiga pelanggan lama telah mencoret nama mereka. Seorang pedagang bahkan meninggalkan contoh kain buatan Manchester di atas meja—lebih rata, lebih cepat diproduksi, dan cukup murah untuk membuat selisih keterampilan tangan kehilangan arti di mata pembeli.
“Kain ini tidak mengenal lelah,” kata ayahnya. “Mesinnya tidak meminta makan dan anaknya tidak jatuh sakit.”
Kemal tidak mengulang pelajaran ekonomi yang telah dilihatnya di Eminönü. Di ruangan itu, teori perdagangan telah berubah menjadi empat pekerja yang tidak tahu bagaimana menjelaskan kepada keluarga bahwa mereka pulang untuk terakhir kali.
Ayah Kemal mengunci bengkel menjelang Magrib. Tidak ada upacara. Empat pekerja membawa pulang alat kecil dan sisa upah. Di ambang pintu, lelaki tua itu mengusap kayu alat tenun seolah berpamitan kepada anggota keluarga.
Kemunduran sebuah imperium tidak selalu terdengar seperti ledakan meriam. Kadang ia terdengar sebagai keheningan pertama setelah sebuah alat produksi berhenti bekerja.
Negeri-negeri yang Ingin Pergi
Makedonia, 1911
Desa itu terletak di antara perbukitan hijau dan ladang tembakau. Rumah-rumah beratap genting mengelilingi gereja batu kecil. Ketika pasukan Yusuf memasuki jalan utama, pintu-pintu tertutup dan anak-anak ditarik masuk. Mereka mencari kelompok bersenjata yang menyerang pos pemerintah. Namun daftar tersangka hanya berisi nama tanpa bukti. Komandan wilayah memerintahkan semua lelaki diperiksa dan persediaan desa dihitung.
Di sekolah, Yusuf menemukan Petar Iliev, seorang guru Slavia, sedang menyembunyikan buku-buku pelajaran. Peta yang tergantung di dinding tidak sama dengan peta Ottoman. Garis perbatasannya mengikuti impian sebuah bangsa yang belum memiliki negara.
“Kau mengajar anak-anak membenci kami?” tanya Yusuf.
“Saya mengajar mereka nama gunung dan sungai dengan bahasa ibu mereka.”
“Mengapa itu memerlukan peta lain?”
Petar menatap serdadu di pintu. “Karena pada peta kalian, kami hanya penduduk sebuah provinsi.”
Yusuf menjelaskan bahwa kesetiaan diperlukan agar masyarakat berbeda dapat hidup dalam satu kekaisaran.
“Mengapa kesetiaan selalu berarti kami harus menjadi seperti kalian?” tanya Petar.
Di luar, seorang prajurit membalik karung gandum dengan bayonet. Seorang perempuan tua menangis melihat persediaan musim dinginnya tumpah ke tanah. Yusuf menghentikan penggeledahan dan memerintahkan gandum dikumpulkan kembali.
Malamnya ia duduk dekat api unggun. Dari desa terdengar nyanyian gereja. Ia mulai memahami bahwa wilayah tidak dapat dipertahankan hanya dengan garnisun. Negara memerlukan alasan yang membuat penduduk ingin tetap tinggal. Jika kehadiran tentara menjadi satu-satunya bukti kekuasaan, maka setiap penarikan tentara akan menghapus kekuasaan itu pula.
Tiga Pasha
Konstantinopel, 1913
Setelah kudeta di Gerbang Agung, nama Enver, Talat, dan Cemal diucapkan di kementerian dengan cara orang dahulu menyebut nama Sultan. Mehmed V masih menerima duta dan hadir dalam upacara, tetapi telegram perang, pengangkatan pejabat, serta keputusan keamanan bergerak melalui tangan tiga pasha dan Komite Persatuan dan Kemajuan.
Kemal menghadiri rapat di gedung kementerian dekat Bâbıâli. Di dinding tergantung potret Sultan; di meja terhampar perintah yang tidak pernah dibacanya. Enver berbicara mengenai tentara modern. Talat mengenai administrasi dan kesatuan. Cemal mengenai disiplin. Mereka muda, cerdas, dan yakin keberanian dapat memperpendek jarak antara ambisi dan kemampuan negara.
Malamnya Kemal bertemu Leyla di rumah Halil Pasha. Hujan turun di Bosporus. Tetesannya memukul jendela sementara kapal melintas sebagai bayangan hitam.
“Bukankah mereka dahulu melawan kekuasaan absolut?” tanya Leyla.
“Ya.”
“Mengapa sekarang semua keputusan berada di tangan mereka?”
Kemal memandang cahaya kota yang pecah di permukaan air. “Manusia sering membenci kekuasaan absolut hanya sampai kekuasaan itu berada di tangannya.”
Di luar, seorang penjual koran meneriakkan kabar mengenai kehilangan wilayah Balkan. Di dalam rumah, Halil Pasha menaikkan suara gramofon agar pembicaraan mereka tidak terdengar pelayan.
Sultan telah dibatasi. Namun rasa takut belum hilang; ia hanya memperoleh seragam baru, bahasa baru, dan orang-orang baru yang merasa dirinya satu-satunya penyelamat negara.
Libya yang Terlalu Jauh
Derna, 1911
Yusuf tiba di pantai Afrika Utara dengan nama palsu dan pakaian pedagang. Angkatan laut Italia menguasai laut, sehingga para perwira Ottoman harus menyusup melalui Mesir, menyeberangi gurun dengan unta, lalu bergabung dengan pejuang lokal. Derna berbau garam, debu, kotoran hewan, dan bubuk mesiu. Rumah-rumah putih menempel pada lereng. Di luar kota, tenda-tenda didirikan di antara batu serta semak berduri. Senjata kurang, obat hampir habis, dan perintah dari Konstantinopel tiba setelah keadaan berubah.
Mustafa Kemal serta perwira muda lain mengatur pertahanan dengan apa yang tersedia. Yusuf melatih petani dan penggembala menembak dari parit dangkal. Pesawat Italia berputar di langit—mesin perang baru yang membuat kuda panik dan manusia merasa tidak lagi memiliki tempat bersembunyi.
Suatu malam, seorang pejuang Arab bernama Idris membagi air dengannya. “Di Istanbul, kalian menyebut kami wilayah,” kata Idris.
“Lalu kalian menyebut diri kalian apa?”
“Manusia yang ditinggalkan.”
Yusuf hendak membantah, tetapi di depannya terbaring prajurit yang tidak dapat dievakuasi karena tidak ada kapal Ottoman yang mampu menembus blokade.
Pada peta di ibu kota, Libya diberi warna yang sama dengan Anatolia. Di gurun, warna itu tidak menyediakan peluru, air, maupun rumah sakit. Yusuf memahami bahwa luas wilayah dapat menjadi kebohongan apabila negara tidak mempunyai logistik untuk menjangkaunya.
Balkan yang Terlepas
Konstantinopel, musim dingin 1912. Kereta pengungsi tiba di Stasiun Sirkeci menjelang tengah malam. Pintu gerbong dibuka dan bau keringat, demam, asap, serta pakaian basah tumpah ke peron. Orang-orang turun membawa bungkusan, sangkar burung, teko, foto keluarga, dan kunci rumah yang tidak lagi mereka miliki.
Leyla bekerja sebagai sukarelawan di sebuah sekolah yang diubah menjadi penampungan. Ruang kelas dipenuhi kasur jerami. Papan tulis masih memuat pelajaran berhitung, tetapi di bawahnya keluarga-keluarga dari Salonika, Üsküp, dan Edirne berdesakan mencari tempat tidur. Seorang anak lelaki bernama Murat menggenggam kunci besi besar. Ibunya meninggal dalam perjalanan. Setiap malam ia meletakkan kunci itu di bawah bantal. “Kapan kami pulang?” tanyanya.
Leyla menatap gigi kunci yang berkarat. “Di mana rumahmu?”
Anak itu menyebut nama desa yang kini berada di belakang garis musuh. Leyla tidak menjawab. Ia hanya menyelimuti tubuh kecil itu.
Di kementerian, wilayah yang hilang ditandai dengan perubahan warna pada peta. Di penampungan, setiap sentimeter peta menjadi rumah, kebun, makam keluarga, dan bahasa yang terputus.
Menjelang pagi, azan terdengar dari masjid. Para pengungsi bangun, tetapi beberapa tetap memeluk bungkusan mereka. Setelah kehilangan tanah, manusia belajar tidur sambil memegang seluruh miliknya.
Kudeta di Gerbang Agung
23 Januari 1913. Salju tipis mencair di halaman Bâbıâli ketika suara sepatu bot dan teriakan memenuhi lorong. Enver Bey memasuki pusat pemerintahan bersama para pendukung bersenjata. Pintu didorong, meja terbalik, dan pegawai bersembunyi di balik lemari arsip. Yusuf berada di halaman saat tembakan terdengar dari dalam. Menteri Perang Nazım Pasha terjatuh. Darah merembes ke karpet sebuah gedung yang dibangun untuk menyelenggarakan pemerintahan melalui dokumen.
Beberapa jam kemudian, perubahan kekuasaan dijelaskan sebagai penyelamatan negara. Surat kabar memakai kata kehormatan, keadaan darurat, dan kehendak bangsa. Kemal berjalan melewati koridor setelah jenazah dipindahkan. Di dekat dinding, petugas membersihkan bercak darah. Potret Sultan tetap tergantung lurus, seakan pemerintahan tidak berubah.
Malam itu ia menulis: Mereka memulihkan konstitusi agar negara tidak bergantung kepada satu orang. Kini mereka berkata negara hanya dapat diselamatkan oleh beberapa orang. Ia menutup buku ketika mendengar patroli lewat. Konstitusi belum dibatalkan, parlemen masih ada, dan koran tetap terbit. Namun kekerasan kembali menentukan siapa yang berhak menafsirkan semuanya.
Kereta Api Menuju Perang
Rel Kereta Api Baghdad membelah Anatolia seperti janji yang belum selesai. Di stasiun Haydarpaşa, insinyur Jerman memeriksa gambar teknik, pekerja Ottoman memindahkan bantalan rel, dan pejabat berpidato tentang kemajuan. Kemal melihat angka di balik pidato itu: konsesi, jaminan pendapatan per kilometer, pembayaran bunga, serta hak perusahaan asing atas tanah di sepanjang jalur. Jerman membawa modal dan teknologi. Inggris serta Prancis menguasai bagian lain dari perbankan dan perdagangan. Ottoman berusaha memainkan semuanya, tetapi setiap hubungan meninggalkan kewajiban. Enver Pasha percaya perang Eropa dapat menjadi jalan keluar. Jika Jerman menang, Rusia dapat dipukul mundur dan wilayah yang hilang mungkin kembali.
Dalam sebuah rapat malam, Kemal menunjukkan kebutuhan batu bara, gandum, gerbong, dan devisa.
“Kita memasuki perang agar dapat menyelamatkan kekaisaran,” kata seorang pejabat.
“Benar,” jawab Kemal. “Tetapi bagaimana jika perang menjadi cara tercepat untuk menghabiskannya?”
Tak seorang pun menjawab. Dari luar terdengar peluit kereta. Rangkaian gerbong bergerak ke timur membawa senjata Jerman dan prajurit Ottoman. Di bawah cahaya lampu stasiun, keluarga berlari mengikuti jendela untuk melambaikan tangan.
Kereta itu disebut alat modernisasi. Malam itu, ia terlihat seperti urat nadi yang membawa darah kekaisaran menuju luka-luka baru.
Musim Dingin Sarıkamış
Anatolia timur, Desember 1914. Salju mencapai lutut ketika pasukan Yusuf mulai mendaki. Angin dari Kaukasus memukul wajah seperti pecahan kaca. Banyak prajurit masih mengenakan seragam tipis dan sepatu yang tidak dirancang untuk suhu sejauh itu di bawah titik beku. Ransum membeku. Gerobak tertinggal. Kuda jatuh dan tidak bangun lagi. Perintah tetap memerintahkan mereka bergerak cepat untuk mengepung Rusia.
Pada malam ketiga, Yusuf menemukan seorang prajurit bersandar pada pohon pinus. Namanya Ali, petani dari Konya yang selalu menyimpan surat anaknya di saku dada. Matanya terbuka. Di bulu matanya terdapat kristal es. Ia mati tanpa luka tembak.
Yusuf mencoba menarik tubuhnya, tetapi tanah terlalu keras untuk menggali kubur. Ia mengambil surat dari saku Ali dan berjanji akan mengirimkannya, meskipun tidak tahu apakah dirinya akan keluar hidup-hidup.
Di Konstantinopel, laporan pertama menyebut cuaca, kepengecutan, dan pengkhianatan. Tidak disebutkan bahwa pakaian tidak tersedia, jalur suplai putus, dan ambisi operasi melampaui kemampuan logistik.
Yusuf melihat barisan tubuh membeku di sepanjang rute. Ia memahami bahwa rezim yang tidak mampu mengakui kesalahan perencanaan akan selalu mencari manusia untuk dijadikan penyebab. Bila kenyataan terlalu memalukan, pengkhianat akan diciptakan agar pemimpin tetap terlihat benar.
Tetangga yang Menjadi Musuh
Konstantinopel, 1915. Keluarga Sarkisian tinggal dua rumah dari kediaman Leyla. Nyonya Mariam selalu mengirim roti manis ketika Ramadan, dan ibu Leyla membalasnya dengan buah saat Paskah. Anak-anak mereka tumbuh tanpa pernah bertanya apakah halaman yang sama dapat dibagi oleh dua agama.
Pada April, polisi datang sebelum fajar. Mereka membawa daftar nama. Aram Sarkisian, dokter yang pernah bertugas bagi tentara Ottoman, diminta ikut untuk pemeriksaan. Ibunya menyelipkan mantel ke bahunya, percaya ia akan pulang sebelum malam. Ia tidak pulang. Beberapa minggu kemudian, keluarga itu menerima perintah pemindahan. Rumah diberi segel. Barang dihitung oleh petugas, seolah sebuah kehidupan dapat diinventarisasi dengan meja, karpet, sendok, dan lukisan.
Leyla membawa surat kepada ayahnya. Halil Pasha membaca nama-nama itu dengan tangan gemetar.
“Mereka bukan pemberontak.”
“Pada masa seperti ini, membela mereka dapat membuat kita masuk daftar yang sama,” katanya.
Di jalan menuju stasiun, Leyla melihat perempuan, anak-anak, serta orang tua Armenia dikawal pergi. Seorang anak perempuan masih membawa boneka kain. Tidak ada senjata di tangannya, tetapi negara telah menempatkan identitasnya sebagai bukti.
“Kalau negara hanya dapat bertahan dengan menghapus rakyatnya sendiri,” kata Leyla, “apa yang sebenarnya sedang diselamatkan?”
Halil tidak menjawab. Untuk pertama kalinya ia sadar bahwa ketakutannya menjaga keluarga sendiri telah menjadikannya penonton ketika keluarga lain dihancurkan.
Damaskus dan Tiang Gantungan
Damaskus, 1916. Pagi di Damaskus dimulai dengan bau roti, kopi, sabun zaitun, dan air dari Barada. Namun di Lapangan Marjeh, tiang gantungan berdiri lebih tinggi daripada kios-kios. Bayangannya jatuh di atas batu ketika pedagang membuka toko.
Cemal Pasha memerintah Suriah dengan keadaan darurat. Surat diperiksa, pertemuan diawasi, dan tulisan mengenai otonomi Arab dapat dianggap pengkhianatan.
Samir al-Khatib, guru sejarah, ditangkap karena menyimpan pamflet dan surat dari Beirut. Yusuf ditugaskan menjaga selnya. Di balik jeruji, Samir tampak lebih seperti guru lelah daripada musuh negara. “Kalian berkata propaganda asing membuat kami memberontak,” katanya. “Tetapi siapa yang membuat kami tidak lagi merasa diwakili?”
Di kota, harga gandum naik. Blokade, penyitaan militer, kerusakan transportasi, dan bencana pertanian memperburuk kelaparan. Ibu-ibu menukar gelang dengan tepung. Anak-anak mengais kulit buah dekat pasar.
Menjelang eksekusi, Samir meminta Yusuf memberikan arlojinya kepada istrinya. Ketika tali dipasang, burung merpati terbang dari atap. Warga dipaksa menonton agar takut. Namun Yusuf melihat sesuatu yang berbeda: setiap tubuh yang digantung meninggalkan keluarga yang tidak akan lagi percaya bahwa Istanbul adalah rumahnya.
Kemenangan yang Tidak Menyelamatkan
Kabar kemenangan Gallipoli tiba bersama kapal rumah sakit. Di dermaga, musik militer dimainkan dan koran menjual nama Mustafa Kemal sebagai pahlawan. Orang-orang mengibarkan bendera karena kekaisaran akhirnya memperoleh alasan untuk merasa bangga. Leyla bekerja di bangsal Haydarpaşa. Di sana kemenangan berbau iodin, darah kering, dan kain perban yang direbus. Barisan ranjang dipenuhi prajurit tanpa tangan, tanpa mata, atau dengan paru-paru rusak oleh infeksi. Seorang prajurit muda bernama Hasan kehilangan kedua kaki. Leyla membacakan berita kemenangan kepadanya.
“Jadi kita menang?” tanyanya.
“Ya.”
Wajahnya sempat cerah. Kemudian ia melihat selimut yang rata di bawah lutut. “Lalu mengapa semuanya terasa seperti kalah?”
Di luar, meriam kehormatan ditembakkan. Kaca bangsal bergetar. Beberapa pasien terbangun dan berteriak karena mengira kembali berada di parit. Gallipoli membuktikan tentara Ottoman masih mampu bertahan. Tetapi kemenangan tidak mengisi gudang gandum, menghapus utang, memulihkan keluarga Armenia, atau menyatukan wilayah Arab. Sebuah pertempuran dapat dimenangkan tanpa menghentikan kekalahan yang lebih besar.
Musuh di Selat Bosporus
13 November 1918. Armada Sekutu memasuki Bosporus di bawah langit kelabu. Kapal perang Inggris, Prancis, Italia, dan Yunani bergerak melewati masjid serta istana. Meriamnya menghadap kota. Tidak satu pun perlu ditembakkan. Kemal berdiri di dermaga Karaköy bersama ribuan orang. Tak ada sorak. Orang-orang memandang kapal-kapal itu seperti menyaksikan rumah mereka diukur oleh calon pemilik baru.
Sultan Mehmed VI baru beberapa bulan naik takhta. Ia mewarisi bukan kekaisaran, melainkan puing kewajiban: tentara kalah, wilayah terlepas, kas kosong, dan ibu kota berada di bawah pengawasan musuh.
Seorang pejabat di samping Kemal berbisik, “Kota ini belum dihancurkan.”
Kemal melihat bendera asing berkibar di atas kapal. “Tidak perlu. Mereka sudah berada di sini.”
Di seberang air, Istana Dolmabahçe memantulkan cahaya pucat. Lampu kristalnya masih ada. Penjaga masih berdiri. Namun dari jendelanya Sultan melihat kapal asing menguasai selat yang menjadi napas ibu kota. Pendudukan tidak selalu dimulai dengan runtuhnya tembok. Kadang ia dimulai ketika meriam musuh dapat terlihat dari kamar penguasa dan semua orang berpura-pura pemerintahan masih berjalan seperti biasa.
Perjanjian yang Menghapus Negeri
1920
Peta Perjanjian Sèvres dibentangkan di atas meja panjang. Pensil diplomat membelah Anatolia menjadi zona pengaruh, wilayah pendudukan, dan susunan negara baru. Garis-garisnya bersih. Tidak tampak desa, makam, ladang, atau manusia yang akan dipaksa hidup di dalamnya.
Di istana, para pejabat mengatakan penandatanganan diperlukan untuk menyelamatkan apa yang tersisa. Di Anatolia, kabar itu justru memperkuat perlawanan.
Yusuf menerima dua amplop. Yang pertama memuat perintah pemerintah Sultan agar gerakan Ankara dilawan. Yang kedua, dikirim oleh nasionalis, memerintahkannya bergabung mempertahankan negeri. Kedua surat memakai cap Ottoman. Keduanya berbicara atas nama bangsa.
Malam itu Yusuf duduk di kamar penginapan dekat İzmit. Hujan mengenai atap seng. Ia meletakkan pedang Sultan di antara kedua surat dan menyadari bahwa legitimasi tidak lagi dapat dijawab dengan seragam.
Jika ia mematuhi istana, ia mempertahankan dinasti yang tunduk kepada perjanjian. Jika ia memilih Ankara, ia melanggar sumpah yang pernah membentuk kehormatannya. Untuk pertama kalinya, menyelamatkan negara dan menaati penguasa telah menjadi dua tindakan yang berlawanan.
Ankara
Ankara tidak menyambut Yusuf dengan kubah atau istana. Kota itu berbau debu, wol basah, asap kayu, dan kotoran kuda. Jalan-jalannya sempit. Rumah pemerintahan menggunakan meja pinjaman. Peta digantung pada dinding yang retak. Namun orang-orang bekerja seolah masa depan berada di ruangan itu. Telegram berdatangan, sukarelawan membawa senjata, dan perempuan mengangkut amunisi dengan gerobak.
Leyla datang beberapa bulan kemudian sebagai tenaga medis. Ketika melihat Yusuf mengenakan tanda gerakan nasional, kemarahannya pecah. “Kau mengkhianati sumpah kepada Sultan.”
“Aku bersumpah mempertahankan negeri.”
“Sultan adalah negeri.”
Yusuf memandang gedung sederhana tempat Majelis bersidang. “Dahulu mungkin demikian. Sekarang aku harus memilih salah satunya.”
Leyla ingin membencinya, tetapi di klinik ia merawat tentara dan pengungsi yang tidak lagi menunggu bantuan dari Konstantinopel. Ankara tidak mempunyai kemegahan masa lalu. Ia memiliki sesuatu yang lebih kuat: keyakinan bahwa keputusan yang dibuat di sana masih dapat mengubah hari esok.
Dua Pemerintahan
Konstantinopel mempunyai istana, kementerian, lambang, dan pengakuan lama. Ankara mempunyai majelis, tentara, serta dukungan yang tumbuh dari perang. Kemal meninggalkan ibu kota dengan salinan laporan utang tersembunyi di dasar koper. Perjalanan menuju Ankara melewati pos pemeriksaan, jembatan rusak, dan desa yang kehilangan lelaki dewasa.
Di hadapan para pemimpin gerakan nasional, ia membuka buku besar. Ia menjelaskan bagaimana pinjaman lama dibayar dengan pinjaman baru, bagaimana pendapatan dijaminkan, dan bagaimana administrasi asing dapat menguasai pajak tanpa menurunkan bendera Ottoman.
Mustafa Kemal bertanya, “Apa yang lebih berbahaya: tentara asing atau utang asing?”
Kemal Rauf menjawab, “Tentara asing terlihat ketika memasuki kota. Utang asing baru terlihat ketika negara hendak membuat keputusan.”
Ruangan hening. Di luar, angin Anatolia menggoyang kaca. Negara baru belum lahir, tetapi Kemal telah melihat bahaya lamanya: kemerdekaan dapat dimenangkan dengan senapan dan hilang kembali melalui buku besar.
Pemisahan Takhta dan Negara
1 November 1922
Di Ankara, keputusan menghapus Kesultanan dibacakan di ruang Majelis yang penuh asap rokok dan bau mantel basah. Kalimatnya tidak panjang. Namun ia memutus rantai kekuasaan yang telah bertahan lebih dari enam abad.
Di Konstantinopel, Mehmed VI menerima berita di Istana Yıldız. Pelayan masih menghidangkan kopi dalam cangkir porselen. Penjaga masih berdiri di lorong. Jam-jam istana terus berdentang. Sultan membaca surat itu perlahan. Tak ada pasukan menyerbu gerbang. Tak ada mahkota direbut dari kepalanya. Hanya ada kenyataan bahwa perintahnya tidak lagi bergerak melampaui pagar.
Ia berjalan menuju jendela. Daun-daun musim gugur menutupi taman tempat Abdul Hamid dahulu menyembunyikan ketakutannya. Mehmed VI menyadari bahwa kekuasaan telah berakhir sebelum upacaranya dihentikan. Takhta tetap berada di ruangan. Negara telah berjalan meninggalkannya.
Kapal Malaya
17 November 1922
Pagi masih gelap ketika Mehmed VI meninggalkan istana. Barang bawaannya sedikit. Di pelabuhan, kapal perang Inggris HMS Malaya menunggu dengan lampu menyala di atas air hitam. Ia menaiki kapal bukan sebagai penguasa yang melakukan kunjungan kenegaraan, melainkan sebagai lelaki yang meminta perlindungan pihak asing. Dari geladak ia melihat kubah, menara, dan istana Konstantinopel menjauh di balik kabut.
Leyla berdiri di tepi Bosporus. Ayahnya telah meninggal. Kedudukan keluarganya hilang dan rumah mereka terancam disita. Namun yang membuatnya menangis bukan hanya nasib dinasti. Ia menangisi dunia yang membesarkannya—dunia yang indah, kejam, terpelajar, takut, dan tidak sanggup memperbaiki dirinya. Kapal bergerak menuju laut. Tidak ada meriam penghormatan. Ombak kecil memukul dermaga.
Sultan terakhir meninggalkan ibu kota di atas kapal bangsa yang pernah ikut membagi wilayah kekaisarannya. Sejarah jarang menciptakan ironi dengan kelembutan.
Koper yang Tidak Muat Sejarah
Ketika pengasingan keluarga dinasti diberlakukan, kamar-kamar istana dipenuhi koper terbuka. Para perempuan melipat pakaian, menyembunyikan surat, dan memilih perhiasan yang dapat dijual. Pelayan membungkus potret dengan kain. Seorang putri kecil duduk di lantai sambil memegang boneka dan miniatur kapal milik ayahnya. “Apakah kita akan kembali?” tanyanya.
Ibunya menutup koper. “Kita selalu dapat kembali ke sebuah kota.”
“Ke istana?”
Sang ibu tidak menjawab.
Tidak ada koper yang cukup besar untuk membawa bau taman setelah hujan, bunyi langkah ayah di koridor, makam keluarga, atau keyakinan bahwa seluruh dunia akan selalu membungkuk ketika mereka lewat.
Anak-anak dinasti tidak membuat keputusan perang, utang, atau pembunuhan. Namun sejarah tidak selalu membagikan akibat hanya kepada pelaku. Mereka mewarisi keistimewaan, lalu juga mewarisi tagihannya.
Negara Tanpa Sultan
Ankara, 1923
Republik diumumkan di kota yang masih dipenuhi debu pembangunan. Tidak ada istana marmer. Kantor pemerintah memakai bangunan sederhana, tungku besi, meja yang tidak seragam, dan pegawai yang bekerja hingga malam. Kemal Rauf membantu menyusun anggaran. Ia menghapus lambang lama dari formulir, tetapi segera menyadari tinta baru tidak otomatis menciptakan institusi baru. Negara tetap harus memungut pajak tanpa menindas, meminjam tanpa menyerahkan masa depan, dan membangun industri agar tidak kembali hidup sebagai pemasok bahan mentah.
Yusuf melepaskan seragam. Pada pagi pertama sebagai warga sipil, ia bangun sebelum fajar dan mencari pedang yang tidak lagi tergantung di dinding. Setelah bertahun-tahun perang, keheningan membuatnya lebih gelisah daripada tembakan.
Leyla membuka klinik bagi perempuan dan anak pengungsi. Bangunannya kecil, catnya mengelupas, dan obat sering kurang. Namun namanya tercantum di pintu bukan sebagai putri seorang pasha, melainkan sebagai pengelola tempat yang dipilihnya sendiri.
Republik lahir bukan sebagai akhir kesulitan, melainkan sebagai kesempatan untuk tidak mengulangi bentuk lama. Mereka bertiga memahami bahwa mengganti penguasa jauh lebih mudah daripada membangun negara yang tidak bergantung kepada seorang penyelamat.
Istana yang Menjadi Museum
Puluhan tahun kemudian, Leyla kembali ke sebuah istana Ottoman sebagai pengunjung. Rambutnya telah putih dan langkahnya dibantu tongkat. Tempat yang dahulu dijaga tentara kini dipenuhi wisatawan, suara pemandu, dan kilatan kamera. Mereka memandang singgasana, lampu kristal, porselen, serta potret para sultan. Seorang anak bertanya siapa yang menjatuhkan dinasti. Pemandu menyebut perang, kaum nasionalis, Mustafa Kemal, dan kekuatan Eropa.
Leyla berdiri dekat jendela. Ia mengetahui jawabannya lebih rumit. Dinasti itu melemah ketika utang membiayai kemegahan dan perang; ketika tentara melindungi ketakutan penguasa; ketika hukum menilai manusia berdasarkan kelahiran; ketika wilayah dipertahankan tanpa memberi penduduk alasan untuk tetap tinggal; dan ketika reformasi selalu datang setelah krisis. Musuh dari luar hanya memasuki bangunan yang fondasinya telah lama retak.
Sebelum pergi, Leyla memandang singgasana kosong. Dahulu manusia membungkuk di hadapannya. Kini orang berdiri membelakanginya untuk mengambil gambar. Ia menyentuh gagang tongkatnya dan berkata dalam hati: Sebuah dinasti mengira kekuasaan berakhir ketika mahkotanya dirampas. Padahal kekuasaan telah berakhir jauh sebelumnya—ketika rakyat tidak lagi melihat masa depannya di dalam mahkota itu.

Tinggalkan komentar