
Sebentar lagi bulan Maret 2008. Musim dingin belum sepenuhnya meninggalkan Jepang. Udara masih menggigit, meskipun matahari siang menggantung jernih di atas Nagoya. Ini kedelapan kalinya aku datang ke Jepang untuk menemuinya, dan kedelapan kalinya pula aku pulang hanya membawa janji dari Aiguo—pria keturunan Tionghoa yang bekerja pada sebuah perusahaan elektronik produsen panel LCD.
Stasiun Nagoya terlihat sangat sibuk, bahkan pada siang hari. Manusia mengalir dari berbagai arah dengan langkah cepat dan wajah yang nyaris tanpa ekspresi. Di kota ini, keterlambatan beberapa menit terasa seperti pelanggaran terhadap peradaban. Aku melangkah gontai menuju bangunan di depan stasiun. Fasadnya berwarna pualam, dengan relief lengkung yang membingkai pintu masuk utama. Di balik kemegahan itu terdapat sebuah lounge yang beberapa kali menjadi tempat pertemuanku dengan Aiguo.
Ia sudah menunggu di sudut ruangan. Setelan jas abu-abu gelap membungkus tubuhnya yang kurus. Di atas meja terhidang dua cangkir kopi, sepiring kecil wagashi, dan map hitam yang kukenal betul. Map itu selalu dibawanya, tetapi tidak pernah benar-benar dibuka.
“Aku mulai menduga map itu hanya aksesori,” kataku sambil duduk.
Aiguo tersenyum tipis. “Mengapa?”
“Delapan kali kita bertemu. Delapan kali pula map itu berada di atas meja. Tetapi belum pernah aku melihat kontrak keluar dari dalamnya.”
“Delapan kali kamu datang atas keinginanmu sendiri. Begitu caranya membujukku. Kamu selalu terburu-buru.”
“Kalau aku terburu-buru, aku tidak mungkin datang delapan kali.”
Ia tertawa pelan, kemudian mengangkat cangkir kopinya. Aku datang untuk membicarakan kerja sama pasokan komponen dan pengembangan fasilitas produksi. Namun, seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya, Aiguo lebih banyak membicarakan risiko, standar kualitas, dan kemungkinan kegagalan. Setiap kali aku merasa pembicaraan telah mendekati keputusan, ia membawanya kembali ke titik awal.
“Apa sebenarnya yang masih kamu ragukan?” tanyaku.
“Bukan produkmu.”
“Lalu?”
“Kamu.”
Aku menatapnya. “Apa yang salah denganku?”
“Kamu terlalu mudah berbeda pendapat dengan orang yang ingin kamu jadikan mitra.”
“Kalau aku setuju hanya agar kamu menyukaiku, kita bukan sedang membangun kemitraan. Kita sedang mempersiapkan kebohongan.”
Aiguo meletakkan cangkirnya perlahan. “Itulah masalahmu,” katanya. “Kamu menganggap kebenaran lebih penting daripada kenyamanan.”
“Bukankah bisnis harus dibangun di atas kebenaran?”
“Bisnis dibangun di atas kepercayaan.”
“Kepercayaan tanpa kebenaran hanya penundaan menuju kekecewaan.”
Wajahnya tidak berubah, tetapi matanya menyimpan keberatan. Aku tahu ia tidak menyukai caraku menjawab. Namun, aku juga tidak dapat mengubah diriku menjadi seseorang yang selalu mengangguk hanya demi memperoleh kontrak. Setelah beberapa saat. “Kamu tahu angka 137?” tanyanya.
“Tentu. Seratus tiga puluh tujuh.”
“Aku tidak sedang menguji kemampuan berhitungmu.”
“Syukurlah. Kalau hanya itu, kamu tidak perlu membuatku datang sampai delapan kali.”
Ia tersenyum lagi. Kali ini sedikit lebih lebar. “Dalam fisika,” katanya, “angka 137 sering dikaitkan dengan kebalikan konstanta struktur halus—sebuah bilangan yang menggambarkan kekuatan interaksi elektromagnetik. Nilai tepatnya tidak persis 137, tetapi cukup dekat sehingga angka itu membuat banyak fisikawan terobsesi.” Katanya. Dia memang S3 fiska dan dikenal ahli langka bidang teknologi LCD dan pengembangannya.
“Apa hubungannya dengan LCD?”
“Tidak ada hubungan langsung.”
“Lalu apa hubungannya dengan pertemuan kita?”
Aiguo memutar kertas itu agar menghadap kepadaku. “Alam dapat bekerja dengan sangat teratur. Elektron bergerak, cahaya berinteraksi dengan materi, atom membentuk struktur. Kita mampu merumuskan bagaimana semua itu terjadi. Namun, ketika ditanya mengapa konstanta dasarnya memiliki nilai seperti itu, kita tidak mempunyai jawaban yang benar-benar memuaskan.”
Aku melihat deretan angka pada kertas tersebut, kemudian kembali menatapnya. “Jadi ilmu pengetahuan juga memiliki batas?”
“Bukan sekadar batas. Ia memiliki kerendahan hati. Kita bisa mengetahui cara sesuatu bekerja tanpa sepenuhnya memahami mengapa ia ditetapkan demikian.”
Aku bersandar. “Seperti kehidupan.”
“Maksudmu?”
“Kita mengetahui bahwa kerja keras meningkatkan peluang keberhasilan. Modal memperbesar kapasitas. Teknologi menaikkan produktivitas. Jaringan membuka pasar. Semua dapat dijelaskan secara rasional. Tetapi mengapa satu orang berhasil dan yang lain gagal, meskipun keduanya melakukan hal yang hampir sama, tidak selalu dapat dijawab dengan rumus.”
“Keberuntungan?”
“Mungkin. Atau ada variabel yang belum kita pahami.”
Aiguo mengangguk. “Itulah sebabnya aku tidak langsung menerima proposalmu.”
“Karena angka 137?”
“Karena kamu percaya semua persoalan bisnis dapat diselesaikan dengan struktur transaksi.”
“Aku tidak pernah mengatakan begitu.”
“Tetapi kamu bersikap seolah-olah begitu.”
Aku mengambil kertas itu dan mengamatinya lebih dekat. “Struktur transaksi hanya mengatur risiko yang bisa kita kenali,” kataku. “Ia tidak menghapus ketidakpastian. Justru orang membuat kontrak karena mereka sadar tidak dapat mempercayakan masa depan hanya kepada niat baik.”
Aiguo terdiam.
Aku melanjutkan, “Kalau alam semesta saja memiliki angka yang dapat dihitung tetapi belum sepenuhnya dapat dijelaskan, bagaimana mungkin manusia menuntut kepastian mutlak dalam bisnis? Kita bukan Tuhan. Kita tidak perlu mengetahui seluruh jawaban sebelum mulai berjalan.”
“Namun kita juga tidak boleh berjalan hanya karena ingin segera sampai.”
“Benar. Karena itu aku datang untuk kedelapan kalinya. Kalau aku hanya mengejar kecepatan, sejak pertemuan ketiga aku sudah mencari mitra lain.”
Ia memandangku cukup lama, seolah sedang menimbang apakah jawabanku merupakan ketulusan atau sekadar kelihaian seorang pedagang.
“Dalam angka 137,” katanya kemudian, “ada keteraturan sekaligus misteri. Mungkin bisnis juga begitu. Ada laporan keuangan, proyeksi, kontrak, dan teknologi. Semuanya terukur. Tetapi di belakangnya selalu ada manusia, dan manusia tidak pernah sepenuhnya dapat dihitung.”
“Karena itu kamu sedang menilai aku, bukan proposalku.”
“Ya.”
“Dan apa hasilnya?”
Aiguo tidak segera menjawab. Ia melipat kertas tersebut, lalu memasukkannya kembali ke dalam map hitam. “Kamu terlalu keras kepala.”
“Itu bukan informasi baru.”
“Kamu juga tidak pandai membuat orang merasa nyaman.”
“Aku menjual kepastian pasokan dan kualitas produk, bukan kenyamanan.”
“Sekali lagi, kamu membuktikan ucapanku.”
Aku tertawa kecil. “Lalu mengapa kamu masih mau bertemu denganku?”
Ia memandang ke luar jendela. Orang-orang melintas di trotoar dengan mantel tebal. Sebuah taksi berhenti, menurunkan penumpang, kemudian bergerak kembali seperti bagian dari mesin besar yang tidak pernah beristirahat.
“Karena orang yang terlalu pandai menyenangkan calon mitranya biasanya sedang menyembunyikan sesuatu,” jawabnya. “Sedangkan kamu…”
“Aku bagaimana?”
“Kamu bahkan tidak berusaha menyembunyikan kekuranganmu.”
“Jadi kita sepakat?”
Aiguo menutup mapnya. “Belum.”
Aku mengembuskan napas dan menggelengkan kepala. “Apa lagi yang kamu perlukan?”
“Satu jawaban.”
“Pertanyaan apa?”
“Jika bisnis ini kelak memberi keuntungan sangat besar, apa yang dapat mencegahmu meninggalkan kami dan memilih pihak yang menawarkan harga lebih tinggi?”
Aku tidak langsung menjawab. Pertanyaan itu tidak berhubungan dengan kapasitas pabrik, spesifikasi teknis, ataupun harga. Aiguo sedang mencari sesuatu yang tidak tercantum dalam proposal—sebuah konstanta di dalam diriku.
“Apa kamu menginginkan jawaban yang membuatmu nyaman,” tanyaku, “atau jawaban yang benar?”
“Untuk pertama kalinya, cobalah berikan keduanya.”
Aku tersenyum. “Mungkin itu lebih sulit daripada menjelaskan angka 137.”
***
Ketika sudah berada di atas Shinkansen dalam perjalanan kembali ke Tokyo, aku termenung. Lanskap di luar jendela bergerak mundur dengan cepat: bangunan, persawahan, tiang listrik, dan kota-kota kecil yang hanya sempat terlihat beberapa detik sebelum lenyap dari pandangan.
Aku bertanya-tanya apakah Aiguo sebenarnya tidak menyukaiku. Dalam hampir setiap diskusi, kami selalu berbeda pendapat. Aku tidak tahu bagaimana harus merebut hatinya. Namun, sudah menjadi sifatku untuk tidak berpura-pura setuju hanya demi diterima.
Dalam bisnis dan kemitraan, aku dapat menerima perbedaan dengan mudah. Aku bahkan tidak terlalu peduli apakah mitraku menyukaiku atau tidak, selama kami memperoleh kesepakatan yang adil dan bisnis dapat berjalan. Namun, percakapan siang tadi membuatku memahami sesuatu bahwa keputusan besar tidak selalu lahir dari angka yang paling meyakinkan. Kadang-kadang ia ditentukan oleh satu pertanyaan sederhana—apakah seseorang tetap dapat dipercaya ketika keadaan memberinya kesempatan untuk berkhianat.
Kereta melaju menuju Tokyo dengan kecepatan hampir tiga ratus kilometer per jam. Akan tetapi, setelah delapan kali datang, hubunganku dengan Aiguo seolah belum bergerak satu langkah pun. Aku memejamkan mata dan kembali mengingat pertanyaannya. Apa yang dapat mencegahku meninggalkan mereka ketika keuntungan yang lebih besar datang? Jawabannya sudah kuberikan sebelum kami berpisah. Namun, hingga saat itu aku belum tahu apakah jawabanku telah membuka pintu kerja sama—atau justru menutupnya untuk selamanya.
Konstanta dalam Diri Manusia
Di antara letih dan kantuk, ingatanku beralih kepada seorang perempuan yang bayangannya pernah kulihat memantul pada permukaan Danau Hana-Miya. Aku seolah berdiri kembali di sana, di samping pohon sakura Hana-Miya yang sangat disukainya. Namanya Keiko.
Ia sahabatku di negeri yang asing dan dingin ini. Aku mengenalnya pada pertengahan 1980-an di Jakarta. Ketika itu Keiko bekerja sebagai account manager pada sebuah perusahaan perdagangan Jepang, sedangkan aku hanya salesman yang lebih banyak mengandalkan keberanian daripada pengetahuan. Kami dipertemukan oleh bisnis, tetapi dipersahabatkan oleh kesepian.
Akhir Maret semakin dekat. Seluruh Tokyo bersiap menyambut musim hanami. Orang-orang akan menggelar tikar di taman, membawa makanan dan minuman, lalu duduk bersama di bawah pohon Somei-yoshino, varietas sakura yang paling dikenal di kota itu. Prakiraan mekarnya bunga telah diumumkan. Jika cuaca bersahabat, sakura diperkirakan dapat dinikmati selama sekitar sebelas hari.
Sebelas hari. Manusia menunggu berbulan-bulan hanya untuk menikmati keindahan yang akan gugur dalam hitungan hari. Barangkali justru karena singkat itulah sakura dianggap berharga. Ketika bunga-bunga mulai bermekaran, Keiko memintaku menemuinya di tempat biasa—Roppongi.
Aku bergegas menuju jalur Hibiya agar dapat secepatnya tiba di Stasiun Roppongi. Begitu keluar dari stasiun, aku disambut udara malam yang masih dingin. Cahaya papan reklame memantul pada dinding-dinding kaca. Orang-orang berjalan cepat, seolah malam hanya kesempatan lain untuk mengejar sesuatu yang belum mereka miliki.
Keiko telah menungguku. Begitu melihatku, ia langsung memelukku. Pelukannya hangat dan cukup lama, seperti seorang sahabat yang tahu aku sedang membawa sesuatu yang berat, tetapi memilih tidak langsung menanyakannya. Setelah itu ia merangkul lenganku ketika kami mulai berjalan. Roppongi selalu mempunyai dua wajah. Pada malam hari, kawasan itu dikenal sebagai citra hedonisme Tokyo—bar, klub malam, restoran mahal, musik, orang-orang asing, serta cahaya yang seakan menolak padam.
Namun, bagiku Roppongi juga tempat mencari sesuatu yang akrab. Aku biasa datang jika merindukan sate atau rendang, atau sekadar ingin mengusir penat dengan berjalan-jalan di sekitar Roppongi Hills.
“Kamu semakin kurus,” kata Keiko.
“Itu berarti perjalanan bisnis ini berhasil.”
“Berhasil bagaimana?”
“Delapan negara dalam sepuluh hari. Aku berhasil menghemat biaya makan.”
Keiko menghentikan langkah dan menatapku. “Kamu selalu bercanda kalau sedang kecewa.”
“Aku tidak kecewa.”
“Kalau begitu, kamu sedang kalah.”
“Aku juga belum kalah.”
Keiko kembali berjalan. “Nah, itu baru jawabanmu yang sebenarnya.”
Kami masuk ke sebuah restoran kecil di lantai bawah sebuah gedung. Tempat itu tidak terlalu ramai. Musik jazz mengalun pelan di antara percakapan beberapa pengunjung yang duduk berjauhan. Keiko memilih meja di sudut, lalu memesan teh hangat dan makanan untukku tanpa bertanya.
“Kamu bertemu Aiguo di Nagoya?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Bagaimana hasilnya?”
“Tidak ada hasil.”
“Dia masih belum bersedia?”
“Aiguo tidak mengatakan tidak. Namun, dia juga tidak mengatakan ya. Delapan kali kami bertemu dan delapan kali pula aku pulang membawa janji untuk berdiskusi lagi.”
“Mengapa kamu sangat menginginkan dia?”
“Dia memahami teknologi LCD, sistem produksinya, kontrol kualitasnya, dan jaringan pemasok Jepang. Kalau dia bersedia pulang ke China, kami tidak perlu memulai semuanya dari nol.”
“Dan kalau dia tidak bersedia?”
Aku terdiam sejenak. “Aku harus mencari orang lain.”
“Kalau begitu, masalahnya selesai.”
“Tidak sesederhana itu. Orang yang menguasai teknologi sekaligus dipercaya pemasok Jepang tidak banyak. Kalaupun ada, mereka belum tentu bersedia meninggalkan karier yang mapan untuk mengikuti mimpiku.”
Keiko menuangkan teh ke dalam cangkirku. “Itu bukan hanya mimpimu,” katanya. “Kamu sedang memintanya mempertaruhkan hidup.”
“Aku menawarkan saham, gaji yang baik, dan kesempatan membangun perusahaan sendiri.”
“Semua itu baru ada di atas kertas.”
“Setiap perusahaan besar pada awalnya juga hanya ada di atas kertas.”
“Tetapi tidak semua yang tertulis di atas kertas akhirnya menjadi perusahaan besar.”
Aku mengembuskan napas panjang. “Sekarang kamu mulai bicara seperti Aiguo.”
“Artinya dia orang yang rasional.”
“Katanya bukan proposal yang dia ragukan.”
“Lalu?”
“Dia meragukan aku.”
Keiko tersenyum kecil. “Menilai manusia memang jauh lebih sulit daripada menilai pabrik.”
“Apa aku terlihat seperti penipu?”
“Tidak.”
“Lalu mengapa para profesional selalu mencurigaiku?”
“Karena kamu meminta mereka mempercayai sesuatu yang belum ada.”
Aku menatapnya.
Keiko melanjutkan, “Kamu datang membawa gambaran masa depan—pabrik, teknologi, pasar, dan keuntungan. Namun, kamu tidak memiliki bukti bahwa masa depan itu akan benar-benar terjadi. Kamu meminta seorang profesional meninggalkan Jepang pulang ke China, lalu mengikuti seorang pedagang yang tidak mempunyai latar belakang teknik. Wajar kalau dia takut.”
“Kalau semua orang hanya mempercayai sesuatu yang sudah ada, tidak akan pernah lahir industri baru.”
“Benar. Namun, orang pertama yang melangkah selalu membayar harga paling mahal.”
Pelayan datang membawa makanan. Aroma daging panggang dan rempah memenuhi meja, tetapi selera makanku belum juga muncul.
“Aiguo tadi membicarakan angka 137,” kataku.
Keiko mengangkat alis. “Seratus tiga puluh tujuh?”
“Ya.”
“Sejak kapan pembicaraan tentang pabrik LCD berubah menjadi pelajaran fisika?”
“Sejak kami tidak lagi bisa menyepakati bisnis.”
Kuceritakan secara ringkas apa yang dijelaskan Aiguo: para ilmuwan dapat mengukur konstanta itu dengan sangat teliti, tetapi belum memiliki jawaban terakhir mengapa alam memilih nilainya.
Keiko mengambil selembar tisu dan menuliskan angka tersebut dengan pena: 137
“Jadi, manusia mengetahui cara kerjanya,” katanya, “tetapi tidak mengetahui alasan keberadaannya.”
“Kurang lebih begitu.”
“Lalu, apa hubungannya denganmu?”
“Menurut Aiguo, angka itu mengajarkan kerendahan hati. Kita dapat memahami bagaimana sesuatu bekerja tanpa sepenuhnya mengetahui mengapa ia harus bekerja dengan cara tersebut.”
“Dia sedang mengingatkanmu bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan?”
“Dia menganggap aku terlalu percaya kepada struktur transaksi. Menurutnya, aku selalu merasa bahwa modal, saham, kontrak, dan pembagian risiko dapat menyelesaikan semua persoalan.”
“Apakah dia salah?”
“Tidak sepenuhnya.”
Aku menatap angka di atas tisu itu. “Kontrak dapat mengikat tindakan,” kataku, “tetapi tidak dapat mengikat hati. Aku bisa memberikan saham kepada Aiguo, menentukan gajinya, menanggung biaya kepindahannya, bahkan menyediakan rumah bagi keluarganya. Namun, aku tidak dapat memaksanya percaya kepada masa depan yang kulihat.”
“Sekarang kamu memahami maksud angka itu.”
“Aku memahami logikanya. Belum tentu menerima kesimpulannya.”
Keiko tersenyum. “Kamu memang selalu seperti itu. Bahkan kepada misteri alam pun kamu masih ingin berdebat.”
“Angka memberikan kepastian.”
“Angka memberikan ukuran,” jawabnya. “Belum tentu memberikan kepastian.”
“Apa bedanya?”
“Kamu dapat menghitung biaya pabrik, kapasitas mesin, harga bahan baku, tingkat cacat produksi, dan proyeksi keuntungan. Semua dapat diberi angka. Namun, angka-angka itu tidak dapat menjelaskan apakah Aiguo akan tetap bersamamu ketika bisnis mengalami kerugian.”
“Itulah gunanya kontrak.”
“Kontrak hanya menjelaskan akibat jika dia pergi. Kontrak tidak dapat menciptakan alasan baginya untuk bertahan.”
Aku terdiam.
Keiko menunjuk angka 137 di hadapannya. “Manusia menyukai angka karena angka membuat kita merasa menguasai kenyataan. Begitu sesuatu dapat dihitung, kita mengira telah memahaminya. Padahal, kadang-kadang kita hanya berhasil memberinya nama.”
“Seperti konstanta struktur halus?”
“Seperti kehidupan. Kita tahu kapan seseorang dilahirkan, berapa lama ia hidup, berapa banyak kekayaannya, dan berapa perusahaan yang dibangunnya. Namun, semua angka itu tidak dapat menjelaskan mengapa ia terus berdiri ketika orang lain memilih menyerah.”
Aku memandang ke luar jendela. Roppongi berkilau oleh ribuan lampu. Orang-orang bergegas menuju restoran, bar, dan klub malam. Mereka tampak mengetahui arah tujuannya, meskipun mungkin tidak seorang pun benar-benar memahami apa yang sedang mereka cari.
“Kalau alam mempunyai konstanta,” kataku, “mungkin manusia juga memilikinya.”
“Mungkin.”
“Apa konstantaku?”
Keiko tidak langsung menjawab. Ia memandangku cukup lama, seakan sedang membaca sesuatu yang selama ini kusembunyikan di balik keberanian dan gurauan. “Keinginanmu untuk membuktikan bahwa penilaian orang terhadapmu salah.”
Jawabannya menusuk lebih dalam daripada yang kuduga.
“Aku sedang membangun bisnis,” kataku. “Bukan membalas dendam.”
“Keduanya kadang-kadang memakai pakaian yang sama.”
Aku mengalihkan pandangan.
“Kamu mengatakan ingin membangun rantai pasok telepon seluler,” lanjut Keiko. “Itu tujuan bisnis. Namun, di baliknya ada sesuatu yang lebih pribadi. Kamu ingin membuktikan bahwa seorang salesman tanpa gelar sarjana juga mampu membangun industri berteknologi tinggi.”
“Apakah itu salah?”
“Tidak. Tetapi kamu harus menyadarinya. Kalau tidak, ambisimu akan mengendalikanmu tanpa pernah kamu akui.”
“Kalau angka 137 adalah salah satu konstanta alam, mungkin kemiskinan adalah konstanta dalam hidupku.”
Keiko menggeleng. “Kemiskinan hanya keadaan awal. Bukan konstanta.”
“Lalu apa yang tetap dalam diriku?”
“Keberanianmu untuk kembali setelah ditolak.”
Aku tersenyum hambar. “Delapan kali datang dan delapan kali pulang tanpa kesepakatan. Orang lain mungkin menyebutnya kebodohan.”
“Perbedaan antara kegigihan dan kebodohan baru diketahui setelah hasil akhirnya terlihat.”
“Kalau aku gagal?”
“Mereka akan mengatakan kamu tidak tahu diri.”
“Kalau berhasil?”
“Mereka akan menyebutmu visioner.”
“Jadi, penilaian manusia bergantung pada hasil?”
“Sering kali begitu. Manusia tidak mempunyai alat untuk mengukur keyakinan. Mereka hanya melihat akibatnya.”
Aku kembali memandang angka 137 yang ditulis Keiko. “Alam tidak menunggu manusia memahami angka ini sebelum mengizinkan cahaya bersinar,” kataku.
“Benar.”
“Berarti aku juga tidak perlu memahami seluruh masa depan sebelum memulai.”
“Jangan memakai misteri sebagai alasan untuk bertindak tanpa perhitungan,” katanya. “Alam boleh menyimpan rahasia, tetapi seorang pengusaha tetap harus membayar gaji karyawan.”
Aku tertawa. “Ternyata kamu lebih kejam daripada Aiguo.”
“Aiguo takut mengikuti mimpimu. Aku takut kamu dihancurkan oleh mimpimu sendiri.”
Kalimat itu membuatku terdiam. Keiko mendorong piring ke arahku. “Sekarang makanlah.”
“Aku belum lapar.”
“Tubuhmu bukan perusahaan yang bisa terus dibiayai dengan utang.”
“Aku masih memiliki cadangan.”
“Cadanganmu hampir habis. Matamu seperti orang yang baru kalah berjudi.”
“Aku tidak sedang berjudi.”
“Setiap pengusaha yang mempertaruhkan hidupnya pada masa depan sedang berjudi. Perbedaannya terletak pada kualitas perhitungan dan kemampuannya menanggung kekalahan.”
Keiko mengambil sumpit dan menyuapkan ke mulutku. ” Makanlah.”
Aku mengambil sumpit dari tangannya dan mulai makan. Keiko memasukan tissue bertuliskan angka 137 ke dalam saku jasku. ” Simpan ini.”
” Untuk apa ?
“Supaya kamu ingat bahwa tidak semua hal harus dipahami sebelum dijalani. Namun, tidak semua hal yang tidak dipahami layak dipertaruhkan.”
“Bagaimana aku membedakan keduanya?”
Keiko tidak menjawab.
Ia merangkul lenganku ketika kami meninggalkan restoran dan kembali berjalan menyusuri Roppongi. “Dulu, pada tahun 1984, dalam malam-malam panjang yang kita lalui bersama, kamu begitu pasrah dan memercayaiku sepenuhnya. Tidakkah kamu sadar bahwa kenangan seindah itu tidak mungkin lenyap hanya karena kamu meninggalkanku dan kembali ke Tokyo? Ataukah kamu pergi karena saat itu aku masih miskin—hanya seorang salesman?”
Keiko menatapku lama. Matanya berkilau di bawah cahaya Roppongi. “Bukan karena kamu miskin,” katanya lirih. “Aku pergi justru karena terlalu mencintaimu. Pergi tidak berarti membawa cinta itu keluar dari hatiku. Lihatlah aku—sampai hari ini aku belum menikah. Sementara kamu begitu mudah membuka hati, menemukan cinta yang baru, lalu membangun kehidupan tanpaku.”
“Aku tidak pernah benar-benar melupakanmu.”
“Tetapi kamu mampu melanjutkan hidup. Aku tidak.”
Keiko menunduk. “Mungkin inilah perbedaan kita. Bagimu, cinta adalah perjalanan: seseorang datang, berjalan bersamamu, lalu tertinggal ketika hidup membawamu ke tempat lain. Bagiku, cinta adalah konstanta. Sekali menetap di dalam hati, jarak dan waktu hanya mengubah bentuk kehadirannya—bukan nilainya.”
Aku tersentak.
Di antara gedung-gedung tinggi dan cahaya malam, beberapa kelopak sakura jatuh perlahan. Bunga itu tidak pernah bertanya berapa lama ia akan hidup sebelum memutuskan untuk mekar. Namun, manusia bukanlah bunga. Manusia harus memilih—kapan bertahan, kapan melepaskan, dan untuk mimpi siapa ia bersedia mempertaruhkan hidupnya.
Ikatan yang Tidak Terlihat
Pesan singkat dari Aiguo masuk ke telepon genggamku ketika aku dan Keiko masih berjalan di sekitar Roppongi Hills. Temui aku di Club Muse, Nishi-Azabu. Aku membaca pesan itu dua kali.
“Ada apa?” tanya Keiko.
Kuperlihatkan layar kepadanya. “Aiguo mengajak kita bertemu di Muse.”
“Bukankah itu kabar baik?”
“Beberapa jam lalu dia menegaskan tidak tertarik pada rencanaku. Sekarang tiba-tiba mengajak bertemu di klub malam. Entah dia berubah pikiran atau hanya ingin memastikan aku mampu menerima penolakannya.”
Keiko tersenyum. “Kamu baru saja mengatakan bahwa tidak semua hal harus dipahami sebelum dijalani.”
“Itu filsafat. Ini bisnis.”
“Rupanya filsafat hanya berlaku selama tidak mengganggu harga dirimu.”
Kami naik taksi menuju Nishi-Azabu. Perjalanannya singkat, tetapi suasananya segera berubah. Cahaya Roppongi yang terang dan riuh perlahan tertinggal. Nishi-Azabu terasa lebih tersembunyi—tetap hidup, tetapi tidak sibuk memamerkan dirinya.
Club Muse berada tidak jauh dari persimpangan Nishi-Azabu. Dari luar, tempat itu tidak tampak semegah klub-klub besar di Roppongi. Namun, setelah melewati pintu masuk, dentuman musik langsung menyambut kami. Lorong remang-remang membawa kami ke ruangan bertingkat dengan bar, meja biliar, sudut-sudut menyerupai gua, dan lantai dansa yang dipenuhi pengunjung dari berbagai bangsa. Tempat itu seperti labirin dunia malam. Orang dapat datang untuk menari, minum, mencari pertemanan, atau sekadar bersembunyi dari kehidupan yang menunggunya pada pagi hari.
Aiguo duduk sendirian di sebuah meja yang agak jauh dari lantai dansa. Jasnya telah dilepas. Dasi yang siang tadi terpasang rapi kini dilonggarkan. Di bawah cahaya temaram, ia tidak lagi tampak seperti eksekutif perusahaan elektronik Jepang. Namun, wajahnya masih menyimpan persoalan yang belum selesai.

Ia berdiri ketika melihat kami. “Aku tidak menyangka kamu benar-benar datang,” katanya.
“Kamu yang mengundangku.”
“Setelah delapan kali ditolak, biasanya orang mulai malas bertemu.”
“Aku tidak pernah mengatakan menerima penolakanmu.”
Aiguo tertawa kecil, lalu menoleh kepada Keiko. “Sudah lama kalian saling mengenal?”
“Sejak 1984,” jawab Keiko. “Kami bertemu di Jakarta.”
“Waktu itu kamu bekerja di perusahaan perdagangan Jepang?”
Keiko mengangguk. “Aku account manager. Dia salesman.”
“Salesman yang menyebalkan,” aku menambahkan.
“Tidak,” kata Keiko. “Salesman yang tidak tahu kapan harus berhenti bicara.”
Aiguo tertawa. “Berarti tidak banyak yang berubah.”
Kami duduk. Musik terlalu keras untuk membicarakan struktur investasi secara serius. Barangkali memang bukan itu alasan Aiguo mengundang kami. Ia memesan minuman, kemudian memandangi aku dan Keiko bergantian.
“Sudah lebih dari dua puluh tahun,” katanya. “Bagaimana kalian bisa tetap bersahabat? Kalian tinggal di negara berbeda dan kadang-kadang tidak bertemu selama bertahun-tahun.”
“Persahabatan tidak selalu membutuhkan kehadiran,” jawab Keiko.
“Bukankah jarak mengubah manusia?”
“Jarak mengubah kebiasaan, bukan selalu ikatan.”
Aiguo mengangguk pelan. “Aku juga mendengar kamu tidak pernah menikah.”
Keiko menoleh kepadaku sekilas, lalu kembali memandang Aiguo. “Dari siapa kamu mendengarnya?”
“Siapa yang tidak mengenalmu? Kamu wakil presiden salah satu perusahaan perdagangan terbesar di Jepang,” jawab Aiguo. “Orang-orang mengatakan bahwa selama ini kamu selalu menutup hati bagi pria lain.”
Pertanyaan itu membuatku merasa tidak nyaman. “Aiguo,” kataku, “kita datang untuk membicarakan pabrik, bukan kehidupan pribadi Keiko.”
“Biarkan,” ujar Keiko lembut. “Aku tidak keberatan.”
Ia mengambil gelas di hadapannya, tetapi tidak meminumnya. “Tidak semua hati yang belum menerima seseorang berarti sedang tertutup,” katanya. “Kadang-kadang ia hanya tidak menemukan alasan untuk berpura-pura.”
“Apa kamu menunggu seseorang?” tanya Aiguo.
Keiko tersenyum tipis. “Ya.” Aku menatap panggung, sengaja menghindari matanya.
“Orang itu ada di ruangan ini?” Aiguo kembali bertanya.
“Apa hubungannya dengan rencana pabrik kita?” potongku.
“Kamu selalu tergesa-gesa kembali kepada bisnis,” katanya. “Padahal, sejak siang tadi aku berusaha memahami siapa dirimu.”
“Kamu sudah memeriksa proposal, laporan keuangan, dan rencana investasiku.”
“Itu menjelaskan usahamu. Bukan dirimu.”
Keiko menatap Aiguo. “Apa sebenarnya yang ingin kamu ketahui?”
Aiguo mengeluarkan tisu dari tempatnya, lalu menulis sebuah angka: 137
Aku langsung mengenalinya. “Kamu belum selesai dengan angka itu?” tanyaku.
“Belum. Aku ingin mendengar jawaban dari seseorang yang telah mengenalnya selama dua puluh empat tahun.”
Aiguo mendorong tisu itu ke arah Keiko. “Menurutmu, apa arti 137 dalam hubungan manusia?”
Keiko memandang angka tersebut cukup lama. Cahaya klub yang berubah-ubah jatuh pada wajahnya. Di tengah suara musik dan gelak tawa para pengunjung, ia terlihat seperti berada di tempat yang jauh lebih sunyi. “Itulah 137,” katanya kemudian. “Dua hal yang berbeda dapat terikat karena berada dalam hubungan yang tepat.”
Aiguo mengerutkan kening. “Maksudmu?”
Keiko menyentuh angka di atas tisu dengan ujung jarinya. “Di alam, kedekatan saja tidak cukup untuk menciptakan ikatan. Terlalu jauh, interaksi melemah. Terlalu dekat, sebuah struktur justru dapat menjadi tidak stabil. Sesuatu bertahan ketika unsur-unsur yang berbeda menemukan hubungan yang tepat.”
“Jadi, persahabatan kalian terbentuk karena jarak yang tepat?” tanya Aiguo.
“Ya. Kami tidak saling memiliki, tetapi tidak pernah benar-benar kehilangan. Kami tidak selalu hadir, tetapi ketika salah seorang jatuh, yang lain tahu bagaimana cara kembali.”
Aku menoleh kepada Keiko. Selama puluhan tahun mengenalnya, baru malam itu aku mendengar ia menjelaskan hubungan kami dengan cara demikian. “Namun, manusia bukan atom,” kataku.
“Benar,” jawab Keiko. “Atom tunduk kepada hukum alam. Manusia mempunyai kehendak, ketakutan, dan kepentingan. Karena itu, ikatan antarmanusia jauh lebih rapuh.”
“Lalu apa yang membuatnya bertahan?” tanya Aiguo.
“Kepercayaan.”
“Bukankah kepercayaan dapat dikhianati?”
“Tentu. Sama seperti sebuah struktur dapat rusak ketika menerima energi yang terlalu besar. Tetapi kemungkinan rusak tidak membuat seluruh ikatan menjadi sia-sia.”
Aiguo menatapku. “Kamu percaya kepadanya?”
“Ya,” jawab Keiko tanpa ragu.
“Mengapa?”
“Karena selama dua puluh empat tahun, aku melihat dia tetap menjadi dirinya sendiri. Dia bisa salah. Dia bisa kalah. Kadang-kadang dia keras kepala dan terlalu yakin kepada penilaiannya. Namun, dia tidak berubah hanya untuk mendapatkan penerimaan orang lain.”
“Itu bisa disebut integritas,” kata Aiguo.
“Atau ketidakmampuan menyesuaikan diri,” sahutku.
Keiko tersenyum. “Keduanya kadang-kadang juga memakai pakaian yang sama.”
Aiguo tertawa. Kemudian wajahnya kembali serius. “Kalau suatu hari bisnisnya gagal, apakah kamu masih percaya kepadanya?”
“Aku percaya kepada dirinya, bukan kepada keberhasilan semua rencananya.”
“Kalau dia kehilangan seluruh uangnya?”
“Nilai manusia tidak selalu sama dengan angka di rekeningnya.”
“Kalau semua orang meninggalkannya?”
“Barangkali saat itulah seorang sahabat paling dibutuhkan.”
Aku menunduk. Jawaban Keiko terasa terlalu pribadi untuk dibicarakan di tempat seramai itu.
Aiguo bersandar pada kursinya. “Sekarang aku mengerti,” katanya.
“Mengerti apa?” tanyaku.
“Alasan kamu berani datang kepadaku delapan kali.”
“Karena aku keras kepala?”
“Karena kamu percaya ikatan dapat dibangun sebelum hasilnya ada. Kamu membangun bisnis dengan cara yang sama seperti mempertahankan persahabatan. Kamu datang, menjaga hubungan, menerima perbedaan, lalu kembali lagi.”
“Apa itu pujian atau kritik?”
“Belum tahu.”
Aku menghela napas. “Kamu mengajakku ke sini hanya untuk menanyakan hubunganku dengan Keiko?”
“Tidak.”
Aiguo mengambil napas panjang. Musik tiba-tiba terdengar menjauh. Mungkin karena seluruh perhatianku telah tertuju kepadanya. “Siang tadi kamu bertanya apa yang masih kuragukan,” katanya. “Bukan pasar China. Bukan pula pertumbuhan telepon seluler. Aku tahu industri itu akan berkembang.”
“Lalu?”
“Aku meragukanmu.”
“Itu sudah kamu katakan.”
“Aku melihatmu sebagai pedagang yang terlalu mudah berpindah dari satu peluang ke peluang lain. Aku takut setelah pabrik berdiri, kamu akan menemukan bisnis lain yang lebih menguntungkan dan meninggalkan kami dengan mesin, pekerja, serta utang.”
Aku tidak membantah. Kekhawatirannya masuk akal.
“Namun, malam ini aku melihat sesuatu yang tidak ada dalam proposal,” lanjutnya.
“Apa?”
“Konstanta dalam dirimu.”
Aku menatapnya tanpa berkata-kata.
“Kamu mungkin berubah pikiran mengenai produk, pasar, atau struktur modal. Tetapi ada sesuatu yang tidak mudah berubah—caramu mempertahankan orang yang sudah kamu percaya.”
Keiko melepaskan rangkulannya dari lenganku, lalu menatap Aiguo. “Jangan mengambil keputusan hanya karena perkataanku,” katanya. “Bisnis tetap harus diperhitungkan.”
“Aku sudah menghitungnya selama berbulan-bulan.”
“Dan hasilnya?”
“Risikonya besar.”
“Keuntungannya?”
“Juga besar.”
“Lalu apa yang kurang?”
Aiguo tersenyum. “Keberanian.” Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah amplop, lalu meletakkannya di atas meja. Di dalamnya terdapat surat pengunduran diri yang belum ditandatangani. “Aku akan pulang ke China,” katanya.
Aku menatap amplop itu, kemudian menatap wajahnya. “Apa?”
“Aku akan meninggalkan pekerjaanku di Nagoya dan bergabung denganmu.”
“Jangan bercanda.”
“Aku tidak sedang bercanda.”
“Bagaimana dengan keluargamu?”
“Aku sudah berbicara dengan mereka.”
“Jabatanmu di Jepang?”
“Jabatan dapat dicari lagi. Kesempatan membangun industri dari awal mungkin hanya datang sekali.”
Untuk beberapa detik aku tidak mampu berkata-kata. Sepuluh hari tanpa tidur, perjalanan ke delapan negara, dan delapan pertemuan yang berakhir tanpa kepastian seakan bermuara pada satu kalimat sederhana di sebuah klub malam Roppongi.
“Apa yang membuatmu berubah pikiran?” tanyaku.
Aiguo menunjuk angka 137 di atas tisu. “Dalam fisika, interaksi tidak terlihat. Kita hanya mengetahui keberadaannya dari akibat yang ditimbulkannya. Aku juga tidak dapat melihat masa depan pabrikmu. Namun, aku dapat melihat pengaruh keyakinanmu terhadap orang-orang yang telah lama mengenalmu.”
“Itu bukan dasar yang cukup untuk membangun pabrik.”
“Karena itu kita tetap membutuhkan studi kelayakan, kontrak, modal, dan teknologi,” jawabnya. “Filsafat tidak dapat menggantikan perhitungan. Tetapi perhitungan juga tidak dapat melahirkan keberanian.”
Aku mengulurkan tangan. “Selamat bergabung.”
Aiguo tidak segera menyambutnya. “Aku punya syarat.”
Aku menarik kembali tanganku. “Aku tahu semuanya tidak mungkin semudah ini.”
“Aku yang menentukan desain fasilitas, pemilihan mesin, standar produksi, dan sistem kontrol kualitas. Kamu tidak boleh mencampuri keputusan teknis hanya karena merasa sebagai pemilik modal.”
“Kalau biaya membengkak?”
“Kita bicarakan berdasarkan data.”
“Kalau target produksi tidak tercapai?”
“Aku bertanggung jawab.”
“Kalau kualitas produk ditolak pelanggan?”
“Aku yang pertama kali mundur.”
Aku mengulurkan tangan sekali lagi. “Tidak,” kataku. “Kalau kualitas ditolak, kita perbaiki bersama. Aku tidak mengajakmu pulang ke China untuk menjadi orang pertama yang dikorbankan.”
Kali ini Aiguo menyambut tanganku. Keiko meletakkan tangannya di atas tangan kami. “Tiga unsur yang berbeda,” katanya. “Pedagang, insinyur, dan orang yang berusaha memastikan kalian tidak saling membunuh.”
“Apakah ini juga 137?” tanyaku.
“Belum,” jawab Keiko. “Kalian baru saja membentuk atom. Kita belum tahu apakah strukturnya stabil.”
Tahun itu juga kami mendirikan pabrik LCD di China. Aiguo meninggalkan kariernya di Jepang dan pulang ke tanah leluhurnya untuk memimpin pembangunan fasilitas produksi. Namun, membujuk seorang profesional meninggalkan Nagoya ternyata jauh lebih mudah daripada menyatukan teknologi Jepang, modal internasional, disiplin produksi, dan kebiasaan kerja di China. Angka 137 telah mempertemukan kami. Telah hampir 20 tahun persahabatan kami. Pabrik udah berdiri .BIla awalnya hanya 1 pabrik di China, kini udah 3 di China dan 1 di Ho Chin Minh.

Tinggalkan komentar