
Bang Niko tidak Bodoh
Namaku Rina. Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Anak tertua bernama Niko. Kami memanggilnya Bang Niko. Adikku bernama Rini. Jarak usia kami masing-masing hanya dua tahun, sehingga masa kecil kami tumbuh dalam rumah yang sama, halaman yang sama, dan kesulitan yang sama.
Bang Niko tidak pandai di sekolah. Nilai rapornya hampir selalu enam. Kadang ada angka lima yang kemudian diperbaiki guru agar dia tetap naik kelas. Aku dan Rini tahu itu. Kami juga tahu mungkin bukan karena kemampuan Bang Niko, melainkan karena para guru menyayanginya. Dia memang tidak pintar menjawab soal. Namun dia tidak pernah melawan guru, tidak pernah mengganggu teman, dan selalu bersedia menghapus papan tulis atau membantu mengangkat buku ke ruang kantor.
“Anak ini baik, dan pintar” kata seorang gurunya kepada Mandeh suatu hari. “ Hanya lambat memahami pelajaran.”
Kata lambat terdengar lebih halus daripada bodoh. Namun bagi Abak, keduanya tidak berbeda. Abak bekerja sebagai sopir truk antarkota. Dia jarang berada di rumah. Dalam sebulan, paling banyak tujuh hari kami melihatnya duduk di ruang tengah, merokok sambil menghitung uang perjalanan. Selebihnya, truk besar itu membawanya ke pelabuhan, perkebunan, gudang, dan kota-kota yang hanya kami kenal dari cerita.
Mandeh hanya ibu rumah tangga. Namun sebelum azan Subuh, dia sudah bangun untuk membuat kue. Tangannya mengaduk tepung, santan, dan gula di bawah cahaya lampu dapur yang redup. Setelah matang, kue-kue itu disusun di dalam baki, lalu diantar ke warung kopi di pasar. Keuntungan dari kue itu tidak banyak. Kadang cukup untuk membeli beras. Kadang hanya cukup untuk uang buku. Namun Mandeh tidak pernah mengeluh. Kami memang hidup bersahaja, tetapi Mandeh memahami pentingnya pendidikan. Baginya, sekolah adalah pintu yang mungkin dapat membawa kami keluar dari kemiskinan.
“Kalian harus punya cita-cita tinggi,” katanya berulang kali. “Orang miskin tidak boleh miskin mimpi.”
Aku dan Rini selalu mengingat kalimat itu. Kami rajin belajar. Setiap menerima rapor, nilai kami hampir selalu bagus. Mandeh akan tersenyum, mengusap kepala kami, lalu menyimpan rapor itu di dalam lemari kayu. Namun hari pembagian rapor bukan hari bahagia bagi seluruh keluarga kami. Bagi Bang Niko, hari itu seperti hari pengadilan. Abak akan duduk di ruang tengah dengan rotan tipis di tangannya. Rapor Bang Niko diletakkan di atas meja. Dia membaca nilai satu per satu dengan wajah semakin gelap. “Enam lagi?”
Bang Niko berdiri di depannya dengan kepala tertunduk.
“Matematika enam. Bahasa enam. Ilmu pengetahuan enam.”
Bang Niko diam.
“Apa kerja kau di sekolah?”
Tidak ada jawaban. Rotan itu kemudian menghantam betisnya. Suara pecutannya pendek, tetapi membuat tubuhku dan Rini gemetar.
“Kau aki laki. Kalau kau tolol, hidupmu akan terbuang!” bentak Abak. “Siapa yang akan menolongmu? Kita orang miskin!”
Rotan kembali menghantam kakinya. Bang Niko tidak menangis. Dia hanya menggigit bibir dan menahan napas. “Dua adik kau perempuan. Mereka tanggung jawab kau. Anak-anak mereka adalah keponakan kau yang harus kau jaga. Apa jadinya kalau kau tolol? Kau akan jadi beban bagi dua adik kau sendiri!”
Setiap kata terasa lebih tajam daripada rotan. Kami berdiri di balik pintu kamar, saling menggenggam tangan. Rini menangis tanpa suara. Aku menutup mulut agar isakku tidak terdengar. Abak kembali memukul. Di punggung. Di kaki. Kadang mengenai tangan Bang Niko ketika dia berusaha melindungi tubuhnya. Namun Bang Niko tetap tidak menangis. Entah karena dia kuat, atau karena terlalu sering dipukul hingga air matanya tidak lagi tahu bagaimana harus keluar.
Setelah puas melampiaskan kemarahan, Abak melempar rotan ke atas meja. “Percuma kau sekolah!” Lalu dia mengenakan sandal dan pergi ke lapau. Begitu suara langkah Abak menghilang dari halaman, aku dan Rini berlari memeluk Bang Niko. Kami membuka kemejanya perlahan. Garis-garis merah tampak di punggungnya. Beberapa membengkak. Ada pula bekas lama yang belum sepenuhnya hilang. “Bang, sakit?” tanyaku sambil menangis.
Bang Niko menggeleng. “Tidak apa-apa. Abang baik-baik saja.” Dia bahkan tersenyum kepada kami. “ biasa laki laki.” Katanya.
Kami menggeleng kuat-kuat dan memeluknya lebih erat. Aku tidak mengerti bagaimana seseorang yang baru saja dihina masih sempat memikirkan adik-adiknya. Aku juga tidak mengerti mengapa orang yang paling baik di rumah kami justru selalu dianggap paling tidak berguna.
Mandeh berdiri beberapa langkah dari kami. Air matanya mengalir tanpa suara. Bang Niko menoleh kepadanya. “Mandeh,” katanya pelan, “Niko memang bodoh di sekolah. Maafkan Niko.”
Mandeh segera mendekat dan memeluknya. “Tidak, Nak. Jangan bicara begitu.”
“Tapi Niko selalu membuat Abak marah.”
“Bukan kau yang salah.”
Mandeh memegang wajah Bang Niko dengan kedua tangannya. “Kau lebih berarti bagi Mandeh daripada semua angka di rapormu. Kau satu-satunya anak laki-laki Mandeh. Kau palang pintu bagi Mandeh dan dua adikmu. Juga bagi Abakmu, kelak ketika dia sudah tua.”
Bang Niko menunduk. “Tapi Niko tidak pintar.”
“Tidak semua manusia diciptakan untuk pintar di atas kertas,” kata Mandeh. “Ada yang pintar menjaga hati orang lain. Ada yang pintar bekerja. Ada yang pintar bertahan. Mandeh percaya Tuhan memberi kau sesuatu yang belum kita pahami.”
Bang Niko akhirnya menangis. Bukan ketika rotan menghantam tubuhnya. Bukan ketika Abak menyebutnya tolol. Dia menangis ketika Mandeh mengatakan bahwa dirinya tetap berarti. Kami berempat berpelukan di ruang tengah yang kecil. Di atas meja, tiga rapor masih tergeletak. Raporku dan Rini penuh angka tinggi. Rapor Bang Niko penuh angka enam.
Namun aku yakin, nilai rapor sekolah buruk karena waktu bang niko belajar kurang sekali. SD dia juara kelas. Ketika duduk di bangku SMP, dia sudah bangun sebelum azan Subuh. Saat aku dan Rini masih tidur, dia berjalan menuju pelabuhan untuk membantu seorang tetangga yang menjadi saudagar ikan. Tetangga itu biasa mengikuti lelang ikan dari kapal-kapal yang baru bersandar. Udara laut pada pagi buta sangat dingin. Lantai pelabuhan licin oleh air, sisik ikan, dan lumpur. Para buruh berteriak menawarkan harga, sementara keranjang-keranjang besar dipindahkan dari kapal menuju tempat pelelangan.
Tubuh Bang Niko memang lebih kekar daripada anak-anak seusianya. Karena itulah dia diberi pekerjaan mengangkat dan menurunkan keranjang ikan. Tangannya yang masih muda harus menahan tali kasar. Bahunya memikul beban yang kadang terlalu berat untuk tubuh seorang pelajar. Setelah selesai bekerja, dia menerima upah harian. Uang itu tidak pernah seluruhnya dipakai sendiri. Sebagian diserahkan kepada Mandeh untuk membeli beras, minyak, atau membayar kebutuhan sekolah kami.
Kemudian dia pulang, mandi seadanya, mengenakan seragam, lalu berangkat ke sekolah. Kadang bajunya masih menyimpan bau laut. Kadang matanya merah karena kurang tidur. Mungkin karena itulah dia sering kesulitan mengikuti pelajaran. Ketika guru menjelaskan matematika, tubuhnya berada di dalam kelas, tetapi pikirannya masih tertinggal di pelabuhan, di antara keranjang ikan dan suara orang-orang yang berebut harga. Tidak ada guru yang mengetahui bahwa sebelum duduk di bangku sekolah, Bang Niko telah bekerja beberapa jam. Tidak ada angka dalam rapor yang mencatat itu.
Saat masuk SMA, Bang Niko tidak lagi bekerja di pelabuhan. Namun bukan berarti dia berhenti mencari uang. Pulang sekolah, dia berdagang kaki lima. Kadang dia mendorong gerobak kecil berisi cincau. Es batu dibungkus karung, sementara gula merah disimpan di dalam botol bekas. Dia berjalan dari kampung ke kampung sambil memanggil pembeli.
“Cincau… cincau dingin…”
Kelas 2 sampai kelas 3 SMA dia dagang kaki lima. Dia menjual sandal. Sandal-sandal murah itu disusun di atas tikar di pinggir pasar. Kadang dia menawarkan ikat pinggang, kaus kaki, atau barang apa saja yang bisa dibeli dengan modal kecil dan dijual kembali dengan sedikit keuntungan. Dia tidak pernah malu. Baginya, pekerjaan apa pun tetap terhormat selama tidak mengambil hak orang lain.
“Abang tidak ingin Mandeh terus bangun sebelum Subuh membuat kue,” katanya kepadaku suatu malam. “Kalau Abang bisa bantu sedikit, Mandeh bisa istirahat.”
“Tapi Abang juga sekolah.”
“Abang sayang mandeh. ” jawabnya singkat.
Bang Niko seakan telah menerima vonis bahwa dirinya tidak akan pernah menjadi anak pintar kebanggaran abak. Namun dia tidak menjadikan kekurangan itu sebagai alasan untuk berhenti berguna. Uang hasil berdagang sering dia serahkan diam-diam kepada Mandeh. Kadang untuk membeli beras. Kadang untuk membayar listrik. Kadang untuk membeli buku tulis bagi aku dan Rini. Kalau dagangannya laku banyak, dia membawakan kami roti
Bang Niko juga rajin salat. Dia selalu berusaha ke surau, terutama saat Magrib dan Isya. Kalau Abak sedang di luar kota, dialah yang memastikan pintu rumah terkunci sebelum kami tidur. Dia pandai bersilat. Sejak kecil, dia belajar dari seorang tua di kampung kami. Gerakannya kuat, cepat, dan tenang. Tubuhnya yang kekar membuat banyak pemuda segan kepadanya. Namun Bang Niko tidak pernah berkelahi. Kalau ada anak muda yang mencoba memancing amarahnya, dia memilih pergi.
“Abang takut?” pernah aku bertanya.
“Bukan takut,” jawabnya. “Kalau kita tahu bisa melukai orang, kita justru harus lebih banyak menahan diri.”
Dia menghindari pergaulan yang tidak baik. Tidak ikut berjudi, tidak mabuk, dan tidak berkeliaran tanpa tujuan. Setelah sekolah, waktunya habis untuk bekerja, membantu Mandeh, salat, dan menjaga kami.
Kadang aku melihatnya duduk sendirian di tangga rumah setelah pulang berdagang. Tubuhnya lelah. Kakinya kotor oleh debu jalanan. Namun ketika aku mendekat, dia selalu tersenyum. “Bagaimana sekolahmu?”
“Baik.”
“Nilai matematikamu?”
“Sembilan.”
Wajahnya langsung cerah. “Bagus. Pertahankan. Jangan seperti Abang.”
Aku selalu sedih mendengar kalimat itu. Karena semakin besar aku, semakin aku memahami bahwa Bang Niko bukan anak bodoh. Dia hanya tidak diberi cukup waktu untuk menjadi pintar menurut ukuran sekolah. Saat anak-anak lain belajar setelah Subuh, dia bekerja di pelabuhan. Saat teman-temannya mengikuti les sepulang sekolah, dia mendorong gerobak cincau. Saat anak-anak lain membeli buku, Bang Niko menjual sandal agar aku dan Rini dapat membeli buku.
Namun setiap kali menerima rapor, semua pengorbanan itu seakan tidak pernah ada. Yang dilihat Abak hanya angka enam. Rotan kembali diambil. Hinaan kembali diucapkan. Bang Niko kembali berdiri dengan kepala tertunduk, seolah seluruh kerja kerasnya tidak cukup untuk membuktikan bahwa dia adalah anak yang berguna.
Sejak Bang Niko SMP hingga sekolah menengah atas, drama yang sama terus berulang setiap kali pembagian rapor tiba. Abak pulang. Rapor dibuka. Rotan diambil. Bang Niko dipukul dan dihina. Aku dan Rini menangis di balik pintu. Mandeh menunggu sampai kemarahan Abak selesai, lalu memeluk anak laki-lakinya yang selalu dianggap gagal.
Tahun demi tahun, tubuh Bang Niko semakin tinggi. Bahunya semakin lebar. Namun setiap berdiri di hadapan Abak dengan rapor di tangan, dia kembali tampak seperti anak kecil yang tidak tahu harus bersembunyi ke mana. Dia tidak pernah membalas. Tidak pernah mengadu. Tidak pernah membenci kami karena nilai kami lebih baik.
Setiap malam sebelum ujian, justru dia yang sempatkan beli susu untukku dan Rini. Dia menimba air, mencuci piring, menutup pintu, lalu duduk di dekat kami sambil memperbaiki sandal atau meraut pensil. “Belajarlah,” katanya. “Kalian harus jadi orang.” Saat itu aku belum menyadari bahwa Bang Niko sudah menjadi orang jauh sebelum kami memahami arti pendidikan.
Sekolah hanya gagal menemukan cara untuk mengukur kebaikannya. Abak gagal melihatnya. Rapor hanya mencatat angka. Tidak mencatat tubuhnya yang memikul keranjang ikan sebelum matahari terbit. Tidak mencatat kakinya yang berjalan berkilometer mendorong gerobak cincau. Tidak mencatat uang hasil dagang yang dia serahkan kepada Mandeh. Tidak mencatat salatnya. Tidak mencatat kesabarannya menahan hinaan. Tidak mencatat kemampuannya menahan tangan meski dia pandai bersilat. Dan tidak mencatat bahwa anak yang selalu dianggap paling bodoh itu sesungguhnya adalah orang yang paling dahulu belajar menjadi laki-laki di rumah kami.
Merantau
Tamat SMA, Bang Niko memutuskan pergi merantau. Keputusan itu tidak lahir dari keberanian semata. Barangkali juga dari luka yang terlalu lama disimpannya sendiri. Hari pembagian ijazah seharusnya menjadi hari bahagia. Namun di rumah kami, hari itu kembali berubah menjadi pengadilan bagi Bang Niko. Abak duduk di ruang tengah dengan wajah keras. Ijazah Bang Niko berada di tangannya. Nilai ujiannya memang buruk. Tidak ada angka yang dapat dibanggakan. Tidak ada alasan bagi Abak untuk tersenyum.
“ Tidak ada tempat untuk orang sebodoh kau.”katanya dengan suara tinggi.
Ijazah itu dilemparkan ke lantai. Bang Niko tidak membungkuk untuk mengambilnya. Dia hanya berdiri dengan kepala tertunduk, seperti yang selalu dilakukannya sejak kecil setiap kali Abak marah. Aku dan Rini memandang dari dekat pintu kamar. Kami tidak berani mendekat. Mandeh berdiri di dapur, membelakangi kami. Namun dari bahunya yang bergetar, aku tahu dia sedang menangis.
“Pergilah dari rumah ,” lanjut Abak. “tak berguna kau di kampung.”
Bang Niko mengangkat wajah sebentar. Tidak ada kemarahan di matanya. Hanya kelelahan yang terlalu tua untuk anak seusianya.
“Iya, abak,” jawabnya pelan. Dia mengambil ijazah dari lantai, membersihkan debu yang menempel, kemudian masuk ke kamar.
Malam itu, Bang Niko mulai mengemas pakaiannya. Tidak banyak yang dimilikinya. Dua helai kemeja, beberapa kaus, selembar celana panjang, kain sarung, peci, dan sebuah handuk tipis. Semuanya dimasukkan ke dalam ransel lusuh yang jahitannya sudah beberapa kali diperbaiki Mandeh. Aku dan Rini duduk di lantai, mengawasinya melipat pakaian. Tidak ada seorang pun yang berbicara pada awalnya. Suara jangkrik terdengar dari halaman. Lampu minyak di kamar bergoyang tertiup angin dari celah jendela.
“Bang,” akhirnya aku berkata, “Abang benar-benar akan pergi?”
Bang Niko mengangguk tanpa menoleh.
“Kapan pulang?”
Dia berhenti melipat pakaian. “Abang belum tahu.”
Rini langsung menangis. “Jangan pergi, Bang.”
Bang Niko tersenyum, lalu mengusap kepala kami bergantian. “Kalian tidak boleh manja. Kalian sudah besar.”
“Abang mau ke mana?” tanyaku.
“Ke Jawa.”
“Di mana di Jawa?”
“Belum tahu.”
Jawaban itu membuat tangisku pecah. Bagaimana mungkin seseorang pergi ke tempat yang bahkan tidak diketahuinya? Tidak ada alamat yang dituju. Tidak ada pekerjaan yang menunggu. Tidak ada saudara yang menjanjikan tempat tinggal. Hanya ada keyakinan bahwa di luar kampung kami, mungkin tersedia sedikit ruang bagi orang yang selama ini dianggap tidak berguna.
Bang Niko duduk di antara kami. “Dengar pesan Abang,” katanya. “Kalian harus menjaga pergaulan. Jangan mudah percaya kepada orang. Rajin belajar. Jangan sia-siakan kesempatan yang kalian punya. Jaga salat. “
“Kalau ada yang mengganggu kami?” tanya Rini sambil terisak.
“Bilang kepada Mandeh.”
“Kalau Mandeh tidak bisa menolong?”
Bang Niko terdiam sebentar. “Berdoalah. Allah tidak pernah tidur.”
Kami memeluknya. Tubuhnya masih berbau keringat dan debu jalanan. Tangan kasarnya mengusap punggung kami perlahan. Aku tidak sanggup membayangkan rumah itu tanpa Bang Niko. Tidak ada lagi orang yang menimba air pada pagi hari. Tidak ada yang menutup pintu setiap malam. Tidak ada yang bertanya tentang nilai sekolah kami. Tidak ada lagi roti yang dibawa pulang ketika dagangannya laku.
Mandeh masuk ke kamar. Wajahnya sembap. Dia duduk di samping Bang Niko dan mengusap kepalanya seperti ketika kami masih kecil. “Kau hendak merantau ke mana, Nak?”
“Ke Jawa, Mandeh.”
“Di mana tempatmu tinggal?”
“Belum tahu.”
“Siapa yang akan kau temui?”
“Belum ada.”
Mandeh menatapnya lama. “Bako-mu entah akan peduli atau tidak. Kau tidak punya siapa-siapa di sana.”
Bang Niko tersenyum lembut. “Tidak apa-apa, Mandeh. Niko bisa bekerja.”
“Kerja apa?”
“Apa saja. “ Jawab bang Niko tersenyum. “ Niko bisa memasak. Dimana rantau pasti ada rumah makan. Itu peluang untuk niko kerja. Niko bisa perbaiki jam. Semua orang butuh jam. Mungkin Niko bisa buka reparasi jam di Jakarta. Niko bisa menjahit pakaian. Katanya di Jakarta banyak konveksi. Niko bisa kerja itu.” Katanya. Mamak kami tukang jahit. Dia belajar jahit dari mamak. Mamak juga yang mengajarinya perbaiki jam. Dari mandeh, bang Niko belajar memasak.
Jawaban itu sederhana. Namun justru karena kesederhanaannya, hati kami semakin hancur. Bagi Bang Niko, bekerja apa saja bukan kalimat kosong. Sejak SMP dia sudah mengangkat keranjang ikan di pelabuhan. Ketika SMA, dia menjual cincau, sandal, kaus kaki, atau barang apa pun yang dapat menghasilkan sedikit uang. Dia tidak takut bekerja. Yang dia takutkan mungkin hanya satu, tetap tinggal dan terus dianggap beban.
Mandeh berdiri, lalu pergi ke ruang tengah. Kami mendengar suaranya berbicara kepada Abak. “Uda, ke mana anak kita akan pergi?”
Abak tidak langsung menjawab.
“Mamaknya di rantau juga miskin,” lanjut Mandeh. “Bako-nya belum tentu peduli. Dia pergi tanpa alamat, tanpa pekerjaan. Bagaimana kalau dia sakit? Bagaimana kalau dia kelaparan?”
“Tidak usah dipikirkan,” jawab Abak datar. “Biarkan dia pergi ke mana dia mau.”
“Dia anak kita, Uda.”
“Dia sudah besar.”
“Uangnya pun tidak punya.”
“Kalau dia mau hidup, dia akan mencari jalan.”
Aku dan Rini mendengar semua itu dari kamar. Kami menangis semakin keras dan memeluk Bang Niko. “Abang jangan pergi,” kata Rini. Bang Niko menahan napas. Matanya mulai merah, tetapi dia tetap tersenyum. “Dik,” katanya, “bumi Allah ini sangat luas.” Dia memegang tangan kami. “Doakan saja Abang sehat. Kalian harus tetap belajar yang rajin. Jangan sampai karena Abang pergi, kalian jadi malas.”
“Abang akan kirim kabar?”
“Iya.”
“Janji?”
“Janji.”
Namun dari cara dia mengatakannya, aku tahu dia sendiri tidak tahu bagaimana harus mengirim kabar. Tidak ada telepon. Tidak ada alamat. Tidak ada kepastian dia akan tiba di mana.
Malam itu, Mandeh memberikan sedikit bekal. Nasi dibungkus daun pisang, beberapa potong kue, dan air minum dalam botol bekas. Dia juga menyelipkan uang yang disimpannya dari hasil menjual kue. Namun Bang Niko hanya membawa dua ribu rupiah. Itu tahun 1981. Jumlah itu mungkin cukup untuk membeli beberapa kali makan sederhana. Namun tidak cukup untuk perjalanan panjang menuju Jawa, apalagi untuk memulai hidup baru.
“Ambillah lebih banyak,” kata Mandeh.
“Tidak usah. Untuk belanja rumah saja.”
“Kalau kau lapar?”
“Niko bisa bekerja.”
“Kalau tidak ada yang memberi pekerjaan?”
Bang Niko tidak menjawab. Dia mencium tangan Mandeh lama sekali. “Maafkan Niko.”
Mandeh langsung memeluknya. “Tidak ada yang harus dimaafkan, Nak. Pulanglah kapan saja. Rumah ini tetap rumahmu.” Bang Niko mengangguk. Aku melihat air mata jatuh dari sudut matanya. Cepat-cepat dia menghapusnya.
Pagi-pagi sekali, kami berdiri di depan rumah. Langit masih pucat. Udara dingin. Jalan tanah di depan rumah masih basah oleh embun. Bang Niko mengenakan kemeja lama, celana panjang yang sedikit kebesaran, dan sandal sederhana. Ransel lusuh tergantung di bahunya. Abak berdiri di pintu. Wajahnya tetap keras. Dia tahu Bang Niko akan menumpang truk yang menuju ke Jawa. Dia juga tahu anak laki-lakinya hanya membawa dua ribu rupiah. Namun Abak tidak berkata apa-apa. Tidak ada nasihat. Tidak ada pelukan. Tidak ada uang tambahan. Mandeh berdiri beberapa langkah di belakangnya sambil menangis.
Dari kejauhan terdengar suara mesin truk. Bang Niko menoleh kepada kami. “Jaga Mandeh.”
Kami mengangguk sambil menangis.
“Jaga diri kalian. Jaga sholat..”
Dia memeluk aku dan Rini bersama-sama. Pelukannya begitu erat, seolah dia sedang berusaha menyimpan tubuh kami dalam ingatannya. Kemudian dia mencium tangan Mandeh. Saat hendak mencium tangan Abak, lelaki itu hanya diam. Bang Niko tetap membungkuk dan menyentuhkan tangan Abak ke dahinya. “Pergilah,” kata Abak pendek.
Truk itu semakin dekat. Ketika melintas di depan rumah, kendaraan itu melambat. Bang Niko berlari beberapa langkah, lalu dengan sigap naik ke bagian belakang. Seorang kenek membantunya menarik ransel. Dia berdiri di atas bak truk dan menatap kami. Aku dan Rini berlari mengikuti kendaraan itu beberapa meter sambil melambaikan tangan. “Bang Niko!” Dia mengangkat tangan tinggi-tinggi.
Mandeh berdiri di depan rumah dengan kedua tangan menutup mulut. Air matanya jatuh tanpa henti. Abak tetap berdiri di ambang pintu. Entah apa yang ada di dalam hatinya. Aku tidak pernah tahu.
Truk itu bergerak semakin jauh. Tubuh Bang Niko mengecil di antara karung, kotak, dan barang-barang muatan. Namun tangannya masih terus melambai. Kami membalas lambaian itu sampai kendaraan tersebut menghilang di tikungan.
Hari itu Bang Niko pergi hanya dengan ransel lusuh, uang dua ribu rupiah, dan keyakinan bahwa bumi Allah cukup luas untuk memberi tempat kepada seorang anak yang dianggap bodoh. Tidak ada yang tahu apakah dia akan menemukan pekerjaan. Tidak ada yang tahu di mana dia akan tidur malam nanti. Tidak ada yang tahu apakah orang-orang di rantau akan berlaku lebih baik daripada Abak.
Yang kami tahu, rumah kami mendadak terasa kosong. Di sudut kamar, masih ada pensil yang pernah dirautnya untukku. Di belakang pintu, masih tergantung gerobak kecil yang pernah dipakainya menjual cincau. Di dekat tempat tidur, ada sandal lama yang belum sempat diperbaikinya. Dan untuk pertama kalinya aku menyadari, orang yang selama ini dianggap beban justru meninggalkan kekosongan paling besar ketika dia pergi.
Surat-Surat dari Rantau
Sudah dua tahun Bang Niko merantau. Selama dua tahun itu, surat-suratnya datang dengan alamat yang selalu berbeda. Kadang alamat pengirimnya hanya nama jalan dan sebuah rumah kontrakan. Pernah pula dia menulis dari los pasar, menumpang alamat toko tempatnya bekerja. Surat pertama mengabarkan bahwa dia menjadi kuli di Tanah Abang. Tulisan tangannya masih sama—besar, miring, dan sedikit berantakan. Mandeh, Niko sehat. Sekarang bekerja mengangkat barang di pasar. Pekerjaannya berat, tetapi orang-orang di sini baik. Jangan khawatir. Doakan Niko kuat.
Kami membaca surat itu berkali-kali. Aku membayangkan Bang Niko memikul bal-bal pakaian yang berat di lorong pasar yang sempit. Tubuhnya basah oleh keringat. Tangan dan bahunya kembali dipakai menanggung beban, seperti ketika dia mengangkat keranjang ikan di pelabuhan saat masih SMP. Bedanya, kali ini tidak ada rumah yang dapat dia tuju setelah bekerja.
Surat berikutnya datang beberapa bulan kemudian. Bang Niko menulis bahwa dia sudah berhenti menjadi kuli. Kini dia bekerja sebagai salesman. Dia berkeliling menawarkan tekstil. Induk semangnya orang China. Katanya dia belajar Bahasa China dari induk semangnya. Begitu caranya menjaga hati induk semangnya.
Surat ketiga mengabarkan bahwa dia mulai berani berdagang sendiri. Tidak dijelaskan berapa modalnya. Tapi dia cerita udah bisa Bahasa inggris. Dari belajar sendiri dari kaset dan buku. Begitu caranya hidup di Jakarta.
Aku tahu Bang Niko belum sukses. Jika hidupnya sudah lebih baik, tentu dia akan pulang. Setidaknya saat Lebaran. Namun dua kali hari raya berlalu tanpa kehadirannya. Setiap takbir terdengar dari surau, Mandeh selalu memandang jalan di depan rumah. Seakan-akan Bang Niko dapat muncul dari tikungan dengan ransel lusuh di bahunya. Namun sampai salat Id selesai, dia tidak pernah datang. Di atas meja hanya ada sepiring rendang dan ketupat yang sengaja disisihkan untuknya. “Barangkali besok dia sampai,” kata Mandeh. Besok pun berlalu. Rendang itu akhirnya kami makan bersama, tetapi tidak seorang pun benar-benar berselera.
Bang Niko mungkin belum berani pulang karena merasa belum membawa keberhasilan. Dia pernah pergi setelah disebut bodoh dan tidak berguna. Mungkin di dalam hatinya ada janji bahwa dia hanya akan kembali ketika dapat membuktikan bahwa Abak salah.
Namun meski tidak pulang, setiap tiga bulan wesel darinya selalu datang. Jumlahnya tidak besar menurut ukuran orang berada. Tetapi bagi kami, uang itu jauh lebih besar daripada penghasilannya ketika berdagang cincau dahulu. Dengan uang kiriman itulah kami membeli beras, membayar sekolah, dan melunasi beberapa utang Mandeh di warung.
Di setiap surat, Bang Niko selalu menulis permintaan yang sama. Mandeh, doakan Niko diberi kekuatan ketika hidup terasa sempit dan diberi kesabaran ketika keadaan menjadi sulit. Dia tidak pernah meminta agar didoakan menjadi kaya. Tidak pernah meminta agar dagangannya cepat besar. Dia hanya meminta kekuatan dan kesabaran. Barangkali karena dua hal itulah yang paling dibutuhkan orang miskin ketika dunia tidak menyediakan tempat untuknya.
Tahun itu aku tamat SMA. Aku diterima di sebuah perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Ketika surat penerimaan datang, aku membacanya berulang kali. Ada rasa bahagia yang begitu besar, tetapi juga ketakutan yang tidak kalah besar. Aku tahu Abak tidak mempunyai uang. Biaya pendaftaran, perjalanan ke Jawa, tempat tinggal, buku, dan makan terlalu besar bagi keluarga kami.
Aku menyimpan surat itu di kamar selama beberapa hari. Namun akhirnya Mandeh mengetahuinya. “Kenapa tidak kau katakan?” tanyanya.
“Apa gunanya, Mandeh? Kita tidak punya biaya.”
Mandeh mengambil surat itu, lalu membacanya perlahan. Matanya langsung berkaca-kaca. “Kau harus kuliah.”
“Dengan uang apa?”
“Kita bicarakan dengan Abak.”
Malam itu, setelah makan, Mandeh menyerahkan surat penerimaan tersebut kepada Abak. Abak membacanya sebentar, lalu meletakkannya di atas meja. “Tidak perlu perempuan sekolah tinggi,” katanya datar. “Cukup SMA. Tunggu saja laki-laki datang melamar.”
Aku menunduk. Seakan-akan seluruh kerja kerasku selama bertahun-tahun hanya berakhir pada penantian terhadap seorang laki-laki yang belum tentu kukenal.
“Tapi Rina diterima di perguruan tinggi negeri,” kata Mandeh.
“Lalu?”
“Tidak semua anak bisa diterima.”
“Kalau kuliah, siapa yang membayar?”
Mandeh terdiam.
Abak melanjutkan, “Perempuan pada akhirnya masuk dapur juga. Untuk apa sekolah tinggi kalau ujung-ujungnya mengurus suami dan anak?”
Aku merasakan dadaku sesak. Aku ingin membantah, tetapi lidahku kelu. Sejak kecil kami diajari bahwa anak tidak boleh meninggikan suara kepada orang tua. Mandeh menangis. Bukan menangis keras. Hanya air mata yang turun perlahan ketika dia mengambil kembali surat penerimaan itu dari meja.
Malam itu juga, di bawah cahaya lampu minyak, Mandeh menulis surat kepada Bang Niko. Dia mengabarkan bahwa aku diterima di perguruan tinggi negeri di Jawa, tetapi keluarga tidak memiliki biaya untuk mendaftar dan berangkat. Aku tidak tahu apa yang ditulis Mandeh selengkapnya. Namun kulihat tangannya gemetar dan beberapa bagian kertas basah oleh air mata. Surat itu dikirim ke alamat terakhir yang kami miliki. Kami tidak tahu apakah Bang Niko masih tinggal di sana. Kami juga tidak tahu apakah dia mempunyai uang.
Namun tujuh hari kemudian, Pak Pos datang ke rumah membawa wesel. Jumlahnya cukup untuk membayar uang masuk universitas, ongkos perjalanan ke Yogyakarta, dan kebutuhan awal selama beberapa bulan. Di bawah keterangan pengirim, hanya ada pesan singkat: Untuk Adinda Rina, kebanggaan Abang.” Aku membaca kalimat itu berkali-kali. Tangisku pecah. Orang yang sepanjang hidupnya tidak pernah dibanggakan oleh Abak justru menyebutku sebagai kebanggaannya.
Aku membayangkan dari mana uang itu diperoleh. Berapa lama dia mengumpulkannya. Berapa kali dia menahan lapar. Berapa pasang sandal yang harus dijual. Berapa kilometer dia berjalan dari satu toko ke toko lain. Mungkin uang itu seluruh tabungannya. Mungkin pula uang yang seharusnya dipakai untuk menyewa kamar atau menambah modal dagang. Namun Bang Niko tidak menulis tentang pengorbanannya. Dia hanya menulis bahwa aku adalah kebanggaannya.
Aku berangkat ke Yogyakarta beberapa minggu kemudian. Mandeh membekaliku nasi, rendang, dan beberapa kue buatannya. Sebelum aku naik kendaraan, dia memelukku erat. “Belajarlah baik-baik,” katanya. “Jangan sia-siakan pengorbanan abangmu.”
Aku mengangguk sambil menangis.
Abak hanya berpesan agar aku menjaga diri. Tidak ada ucapan selamat. Tidak pula disebutnya nama Bang Niko. Namun aku tidak peduli. Di dalam tas, surat pendek dari Bang Niko kusimpan di antara buku-buku. Untuk Adinda Rina, kebanggaan Abang. Kalimat itu menjadi kekuatan setiap kali aku merasa sendirian di kota orang.
6 bulan aku kuliah di Yogyakarta. Setiap bulan Bang Niko mengirim uang. Kadang datang tepat waktu. Kadang terlambat beberapa hari. Namun tidak pernah benar-benar terputus. Dalam suratnya, dia selalu berkata bahwa dagangannya baik-baik saja. Aku tidak pernah sepenuhnya percaya. Orang yang benar-benar baik-baik saja tidak akan menulis kalimat itu terlalu sering.
Suatu sore, ketika aku sedang belajar di kamar kos, ibu kos memanggil dari depan. “Rina, ada laki-laki mencarimu.”
Aku keluar kamar. Beberapa temanku berdiri di lorong dan saling berbisik. “Itu siapa, Rin?” tanya salah seorang dari mereka. “Kok seperti orang gembel?”
Aku berjalan menuju teras. Di sana, Bang Niko berdiri. Untuk beberapa detik aku hanya mampu menatapnya. Tubuhnya lebih kurus daripada yang kuingat. Wajahnya gelap terbakar matahari. Rambutnya agak panjang dan tidak tersisir rapi. Dia mengenakan kemeja lusuh, celana yang warnanya telah pudar, serta sandal jepit yang tipis di bagian tumit. Di bahunya tergantung tas kain kecil. Dia tampak letih, seakan baru menempuh perjalanan panjang tanpa cukup istirahat.
“Bang…”
Bang Niko tersenyum. “Rina.”
Aku berlari memeluknya. Aku tidak peduli kepada tatapan teman-temanku. Tidak peduli kepada pakaiannya. Tidak peduli kepada debu yang menempel di kemejanya. Aku hanya tahu bahwa orang yang selama ini hadir melalui surat dan wesel kini berdiri di hadapanku. “Ini abangku,” kataku kepada teman-teman yang masih memperhatikan kami. “Abang kesayanganku.”
Bang Niko terlihat malu. Dia mencoba melepaskan pelukan, tetapi aku semakin erat memeluknya. “Kenapa Abang tidak bilang mau datang?”
“Abang cuma sebentar.”
“Dari Jakarta?”
Dia mengangguk.
“Naik apa?”
“Bus.”
“Sudah makan?”
“Sudah.”
Aku tahu dia berbohong. Kubawa dia masuk ke ruang tamu kos. Ibu kos memberinya teh. Aku membeli nasi dari warung terdekat. Bang Niko makan pelan, tetapi dari caranya menghabiskan sampai butir terakhir, aku tahu dia sangat lapar.
Setelah makan, dia mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya.
“Ini uang bulananmu,” katanya.
Aku menatap amplop itu. “Abang datang jauh-jauh hanya untuk mengantar uang?”
“Sekalian melihat keadaanmu.”
“Kenapa tidak dikirim lewat wesel?”
Bang Niko tersenyum. “Abang ingin memastikan kau sehat.”
Aku kembali menangis. Dia mengusap kepalaku, seperti yang selalu dilakukannya sejak kami kecil. “Jangan menangis. Kau harus kuat. Kuliah itu mahal. Jangan banyak main. Jaga pergaulan. Jangan mudah percaya kepada laki-laki.”
Aku tertawa di antara air mata. “Abang tetap saja menasihati.”
“Itu tugas abang.”
Aku memandangi wajahnya. Ada garis lelah di sekitar matanya. Tangannya semakin kasar. Kukunya hitam oleh debu. Namun dia terus mengatakan bahwa hidupnya baik-baik saja.
“Abang tinggal di mana?”
“Di Jakarta.”
“Di mana tepatnya?”
“Berpindah-pindah.”
“Usaha Abang bagaimana?”
“Lumayan.”
“Lumayan itu bagaimana?”
“Cukup untuk makan.”
“Lalu uang untukku?”
Bang Niko terdiam. Aku mulai memahami bahwa uang yang diberikannya mungkin bukan kelebihan dari hidupnya. Mungkin justru bagian dari kebutuhannya sendiri yang sengaja dipotong.
“Rina.” Nada suaranya lembut, tetapi tegas. “Abang tidak bisa memberi kau kepintaran. Abang juga tidak bisa kuliah. Yang bisa Abang lakukan hanya memastikan kau tidak berhenti sekolah karena tidak punya uang.”
Aku menunduk. Air mataku jatuh ke atas amplop. “Kau harus menyelesaikan kuliah,” lanjutnya. “Kalau kau berhasil, Abang merasa ikut berhasil.”
Aku memeluknya lagi. Dalam hati aku berbisik kepada Tuhan: Ya Allah, berilah aku kesempatan menjaga abangku kelak. Jangan biarkan seluruh pengorbanannya hilang begitu saja. Biarkan aku membalas walau sedikit dari semua yang telah diberikannya.
Bang Niko tidak lama berada di Yogyakarta. Setelah memastikan kamar kosku cukup aman, melihat kampus dari kejauhan, dan kembali mengingatkanku agar rajin belajar, dia bersiap pulang ke Jakarta. “Bermalamlah dulu,” pintaku. Dia menggeleng dan tersenyum.
Aku mengantarnya ke terminal. Sebelum naik bus, Bang Niko memasukkan sesuatu ke tanganku. Ternyata beberapa lembar uang kecil. “Untuk beli buku.”
“Amplop tadi sudah cukup.”
“Ini lain.”
“Abang…”
“Sudah. Jangan membantah.”
Bus mulai menyalakan mesin. Aku memeluknya untuk terakhir kali. “Jaga diri, Bang.”
“Kau juga. Jangan pernah tinggalkan solat, ya Rin.
“Ya bang”
Dia naik ke bus dan duduk di dekat jendela. Aku berdiri di bawah, melambaikan tangan seperti ketika dahulu dia pergi menumpang truk dari depan rumah kami. Bedanya, kali ini aku tidak lagi seorang anak kecil. Aku sudah mengerti bahwa perjalanan Bang Niko bukan petualangan. Itu adalah pengorbanan panjang seorang kakak yang tidak pernah diberi kesempatan untuk memikirkan dirinya sendiri. Bus perlahan meninggalkan terminal. Bang Niko masih melambaikan tangan dari balik kaca. Aku membalasnya sampai kendaraan itu menghilang di jalan.
Di tanganku, uang pemberiannya terasa hangat. Di dadaku, sebuah doa terus berulang: Kelak, aku akan menjagamu, Bang. Aku akan membuktikan bahwa anak yang selalu disebut bodoh itu telah menyelamatkan masa depan seluruh keluarganya.
Abak minta maaf
Tiga setengah tahun aku kuliah di Yogyakarta. Selama itu, aku hampir tidak pernah pulang saat liburan. Bukan karena tidak merindukan rumah, melainkan karena ongkos perjalanan terasa terlalu mahal. Setiap rupiah yang dikirim Bang Niko selalu kuhitung dengan hati-hati. Aku makan sederhana, membeli buku bekas, dan lebih sering berjalan kaki daripada naik kendaraan umum.
Aku tidak ingin merepotkannya. Aku tahu uang yang datang setiap bulan bukan uang yang jatuh dari langit. Di balik setiap wesel ada keringat, penolakan, perjalanan panjang, dan mungkin juga makan yang sengaja ditundanya. Namun Bang Niko tidak pernah terlambat mengirim uang kuliah dan biaya hidupku. Kadang aku baru menyadari kiriman telah datang ketika ibu kos memanggil dari depan. “Rina, ada wesel lagi.”
Di bagian pesan, kalimatnya selalu pendek. “ Belajarlah baik-baik. Jangan pikirkan biaya. Jaga sholat. Jaga wudu.”
Ketika aku memasuki tahap akhir kuliah dan membutuhkan biaya besar untuk menyelesaikan tugas akhir, aku menulis surat kepadanya dengan perasaan bersalah. Kertas itu beberapa kali kuremas, lalu kutulis ulang. Aku menjelaskan kebutuhan penelitian, pengetikan, penggandaan, dan biaya ujian. Jumlahnya jauh lebih besar daripada kiriman bulanan biasa. Aku menduga Bang Niko akan bertanya mengapa biayanya sebanyak itu. Barangkali dia akan meminta waktu untuk mengumpulkannya.
Namun tidak sampai dua minggu, uang itu datang. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada keluhan. Hanya pesan singkat. Belajarlah baik-baik. Jangan pikirkan biaya. Jaga sholat. Jaga wudu.” Selalu pesan yang sama. Sepertinya hanya dengan itu dia percaya aku akan baik baik saja. Aku memegang wesel itu lama sekali. Bagi orang lain, mungkin itu hanya sejumlah uang. Bagiku, itu adalah bukti bahwa Bang Niko sedang berdiri di belakangku, menahan pintu tetap terbuka agar aku dapat berjalan masuk menuju masa depan yang tidak pernah diberikan kepadanya.
Ketika dinyatakan lulus, orang pertama yang ingin kukabari adalah Mandeh. Aku menulis surat panjang. Kuberitahukan bahwa seluruh mata kuliah telah selesai, tugas akhir telah diterima, dan namaku masuk dalam daftar wisudawan. Dalam surat aku berpesan kepada Abak. Datanglah ke Yogyakarta. Aku ingin Mandeh dan Abak mendampingiku saat wisuda.
Surat lain kukirim kepada Bang Niko melalui alamat terakhir yang kuterima darinya. Beberapa hari kemudian, surat dari Mandeh tiba. Tulisannya tidak serapi biasanya. Barangkali ditulis sambil menangis. Rina, Mandeh dan Abak akan datang. Ongkos ke Yogyakarta sudah dikirim abangmu. Dia juga mengirim uang untuk pakaian Mandeh dan Abak. Mandeh sangat bahagia. Akhirnya ada anak Mandeh yang memakai toga.
Aku membaca surat itu berkali-kali. Bahkan untuk menghadiri wisudaku, Mandeh dan Abak masih harus bergantung kepada Bang Niko. Orang yang dahulu dianggap beban kini membiayai perjalanan seluruh keluarga menuju hari yang paling membanggakan.
Seminggu sebelum wisuda, surat Bang Niko datang. Alamat pengirimnya membuatku terkejut. Taiwan. Rina, Abang sedang berada di luar negeri. Ada urusan dagang yang belum selesai. Abang akan berusaha datang, tetapi jangan terlalu berharap. Yang penting Mandeh dan Abak mendampingimu. Abang sudah cukup bahagia mendengar kau lulus.
Tanganku gemetar saat membaca surat itu. Aku menangis di kamar. Sudah lebih tiga tahun aku tidak melihatnya. Aku ingin dia hadir bukan sekadar sebagai tamu. Aku ingin semua orang mengetahui bahwa toga yang akan kukenakan tidak hanya dibayar oleh kecerdasanku, tetapi juga oleh punggung seorang kakak yang sejak kecil bekerja sebelum matahari terbit. Namun aku tahu Bang Niko tidak pernah menjanjikan sesuatu yang belum pasti. Karena itu aku menyimpan surat tersebut di dalam buku dan berusaha menerima kemungkinan bahwa dia tidak akan datang.
Mandeh dan Abak tiba dua hari sebelum wisuda. Mandeh memelukku lama sekali. Wajahnya sudah lebih tua. Kerutan di sekitar matanya semakin jelas. Tangannya tetap kasar dan berbau tepung serta santan, seperti ketika dia membuat kue di dapur rumah kami. Abak berdiri agak jauh. Tubuhnya masih tegap, tetapi rambutnya mulai memutih. Dia memandangku dengan sorot yang sulit kubaca. “Jadi kau benar-benar lulus?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Iya, Bak.”
Dia menepuk pundakku sekali. “Bagus.”
Hanya itu. Namun dari caranya mengalihkan wajah, aku merasa dia sedang menyembunyikan sesuatu yang lebih besar daripada kata-kata.
Malam sebelum wisuda, Mandeh terus merapikan kebayanya. Dia bertanya berkali-kali apakah pakaiannya pantas untuk masuk ke kampus. “Pantas, Mandeh.”
“Orang-orang di sana pasti berpakaian bagus.”
“Mandeh adalah ibu wisudawan. Tidak ada pakaian yang lebih pantas daripada itu.”
Mandeh tersenyum malu. Abak mengenakan baju terbaiknya. Baju yang mungkin hanya dipakainya saat Lebaran atau menghadiri pesta keluarga. Aku berharap Bang Niko berada bersama kami. Namun sampai pagi wisuda, tidak ada kabar.
Gedung aula kampus telah dipenuhi mahasiswa dan keluarga mereka. Para wisudawan berdiri berkelompok dengan toga hitam dan topi persegi. Orang tua sibuk berfoto. Ada yang membawa bunga. Ada pula yang datang bersama seluruh keluarga besar. Aku berdiri di dekat pintu masuk, menunggu panggilan untuk memasuki ruangan. Mandeh dan Abak telah diarahkan menuju tempat duduk tamu.
Sebelum masuk, entah mengapa aku menoleh ke arah jendela besar di ujung lorong. Di luar gedung, seorang pria baru saja turun dari kendaraan. Dia mengenakan kemeja batik. Tubuhnya masih kekar, tetapi lebih rapi daripada terakhir kali kulihat di teras kos. Rambutnya dipotong pendek. Wajahnya tampak lebih bersih, meski garis lelah masih tersimpan di sekitar matanya. Aku mengenal cara berjalannya. “Bang Niko!” Aku berlari. Beberapa wisudawan menoleh, tetapi aku tidak peduli. Toga yang kupakai berkibar saat aku melewati lorong dan keluar menuju halaman.
Bang Niko membuka kedua tangannya. Aku memeluknya sekuat tenaga. “Abang datang…”
“Iya.”
“Aku kira Abang masih di Taiwan.”
“Semalam baru sampai Jakarta. Dari bandara langsung cari kendaraan ke Yogyakarta.”
Aku menatap wajahnya. “Kapan Abang tidur?”
“Nanti saja.”
Aku tertawa dan menangis sekaligus. Bang Niko mengusap kepalaku, persis seperti ketika kami masih kecil. “Akhirnya berhasil juga kau, Rin,” katanya. “Kau memang adik kebanggaan Abang.”
Aku memukul lengannya pelan. “Abang rapi sekali. Hampir tidak kukenal.”
“Memangnya dulu Abang seperti apa?”
“Seperti gembel.”
Dia tertawa. Aku menatap batiknya. “Tiga tahun kita tidak bertemu. Sekarang bisnis apa?”
Bang Niko menarik napas kecil. “Abang bertemu seorang pengusaha Taiwan. Dia memberi kesempatan dan sedikit modal. Kami mulai membangun cold storage di pasar ikan.”
“Cold storage?”
“Iya. Tempat menyimpan ikan agar tidak cepat rusak. Abang ingat pekerjaan di pelabuhan dulu. Banyak ikan terbuang karena es kurang dan tempat penyimpanan tidak ada.”
“Jadi Abang sekarang pengusaha?”
“Belum. Baru belajar.”
“Pergi ke Taiwan untuk itu?”
Dia mengangguk. “Melihat mesin dan belajar sistem penyimpanannya. Alhamdulillah, ini awal yang baik. Mudah-mudahan bisa berkembang.”
Aku ingin bertanya lebih banyak. Ingin mendengar seluruh kisahnya. Namun suara petugas terdengar dari dalam gedung. “Seluruh wisudawan segera memasuki aula!”
Aku menoleh dengan gelisah. Bang Niko tersenyum. “Pergilah.”
“Tapi kita belum sempat bicara.”
“Nanti.”
Dia membetulkan posisi togaku. “Jemput masa depanmu.”
Aku menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk. Sebelum masuk, aku kembali memeluknya.
“Jangan pergi dulu.”
“Abang tunggu.”
Upacara wisuda berlangsung panjang. Nama-nama dipanggil satu per satu. Ketika giliranku tiba, aku berjalan ke depan panggung. Rektor memindahkan tali topiku dan menyerahkan ijazah. Tepuk tangan memenuhi aula. Aku menoleh ke arah tempat duduk keluarga. Mandeh menangis sambil mengatupkan kedua tangannya di dada. Di sebelahnya, Abak duduk tegak dengan wajah tegang. Bang Niko berdiri sedikit di belakang mereka. Dia bertepuk tangan paling keras. Tatapannya membuat langkahku hampir goyah.
Dalam pandanganku, ijazah itu bukan milikku seorang. Di dalamnya ada tangan Mandeh yang membuat kue sebelum Subuh. Ada tubuh Abak yang bertahun-tahun mengemudikan truk. Ada masa kecilku yang penuh keterbatasan. Namun yang paling besar adalah pengorbanan Bang Niko—anak yang tidak pernah mendapat kesempatan kuliah, tetapi memastikan adiknya tidak kehilangan kesempatan yang sama.
Usai acara, kami berkumpul di halaman kampus. Aku meminta seorang teman mengambil foto keluarga. Setelah beberapa kali berfoto bersama Mandeh dan Abak, aku memanggil Bang Niko. “Sekarang khusus dengan Abang.”
Dia berdiri di sampingku dengan sedikit canggung.
“Tunggu.” Aku melepaskan topi wisudaku, lalu meletakkannya di kepala Bang Niko.
Dia segera hendak melepasnya.
“Jangan. Ini topi kau.”
“Tidak.” Aku membetulkan posisinya agar tidak miring.
“Seharusnya yang paling pantas menerima penghargaan ini adalah Abang.”
Bang Niko terdiam. Mandeh langsung menangis. “Tanpa Abang, aku tidak akan berdiri di sini,” lanjutku. “Ijazah ini memang bertuliskan namaku. Tetapi biaya, keberanian, dan jalan menuju ke sini dibangun oleh Abang.”
Bang Niko menunduk. “Abang hanya membantu sedikit.”
“Tidak. Abang memberikan masa depan Abang supaya aku punya masa depan.”
Dia menggeleng.
“Jangan bicara begitu. Masa depan Abang belum habis.”
Aku memeluknya. Saat itulah sesuatu yang tidak pernah kusangka terjadi. Abak berjalan mendekat. Matanya basah. Seumur hidup, hampir tidak pernah kulihat Abak menangis. Bahkan ketika kehilangan keluarga atau mengalami kecelakaan kecil dalam perjalanan, wajahnya tetap keras. Namun hari itu air mata mengalir di pipinya. Dia berdiri di depan Bang Niko. Anak dan ayah itu saling memandang dalam diam.
Bang Niko segera melepas topi wisuda dari kepalanya, seolah merasa tidak pantas mengenakannya di depan Abak. Namun Abak menahan tangannya. “Biarkan,” katanya.
Bang Niko terdiam. Kemudian Abak memeluknya. Tubuh Bang Niko kaku beberapa saat. Barangkali dia tidak terbiasa menerima pelukan dari ayahnya. Sejak kecil, tangan Abak lebih sering hadir sebagai rotan daripada sebagai pelukan. Namun perlahan Bang Niko membalasnya. “Ampunkan Abak,” bisik Abak.
Kami semua terdiam. Mandeh menutup wajah dengan kedua tangannya. Bang Niko menggeleng. “Tidak ada yang harus diampuni, Bak.” Ada kesedihan yang sangat tua dalam kalimat itu. Kesedihan seorang anak yang sudah lama berhenti menuntut keadilan dari orang tuanya.
Setahun sebelumnya, Rini juga telah diterima di sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung. Bang Niko pula yang membiayainya. Rini tiba agak terlambat ke Yogyakarta karena perjalanan Panjang. Namun menjelang sore, dia akhirnya datang sambil berlari membawa tas kecil.
“Uni!”teriaknya saat melihatku. Kami berpelukan. Kemudian dia melihat Bang Niko mengenakan topi wisudaku. “Bang!” Rini berlari dan ikut memeluknya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kami bertiga kembali berkumpul dalam keadaan lengkap. Bang Niko berdiri di tengah-tengah kami. Aku sudah menjadi sarjana. Rini sedang kuliah. Sementara Bang Niko, yang dahulu dianggap paling tidak berguna, telah menjadi penyangga kehidupan kami semua.
Hati yang Tidak Menjadi Keras
Hanya setahun setelah tamat kuliah, aku mulai memikirkan keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Aku mencari berbagai informasi, mengisi formulir, menyiapkan berkas, lalu berusaha mendapatkan beasiswa. Tidak lama kemudian, surat panggilan itu benar-benar datang. Kertas itu berada di tanganku selama berjam-jam. Aku membacanya berulang kali. Namaku tercetak jelas, lengkap dengan jadwal keberangkatan dan nama universitas yang selama ini hanya berani kubayangkan.
Seharusnya aku bahagia. Namun kebahagiaan itu tidak segera datang. Yang muncul justru rasa bersalah. Aku teringat perjuangan Bang Niko yang bersusah payah membiayaiku sejak pertama kali masuk kuliah. Teringat uang yang selalu dikirim tepat waktu, meski aku tidak pernah tahu berapa kali dia harus menahan lapar, menunda kebutuhan sendiri, atau bekerja lebih keras agar aku dapat terus belajar.
Manusia seperti apa aku ini? Setelah semua pengorbanannya, aku justru kembali memikirkan diriku sendiri. Aku ingin sekolah lebih tinggi, pergi lebih jauh, dan mengejar masa depan yang lebih besar, sementara Rini masih membutuhkan biaya kuliah. Mandeh semakin tua. Abak tidak lagi sekuat dahulu.
Seharusnya aku bekerja lebih dulu. Aku ingin membantu biaya kuliah Rini. Aku ingin meringankan beban Mandeh dan Abak. Aku ingin Bang Niko, untuk sekali saja dalam hidupnya, tidak lagi menjadi orang pertama yang harus berdiri ketika keluarga kami membutuhkan pertolongan.
Bagiku, menjadi sarjana tanpa mampu menolong adik sendiri hanyalah bentuk lain dari kegagalan. Ijazah di tanganku terasa tidak berarti apabila hidup Bang Niko tetap dipenuhi pengorbanan dan aku hanya terus menerima. Aku takut pendidikan tinggi justru membuatku semakin jauh dari kewajiban paling sederhana: membalas cinta orang-orang yang telah mengorbankan hidupnya agar aku memiliki masa depan.
Aku menulis surat kepada Bang Niko. Kukatakan bahwa aku ingin menolak beasiswa itu. Aku akan mencari pekerjaan, membantu Mandeh dan Abak, lalu mengambil bagian dalam membiayai kuliah Rini.
Beberapa hari kemudian dia menelepon. “Ambil beasiswa itu,” katanya.
“Aku ingin bekerja dulu, Bang.”
“Untuk apa?”
“Untuk membantu Rini.”
“Soal Rini, itu urusan Abang.”
“Abang sudah terlalu banyak menanggung kami.”
“Jangan menghitung apa yang Abang lakukan.”
“Aku tidak mau hidup hanya menerima.”
“Karena itu kau harus pergi.”
Aku terdiam.
Bang Niko melanjutkan dengan suara tenang, tetapi tidak memberi ruang untuk dibantah. “Jangan pikirkan Rini. Jangan pikirkan Mandeh dan Abak. Itu urusan Abang. Tugasmu sekarang belajar sejauh yang kau mampu.”
“Tapi sampai kapan Abang harus memikul semuanya?”
“Selama pundak Abang masih kuat.”
Dadaku sesak. “Bang, aku ingin menjadi berguna.”
“Kau akan jauh lebih berguna kalau ilmu dan duniamu lebih luas. Jangan kecilkan masa depanmu hanya karena merasa berutang kepada Abang.”
“Aku memang berutang.”
“Kalau begitu bayarlah dengan menjadi lebih baik daripada Abang.”
Aku tidak mampu menjawab. Sejak kecil, Bang Niko mendidik kami bukan dengan ceramah panjang, melainkan dengan pengorbanan. Dia mengajari kami bahwa kesempatan tidak boleh ditolak hanya karena rasa bersalah. Bahwa orang miskin tidak boleh mewariskan kemiskinan dengan cara saling menahan langkah.
Akhirnya aku menerima beasiswa itu. Pada hari keberangkatanku, aku kembali melihat bayangan Bang Niko ketika pertama kali meninggalkan kampung. Dia pergi hanya dengan uang dua ribu rupiah dan ransel lusuh. Bedanya, aku pergi membawa paspor, tiket pesawat, dan kepastian tempat belajar. Jalan yang kutempuh jauh lebih terang karena sebelumnya dia telah berjalan di dalam gelap.
Dua tahun kemudian, aku menyelesaikan kuliah. Tidak lama setelah itu, aku memperoleh tawaran bekerja di Fidelity , investment banker di London.. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku mempunyai penghasilan yang cukup besar untuk menolong keluarga tanpa harus menghitung setiap rupiah.
Rini juga telah lulus dari perguruan tinggi negeri di Bandung. Dia mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan penanaman modal asing yang bergerak di bidang pertambangan. Kami akhirnya berdiri di atas kaki sendiri. Namun setiap kali orang memuji keberhasilan kami, pikiranku selalu kembali kepada Bang Niko. Namanya tidak tercantum pada ijazah kami. Dia tidak duduk di ruang kuliah kami. Dia tidak pernah mengenakan jas wisuda. Namun sesungguhnya, dialah yang membiayai dua masa depan yang tidak pernah sempat dimilikinya.
Lebaran berikutnya, kami berkumpul di kampung. Rumah kami sudah bagus. Tidak lagi dinding geribik. Bang Niko bangun menjadi modern. Mandeh memasak sejak pagi. Rumah kecil kami kembali ramai oleh suara Rini, aroma rendang, dan takbir yang terdengar dari surau.
Menjelang siang, Bang Niko datang. Dia tidak sendiri. Di sampingnya berjalan seorang perempuan keturunan Tionghoa. Wajahnya lembut, rambutnya dipotong sebahu, dan tutur katanya sopan. Bang Niko memperkenalkannya kepada kami. “Namanya ALing.”
Namun orang-orang kampung segera memanggilnya Amoy. Aku melihat sesuatu yang berbeda pada wajah Bang Niko. Ada ketenangan yang jarang kulihat sebelumnya. Ketika menatap perempuan itu, matanya tidak lagi tampak seperti mata seseorang yang selalu bersiap meminta maaf atas keberadaannya.
Mandeh menyambut mereka dengan hangat. Namun wajah Abak langsung berubah masam. Kami belum lama duduk ketika Abak berkata dengan suara keras, seolah ingin memastikan seluruh ruangan mendengarnya. “Kau sudah kujodohkan dengan sepupumu.”
Ruangan mendadak sunyi. Perempuan di samping Bang Niko menundukkan wajah. Bang Niko tidak menjawab.
“Kau membawa perempuan lain ke rumah ini untuk apa?” lanjut Abak. “Keluarga sudah bicara. Janji sudah dibuat.”
Aku menatap Bang Niko. Dia hanya diam. Tidak membantah. Tidak marah. Tidak membela perempuan yang datang bersamanya. Kami saling berpandangan. Dalam tatapannya, kulihat sesuatu yang selama ini berusaha disembunyikannya, kelelahan menjadi anak yang tidak pernah benar di hadapan ayahnya. Sejak kecil dia salah karena tidak pandai.
Ketika bekerja, dia tetap dianggap tidak berguna. Ketika merantau, dia dibiarkan pergi tanpa kepastian. Kini setelah mampu berdiri sendiri, bahkan untuk menentukan pasangan hidupnya pun dia masih harus tunduk kepada keputusan Abak. Aku ingin berkata sesuatu, tetapi Bang Niko menggeleng kecil kepadaku. Isyarat itu seperti permintaan agar aku tidak memperpanjang persoalan. Dia selalu melindungi kami, bahkan dari konflik yang seharusnya menjadi miliknya sendiri.
Bang Niko hanya sehari berada di kampung. Pagi berikutnya, sebelum pergi, dia bersujud di hadapan Mandeh dan Abak. Dia mencium tangan Mandeh lama sekali. Mandeh memeluknya sambil menangis. Kemudian Mandeh memeluk A Ling. Perempuan itu juga menangis, tetapi berusaha menahannya agar tidak terdengar.
“Maafkan keadaan kami,” bisik Mandeh.
ALing menggeleng. “Tidak ada yang perlu dimaafkan.”
Ketika bang Niko mencium tangan Abak, lelaki itu hanya melengos. Tidak ada pelukan. Tidak ada kata agar mereka berhati-hati di jalan. Bang Niko tetap menunduk. Seolah-olah penghormatan seorang anak tidak boleh bergantung kepada kelembutan ayahnya. Aku mengantar mereka sampai halaman. Sebelum masuk ke kendaraan, ALing memegang tanganku. “Jaga dia,” kataku pelan. Aling mengangguk. Namun airmatanya berlinang.
Tiga bulan kemudian, surat dari Mandeh tiba di London. Bang Niko telah berpisah dari A Ling. Bukan karena mereka tidak saling mencintai. Perempuan itu memilih pergi melanjutkan kuliah ke luar negeri. Mungkin itu cara paling halus untuk mengakhiri hubungan tanpa menjadikan Bang Niko harus memilih antara dirinya dan keluarga.
Tidak lama kemudian, Bang Niko menerima permintaan Abak untuk menikahi sepupunya, ponakan abak. Dia kembali patuh. Seperti biasa. Seolah-olah hidupnya adalah halaman kosong tempat orang lain berhak menuliskan keputusan. Aku membaca surat Mandeh dengan air mata jatuh ke meja. Aku marah kepada Abak. Namun lebih dari itu, aku marah kepada Bang Niko karena dia tidak pernah membela keinginannya sendiri.
Lalu aku sadar, orang yang sepanjang hidupnya diajari bahwa dirinya tidak cukup berharga sering kali tumbuh menjadi manusia yang sulit memperjuangkan kebahagiaannya sendiri. Dia mudah berkorban. Mudah mengalah. Mudah berkata, “Tidak apa-apa.” Padahal mungkin di dalam dirinya ada begitu banyak hal yang tidak pernah baik-baik saja.
Setahun kemudian, Bang Niko datang ke London. Kami berdiri di tepi Sungai Thames pada sore yang dingin. Angin membawa kabut tipis. Orang-orang berjalan cepat dengan mantel tertutup rapat. Bang Niko terlihat lebih matang. Usahanya berkembang. Cold storage yang dahulu dibangun dari bantuan seorang pengusaha Taiwan telah menjadi pintu masuk bagi bisnis perdagangan ikan dan logistik yang lebih besar. Namun di balik keberhasilannya, dia tetap Bang Niko yang sama—sederhana, tenang, dan selalu mencari alasan untuk memaafkan orang lain. Kami duduk di bangku menghadap sungai. Tanpa kuketahui sebabnya, percakapan kami kembali kepada masa kecil.
“Andaikan sejak kecil Abak terlalu lembut kepada Abang,” katanya, “mungkin Abang tidak akan menjadi laki-laki sekuat ini.”
Aku menoleh kepadanya. “Abang benar-benar percaya itu?”
Dia tersenyum.
“Sayang seorang ayah tidak selalu berupa pujian. Kadang seorang ayah harus memastikan anak laki-lakinya mengerti bahwa hidup tidak ramah. Dia harus keras terhadap dirinya sendiri, atau orang lain akan bersikap lebih keras kepadanya.”
Aku mendengarkan, tetapi tidak segera menjawab.
Mungkin itulah cara Bang Niko berdamai dengan masa lalu. Dia tidak ingin hidup dengan prasangka buruk. Tidak ingin menyimpan kebencian kepada Abak. Dia memilih mengambil sisi baik dari setiap luka, lalu mengubahnya menjadi rasa syukur kepada Tuhan.
Dia membenarkan semua yang telah dilakukan Abak kepadanya. Mungkin dia benar-benar percaya rotan, hinaan, dan penolakan telah membentuknya menjadi lelaki tangguh. Namun jauh di dalam hati, aku mengetahui sesuatu yang berbeda. Bang Niko menjadi kuat bukan karena dipukul. Dia kuat karena tetap mampu mencintai setelah dipukul. Dia menjadi laki-laki sejati bukan karena disebut bodoh, melainkan karena tidak membiarkan hinaan mengubahnya menjadi manusia yang kejam.
Dia berhasil bukan karena Abak menutup pintu baginya. Dia berhasil karena ketika semua pintu tertutup, dia masih percaya bahwa bumi Allah cukup luas untuk memberinya jalan.
Aku menatap Sungai Thames yang terus mengalir. “Bang,” kataku pelan, “mungkin Abang memang dibentuk oleh hidup yang keras.”
Dia menoleh.
“Tapi yang membuat Abang mulia bukan kekerasan itu.”
“Lalu apa?”
Aku menatap wajahnya. “Hati.”
Bang Niko diam.
“Hati Abang tidak menjadi keras,” lanjutku. “Itulah kemenangan Abang yang sebenarnya.”
Dia tersenyum kecil.
Aku memegang tangannya. “Sejak kecil Abang selalu menjaga wudu. Abang rajin salat. Ketika hidup memperlakukan Abang dengan buruk, Abang tidak membalasnya dengan keburukan. Dengan wudu dan salat itulah Abang menjaga hati.”
Bang Niko memandang air sungai. “Abang hanya takut menjadi orang yang jauh dari Tuhan.”
“Dan rasa takut itulah yang menyelamatkan Abang.”
“Dari apa?”
“Dari prasanhka buruk.”
Dia terdiam lama. Di hadapan kami, Sungai Thames terus bergerak menuju laut. Airnya membawa kotoran, bayangan gedung, cahaya senja, dan sisa hujan. Namun ia tidak berhenti hanya karena pernah dilalui kapal-kapal berat.
Begitulah Bang Niko. Hidup telah menjatuhkan begitu banyak luka ke dalam dirinya. Namun dia tetap mengalir, tetap memberi, tetap membawa orang lain menuju tempat yang lebih jauh. Saat itu aku memahami bahwa kekuatan bukanlah kemampuan menahan pukulan tanpa menangis. Kekuatan adalah kemampuan menjaga hati agar tidak berubah menjadi sumber pukulan bagi orang lain. Dan Bang Niko telah melakukan itu sepanjang hidupnya.

Tinggalkan komentar