Uang, Teknologi, dan Bayangan Kekuasaan

Casa Cipriani.

Malam itu saya datang ke Casa Cipriani, sebuah private members’ club di Lower Manhattan, New York. Klub tersebut berada di Battery Maritime Building, bangunan bergaya Beaux-Arts yang menghadap East River. Dari balik jendela kaca yang lebar, cahaya Brooklyn memantul di atas permukaan air. Kemewahannya tidak berisik. Lampunya temaram, meja-meja ditata cukup berjauhan untuk menjaga privasi, dan para pelayan bergerak tenang tanpa membuat tamu merasa diawasi. Orang-orang kaya biasanya menjaga volume suara mereka sebagaimana mereka menjaga asal-usul uangnya.

Saya datang tanpa janji dengan siapa pun. Saya hanya ingin killing time sambil minum wine sebelum kembali ke hotel untuk tidur. Karena itu, saya memilih duduk di bar, bukan di ruang utama.

Saya memesan segelas Barolo. Baru dua teguk, seorang wanita di sebelah saya menoleh. “You look Filipino,” katanya.

Saya melirik sekilas. “Indonesian.”

“Oh, I’m sorry.”

“No problem.”

Usianya mungkin pertengahan tiga puluhan. Wanita Kaukasia dengan rambut cokelat gelap yang jatuh rapi hingga bahu. Wajahnya tenang, hampir tanpa riasan mencolok. Dari caranya duduk, memegang gelas, dan memilih kata, saya menduga ia terbiasa berada di ruangan yang dipenuhi orang-orang terpelajar.

“Saya maklum,” katanya dalam bahasa Indonesia yang cukup lancar. “Orang datang ke klub pukul sepuluh malam, sendirian, biasanya karena kesepian, tetapi tidak mau mengakuinya.”

Saya menoleh penuh kepadanya. “Bahasa Indonesia Anda bagus.”

“Saya pernah tinggal di Jakarta.”

“Berapa lama?”

“Hampir empat  tahun.”

Ia mengangkat gelasnya. “Kesepian di tempat seperti ini lebih mahal daripada kesepian di tempat lain,” katanya. “Paradoks kelas atas.”

“Paradoks?”

Ia tertawa kecil.

“Ya. Sama seperti ekonomi Amerika. Pertumbuhan masih terlihat baik. Wall Street dan Nasdaq bergairah. Pasar uang terus bergerak. Namun pendapatan riil sebagian masyarakat stagnan, sementara biaya hidup naik lebih cepat daripada rasa aman mereka.”

“Jadi Anda ekonom?”

“Macro strategist. Nama saya Eleanor Ward.”

Saya menyebutkan nama saya, tetapi tidak menjelaskan lebih jauh. Ia juga tidak bertanya. “Apa yang membuat ekonomi Amerika menjadi paradoks?” tanya saya.

“Tiga huruf A: artificial intelligence, asset prices, dan affluent consumers.”

Ia meletakkan gelasnya.

“Investasi dalam AI, pusat data, semikonduktor, perangkat lunak, dan infrastruktur energi menopang pertumbuhan. Harga saham yang tinggi menciptakan wealth effect bagi orang yang sudah memiliki aset. Sementara masyarakat berpenghasilan tinggi masih mampu berbelanja.”

“Jadi ekonominya sehat.”

“Secara agregat, mungkin. Namun angka agregat sering menyembunyikan distribusi rasa sakit.”

Ia menjelaskan bahwa dua keluarga dapat hidup dalam statistik ekonomi yang sama, tetapi mengalami negara yang sama sekali berbeda. Keluarga pertama memiliki saham, properti, dana pensiun, dan pekerjaan yang terhubung dengan teknologi. Ketika pasar naik, kekayaannya bertambah. Inflasi tidak terlalu mengganggu karena nilai asetnya meningkat lebih cepat daripada biaya hidup. Keluarga kedua tidak memiliki aset berarti. Penghasilannya habis untuk sewa rumah, makanan, transportasi, pendidikan, asuransi, dan cicilan. Inflasi yang terlihat kecil dalam laporan ekonomi dapat menjadi tekanan besar dalam kehidupan sehari-hari.

“Itulah K-shaped economy,” katanya. “Satu kelompok naik bersama harga aset. Kelompok lain turun karena biaya hidup.”

“Namun keduanya dicatat dalam pertumbuhan ekonomi yang sama.”

“Exactly.”

Ia kembali menggunakan bahasa Indonesia. “Bursa mengukur ekspektasi keuntungan perusahaan, bukan ketenteraman masyarakat. Nasdaq dapat mencetak rekor ketika seorang pekerja masih harus memilih antara membayar sewa atau biaya kesehatan.”

“Berarti pasar bisa bergairah sementara rakyat merasa sedang mengalami resesi.”

“Itulah paradoksnya.”

Saya memperhatikan Eleanor. Ia berbicara tanpa berusaha memamerkan pengetahuan. Kalimat-kalimatnya tersusun seperti seseorang yang telah lama berdebat dengan data dan akhirnya memahami bahwa angka tidak pernah sepenuhnya netral.

“Angka ekonomi tidak berbohong,” katanya. “Hanya saja ia menjawab pertanyaan yang terbatas. Kalau kita bertanya seberapa besar ekonomi tumbuh, angka dapat menjawabnya. Namun kalau kita bertanya siapa yang menikmati pertumbuhan itu, kita memerlukan keberanian politik, bukan sekadar kalkulator.”

“Kalimat seorang ekonom atau aktivis?”

“Ekonom yang terlalu lama memperhatikan manusia.”

Pelayan mengisi kembali air mineral di meja. Di kejauhan, sebuah kapal melintas perlahan di East River.

***

“Anda pernah tinggal di Indonesia,” kata saya. “Apa pendapat Anda tentang ekonomi dan politiknya?”

Eleanor mengangkat alis. “Mana dahulu yang ingin dijawab, politik atau ekonomi? Keduanya saling berhubungan.”

“Terserah Anda mau menjawabnya dari sisi mana.”

Ia terdiam sejenak.

“Dari sisi politik, Indonesia menghadapi persoalan lama yang belum benar-benar selesai, yaitu hubungan antara nasionalisme, agama, dan kekuasaan.”

“Benturan ideologi?”

“Tidak selalu berupa benturan terbuka. Lebih sering menjadi negosiasi tanpa akhir. Pemerintah yang ingin memperkuat nasionalisme harus berhati-hati agar tidak dianggap memusuhi kelompok agama. Sebaliknya, ketika penguasa merangkul organisasi keagamaan, ongkos politiknya bisa sangat mahal.”

“Mahal dalam bentuk apa?”

“Jabatan, anggaran, legitimasi, akses, dan perlindungan.”

Ia menyesap minumannya.

“Masalahnya bukan agama. Agama memberi manusia orientasi moral, solidaritas, dan daya tahan menghadapi penderitaan. Masalah muncul ketika simbol agama diubah menjadi alat transaksi kekuasaan. Energi sosial yang seharusnya melahirkan pendidikan, kesehatan, etos kerja, dan perlindungan terhadap yang lemah justru habis untuk membangun eksklusivitas.”

“Kelompok agama tidak pernah benar-benar unggul dalam kontestasi politik nasional,” kata saya.

“Namun hampir selalu dimanfaatkan oleh pihak yang ingin menang,” sambung Eleanor. “Kalau merasa memperoleh tempat, mereka menjadi pendukung. Kalau merasa ditinggalkan, sebagian berubah menjadi gerakan protes yang dapat menggerus kredibilitas pemerintah.”

“Jadi politik identitas lahir dari kekecewaan?”

“Tidak selalu. Namun kekecewaan adalah bahan bakarnya. Identitas menyediakan bahasanya, sedangkan ketimpangan menyediakan kemarahannya.”

Saya memutar gelas perlahan. “Bagaimana dengan ekonominya?”

“Dalam beberapa hal, Indonesia mengalami paradoks yang mirip dengan Amerika, meskipun struktur dan skalanya berbeda. Bursa tetap hidup. Pasar keuangan berkembang. Transaksi ritel terus berlangsung. Kelas menengah masih berusaha mempertahankan konsumsi. Namun semua itu belum tentu menghasilkan pertumbuhan yang berkualitas.”

“Mengapa?”

“Karena arsitektur ekonominya terlalu bergantung pada utang, komoditas, kebijakan negara, dan segelintir kelompok besar sebagai mesin akumulasi.”

“Oligarki?”

“Kalau Anda ingin menggunakan istilah itu.”

“Bukankah semua negara mempunyai elite ekonomi?”

“Tentu. Persoalannya bukan keberadaan elite. Persoalannya adalah apakah elite tunduk kepada institusi atau institusi justru tunduk kepada elite.”

Saya mengangguk.

“Ketika kebijakan terus-menerus bernegosiasi dengan kepentingan kreditur dan pemilik modal,” lanjutnya, “rakyat semakin jauh dari pusat pengambilan keputusan. Demokrasi masih berjalan secara prosedural, tetapi akses terhadap kesempatan ekonomi tidak tumbuh secepat partisipasi politik.”

“Orang mempunyai suara, tetapi tidak mempunyai daya tawar.”

“Persis.”

Eleanor mulai tampak menikmati percakapan kami. Tubuhnya sedikit condong ke arah saya. Gelasnya diletakkan di atas meja, seolah-olah pembicaraan telah menjadi lebih penting daripada minuman.

“Jika institusi terus melemah,” katanya, “yang tersisa adalah patronase. Hubungan warga dengan negara tidak lagi diatur terutama oleh hak dan hukum, melainkan oleh kedekatan, loyalitas, dan akses kepada orang yang berkuasa.”

“Gerombolan demokrasi,” kata saya. “Ramai ketika pemilu, tetapi tidak menghasilkan keadilan sosial.”

Ia tersenyum. “That is harsh.”

“Is it wrong?”

“No. Just painfully accurate.”

Saya memandang ke arah sungai. “Keadaan itu tidak muncul tiba-tiba,” kata saya. “Sejak Orde Baru, kita sudah dapat melihat ke mana arahnya.”

“Benar. Ia bergerak seperti slow motion. Semua orang dapat melihat kecelakaan akan terjadi, tetapi setiap pengemudi merasa masih mempunyai waktu untuk menghindar.”

“Apa akar masalahnya?”

“Ketimpangan akses terhadap pendidikan berkualitas. Tanpa pendidikan, rakyat masuk ke dalam demokrasi hanya sebagai angka. Mereka mempunyai hak memilih, tetapi tidak selalu memiliki perangkat untuk menguji janji, memahami kebijakan, atau mempertahankan kepentingannya.”

“Pendidikan tidak otomatis membuat orang bermoral.”

“Tidak. Namun tanpa pendidikan, manipulasi menjadi jauh lebih murah.”

Saya tersenyum. Kali ini ia memandang saya lebih lama.

“Namun ada persoalan lain yang jarang dibicarakan ketika orang membahas demokrasi dan pertumbuhan Indonesia,” katanya.

“Apa?”

“Shadow finance.”

“Bukan shadow economy?”

“Bukan. Keduanya berbeda.”

Ia menjelaskan bahwa shadow economy dapat mencakup kegiatan ekonomi informal yang tidak tercatat secara sempurna. Pedagang kecil, pekerja harian, usaha keluarga, atau petani yang belum masuk ke dalam sistem administrasi formal dapat berada di wilayah itu tanpa otomatis melakukan kejahatan.

“Shadow finance bukan sekadar uang yang tidak tercatat,” katanya. “Ia adalah uang yang sengaja disamarkan. Sumbernya disembunyikan, pemilik manfaatnya dikaburkan, dan tujuannya diputus dari transaksi asalnya.”

“Uang hasil kejahatan?”

“Korupsi, pertambangan ilegal, narkotika, perjudian, penyelundupan, penipuan, dan kejahatan lingkungan. Uang itu harus dibuat seolah-olah lahir dari kegiatan yang sah.”

“Melalui rekening nominee?”

“Rekening nominee, perusahaan cangkang, invoice palsu, perdagangan komoditas, properti, aset kripto, dan transaksi lintas negara. Apa saja yang dapat memutus hubungan antara uang dan kejahatan asalnya.”

Ia menatap saya.

“Shadow finance tumbuh bukan hanya karena pelaku kejahatan pandai menyembunyikan uang. Ia tumbuh karena institusi kehilangan kemampuan, keberanian, atau kemauan untuk bertanya.”

“Berarti berkaitan dengan buruknya indeks korupsi.”

“Sangat erat. Namun hubungannya bukan satu arah.”

“Jelaskan.”

“Korupsi melahirkan uang gelap. Uang gelap kemudian dipakai untuk melindungi korupsi. Ia membiayai patronase, membeli pengaruh, mendanai kampanye, mengendalikan informasi, dan kadang-kadang membeli keheningan aparat.”

Ia mengambil pena, lalu menggambar sebuah lingkaran di atas serbet. “Korupsi menghasilkan shadow finance. Shadow finance membiayai perebutan kekuasaan. Kekuasaan melemahkan pengawasan. Pengawasan yang lemah menghasilkan lebih banyak korupsi. Setelah beberapa putaran, kita tidak lagi tahu mana penyebab dan mana akibat.”

“Lingkaran pembusukan.”

“Precisely.”

Ia menyebut skor Indonesia dalam Corruption Perceptions Index 2025 hanya 34 dari 100 dan berada di peringkat 109 dari 182 negara. Namun ia segera mengingatkan bahwa indeks tersebut mengukur persepsi terhadap korupsi sektor publik, bukan menghitung setiap tindak pidana yang benar-benar terjadi.

“Indeks bukan putusan pengadilan,” katanya. “Namun indeks seperti termometer. Termometer tidak menjelaskan siapa yang menyebabkan demam, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa tubuh sedang tidak sehat.”

“Lalu hubungannya dengan indeks demokrasi?”

“Demokrasi bukan hanya pemilu. Kualitasnya juga ditentukan oleh kebebasan pers, independensi pengadilan, kemampuan parlemen mengawasi pemerintah, perlindungan masyarakat sipil, transparansi pembiayaan politik, dan kesetaraan warga di hadapan hukum.”

“Kalau semua itu melemah?”

“Pemilu masih berlangsung, tetapi pilihan rakyat mulai dibentuk oleh kekuatan uang yang tidak terlihat.”

Ia menyentuh lingkaran yang digambarnya. “Shadow finance merusak demokrasi bahkan sebelum surat suara dicetak. Ia menentukan siapa yang mempunyai biaya untuk maju, siapa yang memperoleh dukungan media, siapa yang mampu membeli jaringan, dan siapa yang mendapat akses kepada pengambil keputusan.”

“Jadi secara formal rakyat memilih.”

“Tetapi secara material, menu pilihannya dapat disusun oleh pemilik uang.”

“Demokrasi akhirnya menjadi pasar.”

“Lebih buruk,” jawab Eleanor. “Pasar setidaknya berusaha mempertemukan pembeli dan penjual secara terbuka. Dalam demokrasi yang dibiayai shadow finance, harga kekuasaan disembunyikan dan pembelinya tidak pernah diumumkan.”

“Namun korupsi tetap dapat diberantas setelah pemilu.”

“Hanya kalau institusinya kuat.”

“Kalau tidak?”

“Penegakan hukum menjadi selektif. Satu perkara dipercepat, perkara lain dibiarkan. Satu pelaku dipertontonkan kepada publik, sedangkan pemilik jaringan tidak disentuh. Hukum tetap bekerja, tetapi arah bekerjanya dapat dinegosiasikan.”

“Institusi yang rapuh tidak selalu tampak dari gedung yang rusak,” lanjutnya. “Gedung pengadilan bisa megah. Kantor kementerian dapat menggunakan teknologi terbaru. Peraturan bisa sangat lengkap. Namun kalau keputusan akhirnya bergantung pada siapa yang menelepon, institusinya sudah kehilangan jiwa.”

“Lembaganya masih ada, tetapi fungsinya telah diprivatisasi.”

Eleanor tersenyum kecil. “You do understand institutions.”

“Saya hanya memahami manusia. Institusi rusak ketika manusia mengubah kewenangan publik menjadi milik pribadi.”

“Itulah definisi korupsi yang lebih dalam,” katanya. “Bukan hanya mengambil uang negara, tetapi mengubah kekuasaan yang dipercayakan masyarakat menjadi aset pribadi.”

Saya kembali memandang East River.

“PPATK menemukan transaksi hampir seribu triliun rupiah yang berkaitan dengan emas ilegal,” kata saya.

Eleanor segera mengangkat telunjuk. “Kita harus berhati-hati menyebutnya. Nilai sekitar Rp992 triliun itu merupakan perputaran transaksi yang dianalisis dan terindikasi berkaitan dengan pertambangan emas tanpa izin. Jumlah yang tidak tercatat mungkin lebih besar. Ya sekitar 10% dari PDB. Jadi kalau growth PDB 5%, itu useless dibandingkan dengan dampak buruk Shadow finance. Selama belum ada keputusan pengadilan, itu bukan kejahatan di depan hukum versi Indonesia. Miris kan.”

“Karena laporan PPATK merupakan intelijen keuangan.”

“Benar. Laporan PPATK merupakan intelijen keuangan, bukan putusan pidana. Lagi pula, uang yang sama dapat berpindah berkali-kali sehingga nilainya tercatat berulang dalam perhitungan perputaran transaksi.”

“Namun skalanya tetap luar biasa.”

“Apalagi rasio uang beredar luas atau M2 terhadap PDB Indonesia secara kasar masih berada di kisaran empat puluh persen. Itu menunjukkan kedalaman finansial domestik Indonesia masih relatif rendah dibandingkan banyak negara industri.”

“Di situlah paradoksnya,” kata saya. “Indonesia ingin menjadi negara industri, memperbesar hilirisasi, membangun infrastruktur, dan mencapai kemandirian ekonomi. Namun sistem keuangan domestiknya belum cukup dalam untuk membiayai seluruh ambisi itu.”

Eleanor mengangguk.

“Akibatnya, proyek-proyek besar bergantung pada anggaran negara, kredit perbankan, investor asing, atau kelompok usaha yang sudah memiliki akses terhadap modal. Masyarakat memiliki banyak tabungan dan aset, tetapi belum seluruhnya dapat dihimpun menjadi modal produktif jangka panjang.”

“Indonesia seperti truk tronton dengan mesin besar, tetapi daya angkutnya masih setara mobil pikap,” kata saya. “Ambisinya besar, tetapi kapasitas pembiayaannya kecil. Terlalu banyak pidato, terlalu sedikit instrumen. Nafsu membangun setinggi gunung, tetapi perencanaan modalnya kadang sebesar kepala korek api.”

Eleanor tersenyum mendengar perumpamaan saya. “Namun solusinya bukan sekadar mencetak uang,” katanya.

“Tentu bukan. Mencetak uang tanpa tambahan produksi hanya memperbesar likuiditas, menekan nilai tukar, dan berisiko melahirkan inflasi.”

“Yang dibutuhkan adalah financial deepening,” lanjut Eleanor. “Memperluas basis investor domestik, memperkuat dana pensiun dan asuransi, memperdalam pasar obligasi korporasi, menyediakan pembiayaan jangka panjang, meningkatkan inklusi keuangan, serta menciptakan instrumen yang dapat menyalurkan tabungan masyarakat ke sektor produktif.”

“Dengan pengawasan yang kuat.”

“Itu syarat mutlak. Financial deepening tanpa tata kelola hanya memperdalam kolam tempat uang gelap bersembunyi.”

“Jadi bukan hanya memperbesar jumlah uang di dalam sistem.”

“Melainkan memperbaiki kemampuan sistem mengubah uang menjadi modal produktif, tanpa kehilangan jejak asal-usulnya.”

Saya mengangguk. “Karena sistem keuangan yang dangkal membuat pembangunan kekurangan napas. Namun sistem keuangan yang dalam tanpa integritas dapat menenggelamkan negara.”

“Exactly,” jawab Eleanor. “Kedalaman finansial harus tumbuh bersama kedalaman institusi. Kalau tidak, semakin besar pasar keuangan, semakin besar pula ruang bagi shadow finance untuk menyamar sebagai investasi.”

” Lanjut dengan ilegal mining? kata saya.

Ia menggambar sebuah garis di atas serbet. “Tentu. Angka itu menunjukkan bahwa pertambangan emas ilegal tidak mungkin dipahami hanya sebagai kegiatan beberapa orang yang menggali tanah di hutan.”

Saya mengangguk.

“Tambang membutuhkan alat berat, bahan bakar, bahan kimia, pekerja, logistik, pengamanan, pembeli, pengangkutan, pemurnian, dan akses ke pasar. Kalau kegiatan itu berlangsung lama dan menghasilkan perputaran uang besar, berarti ada ekosistem yang membuatnya mampu bertahan.”

“Termasuk perlindungan politik.”

“Setidaknya ada risiko ke arah itu. Tambang ilegal berskala besar sulit bertahan hanya karena aparat tidak tahu. Bisa saja informasinya terpecah, kewenangannya tumpang tindih, penegakannya lemah, atau ada pihak yang sengaja membiarkannya.”

“Jadi masalahnya bukan semata-mata illegal mining.”

“Masalah sebenarnya adalah illegal mining yang terhubung dengan shadow finance dan institutional capture.”

“Penangkapan institusi?”

“Ketika uang ilegal tidak lagi hanya berusaha menghindari negara, tetapi mulai memengaruhi orang-orang yang menjalankan negara.”

“Lalu emasnya masuk ke mana?”

“Ke pedagang pengumpul, refinery, eksportir, atau pasar domestik. Emas ilegal dicampurkan dengan emas legal, dilebur, kemudian bentuk asalnya menghilang. Setelah menjadi bullion dengan tingkat kemurnian tertentu, orang lebih tertarik bertanya berapa karatnya daripada dari mana asalnya.”

“Assay dapat membuktikan kadar emas.”

“Tetapi tidak membuktikan kesucian asalnya.”

“Indonesia sedang mengembangkan bullion bank,” kata saya. “Bukankah itu dapat membawa emas masyarakat masuk ke dalam sistem formal?”

“Bisa. Bullion bank dapat menyediakan penyimpanan, pembiayaan, perdagangan, dan memperbesar nilai tambah di dalam negeri. Namun formalisasi lembaga tidak otomatis membersihkan sumber aset.”

“KYC?”

“KYC hanya pintu depan. Harus ada pemeriksaan beneficial ownership, enhanced due diligence bagi nasabah berisiko tinggi, pencocokan profil transaksi, dan pelacakan rantai penguasaan emas.”

“Know your customer.”

“And know your gold.”

Ia menunjuk saya menggunakan penanya. “Kalau standar kepatuhannya lemah, bullion bank justru dapat menjadi tempat integrasi uang kotor. Emas dari tambang ilegal masuk sebagai komoditas, memperoleh dokumen, disimpan atau diperdagangkan melalui lembaga formal, kemudian keluar sebagai aset yang terlihat sah.”

“Negara memberi legitimasi kepada hasil kejahatan.”

“Bisa terjadi tanpa pernah ditulis sebagai tujuan kebijakan. Itulah bahayanya. Korupsi modern tidak selalu menyerang sistem dari luar. Ia belajar menggunakan prosedur resmi sebagai kendaraan.”

“Dokumennya lengkap, tetapi kenyataannya palsu.”

“Exactly.”

Ia kemudian menyinggung skandal perdagangan emas di Dubai. Dalam audit dan investigasi yang dipublikasikan, muncul dugaan transaksi tunai mencurigakan bernilai miliaran dolar, kelemahan uji tuntas terhadap pemasok berisiko tinggi, dan laporan mengenai emas dari Maroko yang disamarkan sebagai perak dengan pelapisan serta dokumen palsu.

Eleanor menegaskan bahwa perusahaan terkait membantah melakukan pencucian uang dan tidak seluruh tuduhan berakhir sebagai putusan pidana. Namun kasus itu memperlihatkan betapa mudahnya sebuah pusat perdagangan emas menjadi persimpangan antara bisnis legal dan aliran keuangan gelap.

“Emasnya asli,” kata Eleanor, “tetapi ceritanya palsu.”

“Setelah dilebur, tidak ada sidik jari yang tersisa.”

“Itulah sebabnya pengawasan harus dilakukan sebelum asal-usulnya menghilang.”

Ia mengangkat gelasnya, tetapi tidak segera meminumnya. “Buruknya indeks korupsi, menurunnya kualitas demokrasi, dan rapuhnya institusi bukan tiga masalah yang terpisah. Ketiganya bertemu dalam shadow finance.”

“Karena uang hasil kejahatan dipakai untuk membeli kemampuan melakukan kejahatan yang lebih besar.”

Eleanor menatap saya beberapa detik. “That’s the real compounding effect.”

“Bunga berbunga dari kebusukan.”

Ia tertawa kecil, lalu kembali serius. “Negara dapat membangun sistem digital, membuat undang-undang baru, dan mendirikan banyak satuan tugas. Namun kalau pengawasan dapat dinegosiasikan, semua teknologi itu hanya mempercepat administrasi, bukan memperkuat integritas.”

“Jadi apa yang harus dibangun terlebih dahulu?”

“Akuntabilitas. Pertumbuhan tanpa akuntabilitas hanya memperbesar sumber daya yang dapat diperebutkan. Demokrasi tanpa akuntabilitas memperbanyak jabatan yang bisa diperjualbelikan. Lembaga keuangan tanpa akuntabilitas mempercepat pergerakan uang tanpa pernah menanyakan moral sumbernya.”

Saya menghabiskan sisa wine. “Shadow finance tidak menyembunyikan uang dengan membuatnya diam,” kata saya. “Ia menyembunyikan uang dengan membuatnya terus bergerak—dari rekening ke rekening, dari emas ke dolar, dari perusahaan ke politik—sampai tidak seorang pun lagi ingat dari mana perjalanan itu dimulai.”

Eleanor memandang saya cukup lama. “That’s not an economist’s sentence.”

“Saya memang bukan ekonom.”

“Lalu siapa Anda?”

“Hanya orang yang suka memperhatikan bagaimana uang mengubah perilaku manusia.”

“Dan institusi?”

“Institusi adalah usaha manusia untuk membatasi dirinya sendiri. Ketika batas itu dapat dibeli, negara hanya tinggal bangunan.”

Senyumnya perlahan menghilang. Bukan karena tersinggung. Ia seperti baru menyadari bahwa percakapan kami sudah bergerak jauh melampaui pertemuan kebetulan di sebuah bar.

“Besok saya makan siang di sini,” katanya. “Pukul satu.”

“Saya tidak mengatakan akan datang.”

“Saya juga tidak meminta Anda berjanji.”

Ia membuka tas kecilnya, mengambil kartu nama, lalu meletakkannya di depan saya. “Kalau saya tidak datang?”

“Setidaknya malam ini saya bertemu seseorang yang membuat saya mempertanyakan analisis saya sendiri.”kata saya.

“Mengenai ekonomi?”

“Mengenai kesepian.”

Ia berdiri dan mengambil mantelnya. “I hope I’ll see you tomorrow.”

“Itu bukan pertanyaan ekonomi.”

“No. This time it’s personal.” Ia tersenyum, lalu berjalan meninggalkan bar.

Saya kembali memandang East River. Lampu kota tetap berkilau. Bursa mungkin kembali naik esok pagi. Pemerintah akan berbicara tentang pertumbuhan, stabilitas, demokrasi, dan masa depan. Namun di bawah cahaya itu, uang terus bergerak melalui lorong-lorong yang tidak terlihat—dari tambang ilegal ke rekening perusahaan, dari rekening nominee ke perdagangan emas, dari komoditas ke politik, lalu dari politik kembali kepada kekuasaan.

Kota tidak pernah hanya dibangun oleh cahaya. Di bawahnya selalu ada bayangan tempat uang, kepentingan, dan manusia menyembunyikan asal-usulnya.

Pertemuan yang sudah direcananakan.

Keesokan harinya saya tidak datang memenuhi undangan makan siang Eleanor. Bukan karena ingin bersikap tidak sopan. Saya hanya tidak pernah membuat janji dengannya. Dalam hidup saya, perbedaan antara undangan dan janji sangat penting. Orang lain boleh menentukan tempat dan waktu untuk menunggu, tetapi itu tidak otomatis menciptakan kewajiban bagi saya untuk hadir. Hari itu perhatian saya tertuju pada pertemuan dengan sebuah konsorsium investor yang membiayai pengembangan deep ultraviolet lithography—DUV. Pertemuan berlangsung tertutup di kantor investasi di Midtown Manhattan.

Tujuannya bukan sekadar membuat mesin litografi. Konsorsium itu ingin membangun ekosistem teknologi yang dapat mengurangi ketergantungan industri semikonduktor China terhadap teknologi Barat, terutama teknologi dari Belanda.

Di dalam ruang rapat terdapat ilmuwan material, insinyur optik, mantan eksekutif industri semikonduktor, pengelola dana, pengacara hak kekayaan intelektual, serta beberapa orang yang tidak pernah menjelaskan secara terbuka siapa yang mereka wakili.

Saya duduk di ujung meja sambil membaca ringkasan teknis. Pengembangan riset diklaim telah mencapai delapan puluh persen. Namun dalam teknologi kompleks, angka seperti itu sering menyesatkan. Delapan puluh persen pekerjaan yang terlihat dapat saja menyisakan delapan puluh persen risiko yang sebenarnya.

“Delapan puluh persen itu mengukur apa?” tanya saya.

Direktur teknis membuka lembar presentasi. “Sebagian besar subsistem sudah dapat bekerja secara independen.”

“Independen bukan berarti terintegrasi.”

Ia terdiam.

“Belum sepenuhnya.” Jawabnya akhirnya.

“Light source?”

“Sudah melewati pengujian awal.”

“Optical system?”

“Masih ada masalah pada stabilitas dan umur pakai beberapa komponen.”

“Wafer stage?”

“Presisinya mendekati target.”

“Mendekati bukan mencapai.”

Direktur teknis mengangguk. Saya menutup dokumen di hadapan saya. “Masalah mesin litografi bukan apakah setiap komponennya dapat bekerja sendiri. Masalahnya adalah apakah ribuan komponen dapat bekerja bersama, berulang kali, dengan tingkat kesalahan yang dapat diterima dalam produksi massal.”

Seorang investor dari Hong Kong menyela. “Namun pasar China sangat besar. Pemerintah juga mempunyai kepentingan kuat mencapai kemandirian teknologi.”

“Saya tidak meragukan pasarnya,” jawab saya. “Saya mempertanyakan waktu, yield, dan biaya menuju skala industri.”

“Kalau dana riset diperbesar, waktunya dapat dipercepat.”

“Uang dapat membeli lebih banyak insinyur, alat, dan eksperimen. Namun uang tidak dapat memerintahkan ilmu pengetahuan menemukan jawaban sesuai jadwal investor.”

Ruangan menjadi sunyi.

Model bisnis yang mereka tawarkan sebenarnya masuk akal. Konsorsium itu tidak hanya ingin menjual mesin, tetapi juga layanan pemeliharaan, komponen pengganti, kalibrasi, perangkat lunak pengendalian, pelatihan operator, dan pembaruan sistem. Dalam teknologi industri, penjualan mesin hanyalah pintu masuk. Keuntungan jangka panjang lahir dari layanan, data proses, dan ketergantungan pelanggan kepada ekosistem teknologi.

Saya membaca analisis mengenai masa depan pasar. Di sana tercantum sebuah nama: Eleanor Ward. Analisisnya tidak melihat litografi hanya sebagai persoalan teknik. Ia menghubungkannya dengan kebutuhan komputasi AI, pertumbuhan pusat data, permintaan chip, kemampuan manufaktur, kebutuhan energi, ketersediaan talenta, pembiayaan negara, dan daya tahan ekonomi China menghadapi pembatasan geopolitik.

Ia juga menulis sebuah peringatan, pasar domestik yang besar tidak otomatis menjamin keberhasilan teknologi. Pasar memang memberi ruang untuk belajar dalam skala besar, tetapi tanpa disiplin manufaktur dan pengendalian mutu, skala hanya akan memperbesar kegagalan. Saya menutup dokumen itu.

Rapat berakhir menjelang malam. Setelah kembali ke hotel, saya mengambil kartu nama Eleanor dan menelepon nomor yang tercantum di sana.

Ia menjawab setelah dering kedua. “Eleanor Ward.”

“Apakah undangan makan siang tadi masih berlaku untuk makan malam?”

Beberapa detik ia tidak menjawab.

“Mr. Indonesian who doesn’t make promises?”

“Saya tidak pernah mengatakan akan datang.”

“I noticed.”

“Saya akan kirim staf dan supir jemput anda di hotel. Dan antar anda ke Club.”

“ Tidak perlu. Saya bisa berada di sana dalam tiga puluh menit.”

“ Okay. Empat puluh lima menit. Jangan terburu-buru.”

Ia tertawa kecil. “Yes, sir.”

Ketika saya tiba, Eleanor sudah menunggu di lounge dekat jendela. Di meja terdapat laptop, sebuah buku catatan, dan dua gelas air mineral. Tidak ada wine.

“You came,” katanya.

“Saya membaca analisis Anda.”

Ia menutup laptopnya perlahan. “Jadi itu alasan Anda menelepon.”

“Apakah seharusnya ada alasan lain?”

“Setelah percakapan semalam, saya berharap ada sedikit alasan lain.”

Saya duduk di hadapannya. “Menurut Anda, apa keunggulan China dalam membangun ekosistem AI?”

“Skala,” jawabnya.

“Itu jawaban paling mudah.”

“Karena saya belum selesai.”

Ia hendak membuka laptop, tetapi saya mengangkat tangan. “Tidak perlu presentasi. Jelaskan saja.”

Ia kembali menutupnya.

“China mempunyai pasar domestik besar, basis manufaktur yang luas, kemampuan membangun infrastruktur dengan cepat, kumpulan data industri, dukungan pembiayaan, dan hubungan kuat antara kebijakan negara dengan pelaksanaan bisnis.”

“Hubungan negara dan bisnis juga dapat menjadi kelemahan.”

“Tentu. Modal dapat salah dialokasikan. Subsidi dapat mempertahankan perusahaan yang tidak efisien. Target politik dapat membuat laporan terlihat lebih baik daripada kenyataan.”

“Namun?”

“Ketika China menetapkan sebuah teknologi sebagai kepentingan strategis, mereka tidak hanya membiayai satu perusahaan. Mereka berusaha membangun seluruh rantai: pendidikan, riset, komponen, manufaktur, pasar, pembiayaan, dan pengguna awal.”

“Jadi mereka membeli proses belajar.”

“Ya. Mereka juga bersedia membayar kegagalan dalam skala yang tidak sanggup ditanggung perusahaan swasta biasa.”

“Amerika unggul dalam penemuan. China unggul dalam industrialisasi.”

“Kurang lebih. Amerika memiliki frontier research, modal ventura, universitas, dan kemampuan menarik talenta global. China mempunyai kemampuan mengubah teknologi menjadi proses produksi berskala besar.”

“Namun AI bukan hanya algoritma.”

“Benar. AI membutuhkan chip, listrik, jaringan, cooling system, pusat data, perangkat lunak, dan aplikasi industri. Keunggulan China adalah banyak bagian ekosistem itu berada di dalam satu pasar yang saling terhubung.”

“Namun mereka masih menghadapi pembatasan teknologi.”

“Pembatasan itu memperlambat kemajuan, menaikkan biaya, dan memaksa mereka menggunakan jalur yang kurang efisien. Namun tekanan geopolitik juga mengubah ketergantungan menjadi insentif nasional.”

“Sanctions create pain.”

“And pain creates adaptation.”

“Tidak semua rasa sakit menciptakan inovasi.”

“Benar. Sebagian hanya menciptakan kemiskinan. Perbedaannya terletak pada kapasitas negara, kedalaman industri, ketersediaan modal, dan kemampuan masyarakat menyerap pengetahuan.”

Kami berbicara hampir satu jam. Ia menjelaskan kemampuan ekonomi China bertahan menghadapi perang dagang, pembatasan ekspor teknologi, tekanan terhadap investasi, dan upaya pemisahan rantai pasok. Saya lebih banyak mendengarkan. Setiap kali ia menyampaikan kesimpulan, saya bertanya tentang asumsi di belakangnya. Ketika ia berbicara mengenai pertumbuhan, saya bertanya siapa yang membiayainya. Ketika ia menyebut kemandirian, saya bertanya komponen mana yang masih harus diimpor. Ketika ia membahas pasar domestik, saya bertanya berapa besar permintaan yang lahir secara organik dan berapa besar yang ditopang kebijakan.

Lama-kelamaan Eleanor berhenti menjelaskan dan mulai mengamati saya. “Ada apa?” tanya saya.

“Anda tidak seperti yang saya bayangkan.”

“Memangnya Anda membayangkan apa?”

Ia memandang East River di balik jendela. “Saya harus mengatakan sesuatu dengan jujur.”

“Silakan.”

“Kedatangan saya ke New York bukan kebetulan. Saya datang dari London khusus untuk bertemu dengan Anda.”

Saya tidak menunjukkan keterkejutan. “Lanjutkan.”

“Seorang bankir yang saya kenal di Frankfurt memberi saya akses ke Casa Cipriani. Ia juga memberi tahu jadwal kehadiran Anda di New York.”

“Siapa bankir itu?”

“Saya tidak dapat menyebutkan namanya.”

“Kalau begitu jangan.”

Ia tampak heran karena saya tidak mendesaknya.

“Jadi pertemuan kita di bar sudah direncanakan,” kata saya.

“Dari pihak saya, ya.”

“Kalimat tentang saya terlihat seperti orang Filipina?”

“Itu spontan.”

“Analisis yang buruk.”

Ia tertawa kecil. “Apparently.”

“Untuk apa Anda mencari saya?”

“Saya diminta menyusun analisis mengenai masa depan AI, pembiayaan teknologi, dan kemampuan China membangun ekosistem semikonduktor di bawah tekanan geopolitik.”

“Itu belum menjelaskan mengapa Anda harus bertemu dengan saya.”

“Nama Anda muncul beberapa kali dalam percakapan dengan bankir, investor, dan orang-orang yang mengikuti pembiayaan lintas negara.”

“Dalam konteks apa?”

Ia menarik napas. “Shadow banker.”

Saya bersandar. “Itu istilah yang dramatis.”

“Seorang shadow banker yang berbahaya. Bergerak di balik transaksi besar, mempunyai jaringan di Asia, Eropa, dan Amerika, tetapi tidak pernah tersentuh.”

“Tidak tersentuh oleh apa?”

“Otoritas, skandal, atau kegagalan.”

“Saya sudah berkali-kali gagal.”

“Tidak ada yang menceritakan bagian itu.”

“Karena kegagalan tidak menarik untuk dijual sebagai rumor.”

Eleanor menatap saya. “Cerita tentang Anda lebih banyak buruk daripada baik. Ada yang menyebut Anda predator. Ada yang mengatakan Anda dapat mengubah arah transaksi tanpa pernah terlihat berada di dalamnya. Ada pula yang mengatakan Anda mengetahui kelemahan sebuah negara lebih dahulu daripada pejabat negara itu sendiri.”

“Dan Anda percaya?”

“Saya tidak tahu. Itu sebabnya saya datang.”

“Untuk meneliti saya?”

“Untuk memahami Anda sebagai bagian dari riset.”

“Apakah saya objek penelitian atau narasumber?”

“Awalnya objek.”

“Sekarang?”

Ia tersenyum tipis. “Sekarang narasumber yang membuat penelitinya kehilangan jarak.”

Saya terdiam.

“Semalam saya sengaja memancing Anda dengan pembicaraan mengenai paradoks ekonomi Amerika,” lanjutnya. “Saya ingin melihat apakah Anda akan mendominasi percakapan, memamerkan pengetahuan, atau berusaha mengetahui siapa saya.”

“Dan?”

“Anda justru mendengarkan.”

“Mendengarkan bukan keahlian istimewa.”

“Bagi orang yang mempunyai kekuasaan, itu sangat istimewa.”

Ia menggeser gelasnya. “Anda tidak berusaha mengoreksi saya untuk menunjukkan bahwa Anda lebih tahu. Anda bertanya untuk memahami bagaimana saya membentuk kesimpulan. Bahkan ketika tidak setuju, Anda menyerang asumsi, bukan orangnya.”

“Saya hanya ingin mengenal persepsi Anda.”

“Itulah yang saya maksud. Anda terlatih bertanya bukan untuk memperoleh jawaban yang sudah Anda inginkan, tetapi untuk mengetahui bagaimana orang lain melihat dunia.”

“Keputusan yang baik tidak cukup dibangun dari apa yang kita ketahui.”

“Namun juga dari cara orang lain memahami kenyataan,” sambungnya.

Saya mengangguk. “Orang yang hanya mendengarkan dirinya sendiri akhirnya menjadi tawanan keyakinannya.”

“Dan orang yang selalu ingin terlihat paling pintar tidak pernah mengetahui apa yang disembunyikan orang lain.”

“Sekarang Anda mulai memahami shadow banking.”

Ia tertawa.

“Ternyata shadow banker berbahaya itu juga bisa bercanda.”

“Saya tidak pernah menyebut diri saya shadow banker.”

“Namun Anda tidak menyangkalnya.”

“Kalau saya menyangkal, apakah Anda akan percaya?”

“Mungkin tidak.”

“Berarti penyangkalan saya tidak mempunyai nilai ekonomi.”

Eleanor tertawa lagi. Kali ini lebih lepas.

“Rumor menggambarkan Anda sebagai pria yang dingin, manipulatif, dan berbahaya,” katanya setelah tawanya mereda. “Namun yang saya temui justru seorang pendengar yang sabar, rendah hati, dan tidak merasa perlu membuktikan siapa dirinya.”

“Dua percakapan terlalu singkat untuk mengenal seseorang.”

“Saya tahu.”

“Bisa saja saya sedang memainkan peran.”

“Bisa.”

“Bisa juga semua rumor itu benar.”

“Bisa.”

“Lalu apa kesimpulan riset Anda?”

Ia menatap saya cukup lama.

“Orang takut kepada sesuatu yang tidak dapat mereka petakan. Anda bekerja di antara pasar, politik, teknologi, dan jaringan kepercayaan. Mereka melihat hasilnya, tetapi tidak memahami prosesnya. Ketidaktahuan itu kemudian mereka isi dengan cerita.”

“Itu terdengar terlalu membela saya.”

“Saya belum selesai.”

Ia sedikit mencondongkan tubuh. “Saya juga berpikir Anda memang berbahaya.”

“Mengapa?”

“Bukan karena rumor itu. Anda membiarkan orang berbicara sampai mereka menunjukkan cara berpikir, kepentingan, ketakutan, dan kelemahannya sendiri. Sementara mereka hampir tidak memperoleh informasi apa pun tentang Anda.”

“Itu kesalahan mereka, bukan strategi saya.”

“Jawaban yang sangat humble sekaligus mengkhawatirkan.”

Pelayan membawa kopi. Saya mengaduknya perlahan.

“Apakah konsorsium tahu Anda datang untuk menemui saya?”

“Mereka tahu saya ingin mendapatkan pandangan dari seseorang yang memahami China, pembiayaan lintas negara, dan geopolitik. Mereka tidak tahu bagaimana saya akan mendapatkannya.”

“Bankir Frankfurt itu?”

“Dia hanya membantu akses dan memberi tahu jadwal Anda.”

“Berarti dia cukup mengenal saya.”

“Lebih daripada saya.”

Saya menatapnya tanpa berkata-kata. Ada kegelisahan di wajahnya, tetapi ia tidak berusaha menyembunyikannya.

“Apakah Anda marah?” tanyanya.

“Tidak.”

“Mengapa?”

“Karena akhirnya Anda mengatakan yang sebenarnya.”

“Kalau saya tidak mengatakannya?”

“Percakapan ini akan berakhir malam ini.”

Ia menarik napas perlahan. “Sekarang?”

“Sekarang saya tahu Anda datang membawa tujuan, tetapi masih mempunyai keberanian mengakui cara Anda mencapainya.”

“Apakah itu berarti kita dapat berteman?”

“Saya tidak tahu.”

Jawaban itu membuat senyumnya menghilang.

“Persahabatan tidak lahir karena dua orang sepakat menyebut dirinya sahabat,” lanjut saya. “Ia lahir setelah waktu membuktikan bahwa keduanya tidak saling memanfaatkan.”

“Saya memang datang untuk memanfaatkan Anda sebagai sumber informasi.”

“Setidaknya Anda jujur.”

“Namun sekarang saya ingin mengenal Anda di luar riset.”

“Bukankah itu juga dapat menjadi bagian dari riset?”

Ia tersenyum kecil.

“Sulit berbicara dengan seseorang yang selalu melihat dua sisi niat.”

“Setiap niat mempunyai bayangan.”

“Termasuk niat baik?”

“Terutama niat baik. Banyak orang melakukan kesalahan besar karena terlalu yakin dirinya sedang berbuat baik.”

Eleanor memandang keluar jendela. Wajahnya memantul samar pada kaca dengan latar lampu kota.

“Semalam saya berharap dapat membongkar mitos tentang Mr. B,” katanya. “Malam ini saya justru merasa tidak pantas menjadi sahabatnya.”

“Mengapa?”

“Karena saya datang dengan prasangka. Saya mengumpulkan rumor, mencari akses, mempelajari jadwal Anda, lalu mendekati Anda tanpa menjelaskan tujuan sebenarnya.”

“Dan sekarang Anda menyesal?”

“Saya malu.”

“Jangan. Rasa malu hanya berguna kalau membuat kita lebih jujur, bukan membuat kita melarikan diri.”

“Saya tidak ingin melarikan diri.”

“Lalu apa yang Anda inginkan?”

Ia memasukkan laptop ke dalam tas. Kemudian ia mengambil kartu nama saya dari dalam dompet kecilnya—kartu yang saya berikan setelah menerima miliknya malam sebelumnya. “Saya tidak lagi ingin meneliti Anda,” katanya. “Saya hanya ingin mempunyai kesempatan mengenal Anda.”

“Sebagai sahabat?”

Ia menggeleng perlahan. “Belum. Persahabatan harus dibuktikan oleh waktu, bukan dinyatakan dalam satu malam.”

“Lalu sebagai apa?”

Eleanor tersenyum. “Sebagai seseorang yang mengagumi Anda dari jarak yang masih Anda izinkan.”

Ia berdiri dan mengenakan mantelnya.

“Bagaimana dengan analisis AI Anda?” tanya saya.

“Saya akan menulis bahwa keunggulan China tidak hanya terletak pada besarnya pasar atau banyaknya insinyur. Keunggulannya terletak pada resilience—kemampuan mengubah tekanan menjadi alasan untuk membangun kapasitas sendiri.”

“Dan riset mengenai saya?”

“Saya akan menghapus bagian tentang shadow banker yang tidak tersentuh.”

“Mengapa?”

“Karena sekarang saya tahu rumornya keliru.”

“Bagian mana yang keliru?”

“Mr. B bukan tidak tersentuh.”

Ia mengulurkan tangan. Saya menyambutnya. “Dia hanya tidak merasa perlu menjelaskan luka-lukanya kepada orang lain.”

Saya menatapnya. Kali ini saya tidak menjawab.

“Thank you for listening,” katanya.

“Thank you for finally telling the truth.”

Ia berjalan meninggalkan lounge. Sesampainya di pintu, ia berhenti dan menoleh. “I still hope we meet again.”

“Kali berikutnya jangan meminta jadwal saya dari bankir Frankfurt.”

“Then how should I find you?”

“Berikan alasan yang cukup baik agar saya mencari Anda.”

Lesung kecil muncul di pipinya. Kemudian ia pergi.

Saya kembali duduk sendirian.

Di meja masih terbuka ringkasan analisis mengenai masa depan AI, DUV, dan kemampuan China membangun kemandirian teknologi. Namun malam itu saya kembali diingatkan bahwa riset paling sulit bukanlah membaca masa depan teknologi. Yang paling sulit adalah membaca manusia. Teknologi dapat dibedah menjadi subsistem. Risiko dapat diukur. Modal dapat dihitung. Namun manusia selalu datang membawa tujuan yang tidak diucapkan, ketakutan yang disembunyikan, dan prasangka yang menunggu dibenarkan.

Eleanor datang dari London untuk membuktikan bahwa rumor tentang saya benar. Ia pulang setelah mengetahui bahwa manusia tidak pernah cukup dipahami dari cerita orang lain. Barangkali itulah gunanya sebuah pertemuan. Bukan untuk membuat dua orang segera saling percaya, melainkan memberi keduanya kesempatan memperbaiki prasangka sebelum prasangka itu berubah menjadi kebenaran.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca