Ketika Alam Mengirim Tagihan

Benih dan Arah Perusahaan

Saya sendiri yang meminta pertemuan itu diadakan di safehouse Jakarta. Wenny, sebagai CEO Yuan Holding HK, sebenarnya telah menandatangani keputusan. Ia menolak usulan perubahan varietas kedelai di estate Amur. Secara organisasi, perkara itu sudah selesai. Namun saya memahami satu hal—keputusan yang disahkan terlalu cepat sering meninggalkan riak di bawah permukaan. Jika riak itu tidak dibaca, ia dapat berubah menjadi penolakan diam-diam. Orang menjalankan keputusan, tetapi tidak lagi mempercayainya.

Tiga orang dari subholding Yuan Agro duduk berhadapan dengan saya. Dua datang dari Hong Kong, seorang lagi terbang langsung dari Moskow. Di samping saya duduk Monice, anggota Team Shadow yang bertanggung jawab memeriksa risiko pasar, kepatuhan, dan dampak strategis keputusan bisnis.

Tidak ada basa-basi. Tidak ada presentasi panjang. Mereka tahu saya tidak suka untuk dihibur oleh grafik yang indah. Kepala operasional estate kedelai kami di Amur, Rusia Timur, berbicara lebih dahulu.

“B, kami ingin meminta peninjauan kembali atas keputusan Wenny.”

Saya tidak menjawab. Hanya menatapnya.

Ia merapikan duduknya. “Kami mengusulkan agar kebun kedelai di Amur secara bertahap dialihkan dari varietas non-GMO ke GMO.”

Ia berhenti sejenak, memastikan istilah itu mendarat dengan utuh di ruangan. “Luas lahan efektif kita lebih dari seratus ribu hektare. Dengan varietas sekarang, produktivitas sulit ditingkatkan. Musim tanam pendek, tekanan gulma tinggi, dan biaya pengendalian tanaman terus naik. Varietas GMO tertentu dapat membuat hasil lebih stabil dan menurunkan sebagian biaya operasional.”

Saya membuka botol air, meneguk sedikit, lalu meletakkannya kembali. Di ruang seperti itu, keheningan sering lebih berguna daripada jawaban cepat. Orang yang merasa harus mengisi keheningan biasanya akan mengungkapkan hal yang tidak tertulis di dalam presentasinya.

“Lanjutkan,” kata saya.

Ia menggeser tabletnya ke tengah meja.

“Berdasarkan simulasi agronomi, peningkatan hasil dapat mencapai dua puluh lima persen dalam kondisi tertentu. Pada blok lahan yang tekanan gulmanya tinggi, kenaikannya mungkin lebih besar. Risiko gagal panen juga turun.”

“Mungkin?” tanya saya.

Ia terdiam sebentar.

“Angka itu bergantung pada varietas, cuaca, kualitas tanah, dan disiplin budidaya.”

“Nah,” kata saya. “Sekarang kedengarannya lebih ilmiah.”

Dua orang lainnya saling pandang.

Saya tidak menolak teknologi. Namun saya tidak suka angka yang diperlakukan seolah-olah berlaku universal. Tidak ada benih yang dapat membatalkan cuaca. Tidak ada teknologi yang dapat menggantikan manajemen lahan yang buruk. GMO dapat membantu mengendalikan risiko tertentu, tetapi tidak otomatis menaikkan hasil di setiap tanah dan iklim.

“Bagaimana dengan regulasi Rusia?” tanya Monice.

Kepala operasional itu menoleh kepadanya.

“Secara umum Rusia membatasi penanaman komersial tanaman hasil rekayasa genetika. Tetapi untuk produk pangan dan pakan tertentu, impornya masih dimungkinkan melalui registrasi. Kami memperkirakan kebijakannya dapat berubah.”

Monice membuka dokumen di tabletnya.

“Jadi, saat ini kita belum dapat menanamnya secara komersial.”

“Belum,” jawabnya. “Karena itu usulan kami masih berupa persiapan. Kita dapat membangun kemitraan riset, menguji rantai pasok benih, dan menyiapkan dokumen apabila regulasi berubah.”

Saya menatapnya beberapa detik.

“Kalau begitu, jangan pernah menulis dalam proposal bahwa Rusia tidak melarang,” kata saya. “Tulislah dengan jujur, saat ini penanaman komersialnya dilarang, tetapi kalian memperkirakan kebijakan dapat berubah. Perbedaan satu kalimat itu menentukan apakah manajemen sedang membuat analisis atau sedang mencari pembenaran.”

Wajahnya sedikit menegang. “Baik, B.”

“Dan pasarnya?”

“Permintaan bahan baku pakan sangat besar. China, pasar domestik Rusia, dan Timur Tengah. Untuk pakan ternak, banyak pembeli lebih mengutamakan harga, kandungan protein, kontinuitas pasokan, dan sertifikasi keamanan daripada status GMO.”

Saya tersenyum tipis. “Untuk pakan,” saya mengulang pelan.

“Ya.”

“Bagaimana dengan konsumen Indonesia?”

“Kedelai untuk industri pakan juga dibutuhkan. Sebagian besar pengguna akhir tidak mempersoalkan asal varietas selama harga kompetitif.”

Saya mencondongkan badan. “Sekarang kita berhenti berbicara sebagai agronom,” kata saya. “Kita berbicara sebagai holding global.”

Mereka diam.

“Bagi kalian, persoalannya adalah hasil per hektare. Bagi holding, persoalannya adalah ke pasar mana hasil itu dapat dijual, seberapa besar ketergantungan yang diciptakan, dan apa yang terjadi apabila regulasi berubah.”

Saya membuka peta rantai perdagangan kedelai pada tablet di hadapan saya. “Non-GMO bukan sekadar label. Ia memberi kita pilihan.”

Jari saya menunjuk beberapa jalur distribusi. “Dengan non-GMO yang memiliki pemisahan rantai pasok dan sertifikasi jelas, kita dapat masuk ke segmen pangan manusia di Jepang, Korea, sebagian pasar premium China, dan pembeli tertentu di Eropa. Kita juga tetap bisa menjualnya ke industri pakan apabila pasar pangan sedang lemah. Itu artinya satu produk memiliki beberapa pintu keluar.”

Saya memindahkan jari ke jalur lain. “Dengan GMO, kita memperoleh efisiensi pada segmen tertentu, tetapi kehilangan sebagian pintu. Tidak semua pintu itu tertutup secara hukum, tetapi segregasi, pelabelan, persepsi konsumen, dan persyaratan pembeli akan mempersempit pasar.”

Salah satu direktur dari Hong Kong menyela dengan hati-hati. “Tetapi biaya mempertahankan segregasi non-GMO tinggi, B. Benih harus terlacak, fasilitas penyimpanan dipisahkan, pengangkutan tidak boleh tercampur, dan pengujian dilakukan berkala. Premium yang kita terima belum tentu menutup seluruh biaya.”

Saya mengangguk. “Benar. Karena itu keputusan Wenny tidak boleh dibela dengan romantisme.”

Saya menatap mereka satu per satu. “Kalau premium non-GMO tidak mampu menutup biaya identitas, segregasi, dan logistik, berarti model bisnisnya harus diperbaiki. Tetapi kelemahan eksekusi bukan alasan untuk membuang posisi strategis.”

Saya bersandar.

“GMO dapat membuat kita lebih efisien. Namun efisiensi yang dibangun di atas satu jenis pasar, satu pemasok benih, satu paket bahan kimia, dan satu rezim regulasi juga menciptakan konsentrasi risiko.”

“Benihnya bisa dibeli dari beberapa pemasok,” kata kepala operasional.

“Untuk benih biasa, mungkin. Untuk varietas tertentu yang dilindungi hak kekayaan intelektual, kalian tidak hanya membeli benih. Kalian masuk ke dalam sistem lisensi, kontrak penggunaan, pengawasan varietas, kompatibilitas bahan kimia, dan pembatasan tertentu atas perbanyakan.”

Saya mengetuk meja perlahan. “GMO bukan sekadar teknologi. Ia adalah ekosistem industri.”

Tidak seorang pun membantah.

“Namun kita juga tidak boleh membangun argumen seolah semua GMO berbahaya,” lanjut saya. “Itu tidak ilmiah. Risiko harus dinilai berdasarkan sifat tanaman, teknologi yang digunakan, lingkungan tempat ditanam, pola penggunaan herbisida, kemungkinan resistensi gulma, dan sistem pengawasannya. Jangan mengganti fanatisme kepada efisiensi dengan fanatisme kepada label alami.”

Monice menoleh sebentar kepada saya. Ia tahu saya sengaja mengatakan itu untuk membatasi cara pikir kedua pihak.

“Masalah saya bukan pada kata GMO,” kata saya. “Masalah saya adalah ketergantungan yang tidak dihitung.”

Saya kembali menunjuk layar. “Kalau suatu hari pemilik teknologi menaikkan biaya lisensi, apa alternatif kita? Kalau akses benih terganggu oleh sanksi, bagaimana kita menanam? Kalau negara tujuan mengubah aturan residu, pelabelan, atau keterlacakan, berapa banyak pasar yang hilang? Kalau gulma menjadi resistan akibat pola penggunaan herbisida yang buruk, siapa yang membayar pemulihan tanah?”

Mereka tidak segera menjawab.

“Di dalam laporan kalian,” lanjut saya, “kenaikan produksi disebut keuntungan perusahaan. Namun biaya ekologis, ketergantungan benih, risiko hukum, dan hilangnya pilihan pasar diletakkan sebagai catatan kaki. Itu bukan analisis. Itu cara membuat keputusan yang sudah diinginkan terlihat rasional.”

Kepala operasional itu menarik napas. “Kami hanya khawatir estate Amur kehilangan daya saing.”

“Kekhawatiran kalian masuk akal,” jawab saya. “Karena itu saya tidak memerintahkan kalian mempertahankan cara lama. Saya meminta kalian menemukan cara yang lebih baik tanpa mengorbankan pilihan masa depan.”

Saya meminta Monice menampilkan keputusan Wenny. Di layar muncul tiga arahan, peningkatan riset benih non-GMO yang sesuai dengan musim tanam pendek, penerapan pertanian presisi, dan perbaikan kesehatan tanah melalui rotasi tanaman serta pengendalian gulma terpadu.

“Wenny tidak menolak teknologi,” kata saya. “Ia menolak keputusan yang membuat kita terlalu cepat menyerahkan kendali.”

Saya tersenyum kecil.

“Dia membaca jangka panjang. Dan dalam perkara ini, itu juga visi saya.”

Tatapan saya beralih kepada ketiganya.

“Non-GMO memang dapat menghasilkan panen lebih rendah pada kondisi tertentu. Biaya segregasinya juga lebih tinggi. Namun ia memberi kita fleksibilitas pasar, reputasi pangan, dan posisi tawar dalam rantai pasok. Selama nilai strategis itu masih lebih besar daripada biaya yang kita keluarkan, kita pertahankan.”

Saya berhenti sejenak.

“Bukan berarti GMO haram dibicarakan. Kalian tetap boleh menelitinya. Susun skenario apabila hukum Rusia berubah. Bandingkan produktivitas berdasarkan data lapangan, bukan brosur perusahaan benih. Hitung seluruh biaya—lisensi, bahan kimia, segregasi, logistik, kepatuhan, risiko resistensi, dan potensi kehilangan pasar.”

“Berapa lama waktu yang kami punya?” tanya salah seorang dari mereka.

“Enam bulan.”

Saya mengangkat satu jari. “Namun tidak ada penanaman ilegal, tidak ada percobaan diam-diam, dan tidak ada hubungan dengan pemasok benih yang disembunyikan dari compliance. Kita tidak mengorbankan integritas hanya untuk mendapatkan data lebih cepat.”

Mereka mengangguk.

Saya lalu menatap kepala operasional estate. “Dan ada satu hal yang lebih penting daripada semua perhitungan itu.”

Ia menunggu.

“Kita mempunyai tanggung jawab kepada generasi setelah kita.”

Ruangan kembali sunyi.

“Tanah bukan mesin yang dapat diganti setelah masa depresiasinya selesai. Apa pun teknologi yang digunakan—GMO ataupun non-GMO—ia harus menjaga kesuburan tanah, keragaman biologis, air, dan kemampuan petani mengambil keputusan. Pertanian ekologis bukan propaganda. Ia adalah disiplin untuk memastikan bahwa keuntungan hari ini tidak dibayar oleh orang yang belum lahir.”

Saya meletakkan kedua telapak tangan di atas meja. “Yuan saya dirikan bukan hanya untuk memperbesar aset. Saya ingin perusahaan ini membuktikan bahwa industri dapat tumbuh tanpa mewariskan kehancuran. Bagi saya, itu bukan sekadar strategi bisnis. Itu tanggung jawab moral dan spiritual.”

Saya menatap mereka dengan tajam. “Paham?”

“Paham, B,” jawab mereka hampir bersamaan.

Saya berdiri dan mengibaskan tangan.

“Kembalilah ke posisi kalian masing-masing. Perbaiki estate itu. Jangan hanya mengganti benih karena tidak mampu memperbaiki manajemen.”

Mereka bangkit. Tidak ada yang berusaha memperpanjang pertemuan. Beberapa menit kemudian, pintu tertutup kembali. Di luar, Jakarta tampak tenang. Namun kota itu mengingatkan saya pada ladang luas sebelum musim tanam—sunyi di permukaan, padahal setiap benih yang ditanam di dalamnya dapat membawa keputusan bisnis, politik, dan kehidupan yang berlangsung puluhan tahun.

Tagihan yang Dikirim kepada Rakyat

Setelah mereka pergi, Monice masih duduk di tempatnya. Ia tidak segera menutup tablet. Matanya mengikuti saya yang berjalan menuju jendela. Dari lantai atas safehouse, atap-atap rumah tampak berhimpitan di bawah langit Jakarta yang pucat.

“Apa alasan spesifik B menyebut generasi setelah kita?” tanyanya.

Saya menoleh. “Menurut kamu, alasan saya tidak rasional?”

Monice tersenyum kecil. “Dari perspektif bisnis konvensional, iya. Risiko yang terjadi tiga puluh atau lima puluh tahun lagi tidak selalu masuk ke horizon investasi. Apalagi kalau perusahaan sudah menjual asetnya sebelum kerusakan muncul.”

“Itulah masalahnya.”

Saya kembali ke meja, tetapi tidak langsung duduk.

“Banyak keputusan terlihat rasional hanya karena kita memperpendek jarak pandang. Keuntungan dihitung selama masa investasi, sedangkan akibatnya dibuang ke masa depan. Laba masuk ke perusahaan hari ini. Kerusakan dibayar masyarakat kemudian.”

“Eksternalitas,” kata Monice.

“Bahasa ekonomi menyebutnya begitu. Bahasa sederhana menyebutnya mengirim tagihan kepada orang lain.”

Monice terdiam, menanti penjelasan berikutnya.

“Mitigasi risiko bukan hanya upaya melindungi perusahaan dari kerugian,” kata saya. “Mitigasi juga berarti mencegah agar keuntungan kita tidak menciptakan kerugian bagi orang yang tidak ikut mengambil keputusan.”

“Bahkan kalau kerugian itu belum pasti?”

“Justru karena belum pasti.”

Saya duduk kembali.

“Kalau sebuah risiko sudah pasti, namanya bukan lagi risiko. Itu kewajiban. Masalah moral muncul ketika kita mengetahui ada kemungkinan kerusakan, memahami siapa yang akan menanggungnya, tetapi memilih mengabaikannya karena korban tidak hadir di ruang rapat.”

Monice menyandarkan tubuhnya.

Saya mengambil selembar kertas, lalu menggambar garis sederhana. “Hubungan manusia dengan alam dapat dibaca dari air,” kata saya. “Air tidak pernah mengikuti batas konsesi, laporan keuangan, ataupun periode jabatan.”

Saya menandai sebuah kawasan hutan di bagian atas garis. “Indonesia kaya hutan. Di dalamnya ada kayu, batu bara, mineral, perkebunan, dan berbagai komoditas yang mudah diberi harga. Kita pandai menghitungnya dalam ton, hektare, dolar, dan rupiah.”

Saya membuat tanda lain di bawah gambar hutan.

“Yang jarang dihitung adalah jasa ekologisnya. Berapa nilai tanah yang tetap gembur? Berapa nilai akar yang menahan lereng? Berapa nilai hutan yang memperlambat limpasan air? Berapa biaya menjaga gambut tetap basah agar tidak berubah menjadi bahan bakar raksasa?”

Monice memperhatikan gambar itu.

“Ketika hutan dibuka, permukaan tanah dipadatkan oleh alat berat, lereng dipotong, gambut dikeringkan, dan kanal dibangun untuk produksi, kita tidak hanya mengubah penggunaan lahan. Kita mengubah sistem hidrologi.”

Saya menarik beberapa garis dari hutan menuju sungai.

“Ketika hujan datang, air seharusnya tidak seluruhnya berlari ke sungai pada saat yang sama. Sebagian ditahan vegetasi, sebagian meresap ke tanah, sebagian disimpan di lapisan bawah, lalu dilepaskan perlahan.”

“Kalau tutupan vegetasinya hilang?” tanya Monice.

“Infiltrasi berkurang. Kemampuan tanah menyimpan air melemah. Limpasan permukaan meningkat. Air membawa lapisan tanah, mempercepat erosi, memenuhi sungai dengan sedimen, dan menaikkan risiko banjir serta longsor.”

Saya lalu menggambar matahari di sisi lain kertas.

“Ketika musim berganti, kita kembali menghadapi sisi yang berlawanan dari kerusakan yang sama. Drainase berlebihan menurunkan muka air tanah. Gambut mengering. Bahan organik yang selama ratusan atau ribuan tahun tersimpan dalam keadaan basah berubah menjadi bahan bakar.”

“Lalu sedikit percikan cukup untuk menciptakan kebakaran besar,” kata Monice.

Saya mengangguk.

“Hebatnya, kita selalu berhasil terkejut dua kali oleh sistem yang sama. Saat hujan, kita heran melihat banjir dan longsor. Saat kemarau, kita kembali heran melihat kebakaran dan asap.”

Monice tersenyum hambar. “Padahal penyebabnya berhubungan.”

“Ya. Persoalannya bukan semata-mata hujan terlalu deras atau cuaca terlalu panas. Persoalannya adalah tata kelola air dan lanskap.”

Saya meletakkan pena.

“Kita rajin menghitung berapa banyak kekayaan yang dapat dikeluarkan dari hutan, tetapi tidak disiplin menghitung berapa banyak air yang harus tetap berada di dalam tanah agar ekosistem tidak kehilangan keseimbangan.”

“Karena nilai air yang tersimpan tidak muncul sebagai pendapatan,” katanya.

“Benar. Selama pohon berdiri dan gambut tetap basah, laporan keuangan menganggap tidak ada transaksi. Begitu pohon ditebang, mineral digali, dan lahan dikonversi, barulah dianggap ada penciptaan nilai.”

Saya menatap Monice.

“Padahal yang terjadi kadang hanya perubahan bentuk kekayaan. Modal alam dihancurkan, lalu hasil penjualannya dicatat sebagai pertumbuhan ekonomi.”

Monice membuka kembali tabletnya. “Setelah bencana datang, negara mengeluarkan biaya pemadaman, bantuan sosial, rehabilitasi, pembangunan tanggul, dan perbaikan jalan.”

“Dan semuanya disebut belanja penanggulangan bencana,” jawab saya. “Seolah bencana turun dari langit tanpa hubungan dengan izin, tata ruang, dan kegiatan ekonomi sebelumnya.”

Saya berdiri lagi, berjalan perlahan di depan meja. “Negara bisa memiliki saldo anggaran lebih. Bank bisa mempunyai likuiditas. Pemerintah bisa mengerahkan petugas, membagikan bantuan, tampil di televisi, dan menyampaikan pidato. Tetapi uang tidak dapat segera mengembalikan tanah yang hanyut, memulihkan gambut yang rusak, atau menghidupkan orang yang tertimbun longsor.”

Saya berhenti di belakang kursinya. “Sering kali kita merasa lebih modern karena mampu membayar akibat daripada mencegah penyebabnya.”

Monice menutup tabletnya. “Padahal metode mitigasinya sudah diketahui.”

“Sudah lama diketahui,” jawab saya. “Menjaga tutupan vegetasi. Melindungi daerah tangkapan air. Mengendalikan pembukaan lereng. Mengatur kanal dan drainase. Mempertahankan muka air gambut. Memulihkan kawasan yang rusak. Membatasi operasi pada daya dukung lanskap. Dan yang terpenting, memasukkan biaya restorasi sejak awal ke dalam biaya produksi.”

“Artinya industri harus membentuk cadangan ekologis?”

“Bukan hanya cadangan akuntansi yang dapat dipindahkan sesuka hati. Harus ada dana restorasi yang terikat, kewajiban rehabilitasi yang terukur, jaminan pelaksanaan, audit independen, dan tanggung jawab yang tetap melekat meskipun konsesi berpindah tangan.”

Saya kembali duduk.

“Sumber daya alam boleh diekstraksi. Saya bukan orang yang menganggap pohon tidak boleh disentuh dan mineral harus selamanya berada di dalam tanah. Manusia perlu membangun rumah, menghasilkan energi, membuat baja, menanam pangan, dan menciptakan pekerjaan.”

Saya mengetuk kertas bergambar hutan tadi. “Namun risiko ekologisnya harus masuk ke dalam neraca ekonomi. Kalau keuntungan diprivatisasi sementara biaya banjir, longsor, asap, penyakit, dan rehabilitasi dibayar masyarakat, itu bukan efisiensi.”

“Lalu apa namanya?” tanya Monice.

Saya tersenyum tipis. “Itu hanya cara yang sopan untuk mengatakan, hasil hutannya dijual, tagihan kerusakannya dikirim kepada rakyat.”

Ruang itu kembali hening.

Monice menatap gambar sederhana di atas kertas, kemudian mengangkat wajahnya. “Saya paham mengapa itu jadi prinsip bagi semua unit bisnis Yuan”

Saya tidak segera menjawab. Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun saya tahu, Monice tidak sedang bertanya tentang kebun kedelai di Amur. Ia sedang mengingatkan saya bahwa nilai moral baru berarti apabila berani diuji terhadap perusahaan yang kita miliki sendiri.

Kebijakan Menjadi Pabrik Kekuasaan

Besok Monice harus kembali ke NY. Sorenya  saya ajak Monice menemui Ira di kantornya, kawasan Menteng. Tidak ada agenda khusus. Saya hanya sudah lama tidak bertemu dengannya. Ira adalah konsultan geostrategis dan sahabat saya sejak awal 1990-an—masa ketika Uni Soviet baru runtuh, globalisasi dirayakan, dan banyak orang percaya bahwa demokrasi serta pasar bebas akan membawa dunia menuju kehidupan yang lebih adil. Tiga puluh tahun kemudian, kami tahu sejarah tidak pernah bergerak selurus teori.

Kantor Ira menempati sebuah rumah tua yang telah direnovasi. Rak-rak tinggi memenuhi hampir seluruh dinding. Isinya buku sejarah, geopolitik, ekonomi, militer, dan peradaban. Di belakang meja kerjanya terbentang peta dunia tanpa garis batas negara yang tegas. Yang ditampilkan justru jalur energi, pelabuhan, kabel bawah laut, pusat pangan, kawasan mineral, dan pangkalan militer.

“Jadi, kamu Monice dari Team Shadow?” tanya Ira sambil menjabat tangannya. Ia mengamati wajah Monice sejenak, lalu tersenyum hangat. “Cantik sekali kamu, Nak.”

“Terima kasih, Tante,” jawab Monice.

“Anggap saja seperti rumah sendiri,” kata Ira. “Ini kantor milik Pak Awi.” Ia kemudian menoleh kepada saya. “Karena Tante berteman dengan Bapak, Pak Awi berbaik hati meminjamkan tempat ini.”

“Iya, Tante. Bapak memang tidak punya apa-apa, tetapi punya banyak sahabat yang setia kepadanya,” kata Monice. Ia melirik saya, lalu tersenyum. “Kalau saya datang ke Jakarta, mobil Audi milik kantor Yuan sudah tersedia. Saya bebas menyetirnya ke mana saja. Tetapi Bapak sendiri pergi ke mana-mana malah naik ojek online.”

Ira tertawa kecil. Saya hanya mengangkat cangkir kopi, pura-pura tidak mendengar sindiran itu.

“Bagi saya, Bapak bukan hanya bos,” lanjut Monice. “Beliau juga sahabat, sosok ayah, dan inspirasi saya.”

“Asalkan kamu belum pernah mendengar Bapak marah,” kata Ira, masih tertawa. “Bapak sudah menjadi sahabat Tante sejak muda. Dia orang baik, hanya kadang-kadang menyebalkan.”

“Kadang-kadang?” Saya mengangkat alis.

Ira menatap Monice dan menahan senyum. “Baiklah. Cukup sering.”

Monice dan Ira tertawa. Saya hanya tersenyum dan mengangkat cangkir kopi. “ Bapak memang temperamental namun cepat melupakan. Bisa dalam sekejab berubah menjadi charming.” Kata monice

Tidak ada niat membicarakan politik, negara, ataupun peradaban. Namun di tengah percakapan ringan itu, Monice tiba-tiba meletakkan cangkirnya. “Menurut saya, pemimpin korporasi tidak berbeda jauh dengan pemimpin negara atau organisasi apa pun,” katanya. “Ia harus memiliki visi untuk membangun peradaban—bukan hanya bagi kehidupan hari ini, melainkan juga untuk hari esok yang lebih baik.”

Ira menatapnya dengan lebih serius. Saya pun diam. Kalimat itu sederhana, tetapi membuat percakapan yang semula ringan berubah arah.

“Mengapa kamu sampai pada kesimpulan itu?” tanya Ira.

“Karena perusahaan besar tidak hanya menghasilkan barang dan keuntungan,” jawab Monice. “Ia menentukan bagaimana tanah digunakan, teknologi dipilih, manusia bekerja, dan sumber daya dibagikan. Keputusannya bahkan bisa bertahan lebih lama daripada masa jabatan seorang menteri.”

“Dan kalau pemimpinnya tidak memiliki visi peradaban?” tanya Ira lagi.

“Perusahaan hanya akan menjadi mesin ekstraksi,” jawabnya. “Ia mengambil sebanyak mungkin dari manusia dan alam, lalu meninggalkan akibatnya kepada masyarakat.”

Ira mengangguk kecil. “Masalahnya,” katanya, “negara pun dapat berubah menjadi mesin seperti itu.”

Ira berdiri, mengambil spidol, lalu menulis tiga kata di papan putih:

Gagasan — Legislasi — Pelaksanaan.

“Banyak kebijakan publik lahir dari gagasan yang terlihat akademis dan mulia,” katanya. “Ketahanan pangan, pemerataan, hilirisasi, transisi energi, kedaulatan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, atau pembangunan daerah tertinggal.”

Ia menunjuk kata pertama. “Pada tahap ini, kebijakan masih terlihat bersih. Ada riset, seminar, naskah akademik, statistik, dan presentasi para ahli.”

Spidolnya bergerak menuju kata kedua. “Namun ketika masuk ke lembaga legislatif dan ruang politik, pertanyaannya berubah. Bukan lagi hanya apakah kebijakan itu bermanfaat, melainkan siapa yang akan memperoleh konsesi, siapa yang mendapatkan pengecualian pajak, siapa yang berhak menerbitkan izin, dan perusahaan mana yang akan menerima pembiayaan.”

Kemudian ia menunjuk kata terakhir. “Ketika sampai pada tahap pelaksanaan, gagasan tadi berjumpa dengan anggaran, tender, tanah, aparat, birokrasi, dan korporasi. Di situlah kebijakan yang semula terlihat akademis dapat berubah menjadi desain state capture.”

“Artinya negara ditangkap oleh kepentingan tertentu?” tanya Monice.

“Lebih tepatnya, kewenangan negara dipakai untuk mengubah kepentingan privat menjadi keputusan publik.”

Saya mengambil cangkir kopi. “Korupsi biasa terjadi ketika seseorang melanggar sistem untuk mencuri,” kata saya. “Dalam state capture, sistemnya yang dirancang agar penguasaan kekayaan publik terlihat legal.”

“Korupsi biasa mengambil uang dari atas meja,” tambah Ira. “State capture menentukan siapa yang boleh memiliki meja, ruangan, bahkan gedungnya.”

Monice menatap papan putih. “Berikan contoh yang vulgar,” katanya.

Ira meletakkan spidol. “Bayangkan pemerintah mengumumkan proyek ketahanan pangan seluas satu juta hektare. Tujuannya sangat mulia: mengurangi impor, menyediakan pangan murah, dan membuka lapangan kerja.”

Ia kembali duduk.

“Pertama, pemerintah memesan kajian. Para konsultan menulis tentang pertumbuhan penduduk, ancaman krisis pangan global, perubahan iklim, dan ketergantungan impor. Seminar diadakan. Profesor berbicara. Media menampilkan infografik. Semua terlihat ilmiah.”

“Belum ada korupsi,” kata Monice.

“Belum terlihat,” jawab Ira. “Tetapi sejak awal, hasil kajiannya bisa saja sudah diarahkan untuk membenarkan proyek tertentu.”

Ia mengangkat satu jari. “Kemudian parlemen mengesahkan anggaran dan undang-undang percepatan. Karena disebut proyek strategis, proses pengadaan dipersingkat. Persyaratan lingkungan dilonggarkan. Pemerintah daerah diminta menyediakan tanah. Bank negara diarahkan memberikan kredit.”

“Lalu konsesinya dibagikan,” kata saya.

Ira mengangguk. “Perusahaan yang dekat dengan elite memperoleh lahan. Mereka belum tentu mengerti pertanian, tetapi memahami cara mengakses menteri, partai, birokrat, aparat, dan bank.”

“Siapa yang mengerjakan proyeknya?” tanya Monice.

“Kontraktor. Perusahaan pemegang konsesi memperoleh margin dari pembukaan lahan, pembangunan jalan, irigasi, gudang, perumahan pekerja, dan pengadaan mesin. Bibit dibeli dari perusahaan terafiliasi. Pupuk didatangkan melalui distributor yang masih satu jaringan. Konsultan pengawas juga dipilih dari lingkungan mereka.”

“Jadi mereka sudah mendapatkan keuntungan sebelum menghasilkan pangan,” kata Monice.

“Persis,” jawab saya. “Bisnis sebenarnya bukan bertani. Bisnisnya adalah menguasai anggaran, tanah, proyek konstruksi, pengadaan, dan kredit.”

“Kalau panennya gagal?” tanyanya lagi.

“Cuaca disalahkan,” jawab Ira. “Atau tanah, petani, konflik sosial, dan perubahan iklim. Kredit kemudian direstrukturisasi karena proyek dianggap terlalu strategis untuk gagal. Bank negara menanggung kredit bermasalah. Pemerintah menyediakan anggaran tambahan. Sementara itu, kayu dari pembukaan lahan telah dijual dan penguasaan tanah sudah berpindah.”

Monice mengembuskan napas panjang. “Berarti programnya bisa gagal bagi rakyat, tetapi berhasil bagi orang-orang di dalam ekosistemnya.”

“Benar,” kata Ira. “Tidak semua kegagalan kebijakan merupakan kegagalan bisnis bagi mereka yang merancangnya.”

“Itulah industrialisasi korupsi,” kata saya. “Korupsi tidak lagi berupa transaksi rahasia antara dua orang. Ia berubah menjadi rantai nilai.”

“Rantai nilai korupsi?” Monice mengulang.

“Birokrat menyediakan regulasi dan anggaran. Politisi menyediakan legitimasi. Korporasi menjadi kendaraan bisnis. Bank menyediakan pembiayaan. Aparat menjaga stabilitas dan melindungi pelaksanaan. Konsultan memberikan pembenaran akademis. Media membentuk persepsi publik.”

Ira mengambil kembali spidolnya. Ia menggambar sebuah lingkaran besar, kemudian menulis di dalamnya: Regulasi — Anggaran — Izin — Kredit — Proteksi.

“Semua unsur saling membutuhkan,” katanya. “Mereka membangun ekosistem mutual benefit. Karena setiap pihak memperoleh bagian, tidak seorang pun merasa sedang melakukan kejahatan.”

“Birokrat berkata ia hanya melaksanakan keputusan politik,” ujar saya.

“Politisi berkata ia sedang memperjuangkan pembangunan,” lanjut Ira. “ Korporasi berkata ia hanya menangkap peluang yang sah. Bank berkata proyeknya dijamin negara. Konsultan berkata ia hanya menyusun kajian. Aparat berkata ia hanya menjaga ketertiban.”

Monice menggeleng perlahan. “Tidak ada yang merasa bersalah.”

“Karena tanggung jawab telah dipecah menjadi bagian-bagian kecil,” kata saya. “Setiap orang hanya melakukan satu tahap. Kesalahan dibagi begitu tipis sampai nurani masing-masing masih sanggup menanggungnya.”

Ira menulis sebuah kata di tengah lingkaran: Loyalitas.

“Ekosistem itu bisa bertahan karena loyalitas,” katanya. “Selama seseorang tetap berada di dalam jaringan, kesalahannya tidak ditemukan, tidak diprioritaskan, atau tidak pernah dituntaskan.”

“Dan ketika ia tidak lagi loyal?” tanya Monice.

“Dokumen lama tiba-tiba dibuka. Saksi ditemukan. Transaksi yang selama bertahun-tahun dianggap biasa mendadak berubah menjadi bukti.”

“Artinya ia dihukum bukan karena baru melakukan korupsi,” kata Monice.

Ira menatapnya. “Ia dihukum karena korupsinya tidak lagi dilindungi.”

Ruangan mendadak hening.

“Bukankah tetap baik kalau pelaku korupsi akhirnya dihukum?” tanya Monice.

“Tentu,” jawab saya. “Siapa pun yang bersalah harus bertanggung jawab. Namun keadilan tidak hanya diukur dari siapa yang dipenjara. Keadilan juga ditentukan oleh siapa yang sengaja tidak disentuh.”

Saya meletakkan cangkir. “Kalau sepuluh orang melakukan kejahatan yang sama, tetapi hanya satu yang dihukum karena berpindah kubu atau tidak lagi loyal, itu bukan law enforcement. Itu seni saling menghabisi.”

“Kanibalisme politik,” kata Ira. “Hukum tidak dipakai untuk membersihkan sistem, tetapi untuk mendisiplinkan anggota jaringan.”

“Karena itu,” kata saya, “penjara bisa penuh sementara korupsi tetap tumbuh. Yang dihukum hanyalah pelaku tertentu. Mesin yang melahirkannya tetap dibiarkan bekerja.”

Monice menatap peta dunia yang tergantung di dinding. “Apakah itu hanya terjadi di negara berkembang?”

“Tidak,” jawab Ira. “Di negara maju, prosesnya sering lebih halus, dokumennya lebih rapi, dan bahasanya lebih terhormat.”

Ira mengambil sebuah buku dari rak di belakangnya. “Perusahaan farmasi membiayai lobi agar sistem paten dan pembelian obat menguntungkan produk mereka. Industri pertahanan ikut membentuk narasi ancaman untuk mempertahankan anggaran persenjataan. Perusahaan keuangan mendorong deregulasi, lalu merekrut pejabat yang dahulu mengawasi mereka.”

“Revolving door,” kata Monice.

Ira mengangguk.

“Seseorang berpindah dari regulator ke korporasi yang pernah dia awasi. Beberapa tahun kemudian, ia kembali ke pemerintahan. Mungkin tidak pernah ada koper berisi uang. Namun akses, pengetahuan, hubungan, kebijakan, dan masa depan karier dipertukarkan.”

“Di negara miskin, korupsi sering terlihat seperti amplop atau uang tunai,” kata saya. “Di negara maju, ia dapat hadir sebagai dana kampanye, honor konsultasi, kontrak buku, jabatan komisaris, investasi ke perusahaan keluarga, atau posisi setelah pensiun.”

“Bentuknya berbeda,” ujar Ira, “tetapi pertanyaannya tetap sama: siapa yang sesungguhnya menulis kebijakan negara?”

Ira membuka peta sumber daya mineral pada layar besar. “Ambil contoh transisi energi. Pemerintah menyusun kebijakan hijau untuk menurunkan emisi. Tujuannya baik. Namun teknologi yang memperoleh subsidi bisa dipilih bukan semata-mata karena paling efisien, melainkan karena kelompok tertentu telah menguasai lisensi, tanah, impor peralatan, atau rantai pasoknya.”

“Standar teknis dibuat sangat spesifik,” kata Monice, “sehingga hanya perusahaan tertentu yang mampu memenuhinya.”

“Benar. Pemerintah lalu memberi jaminan pembelian, fasilitas pajak, dan pembiayaan murah. Kalau proyek berhasil, laba dimiliki korporasi. Kalau tarifnya mahal, konsumen membayar. Kalau proyek gagal, bank negara menanggung kreditnya. Kalau teknologinya usang, pemerintah diminta memberi subsidi baru.”

“Dan semuanya tetap disebut transisi energi,” kata saya.

Ira tersenyum hambar. “Bahasa moral adalah kemasan terbaik bagi perburuan rente.”

“Nasionalisme juga sering menjadi kemasan,” kata saya.

Ira mengubah tampilan layar menjadi peta persebaran mineral. “Pemerintah mengumumkan hilirisasi demi kedaulatan ekonomi. Ekspor bahan mentah dilarang. Secara teori, itu bisa menciptakan industri, teknologi, dan lapangan kerja.”

“Tetapi izin tambangnya terkonsentrasi,” kata Monice.

“Smelter memperoleh listrik murah, pembebasan pajak, tanah, pelabuhan, dan perlindungan kebijakan. Mineral dari penambang kecil dibeli dengan harga rendah. Biaya lingkungan ditanggung daerah. Sementara teknologi, mesin, pembiayaan, dan sebagian besar kendali perdagangan berasal dari luar.”

“Produk setengah jadi kemudian diekspor,” kata saya. “Nilai tambahnya terbatas, tetapi setiap pidato menyebutnya industrialisasi.”

“Kita mengibarkan bendera nasional di depan pabrik,” ujar Ira, “sementara manfaat ekonominya mengalir kepada jaringan yang sangat sempit.”

Monice menatap peta itu cukup lama. “Jadi, sumber daya ekonomi dipabrikasi untuk kepentingan kleptokrasi.”

Saya mengangguk. “Kleptokrasi modern tidak harus mencuri langsung dari kas negara. Ia menciptakan kebijakan agar kekayaan publik mengalir ke mesin privat. Tanah, hutan, mineral, kredit bank negara, jaminan pemerintah, izin monopoli, bahkan data rakyat dijadikan bahan bakunya.”

“Regulasi menjadi pabrik,” kata Ira.

“Rente menjadi produknya,” sambung saya.

“Dan kerusakannya menjadi milik masyarakat,” kata Monice.

Saya tersenyum tipis. “Kini kamu melihat keseluruhan industrinya.”

Ira mematikan layar, lalu berjalan menuju jendela. “Masalahnya bukan karena sebuah negara kekurangan orang pintar,” katanya. “Negara bisa dipenuhi doktor, ekonom, teknokrat, dan ahli hukum. Namun jika politik hanya dipahami sebagai perebutan kekuasaan, seluruh pengetahuan mereka akhirnya dipakai untuk memproduksi pembenaran.”

Saya memandang punggungnya. “Karena kekuasaan tidak lagi dianggap sebagai pengabdian,” kata saya. “Ia diperlakukan sebagai investasi.”

Monice menoleh. “Investasi?”

“Untuk memperoleh jabatan, orang mengeluarkan uang, membangun jaringan, menerima bantuan sponsor, dan membuat janji kepada banyak pihak. Setelah menang, kekuasaan harus menghasilkan pengembalian.” Kata saya.

“Return on political investment,” kata Ira.

“Anggaran negara menjadi arus kas,” lanjut saya. “Perizinan menjadi instrumen pembayaran. Jabatan menjadi aset. Birokrasi menjadi jaringan distribusi. Penegakan hukum menjadi alat penagihan sekaligus perlindungan.”

“Pada saat itulah,” kata Ira, “batas antara moral dan kejahatan menjadi absurd. Orang tidak lagi bertanya apakah tindakannya benar. Mereka hanya bertanya apakah tindakannya legal secara formal, menguntungkan, dan dilindungi oleh orang yang cukup kuat.”

“Kalau semua orang di lingkungannya melakukan hal yang sama,” ujar saya, “kejahatan berubah menjadi kebiasaan. Orang jujur malah dianggap naif.”

“Bahkan berbahaya,” tambah Ira. “Karena orang jujur tidak mudah dikendalikan. Ia tidak dapat dibeli, tetapi juga tidak dapat dipastikan akan diam.”

Monice merapatkan kedua tangannya di atas meja. “Apa akibat akhirnya bagi masyarakat?”

Ira kembali duduk. “Rusaknya rasa keadilan.” Ia berbicara lebih pelan. “Ketika rakyat melihat hukum hanya keras kepada orang lemah atau elite yang kehilangan pelindung, mereka berhenti percaya kepada institusi. Ketika kerja keras tidak mampu mengalahkan koneksi, mereka berhenti percaya kepada meritokrasi. Ketika pajak dipakai untuk menyelamatkan proyek kelompok berkuasa, mereka berhenti percaya kepada solidaritas.”

“Lalu setiap orang memilih menyelamatkan dirinya sendiri,” kata saya.

“Ya. Individualisme tidak selalu lahir dari kebebasan,” jawab Ira. “Kadang ia lahir dari kekecewaan. Orang berkata: untuk apa saya memikirkan kepentingan bersama kalau negara sendiri tidak adil?”

Ia kembali berdiri dan menulis: Individualisme — Ego Sektoral — Ultranasionalisme.

“Ketika kepercayaan sosial runtuh, setiap kelompok membangun bentengnya sendiri. Kementerian menjaga anggarannya. Aparat menjaga kewenangannya. Korporasi menjaga konsesinya. Daerah menjaga pendapatannya. Kelompok politik menjaga pengikutnya. Kelas menengah menjaga hartanya.”

“Tidak ada lagi kepentingan bersama,” kata Monice.

“Yang ada hanya persekutuan sementara,” jawab Ira. “Mereka bekerja sama selama kepentingannya bertemu, lalu saling memangsa ketika sumber daya mulai menyusut.”

“Bagaimana dengan ultranasionalisme?” tanya Monice.

Ira menunjuk peta dunia. “Ketika negara tidak mampu menawarkan keadilan dan kesejahteraan, penguasa sering menggantinya dengan kebanggaan simbolik. Musuh dari luar diciptakan. Kritik disebut tidak nasionalis. Kegagalan kebijakan dituduhkan kepada asing, minoritas, imigran, atau pengkhianat domestik.”

Saya menyandarkan tubuh. “Nasionalisme yang sehat menyatukan rakyat untuk membangun kemampuan. Ultranasionalisme menyatukan mereka melalui ketakutan dan kebencian.”

“Karena kebencian jauh lebih murah daripada kesejahteraan,” kata Ira.

Ruangan kembali sunyi.

Monice menatap kami bergantian. “Berarti kerusakan lingkungan tidak berdiri sendiri.”

“Tidak pernah,” jawab saya. “Kerusakan lingkungan, korupsi, ketimpangan, dan pembusukan hukum sering lahir dari sumber yang sama: kekuasaan yang tidak merasa bertanggung jawab kepada orang lain.”

“Termasuk kepada generasi yang belum lahir,” katanya.

“Terutama kepada mereka. Mereka tidak mempunyai suara, tidak memiliki hak pilih, tidak dapat menggugat, dan tidak hadir di meja perundingan. Karena itu, mereka menjadi pihak yang paling mudah dikorbankan.”

Ira memandang Monice, lalu beralih kepada saya. “Kalimat Monice tadi benar,” katanya. “Pemimpin korporasi, negara, ataupun organisasi apa pun seharusnya mempunyai visi membangun peradaban.” Ia berhenti sejenak. “Namun visi peradaban selalu terdengar indah selama yang diuji adalah orang lain.”

Tatapannya menjadi lebih tajam. “Negara dapat berubah menjadi mesin ekstraksi karena kekuasaannya terlalu besar dan pengawasannya terlalu lemah. Korporasi juga bisa mengalami hal yang sama. Ia memiliki modal, birokrasi, teknologi, wilayah operasi, data, aparat keamanan, dan manusia yang bergantung kepadanya.”

Monice tidak berkata apa-apa.

Ira mencondongkan tubuh ke arah saya. “Kalau begitu, apa yang memastikan Yuan tidak berubah menjadi negara kecil di dalam negara?”

Saya menatapnya. “Apa maksudmu?”

“Di dalam Yuan, kamu adalah pendiri. Gagasanmu menjadi visi. Visi berubah menjadi kebijakan. Kebijakan dijalankan oleh puluhan ribu orang yang sebagian besar tidak pernah bertemu denganmu.”

Ira menunjuk tiga kata yang sejak awal masih tertulis di papan: Gagasan — Legislasi — Pelaksanaan.

“Bukankah prosesnya hampir sama?”

Suara kendaraan terdengar samar dari balik jendela. Tidak ada lagi yang menyentuh kopi di atas meja. Kami datang hanya untuk menemui seorang sahabat lama. Namun percakapan itu perlahan membawa persoalan yang semula jauh—tentang negara, korupsi, dan kekuasaan—ke hadapan saya sendiri.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca