Siluet kehidupan.

Aling adalah perempuan etnis Tionghoa kelahiran Riau.
Kulitnya putih bersih, pembawaannya tenang, dan sorot matanya selalu tajam seperti sedang membaca isi kepala orang di depannya. Saya memanggilnya Ubi, panggilan yang lahir dari keakraban, bukan dari alasan yang perlu dijelaskan. Ia bukan hanya cantik. Ia cerdas.
Bahasa Inggrisnya nyaris tanpa cela. Mandarin-nya fasih, bukan sekadar percakapan, tetapi mampu menulis dan berbicara dengan struktur yang rapi. Disiplin berpikirnya terasa seperti dididik oleh dunia yang keras sejak awal.

Kami berkenalan tahun 1983, saat mengikuti sales training di sebuah perusahaan Jepang.
Di ruang kelas itu kami sama-sama masih muda, sama-sama belajar membaca pasar, membaca angka, dan diam-diam belajar membaca karakter manusia. Sejak hari itu persahabatan kami berjalan hampir tanpa jarak. Tidak pernah ada pengakuan cinta.
Tidak pernah ada kalimat besar yang mengubah status. Hubungan kami mengalir seperti dua orang yang terlalu paham satu sama lain untuk perlu menjelaskan apa pun.
Ia hadir bukan sebagai romantika,
tetapi sebagai konstan. Dan dalam hidup yang penuh badai,
kehadiran yang konstan sering kali jauh lebih berharga daripada cinta yang dramatis.

Namun suatu malam terjadi sesuatu yang tidak pernah kami rencanakan. Bukan karena rayuan.
Bukan pula karena kesepian sesaat.
Ia hanya mendekat — dan saya tidak menjauh. Seperti dua orang yang terlalu lama berjalan berdampingan,
hingga lupa pada batas yang dulu mereka buat sendiri. Setelahnya ia tersenyum pelan.
Apalagi ketika melihat percikan darah di sprei. Bukan senyum kemenangan.
Bukan pula penyesalan.
Hanya senyum seseorang yang menerima sesuatu tanpa merasa perlu menjelaskannya. Malam itu tidak ada janji.
Tidak ada definisi.
Tidak ada status yang berubah. Dan mungkin justru di situlah letak keheningannya.

Sejak malam itu, sikapnya tetap sama. Ia berbicara biasa.
Tertawa ringan.
Bersikap profesional. Seolah tidak ada yang perlu diberi nama. Justru saya yang dipenuhi pertanyaan. Ke mana hubungan ini akan berlabuh?
Apakah ia berharap lebih dari saya?
Atau justru ia tidak pernah berharap apa-apa? Dan pertanyaan yang paling sulit saya jawab:
apakah ia mencintai saya…
atau hanya percaya bahwa saya tidak akan melukainya?

Di kantor, ia satu tim dengan David. Saya memperhatikan hubungan mereka tampak lebih mesra dibandingkan dengan saya.
Ada kenyamanan yang natural.
Seolah David adalah ruang yang stabil. Saya berbeda. Saya lahir dari keluarga miskin.
Hidup saya penuh lompatan dan risiko.
Masa depan saya tidak pernah jelas.  David lahir dari keluarga konglomerat.
Bisnis trading agro keluarganya memiliki gudang di berbagai sentra komoditas pertanian.
Ia tumbuh dalam dunia di mana uang bukan tujuan, melainkan lingkungan. Karena itu sikapnya sering tampak arogan.
Namun kepada saya, ia bisa menjadi biasa saja.

Mungkin karena saya tidak pernah merasa lebih rendah darinya. Saya selalu percaya,
kesombongan bukan lahir dari hati yang tinggi,
tetapi dari jiwa yang belum pernah diuji rendah. Dan saya sudah terlalu sering berada di bawah
untuk merasa takut pada siapa pun yang berdiri di atas. Bagi saya, arogansi David hanyalah bahasa yang ia pelajari sejak kecil — bahasa dari dunia yang tidak mengenal kekurangan.
Namun di balik itu, saya tahu ia orang baik. Ada kejujuran yang sering hanya dimiliki orang yang tidak pernah belajar berpura-pura untuk bertahan hidup.

Suatu waktu, setelah menerima komisi Salesman pertama saya hasil dua bulan mengejar prospek tanpa henti, saya mengajak Aling menonton film.
Itu bukan sekadar nonton. Itu perayaan kecil atas kenyataan bahwa saya akhirnya bisa berdiri di kaki sendiri. Aling senang. Ia langsung setuju. Sore itu saya naik bajaj menuju PHI di kawasan Jelambar.
Di tengah jalan hujan turun deras, seolah Jakarta ingin menguji apakah kegembiraan seorang salesman pantas dirayakan.

Saat tiba di rumahnya, saya melihat sebuah Ford Laser terparkir di depan.
Mobil David.

Aling menemui saya di teras.

“Maaf, Ale… kita batal saja ke bioskop. David ada di ruang tamu. Kami mau makan malam di Pecenongan.”

Saya tersenyum.

“Tidak apa-apa. Aku pulang saja.”

Ia membalas senyum saya, senyum yang berusaha ringan meski situasinya tidak ringan. Sebelum pergi saya melihat David keluar dari dalam rumah. Wajahnya masam ketika melihat saya. Hujan semakin deras.
Saya berjalan menembusnya sampai keluar kompleks, lalu naik bajaj dengan tubuh basah kuyup. Aneh, saya tidak kecewa pada Aling. Mungkin karena pada usia itu saya sudah belajar satu hal bahwa persahabatan tidak diukur dari siapa memilih kita hari itu,
tetapi dari siapa tetap kita pilih setelah hari itu.

Keesokan harinya di Kantor, David datang ke ruangan saya. Tiba-tiba ia berteriak di depan teman-teman kantor. “Lu nggak tahu diri dan nggak tahu malu!
Kenapa lu kejar Aling?” Matanya melotot tajam. Ia melanjutkan dengan nada merendahkan,
“Lihat muka lu. Lihat keluarga lu. Masih berani juga?”

Saya hanya diam. Bukan karena takut.
Tetapi karena saya tidak melihat gunanya membela diri di depan keramaian. Sebagian yang ia katakan memang fakta.
Saya berasal dari keluarga sederhana.
Wajah saya tidak setampan dia. Kulit saya lebih gelap.
Tidak ada yang perlu saya bantah. Hanya satu yang tidak benar, saya tidak pernah mengejar Aling. Aling punya hak bebas menentukan pilihan. Kami hanya rekan satu tim sales.
Setiap hari bertemu, berdiskusi, berbagi target, berbagi kelelahan. Kedekatan kadang lahir dari rutinitas,
bukan dari niat memiliki.

Saya melihat wajah Aling memucat. Ia pergi, menahan malu. Saya mengejarnya di lorong kantor. “Gua nggak tahu kenapa David nuduh begitu, Ling,” kata saya pelan.

Ia lama menatap saya.

“Yang gua nggak terima bukan itu. Gua nggak terima dia merendahkan lu di depan orang banyak. Kalau pun kita pacaran, apa hak dia?”

Saya tersenyum tipis.

“Nggak apa-apa, Ling. Gua nggak tersinggung. Memang begitu kenyataannya.”

Kadang menjaga persahabatan lebih penting daripada menjaga harga diri sesaat.
Ego yang dipertahankan bisa memutuskan hubungan yang seharusnya bertahan. Dan pada usia muda itu, saya memilih diam, bukan karena saya tidak punya harga diri,
tetapi karena saya tahu, harga diri sejati tidak perlu dipertahankan dengan teriakan.

Tahun 1984.

Suatu sore saya berkata kepada Aling, dengan keberanian yang mungkin lebih besar dari kemampuan saya saat itu.

“Menikahlah dengan saya, Ling.”

Ia terdiam sebentar. Lalu tertawa ringan.

“Apaan sih nikah. Kita masih terlalu muda untuk berumah tangga. Masa depan masih panjang,” katanya santai, seolah saya baru saja mengajaknya pindah kos, bukan membangun hidup.

Saya tahu dia menganggap permintaan saya naif.
Mungkin juga tergesa-gesa.
Mungkin juga tidak realistis.

Tapi saya tidak menyerah.

Selama setahun, setiap ada kesempatan, saya ajukan pertanyaan yang sama.
Dan setiap kali pula ia menolak, dengan alasan yang sama, dengan nada yang tetap ringan.

Hingga suatu hari saya berkata, “Orang tua saya mau menjodohkan saya.”

Saya pikir itu akan mengguncangnya.
Saya pikir ia akan terdiam, atau marah, atau setidaknya menunjukkan bahwa ia takut kehilangan saya. Namun reaksinya justru tenang. “Kalau begitu jalani saja. Mungkin itu yang terbaik buat kamu.” Lalu ia menambahkan, hampir tanpa jeda, “Aku juga akan melanjutkan kuliah ke Singapura… sama David.”

Kalimat itu seperti pintu yang ditutup pelan, tapi permanen. Saya menatapnya lama. Apakah dia tidak mencintai saya?
Lalu apa arti semua kedekatan selama ini?
Mengapa ia menyerahkan dirinya kepada saya dengan begitu tenang, bahkan bahagia, jika akhirnya arah hidupnya bukan saya? Pertanyaan-pertanyaan itu mengendap lama. Namun semakin saya dewasa, semakin saya mengerti, bahwa tidak semua yang intim harus berakhir dalam kepemilikan.


Tidak semua kedekatan adalah janji masa depan. Mungkin bagi saya, cinta adalah keputusan.
Tetapi bagi dia, cinta adalah pengalaman. Saya ingin membangun rumah.
Dia ingin membangun diri. Dan mungkin di situlah kami berbeda. Ada orang yang mencintai dengan ingin memiliki.
Ada pula yang mencintai dengan ingin berkembang. Dan saat itu, saya belum cukup besar untuk memahami perbedaan itu. Tahun 1985 saya berhenti menjadi salesman dan mulai berwirausaha.
Tahun yang sama Aling juga mengundurkan diri untuk kuliah ke Lua negeri

Langit pagi di bandara itu pucat, seperti warna yang sengaja dipilih agar manusia tidak terlalu banyak berharap.
Saya datang lebih awal dari yang perlu. Bukan untuk mengantar, karena saya tahu posisi saya bukan lagi orang yang berhak berada di dekatnya. Saya datang hanya untuk melihat. Kadang manusia butuh satu gambar terakhir agar hatinya berhenti berdebat. Aling berdiri tidak jauh dari pintu pemeriksaan. Ia mengenakan kemeja putih sederhana, rambutnya diikat rapi. Wajahnya tidak menangis. Itu justru yang membuat dada saya terasa berat. Kesedihan yang matang memang tidak mencari saksi.

David di sampingnya berbicara sesuatu sambil tersenyum. Sesekali Aling mengangguk.
Di tangan kirinya ada cincin tipis — bukan cincin mahal, tetapi cukup jelas untuk memberi makna: ia telah memilih arah.

Saya tidak mendekat.

Beberapa hari sebelumnya ia sudah mengatakan semuanya dengan tenang. “Ale… aku kuliah ke Singapura sama David.
Kami tunangan. Nanti setelah selesai kuliah baru menikah.” Tidak ada drama. Tidak ada air mata.
Justru karena itu kata-katanya terasa final,  seperti pintu yang ditutup perlahan, bukan dibanting.

Saya hanya menjawab pendek. “Baik.” Ada hal-hal yang tidak perlu dipertahankan dengan perdebatan, karena sejak awal ia memang tidak pernah menjadi milik kita.

Panggilan boarding terdengar. Aling dan David berjalan menuju gate.
Di tengah langkah, tangan mereka saling menggenggam. Bukan genggaman ragu, tetapi genggaman orang yang sudah selesai memilih. Di situlah saya akhirnya mengerti. cinta tidak selalu kalah oleh orang lain, sering kali ia kalah oleh waktu yang berbeda.

Saya berdiri cukup jauh agar mereka tidak melihat saya.
Bukan karena takut, tetapi karena saya ingin kenangan terakhirnya tentang saya tetap ringan, bukan seorang lelaki yang menahan, melainkan seseorang yang mengerti kapan harus berhenti berjalan bersama. Saat mereka melewati pemeriksaan, Aling sempat menoleh ke belakang.
Bukan ke arah saya. Ia tidak tahu saya ada di sana, tetapi cukup bagi saya untuk berpura-pura bahwa perpisahan selalu memiliki cara diam-diam untuk saling memberi salam. Pintu kaca tertutup.
Dan untuk pertama kalinya saya merasakan kesunyian memiliki suara.

Saya tidak merasa kehilangan Aling.
 Saya kehilangan kemungkinan. Ada perbedaan besar di antara keduanya.
Manusia bisa menerima kenyataan, tetapi butuh waktu untuk berdamai dengan bayangan yang tidak pernah terjadi. Hari itu saya pulang tanpa tujuan jelas.
Jakarta tetap ramai, angkot tetap berteriak, langit tetap panas. Dunia tidak berubah sedikit pun hanya karena satu hati selesai berharap. Di situlah saya belajar bahwa kedewasaan bukan ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan,
melainkan ketika kita mampu mendoakan kebahagiaan orang yang tidak lagi berjalan bersama kita.

Sejak hari itu saya berhenti menunggu.
Bukan karena berhenti peduli,
tetapi karena cinta yang baik tidak memaksa tinggal. Dan kadang bentuk kasih yang paling jujur adalah
membiarkan seseorang pergi tanpa merasa ditinggalkan.

Tahun 1985 saya menikah. Aling datang bersama David. Aling memberi kado buku harian. Seakan dia ingin saat saya menulis buku harian, saya selalu ingat dia. Di halam pertama Buku harian itu. Ada puisii tulisan tangan ALing.

Senja di pangkal akanan.

Menitip rindu anak rantau.

Kepada angin malam.

Di bawa elang menuju entah kemana.

Dalam kesunyian hati merintih.

Berharap dalam doa.

Sang pengeran menjeput

Namun apalah diri ini.

Hanya melihat matahari terbenam

Yang hanya merasakan kehangatan sejenak

Namun dia tetap di pangkal akanan.

Tak akan bisa menjangkau ujung langit.

Esok matahari akan terbit lagi.

Dia tetap di pangkal akanan.

1988

Kapal dagang saya — sebuah phinisi — tenggelam.
Saya hampir mati, terombang-ambing tiga minggu di tengah laut antara hidup dan tidak.
Ketika akhirnya selamat, justru kehidupan saya yang karam. Tahun itu 1988. Saya bangkrut. Hutang tidak sanggup saya bayar. Rumah disita.
Tidak ada lagi yang tersisa untuk memulai langkah baru dalam bisnis. Saya menitipkan istri dan anak saya yang masih balita kepada mertua.


Saya tidak punya apa-apa. Mertua menerima dengan lapang hati.
Namun kakak ipar saya terlihat tidak suka.
Setiap kali melewati saya, dia meludahi wajah saya. Saya tidak membalas.
Saya diam saja. Bukan karena saya kuat, tetapi karena saya sadar, saat itu saya hanya menumpang hidup pada orang lain. Kadang Tuhan tidak langsung mengangkat manusia dari jatuhnya,
Ia biarkan manusia menyentuh dasar terlebih dahulu
agar ia tahu, mana harga diri… dan mana kesombongan.

Saya keluar rumah hanya dengan baju yang melekat di badan.
Tidak punya uang. Tidak punya bekal apa pun selain langkah kaki. Saat hendak melangkah dari teras, istri saya bersimpuh di kaki saya.
Ia memegang kedua kaki saya erat sambil menangis. “ Apa salah suamiku… dia hanya miskin… kenapa kejam sekali… makan saja hanya sekali di rumah…” Saya tahu saat itu betapa hancur hatinya.
Ia tahu saya sangat membutuhkan dukungan, terlebih dari keluarganya sendiri.
Dan justru pada saat itulah saya jatuh cinta lagi kepadanya, untuk kesekian kalinya.

Saya berjanji dalam hati, suatu hari saya akan kembali menjemputnya dengan kepala tegak. “Mah, biarkan papa pergi. Jaga anak baik-baik di rumah. Papa janji akan jemput mama dan anak. Doakan papa.”

Saya berusaha melepaskan kakinya dari pelukannya.
Akhirnya ia melepaskan. Tubuhnya lunglai. Mertua memberi isyarat agar saya terus berjalan.

“Ayah… titip istri dan anakku. Maafkan aku, Yah.” Kata saya berlutut depan mertua.

Sebelum saya benar-benar pergi, kakak ipar saya masih sempat meludahi wajah saya. Saya tetap diam.
Saya terus melangkah. Karena pada titik tertentu, manusia berhenti membela diri di hadapan manusia,
dan mulai berdiri di hadapan Tuhan.

Saya teringat kisah Nabi Ayub. Ia kehilangan harta, dijauhi teman, diserang penyakit yang membuatnya diasingkan dari masyarakat.
Anak dan istrinya pun menjauh karena takut tertular.
Namun ia tidak menyalahkan Tuhan — bahkan tidak menyalahkan siapa pun. Penderitaannya bukan ia arahkan kepada manusia,
melainkan ia kembalikan hanya kepada Tuhan. Di situlah kekuatan iman berada:
bukan pada bebasnya seseorang dari musibah,
tetapi pada keteguhannya menerima tanpa kehilangan makna hidup.

Saya belum seperti Nabi Ayub.
Saya masih sehat. Masih mampu berjalan. Maka saya tidak akan bersedih apalagi menyalahkan siapa pun.
Tugas saya hanya satu, memperbaiki diri. Karena mungkin Tuhan tidak sedang menghukum saya,
melainkan sedang mengosongkan saya
agar saya siap diisi kembali dengan sesuatu yang lebih besar.

Saya pergi tanpa uang satu sen pun.
Hanya satu stel baju melekat di badan. Malam pertama saya tidur di Monas. Di bawah langit terbuka saya baru memahami satu hal:
ketika manusia kehilangan semua tempat bersandar, ia belajar bersandar hanya kepada Tuhan.

Keesokan harinya saya teringat Aling.
Saya tidak tahu nomor telpnya di Singapore.
Yang saya ingat hanya nomor keluarganya di Riau. Saya menelepon.
Mereka memberikan nomor teleponnya. Saya pergi ke wartel. Telepon berdering.

“Ya… it’s me, Aling,” terdengar suaranya.

Saya menarik napas panjang. “Ling… ini saya, Ale. Saya perlu uang… usaha saya bangkrut.”

Saya menahan getaran suara. Bukan karena takut, tetapi karena malu.

“ Ale, kamu baik-baik saja kan?” suara Florence berubah cemas.

“Ya… saya baik-baik saja.”

“Bagaimana istri dan anakmu?”

“Mereka di rumah mertua. Saya sudah tidak punya rumah lagi… saya di luar… tidak tahu harus tinggal di mana.”

Hening sejenak.

“Duh Ale… sabar ya. Kamu cepat ke kantor pos. Nanti saya kirim uang dan kirim bukti wesel. Nomor fax wartelnya berapa?”

Saya menyebutkan nomor fax.

“Tunggu 30 menit, saya kirim uang,” katanya.

“Terima kasih, Ling.”

Empat puluh lima menit kemudian, fax masuk.
Bukti kiriman uang Rp 5 juta. Saat itu harga emas sekitar Rp 28.000 per gram.
Jika dihitung sekarang, nilainya kira-kira setara lebih dari 300 juta rupiah. Uang itu bukan sekadar bantuan tapi 
itu kepercayaan. Dengan uang itu saya bisa menyewa kamar kos di kawasan Cikini. Setiap hari saya keluar mencari peluang.
Setiap hari istri saya datang mengantar makanan sambil menggendong Balita kami. Suatu sore saya berkata, “Papa dapat peluang bisnis impor pupuk dari teman orang Jepang. Kemarin Aling kirim uang Rp 5 juta. Papa sewa kantor, sewa mesin fax… masih sisa Rp 3 juta. Ambil saja sisanya.”

Ia menggeleng. “Tidak usah. Pakai saja untuk biaya papa. Aku dagang kecil-kecilan, barang kreditan. Papa tenang saja… jaga kesehatan. Jangan kecewakan Aling, itu bukan uang kecil.”

Saya terdiam. Di saat saya kehilangan segalanya, Tuhan tidak memberi saya kekayaan.
Ia memberi saya dua hal yang lebih berharga. Orang yang percaya kepada saya… dan orang yang tetap berdiri di samping saya. Dan kadang, itulah modal pertama sebuah kebangkitan. Tiga bulan kemudian, saya bisa bangkit lagi. Saya bisa jemput istri dan anak ke rumah kami sendiri.

1993 .

Kami bertemu lagi. Aling bercerita hubungannya dengan David gagal, tetapi ia telah memiliki seorang anak laki-laki.
Ia menjadi ibu tunggal, dan tampak lebih kuat daripada banyak keluarga lengkap. Namun anaknya meninggal usia Balita. Ia tinggal di Pluit, usahanya berkembang menjadi pemasok spare part alat berat perusahaan minyak.

Saat itu justru usaha saya sedang jatuh. Ditendang dari kemitraan oleh orang-orang yang dulu kusebut relasi. ALing datang lagi. Bukan sekadar memberi uang.
Ia memberiku proyek. Kami bermitra dalam proyek telekomunikasi di Malaysia.
Proyek itu menyelamatkanku dari keterpurukan. Setelah itu, seperti biasa, hidup memisahkan kami lagi.

2000

Usaha saya  kembali bangkrut. Saya bertemu lagi dengan Aling. Ia telah mengadobsi seorang anak perempuan dan memutuskan tidak menikah lagi.
Ia pindah ke Batam dan membangun industri alat beratnya sendiri. Ia menawariku bermitra. Saya menolak. Mungkin karena lelah bergantung, mungkin karena takut mengulang takdir. Namun selama saya terjatuh, Aling terus mengirim uang setiap bulan. Tanpa pernah kuminta.
Tanpa pernah menagih. Hampir setahun lamanya, dan berhenti tepat saat saya kembali mampu berdiri. Seolah ia hanya ingin memastikan saya  tidak hancur,
bukan memastikan saya berutang.

2002.

Saya akhirnya berhasil menjadi arranger dalam akuisisi kelompok perusahaan melalui BPPN.
Salah satu unit usaha yang ikut terakuisisi adalah keagenan alat berat — perusahaan yang dulu pernah menyingkirkan Aling. Hidup memang tidak berjalan lurus.
Ia berputar.
Kadang lambat, kadang memutar tajam, sampai manusia dipaksa memahami arti waktu. Fee saya sebagai arranger tidak dibayar dalam bentuk uang, melainkan kepemilikan saham pada salah satu unit usaha.
Perusahaan keagenan alat berat di Singapore. Punya kontrak jangka panjang dengan BUMN, jaringan distribusi sampai ASEAN. Saya yang dulu dipandang sebelah mata, kini duduk di meja yang dulu hanya bisa saya bayangkan dari luar.

Namun di akhir tahun itu, saya kembali bertemu Aling di Jakarta. Kali ini ia yang jatuh. Ia ditipu oleh mitranya dari Korea. Dia terjebak hutang yang tak terbayar. Bank mengancam penyitaan.
Wajahnya tidak lagi setenang dulu. Ada kelelahan yang tidak bisa ia sembunyikan. Saya jual perusahaan keagenan di Singapore itu. Dan uangnya untuk bailout hutang perusahaan Aling di Bank. Sehingga Aling terhindar dari kebangkrutan. Bisnis kembali normal. Aling terharu. Ia menangis sambil menatap kosong ke saya.

” Hidup hanya meminjamkan posisi.
Dulu kamu berkorban untukku, sekarang aku berkorban untukmu.
Yang penting bukan siapa yang di atas atau di bawah,
tetapi ketika kita sulit… aku datang menemuimu,
dan ketika kamu sulit… kamu datang menemuiku.” Kata saya berusaha menenangkannya agar dia tidak terbebani.

Ia menunduk.

Hubungan sejati bukan soal memiliki atau status, tetapi tentang selalu ada disaat dibutuhkan. Hidup memutar peran. Kadang kita menolong, kadang kita ditolong. Dan nilai sebuah hubungan tidak diukur dari lamanya bersama, melainkan dari seberapa sering kita saling menemukan di titik terendah kehidupan.

Setelah itu saya hijrah ke China. Dan seperti sebelumnya,
kami kembali hilang dari kehidupan satu sama lain. Tak ada drama.
Tak ada pengucapan selamat tinggal yang besar. Hanya jarak.

Tahun 2010. Itu pertemuan pertama kami setelah 2002. Aling datang menemui saya di kantor holding investment yang saya pimpin.
Ia melihat sendiri bagaimana saya memimpin tim multi-etnis, bagaimana jaringan lintas negara berjalan rapi, bagaimana keputusan diambil dengan presisi. Ia tidak tampak terkejut atas apa yang saya capai. Namun ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Ia terlihat kecil. Bukan dalam arti fisik,
melainkan dalam cara ia menatap saya.

Ia datang bukan sekadar untuk bertemu.
Ia datang untuk menyerahkan perusahaan yang selama ini ia kelola. NIlai asset sudah meningkat 3 kali. Aling memang hebat mengelola bisnis.

“ Ingatkan engga tahun 2002. Kalau kamu tidak bailout, perusahaan ini sudah disita bank. Aku tidak berhak atas itu. Semua modal dari kamu, Ale. ” Kata Aling

Saya menolak.

Tetapi ia menangis.

“Aku tidak mau mati membawa beban yang tak sanggup aku pikul.”

Saya terdiam. Beberapa pengakuan memang tidak membutuhkan jawaban.
Ia hanya membutuhkan ruang untuk keluar.

Airmata Aling berlinang. “Dari awal kita bertemu… aku mencintaimu.” Kalimat itu keluar perlahan, seperti sesuatu yang selama puluhan tahun ditahan. “Sebenarnya waktu kamu bilang mau melamarku dulu… aku bahagia sekali. Tapi entah kenapa aku tidak bisa membebani kamu. Saat itu satu satunya karir kamu hanya sales. Dan kamu focus ke sana tanpa ada niat mau kuliah lagi. Kehadiranku membuat langkah mu semakin berat. ”

Suaranya terhenti.
Air matanya jatuh. “Andaikan dulu aku bisa memperjuangkan cintaku dan kuat menghadapi semua rintangan, mungkin ceritanya lain. Tapi sekarang itu hanya sesal yang tak berujung. ”

Aling terdiam.

” Aku malu sama istri kamu, Ale. Dia tidak terpelajar seperti aku. Tetapi dia membuat keputusan yang benar menerima lamaran kamu dan menanggung resiko bersama kamu. Berproses dengan tidak mudah. Aku saksi itu semua. ” Lanjut Aling.

” Ki ni aku cuma ingin kamu bahagia bersama istri. Jaga dia, karena dialah satu satu nya wanita yang tak pernah pergi dari kamu. ” Kata Aling berlinang.

Saya mengusap air matanya. Ia melanjutkan dengan suara gemetar, “Waktu kamu menikah… kadoku adalah buku harian itu. Di halaman depan aku tulis puisi. Aku berharap setiap kamu menulis di sana, kamu ingat aku.”

Saya menunduk sesaat. Waktu memang tidak pernah memutar balik keputusan.
Ia hanya memberi kita kesempatan memahami kenapa dulu kita memilih.

“Oh… sudahlah,” saya berkata pelan.
“Itu masa lalu. Tapi yang pasti selama ini kita selalu bertemu saat kita harus berbagi. Kamu sahabat saya. Dan itu tidak akan berubah.”

Ia menatap saya lama. “Di ruang hati aku cuma ada kamu, Ale. Walau aku pernah dengan David dan akhirnya gagal… itu karena aku tidak pernah bisa move on.”

Saya tidak menjawab. Karena ada cinta yang tidak perlu dibalas dengan kata.
Cukup dengan penghormatan.

Tahun 2013 saya meminta Aling menjadi Komisaris Utama GI — bisnis yang saya bangun di Jakarta sejak 2003. Bukan karena rasa lama yang belum selesai. Tetapi karena saya tahu satu hal. Di antara semua orang yang pernah berjalan dalam hidup saya,
hanya dia yang tahu bagaimana rasanya melihat saya jatuh…
dan tetap berdiri di samping saya tanpa perlu diberi nama.

2024.

David datang juga ke café. Tak berapa lama Aling juga datang. Saya tidak pernah nongkrong di kafe bareng Aling sama David.

“Ling,” kata David sambil nyeruput kopi, “lu enak banget ya, semua sumber daya GI di tangan lu. Tinggal atur, bebas. Apalagi Ale kan jarang nongol di kantor.”

Aling nyengir miring. “Bego lu, Dave. “ Kata Aling ketus. “ Semua bisnis GI itu yang create ya Ale. Kontrak ekspor, buyer luar negeri, global partner, semua dia yang dapat. Dia hafal detailnya sampe koma. Laba turun dikit, dia bisa ngamuk. Nggak teriak, tapi kalimatnya itu… kayak notulen rapat yang nggak bisa dihapus dari sejarah.”

David melongo. “Ale bisa marah?”

“Lu kan tahu. Ale engga marah dengan suara tinggi dan hujatan. Kalau ngomong serius, nadanya tetep kalem, tapi logikanya presisi. Lu bantah pun percuma, ujungnya kalah. Tapi kalau semua lancar? Dia diem aja. Pujian? Jangan harap. Bonus? Itu mah pasti cair on time.”

“Serius bonus awal tahun? Nggak nunggu cashflow? Duitnya dari mana?”

“Dari langit,” jawab Aling dengan senyum tipis yang entah nyindir atau bangga. “Ada aja yang kasih short, nanti kita bayar dari cashflow.”

“Teken utang bank siapa?”

“Dirut sama komut.”

“Jadi lu yang nanggung risiko?”

Aling ketawa pendek. “Risiko apaan? Bank nggak bakal keluarin duit kalau belum dapet restu Ale. Nggak cuma di Indo, di Singapura juga gitu.”

“Padahal dulu dia nobody?” David nyengir ragu. Saya  cuma balas dengan senyum setengah, senyum yang tahu terlalu banyak tapi nggak perlu ngomong apa-apa.

Lalu David nanya, “Eh, Ale sering nginep di apartemen lu nggak, Ling?”

Aling nyipit mata. “Lu serius mau tau?”

“Iya lah.”

“Nggak pernah. Sekalipun.” Suara Aling pelan, tapi matanya udah basah.

David langsung grogi. “Maafin gue, Ling. Gue salah. Harusnya kita nggak usah pisah.”

Aling diam.

“ Udah lebih 5 tahun lue kerja sama Ale. Gimana pendapat lu tenang Ale. “ Tanya David. Suasana jadi canggung.

“ Sama seperti lue tahu. Sampai kini dia tidak berubah. “kata Aling.” Dia jaga gua dengan sepenuh hati. Dia beliin gua apartment. Dia beri rasa hormat. Lue juga sampai sekarang dapat dukungan pembiayaan dari Gi, itu bukan karena gua. Tetapi karena Ale menyetujuinya. Tanpa bantuan dia sudah lama pabrik lue tutup. Ale yang kita anggap rendah, ternyata berlalunya waktu, justru dia yang mengangkat derajat kita. “

“Gimana kalau kita balikan? “Kata David. “ Kita udah nggak muda lagi. Lu nggak punya suami, gue nggak punya istri.”

“Ogah.” Aling berdiri, ninggalin saya dan  sama David di meja.

Saya nyeruput kopi pelan. Dalam hati saya mikir, orang selalu nyesel setelah kehilangan. Mereka pikir waktu bisa memperbaiki semua, padahal waktu cuma mempertebal jarak.

Saya nengok ke David. “Lu tuh nggak pernah ngerti, Dave. Perempuan nggak suka masa lalunya dibongkar. Apalagi kalau yang ngomong itu orang yang bikin luka. Sakitnya itu… beda.”

David cuma diam. Saya tahu, di kepalanya dia mungkin nyari kata-kata pembelaan. Tapi di meja itu, sore itu, saya paham — ada kekalahan yang nilainya lebih mahal dari sekadar uang.

**

Pada akhirnya hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai,
melainkan siapa yang tetap berjalan ketika semua alasan untuk berjalan sudah habis. Saya pernah tenggelam di laut.
Saya pernah tenggelam dalam hutang.
Saya pernah tenggelam dalam harga diri. Aneh… justru saat manusia menyentuh dasar,
dia baru tahu mana yang selama ini hanya kebanggaan,
dan mana yang benar-benar dirinya.

Dulu saya kira keberhasilan adalah ketika orang menghormati kita.
Lalu saya jatuh dan melihat wajah manusia berubah.
Ada yang pergi, ada yang meludah, ada yang menolong diam-diam. Dari situ saya belajar, bahwa
reputasi itu milik dunia,
tetapi karakter itu milik waktu. Orang bisa meminjamkan uang,
orang bisa memberi jabatan,
orang bisa memberi kesempatan, tetapi hanya penderitaan yang memberi pengertian.

Saya pernah bertanya pada diri sendiri,
kenapa Tuhan tidak langsung menolong ketika saya hancur? Lalu saya sadar,
jika saat itu saya diselamatkan terlalu cepat,
saya akan kembali menjadi orang lama, orang yang percaya dirinya kuat karena berdiri di atas sesuatu,
bukan karena mampu berdiri tanpa apa-apa.

Kemiskinan mengajarkan saya menerima.
Pengkhianatan mengajarkan saya memahami.
Keberhasilan mengajarkan saya diam. Dan cinta…
cinta mengajarkan saya satu hal paling sulit, menjaga tanpa harus memiliki. Banyak orang datang dalam hidup saya membawa harapan,
banyak juga pergi membawa pelajaran.
Saya tidak lagi menghitung siapa benar dan siapa salah. Karena pada akhirnya hidup bukan tentang menang melawan orang lain,
tetapi berdamai dengan diri sendiri.

Waktu tidak pernah mengembalikan masa lalu.
Ia hanya memberi kita kesempatan memahami kenapa semua harus terjadi. Hari ini saya tidak merasa lebih hebat dari siapa pun.
Saya hanya lebih tenang dari diri saya yang dulu. Jika suatu hari semua hilang lagi,
saya tidak akan takut. Saya sudah pernah kosong, dan saya tahu,
manusia tidak hancur karena kehilangan segalanya. Manusia hancur
ketika kehilangan makna dari segalanya. Dan selama makna itu masih ada,
hidup… akan selalu punya arah pulang.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

2 tanggapan atas “Siluet kehidupan.”

  1. Makasih Babo… .. siang ini jiwa saya semakin kuat dgn history Babo

    Disukai oleh 1 orang

  2. Terima kasih Babo,

    Dari cerita ini saya semakin yakin bahwa dibalik nama besar dan keberhasilan seseorang berbanding lurus dengan penjuangan hidupnya. Kita belajar dan menjadi bijak pada akhirnya kalau Babo yang sekarang ini dibentuk dengan pengalaman hidup yah tidak mudah bagi orang pada umumnya. Namun, satu yang jelas. Bahwa Babot tidak berhenti disaat tumbang malah bisa mengambil hikmah di setiap proses itu. Kami pun pada akhirnya belajar. Dalam hidup ini nilai dari hidup itu ditentukan dengan pandangan pribadi kita. Tidak ada dalam hidup ini yang tidak baik, semua hanya prasangka sementara dan.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan ke MKGinting Batalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca