Investor asing lebih paham keadaan kita.

Celi datang ke safehouse menjelang sore, ketika cahaya matahari mulai meredup dan kota bergerak menuju ritme malam. Ia masih mengenakan blazer abu-abu yang biasa dipakainya ke kantor—rapi, fungsional, tanpa usaha untuk tampil mencolok. Wajahnya tampak lelah, tetapi sorot matanya tetap tajam. Ia bukan sekadar analis di sebuah perusahaan investasi; di waktu lain, ia juga dosen tamu di kampus, terbiasa menjelaskan kompleksitas pasar kepada mahasiswa yang baru belajar membaca angka.

Ia duduk berhadapan dengan saya, meletakkan tas kerjanya di samping kursi.

“B,” katanya pelan, seolah tidak ingin suaranya terdengar keluar ruangan, “saya dengar nama Ale Capital. Katanya dikelola oleh seorang shadow banker yang hampir tak pernah muncul ke publik.”

Saya hanya tersenyum, membiarkan jeda itu bekerja.

“Juni 2025,” lanjutnya, “dia membuka kontrak futures pada Gold Index dan Emerging Market Index dengan tenor enam bulan.”

Ia berhenti sejenak, seperti sedang menyusun ulang urutan logika di kepalanya.

“Overlay-nya short Yen Jepang, dan eksposurnya dikaitkan dengan Nasdaq.”

Celi menatap saya lebih dalam. “Januari 2026 semua posisi ditutup. Keuntungannya USD 3,2 miliar.”

Saya tetap diam.

“Tanpa margin call,” tambahnya pelan. Ia menarik napas panjang. “Saya ingin menjelaskan ini ke mahasiswa saya. Secara teoritis, bagaimana mungkin keuntungan sebesar itu terjadi tanpa tekanan margin? Apakah ini insider trading?”

Saya tertawa kecil, bukan mengejek, melainkan karena pertanyaan itu terlalu sering muncul dari mereka yang baru pertama kali melihat strategi makro bekerja dengan presisi.

“Ini bukan insider trading,” jawab saya akhirnya. “Semua berbasis data makro yang terbuka. Tidak ada informasi rahasia.”

Saya kembali diam, berharap penjelasan singkat itu cukup. Namun dari raut wajahnya, saya tahu tidak. Ia tidak datang untuk sensasi, melainkan untuk pemahaman. Ada ketulusan seorang pengajar yang tidak ingin menyederhanakan kenyataan hanya agar mudah dicerna.

Akhirnya saya mengalah.

“Oke,” kata saya sambil sedikit condong ke depan, “saya jelaskan. Tapi ini bukan versi headline. Ini versi yang bisa kamu bawa ke kelas.”

Celi segera mengeluarkan notepad-nya, siap mencatat—bukan untuk mencari rahasia, melainkan untuk memahami logika di balik angka.

“Pertama,” saya mulai pelan, memastikan ia mengikuti alurnya, “core trade-nya adalah long Gold dan long Emerging Market Index. Ini bukan spekulasi, apalagi judi. Seluruhnya bertumpu pada analisis berbasis data dan rasional makro.”

Saya berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih sistematis.

“Pada pertengahan 2025, indikator makro global menunjukkan ekspektasi pelemahan dolar AS. Likuiditas global mulai bergerak ke fase easing. Dalam kondisi seperti itu, komoditas—terutama emas, perak, dan tembaga—cenderung menguat. Secara paralel, indeks Emerging Market memiliki peluang untuk outperform karena capital inflow kembali mencari imbal hasil.”

Saya menatap Celi untuk memastikan ia menangkap relasi sebab-akibatnya.

“Ketika real yield turun, emas hampir selalu naik. Dan ketika likuiditas global longgar, pasar negara berkembang menjadi tujuan alami aliran modal. Itulah fondasi makronya.”

Celi mulai mencatat lebih cepat.

“Kontrak futures,” lanjut saya, “memberi leverage tinggi tanpa perlu membayar full notional. Trader hanya perlu menyediakan initial margin, lalu menyesuaikan melalui variation settlement. Return yang dihasilkan bukan dari modal yang disetor, melainkan dari perubahan harga indeks dikalikan notional exposure.”

Saya gunakan aplikasi KeyNote. “Sekarang bayangkan: jika harga emas naik 20–25 persen dan indeks Emerging Market naik 15–20 persen, dengan skala leverage institusional, besaran keuntungannya menjadi eksponensial. Secara matematis, itu bukan anomali, itu konsekuensi struktur.”

Celi mengangguk.

“Kedua,” saya melanjutkan, “yang menarik secara teknis adalah pemilihan Yen Jepang.”

Ia menegakkan punggungnya, jelas tertarik.

“Secara historis, Yen adalah funding currency. Ia digunakan dalam carry trade karena suku bunganya rendah. Selama Bank of Japan tetap dovish sementara suku bunga AS berada di level lebih tinggi, Yen cenderung melemah.”

Saya mengambil napas sejenak dan gunanakan KeyNote aplikasi untuk menjelaskan. “Dengan posisi short Yen, portofolio memperoleh FX gain. Biaya pendanaan menjadi sangat murah. Secara sederhana, profit dapat dijelaskan melalui persamaan: Profit = depresiasi JPY × FX notional exposure.

Inilah komponen yang memperbesar return keseluruhan portofolio.”

Celi terus menyimak, penanya bergerak tanpa henti.

“Ketiga,” kata saya, “posisi ini juga dikaitkan dengan Nasdaq sebagai bagian dari strategi lindung nilai lintas aset—semacam pengaturan beta agar eksposur risiko tidak sepenuhnya satu arah.”

“Kenapa menggunakan Nasdaq?” tanyanya.

“Karena indeks teknologi sangat sensitif terhadap perubahan real yield dan likuiditas global,” jawab saya. “Jika Nasdaq bergerak stagnan atau bergejolak, sementara likuiditas tetap mengalir ke komoditas dan pasar negara berkembang, maka emas dan Emerging Market berpotensi mengungguli. Keterkaitan dengan Nasdaq bisa dibangun lewat berbagai instrumen: spread trade, overlay opsi, atau lindung nilai berbasis kinerja relatif.”

Celi tersenyum tipis. “Benar-benar smart hedging,” katanya. “Dengan struktur seperti ini, peluang rugi jadi kecil.”

Saya mengangguk. “Bukan kecil, tapi terkelola.”

“Lalu kenapa pakai Deposit on Call atau DOC?” tanyanya lagi.

“Karena trader itu memang tidak berniat cash out,” jawab saya. “Deposit on Call berfungsi sebagai collateral, margin buffer, sekaligus credit enhancement. Dengan DOC besar, broker tidak akan mudah memicu margin call. Notional exposure bisa ditingkatkan secara signifikan.”

Saya memberi contoh konkret. Saya gunakan keynote apikasi untuk menjelaskan. “DOC sebesar USD 700 juta bisa menghasilkan leverage 5 sampai 8 kali. Artinya, notional exposure bisa mencapai USD 3 hingga 5 miliar atau lebih.”

“Jadi kenapa tidak pernah kena margin call?” Celi kembali menekan.

“Karena posisi berjalan in the money,” jawab saya singkat. “Volatilitas tidak bergerak melawan posisi. Dengan DOC besar, maintenance margin tetap aman. Bahkan ketika mark-to-market selalu positif, variation margin justru masuk ke akun, bukan keluar.”

Ia mengangguk pelan, lalu bertanya lagi, “Bagaimana profitnya bisa sampai USD 3,2 miliar?”

Saya mengambil tablet dan mulai menjelaskan dengan visual lewat Keynote.

“Misalnya,” kata saya, “total exposure: Gold notional USD 5 miliar, Emerging Market notional USD 5 miliar, dan FX overlay USD 3 miliar. Jika emas naik 20 persen, EM naik 15 persen, dan Yen melemah 10 persen, maka secara kasar:

Gold gain = USD 1,0 miliar

EM gain = USD 0,75 miliar

FX gain = USD 0,3 miliar

Ditambah efek leverage, roll yield, dan derivative convexity, angka itu secara realistis bisa mencapai multi-billion dollar.”

Celi tersenyum kecil. ” Jelas ini bukan sesuatu yang bisa dilakukan trader retail.”

“Benar,” jawab saya. “Struktur ini pada dasarnya adalah Multi-Asset Macro Carry Strategy dengan elemen convexity trade. Ia menuntut riset makro yang sangat kuat, akses pembiayaan berbiaya rendah, serta kemampuan mengelola leverage secara disiplin.”

Saya menutup penjelasan dengan nada lebih reflektif.

“Secara arsitektur, ini adalah kombinasi posisi makro terarah dengan pembiayaan murah dan lindung nilai lintas aset. Emas dan Emerging Market diuntungkan oleh likuiditas global, short Yen menjadi sumber pendanaan sekaligus penambah imbal hasil, keterkaitan dengan Nasdaq menurunkan volatilitas portofolio, dan DOC yang besar menjaga stabilitas posisi tanpa tekanan margin.”

Celi mengangguk, lalu menyimpulkan dengan tenang,

“Jadi profit besar itu bukan karena satu instrumen, tapi karena sinkronisasi beberapa faktor makro yang bergerak searah.”

Saya tersenyum.

“Persis. Dan itulah inti dari strategi makro institusional.”

“Pertanyaan berikutnya,” kata Celi dengan suara lebih rendah, “mengapa posisi itu ditutup pada Januari?”

Saya menjawab tanpa tergesa. “Karena sejak awal 2026 mulai terlihat perubahan yang cukup jelas dalam arah aliran modal global. Siklusnya bergeser.”

Saya lalu menjelaskan dengan kerangka yang lebih sistematis.

“Data menunjukkan investor institusi mulai melakukan rotasi portofolio dari aset negara maju—khususnya AS—ke pasar non-AS, terutama Emerging Markets. Alasannya klasik tapi kuat: valuasi yang lebih murah dan prospek pertumbuhan yang relatif lebih tinggi.”

Saya menampilkan grafik di layar.

“Pada Januari 2026 saja, lebih dari USD 39 miliar mengalir ke dana ekuitas Emerging Market. Itu salah satu arus masuk terkuat dalam hampir dua dekade. Pemicu utamanya adalah pelemahan dolar AS dan kebutuhan investor global untuk melakukan diversifikasi geografis.”

Celi mengangguk sambil mencatat.

“Bahkan produk pasif pun ikut mencerminkan arah yang sama,” lanjut saya. “ETF berbasis Emerging Market mencatat inflow sekitar USD 14 miliar di awal tahun. Ini menandakan bahwa alokasi tersebut bukan keputusan oportunistik jangka pendek, melainkan pergeseran strategis dalam portofolio institusional.”

Saya berhenti sejenak, lalu menambahkan detail yang lebih teknis.

“Arus dana ke produk indeks besar juga melonjak. Salah satu contohnya, iShares Core MSCI Emerging Markets ETF mencatat inflow sekitar USD 3,3 miliar hanya dalam satu minggu. Itu sinyal kuat bahwa pemain besar—bukan retail—sedang menata ulang eksposurnya.”

Celi mengangkat kepala. “Jadi penutupan posisi itu bukan karena ada risiko baru?”

“Bukan,” jawab saya. “Justru karena fase siklusnya berubah. Ketika arus modal ke Emerging Market mulai deras, strategi yang optimal bukan lagi mempertahankan posisi awal, tetapi merealisasikan keuntungan dan menunggu struktur risiko berikutnya.”

Saya melanjutkan dengan nada lebih hati-hati.

“Perlu diingat, arus masuk ke Emerging Market tidak pernah merata. Investor institusi selalu selektif. Negara dengan tata kelola fiskal yang relatif solid, transparansi pasar yang baik, dan stabilitas kebijakan cenderung menjadi tujuan utama. Dalam fase ini, aliran dana banyak mengarah ke Brasil, Chile, Vietnam, India, China, Arab Saudi, serta beberapa pasar Asia lainnya.”

Celi terdiam sejenak, lalu bertanya pelan, “Bagaimana dengan Indonesia?”

Saya memilih kata-kata dengan hati-hati.

“Indonesia sebenarnya memiliki potensi fundamental yang baik—pasar domestik besar, sumber daya melimpah, dan peluang pertumbuhan jangka panjang. Namun dalam metodologi indeks global, potensi ekonomi bukan satu-satunya faktor.”

Saya membuka satu slide tambahan.

“Dalam indeks global seperti MSCI, yang sangat menentukan adalah investability. Dua elemen kuncinya adalah free-float yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan dan transparansi struktur kepemilikan.”

Saya menunjuk grafik di layar.

“MSCI menggunakan pendekatan free-float adjusted market capitalization. Artinya, hanya saham yang benar-benar dapat diakses investor publik yang dihitung dalam indeks. Jika terdapat persepsi bahwa free-float efektif rendah, struktur kepemilikan tidak transparan, atau akses pasar terbatas, maka bobot suatu negara bisa tertekan—bahkan berpotensi ditinjau ulang statusnya.”

Saya berhenti sejenak, membiarkan implikasinya meresap.

“Dalam praktiknya,” lanjut saya, “sinyal seperti ini sering kali sudah cukup bagi investor institusi untuk mengurangi eksposur sementara. Bukan karena prospek ekonomi hilang, tetapi karena standar market accessibility belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi global.”

Celi menatap saya dan berkata pelan, “Jadi keputusan investor itu bukan emosional.”

“Bukan,” jawab saya mantap.

“Ini respons rasional terhadap struktur risiko yang dapat diukur.”

Saya menutup notepad perlahan. Di ruangan itu, tidak ada nada dramatis—hanya kesadaran bahwa di balik pergerakan miliaran dolar, keputusan selalu dimulai dari disiplin membaca data, bukan dari keyakinan semata.

“Mengapa capital flow ETF sekarang justru menjadi indikator makro yang lebih kuat daripada data makro konvensional?” tanya Celi.

Saya membuka aplikasi Keynote di tablet dan memutarnya ke arah kami berdua. Pertanyaan itu saya tangkap sebagai pertanyaan yang sangat tepat—bahkan mendasar—dalam memahami cara kerja pasar modern.

“Pertanyaan ini bagus sekali,” kata saya pelan. “Karena dalam praktik pasar keuangan hari ini, arus dana ETF memang sering dibaca oleh pelaku institusi sebagai indikator makro yang lebih cepat, bahkan lebih jujur, dibandingkan data ekonomi resmi.”

Saya berhenti sejenak, memberi ruang agar penjelasan berikutnya tidak terdengar seperti ceramah.

“Ada beberapa alasan utama.”

Saya mulai dari fondasi yang paling dasar.

“Pertama,” kata saya, “data makro konvensional seperti Produk Domestik Bruto, inflasi, atau tingkat pengangguran, yang pada dasarnya adalah lagging indicators. Data-data itu dikumpulkan melalui survei, diolah dengan metodologi statistik, dan hampir selalu direvisi setelah publikasi. Artinya, ia menjelaskan kondisi masa lalu.”

Saya menggeser slide.

“Sebaliknya, arus dana ETF mencerminkan keputusan alokasi modal yang benar-benar terjadi di pasar. Ia bersifat real-time dan tidak bergantung pada asumsi statistik. ETF flow menunjukkan apa yang dilakukan investor dengan uangnya—bukan apa yang mereka katakan atau proyeksikan.”

Celi mengangguk.

“Kedua,” lanjut saya, “dalam struktur pasar global saat ini, institusi besar—sovereign wealth fund, dana pensiun, hedge fund, hingga global asset manager—menggunakan ETF sebagai instrumen utama untuk melakukan rotasi portofolio secara cepat.”

Saya menatapnya sebentar.

“ETF memberi eksposur instan ke suatu negara, sektor, atau kelas aset tanpa perlu membangun posisi saham satu per satu. Jadi ketika dana besar ingin berpindah dari Amerika Serikat ke Emerging Market, atau dari sektor growth ke value, ETF adalah kendaraan paling efisien. Karena itu, perubahan arus ETF secara langsung mencerminkan pergeseran strategi alokasi modal global.”

Saya berhenti sejenak, lalu melanjutkan ke lapisan berikutnya.

“Ketiga, ETF flow memiliki karakter leading indicator. Dalam banyak siklus historis, arus masuk dana ke ETF justru mendahului kenaikan harga indeks dan baru kemudian diikuti oleh perbaikan indikator ekonomi riil.”

Saya menggeser slide ke grafik historis.

“Pola ini terlihat, misalnya, pada reli komoditas pasca-2020, atau pada fase penguatan pasar India dan Brasil di siklus pemulihan sebelumnya. Dengan kata lain, ETF flow sering memberi sinyal lebih awal tentang arah pergerakan pasar.”

Celi terus mencatat.

“Keempat,” saya melanjutkan, “ETF flow mencerminkan perubahan risk appetite global hampir secara instan. Inflow besar ke ETF Emerging Market biasanya menandakan fase risk-on. Sebaliknya, pergeseran dana ke ETF obligasi pemerintah AS atau money market fund umumnya mengindikasikan kondisi risk-off.”

Saya tersenyum tipis. “Dalam konteks ini, ETF flow bisa dianalogikan sebagai denyut nadi likuiditas global.”

Saya kemudian masuk ke dimensi mekanis yang sering luput dibahas.

“Kelima, ETF indeks beroperasi mengikuti kerangka alokasi yang ditetapkan oleh penyedia indeks global seperti MSCI, FTSE, atau S&P. Ketika terjadi perubahan bobot indeks, dana yang mereplikasi indeks tersebut akan masuk atau keluar secara otomatis.”

Saya menunjuk grafik rebalancing.

“Mekanisme rebalancing ini membuat pergerakan ETF flow bersifat sistematis, berskala besar, dan berlangsung cepat. Ia bukan opini—ia adalah konsekuensi mekanis dari struktur indeks.”

Saya melanjutkan ke aspek keterkaitan lintas aset.

“Keenam, ETF flow menghubungkan berbagai kelas aset—valuta asing, obligasi, saham, hingga komoditas—dalam satu mekanisme transmisi. Ketika kondisi makro global berubah, misalnya dolar AS melemah, dampaknya sering kali langsung terlihat dalam peningkatan arus masuk ke ETF Emerging Market.”

Saya mengangguk pelan.

“Dengan demikian, ETF flow berfungsi sebagai jembatan antara dinamika makroekonomi dan pergerakan pasar keuangan.”

Terakhir, saya menutup dengan perbandingan metodologis yang lebih reflektif.

“Ketujuh, data makro konvensional memiliki keterbatasan waktu dan kualitas sinyal. PDB dirilis triwulanan dan sering direvisi, inflasi memiliki jeda publikasi, dan data ketenagakerjaan mengandung noise yang tinggi. Sebaliknya, data arus ETF tersedia secara harian dan mencerminkan transaksi riil.”

Saya menutup tablet.

“Karena itu, dalam praktik manajemen portofolio global, ETF flow sering diposisikan sebagai indikator yang lebih responsif terhadap perubahan kondisi pasar.”

Celi mengangkat wajahnya dan menyimpulkan dengan tenang, hampir seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri.

“Jadi, data makro menjelaskan apa yang telah terjadi. ETF flow membantu membaca apa yang sedang dan kemungkinan akan terjadi.”

Ia tersenyum kecil.

“ETF flow menjadi indikator makro yang kuat karena real-time, berbasis alokasi uang nyata, mencerminkan risk appetite global, bersifat leading terhadap siklus ekonomi, dan terhubung langsung dengan mekanisme indeks global.”

Saya mengangguk pelan.

“Persis,” kata saya. “Dan itulah sebabnya, di pasar modern, uang sering kali berbicara lebih cepat daripada statistik.”

“ Kan investor domestik cenderung menitikberatkan pada valuasi mikro seperti Price-Earnings Ratio atau dividend yield. Nah, Indikator mana yang dipantau dulu oleh trader global sebelum masuk Indonesia ? ” Tanya nya lagi.

“ Investor global menempatkan prioritas pada mobilitas modal, risiko likuiditas, dan kemampuan keluar dari pasar dengan biaya transaksi minimal. Indonesia bisa murah value sahamnya, tetapi jika USD kuat, MSCI risk muncul, IDR volatile. Ya asing walk away. Karena Investor global tidak mencari murah.
Mereka mencari tempat uangnya bisa keluar dengan aman. “ Kata saya.

Saya terdiam sejenak seraya menatapnya. “Cell, pasar global tidak menilai negara hanya dari pertumbuhan,” kata saya.
“Yang mereka ukur adalah likuiditas, keterbukaan informasi, dan konsistensi kebijakan. Karena di situlah aliran modal jangka panjang merasa aman. Mereka engga ada urusan dengan agenda politik.

Celi mengangguk.

Ia tahu, dalam dunia keuangan internasional, kredibilitas institusi sering kali lebih menentukan arah uang dibanding angka pertumbuhan semata. Celi tidak pernah datang tanpa pertanyaan. Dia engga tahu, kalau saya suka menjawab pertanyaannya sebenarnya saya sedang mengkader dia. Suatu saat dia akan datang ke saya dengan kesadaran untuk siap direkrut. Dia akan saya jadikan team shadow.

***

Dalam diskursus keuangan global, perhatian sering tersedot pada angka: pertumbuhan ekonomi, valuasi saham, yield obligasi, atau arus modal lintas negara. Namun di balik seluruh statistik itu, ada satu fondasi yang jarang dibahas secara terbuka—padahal justru menentukan arah uang jangka panjang. Itu adalah kejujuran struktural dan penghormatan terhadap aturan.

Pasar keuangan modern bukanlah ruang liar tanpa tata tertib. Ia adalah sistem kompleks yang dibangun di atas seperangkat aturan: transparansi data, konsistensi kebijakan, disiplin regulasi, dan kesetaraan akses informasi. Indeks global, ETF, mekanisme kliring, margin, hingga settlement internasional hanya dapat berfungsi jika pelaku pasar percaya bahwa aturan ditegakkan secara adil dan konsisten.

Dalam perspektif akademik, inilah yang disebut rule-based system. Pasar yang sehat bukan pasar yang selalu naik, melainkan pasar yang dapat diprediksi perilakunya karena aturannya dihormati. Investor institusional tidak menuntut kesempurnaan. Mereka menuntut kejujuran—bahwa data mencerminkan realitas, risiko tidak disamarkan, dan kebijakan tidak berubah karena kepentingan jangka pendek.

Di sinilah sering terjadi kesalahpahaman. Banyak negara, termasuk pasar berkembang, terjebak pada narasi bahwa pertumbuhan tinggi dan valuasi murah cukup untuk menarik modal global. Padahal, bagi investor internasional, pertanyaan utamanya jauh lebih mendasar ” Apakah uang saya bisa masuk dengan mudah? Dan apakah ia bisa keluar dengan aman?

Likuiditas bukan hanya soal volume transaksi, tetapi soal kepercayaan. Keterbukaan informasi bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan bahasa universal yang dipahami pasar global. Konsistensi kebijakan bukan isu teknokratis, melainkan sinyal etika institusional. Di titik ini, dimensi spiritual dari pasar mulai tampak. Mematuhi aturan bukanlah tanda kelemahan atau keterpaksaan, melainkan bentuk rasa hormat—kepada sistem, kepada sesama pelaku pasar, dan kepada generasi berikutnya. Kejujuran menciptakan kepercayaan. Kepercayaan menciptakan likuiditas. Dan likuiditas adalah syarat dasar pertumbuhan yang berkelanjutan.

Pasar global tidak menghukum negara yang tumbuh lambat. Ia menghukum negara yang tidak konsisten. Ia tidak alergi terhadap keterbatasan, tetapi sangat sensitif terhadap manipulasi. Uang dapat mentoleransi risiko ekonomi, namun jarang memaafkan risiko institusional. Karena itu, dalam dunia keuangan internasional, etika bukanlah pelengkap. Ia adalah infrastruktur tak kasat mata. Tanpanya, angka pertumbuhan hanya menjadi euforia sesaat, dan capital inflow berubah menjadi capital flight.

Pada akhirnya, pelajaran terpenting dari pasar global bukanlah bagaimana memaksimalkan keuntungan dalam satu siklus, melainkan bagaimana membangun reputasi jangka panjang. Dan reputasi, seperti dalam kehidupan, tidak lahir dari kecerdikan semata, tetapi dari keberanian untuk jujur—bahkan ketika kejujuran itu terasa mahal dalam jangka pendek. Di sanalah pasar menemukan kepercayaannya. Dan di sanalah uang memilih untuk tinggal.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

2 tanggapan atas “Investor asing lebih paham keadaan kita.”

  1. Kuliah gratis yang sangat mahal

    Suka

  2. Kejujuran adalah fondasi dari semua bangunan kebaikan, baik yg bersifat duniawi maupun ukhrowi.
    Lawan jujur adalah dusta. Segala sesuatu yg dibangun dengan kedustaan (dalam berbagai bentuknya: berbohong, manipulasi, berbelit-belit, mengaburkan atau menutup-nutupi fakta/ kesalahan, mengelak bertanggung jawab, mengingkari janji atau ucapan sendiri, mengklaim jasa/ prestasi/ hasil karya orang lain, dsb.), ibarat membangun istana pasir. Sekali ombak besar datang, maka bangunannya akan runtuh, tersapu bersih. Bila seseorang berdusta, maka untuk menutupi dustanya, dia akan membuat kedustaan baru. Orang yg sering berdusta, maka semakin sulit dibedakan apakah ybs. sedang berkata benar atau sedang berdusta.
    Ibarat bangunan bertingkat, kejujuran adalah lantai dasar (ground floor)-nya. Kita tidak bisa baik ke lantai 1, 2, dst. yg ada di atasnya, tanpa melalui lantai dasarnya.
    Jujur adalah prasyarat dari iman dan taqwa, modal dasar dalam membangun relasi antar manusia dan berbisnis. Jujur akan membangun trust antar sesama (di dalam keluarga, perusahaan, masyarakat, negara, bangsa, dan warga dunia) dan memudahkan mereka mencapai hasil yg membawa kebaikan/ manfaat bagi semua.

    Suka

Tinggalkan Balasan ke muhammad iskhaq Batalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca