
Persaudaraan di Negeri yang Tidak Setara
Batavia, 1906.
Menjelang petang, hujan baru saja berhenti di Weltevreden. Air menetes dari daun-daun asam di sepanjang jalan, sementara tanah menguarkan bau basah bercampur aroma kuda, asap cerutu, dan lumpur kanal Molenvliet. Trem listrik bergerak berderak menuju Harmonie. Loncengnya berbunyi setiap kali seorang kusir atau pejalan kaki terlalu dekat dengan rel.
Batavia telah berubah. Gudang-gudang tua masih berdiri di sepanjang Kali Besar, tetapi pusat kekuasaan kolonial telah bergeser ke selatan. Di sekitar Koningsplein dan Waterlooplein berdiri kantor pemerintahan, rumah pejabat, sekolah, rumah sakit militer, toko-toko Eropa, serta gedung perkumpulan yang hanya menerima orang dari lapisan sosial tertentu.
Sore itu, Raden Mas Suryadipura duduk di beranda belakang rumah Mayor Hendrik van Leeuwen, seorang perwira zeni. Dua cangkir kopi berada di atas meja jati. Di sampingnya terbuka laporan mengenai sekolah pribumi.

Suryadipura berusia empat puluh dua tahun. Ia berasal dari keluarga priyayi Yogyakarta, tetapi tidak pernah betah hidup dalam tata keraton. Setelah menamatkan sekolah pamong praja, ia bekerja sebagai penerjemah dan pegawai urusan pendidikan. Bahasa Belandanya fasih. Ia membaca Multatuli, Spinoza, dan tulisan tentang Revolusi Prancis, tetapi tetap mempelajari kitab agama dari para ulama di Kauman. Semakin luas pengetahuannya, semakin sulit baginya menerima orang yang memakai Tuhan, ras, atau keturunan untuk menuntut ketaatan.
“ Ceritakan kepada saya soal Freemason? Tanya Suryadipura.” Setidaknya siapa penggagas gerakan itu kali pertama? Suryadipura telah mendengar tentang Freemason. Orang Belanda menyebutnya Vrijmetselarij. Di luar lingkarannya, organisasi itu diselimuti desas-desus: perkumpulan orang kafir, jaringan pejabat, agama baru, bahkan persekutuan rahasia yang mengatur pemerintahan.
“ Tidak ada seorang tokoh yang dapat disebut sebagai pendiri tunggal Freemasonry. Tradisi dan kosakata organisasi ini berakar pada perkumpulan tukang batu Eropa yang membangun gereja, benteng, dan katedral. Para pekerja terampil memiliki jenjang keahlian, aturan kerja, serta cara mengenali sesama anggota. Dalam proses yang berlangsung bertahap, loji mulai menerima anggota “spekulatif”—orang yang bukan tukang batu, tetapi tertarik pada nilai moral dan simbolisme profesi tersebut.
Catatan penting berasal dari 1646, ketika Elias Ashmole menulis tentang penerimaannya dalam sebuah loji di Warrington. Peristiwa ini menunjukkan bahwa pada pertengahan abad ketujuh belas telah terdapat anggota non-operatif. Tonggak kelembagaan terjadi pada 24 Juni 1717, saat empat loji London berkumpul di Goose and Gridiron Tavern, membentuk Grand Lodge, dan memilih Anthony Sayer sebagai Grand Master pertama. Pada 1723 diterbitkan The Constitutions of the Free-Masons, yang diasosiasikan dengan James Anderson. Menurut sejarah resmi United Grand Lodge of England, konstitusi ini memberi fondasi filosofis Pencerahan bagi Freemasonry modern.
Karena itu, tahun 1717 lebih tepat disebut awal pelembagaan Freemasonry modern daripada tanggal “penciptaannya”. Organisasi dan ritualnya tumbuh dari lapisan tradisi yang lebih tua dan mengalami standardisasi secara bertahap. “ kata Hendrik dengan datar tanpa ada intonasi memprovokasi.
“Pemerintah menyebutnya Politik Etis,” kata Raden Suryadipura sambil menyentuh laporan. “Irigasi, pendidikan, dan perpindahan penduduk. Kata-katanya indah.”
“Engkau tidak memercayainya?” tanya Hendrik.
“Saya memercayai sekolah. Saya tidak selalu memercayai orang yang membangunnya.”
Hendrik menyulut cerutu. “Tanpa sekolah pemerintah, engkau tidak akan membaca buku-buku itu.”
“Benar. Namun orang yang memberi setetes air kepada seseorang yang kehausan tidak otomatis berhak memiliki seluruh sumur.”
Seorang pelayan datang membawa gula. Setelah meletakkannya di meja, ia berjalan mundur sambil membungkuk.
“Lihatlah dia,” kata Suryadipura. “Ia membungkuk kepada Tuan karena Tuan orang Belanda. Ia membungkuk kepada saya karena saya seorang raden. Ketika pulang, mungkin ia masih harus membungkuk kepada kepala kampung, pemilik tanah, dan orang yang mengaku lebih dekat kepada Tuhan.”
“Bukankah penghormatan bagian dari kebudayaan Jawa?”
“Penghormatan berbeda dari ketakutan. Feodalisme selalu pandai mengganti nama ketakutan menjadi kesopanan.”
Hendrik memandang halaman yang mulai gelap. “Karena itulah aku mengusulkan namamu kepada loji.”
“Apa yang sebenarnya dicari orang di dalamnya?”
“Secara resmi, kesempurnaan watak.”
“Secara tidak resmi?”
Hendrik tertawa pendek. “Persahabatan, pengakuan, kadang-kadang pengaruh. Sama seperti organisasi lain.” Ia mengambil pensil, lalu menggambar mason, batu berbentuk kubus pada sisi kosong koran. “Manusia datang sebagai mason,” katanya. “Kesombongan, prasangka, kemarahan, dan keserakahan harus dipahat. Siku-siku mengingatkan agar perilaku tetap lurus. Jangka mengingatkan agar keinginan mempunyai batas.”
“Lambang yang bagus,” kata Suryadipura. “ Mengapa Freemason menggunakan kisah dan simbol Raja Salomo. Apakah ada kaitannya dengan agama Yahudi?
“Karena pembangunan Bait Salomo dipandang sebagai alegori besar tentang pembangunan watak manusia—bukan karena Freemasonry merupakan agama Yahudi. Dalam tradisi Freemasonry, kehidupan manusia diibaratkan sebagai proyek pembangunan. Setiap anggota adalah “batu kasar” yang harus dipahat agar pantas menjadi bagian dari bangunan yang lebih sempurna. Bait Salomo dipilih karena dalam tradisi Alkitab ia melambangkan bangunan suci yang dikerjakan dengan keterampilan, ukuran, keteraturan, dan tujuan moral.
Beberapa unsur yang sering digunakan antara lain, Raja Salomo melambangkan kebijaksanaan dan kepemimpinan. Bait Salomo melambangkan pembangunan batin dan masyarakat yang tertib. Hiram Abiff, tokoh dalam legenda Masonik, melambangkan kesetiaan, integritas, dan keteguhan memegang amanah. Yakhin dan Boas, dua tiang di depan Bait Salomo, melambangkan kekuatan dan keteguhan. Jangka dan siku-siku berasal dari dunia pembangunan dan digunakan sebagai lambang batas keinginan serta kelurusan perilaku. “
“ Mengapa bukan bangunan lain? “
“ Karena ketika Freemasonry modern berkembang di Eropa pada abad ke-17 dan ke-18, kisah Bait Salomo sudah dikenal luas oleh masyarakat Kristen melalui Perjanjian Lama. Ia menyediakan bahasa simbolis yang dapat menghubungkan pertukangan batu, arsitektur, kebijaksanaan, dan pembentukan moral.
Hubungannya dengan Yahudi bersifat tekstual dan simbolis. Salomo adalah raja dalam sejarah dan tradisi Israel, sedangkan kisah Baitnya berasal dari Alkitab Ibrani. Akan tetapi, kisah yang sama juga diwarisi agama Kristen dan dikenal dalam Islam melalui Nabi Sulaiman. Karena itu, penggunaan simbol Salomo tidak membuktikan bahwa Freemasonry didirikan oleh bangsa Yahudi; Freemasonry merupakan cabang agama Yahudi; atau organisasi itu dikendalikan oleh kelompok Yahudi.
Freemasonry juga tidak memakai “lambang Salomo” dalam satu bentuk tunggal. Bintang berujung enam, misalnya, kadang disebut Bintang Daud atau Segel Salomo dan muncul dalam beberapa tradisi esoterik, tetapi bukan lambang universal utama Freemasonry. Lambang Masonik yang paling dikenal tetap jangka dan siku-siku.
Inti simbol Salomo dalam Freemasonry dapat diringkas bahwa Salomo tidak dipakai sebagai pendiri historis Freemasonry, melainkan sebagai tokoh alegoris. Sebagaimana Bait Salomo dibangun dari batu yang diukur dan dipahat, manusia diharapkan membangun “bait” dalam dirinya melalui pengetahuan, disiplin, kebijaksanaan, dan kelurusan moral.”
“ Namun di keraton saya melihat orang memakai keris sebagai lambang kehormatan, lalu menggunakannya untuk menakut-nakuti rakyat. Lambang tidak pernah lebih suci daripada tangan yang memegangnya.”
“Di dalam loji, gelar ditinggalkan. Pejabat, dokter, saudagar, dan bangsawan berdiri sebagai saudara.”
“Apakah jongos yang barusan membawa gula boleh berdiri sebagai saudara?”
Hendrik terdiam. “Belum.”
“Kalau begitu, persamaan itu masih mempunyai pintu yang dijaga.”
Hendrik menjelaskan dasar yang dipelajari dalam persaudaraan mereka, pembentukan watak, pengendalian diri, kebebasan berpikir, toleransi, amal, pencarian pengetahuan, serta tanggung jawab kepada keluarga dan masyarakat.
“Gagasan tentang persaudaraan juga ada dalam agama,” kata Suryadipura.
“Lalu mengapa masyarakatmu terpecah oleh derajat?”
“Karena manusia lebih suka memakai agama untuk mengatur orang lain daripada untuk mengatur dirinya sendiri.”
“Itulah sebabnya manusia memerlukan pencerahan,” jawab Hendrik.
“Pencerahan seperti apa?”
“Gerakan pemikiran yang berkembang di Eropa sejak akhir abad ketujuh belas dan mencapai puncaknya pada abad kedelapan belas. Orang-orang menyebutnya The Enlightenment—Abad Pencerahan.”
“Apa yang hendak mereka lawan?”
“Tatanan lama yang menempatkan kebenaran hampir sepenuhnya di bawah kekuasaan raja, gereja, tradisi, dan keturunan bangsawan. Pada masa itu, sesuatu sering dianggap benar bukan karena dapat dibuktikan, melainkan karena diucapkan oleh orang yang mempunyai kekuasaan.”
“Jadi, Pencerahan menolak agama?”
“Tidak selalu. Yang ditentangnya adalah anggapan bahwa suatu ajaran atau keputusan harus diterima begitu saja tanpa boleh diuji melalui akal, pengalaman, dan perdebatan terbuka. Pencerahan tidak harus mematikan iman. Ia hanya menolak ketika iman dipakai untuk melarang manusia berpikir.”
“Apa yang sesungguhnya dipercayai para pemikir Pencerahan?”
“Bahwa manusia mempunyai akal untuk memahami dunia. Bahwa alam bekerja menurut hukum yang dapat diamati. Bahwa kekuasaan politik tidak boleh bersifat mutlak. Hukum harus tertulis dan berlaku umum, sedangkan manusia mempunyai hak-hak dasar yang tidak boleh dirampas oleh penguasa.”
Hendrik berhenti sebentar, kemudian melanjutkan, “Mereka juga percaya bahwa pengetahuan harus disebarkan melalui sekolah, buku, dan lembaga ilmiah. Kedudukan seseorang seharusnya ditentukan oleh kemampuan serta jasanya, bukan semata-mata oleh keturunan. Perbedaan agama pun tidak semestinya menjadi alasan untuk melakukan penindasan.”
“Apakah mereka semua mempunyai pemikiran yang sama?”
“Tidak. John Locke membicarakan hak alamiah dan pemerintahan yang memperoleh kekuasaan dari persetujuan rakyat. Montesquieu mengembangkan gagasan pemisahan kekuasaan agar tidak menumpuk pada satu tangan. Voltaire membela toleransi dan mengkritik fanatisme. Rousseau berbicara tentang kedaulatan rakyat. Sementara Newton menunjukkan bahwa alam dapat dipahami melalui hukum matematis.”
“Newton juga seorang Freemason?”
“Tidak ada bukti kuat mengenai itu. Jangan memasukkan setiap orang besar ke dalam sebuah perkumpulan hanya untuk membuat perkumpulan tersebut tampak lebih agung. Namun cara berpikir Newton sangat memengaruhi zaman ketika Freemasonry modern berkembang.”
“Apa akibat dari semua pemikiran itu?”
“Pencerahan turut memengaruhi pertumbuhan ilmu pengetahuan modern, pendidikan, kebebasan pers, pemerintahan konstitusional, Revolusi Amerika, Revolusi Prancis, dan berbagai gerakan pembaruan. Tetapi semua perubahan tersebut tidak diciptakan oleh satu organisasi atau seorang pemikir saja.”
“Lalu di manakah kedudukan Freemasonry?”
“Freemasonry modern tumbuh di dalam lingkungan sejarah yang sama. Akar tradisinya dikaitkan dengan perkumpulan para tukang batu Abad Pertengahan yang membangun benteng, gereja, dan katedral. Mereka mempunyai aturan, jenjang keahlian, serta tanda untuk mengenali sesama pekerja. Lama-kelamaan, loji tidak hanya menerima tukang batu, tetapi juga ilmuwan, saudagar, pendeta, perwira, pejabat, dan bangsawan.”
“Jadi Freemasonry tidak menciptakan Pencerahan?”
“Tidak. Freemasonry adalah salah satu ruang tempat semangat Pencerahan dipelajari, diperdebatkan, dan dipraktikkan. Ia tidak menciptakan cahaya itu, tetapi membantu menyediakan pelita agar cahaya tersebut dapat berpindah dari satu pikiran ke pikiran lainnya.”
***
Tiga minggu kemudian, Suryadipura berdiri di depan pintu samping gedung De Ster in het Oosten di Vrijmetselaarsweg. Ia datang tanpa keris, pin kebangsawanan, uang, ataupun pengiring. Di sebuah ruangan kecil, matanya ditutup kain.
“Siapakah Saudara?” sebuah suara bertanya.
“Raden Mas Suryadipura.”
“Di ruangan ini tidak ada raden. Siapakah Saudara?”
Ia terdiam sebelum menjawab, “Suryadipura.”
“Apakah Saudara mencari kekuasaan?”
“Tidak.”
“Apakah Saudara akan mendahulukan persaudaraan daripada perbedaan bangsa dan agama?”
“Saya akan berusaha.”
“Mengapa hanya berusaha?”
“Karena manusia yang terlalu cepat berjanji biasanya belum mengenal kelemahan dirinya.”
Ketika penutup matanya dilepaskan, ia melihat pejabat, dokter, perwira, pengusaha, serta beberapa bangsawan pribumi berdiri membentuk lingkaran. Mereka menyebutnya saudara. Namun di luar pintu, para pelayan pribumi tetap berdiri sambil menunduk.
Malam itu Suryadipura memasuki dunia yang mengajarkan kesetaraan, tetapi hidup dari tata masyarakat yang tidak setara. Ia belum tahu bahwa ujian terbesar ajaran tersebut bukan terletak pada upacara, melainkan pada apa yang dilakukan seseorang setelah meninggalkan loji.
Tiga Jalan Menuju Kekuasaan
Batavia, 1907.
Pesta malam di Hotel des Indes berlangsung di bawah cahaya lampu gas. Kereta berhenti bergantian di depan tangga. Para pejabat kolonial, perwira, saudagar Tionghoa, dan bangsawan Jawa turun dalam pakaian terbaik mereka. Di ruang perjamuan, sebuah kelompok musik memainkan wals. Kipas berputar lambat di langit-langit, tidak cukup kuat mengusir hawa lembap dan asap cerutu. Percakapan tentang gula, kopi, kereta api, jabatan, dan saham perusahaan bercampur menjadi dengung panjang.
Suryadipura berdiri di dekat pintu taman ketika seorang perempuan Belanda menghampirinya. Ia mengenakan gaun biru tua dan kalung mutiara sederhana. Rambut cokelat mudanya disanggul, memperlihatkan garis wajah yang tegas.

“Raden Mas Suryadipura?”
Suryadipura membungkuk. “Saya mengenal Nyonya?”
“Belum. Elisabeth van Riemsdijk.”
Nama itu tidak asing. Suaminya, Frederik van Riemsdijk, adalah pejabat tinggi dalam urusan perkebunan dan konsesi tanah.
“Saya membaca tulisan Anda tentang sekolah desa,” kata Elisabeth. “Sekarang saya mengerti mengapa suami saya tidak menyukai Anda.”
Mereka berjalan ke beranda samping. Lampu taman membentuk bayangan pada jalan setapak yang masih basah. “Frederik percaya orang pribumi harus diperintah dengan tangan keras,” katanya. “Menurutnya, kelembutan hanya membuat mereka tidak tahu diri.”
“Banyak penguasa menyebut ketakutan sebagai ketertiban.”
Elisabeth memandang taman. “Ia juga mengagungkan keluarga dan peradaban Eropa, padahal mempunyai perempuan di setiap wilayah yang sering dikunjunginya. Mereka disebut pengurus rumah atau nyai. Orang-orang menganggapnya biasa.”
“Apakah perempuan-perempuan itu memiliki pilihan?”
“Apa pilihan seorang gadis ketika keluarganya kehilangan tanah atau berutang kepada mandor perkebunan?”
“Feodalisme tidak hanya hidup dalam keraton,” kata Suryadipura. “Ia hidup di mana pun seseorang merasa kekuasaan memberinya hak atas tubuh dan hidup orang lain.”
“Termasuk dalam perkawinan?”
“Terutama dalam perkawinan. Penindasan yang paling sulit dilihat sering terjadi di balik pintu rumah yang oleh masyarakat disebut terhormat.”
Sebelum pesta berakhir, Elisabeth mengundangnya melihat koleksi buku di rumahnya di Rijswijk. Pertemuan itu diikuti pertemuan lain. Mula-mula pintu perpustakaan selalu terbuka dan seorang pelayan perempuan berada di ruangan sebelah. Mereka berbicara tentang pendidikan, kedudukan perempuan, dan batas ketaatan. Elizabeth terpesona dengan kercerdasan dan kebesaran hati Suryadipura.
Hubungan mereka tumbuh dari kebutuhan untuk didengarkan tanpa diadili. Melalui Elisabeth, Suryadipura berkenalan dengan Oey Kian Tjong, pengusaha yang memiliki gudang di Kali Besar, perusahaan angkutan, serta kepentingan dalam perdagangan beras dan gula. Ia berbicara dalam bahasa Melayu, Hokkien, Jawa, dan Belanda. Wajahnya ramah, tetapi matanya seolah terus menghitung nilai setiap benda dan orang di hadapannya.
“Saya mendengar Raden ingin mendirikan dana pelajar,” kata Oey.
“Bukan hanya untuk anak bangsawan. Anak guru desa dan pedagang kecil juga harus dapat belajar.”
“Orang kaya suka beramal selama namanya ditulis besar pada dinding.”
“Kalau begitu ia membeli kehormatan, bukan beramal.”
“Raden terlalu keras kepada manusia,” kata Oey. “Bahkan kebajikan membutuhkan keuntungan.”
Beberapa bulan kemudian, Oey menyumbang cukup banyak tanpa meminta namanya dicantumkan. Namun pada suatu malam di tepi Molenvliet, ia mengungkapkan keinginan sebenarnya.
“Saya ingin masuk ke loji Raden.”
“Mengapa?”
“Karena saya percaya kepada pendidikan dan persaudaraan.”
“Itu bukan seluruh alasannya.”
Oey memandang pantulan lampu di permukaan kanal. “Di dalam loji ada pejabat, hakim, dokter, dan pengusaha. Di luar, mereka mencari saya ketika membutuhkan pinjaman. Tetapi ketika keputusan dibuat, saya tetap orang Tionghoa yang harus menunggu di serambi.”
“Loji bukan pintu belakang menuju pemerintah.”
“Tujuan perkumpulan ditulis dalam anggaran dasarnya. Kegunaannya ditentukan oleh siapa yang berada di dalam ruangan.”
“Kekuasaan akan mengubah amal menjadi transaksi.”
“Dan idealisme tanpa uang hanya menjadi pidato.”
Suryadipura akhirnya mengajukan nama Oey. Beberapa anggota menolaknya karena keturunan, bukan karena watak. “Kalau darah menentukan siapa yang layak menjadi saudara,” kata Suryadipura, “turunkanlah lambang persaudaraan dari dinding. Kita tidak lebih baik daripada kaum feodal yang kita cela.”
Oey diterima. Pada malam pelantikannya ia menyerahkan uang, jam saku, dan cincin batu gioknya. Ketika ditanya apakah datang untuk mencari kekuasaan, ia menjawab tidak. Suryadipura mengetahui jawaban itu tidak sepenuhnya benar, tetapi memilih diam.
Terbentuklah mata rantai yang rapuh. Oey memperoleh akses melalui Suryadipura dan loji. Suryadipura memperoleh kabar pemerintahan melalui Elisabeth. Elisabeth memperoleh keberanian dari Suryadipura untuk melawan suaminya. Di atasnya terbentang cita-cita tentang pendidikan dan persaudaraan; di bawahnya bergerak uang, informasi, pengaruh, dan kebutuhan pribadi.
Ketika Kesetaraan Menjadi Penghakiman
Batavia, awal 1908
Hubungan Suryadipura dan Elisabeth berubah pada suatu sore ketika hujan turun terlalu deras untuk memungkinkan kepulangan. Frederik sedang berada di Priangan. Mereka makan malam berdua di ujung meja panjang yang seharusnya dapat menampung dua belas orang.
Seusai makan, suasana terasa semakin intim. Tanpa menyadari kapan keberaniannya bermula, Suryadipura merengkuh Elisabeth. Perempuan itu tidak menghindar, bahkan membalas pelukannya dengan kehangatan yang selama ini tersembunyi di balik percakapan dan tata krama.
Mereka pun hanyut di tengah gemuruh gelombang syahwat. Elisabeth tidak menolak ketika Suryadipura membopongnya menuju kamar. Malam itu mereka mendaki puncak hasrat bersama, sebelum akhirnya terempas di atas altar kemunafikan moral yang selama ini mereka bangun sendiri.
“Apakah di loji semua manusia sungguh-sungguh setara?” tanya Elisabeth usai mereka mendaki bukit sinai.
“Selama pertemuan, kami berusaha meninggalkan pangkat.”
“Sesudah keluar, mereka kembali menjadi penguasa. Jadi kesetaraan itu hanya berlangsung beberapa jam?”
“Manusia memerlukan latihan sebelum mampu membawanya keluar dari ruangan.”
Elisabeth tersenyum pahit. “Lelaki selalu mempunyai alasan mengapa perubahan harus menunggu.” Ia berdiri di depan jendela. “Jika semua manusia setara, mengapa seorang istri harus menerima penghinaan hanya karena hukum menyebut seorang lelaki sebagai suaminya?”
“Ia tidak harus menerimanya.”
“Termasuk memilih siapa yang dicintainya?”
Pertanyaan itu menghapus jarak yang mereka pertahankan dengan buku dan tata krama. Suryadipura seharusnya meninggalkan rumah. Ia dapat mengingat sumpahnya tentang pengendalian diri. Namun malam itu pengetahuan kalah oleh kesepian.
Sejak malam tersebut, surat-surat mereka diselipkan di antara halaman buku. Suryadipura datang melalui pintu samping ketika Frederik berada di luar kota.
Di dalam loji ia tetap berbicara mengenai watak dan tanggung jawab, tetapi setiap kali memandang jangka dan siku-siku, ia merasa kedua lambang itu sedang mengarah kepadanya. Ia menentang kemunafikan masyarakat sambil membangun kemunafikannya sendiri.
***
Di antara perempuan yang dipelihara Frederik terdapat seorang nyai muda bernama Sariyah. Ayahnya pernah bekerja di perkebunan teh dan kehilangan tanah karena utang. Semula Elisabeth membencinya. Namun kebencian itu berubah ketika ia menemui Sariyah dan melihat memar di dekat pelipisnya. “Mengapa kau tidak pergi?” tanya Elisabeth.
“Pergi ke mana? Adik saya bekerja karena pertolongan Tuan. Kalau saya pergi, keluarga saya kehilangan makan.”
Elisabeth memahami bahwa mereka bukan dua perempuan yang memperebutkan seorang lelaki. Mereka adalah dua tawanan dalam kamar berbeda. Elisabeth ditawan perkawinan, nama keluarga, dan kehormatan masyarakat Eropa; Sariyah oleh kemiskinan, utang, dan kekuasaan kolonial. Namun rasa iba tidak sepenuhnya menghapus kecemburuan. Di dalam hati Elisabeth, belas kasih dan kebencian hidup seperti dua binatang yang saling menggigit.
Pada Februari 1908, Frederik membawa Sariyah ke bangunan belakang rumahnya di Rijswijk. Seusai pesta kecil bersama para pejabat, ia mendatangi perempuan itu dalam keadaan mabuk. Elisabeth mengikuti dan mendengar suara tamparan dari balik pintu. Ketika ia masuk, Sariyah terdesak di dekat tempat tidur. “Lepaskan dia,” kata Elisabeth.
“Kembali ke rumah.” Bentak Frederik
“Dia bukan milikmu.”
Frederik melepaskan Sariyah dan keluar kamar.
Sejak itu Elisabeth pun berubah. Dahulu ia menerima kepulangan Frederik dengan diam. Namun setelah mengenal Suryadipura, diam tidak lagi terasa sebagai kesabaran, melainkan persetujuan terhadap penghinaan.
“Rapat tidak meninggalkan bedak pada kerah jasmu,” katanya suatu malam. Frederik menamparnya. Elisabeth terhuyung, tetapi kembali menegakkan tubuh. “Kau telah diracuni buku-buku dan pergaulanmu dengan orang pribumi itu,” kata Frederik. “ Kau pikir aku tidak tahu perselingkuhan mu dengan pribumi itu?
“Rumah ini tidak mengubah penjara menjadi kebebasan.” Kata Elizabeth lantang.
Frederik mengangkat tangan lagi. “Pukul aku,” katanya. “Dengan begitu kau tidak perlu berpura-pura sebagai lelaki beradab.”
Untuk pertama kali, Frederik melihat ketiadaan rasa takut dalam mata istrinya. Ia mencengkeram rambut Elisabeth. Dalam pergumulan, tangan Elisabeth menyentuh pistol perjalanan di atas meja. Ia meraihnya. Untuk sesaat, mereka saling menatap.
“Kau tidak berani,” kata Frederik.
Letusan terdengar.
Frederik jatuh dengan keterkejutan seorang penguasa yang sampai detik terakhir tidak percaya bahwa orang yang ditindasnya mampu melawan. Elisabeth menyuruh Sariyah pergi sebelum polisi datang. Ia sendiri tetap duduk dan menunggu.
Ketika Suryadipura tiba menjelang fajar, halaman telah dipenuhi polisi. Elisabeth duduk di ruang depan dengan gaun terkena bercak darah. “Aku akhirnya berkata tidak,” katanya.
“Tidak,” jawab Suryadipura. “Kau tidak sekadar berkata tidak. Kau mengambil nyawanya.”
“Ia menghancurkan hidup banyak perempuan.”
“Dan sekarang kau mengambil kekuasaan yang sama: merasa berhak menentukan hidup orang lain.”
“Bukankah kau mengajariku bahwa manusia tidak boleh tunduk?”
“Aku mengajarimu kebebasan, bukan pembalasan.”
Elisabeth menatapnya. “Kebebasan yang kau ajarkan hanya indah selama tidak menuntut pengorbanan darimu.”
Suryadipura tidak mampu menjawab. Ia sadar dirinya pun telah menjadikan Elisabeth tempat melarikan diri tanpa bersedia memikul seluruh akibatnya. Sebelum dibawa polisi, Elisabeth berbisik, “Jangan biarkan mereka mengatakan aku membunuh hanya karena cemburu. Aku membunuh karena selama bertahun-tahun ia percaya tidak seorang pun berhak menghentikannya.”
“Cemburu dan kebencian tetap ada dalam tindakanmu.”
“Ya,” jawabnya. “Manusia tidak pernah memberontak dengan hati yang sepenuhnya bersih.”
Kereta polisi membawanya meninggalkan Rijswijk ketika matahari terbit. Suryadipura akhirnya memahami paradoks di balik ajaran kesetaraan. Kesadaran bahwa semua manusia setara dapat membuat seorang pelayan mengangkat kepala dan rakyat mempertanyakan penguasa. Namun tanpa pengendalian diri, kesadaran yang sama dapat berubah menjadi hak untuk menghakimi. Orang tertindas tidak otomatis menjadi adil setelah memperoleh kekuasaan.
Nama yang Belum Diucapkan
Beberapa pekan setelah penangkapan Elisabeth, kabar tentang dokter Jawa bernama Wahidin Soedirohoesodo beredar di kalangan terpelajar. Ia mencari dukungan bagi dana pendidikan untuk anak muda yang cerdas tetapi tidak mempunyai biaya.
“Ia berbicara dengan para pelajar sekolah dokter,” kata Hendrik.
STOVIA berdiri di dekat Waterlooplein. Di gedung besar itu, anak-anak muda dari berbagai daerah mempelajari ilmu kedokteran dengan disiplin keras. Mereka tinggal dalam asrama, membaca surat kabar, memperdebatkan keadaan masyarakat, dan mulai melihat bahwa kemiskinan rakyat bukan semata-mata nasib.
Oey segera memahami arti kabar tersebut. “Gerakan pelajar akan membutuhkan uang.”
“Mereka lebih membutuhkan keberanian untuk berpikir dengan nama sendiri,” jawab Suryadipura.
“Uang juga membeli kertas, menyewa ruangan, dan mencetak gagasan.”
Dana pendidikan yang dikelola Suryadipura mulai mengalir melalui jaringan yang aneh, sumbangan saudagar Tionghoa, bantuan bangsawan Jawa, dan uang anggota loji Eropa yang percaya pendidikan akan memperbaiki pemerintahan kolonial. Tidak semua pemberi mempunyai tujuan sama. Ada yang ingin mencerdaskan rakyat, memperoleh pengaruh, atau sekadar dikenang.
Pada 20 Mei 1908, para pelajar STOVIA mendirikan Boedi Oetomo. Suryadipura tidak berada dalam pertemuan itu. Ia hanya mendengar kabarnya dari seorang guru muda. “Mereka memilih nama yang berarti ikhtiar luhur,” kata pemuda itu.
“Siapa yang boleh menjadi bagian darinya?”
“Untuk sekarang, perhatian mereka terutama pada orang Jawa dan Madura.”
Suryadipura memandang lampu di atas meja. “Kalau begitu pintunya baru terbuka separuh.”
“Bukankah setiap gerakan harus dimulai dari suatu tempat?”
“Mulailah dari Jawa jika itu yang mampu kalian lakukan,” katanya. “Namun jangan berhenti pada Jawa. Tanah jajahan ini lebih luas daripada bahasa dan darah kita.”
Boedi Oetomo bukan ciptaan loji dan para pelajarnya bukan suruhan Freemason. Namun gagasan yang dibicarakan dalam loji—persaudaraan lintas keturunan, martabat manusia, amal pendidikan, dan kebebasan berpikir—ikut beredar di kalangan sebagian elite pergerakan kebangsaan Gagasan itu tidak selalu murni. Ia dibawa pejabat yang menikmati kekuasaan kolonial, bangsawan yang belum melepaskan hak istimewa, dan saudagar yang mencari akses. Akan tetapi, setelah keluar dari tangan mereka, gagasan dapat memperoleh kehidupan baru. Benih tidak menanyakan niat orang yang menjatuhkannya ke tanah.
Kesulitan mengkaji Freemasonry muncul karena tiga persoalan. Pertama, organisasi ini menjaga sebagian ritual dan tanda pengenalnya dari pengetahuan masyarakat umum. Kedua, Freemasonry tidak memiliki satu pemerintahan dunia; organisasi ini terdiri atas banyak yurisdiksi dan Grand Lodge yang otonom, bahkan terkadang tidak saling mengakui. Ketiga, sejarahnya berkelindan dengan berbagai perubahan besar dunia modern—Kemerdekaan Amerika Serikat, Revolusi Prancis, Revolusi Industri, Revolusi Bolshevik, serta perkembangan kapitalisme, sosialisme, komunisme, demokrasi, sekularisme, nasionalisme dan Zionisme.
Keterlibatan sejumlah anggota Freemason dalam berbagai perubahan tersebut sering ditafsirkan sebagai bukti adanya kendali organisasi, padahal hubungan keanggotaan, kesamaan gagasan, dan hubungan sebab-akibat merupakan tiga hal yang harus dibedakan.
Dari Saudara Menjadi Sebangsa
Batavia, 28 Oktober 1928
Dua puluh tahun berlalu. Rambut Suryadipura telah memutih. Hendrik kembali ke Belanda. Oey Kian Tjong semakin kaya dan semakin berhati-hati setelah pemerintah memperketat pengawasan terhadap gerakan politik. Elisabeth menjalani hukuman panjang.
Surat terakhirnya datang bertahun-tahun sebelumnya. Di dalamnya hanya terdapat satu kalimat, Aku membebaskan tubuhku dari seorang lelaki, tetapi tidak pernah membebaskan jiwaku dari malam itu. Suryadipura menyimpannya di antara halaman buku yang dahulu mempertemukan mereka.
Sore 28 Oktober 1928, seorang bekas penerima dana pelajarnya datang tergesa-gesa. Dahulu ia anak guru desa; kini ia mengajar dan aktif dalam perkumpulan pemuda. “Raden, para pemuda berkumpul lagi. Mereka mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa.”
“Apa nama yang mereka pilih?”
“Indonesia.”
Suryadipura mengulangnya perlahan. “Indonesia.” Pada 1908, Boedi Oetomo masih berbicara terutama tentang kemajuan Jawa dan Madura. Nama Indonesia belum menjadi rumah politik bagi semua orang. Selama dua dasawarsa berikutnya, kaum muda mengambil istilah yang sebelumnya lebih sering digunakan para sarjana dan mengisinya dengan kehendak untuk hidup bersama. Perkumpulan pelajar di Belanda, pers, organisasi politik, dan kelompok pemuda menjadikannya nama sebuah masa depan.
Malam itu, di sebuah rumah di Jalan Kramat, Wage Rudolf Soepratman menggesek biolanya. Melodi “Indonesia Raya” mengalun tanpa nyanyian keras. Yang lahir bukan sekadar nama, melainkan keberanian untuk membayangkan negeri yang belum ada sebagai milik bersama.
Suryadipura teringat malam pertamanya di loji, ketika pejabat Belanda, dokter, saudagar Tionghoa, dan bangsawan Jawa berdiri dalam satu lingkaran serta saling menyebut saudara. Pada masa ketika imperialisme, kolonialisme, perbudakan, dan feodalisme masih dianggap sebagai tatanan yang wajar, Freemasonry hadir sebagai salah satu ruang tempat manusia berani mempertanyakan kemapanan. Ia memang bukan pencipta seluruh gerakan pembebasan dunia. Namun melalui loji-lojinya, gagasan tentang persaudaraan, kebebasan berpikir, toleransi, ilmu pengetahuan, dan kesetaraan memperoleh ruang untuk tumbuh dan menyebar melampaui batas bangsa serta agama.
Freemasonry tidak menciptakan agama ataupun ideologi baru. Ia lebih menyerupai sebuah proses Pencerahan yang mengajak manusia memahat kebodohan, prasangka, fanatisme, dan kesombongan dalam dirinya. Dari sanalah tumbuh keberanian untuk mempertanyakan kekuasaan absolut, hak istimewa berdasarkan keturunan, perbudakan, serta anggapan bahwa sebagian manusia dilahirkan untuk menguasai manusia lainnya.
Mungkin pengaruh terbesar Freemasonry terhadap sebagian elite pribumi bukanlah perintah rahasia untuk mendirikan suatu gerakan. Tidak ada satu tangan tersembunyi yang menciptakan Boedi Oetomo, Perhimpunan Indonesia, ataupun Sumpah Pemuda. Pengaruhnya bekerja dengan cara yang lebih halus: menumbuhkan keberanian untuk membayangkan manusia tanpa gelar, bangsa tanpa tingkatan ras, dan pengetahuan tanpa pagar keturunan.
Gagasan itu kemudian keluar dari ruang loji dan tidak lagi menjadi milik para Mason. Ia bercampur dengan ajaran agama mengenai persamaan umat, perlawanan Sarekat Islam, pendidikan kaum perempuan, sosialisme, nasionalisme, pengalaman para pelajar di luar negeri, serta penderitaan rakyat yang hidup di bawah kekuasaan asing. Di tangan generasi baru, persaudaraan tidak lagi terbatas pada beberapa lelaki terpilih yang berkumpul di balik pintu tertutup. Persaudaraan telah berubah menjadi kesadaran untuk hidup sebagai satu bangsa.
Namun Elisabeth mengajarkan kepadanya bahwa kebebasan tanpa nurani dapat berubah menjadi penghakiman. Oey membuktikan bahwa persaudaraan dapat dimanfaatkan sebagai jalan menuju keuntungan. Hendrik mengajarkan kesetaraan, tetapi tidak sanggup melepaskan kekuasaan bangsanya atas bangsa lain. Dari dirinya sendiri, Suryadipura belajar bahwa orang yang pandai berbicara tentang pembentukan watak belum tentu mampu menaklukkan keinginannya.
Karena itu, kemerdekaan tidak cukup hanya memindahkan kekuasaan dari tangan Belanda ke tangan pribumi. Kemerdekaan menuntut setiap manusia memahat batu kasar dalam dirinya sendiri: kesombongan, kerakusan, kebencian, fanatisme, dan keinginan untuk selalu ditaati. Jika tidak, bangsa yang berhasil mengusir penjajah dapat melahirkan penjajah baru dari antara anak-anaknya sendiri.
“Apakah Raden percaya Indonesia akan merdeka?” tanya pemuda itu.
Suryadipura tersenyum. “Hari ini kalian telah melakukan sesuatu yang harus ada sebelum merebut pemerintahan.”
“Apa itu?”
“Kalian sepakat bahwa kalian satu bangsa. Penjajah dapat menahan tubuh, membubarkan rapat, dan menutup surat kabar. Tetapi setelah sebuah bangsa menemukan namanya, akan sulit memaksanya kembali menjadi kumpulan orang yang saling terpisah.”
Dari kejauhan, melodi biola seolah masih bergerak di udara malam Batavia. Suryadipura memandang tangannya yang telah keriput. Ia datang ke loji sebagai mason. Kini ia mengerti bahwa tidak ada manusia yang pernah selesai dipahat, tidak ada organisasi yang sepenuhnya suci, dan tidak ada kebebasan yang aman tanpa tanggung jawab. Namun ia percaya pada satu hal, gagasan dapat lahir di ruang tertutup, tetapi hanya menjadi sejarah apabila berani berjalan keluar dan menjadi milik banyak orang.
Kehadiran Freemasonry di tengah dunia kolonial menghadirkan sebuah paradoks. Ia tumbuh di dalam kekuasaan yang membedakan manusia berdasarkan ras dan kedudukan, tetapi membawa gagasan bahwa manusia seharusnya berdiri setara sebagai saudara.
Di tengah feodalisme, fanatisme, dan ketidaktahuan, pemikirannya mengenai ilmu pengetahuan, kebebasan berpikir, toleransi, dan pembentukan watak tampak seperti nyala api di tengah kegelapan. Namun api itu belum menerangi semua orang. Cahaya tersebut mula-mula hanya beredar di ruang tertutup milik kaum terpelajar dan elite, sementara rakyat jajahan tetap berdiri di luar pintu.
Freemasonry tidak meruntuhkan kolonialisme namun pencerahannya menggerogoti kemapanan kolonialisme dan feodalisme. Mengapa? Sebagian anggotanya bahkan menjadi pejabat dan penopang pemerintahan kolonial. Namun gagasan yang mereka bicarakan tidak selalu dapat dikurung di dalam loji. Ketika gagasan tentang kesetaraan, pendidikan, dan martabat manusia sampai kepada kaum terpelajar pribumi, cahaya itu memperoleh makna baru, bukan lagi sekadar persaudaraan antaranggota, melainkan keberanian untuk membayangkan persaudaraan sebagai satu bangsa.
Freemasonry mungkin bukan matahari yang membebaskan tanah jajahan. Namun di tengah malam kolonialisme, ia pernah menjadi salah satu api kecil yang memperlihatkan bahwa kegelapan bukanlah keadaan yang abadi.

Tinggalkan komentar