Orang yang mengajariku membaca.

Anak di Belakang Pintu

Pinggiran Surakarta, 1908–1922

Hadianto mengenal punggung manusia lebih dahulu daripada wajahnya. Sejak berumur sepuluh tahun, ia berjalan beberapa langkah di belakang Hasan, membawa tas sekolah, payung, atau sandal cadangan apabila jalan menuju rumah tergenang. Kalau Hasan berhenti, ia berhenti. Kalau Hasan memanggil, ia menunduk sebelum menjawab.

“Dalem, Den.”

Ibunya mengajarkan jawaban itu sebelum menyerahkannya untuk bekerja di rumah Marijan, mandor kebun tebu pada perusahaan Belanda di sebelah barat Surakarta. Ayah Hadi telah meninggal. Dengan menerima makan dan tempat tidur, ia mengurangi satu mulut yang harus ditanggung ibunya.

“Kerjakan yang disuruh. Jangan membuat orang marah.”

Hadi mengangguk sambil memegang bungkusan pakaiannya. Ketika ibunya pulang, ia ingin mengejar. Tetapi seorang perempuan dari dapur sudah memanggilnya untuk menimba air.

Rumah Marijan berdiri di jalan tanah menuju Kartasura. Pada musim giling, gerobak tebu lewat sejak pagi, meninggalkan serpihan daun dan debu pada pagar. Serambi depan berlantai tegel dingin. Di sana kursi-kursi rotan menghadap rumpun soka, sementara kamar para pembantu berada di belakang dapur, dekat sumur dan kandang ayam.

Hadi segera mengerti batas rumah itu. Ia boleh menyapu serambi, tetapi tidak duduk di kursinya. Ia membawa makanan ke meja, tetapi makan di dapur. Pintu yang terbuka tidak selalu berarti ia boleh masuk.

Hasan, putra sulung Marijan, setahun lebih tua darinya. Kadang mereka berlari mengejar capung sampai lupa pulang. Namun jika permainan berubah menjadi pertengkaran, Hasan cukup mengatakan, “Kamu kan jongosku,” dan Hadi akan berhenti membantah.

Meski demikian, Hasan pula yang pertama kali mengajarinya membaca. “Ini A,” katanya suatu siang, menunjuk buku sekolah dengan pensil. “Coba katakan.”

Hadi menirukan dengan suara kecil.

“Keras sedikit. Huruf tidak akan menggigit.”

Pelajaran itu berlangsung di sela pekerjaan. Hasan menulis di kertas bekas; Hadi menyalin di tanah dengan ranting. Malam hari, ketika semua orang tidur, ia membaca buku sekolah Hasan di dekat lampu dapur. Satu halaman kadang menghabiskan hampir seluruh minyak yang tersisa.

Adik Hasan bernama Sumarni. Ketika Hadi datang, usianya delapan tahun. Ia suka mengikuti kakaknya bermain, lalu mengadu kepada Hadi jika ditinggalkan.

“Mas Hadi, ambilkan layanganku, boleh?”

Hadi segera berlari ke bawah pohon.

“Hati-hati,” seru Sumarni ketika ia mulai memanjat.

Sepulang dari pohon, Hadi menyerahkan layangan dengan lutut tergores. Sumarni justru memperhatikan darah di kakinya. “Sakit?”

“Tidak, Ndara.”

“Tapi berdarah.”

Anak itu berjongkok, meniup lukanya seperti yang biasa dilakukan ibunya. Hadi berdiri kaku, tidak tahu harus menyuruhnya berhenti atau membiarkannya.

Sejak itu ia mengenali suara Sumarni di antara semua panggilan di rumah. Jika Hasan memanggil, biasanya ada pekerjaan yang terlambat. Jika Sumarni memanggil, kadang hanya karena ia menemukan mangga jatuh dan ingin membaginya.

Tahun-tahun berlalu bersama pergantian musim tebu. Tubuh Hadi memanjang, bahunya mengeras oleh pekerjaan. Sumarni tidak lagi berlari tanpa alas kaki. Rambutnya disanggul sederhana, dan ia mulai lebih sering duduk menemani ibunya menjahit daripada mengikuti Hasan ke sawah.

Pada 1920, Sumarni berumur dua puluh tahun. Hadi dua tahun lebih tua. Di antara mereka kini ada kecanggungan yang dahulu tidak dikenal. Suatu sore, Sumarni meminta Hadi mengantarkannya ke rumah seorang kerabat di ujung kampung. Sepulangnya, hujan turun sebelum mereka mencapai rumah. Hadi membuka payung dan berjalan di sebelah kiri, sedikit ke belakang, memiringkannya agar ujung kebaya Sumarni tidak basah.

“Mas, bahumu kena hujan.”

“Tidak apa-apa, Ndara.”

Sumarni berhenti. Payung ikut berhenti, tetapi air terus jatuh di antara mereka. “Kalau kamu sakit, siapa yang akan disuruh-suruh Mas Hasan?”

Hadi tersenyum. Sumarni menggeser tangkai payung ke tengah. Jarinya menyentuh buku jari Hadi sebentar, lalu dilepaskan. “Begini. Kita bisa sama-sama tidak terlalu basah.”

Mereka meneruskan langkah. Jalan menyempit di antara pagar bambu dan selokan, membuat Hadi harus berjalan lebih dekat daripada biasanya. Ia mencium samar minyak kelapa dari rambut Sumarni, bercampur bau tanah yang baru menerima hujan. Sepanjang jalan ia tidak berani menoleh. Ia hanya memperlambat langkah setiap kali Sumarni mengangkat kainnya untuk menghindari genangan. Di gerbang rumah, perempuan itu kembali berjalan lebih dahulu. Hadi menutup payung dan masuk melalui samping dapur.

Malamnya, ketika menjemur baju yang basah, ia mendapati dirinya tersenyum tanpa alasan yang dapat dikatakan kepada siapa pun. Sejak sore itu, perhatiannya kepada Sumarni menjadi semakin teliti. Ia tahu perempuan itu tidak suka teh terlalu manis. Ia mengenali batuk kecilnya ketika asap dapur terbawa angin ke serambi. Jika ada genting bocor di dekat tempat Sumarni menjahit, Hadi memperbaikinya sebelum diminta.

Ia tidak pernah menganggap perhatian itu memberinya hak atas apa pun. Bahkan untuk menerima senyum, ia merasa harus berhati-hati.

Sumarni pun mempunyai cara sendiri untuk memperpanjang percakapan. “Mas Hadi, pot melati itu dipindah ke sini saja.”

Hadi mengangkat pot dari tepi halaman ke dekat tangga. “Di sini, Ndara?”

Sumarni memiringkan kepala. “Agak ke kiri.”

Ia menggesernya. “Begini?”

Perempuan itu tersenyum, lalu menunduk pada jahitannya. “Ya. Terima kasih.”

Suatu hari Hadi memberanikan diri bertanya, “Kemarin Ndara meminta diletakkan di sebelah sana.”

Sumarni menghentikan jarum. “Keberatan memindahkannya lagi?”

“Tidak.”

“Kalau begitu, di sini dulu.”

Hadi menunduk menyembunyikan senyum. Ia tidak tahu apakah Sumarni sedang menggodanya. Ia hanya tahu, selama mengurus pot itu, ia boleh tetap berada di dekat tangga serambi.

Pada malam lain, Sumarni menemukannya membaca di dapur. Lampu membuat bayangan kepala Hadi jatuh pada dinding yang menghitam oleh asap. Ia berdiri di ambang pintu sampai Hadi menyadari kehadirannya dan buru-buru menutup buku.

“Kenapa ditutup?”

“Saya kira ada yang harus dikerjakan.”

“Semua sudah tidur.”

Hadi berdiri. Sumarni menunjuk bangku dengan dagunya. “Duduk saja. Bacaanmu belum selesai.”

Ia tetap berdiri sampai perempuan itu menghela napas kecil. “Kalau setiap aku datang kamu berhenti membaca, nanti kamu tidak suka melihatku.”

“Tidak mungkin, Ndara.”

Jawaban itu keluar terlalu cepat. Sumarni memandangnya. Hadi menunduk dan membuka kembali buku, meskipun huruf-huruf di halaman mendadak sulit dikenali. Perempuan itu tidak masuk lebih jauh. Ia tetap di ambang pintu, memegang pelita kecil. “Apa yang kamu baca?”

“Cerita perjalanan.”

“Ke mana?”

“Kota-kota yang jauh.”

“Kamu ingin pergi?”

Hadi menatap halaman. Sebelum malam itu ia sering membayangkan sebuah tempat di mana tidak seorang pun mengenalnya sebagai jongos. Tetapi di hadapan Sumarni, keinginan tersebut terasa mempunyai harga yang belum siap dibayarnya.

“Belum tahu.”

“Kalau pergi, siapa yang akan memindahkan melatiku?”

Ia akhirnya berani mengangkat wajah. Sumarni tersenyum, tetapi ada sesuatu dalam suaranya yang membuat Hadi tidak ikut tertawa. “Masuklah, Ndara. Sudah malam.”

Perempuan itu mengangguk. Sebelum berbalik, ia meletakkan sepotong pensil di tepi meja. “Ini sisa punyaku. Masih bisa dipakai.”

Hadi menyimpan pensil itu dalam lipatan bajunya. Ia menggunakannya sampai terlalu pendek untuk diraut, lalu tetap menyimpannya. Tidak pernah ia menulis surat kepada Sumarni. Semua kata yang terpikir terasa melampaui tempatnya di rumah itu.

Pada 1921, tamu-tamu mulai datang sesudah malam. Ada pegawai kereta api, seorang guru, dan beberapa orang yang berbicara dengan suara rendah. Hadi mengantarkan kopi, lalu menunggu di balik dinding papan. Dari sana ia mendengar Marijan membicarakan upah, persamaan, dan nasib orang yang bekerja sepanjang hidup tanpa mempunyai apa-apa.

Hadi menyimak. Kata-kata itu mengingatkannya pada kursi yang tidak boleh ia duduki dan tangga serambi tempat ia selalu berhenti.

Sumarni pernah memergokinya berdiri terlalu dekat dengan pintu. Hadi segera menjauh, tetapi perempuan itu memberi isyarat agar ia tidak membuat suara. “Jangan berdiri di situ,” bisiknya. “Kalau pintunya dibuka, kamu terlihat.”

Ia tidak mengadukannya. Namun sesudah itu, setiap ada pertemuan, Sumarni lebih sering lewat di dekat dapur, seolah memastikan Hadi masih berada di tempat yang aman.

Pada suatu sore beberapa bulan kemudian, Marijan memanggil Hadi dari ruang depan. “Ada orang menanyaimu tentang tamu-tamuku?”

“Tidak, Ndoro.”

“Kalau ada, bilang kamu tidak tahu.”

Hadi mengangguk.

Marijan menatapnya lama, kemudian menyuruhnya kembali bekerja. Malam itu pintu-pintu dikunci lebih awal.

Setahun kemudian, Marijan menemukan buku milik seorang tamunya di bawah tikar Hadi. Hadi belum selesai membacanya dan berniat mengembalikannya sebelum pagi. Di dalamnya terselip catatan mengenai buruh dan hak berserikat.

“Siapa mengizinkan kamu mengambil ini?”

“Saya hanya meminjam, Ndoro.”

“Dengan izin siapa?”

Hadi diam. Marijan membuka beberapa halaman, lalu memandang pintu samping sebelum membanting buku ke meja. Sumarni datang mendengar suara itu. Hasan sedang berada di luar kota.

“Pak, kalau salahnya tidak meminta izin, biar dia minta maaf.”

“Kamu diam.”

“Dia tidak menjualnya. Dia membacanya.”

Wajah Marijan menegang. “Kamu tidak tahu apa yang sedang kamu bicarakan.”

Sumarni merapatkan kedua tangannya di depan tubuh. “Saya hanya memohon supaya Bapak tidak menghukumnya berlebihan.”

Marijan tidak menjawab putrinya. Ia berpaling kepada Hadi. “Keluar dari rumah ini. Sebelum matahari tenggelam.”

Hadi membungkuk. Ia tidak melihat bagaimana Marijan tetap berdiri memegang buku setelah dirinya meninggalkan ruangan.

Di kamar belakang, Hadi melipat dua helai baju, sarung, dan kain alas tidur. Ia tidak mempunyai banyak barang. Justru karena itulah ia lambat selesai: setiap lipatan membuat kepergiannya terasa semakin dekat.

Sumarni menyusulnya ke dekat sumur ketika ia hendak berangkat. Perempuan itu membawa nasi berbungkus daun dan sehelai kain. Matanya merah, tetapi suaranya dijaga agar tetap tenang. “Kamu akan pergi ke mana?”

“Surabaya.”

“Ada saudara di sana?”

Hadi menggeleng.

“Lalu tinggal dengan siapa?”

“Nanti saya cari pekerjaan.”

Sumarni menatap bungkusan kecil di tangan Hadi. Ia seperti baru menyadari bahwa seseorang yang telah memenuhi begitu banyak hari dalam hidupnya ternyata dapat disuruh pergi tanpa mempunyai tempat tujuan.

“Aku akan bicara lagi kepada Bapak.”

“Jangan, Ndara.”

“Aku bisa meminta—”

“Jangan, Nduk.”

Keduanya terdiam. Hadi menyesali keberaniannya begitu panggilan itu terucap, tetapi Sumarni justru menunduk, memegang bungkusan nasi lebih erat. “Kalau begitu, bawa ini.”

Hadi menerimanya dengan kedua tangan.

“Kalau sudah sampai, kirim kabar,” kata Sumarni. “Kamu sudah bisa menulis.”

“Kepada siapa?”

Sumarni mengangkat wajah. “Kepadaku.”

Air jatuh dari timba yang tidak ditutup rapat. Di depan rumah terdengar gerobak lewat, lalu suara seorang buruh memanggil temannya. Kehidupan terus berjalan, sementara Hadi merasa seluruh dunia menyempit menjadi jarak antara tangannya dan tangan Sumarni.

Ia ingin mengatakan bahwa selama ini ia tidak pernah sungguh-sungguh ingin pergi. Ia ingin mengatakan bahwa perempuan itu telah membuat sebuah rumah tempat ia bekerja terasa seperti tempat ia ingin pulang.

Tetapi yang keluar hanya, “Saya pamit.”

Sumarni mundur sedikit agar ia dapat lewat. Tidak ada tangan yang ditahan, tidak ada janji yang diucapkan. Hadi membawa bungkusan melalui pintu samping, sebagaimana ia selalu keluar-masuk rumah itu.

Di ujung jalan ia menoleh. Sumarni masih berdiri di dekat sumur. Dari jarak itu, Hadi tidak dapat melihat air matanya. Ia hanya melihat perempuan itu mengangkat tangan, kecil sekali, lalu menurunkannya sebelum ada orang lain memperhatikan.

Surabaya menyambut Hadi dengan panas, teriakan pengangkut barang, dan bau air Kalimas. Ia bekerja di sekitar Semut, tidur di emper toko, dan menunggu upah yang kadang tidak pernah dibayarkan. Beberapa kali ia membeli selembar kertas, tetapi tidak sanggup menulis alamat pengirim. Ia tidak ingin Sumarni membayangkannya menggigil di kaki lima.

Suatu malam, demam membuatnya jatuh di serambi langgar. Kiai Mahfud, yang baru selesai mengajar, menemukannya dan membawa Hadi ke pesantren kecil di pinggiran Wonokromo. Di sana ia mendapat tempat tidur, pekerjaan setelah pulih, dan kesempatan belajar.

“Siapa yang mengajarimu membaca?” tanya kiai suatu pagi.

“Anak majikan saya.”

“Kau masih berhubungan dengannya?”

Hadi menggeleng.

Malam itu, setelah santri lain tidur, ia mengeluarkan sisa pensil pemberian Sumarni. Kertas diletakkannya di dekat lampu. Untuk beberapa lama ia memandangi halaman kosong, lalu menulis pelan: Ndara Sumarni, saya sudah sampai. Saya sehat. Ia membaca kedua kalimat itu berulang kali. Ada begitu banyak yang ingin disampaikannya, tetapi ia tidak tahu seberapa jauh seorang jongos boleh merindukan rumah tuannya. Akhirnya ia melipat surat itu. Belum dikirimkannya. Di antara lipatannya, ia menyimpan semua kata yang tidak berani ditulis.

Nama yang Tidak Hilang

Surakarta–Malang, 1927–1929

Kabar penangkapan Marijan sampai bersama seorang pedagang kain. Pemberontakan komunis pada akhir 1926 dan awal 1927 telah gagal. Penangkapan meluas. Orang yang pernah menyediakan rumah, menyimpan surat, atau menghadiri pertemuan ikut dicari. Rumah Marijan digeledah; Marijan dibawa pergi. Hasan menghilang sebelum polisi datang.

“Anak perempuannya?” tanya Hadi.

Pedagang itu menggeleng.

Malamnya, Hadi menemui Kiai Mahfud. “Saya minta izin pulang ke Solo, Kiai.”

“Untuk mencari siapa?”

“Orang yang dulu tidak membiarkan saya merasa sendirian.”

Kiai memandangnya lama, kemudian membuka kotak kayu tempat menyimpan uang. “Bawa bekal. Jangan sampai niat menolong membuatmu sendiri tidak makan.”

Di Surakarta, gerbang rumah Marijan telah digembok. Rumput tumbuh di sela jalan menuju serambi. Dari celah pagar, Hadi melihat kursi rotan yang dahulu tidak boleh didudukinya sudah kehilangan anyaman pada sandarannya.

Ibu Hasan dan Sumarni ternyata telah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Sesudah penangkapan Marijan, kerabat yang mula-mula menampung Sumarni memindahkannya kepada seorang perempuan yang menjanjikan pekerjaan.

Hadi bertanya di pasar, mendatangi bekas buruh kebun, dan menunggu di depan kantor sampai disuruh pergi. Nama Hasan tidak memberinya petunjuk. Nama Sumarni membuat beberapa orang mendadak sibuk dengan urusan lain.

Pada hari keenam, seorang perempuan penjual nasi menunjukkan sebuah gang dekat jalur kereta, tidak jauh dari Jebres. “Jangan datang sambil marah,” katanya. “Dengarkan dulu anak itu.”

Bedeng-bedeng berdinding papan berdiri rapat. Pada siang hari pun bagian dalamnya gelap. Air cucian menggenang di dekat pintu; dari salah satu kamar terdengar batuk dan suara orang menawar dengan nada yang membuat Hadi berhenti berjalan.

Ia menemukan Sumarni duduk di tepi dipan, sedang menjahit bagian bawah kebaya. “Marni.” Jarum di tangannya berhenti. Perempuan itu memandangnya, lalu cepat-cepat merapatkan kain di dada. Hadi tetap berdiri di ambang pintu.

“Mas Hadi?”

Ia mengangguk.

Sumarni menunduk. “Jangan lihat aku.”

Hadi menarik bangku dan duduk cukup jauh darinya. “Aku datang mencari kamu.”

“Aku sudah tidak seperti dulu.”

“Namamu masih Sumarni.”

Tangannya mulai gemetar. Ia bercerita terputus-putus: pekerjaan rumah tangga yang dijanjikan, uang muka yang tidak pernah diterimanya tetapi dicatat sebagai utang, pakaian dan makanan yang terus ditambahkan ke dalam hitungan. Ketika hendak pergi, ia diancam akan diserahkan kepada polisi sebagai anak orang pemberontak.

Hadi mendengarkan tanpa memintanya menjelaskan lebih daripada yang sanggup dikatakannya. “Kamu mau pergi dari sini?”

Sumarni menatap pintu. “Boleh?”

Kata itu membuat dada Hadi sesak. Dahulu Sumarni yang mengajarinya bahwa sebuah permintaan tidak harus berupa perintah. Kini perempuan itu meminta izin untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Ia tidak dapat membawanya pergi sore itu. Pengelola bedeng menahan pakaian dan menuntut pelunasan utang. Hadi kembali bersama penjual nasi dan seorang bekas pegawai Marijan yang bersedia menjadi saksi. Perundingan berlangsung sampai malam. Sebagian uang bekal berpindah tangan; sebagian tuntutan gugur setelah mereka menolak angka yang berubah-ubah. Ketika akhirnya keluar, Sumarni hanya membawa bungkusan kecil.

Hadi berjalan di sampingnya. Tidak di depan. Tidak beberapa langkah di belakang. Mereka berangkat ke Malang. Seorang sahabat Hadi dari pesantren, Salim, tinggal bersama istrinya, Aminah, di sebuah kampung di daerah Pakis. Aminah menyiapkan tempat tidur dan air hangat. Ia tidak menanyakan dari mana Sumarni datang sebelum menanyakan apakah ia sudah makan.

Hadi mendapat pekerjaan di kebun tembakau dan tempat pengeringan daun milik seorang pengusaha setempat. Pada musim panen, getah melekat di jari dan bau daun mengikuti tubuhnya sampai malam. Di luar musim, ia memperbaiki pagar, menggali saluran, dan mengambil pekerjaan angkut.

Setiap menerima upah, ia menyerahkan sebagian kepada Salim. “Untuk belanja rumah.”

Salim tidak menolak. Ia juga mempunyai anak yang harus diberi makan.

Sumarni mulai membantu Aminah menjahit. Lama-kelamaan orang kampung datang membawa pakaian yang perlu ditambal. Upah pertamanya kecil, tetapi malam itu ia menghitungnya berulang kali.

“Aku bisa ikut membeli beras,” katanya. Hadi tersenyum. Ia tidak mengambil uang itu.

Pemulihan Sumarni tidak berjalan lurus. Ada malam ketika bunyi langkah di luar membuatnya terbangun. Ada hari ketika ia tidak ingin bertemu siapa pun. Hadi belajar mengetuk pintu dan menunggu jawaban, bahkan ketika hanya hendak mengantarkan makanan.

Dua tahun kemudian, ketika mereka menjemur kain di halaman, Sumarni tiba-tiba bertanya, “Mas, sampai kapan kita begini?”

Hadi berhenti memasang penjepit. “Kalau kamu ingin tinggal di tempat lain, aku akan membantu.”

Sumarni menurunkan kain yang sedang dipegangnya, lalu menatap Hadi. “Mas, aku sudah dewasa. Aku tahu kepada siapa aku ingin menitipkan hidup.” Suaranya melembut. “Aku ada di depanmu. Apa aku masih harus mengatakan bahwa aku mencintaimu dan memercayaimu?”

Angin mengangkat ujung kain di antara mereka. Hadi menahannya, tetapi tangannya sendiri gemetar. “Aku ingin menikah denganmu,” katanya akhirnya. “Sudah lama. Hanya saja, aku takut kamu merasa harus menerimaku karena pernah kutolong.”

Sumarni menatapnya dengan teduh. “Kalau hanya karena berutang budi, aku tidak akan memintamu menjadi suamiku.”

Hadi melangkah mendekat.  “Aku ingin hidup denganmu karena di dekatmu aku boleh mengatakan tidak. Dan sekarang, dengan kemauanku sendiri, aku memilihmu.”

Mereka menikah pada 1929. Salim menjadi saksi. Kiai Mahfud datang dari Surabaya, membawa kitab kecil dan batuk yang belum sembuh.

Rumah pertama mereka berdinding anyaman bambu. Kalau hujan miring, Sumarni memindahkan tikar; Hadi menggeser tempayan ke tempat yang bocor. Mereka tidak mempunyai banyak barang, tetapi tidak ada lagi pintu yang harus ditunggu Hadi sambil menunduk.

Dua Orang yang Pulang

Surabaya, September 1945. Kemerdekaan sampai ke kampung mereka melalui kabar yang diulang dari mulut ke mulut. Hadi bergabung dengan BKR setempat. Ia tidak langsung mengenakan seragam yang seragam: celananya masih celana kerja, ikat pinggangnya berbeda dari milik kawan-kawannya. Karena dapat membaca dan mencatat, ia sering diminta mengurus daftar orang, persediaan, dan surat jalan. Dalam perkembangan berikutnya, ia masuk ke organisasi ketentaraan Republik.

Suatu hari, tugas pengantaran membawanya ke Surabaya. Di sebuah rumah yang dipakai tempat berkumpul dekat Peneleh, ia mendengar seseorang memanggil nama lengkapnya.

“Hadianto?”

Tidak banyak orang lagi menggunakan nama itu. Lelaki di dekat jendela mengenakan kemeja putih dengan ujung lengan yang mulai berbulu. Rambutnya menipis, tetapi cara ia memiringkan kepala tidak berubah.

“Den Hasan.”

Hasan mendekat dan memegang kedua bahunya. “Jangan panggil begitu lagi.”

Di luar rumah, pemuda-pemuda mengecat tulisan merdeka pada selembar kain. Bau cat bercampur dengan asap dapur. Hadi memandang Hasan seperti memandang seseorang yang baru muncul dari halaman buku lama.

Hasan menceritakan pelariannya setelah ayahnya ditangkap. Sahabat Marijan membantunya mencapai Singapura. Dari sana, melalui beberapa pelabuhan dan jaringan pergerakan, ia akhirnya sampai ke Uni Soviet. Ia belajar politik di Moskow, berpindah tempat, kemudian kembali ke Asia. Sebelum perang Pasifik pecah, ia telah pulang diam-diam ke Hindia dengan nama lain.

“Aku mencari kalian,berhari hari ” kata Hadi. “Tetapi rumah sudah tidak ada yang menempati. Orang-orang takut ditanya. Aku mendapat kabar Marni dibawa kerabat ke tempat lain.”

Hadi merapatkan bibir. “Dia di Malang.”

Hasan berhenti bernapas sesaat. “Hidup?”

“Hidup.”

“Bersama siapa?”

“Bersamaku. Kami menikah.”

Hasan duduk perlahan.

Hadi menceritakan pencariannya. Ketika sampai pada bedeng di Jebres, ia berhenti. “Ada bagian yang sebaiknya kau dengar darinya sendiri, kalau dia bersedia.”

Hasan menutup wajah. Bahunya bergerak, tetapi suaranya tertahan di telapak tangan. “Aku pergi menyelamatkan diri,” katanya. “Aku mengira ada orang yang menjaga dia.”

“Kau tidak tahu.”

“Seharusnya aku tahu.”

Hadi tidak memberi jawaban yang dapat menghapus masa lalu. Ia hanya duduk sampai Hasan sanggup kembali menatapnya. “Kau yang seharusnya kulindungi,” bisik Hasan. “Dulu aku menyuruhmu membawa tasku.”

“Kau mengajariku membaca.”

“Itu tidak cukup.”

“Banyak hal memang tidak cukup, San. Tetapi kita masih bisa pulang.”

Beberapa minggu kemudian Hasan datang ke Malang. Sumarni berdiri lama di depan pintu sebelum memeluk kakaknya. Ia menangis, lalu memukul dada Hasan dengan kepalan kecil. “Kenapa tidak mencari lebih lama?” Hasan menerima pukulan itu tanpa membela diri.

Malamnya, setelah Sumarni masuk, kedua lelaki duduk di serambi. Lampu minyak membuat bayangan mereka bergerak pada dinding bambu.

“Aku menghormati ayahmu,” kata Hadi. “Tetapi perjalanan hidup membuatku tidak sepenuhnya menerima komunisme. Aku masuk tentara karena perintah kiyai. Kamu harus berjihad mempertahankan kemerdekaan dan menegakkan keadilan. Niatku karena Allah.”

Hasan mengusap tepi cangkir. “Aku tidak memusuhi orang beragama, walau aku komunis. Tetapi aku tidak mau agama dijadikan narasi untuk berkuasa. Terlalu berharga keyakinan manusia untuk dipakai menutup kesalahan pemimpin.”

“Lalu agama harus tinggal di rumah?”

“Keyakinan jangan dipaksakan negara. Kalau hendak diajarkan, dirikan sekolah. Kalau hendak diamalkan, bantu orang. Perkuat kemampuan masyarakat untuk saling menolong, jangan sekadar menambah pengikut politik.”

Hadi memandang dapur. Di sana Kiai Mahfud pernah duduk ketika menikahkan mereka. “Aku diselamatkan pesantren. Marni diterima keluarga orang pesantren. Bagiku agama sudah berada di tengah masyarakat sejak awal.”

“Dan aku tidak menentang itu.”

“Kamu tidak percaya kepada kebesaran Allah Yang Maha Menolong?”

Hasan terdiam cukup lama.

“Aku masih muslim yang taat. Ayahku juga, kamu kan tahu. Sumarni juga. “ Kata Hasan lirih. “ Aku percaya kepada Allah, tetapi kita juga harus percaya kepada sunattullah. Kita harus mengimani sebab dan akibat. Orang boleh mengatakan Tuhan menjamin rezeki semua makhluk, tetapi burung tetap harus meninggalkan sarangnya untuk mencari makan.”

“Itu tidak bertentangan dengan imanku.”jawab Hadi cepat.

“Mungkin.”  Hasan menatap sumbu lampu.  “Aku belum selesai dengan pertanyaan tentang Tuhan. Kalau Dia memberi manusia akal, mengapa perbedaan pikiran harus selalu dianggap pengkhianatan?”

“Karena manusia kadang lebih ingin ditaati daripada dimengerti.”

Hasan tersenyum pahit. “Ayahku berbicara tentang persamaan, tetapi mengusirmu karena membaca. Begitu yang selama ini kaupikirkan, bukan?”

Hadi terdiam.

“Sebenarnya, ia takut kau menjadi sasaran intelijen Belanda. Kalau mereka tahu kau memahami pembicaraan di rumah itu, mereka bisa menangkap dan menyiksamu untuk mendapatkan rahasianya.”

Hasan menunduk sebelum melanjutkan.

“Ayahku tahu kau akan memilih mati daripada berkhianat. Justru kesetiaanmu itulah yang membuatnya takut. Ia mengusirmu karena tidak ingin kau kehilangan nyawa demi melindunginya.”

Hasan terdiam sebentar.

 “ Ayahku tidak menjadikan kamu jongos. Ia hanya mentunaikan perintah surat Al Maun dalam Al Quran” Lanjutnya.

Hadi menunduk, kali ini bukan karena diperintah. Bertahun-tahun ia mengingat pengusiran itu sebagai penghinaan. Kini ia harus menerima kemungkinan bahwa ada ketakutan yang tidak pernah diucapkan Marijan, dan kasih yang sampai kepadanya dalam bentuk paling menyakitkan. “Aku tidak pernah tahu,” katanya lirih. “Selama ini aku begitu yakin telah memahami ayahmu.”

Ia mengusap wajah, lalu menatap Hasan. “Mungkin itu bahayanya merasa paling benar. Kita mengira penilaian kita sudah mencakup seluruh kenyataan. Padahal aku pun bisa salah. Bahkan ketika bersandar pada agama, pikiranku tetap pikiran manusia, bukan kehendak Allah. Kita hanya bisa berusaha sebaik yang kita pahami, tanpa jaminan bahwa niat baik akan selalu sampai kepada orang lain sebagai kebaikan.”

“Dan partai tidak membuat setiap keputusanku juga benar, Manusia tidak sempurna karenanya perlu kerendahan hati” jawab Hasan.

Dari dalam rumah, Sumarni meminta mereka mengecilkan suara.

Keduanya saling memandang, lalu tertawa pelan. Malam itu perbedaan terasa cukup kecil untuk tinggal di satu serambi.

Perintah yang Tidak Pernah Selesai

Sekitar Madiun, Oktober 1948

Tiga tahun kemudian, nama Hasan muncul pada daftar tahanan. Hadi membacanya dua kali. Ia ditugaskan bersama unsur pasukan Republik di Jawa Timur untuk membantu operasi yang melibatkan pasukan Siliwangi. Perebutan kekuasaan di Madiun pada September telah disusul pertempuran, penangkapan, dan pembalasan.

Di kampung-kampung, orang menanyakan afiliasi sebelum menanyakan nama. Kabar tentang penculikan serta pembunuhan pejabat, tokoh agama, dan orang-orang yang dianggap lawan datang bersama kabar kekerasan terhadap orang-orang kiri. Tidak semua kabar dapat diperiksa. Semuanya cukup untuk membuat orang takut.

Markas sementara itu menempati bangunan sekolah. Papan tulis masih menyimpan bekas hitungan yang tidak terhapus bersih. Di halaman, sebuah ayunan bambu patah pada salah satu talinya.

Hasan dibawa masuk dengan tangan terikat. Hadi berdiri. “Lepaskan ikatannya selama pemeriksaan.”

Penjaga memandangnya, lalu menurut. Hasan menggosok pergelangan tangannya. Bibirnya pecah. Ia melihat buku catatan di meja, kemudian wajah Hadi.

“Kau sekarang yang bertanya?”

Hadi menarik kursi. “Duduklah.”

Mereka berhadapan pada bangku murid yang terlalu kecil untuk tubuh orang dewasa.

Hasan mengakui keterlibatannya dalam organisasi kiri dan pekerjaan penerangan. Ia menyangkal memerintahkan penculikan atau pembunuhan. Hadi menanyakan nama, tempat, dan waktu. Ia mencatat bagian yang diketahui Hasan, membiarkan kosong bagian yang tidak diketahuinya.

“Jangan tulis aku tidak tahu kalau jawabannya membuatmu sulit,” kata Hasan.

Hadi mengangkat wajah. “Jangan mengajariku berbohong.”

“Aku justru memintamu tidak melakukannya.”

Di luar, hujan mulai jatuh. Air masuk dari genting yang pecah dan menetes ke lantai dekat kaki mereka.

“Sumarni sehat?” tanya Hasan.

Pensil Hadi berhenti. “Waktu aku berangkat, sehat.”

“Dia masih menjahit?”

Hadi mengangguk.

Hasan menghela napas. “Kalau begitu dia masih punya sesuatu yang dapat dibereskannya. Marni selalu lebih pandai membereskan hidup daripada kita.”

Sore itu, Hadi membawa hasil pemeriksaan kepada perwira yang memimpin pos. Perwira itu tampak lelah. Ia telah kehilangan beberapa anak buah dan semakin jarang membedakan kehati-hatian dari kelemahan.

“Belum ada bukti dia terlibat pembunuhan,” kata Hadi.

“Dia pengurus mereka.”

“Itu bukan jawaban atas pertanyaan saya.”

Perwira tersebut meletakkan berkas. “Kau membela dia karena keluargamu?”

Hadi diam.

“Markas akan dipindahkan. Tidak semua tahanan dibawa.”

Kalimat itu tidak menyebut kematian, tetapi Hadi memahaminya.

Ia meminta agar Hasan dikirim untuk diperiksa lebih lanjut. Permintaannya ditolak. Ketika perintah eksekusi datang, tidak ada putusan pengadilan yang diperlihatkan kepadanya. Nama Hadi ditunjuk sebagai pelaksana. “Buktikan kau masih bersama kami.”

Hadi keluar dengan kertas di tangan. Di ambang pintu ia menyadari tubuhnya baru saja membungkuk. Di dalam ruang tahanan, Hasan mendongak ketika ia masuk. Tidak ada pertanyaan tentang berkas. “Kapan?”

Hadi tidak menjawab.

Hasan memejamkan mata, kemudian menggeser tempat duduknya, memberi ruang di bangku. “Duduk dulu, Di.”

Hadi duduk. Untuk beberapa lama keduanya mendengarkan hujan.

“Aku sudah meminta penundaan.”

“Aku tahu kau akan melakukannya.”

“Aku mendapat perintah.”

Hasan menoleh.

“Aku tahu.”

Tidak ada pengampunan dalam jawaban itu. Tidak pula kebencian. Justru karena itulah Hadi tidak sanggup menatapnya.

“Dulu aku merasa cukup menjadi orang yang taat,” katanya. “Asal niatku baik.”

Hasan memandangi jemarinya sendiri. “Aku juga pernah merasa cukup berada di pihak yang benar.”

Menjelang malam, Hadi mengantar Hasan ke kebun kosong di belakang bangunan. Hujan telah berhenti. Daun pisang meneteskan air ke tanah. Seorang penjaga menunggu agak jauh.

Hasan berhenti dan menghadapnya. “Kau menyelamatkan adikku,” katanya. “Kau memberinya rumah ketika aku tidak ada.”

Air mata Hadi turun sebelum ia sempat menjawab.

“Jangan katakan itu.”

“Aku harus mengatakannya. Tetapi itu tidak membuat yang sekarang menjadi benar.”

Hadi menutup mata.

“Sampaikan salamku kepada Marni. Dan jangan katakan aku mati dalam pertempuran.”

Tidak ada musuh yang menyerbu kebun itu. Tidak ada tembakan dari seberang. Hasan berdiri tanpa senjata. Hadi tetap melaksanakan perintah. Sesudah suara tembakan berhenti, ia berlutut di tanah basah. Tangisnya tidak mengubah apa pun. Di dekat kakinya terbaring orang yang dahulu mengajarinya membedakan huruf A dari tanda-tanda yang belum mempunyai arti.

Beberapa minggu kemudian, Hadi pulang ke Malang. Sumarni sedang menjahit di dekat pintu. Ia melihat suaminya, lalu melihat bungkusan kecil yang dibawanya. Di dalamnya ada saputangan Hasan dan selembar catatan yang belum selesai.

“Mas Hasan?”

Hadi mengangguk, kemudian menggeleng. Tubuhnya seperti tidak mampu memilih gerakan yang benar. “Sudah meninggal.”

Sumarni meletakkan jahitan. “Di mana?”

Hadi menceritakannya. Tidak sekaligus. Ada kalimat yang harus diulang karena suaranya hilang. Ketika akhirnya ia mengatakan siapa yang menarik pelatuk, Sumarni berdiri dan mundur satu langkah.

“Dia membawa senjata?”

“Tidak.”

“Dia hendak membunuh Mas?”

“Tidak.”

Sumarni memegang sandaran kursi. “Lalu kenapa?”

Hadi hendak menyebut perintah. Kata itu sudah sampai di lidahnya, tetapi ia menelannya kembali. “Aku takut menolak.”

Di luar, angin menggerakkan jemuran. Sebuah baju jatuh ke tanah. Tidak seorang pun mengambilnya.

Sumarni mengangkat saputangan kakaknya dari meja.

“Dulu Mas berani menentukan pilihan. Mas datang menjemputku supaya orang lain tidak lagi menentukan hidupku,” katanya. “Mengapa sekarang mas menyerahkan pilihan Mas kepada mereka? Kalau menjadi tentara mengharuskan Mas membunuh orang yang tidak berdaya, bukankah Mas bisa memilih berhenti?”

Hadi mematung.

“Ketika ayahku ditangkap, seorang bangsawan ingin menjadikanku selir. Aku menolak. Seorang perwira Belanda juga ingin menjadikanku nyai. Aku menolak. Aku tidak mau menyerahkan hidup hanya karena takut tidak bisa makan.”

Sumarni meremas saputangan itu. Suaranya bergetar, tetapi ia meneruskan. “Lalu aku ditipu dan terjerat utang di tempat pelacuran. Jangan kira aku menghendaki hidup seperti itu. Tetapi bahkan di sana, aku masih berusaha mempertahankan sesuatu yang menjadi milikku: kehendak untuk keluar. Aku menerima pekerjaan menjahit, mengumpulkan upah sedikit demi sedikit agar utangku terbayar.”

Ia menatap Hadi.

“Ketika Mas datang, aku memang miskin dan tidak berdaya. Tetapi aku tidak sedang berdiam diri menunggu diselamatkan. Aku berusaha. Mas membantuku melanjutkan usaha yang hampir membuatku putus asa.”

Air matanya jatuh. Ia mengusapnya dengan punggung tangan. “Ayah mengajariku bahwa kemandirian dimulai dari keberanian menentukan sikap dan menanggung akibatnya. Bagaimana kita hendak memerdekakan bangsa kalau untuk mempertahankan hidup sendiri kita harus terus menggadaikan nurani demi rasa aman. Kalau semua orang seperti Mas, bangsa ini akan jadi bangsa pengecut, dan selamanya akan jadi pecundang. “

Hadi menunduk. Ia tidak mempunyai jawaban yang layak diberikan kepada perempuan yang dicintainya.

“Aku akan kembali ke Solo,” kata Sumarni kemudian. “Aku tidak sanggup tinggal bersama Mas sementara setiap kali melihat wajah Mas, aku teringat kakakku dan pilihan yang tidak berani Mas tolak.”

Ia melipat saputangan itu dengan hati-hati. “Mas akan tetap ada dalam doaku. Tetapi untuk sekarang, aku harus pergi.”

Sendirian di rumah, Hadi membuka kitab kecil pemberian Kiai Mahfud. Ia sampai pada Surah Al-Ma’un, tetapi tidak sanggup meneruskan bacaan. Ia mengambil kertas dan menulis dengan huruf yang pernah diajarkan Hasan. Kami berbeda politik. Dalam membela orang miskin, aku pernah merasa kami berjalan ke arah yang sama. Aku membawa semangat Al-Ma’un; Hasan membawa Manifesto Komunis. Tetapi ketika dia tidak berdaya di hadapanku, aku tidak memperlakukannya sebagai manusia yang harus dilindungi.

Tinta mengembang pada bagian yang terkena air mata. Aku ingin mengatakan ideologi yang membunuhnya. Aku ingin mengatakan perang, perintah, ketakutan. Semuanya ada. Tetapi tanganku juga ada.

Hadi meletakkan pena. Api lampu mengecil, meninggalkan lingkaran cahaya yang nyaris tidak mencapai ujung meja. Di luar, air menetes dari talang. Ia masih dapat mendengar suara Hasan, lebih jelas daripada ayat yang sejak tadi berusaha dibacanya.

Seumur hidup ia berusaha keluar dari kedudukan seorang jongos. Namun pada saat paling menentukan, ia masih mengira keselamatan hanya mungkin diperoleh dengan menunduk kepada orang yang berkuasa. Ia mengaku beriman. Ia percaya kepada tauhid. Tetapi ketika perintah manusia bertentangan dengan keadilan yang diyakininya, ia memilih menyelamatkan kedudukannya sendiri. Nama Allah tinggal di bibir, sementara ketakutan menentukan gerak tangannya.

Dengan jari gemetar, Hadi kembali mengambil pena. Orang yang mengaku bertauhid, tetapi tetap mematuhi kekuasaan politik ketika diperintahkan mengkhianati keadilan, belum sungguh-sungguh merdeka. Ia tetap jongos kekuasaan. Ia berhenti. Kalimat itu ditujukannya kepada dirinya sendiri.

Kemudian pikirannya bergerak menuju hari-hari yang belum datang. Bagaimana jika kelak kebiasaan tunduk itu tumbuh di mimbar-mimbar? Bagaimana jika tokoh agama dan ulama, yang dipercaya umat untuk menjaga batas antara yang benar dan yang salah, justru menukar keberanian mereka dengan harta dan jabatan?

Hadi membayangkan orang-orang miskin datang membawa keluhan, lalu disuruh bersabar oleh mereka yang baru pulang menerima hadiah dari penguasa. Ia membayangkan ayat dibacakan untuk menutupi perampasan, doa dipanjatkan untuk memuliakan orang yang menindas, sementara mereka yang bertanya dituduh melawan agama.

Di hadapannya, halaman Al-Ma’un masih terbuka. Kiai Mahfud dahulu mengulurkan tangan ketika dirinya tidak mempunyai apa-apa. Kenangan itu membuat Hadi semakin takut: betapa dalam luka yang ditanggung umat jika tangan yang mereka percayai justru menyerahkan mereka kepada kekuasaan.

Mungkin itulah aib yang paling berat bagi bangsa ini, pikirnya. Orang kehilangan tempat mengadu karena penjaga nuraninya telah menjadi jongos orang yang seharusnya diawasi. Dan mungkin kutukan sebuah bangsa bermula dari sana—dari ketidakadilan yang diwariskan karena selalu ada orang bersedia memberinya pembenaran atas nama Tuhan.

Hadi menunduk di depan kitabnya. Kali ini tidak ada atasan yang menunggu penghormatan, tidak ada juragan yang memanggil dari balik pintu. Hanya dirinya, sebuah perintah yang sudah dilaksanakan, dan nyawa yang tidak mungkin dikembalikan. Untuk pertama kalinya, orang yang mengajarinya membaca tidak akan dapat membantunya lagi.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca