Bisnis dan geopolitik…

Sore itu saya mengajak Suci dan An bertemu di kafe sebuah hotel di Singapura. Saya sengaja tidak menggunakan ruang rapat Ale Capital. Tidak ada layar presentasi, notulen, atau meja panjang yang membuat setiap orang merasa harus menjaga kalimatnya. Hanya ada tiga cangkir kopi, sebuah tablet berisi rencana investasi, dan lalu-lalang tamu hotel yang tidak mengenal kami.

Suci memimpin tim pendukung Ale Capital di London. Ia kuat dalam analisis investasi dan disiplin risiko. An bekerja di bawah koordinasinya, mengolah data, menguji model, dan melakukan pemeriksaan teknis proyek. Keduanya pintar. Namun saya tidak ingin mereka hanya terampil menemukan kesalahan dalam proposal. Tim pendukung tidak boleh sekadar menjadi mesin verifikasi bagi orang yang mengambil keputusan. Mereka harus memahami bagaimana keputusan lahir, di mana batas pengetahuan manusia, dan kepada siapa akibat keputusan itu kelak dibebankan.

Saya juga mempunyai alasan pribadi. Sebagai pendiri Ale Capital, saya terlalu sering hadir di hadapan orang-orang muda hanya sebagai nama dalam struktur kepemilikan. Mereka mengetahui keputusan saya, tetapi tidak mengenal cara saya berpikir. Padahal saya ingin hadir bukan hanya sebagai pendiri, melainkan sebagai mentor. Pengetahuan teknis dapat diperoleh melalui kursus dan buku. Filsafat bisnis lebih sering tumbuh melalui percakapan—ketika pengalaman diuji oleh pertanyaan dan teori dipertemukan dengan kenyataan.

Di hadapan kami terdapat rencana pembangunan pabrik bahan baku industri di Asia Tenggara. Presentasinya nyaris sempurna: permintaan akan tumbuh dua digit, utilisasi mencapai delapan puluh persen pada tahun kedua, harga bahan baku stabil, dan utang lunas sebelum tahun ketujuh. Bahkan dalam skenario buruk, proyek itu masih mencetak laba.

Saya meletakkan tablet di tengah meja.

“Apa yang kalian lihat?” tanya saya.

“Proyek yang terlalu ingin disukai,” jawab Suci.

An tersenyum. “Semua variabelnya patuh. Padahal mesin, pasar, dan manusia tidak pernah sepatuh itu.”

Jawaban mereka membuat saya senang, tetapi saya tidak menunjukkannya. “Kalau begitu, untuk apa membuat business plan sedemikian rinci?”

“Untuk menguji konsistensi asumsi, kebutuhan modal, dan kemampuan proyek membayar kewajibannya,” kata Suci.

“Itu fungsi teknisnya. Apa fungsi filosofisnya?”

Keduanya terdiam sejenak.

“Untuk mengetahui batas pengetahuan kita?” kata An.

Saya mengangguk. “Dan untuk mengetahui dari mana kita mungkin tersesat.”

Suci membuka proyeksi arus kas. “Jadi rencana bukan ramalan?”

“Rencana adalah hipotesis. Penjualan tahun lalu merupakan fakta. Penjualan lima tahun mendatang adalah harapan yang diberi angka. Harga mesin yang telah dibayar merupakan fakta. Kemampuan mesin menghasilkan kapasitas efektif setelah dua tahun masih dugaan. Jumlah penduduk adalah data, tetapi jumlah orang yang bersedia membeli produk kita pada harga tertentu tetap hipotesis.”

An mencondongkan tubuh. “Itu sejalan dengan Karl Popper. Sebuah teori tidak menjadi ilmiah karena banyak orang mempercayainya, tetapi karena ia membuka diri untuk dibantah. Berarti business plan yang baik harus menjelaskan kondisi apa yang dapat membuktikan bahwa asumsinya salah.”

“Tepat,” kata saya. “Rencana yang hanya mencari pembenaran bukan alat berpikir. Ia alat pemasaran.”

“Namun bank dan komite investasi membutuhkan angka,” kata Suci. “Mereka tidak mungkin memutuskan hanya berdasarkan kesadaran bahwa masa depan tidak pasti.”

“Tentu. Angka membuat ketidakpastian dapat dibicarakan, dibandingkan, dan diberi harga. Tetapi angka tidak menghapus ketidakpastian.”

Suci menyambung, “Model berguna, tetapi bukan kenyataan. Alfred Korzybski menyebutnya, the map is not the territory. Peta diperlukan untuk bergerak, tetapi orang dapat tersesat jika mengira peta sama dengan wilayahnya.”

“Persis. Business plan adalah peta. Ketika modal dicairkan, kita baru menginjak wilayahnya.”

An menunjuk proyeksi. “Berarti tugas kami bukan hanya memeriksa rumus, tetapi mencari bagian kenyataan yang hilang ketika dimasukkan ke dalam model.”

“Itulah inti pekerjaan tim pendukung. Insinyur berbicara tentang kapasitas. Pemasaran berbicara tentang permintaan. Bankir berbicara tentang kemampuan membayar utang. Investor berbicara tentang imbal hasil. Kalian harus menerjemahkan semua bahasa itu, lalu menemukan asumsi yang mereka sembunyikan—sengaja ataupun tidak.”

Pelayan datang meletakkan kopi. Saya menunggu sampai ia menjauh. Dari balik kaca, Singapura tampak teratur. Mobil bergerak mengikuti jalurnya, gedung berdiri seperti hasil perhitungan, dan kapal-kapal di kejauhan memasuki pelabuhan menurut jadwal. Namun ketertiban tidak menghapus ketidakpastian. Ia hanya membangun institusi agar ketidakpastian tidak berubah menjadi kekacauan.

“Kesalahan terbesar pengusaha,” kata saya, “adalah jatuh cinta kepada rencananya sendiri. Ia menganggap perubahan sebagai gangguan, padahal perubahan adalah sifat kenyataan.”

“Tetapi kalau rencana terlalu mudah diubah, perusahaan kehilangan arah,” kata Suci.

“Karena itu bedakan tujuan dan jalan. Tujuan menjelaskan kenyataan baru apa yang hendak kita ciptakan. Strategi adalah jalan sementara untuk mencapainya. Tujuan harus cukup kuat menjaga arah, tetapi strategi harus cukup lentur menerima koreksi.”

“Tujuan pun mungkin salah,” kata An.

“Benar. Tidak ada gagasan yang berhak kebal terhadap kenyataan.”

Suci mengangguk. “Chris Argyris dan Donald Schön menyebut double-loop learning. Organisasi tidak cukup hanya memperbaiki tindakan agar target tercapai. Ia juga harus berani menguji kembali asumsi, aturan, bahkan target yang mendasari tindakannya.”

“Itulah perbedaan antara pembelajaran dan sekadar penyesuaian,” jawab saya. “Kalau penjualan gagal, kita tidak selalu harus menambah tenaga pemasaran. Bisa jadi produknya memang tidak dibutuhkan. Bisa jadi sejak awal kita menjawab pertanyaan yang salah.”

“Namun pemimpin yang mengubah keputusan sering dianggap tidak konsisten,” kata An.

“Hanya pemimpin rapuh yang mengira pengakuan atas kesalahan akan meruntuhkan wibawa. Kenyataan tidak kehilangan kekuasaan hanya karena seorang pemimpin menolak mengakuinya.”

“Jadi kerendahan hati adalah bagian dari manajemen risiko,” kata Suci.

“Bagian yang tidak pernah tercatat di neraca. Banyak perusahaan runtuh bukan karena kekurangan data, tetapi karena pemimpinnya merasa lebih besar daripada data.”

An menatap saya. “Itu menjelaskan konsep bounded rationality Herbert Simon. Manusia ingin rasional, tetapi keputusan selalu dibatasi informasi, waktu, dan kemampuan kognitif. Kerendahan hati bukan kelemahan moral. Ia pengakuan rasional terhadap keterbatasan pikiran.”

“Benar. Karena kita terbatas, sistem harus memungkinkan pendapat diuji dan keputusan dikoreksi. Itulah alasan saya membutuhkan kalian. Tim pendukung bukan pasukan yang bertugas membenarkan pendiri.”

“Lalu bagaimana membedakan risiko yang bisa dihitung dan ketidakpastian yang tidak bisa dimodelkan?” tanya Suci.

“Kamu pasti tahu jawabannya.”

Suci tersenyum. “Frank Knight membedakan risk dan uncertainty. Risiko masih memiliki kemungkinan hasil yang dapat diperkirakan. Ketidakpastian sejati tidak mempunyai distribusi probabilitas yang dapat kita ketahui dengan memadai.”

“Dan bisnis berlangsung di antara keduanya. Kita menghitung apa yang dapat dihitung, tetapi tetap harus memutuskan di wilayah yang tidak sepenuhnya dapat dihitung.”

“Karena itu bisnis membutuhkan keberanian,” kata An. “Kalau menunggu informasi sempurna, investasi tidak pernah dimulai.”

“Benar. Namun keberanian berbeda dari kesombongan. Orang berani mengetahui risiko dan tetap melangkah karena siap menanggung akibatnya. Orang sombong menolak melihat risiko karena merasa tidak mungkin salah.”

Suci memutar cangkirnya. “Jadi bisnis adalah pertaruhan?”

“Ya, tetapi bukan perjudian. Penjudi berharap keberuntungan menutup ketidaktahuannya. Pengusaha memakai pengetahuan, struktur transaksi, dan disiplin untuk memperkecil wilayah yang harus diserahkan kepada keberuntungan.”

“Tetap ada perang, perubahan teknologi, regulasi, krisis keuangan, dan pergeseran selera,” kata An.

“Selalu ada. Karena itu bisnis bukan ilmu pasti.”

“Lalu bisnis itu ilmu apa?” tanya Suci.

“Ilmu mengambil keputusan sebelum semua jawaban tersedia.”

Suci tersenyum. “Kedengarannya lebih dekat kepada filsafat daripada keuangan.”

“Keuangan memberi bahasa untuk menilai keputusan. Filsafat memaksa kita bertanya apa dasar keputusan itu dan untuk tujuan apa ia dibuat.”

“Serta siapa yang menanggung akibatnya,” tambah Suci.

“Ya. Kalau keputusan salah, pabrik berhenti, bank menagih, pemasok tidak dibayar, dan pekerja kehilangan pekerjaan. Karena itu keputusan bisnis selalu mengandung keputusan moral.”

An mengerutkan kening. “Tetapi mandat perusahaan adalah menghasilkan keuntungan.”

“Keuntungan adalah syarat agar perusahaan hidup, bukan alasan yang membenarkan segala perbuatan. Laba dapat lahir karena perusahaan menghasilkan barang yang berguna dengan lebih efisien. Ia juga dapat lahir dari monopoli, informasi timpang, eksploitasi pekerja, kerusakan lingkungan, atau kedekatan dengan penguasa. Semuanya bernama laba dalam laporan keuangan, tetapi makna moralnya berbeda.”

“R. Edward Freeman akan menyebutnya persoalan pemangku kepentingan,” kata Suci. “Perusahaan bukan hanya hubungan antara manajemen dan pemegang saham. Keputusannya juga menyentuh pekerja, pemasok, pelanggan, masyarakat, dan lingkungan.”

“Benar. Karena itu harga tidak selalu sama dengan nilai. Kesepakatan pun dapat lahir dari ketimpangan kekuasaan. Orang yang lapar mungkin menjual tenaganya sangat murah. Secara kontraktual ia setuju, tetapi secara moral kita tetap harus bertanya apakah ia sungguh mempunyai pilihan.”

“Kalau semua pertimbangan moral bergantung pada pemimpin, hasilnya akan subjektif,” kata Suci.

“Karena itu moralitas harus diterjemahkan menjadi tata kelola: batas risiko, keselamatan kerja, audit, transparansi, pengawasan lingkungan, dan larangan konflik kepentingan. Niat baik tidak boleh hanya tinggal di kepala pendiri.”

An menjawab, “Karena pendiri dapat berubah, tergoda, lelah, atau mati.”

Saya tersenyum. “Kalian mulai memahami mengapa saya mengajak kalian kemari.”

Suci menutup dokumen. “Bapak ingin nilai perusahaan tidak bergantung pada sosok Bapak.”

“Saya ingin kalian mengenal cara saya berpikir agar kelak mampu mengoreksinya. Mentor yang hanya melahirkan pengikut telah gagal mendidik. Mentor harus melahirkan orang yang sanggup berpikir tanpa dirinya.”

“Jadi sistem lebih penting daripada orang?” tanya An.

“Tidak sesederhana itu. Sistem yang baik dapat dibajak manusia buruk. Manusia baik dapat dilumpuhkan sistem yang rusak. Kita membutuhkan orang berintegritas dan tata kelola yang membatasi penyalahgunaan kekuasaan.”

“Mirip gagasan James March,” kata Suci. “Organisasi harus menyeimbangkan exploitation—menggunakan kemampuan yang sudah terbukti—dengan exploration, yakni mencari pengetahuan dan kemungkinan baru. Terlalu banyak prosedur membuat organisasi kaku. Terlalu banyak eksperimen membuatnya kehilangan disiplin.”

“Tepat. Tim kalian harus menjaga keduanya. Jangan membunuh gagasan baru hanya karena belum memiliki sejarah. Tetapi jangan membiarkan antusiasme menggantikan bukti.”

Saya mendorong tablet ke arah mereka. “Sekarang, apa yang harus kalian cari dalam rencana ini?”

“Asumsi yang paling rapuh,” jawab An. “Harga bahan baku, keberhasilan teknologi mencapai kapasitas, keterlambatan izin, dan ketergantungan pada dua pembeli utama.”

Suci menambahkan, “Juga struktur utangnya. Kalau kontrak pembelian batal, utilisasi turun, arus kas terganggu, dan debt service coverage ratio jatuh di bawah batas aman.”

“Kalau bank menolak restrukturisasi?”

“Proyek gagal,” jawab Suci.

“Sekarang kalian tidak lagi membaca angka. Kalian sedang membaca hubungan sebab-akibat.”

“Apakah proyek ini harus ditolak?” tanya An.

“Belum tentu. Risiko bukan alasan untuk tidak bertindak. Risiko adalah dasar untuk menentukan bentuk tindakan.”

Suci mulai menyusun jawaban. “Kita kurangi leverage, cairkan modal bertahap, minta kontrak pembelian minimum, dan bangun pabrik dalam beberapa fase.”

“Tambahkan milestone teknis,” kata An. “Pendanaan tahap berikutnya hanya keluar jika kapasitas, kualitas produk, dan biaya produksi telah lolos pengujian independen.”

“Bagus.”

An melanjutkan, “Logikanya dekat dengan teori effectuation Saras Sarasvathy. Dalam ketidakpastian, pengusaha tidak hanya meramalkan masa depan. Ia mulai dari sumber daya yang dikuasai, membatasi kerugian yang sanggup ditanggung, membangun komitmen dengan mitra, lalu memanfaatkan kejutan sebagai bahan penyesuaian.”

“Itulah sebabnya saya tidak menyukai proyek yang hanya menjual satu angka besar pada akhir tahun kesepuluh. Saya ingin tahu apa yang masih dapat kita kendalikan besok pagi.”

Suci kembali membuka halaman pertama. “Jadi business plan bukan kitab suci. Ia alat untuk menemukan bagian keyakinan kita yang masih memerlukan bukti dan perlindungan.”

“Benar.”

“Setelah semua perlindungan dibuat, apakah kita siap?” tanya An.

“Kita tidak pernah sepenuhnya siap. Pada satu titik, analisis harus berhenti dan keputusan harus dimulai.”

“Itulah saat rencana menjadi kenyataan?”

“Bukan. Itulah saat rencana mulai berunding dengan kenyataan.”

Di luar kafe, tamu hotel datang dan pergi. Jauh di belakang gedung-gedung, kapal membawa mesin, bahan baku, makanan, dan barang jadi melintasi batas negara. Di dalam setiap peti kemas terdapat keputusan seseorang: membeli, menjual, memproduksi, mengirim, meminjam, atau mengambil risiko. Tidak satu pun barang bergerak hanya karena telah ditulis dalam proposal.

“Saya kira bisnis dimulai dari ide,” kata An.

“Tidak.”

“Dari modal?” tanya Suci.

“Bukan.”

“Lalu dari apa?”

“Dari perbuatan.”

Suci segera menangkap rujukannya. “Goethe, dalam Faust. Ketika Faust gelisah menerjemahkan ‘Pada mulanya adalah Firman’, ia akhirnya memilih, Im Anfang war die Tat—pada mulanya adalah perbuatan.”

An menyambung, “Dan Marx, dalam tesis kesebelas tentang Feuerbach, mengkritik para filsuf yang hanya menafsirkan dunia. Persoalannya adalah mengubahnya.”

Saya mengangguk. “Keduanya datang dari jalan pemikiran berbeda, tetapi bertemu pada satu kesadaran bahwa  gagasan baru mempunyai konsekuensi sejarah setelah memasuki tindakan.”

“Berarti rencana tidak penting?” tanya An.

“Rencana memberi bentuk kepada niat. Namun bisnis baru lahir ketika seseorang mempertaruhkan modal, menggerakkan barang, mempertemukan manusia, dan menerima bahwa hasilnya mungkin berbeda dari bayangannya.”

“Jadi ketidakpastian bukan musuh bisnis,” kata Suci.

“Ia ruang tempat bisnis menjadi mungkin. Kalau masa depan sepenuhnya pasti, tidak ada penemuan, keberanian, atau laba kewirausahaan. Yang tersisa hanya administrasi.”

“Lalu siapa pengusaha itu?”

“Orang yang memasuki ketidakpastian dengan pengetahuan yang tidak pernah lengkap, tetapi tidak menjadikan ketidaktahuan sebagai alasan untuk bertindak sembarangan.”

Suci dan An kembali memandang proyeksi itu. Kini angka-angka tersebut tidak lagi tampak sebagai ramalan, melainkan kumpulan pernyataan yang harus diuji.

“Pada mulanya adalah perbuatan,” kata Suci perlahan.

“Dan setiap perbuatan mengandung kemungkinan salah,” sambung An.

Saya memandang mereka bergantian. Sore itu saya tahu bahwa Ale Capital tidak kekurangan orang pintar. Yang harus saya lakukan hanyalah memberi mereka ruang agar pengetahuan akademis tidak berhenti sebagai kutipan, tetapi berubah menjadi kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.

“Lalu apa yang membuat kita tetap melangkah?” tanya Suci.

Saya memandang cahaya yang jatuh di permukaan Selat Singapura. “Keyakinan bahwa kenyataan bukan hanya sesuatu yang harus kita tafsirkan atau terima. Ia juga dapat kita ubah. Namun setiap kali mengubahnya, kita harus bersedia bertanggung jawab atas kenyataan baru yang kita ciptakan.”

Kekuasaan yang Tak Pernah Berdiri Sendiri.

“Di Ale Capital London ada berapa orang?” tanya saya.

“Empat puluh orang,” jawab Suci. “Di London hanya ada dua departemen yaitu Legal and Compliance serta Supporting and Risk. Legal and Compliance dipimpin Miss Abigail. Sedangkan Supporting and Risk saya yang pimpin.”

Saya tersenyum. “Jadi urusan hukum dan kepatuhan dipimpin seorang perempuan Yahudi, sementara urusan analisis pendukung dan risiko dipimpin perempuan dari Lampung.”

Suci ikut tersenyum. “Ale Capital tidak memilih orang berdasarkan asal-usulnya. Ada dari China, India, Turki, Israel, AS, Singapore Philipina, Korea, Malaysia dan Indonesia. “

“Memang seharusnya begitu. Perusahaan global tidak dipersatukan oleh kesamaan etnis, agama, atau kebangsaan. Ia dipersatukan oleh kompetensi, integritas, dan standar kerja.”

An yang duduk di samping Suci membuka struktur organisasi Ale Capital pada tabletnya. “Untuk Finance, Fund Accounting, and Tax serta Investor Relations and Fundraising, seluruh fungsinya ditempatkan di kantor Swiss,” jelasnya.

“Mengapa di Swiss?” tanya saya, meskipun saya mengetahui jawabannya. Saya ingin mendengar bagaimana mereka memahami organisasi tempat mereka bekerja.

Suci menjawab, “Karena Swiss merupakan pusat administrasi dana dan hubungan dengan para limited partners. Tim di sana menghitung nilai aset bersih setiap fund, distribusi keuntungan, management fee, carried interest, kewajiban pajak, dan laporan berkala kepada investor.”

“Termasuk menghimpun dana baru?” tanya saya.

“Ya. Tim Investor Relations and Fundraising menjelaskan kinerja portofolio, risiko, strategi investasi, dan rencana pembentukan fund baru kepada para LP. Mereka menjaga agar investor tidak hanya menerima angka, tetapi juga memahami dari mana keuntungan berasal dan risiko apa yang menyertainya.”

Saya mengangguk. “Uang investor tidak cukup hanya dikelola dengan baik. Mereka juga harus mengetahui bagaimana uangnya bekerja.”

“Karena hubungan antara GP dan LP berdiri di atas kepercayaan,” kata An. “Sekali laporan kehilangan kredibilitas, persoalannya bukan hanya satu fund. Reputasi seluruh Ale Capital dapat rusak.”

“Lalu New York?” tanya saya.

“Departemen investasi dan Portfolio Operations Team berada di New York,” jawab Suci. “Tim investasi mencari target, melakukan valuasi, menyusun struktur transaksi, bernegosiasi, dan membawa proposal kepada Investment Committee. Setelah akuisisi selesai, Portfolio Operations Team membantu perusahaan portofolio memperbaiki operasi, memperluas pasar, meningkatkan efisiensi, dan menyiapkan strategi keluar.”

“Jadi New York membeli dan membangun nilai. Swiss mengelola dana serta kepercayaan investor. London memastikan semua keputusan itu tetap berada dalam batas hukum, kepatuhan, dan risiko,” kata saya.

“Kurang lebih begitu,” jawab Suci.

“Bukan kurang lebih. Memang begitu desainnya.” Saya melihat mereka bergantian. “Tetapi jangan menganggap ketiga kantor itu sebagai pulau yang berdiri sendiri. New York dapat menemukan peluang terbaik, tetapi London harus berani mengatakan tidak apabila risiko dan hukumnya tidak dapat diterima. Swiss dapat menghimpun dana sebesar apa pun, tetapi tidak boleh menjanjikan sesuatu yang tidak mampu diwujudkan oleh tim investasi.”

An mengangguk. “Berarti fungsi kami bukan mendukung setiap keputusan investasi agar terlaksana.”

“Bukan. Kalian mendukung Ale Capital agar mengambil keputusan yang benar. Kadang bentuk dukungan terbaik adalah memperbaiki transaksi. Kadang menundanya. Bahkan kadang menghentikannya.”

“Karena pertumbuhan aset bukan satu-satunya ukuran keberhasilan,” kata Suci.

“Benar. Private equity tidak dibangun hanya dengan kemampuan membeli perusahaan. Ia dibangun oleh keseimbangan empat kekuatan: keberanian mengambil peluang, kemampuan menciptakan nilai, disiplin mengelola risiko, dan kejujuran mempertanggungjawabkan uang investor.”

Saya kembali memandang struktur organisasi pada tablet An. “New York bekerja dengan peluang. London bekerja dengan batas. Swiss bekerja dengan kepercayaan. Kalau salah satunya merasa lebih penting daripada yang lain, Ale Capital akan kehilangan keseimbangannya.”

Suci menatap kepada An. “Komite Investasi terdiri atas Mr. Richard, Steven, dan George,” kata Suci “Namun di belakang George ada Shadow Team yang dibentuk langsung oleh Mr. B. Anggotanya tujuh orang terdiri dari Mbak Lastri, Mia, Teresia, Monice, Michael, Victor, dan Lee.”

“Berarti George membawa hasil kajian mereka ke dalam rapat komite?” tanya An.

“Ya. Mereka orang-orang hebat, berkemampuan di atas rata-rata, dan sangat mandiri dalam berpikir. Mereka tidak bekerja untuk membenarkan keputusan siapa pun. Setiap asumsi, valuasi, struktur pembiayaan, dan risiko investasi akan mereka uji dari sudut pandang berbeda.”

An mengangguk perlahan. “Jadi sebelum sebuah investasi disetujui, analisis kita lebih dahulu diuji di London. Setelah itu diperiksa kembali oleh Shadow Team, lalu dipertanggungjawabkan di hadapan Komite Investasi.”

“Benar,” jawab Suci. “Karena itu, kalau kita tidak cermat menyusun analisis investasi dan risiko, proposal kita akan mudah sekali ditebas dalam rapat komite.”

“Kelihatannya berlapis dan melelahkan.”

“Memang. Tetapi uang yang kita kelola bukan milik kita. Itu uang para investor yang mempercayakannya kepada Ale Capital. Satu keputusan yang ceroboh dapat menghancurkan kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun.”

Saya hanya tersenyum mendengar percakapan mereka. Tidak ada yang perlu saya tambahkan. Mereka telah memahami bahwa pengawasan berlapis bukan dibuat untuk mempersulit investasi, melainkan untuk mencegah keyakinan seseorang berubah menjadi keputusan tanpa koreksi.

Setiap lapisan mempunyai hak untuk bertanya, menguji, bahkan menghentikan transaksi. Dengan cara itulah keberanian mengambil risiko tetap dibatasi oleh disiplin. Uang investor tidak boleh hilang hanya karena seseorang terlalu percaya kepada analisanya sendiri.

Suci tersenyum. “Jadi struktur organisasi juga merupakan filsafat?”

“Selalu. Struktur menunjukkan bagaimana kekuasaan dibagi, siapa yang boleh mengambil risiko, siapa yang wajib mengoreksi, dan siapa yang harus mempertanggungjawabkan akibatnya.”

Kopi kami hampir habis, tetapi tidak seorang pun beranjak. Di layar televisi tanpa suara di sudut kafe, muncul gambar Presiden Donald Trump sedang berbicara di hadapan para pendukungnya. Di bawah gambar itu bergerak berita mengenai tarif, pembatasan teknologi, dan perundingan dagang Amerika Serikat dengan sejumlah negara.

An melirik layar. “Pasar selalu bergetar setiap kali Trump berbicara,” katanya.

“Pasar menyukai tokoh karena tokoh mudah dijadikan cerita,” jawab saya. “Kalau harga saham turun, orang menyebut satu nama. Kalau tarif naik, mereka menyalahkan watak seorang presiden. Padahal kekuasaan negara tidak pernah lahir dari kepribadian satu orang saja.”

Suci meletakkan cangkirnya. “Bapak menganggap kebijakan Trump akan tetap muncul meskipun presidennya orang lain?”

“Bentuk dan kecepatannya mungkin berbeda. Bahasanya mungkin lebih sopan. Namun tekanan strukturalnya tetap ada. Amerika menghadapi defisit perdagangan, berkurangnya sebagian kapasitas industri, persaingan teknologi dengan China, beban fiskal, serta tuntutan pekerja yang merasa globalisasi tidak lagi memberi mereka bagian yang adil. Trump tidak menciptakan semua tekanan itu. Ia memberi suara politik yang lebih keras kepadanya.”

“Jadi kita tidak boleh membaca geopolitik sebagai biografi seorang pemimpin,” kata An.

“Benar. Seorang pemimpin penting, tetapi ia bertindak di dalam struktur kepentingan, institusi, sejarah, dan keterbatasan material. Kekuasaan bukan benda yang dimiliki seseorang di dalam saku. Ia adalah hubungan.”

Suci mengangguk. “Itu dekat dengan pemikiran Michel Foucault. Kekuasaan tidak hanya bekerja dari atas melalui perintah. Ia tersebar dalam institusi, pengetahuan, aturan, dan penentuan mengenai apa yang dianggap normal.”

“Ya. Dalam hubungan antarnegara, kekuasaan juga tidak hanya berbentuk kapal perang. Ia hidup dalam standar teknologi, sistem pembayaran, lembaga pemeringkat, hukum kontrak, asuransi, jaringan data, dan mata uang yang dipakai untuk menentukan harga.”

“Dolar,” kata An.

“Terutama dolar.”

Saya membuka kembali tablet, lalu menampilkan grafik cadangan devisa dunia. Dolar masih menjadi mata uang cadangan terbesar, dipakai dalam perdagangan, pembiayaan, pembayaran, dan penerbitan utang lintas negara. Dominasi itu tidak terjadi hanya karena Amerika memerintahkannya. Dunia memakai dolar karena pasar keuangannya dalam, asetnya likuid, kontraknya dipercaya, dan jaringan penggunaannya sudah sangat luas.

“Jadi istilah yang tepat bukan Amerika sekadar menjaga reserve currency,” kata Suci, “melainkan menjaga keseluruhan ekosistem yang membuat dolar menjadi mata uang dominan.”

“Tepat. Mata uang tidak berkuasa sendirian. Di belakangnya ada kapasitas produksi, kekuatan militer, pasar modal, hukum, teknologi, diplomasi, dan kepercayaan.”

An memperbesar grafik. “Data IMF menunjukkan bagian dolar dalam cadangan devisa teralokasi turun perlahan menjadi sekitar 56,8 persen pada kuartal keempat 2025. Masih dominan, tetapi tidak lagi seperti awal abad ini.”

“Penurunan itu belum berarti dolar akan segera digantikan,” kata saya. “Tidak ada mata uang tandingan yang sekaligus mempunyai pasar aset aman sebesar Amerika, likuiditas global, kebebasan arus modal, dan jaringan penggunaan seluas dolar. Tetapi dominasi yang bertahan bukan berarti dominasi yang abadi.”

Suci menatap layar televisi. “Di sinilah paradoksnya. Kebijakan tarif dapat melindungi industri dan mengurangi ketergantungan strategis. Namun Federal Reserve sendiri menjelaskan bahwa peran internasional dolar ditopang oleh keterbukaan perdagangan dan arus modal, stabilitas institusi, kepastian hak milik, serta kedalaman pasar keuangan. Kalau Amerika terlalu menutup diri atau memakai sistem dolar sebagai alat tekanan tanpa batas, kepercayaan yang menopang dolar dapat terkikis.”

Saya tersenyum. “Itulah sebabnya kekuasaan selalu mengandung kontradiksi. Instrumen yang dipakai untuk mempertahankannya dapat sekaligus merusak sumber kekuasaan itu.”

“Seperti tesis Hegel?” tanya An. “Setiap bentuk kekuasaan melahirkan negasi dari dalam dirinya?”

“Tidak perlu memaksakan semuanya menjadi dialektika Hegel,” jawab saya sambil tersenyum. “Tetapi benar bahwa tindakan menghasilkan reaksi. Sanksi keuangan mendorong negara mencari jalur pembayaran alternatif. Pembatasan teknologi mendorong lawan membangun teknologi sendiri. Tarif melindungi produsen tertentu, tetapi juga menaikkan biaya bagi industri lain yang memakai barang impor.”

Suci melanjutkan, “Antonio Gramsci membedakan dominasi dan hegemoni. Kekuasaan yang bertahan tidak hanya bergantung pada paksaan, tetapi juga pada persetujuan—ketika aturan yang dibuat oleh kekuatan dominan diterima sebagai aturan yang wajar oleh pihak lain.”

“Dan dolar adalah contoh hegemoni yang kuat,” kata saya. “Banyak negara menyimpan dolar bukan karena dipaksa secara langsung, tetapi karena membutuhkannya. Perusahaan menagih dalam dolar karena pemasok, bank, dan pembeli juga menggunakannya. Kekuasaan bekerja melalui kebutuhan bersama.”

An mengerutkan kening. “Tetapi kalau dunia membutuhkan aset dolar, Amerika harus terus menyediakan aset itu. Bukankah itu menuntut Amerika menjalankan defisit?”

“Kamu sedang masuk ke dilema Triffin,” kata Suci. “Negara penerbit mata uang cadangan harus memasok likuiditas kepada dunia. Namun pasokan itu dapat menciptakan kewajiban eksternal dan akhirnya menimbulkan keraguan terhadap mata uang tersebut.”

Saya mengangguk. “Itulah paradoks pusat sistem dolar. Dunia mengeluhkan defisit Amerika, tetapi pada saat yang sama memerlukan aset dolar. Negara surplus menjual barang kepada Amerika, lalu menempatkan sebagian hasilnya kembali ke obligasi dan aset keuangan Amerika. Defisit satu pihak adalah cermin surplus pihak lain.”

“Jadi economic imbalance bukan sekadar akibat satu negara boros dan negara lain rajin,” kata An.

“Bukan. Ia lahir dari hubungan. Tabungan berlebih di satu kawasan, konsumsi di kawasan lain, nilai tukar, struktur industri, kebijakan fiskal, arus modal, dan permintaan terhadap aset aman saling membentuk. Karena itu neraca berjalan global selalu berjumlah nol. Surplus tidak mungkin ada tanpa defisit di tempat lain.”

Suci menambahkan, “Ben Bernanke pernah menyebut global saving glut bahwa kelebihan tabungan di sejumlah negara mengalir ke aset Amerika, menekan biaya pembiayaan dan ikut menopang defisit eksternal Amerika. Jadi ketidakseimbangan tidak dapat dijelaskan hanya dari perilaku konsumen Amerika.”

“Benar. Dan Barry Eichengreen menyebut keuntungan Amerika sebagai exorbitant privilege: Amerika dapat meminjam dalam mata uangnya sendiri dan memperoleh pembiayaan lebih murah karena dunia membutuhkan dolar. Namun hak istimewa itu juga membawa tanggung jawab. Kalau kepercayaan hilang, keunggulan berubah menjadi kerentanan.”

An kembali melihat gambar Trump. “Kalau begitu, apakah tarif Trump bertujuan mempertahankan dolar?”

“Jangan membuat hubungan sebab-akibat yang terlalu lurus,” jawab saya. “Secara resmi, kebijakan America First Trade Policy berbicara mengenai defisit barang, resiprositas, manufaktur, pekerja, rantai pasok, dan keamanan nasional. Menjaga hegemoni ekonomi adalah kerangka strategis yang lebih luas, bukan satu-satunya motif yang tertulis di setiap keputusan.”

“Tetapi secara struktural,” kata Suci, “reindustrialisasi, pengamanan mineral kritis, pembatasan teknologi, dan tekanan agar produksi kembali ke Amerika memang berhubungan dengan kemampuan negara mempertahankan basis material kekuasaannya.”

“Tepat. Dolar tidak dapat selamanya ditopang hanya oleh perdagangan aset keuangan kalau kapasitas produktif, teknologi, dan legitimasi politiknya melemah. Negara yang ingin mempertahankan kepemimpinan sistem akan berusaha menjaga sumber kekuasaan tersebut.”

“Dengan kata lain,” kata An, “Trump bukan anomali yang berdiri di luar sejarah. Ia merupakan ekspresi keras dari kecemasan sebuah kekuatan dominan ketika tatanan yang dibangunnya mulai diperebutkan.”

“Ya. Tetapi jangan pula menganggap semua tindakannya pasti rasional atau berhasil. Struktur menjelaskan mengapa suatu kebijakan muncul; struktur tidak menjamin kebijakan itu bijaksana.”

Suci tersenyum. “Itu penting. Kalau tidak, analisis struktural berubah menjadi pembenaran.”

“Benar. Kebijakan dapat lahir dari persoalan nyata tetapi tetap menggunakan obat yang salah. Tarif mungkin memberi ruang bernapas kepada industri strategis, tetapi tanpa investasi, keterampilan, infrastruktur, energi kompetitif, dan inovasi, tarif hanya memindahkan biaya kepada konsumen.”

“Karl Polanyi menyebut masyarakat akan melakukan gerakan perlindungan ketika pasar dilepaskan terlalu jauh dari kehidupan sosial,” kata Suci. “Globalisasi menciptakan efisiensi, tetapi juga mengganggu komunitas, pekerjaan, dan rasa aman. Politik proteksionis dapat dibaca sebagai countermovement terhadap pasar yang dianggap tidak lagi terkendali.”

“Tepat. Karena itu pertarungan hari ini bukan lagi pertarungan sederhana antara sosialisme dan kapitalisme seperti pada Perang Dingin. China menggunakan pasar, tetapi negara tetap mengarahkan sektor strategis. Amerika membela pasar, tetapi memberikan subsidi, tarif, dan pembatasan teknologi ketika kepentingan nasionalnya terancam. Eropa berbicara tentang kompetisi, tetapi membangun kebijakan industri dan otonomi strategis.”

An tersenyum. “Ideologi belum mati. Ia hanya tidak lagi cukup untuk menjelaskan perilaku negara.”

“Betul. Negara-negara sedang mempraktikkan seni bertahan hidup di tengah perubahan paradigma peradaban: energi berubah, teknologi digital mengubah produksi, kecerdasan buatan mengubah tenaga kerja, dan rantai pasok berubah menjadi masalah keamanan.”

“Kalau setiap negara mengejar keselamatan sendiri,” kata Suci, “bukankah dunia akan terjebak dalam proteksionisme?”

“Itulah dilema keamanan dalam ekonomi. Ketika satu negara mengamankan rantai pasok, negara lain melihat ancaman dan melakukan hal yang sama. Tindakan defensif satu pihak tampak ofensif bagi pihak lain. Akhirnya semua merasa lebih aman, tetapi sistem justru menjadi lebih rapuh.”

“Mirip prisoner’s dilemma,” kata An. “Keputusan yang rasional bagi setiap negara secara individual dapat menghasilkan keadaan yang buruk secara kolektif.”

“Karena itu kemandirian tidak boleh diartikan sebagai autarki,” jawab saya. “Tidak ada negara modern yang benar-benar mandiri dengan menutup diri. Bahkan Amerika membutuhkan mineral, komponen, pasar, talenta, dan sekutu. China pun membutuhkan energi, bahan baku, teknologi tertentu, dan pembeli dari luar.”

Suci menatap saya. “Lalu apa arti kemandirian?”

“Kemampuan menentukan pilihan tanpa mudah dipaksa. Bukan memproduksi segala sesuatu sendiri, tetapi menguasai kemampuan yang paling menentukan nasib bangsa berupa  pangan, energi, pembiayaan, teknologi dasar, kesehatan, pendidikan, data, serta kapasitas industri tertentu.”

“Berarti kemandirian adalah kapasitas tawar,” kata An.

“Ya. Negara yang tidak mempunyai kapasitas domestik akan menyebut ketergantungannya sebagai keterbukaan. Padahal keterbukaan tanpa kekuatan tawar hanyalah ketergantungan yang diberi nama indah.”

“Tetapi kemandirian tanpa keterbukaan dapat berubah menjadi kemiskinan yang dibanggakan,” kata Suci.

Saya tertawa kecil. “Itulah sebabnya pemimpin harus menjaga dua hal sekaligus: memperkuat rumah sendiri dan tetap mempunyai pintu menuju dunia.”

Suci menghubungkannya dengan Dani Rodrik. “Rodrik menjelaskan trilema ekonomi dunia: demokrasi, kedaulatan nasional, dan hiperglobalisasi tidak dapat dimaksimalkan sekaligus. Negara harus menentukan ruang kebijakan domestik tanpa sepenuhnya memutus kerja sama internasional.”

“Tepat. Pemimpin tidak boleh hanya bertanya bagaimana menarik modal asing. Ia harus bertanya, kemampuan apa yang tinggal setelah modal itu pergi? Apakah tenaga kerja kita menjadi lebih terampil? Apakah pemasok domestik tumbuh? Apakah teknologi dapat dikuasai? Apakah keuntungan memperkuat tabungan nasional atau seluruhnya mengalir keluar?”

An membuka halaman kosong dan mulai mencatat. “Kalau tim pendukung Ale Capital menilai risiko geopolitik,” katanya, “kami tidak cukup membuat daftar negara yang sedang bertengkar.”

“Lalu apa yang kalian periksa?”

An menjawab, “Pertama, ketergantungan proyek: mata uang pembiayaan, teknologi, energi, bahan baku, pasar ekspor, jalur logistik, dan yurisdiksi kontrak.”

Suci melanjutkan, “Kedua, titik tekan negara: tarif, sanksi, kontrol ekspor, aturan investasi, sistem pembayaran, serta kemampuan pemerintah memaksa perusahaan mengikuti kebijakan luar negerinya.”

“Ketiga,” kata An, “kemampuan adaptasi, pemasok alternatif, substitusi teknologi, cadangan likuiditas, lindung nilai, dan pilihan pasar.”

Saya mengangguk. “Bagus. Jangan bertanya hanya apakah perang akan terjadi. Tanyakan apa yang terjadi kepada perusahaan kalau dunia terpecah menjadi beberapa blok standar, pembayaran, dan teknologi.”

“Berarti geopolitik harus masuk ke desain bisnis, bukan hanya menjadi paragraf risiko di akhir proposal,” kata Suci.

“Benar. Kalau sebuah perusahaan hanya dapat hidup selama dunia selalu damai, dolar selalu murah, teknologi selalu tersedia, dan kapal selalu melewati jalur yang sama, perusahaan itu bukan efisien. Ia rapuh.”

Suci menatap lalu lintas di luar jendela. “Lalu apa yang membedakan nasionalisme ekonomi yang sehat dari nasionalisme yang merusak?”

“Nasionalisme sehat membangun kemampuan agar bangsanya dapat bekerja sama secara bermartabat. Nasionalisme yang merusak membutuhkan musuh untuk menutupi kegagalannya membangun kemampuan.”

An menambahkan, “Yang satu menghasilkan sekolah, laboratorium, pembangkit listrik, industri, dan institusi. Yang lain hanya menghasilkan slogan.”

“Tepat.”

“Apakah dunia sedang menuju akhir globalisasi?” tanya Suci.

“Tidak. Dunia tidak berhenti saling membutuhkan. Globalisasi hanya berganti bentuk. Dulu perusahaan memilih lokasi termurah. Kini mereka juga menghitung keamanan, aliansi, subsidi, karbon, data, dan risiko sanksi. Efisiensi tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran.”

“Jadi paradigma baru bukan deglobalisasi,” kata An, “melainkan globalisasi yang lebih politis.”

“Dan lebih mahal,” jawab Suci.

Saya mengangguk. “Harga barang kelak memuat bukan hanya biaya produksi, tetapi juga biaya keamanan, redundansi, dan loyalitas geopolitik.”

Matahari mulai turun. Cahaya jingga memantul di dinding kaca gedung-gedung Singapura. Kota kecil itu bertahan bukan dengan menutup diri, melainkan dengan membuat dirinya diperlukan dunia—pelabuhan, keuangan, hukum, logistik, pendidikan, dan teknologi. Namun keterbukaannya ditopang kapasitas negara yang kuat. Ia menjadi contoh bahwa kemandirian dan keterhubungan bukan dua kutub yang harus saling meniadakan.

“Sekarang saya mengerti,” kata An. “Survival bukan berarti bersembunyi dari dunia.”

“Survival adalah kemampuan berubah tanpa kehilangan kendali atas arah perubahan,” jawab saya.

Suci menutup tabletnya. “Dan hegemoni bukan sekadar kemampuan memaksa.”

“Hegemoni adalah kemampuan membuat kepentingan sendiri diterima sebagai tata tertib bersama. Namun ia hanya bertahan selama tata tertib itu masih memberi manfaat dan dipercaya pihak lain.”

“Paksaan akan semakin sering dipakai. Dan ketika kekuasaan terlalu sering membutuhkan paksaan, itu tanda bahwa hegemoninya mulai melemah.”

Suci menatap saya. “Seperti perang Amerika Serikat dengan Iran?”

“Perang itu dapat dibaca sebagai salah satu gejalanya, tetapi jangan mengambil kesimpulan terlalu cepat,” jawab saya. “Amerika dan Israel memulai serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026 setelah diplomasi mengenai program nuklir gagal menghasilkan kepercayaan. Kekuatan militer kemudian dipakai untuk mencapai sesuatu yang tidak berhasil dicapai melalui perundingan, sanksi, dan tekanan ekonomi.”

An menggeleng perlahan. “Tetapi penggunaan kekuatan juga dapat membuktikan bahwa Amerika masih sangat berkuasa. Ia mampu menyerang sasaran jauh dari wilayahnya, menggerakkan armada, dan memengaruhi jalur energi dunia.”

“Benar. Kekuatan militer menunjukkan kapasitas dominasi, tetapi belum tentu membuktikan kekuatan hegemoni,” kata Suci. “Dalam kerangka Gramsci, dominasi membuat orang patuh karena takut. Hegemoni membuat mereka menerima suatu kepemimpinan karena menganggap tatanannya sah atau masih memberi manfaat.”

Saya mengangguk. “Itulah perbedaannya. Perang Iran–AS tidak dengan sendirinya membuktikan hegemoni Amerika telah runtuh. Namun ketika diplomasi gagal, sekutu tidak sepenuhnya sejalan, jalur pelayaran terganggu, dan kekuatan militer harus terus digunakan untuk mempertahankan aturan, kita melihat biaya kepemimpinan semakin mahal.”

“Apalagi paksaan menghasilkan reaksi,” kata An. “Serangan dapat menghancurkan fasilitas, tetapi tidak otomatis menghapus kemampuan Iran melawan melalui rudal, kelompok regional, serangan terhadap kapal, atau ancaman di Selat Hormuz.”

“Ya,” jawab saya. “Kekuasaan dapat memenangkan pertempuran tanpa menyelesaikan sumber konfliknya. Bahkan kemenangan militer dapat berubah menjadi kekalahan politik jika perang membuat lebih banyak negara meragukan legitimasi tatanan yang hendak dipertahankan.”

Suci memandang layar televisi. “Jadi ukuran hegemoni bukan berapa banyak bom yang mampu dijatuhkan.”

“Melainkan seberapa jarang bom itu perlu dijatuhkan. Kekuasaan paling kukuh bekerja ketika pihak lain mengikuti aturan tanpa harus terus-menerus dipaksa. Ketika persuasi digantikan ancaman dan diplomasi digantikan perang, negara mungkin masih unggul secara militer, tetapi mulai kehilangan kemampuan mengubah kekuatannya menjadi persetujuan.”

Untuk beberapa saat kami diam. Percakapan itu tidak menghasilkan ramalan mengenai siapa yang akan menang antara Amerika dan China, atau berapa lama dolar akan bertahan. Memang bukan itu tujuannya. Saya ingin Suci dan An memahami bahwa geopolitik bukan pertunjukan tokoh-tokoh besar di televisi. Ia adalah pertemuan antara kekuasaan, produksi, uang, teknologi, dan rasa takut manusia kehilangan masa depan.

“Apa nasihat Bapak kepada pemimpin negara berkembang?” tanya Suci.

“Jangan memilih antara menjadi bagian dari dunia atau berdiri di atas kaki sendiri. Lakukan keduanya. Berdaganglah dengan siapa pun, tetapi jangan serahkan seluruh nasib kepada satu pasar. Terimalah modal, tetapi bangun modal nasional. Belilah teknologi, tetapi didik manusia agar kelak mampu menciptakannya. Gunakan dolar ketika diperlukan, tetapi perkuat mata uang dan tabungan domestik. Bangun aliansi, tetapi jangan kehilangan kebebasan mengambil keputusan.”

An tersenyum. “Kemandirian tanpa kesendirian.”

“Dan keterbukaan tanpa penyerahan,” tambah Suci.

Saya mengangguk.

“Itulah seni bertahan hidup sebuah bangsa. Bukan dengan menolak dunia, melainkan dengan memastikan bahwa ketika dunia berubah, ia tidak kehilangan hak menentukan masa depannya sendiri.”


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca