
Berkali-kali seseorang mengirim pesan kepada saya melalui Skype. Saya tidak mengenalnya. Saya abaikan saja. Namun empat hari berturut-turut pesan itu tetap datang, konsisten, tanpa lelah. Akhirnya saya terima.
“Who are you?” tanya saya dalam bahasa Inggris.
“An,” jawabnya singkat. Dari fotonya terlihat ia perempuan Tiongkok. Bahasa Inggrisnya tidak sempurna, tetapi cukup untuk berkomunikasi.
“Ada apa?”
“Can I meet you?”
“Untuk apa bertemu?”
Ia terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Maaf kalau terdengar naif. Tapi saya tidak tahu lagi bagaimana membantu pacar saya. Ada hal penting tentang bisnisnya yang ingin saya bicarakan.”
Saya terhenyak. Saya telepon dia. Suaranya terdengar gugup, tetapi ada tekad di dalamnya. Saya minta video call. Wajahnya tampak lega.
“Baik, kita bertemu Sabtu di Shenzhen. Jam empat sore,” kata saya, menyebutkan alamat.
“Terima kasih,” jawabnya cepat.
Saat bertemu, ia langsung menyerahkan proposal dalam bahasa Inggris. Saya membacanya cepat—dan terkejut. Proposal itu profesional. Lengkap dengan survei konsumen, desk research, analisa ekonomi yang rinci dan terstruktur.
Saya menatap mereka berdua.
“Siapa yang membuat proposal ini?”
“Saya,” jawab An.
“Bisnis ini milik siapa?”
“Pacar saya.”
“Kalian mitra bisnis?”
“Tidak. Saya hanya membantu dia.”
Saya bersandar di kursi.
An melanjutkan, “Pacar saya dulu bekerja di bagian IT bandara. Ia punya ide membuat software aplikasi logistik untuk airline. Saya mendukungnya berhenti kerja agar fokus mengembangkan aplikasinya. Dia bekerja sendiri. Tapi setelah aplikasi selesai, semua provider IT menolak bekerja sama.”
“Lalu?”
“Saya pelajari mengapa dia gagal. Ternyata dia tidak bisa menerjemahkan idenya dalam bahasa bisnis. Saya terpaksa belajar cara kerja aplikasinya, peluang pasarnya, lalu ikut kursus business process yang disediakan pemerintah untuk UKM. Di sana saya belajar riset, feasibility study, metode analisa. Saya lakukan riset lapangan dan desk research. Jadilah proposal ini.”
Ia berbicara lancar. Pacarnya hanya diam, tampaknya tidak mengerti bahasa Inggris.
“Saya mengenal Anda dari tulisan blog tentang spiritual dan bisnis,” lanjut An. “Saya tahu Anda orang baik. Setidaknya bisa membantu kami menemukan jalan.”
Saya tersenyum.
“Proposal ini akan saya pelajari. Jika layak, kita akan bekerja sama.”
“Anda juga angel investor?” tanyanya hati-hati.
Saya mengangguk.
Ia langsung berdiri dan membungkuk.
Sebulan kemudian saya menghubungi An. Saya putuskan menjadi angel investor untuk pacarnya. Saya minta Wenny menjadi mentor mereka. Setahun kemudian produk itu launching, bermitra dengan Bandara Guangzhou. Sebuah pencapaian besar. Namun saat launching, An tidak ada. Saya tahu dari Wenny. Mereka sudah berpisah. Saya mencoba menghubungi An lewat Skype. Tidak bisa. Hingga beberapa bulan kemudian saya bertemu dengannya dalam sebuah seminar. Ia menjadi panitia.
Ia terkejut melihat saya.
“Ada apa, An? Kenapa kamu disconnect?”
“Pacar saya membuang saya,” katanya menunduk.
Saya tidak bertanya mengapa. Itu wilayah privasi yang tidak perlu disentuh.
” Apa pantas saya berteman dengan anda…” katanya tetap menunduk. Saya tahu dia berlinang airmata. ” An” seru saya lembut. Dia menatap saya. “Kamu tetap sahabat saya. Itu tidak akan berubah” Kata saya, Diat tersenyum tipis namun jatuh juga air matanya.
“Saya memilih melanjutkan kuliah. Saya kerja serabutan untuk membiayainya.”
Saya menatapnya sejenak.
“Bagaimana kalau saya minta teman memberi kamu beasiswa, dan kamu magang di perusahaannya?”
Matanya berbinar seraya mengangguk tegas. Itu tahun 2013.
Yang saya kagumi, An tidak pernah menceritakan keburukan mantan pacarnya. Tidak pernah bergunjing. Tidak pernah mengeluh. Bahkan ketika mendengar kesuksesan produk yang dulu ia bantu bangun, ia tampak tulus bahagia. Ada kekuatan yang tenang dalam dirinya. Sebuah kematangan yang lahir dari diam. Setelah lulus kuliah, An berkarier di Yuan.
An adalah perempuan yang memilih mencintai dengan cara berkorban. Ia mendukung pacarnya berhenti kerja demi mengejar ide besar. Ia belajar bisnis dari nol, menyusun proposal profesional, mencari jalan ketika semua pintu tertutup. Ia berdiri di belakang, memastikan lelaki yang ia cintai bisa melangkah ke depan. Ketika usaha itu berhasil dan produk diluncurkan, justru ia yang ditinggalkan. Ia dibuang oleh orang yang dulu ia dukung sepenuh hati.
Namun An tidak mengeluh. Tidak membalas dengan kebencian. Tidak berghibah. Tidak membuka aib. Semua luka ia simpan dalam diam. Seolah peristiwa itu bukan urusan antara dirinya dan mantan pacarnya, melainkan urusan antara dirinya dan Tuhan. Dari kebiasaan puasa dan latihan spiritual yang ia jalani dalam tradisi Buddha, ia menemukan satu kesadaran. Bahwa apa pun yang terjadi dalam hidup bukanlah semata-mata hubungan kita dengan manusia. Itu adalah percakapan antara kita dan Tuhan.
Orang boleh pergi. Orang boleh melupakan. Orang boleh menyakiti. Tetapi respons kita adalah pilihan yang Tuhan titipkan kepada kita. Ia memilih sabar. Ia memilih diam. Ia memilih tetap baik.Baginya, kehilangan bukan kegagalan. Itu adalah ujian keikhlasan. Dan ikhlas bukan berarti tidak sakit. Ikhlas adalah menerima bahwa Tuhan sedang membentuk jiwa melalui peristiwa.
Ia tidak menuntut pengakuan atas pengorbanannya. Ia tidak menuntut balasan atas dukungannya. Semua menjadi rahasia antara dia dan Tuhan saja. Dan mungkin di situlah makna terdalam ikhlas. Ketika kita tetap berbuat baik, meski tak ada yang melihat, meski tak ada yang membalas, karena kita tahu yang kita hadapi bukan manusia, melainkan Tuhan. Tuhan meminta kita bersabar. Dan sabar itulah yang memurnikan cinta.
Pada akhirnya, orang yang ikhlas tidak pernah benar-benar kehilangan. Karena ia tidak bergantung pada balasan manusia.
***
“ Mengapa kamu masih ada waktu menulis di blog?” tanya seorang teman suatu hari.
Saya diam.
“ Saya tidak mempermasalahkan tulisan kamu yang mencerahkan literasi bisnis dan spiritual. Yang saya pertanyakan, bagaimana mungkin sebagai pengusaha kamu masih punya waktu menyapa netizen dengan tulisan-tulisan seperti itu? Jangan-jangan kamu sedang berimajinasi tentang hidup, lalu membagikannya untuk memuaskan dirimu sendiri.”
Saya tetap diam.
Saya memahami ia berbicara dari logika yang lazim. Bahwa waktu adalah uang, dan uang adalah ukuran keberhasilan. Dalam kerangka itu, kesibukan adalah simbol nilai. Jika seseorang punya waktu luang untuk menulis dan duduk bersama orang biasa, maka ia dianggap belum cukup “naik”. Namun hidup tidak selalu tunduk pada logika materi. Tulisan ini bukan jawaban untuknya. Ini adalah dialektika saya dengan hidup itu sendiri, sebuah percakapan batin yang mungkin tak semua orang siap menerimanya.
Tahun 1989 saya pernah mondok di sebuah pesantren di Banten. Saya menjalani ritual mutih selama empat puluh hari. Saat sahur dan berbuka hanya satu sendok nasi putih. Tidak berbicara kecuali untuk shalat dan zikir.
Minggu pertama tubuh saya lelah. Minggu kedua saya hampir roboh. Menggerakkan mata pun terasa berat. Minggu ketiga saya mulai berhalusinasi; tubuh terasa ringan, seakan tak menapak bumi. Minggu keempat euforia datang tanpa sebab. Minggu kelima lahir kesadaran yang aneh—hening yang belum pernah saya kenal. Dan di minggu-minggu berikutnya, saya tidak lagi merasakan kekhawatiran. Seolah-olah sesuatu dalam diri saya runtuh—dan sesuatu yang lebih dalam mulai berdiri.
Tahun 2006, saya mengikuti program healing di sebuah biara Buddha di Tiongkok. Empat puluh hari juga. Puasa makan. Minum tidak dilarang. Anehnya, pengalaman spiritual di sana menggemakan apa yang saya rasakan di Banten. Kesimpulannya sederhana, tetapi mengguncang. Bahwa yang membuat manusia lemah bukanlah dunia, melainkan nafsunya. Kita terisolasi oleh keinginan-keinginan yang tak pernah selesai. Dan ketika belenggu itu dilepaskan, kekuatan lahir—bukan hanya fisik, tetapi batin. Saat itulah hidup tidak lagi dikendalikan oleh dorongan, melainkan oleh kesadaran.
Dari sanalah saya memahami kehadiran Tuhan tidak otomatis ditemukan dalam ritual ibadah. Ia tidak hadir hanya karena luasnya ilmu agama. Kefasihan berdebat teologipun tak menjamin kedekatan dengan-Nya. Bahkan sedekah dan filantropi yang dipuji manusia belum tentu membuka pintu Ilahi. Kehadiran Tuhan hanya terasa ketika hati tidak lagi mencintai apa pun melebihi-Nya. Ketika tidak berharap kepada selain-Nya. Ketika tidak takut kepada siapa pun kecuali kepada-Nya. Itulah ikhlas.
Ikhlas tidak bisa dijelaskan oleh akal yang terikat materi. Bagaimana mungkin seseorang yang telah mencapai financial freedom memilih hidup sederhana? Bagaimana mungkin ia masih punya waktu menulis, duduk bersama orang biasa, dan berbagi tanpa merasa turun derajat? Semua itu tidak logis bagi logika dunia. Dan saya tidak berniat membantah ketidaklogisan itu. Karena memang tidak ada seminar motivasi yang mampu menjelaskannya.
Perubahan persepsi itu hanya bisa lahir dari latihan menundukkan diri. Dan tidak ada latihan yang lebih dalam selain puasa. Puasa bukan hanya menahan lapar. Ia adalah latihan menahan amarah, menahan birahi, menahan ego yang haus pengakuan. Hampir semua tradisi spiritual mengenal praktik ini. Karena setiap agama memahami. Manusia hanya menemukan dirinya ketika ia melampaui instingnya. Puasa adalah jalan pembebasan. Bukan pembebasan dari dunia, tetapi dari perbudakan nafsu. Ketika nafsu terkendali, materi tidak lagi menjadi tuan. Ketika keinginan diredam, hati menjadi lapang. Dan ketika hati lapang, Tuhan terasa dekat—bukan sebagai konsep, tetapi sebagai kehadiran.
Maka, jika harta membuat Anda begitu sibuk hingga anggap semua tampa bisnis adalah omong kosong, itu artinya ada yang keliru dalam perjalanan hidup anda. Walau hidup Anda berada di piramida tinggi yang tak terjangkau orang kebanyakan, namun anda kesepian dan terasing di tempat orang ramai. Itu bukan keberhasilan. Itu hukuman yang dijatuhkan oleh diri sendiri. Financial freedom seharusnya melapangkan waktu, bukan menyempitkannya. Seharusnya membuat Anda semakin rendah hati, bukan semakin eksklusif.
Ketika kekayaan menjauhkan Anda dari percakapan tulus dan tawa sederhana, ia berubah menjadi penjara yang halus. Dindingnya tak terlihat. Jerujinya adalah ego. Kekayaan tidak pernah salah. Yang salah adalah ketika kekayaan menjadi identitas. Dan di sinilah peringatan Al-Qur’an terasa begitu tajam. Surat Al-A‘raf ayat 175–176 mengisahkan seseorang yang telah diberi ilmu dan kebenaran, tetapi memilih mengikuti hawa nafsu dan kepentingan dunia. Ia mengetahui, tetapi tak tunduk. Ia memahami, tetapi tak mengamalkan. Maka derajatnya jatuh—lebih rendah daripada orang yang tidak tahu.
Ilmu tanpa kendali nafsu menjadi kehinaan. Kekayaan tanpa kerendahan hati menjadi kutukan. Al-Qur’an menggambarkannya dengan perumpamaan keras, seperti anjing yang menjulurkan lidahnya—baik dihalau maupun dibiarkan, ia tetap terengah. Sebuah simbol jiwa yang tak pernah puas. Maka apa artinya berada di puncak, jika jiwa terus menjulur mencari pengakuan? Apa artinya menang di mata dunia, jika kalah dalam sunyi?
Kekayaan sejati bukan pada apa yang Anda miliki, melainkan pada siapa yang tetap bisa Anda rangkul tanpa merasa turun derajat. Puncak tertinggi manusia bukan pada status sosialnya, tetapi pada kerendahan hatinya. Dan tidak ada kebangkrutan yang lebih sunyi daripada kehilangan makna ketika semua orang mengira Anda telah menang.

Tinggalkan komentar