
System ekonomi modern.
Cara mengatasi inflasi dalam ekonomi modern pada dasarnya bergerak di antara dua kutub besar: monetaris dan Keynesian. Dalam praktiknya, negara tidak memilih salah satu secara mutlak, tetapi terus bernegosiasi di antara keduanya—sering kali dalam ketegangan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Pendekatan monetaris, yang dipelopori oleh Milton Friedman, berangkat dari satu premis sederhana namun tegas, yaitu inflasi adalah fenomena moneter. Artinya, akar masalah inflasi bukan pada produksi atau distribusi, melainkan pada jumlah uang beredar yang terlalu banyak dibandingkan barang dan jasa yang tersedia. Karena itu, solusi utamanya adalah mengendalikan uang beredar.
Dalam praktik modern, kontrol ini diterjemahkan oleh bank sentral melalui kenaikan suku bunga, pengetatan likuiditas dan pengendalian kredit. Ketika suku bunga naik, uang menjadi “mahal”. Orang menahan konsumsi, perusahaan menunda ekspansi, dan tekanan harga pun mereda. Namun konsekuensinya jelas: pertumbuhan ekonomi melambat. Dalam logika monetaris, ini adalah harga yang harus dibayar untuk stabilitas.
Di sisi lain, pendekatan John Maynard Keynes melihat ekonomi dari sudut yang berbeda. Inflasi tidak semata-mata soal uang, tetapi juga soal ketidakseimbangan dalam permintaan agregat. Karena itu, pemerintah masuk melalui kebijakan fiskal—menjaga konsumsi, menciptakan lapangan kerja, bahkan dalam kondisi tertentu menyesuaikan upah untuk mempertahankan daya beli. Namun di sinilah letak paradoksnya.
Dalam dunia monetaris, kenaikan upah tanpa peningkatan produktivitas justru berisiko memperparah inflasi, karena menambah tekanan biaya (cost-push inflation). Sementara dalam pendekatan Keynesian, kenaikan upah bisa menjadi alat untuk menjaga roda ekonomi tetap berputar.
Dua logika ini sering kali tidak berjalan seirama. Bank sentral menaikkan suku bunga untuk menarik uang keluar dari pasar. Pemerintah, di saat yang sama, berusaha menjaga daya beli agar konsumsi tidak runtuh. Seperti memakai sarung: ditutup kaki, kepala terlihat; ditutup kepala, kaki terbuka. Lebih jauh lagi, dalam perkembangan ekonomi modern, paham monetaris tidak hanya berhenti pada kebijakan bank sentral. Ia meluas menjadi keyakinan bahwa pasar adalah mekanisme disiplin terbaik terhadap negara.
Ketika uang tidak lagi sepenuhnya dikontrol negara—melainkan juga oleh pasar melalui obligasi, saham, dan instrumen keuangan lainnya—maka muncul apa yang disebut sebagai market discipline. Dalam konteks ini, jika pemerintah terlalu agresif mencetak uang maka inflasi naik. Jika defisit membesar, pasar merespons dengan menaikkan yield. Jika kredibilitas turun maka mata uang melemah.
Data menunjukkan bahwa porsi dana di luar sistem perbankan tradisional terus meningkat, menciptakan ekosistem di mana negara tidak lagi menjadi satu-satunya pengendali uang. Di sinilah paham monetaris menemukan relevansinya yang paling nyata. Negara tidak bisa lagi bertindak sepihak. Setiap kebijakan akan diuji oleh pasar. Jika lolos, stabilitas terjaga. Jika gagal, hukuman datang dalam bentuk yang sangat konkret: kurs melemah, yield naik, dan kepercayaan runtuh.
Monetaris mengajarkan bahwa uang bukan sekadar alat tukar— ia adalah sumber stabilitas, sekaligus sumber krisis. Dan dalam dunia yang semakin terhubung, yang mengendalikan uang bukan hanya negara, tetapi juga pasar— yang bekerja tanpa kompromi, tanpa emosi, dan tanpa jeda.
System ekonomi Iran.
Karena Iran tidak terintegrasi penuh dengan sistem moneter global—tidak bebas mengakses jaringan seperti SWIFT dan terbatas dalam pasar modal internasional—maka cara mereka mengelola ekonomi memang berbeda dari negara pada umumnya. Iran mengadopsi sistem keuangan berbasis syariah, di mana konsep bunga (interest) tidak digunakan secara formal. Sebagai gantinya, digunakan mekanisme seperti bagi hasil, margin keuntungan, dan kontrak berbasis aset.
Namun perlu dicatat, dalam praktik modern, sistem ini tetap memiliki padanan ekonomi dari “biaya dana”, meski tidak disebut sebagai bunga secara eksplisit. Orientasi sistemnya memang lebih menekankan pada sektor riil (produksi), sementara dalam sisi konsumsi, negara memainkan peran yang lebih dominan melalui subsidi dan kontrol harga pada sektor-sektor strategis.
Jika dibandingkan dengan China, ada kemiripan dalam hal keterbatasan integrasi terhadap sistem keuangan Barat, tetapi dengan alasan yang berbeda. China membatasi integrasi karena pilihan strategis dan ideologi negara. Iran membatasi karena tekanan eksternal berupa sanksi dan embargo Meski demikian, Central Bank of Iran tetap beroperasi dengan kerangka moneter modern—mengelola likuiditas, mengawasi perbankan, dan menjaga stabilitas sistem keuangan.
Dalam praktiknya, Iran juga memanfaatkan berbagai mekanisme off-balance sheet dan struktur lintas yurisdiksi, termasuk pembentukan entitas khusus (SPV), untuk mengelola arus dana dari ekspor energi (migas). Dana ini sering kali tidak berada dalam satu mata uang saja—meskipun yuan cukup dominan—melainkan tersebar dalam berbagai denominasi, tergantung jalur transaksi dan mitra dagang.
Nah, ketika nilai rial melemah, secara akuntansi nilai aset luar negeri (dalam valuta asing) akan meningkat jika dikonversi ke rial. Hal ini memberi ruang fiskal tambahan secara nominal, yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk subsidi energi, dukungan konsumsi, stimulus perbankan dan stabilisasi social lewat peningkatan upah seiring dengan besaran inflasi. Nah dengan model seperti ini, bagi Friedman dan Keynyessian, inflasi itu adalah penyakit ekonomi. Namun bagi iran, inflasi dan pelemahan kurs itu strategi bertahan tanpa perlu hutang luar negeri yang menggadaikan kemandirian.
**
Lampu ruang makan itu redup. Percakapan berjalan pelan, tetapi arah pikirannya tajam. Pertanyaan teman saya sederhana, namun menyimpan kegelisahan yang lebih dalam. Bagaimana mungkin Iran bertahan—bahkan membangun kekuatan militer—di tengah embargo dan tekanan ekonomi yang panjang?
Pertanyaan itu terdengar logis. Dalam kerangka ekonomi konvensional, negara yang terisolasi dari sistem keuangan global seharusnya melemah. Akses terhadap dolar dibatasi, perdagangan diawasi, dan jaringan perbankan internasional ditutup. Dalam teori, sistem seperti itu akan melumpuhkan ekonomi. Namun realitas tidak selalu tunduk pada teori.
Saya tersenyum. “Karena kita sering melihat dunia hanya dari satu sisi—sistem yang terlihat,” kata saya pelan. “Padahal ada sistem lain yang berjalan di bawahnya.”
Dalam literasi geopolitik modern, embargo bukanlah penghentian aktivitas ekonomi. Ia adalah mekanisme pembatasan jalur resmi. Artinya, perdagangan tidak berhenti, tetapi berpindah ke jalur lain. Iran adalah contoh paling nyata dari transformasi ini. Sebagai salah satu negara dengan cadangan energi besar, Iran tetap memiliki sesuatu yang selalu dibutuhkan dunia, yaitu minyak. Dalam ekonomi global, minyak bukan sekadar komoditas. Ia adalah quasi-currency—aset dengan likuiditas tinggi yang dapat dipertukarkan dalam berbagai bentuk nilai.
Ketika jalur resmi ditutup, muncul jalur alternatif. Di sinilah terbentuk tiga pilar yang menjadi tulang punggung perdagangan energi tersanksi, yaitu shadow fleet (armada kapal non-transparan), shadow trader (perantara perdagangan lintas yurisdiksi) dan shadow financing (mekanisme pembiayaan di luar sistem Barat). Tiga pilar ini tidak berdiri sebagai satu sistem terpusat. Ia lebih menyerupai jaringan cair—fleksibel, adaptif, dan sulit dilacak secara penuh.
Ada asumsi umum bahwa minyak tersanksi selalu dijual murah. Dalam praktiknya, itu hanya sebagian benar. Minyak Iran memang sering dijual dengan diskon dibanding harga pasar. Namun diskon tersebut bukan karena nilai intrinsiknya rendah, melainkan karena risiko sanksi, biaya logistik tambahan, kompleksitas transaksi. Dengan kata lain diskon adalah harga dari risiko, bukan tanda kelemahan komoditas. Dan bagi pembeli tertentu—terutama yang memiliki fleksibilitas politik dan finansial—diskon ini justru menjadi sumber keuntungan strategis.
Teman saya kemudian bertanya tentang struktur di balik semua ini. Saya menyebut salah satu entitas yang sering muncul dalam diskusi, yaitu tentang Execution of Imam Khomeini’s Order (EIKO).
Namun penting untuk dipahami, entitas seperti ini bukan “pusat kendali tunggal” dari seluruh sistem bayangan. Ia adalah bagian dari ekosistem yang lebih luas—yang melibatkan perusahaan perantara lintas negara, trader independent, jaringan keuangan international serta struktur kepemilikan yang kompleks melalui berbagai yurisdiksi.
Kota-kota seperti Dubai, Singapura, dan Hong Kong sering menjadi simpul penting, bukan karena konspirasi, tetapi karena fleksibilitas sistem finansial dan logistiknya. Dalam ekosistem ini, transaksi bisa terjadi dalam berbagai bentuk mata uang alternatif (yuan, dirham, dll). Barter komoditas dan skema pembiayaan tidak langsung
Lalu pertanyaan utama kembali muncul. Bagaimana ini semua terkait dengan pembiayaan militer? Jawabannya tidak langsung, tetapi struktural. Pendapatan dari energi—baik melalui jalur resmi maupun alternatif—tidak sepenuhnya hilang. Ia mungkin tereduksi, terfragmentasi, dan lebih rumit secara operasional. Namun tetap ada.
Yang membedakan Iran dari banyak negara lain adalah prioritas dalam penggunaan sumber daya. Dalam kondisi tekanan berkepanjangan, konsumsi tidak ditempatkan sebagai prioritas utama. Pola perilaku masyarakat pun terbentuk—lebih rasional dan berbasis kebutuhan, bukan dorongan gaya hidup.
Di Iran, preferensi terhadap produk dalam negeri relatif kuat. Ketika tersedia alternatif domestik, masyarakat cenderung memilihnya, meskipun dari sisi desain atau teknologi belum selalu sebanding dengan produk luar. Dalam konteks ini, pasar domestik menjadi ruang yang cukup terlindungi bagi industri nasional untuk bertahan dan berkembang.
Pendekatan ini membuat struktur ekonomi Iran tidak sepenuhnya mengikuti logika efisiensi pasar ala kapitalisme terbuka. Indikator keberhasilan ekonomi tidak semata-mata diukur dari laju pertumbuhan PDB, tetapi juga dari ketahanan ekonomi yang inklusif. Hal ini juga berkaitan dengan struktur pembiayaan ekonomi. Iran tidak sepenuhnya bergantung pada pembiayaan eksternal seperti negara berkembang lain yang terintegrasi dengan pasar global. Akibatnya, tekanan untuk menjaga indikator makro demi menarik investor asing tidak penting..
Pada akhirnya, fondasi utama yang menopang sistem ini adalah sumber daya manusia. Iran memiliki tingkat pendidikan yang relatif tinggi di kawasan, dengan proporsi lulusan pendidikan tinggi yang signifikan ( 20% dari populasi). Sisanya lulusan Sekolah menengah atas. Tingkat literasi 85%. Ini menjadi modal penting dalam menjaga kapasitas produksi, inovasi domestik, dan keberlanjutan sistem di tengah keterbatasan eksternal.
Iran tidak dibangun di atas konsumsi, tetapi di atas ketahanan. Ia mungkin tidak terlihat modern dalam standar global, tetapi cukup kuat untuk berdiri tanpa bergantung. Karena pada akhirnya, kekuatan sebuah negara bukan hanya pada angka— tetapi pada cara rakyatnya hidup dan bertahan.

Tinggalkan komentar