Emas dan uang fiat.

Sahabat saya dari Singapore minta saya menjadi narasumber untuk mahasiswa paska sarjana yang sedang riset tentang hedge fund. Setelah sebulan, baru saya balas email,  Bahwa saya bersedia jadi narasumber.

“ Nama saya Susan Eng. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk saya, Pak,” katanya saat ketemu saya di Café di Central Park. “Saya menulis tesis tentang hedge fund dan perilaku mereka di tengah ketidakpastian global.”

Saya tersenyum tipis.

“Kalau begitu,” jawab saya pelan, “kita mulai dari satu hal yang sering disalahpahami, ketidakpastian.”

Ia mencondongkan badan, menekan tombol rekam. “ Boleh saya rekam? Katanya. Saya mengangguk.

“Dalam sistem keuangan modern,” saya mulai, “ketidakpastian jarang sekali bersifat netral. Ia bukan sekadar gangguan. Dalam sistem yang sangat terfinansialisasi seperti sekarang, ketidakpastian justru menjadi bahan baku utama bagi pengelola dana spekulatif, terutama hedge fund.”

Mahasiswa itu mengangguk.

“Jadi ketidakpastian bukan sesuatu yang dihindari?”

“Bukan,” jawab saya. “Bagi hedge fund, ketidakpastian adalah variabel yang dikelola. Dalam literatur macro trading, volatilitas adalah sumber alpha. Konflik geopolitik, ancaman tarif, fragmentasi perdagangan, ketidakpastian kebijakan moneter, semua itu menciptakan kondisi ideal bagi strategi global macro dan relative value.”

Saya berhenti sejenak, menyeruput kopi.

“Dan di dalam konteks itu,” lanjut saya, “emas dan surat utang negara bukan fenomena terpisah. Mereka adalah bagian dari strategi portofolio yang sama.”

“Ceritakan tentang emas, dan kaitanya dengan hedge fund ” pintanya.

“Emas,” saya tersenyum, “adalah aset narasi.”

Saya menjelaskan bagaimana hedge fund membangun safe haven trade ketika ketidakpastian global meningkat. Posisi long emas dibuka melalui futures, ETF, dan opsi. Leverage digunakan untuk memperbesar eksposur. Momentum harga dipercepat lewat trend-following strategies. Semua saya jelaskan lewat applikasi Keynote.

“Kenaikan harga emas,” kata saya, “tidak semata-mata didorong oleh permintaan fisik. Ia digerakkan oleh arus dana spekulatif, risk-off positioning, dan ekspektasi bahwa bank sentral akan bersikap lebih akomodatif.”

Ia mau catat.

“ Engga usah catat” Kata saya. “ Setelah ini, saya kirim email ke kamu apa yang saya tulis di Keynote.” Sambung saya. Dia mengangguk dan tersenyum.

“Dalam kerangka ini,” saya menegaskan, “emas naik bukan karena pasokan–permintaan, tapi karena cerita ketidakpastian. Ia menjadi simbol ketakutan global.”

“Lalu gimana kaitannya  dengan obligasi?” tanyanya.

“Saat emas naik,” jawab saya, “di sisi lain hedge fund mengeksploitasi pasar surat utang negara, terutama di negara berkembang atau negara dengan fundamental fiskal rapuh.”

Ketidakpastian global meningkatkan risiko pembiayaan, volatilitas arus modal, dan sensitivitas terhadap suku bunga global. Dengan strategi short duration, curve steepening, atau CDS positioning, hedge fund memperlebar spread obligasi dan mendorong kenaikan yield. Saya jelaskan lewat Keynote lagi.

“Semakin tidak pasti dunia,” saya berkata tenang, “semakin besar risk premium yang diminta pasar.”

Ia mengangkat alis.

“Bukankah itu berbahaya?”

“Salah arah melihatnya,” saya jawab. “Bagi hedge fund, yield tinggi justru peluang.”

Obligasi ber-yield tinggi membuka carry trade dengan lindung nilai, distressed debt strategy, dan arbitrase antara pasar primer, sekunder, dan derivatif. Risiko negara dikonversi menjadi sumber imbal hasil. Saya jelaskan lewat Keynote.  Saya lalu menggambar skema sederhana.

“Yang sering luput diperhatikan adalah dual trade,” kata saya. “Long gold sebagai lindung nilai ekstrem, dan short atau selective long bonds untuk mengejar yield tinggi. Kombinasi ini menciptakan tekanan psikologis pada negara penerbit utang, volatilitas nilai tukar, dan memaksa penyesuaian kebijakan moneter domestik. “ kata saya.

Dia terhenyak. “ segitunya cara berpikir Hedge fund? Tanyanya mengerutkan kening.

“ Ya, Negara harus membayar mahal untuk stabilitas,” saya berkata datar, “ Mana ada yang gratis.” Sambung saya.

“ Sementara hedge fund memonetisasi ketegangan itu.” Katanya. Saya mengangguk tampa ekspresi.

Ia terdiam ketika saya melanjutkan.

“Strategi ini bekerja karena asimetri struktural. Negara maju, terutama AS, punya pasar obligasi terdalam dan mata uang global. Negara berkembang menjadi shock absorber volatilitas global.”

“ Dan US Treasury tetap menjadi aset aman. Negara lain harus menawarkan yield lebih tinggi. “ Katanya menyimpulkan. Cerdas anak ini.

“Dalam sistem ini,” saya menatapnya, “ketidakpastian tidak merusak mata uang utama global. Ia diproyeksikan ke negara berkembang”

“ Bagaimana implikasinya terhadap makroekonomi? Tanyanya.

“ Ya, biaya utang naik, ruang fiskal menyempit, belanja produktif tertekan. Sementara bagi pengelola dana global, volatilitas adalah sumber keuntungan, ketidakpastian adalah aset, dan risiko negara adalah komoditas finansial. “

“Jadi ini bukan sekadar dinamika pasar?” tanyanya sesuatu yang dia sudah tahu jawabannya.

“Bukan,” jawab saya. “Ini arsitektur.”

“ Apa bisa pak beri contoh konkrit kasus pada negara” Pintanya. “ Agar saya lebih paham untuk berburu referensi melengkapi tesis saya.

Saya terdiam sebentar. Akhirnya saya menghela napas. “ OK, kita mulai dari Indonesia. Kata saya.

“Dalam periode ketidakpastian global,” saya jelaskan, “Indonesia menghadapi mekanisme klasik emerging market.”

Kembali saya jelaskan lewat Keynote. Long gold sebagai lindung nilai global. Short duration dan curve steepener pada SBN. Eksposur melalui CDS Indonesia dan obligasi USD-denominated.

“Yield SBN naik lebih cepat dari fundamental,” saya tekankan. “Spread melebar. Pemerintah dipaksa membayar imbal hasil lebih tinggi.”

Yield tinggi, saya tekankan lagi, bukan sinyal kekuatan, melainkan harga stabilitas. Saya jelaskan secara quantitive lewat Keynote. Dia paham.

Saya diam sebentar untuk seruput kopi dan isap rokok. “ Contoh lain, Korea Selatan.” Lanjut saya.  Saya menjelaskan bagaimana status negara maju pun tidak kebal. Ketergantungan ekspor, ketegangan geopolitik, dan keterikatan supply chain membuatnya tetap rentan. Hedge fund menekan obligasi jangka menengah dan memanfaatkan volatilitas derivatif.

“Ini bukti,” saya berkata, “bahwa dalam fase ketidakpastian global, status formal tidak menjamin perlindungan.”

“ Contoh lain, Brasil “ Lanjut saya. “ Ia menjadi magnet yield. Volatilitas didorong, lalu dana masuk kembali saat yield cukup tinggi. Argentina menjadi contoh ekstrem bagaimana distressed debt menjadi komoditas. Meksiko menjadi permainan relative value terhadap US Treasury. “

“Pola selalu sama,” katanya simpulkan. “Ketidakpastian diperbesar, lalu dimonetisasi.”

Saya mengangguk. Saya menatap keluar jendela, lalu berkata pelan:

“Dalam arsitektur keuangan global hari ini, ketidakpastian bukan sekadar konsekuensi geopolitik. Ia adalah model bisnis.”

Emas menjadi simbol ketakutan global. Surat utang negara menjadi ladang yield tinggi. Dan di antara keduanya, hedge fund berdiri paling siap memanen ketegangan. Sementara negara berkembang seperti Indonesia ada di pinggiran sistem harus membayar biaya penyesuaian yang nyata.

Ia mematikan alat rekam. “ Terimakasih pak. “ Katanya. “  Tapi mengapa bapak bisa hapal rumus quantitative dan sangat presisi hitungan statisti. “ Tanyanya. 

“ Aplikasi Keynote saya dirancangkan terhubung dengan Harvard Manager. Jadi kalau saya mau buat simulasi, saya tinggal sebut satu kalimat yang hendak saya tuju, otomatis rumus keluar dan ketika saya masukan angka simulasi, otomatis hitungannya keluar.” Kata saya.

Dia tersenyum.

“ Saya tidak terpelajar. Saya hanya tamatan SMA. Tapi berkat IT, orang seperti saya bisa terbantu. “

“ Bapak terlalu merendah.” Katanya tersenyum. “ Apa nasehat bapak untuk saya.”

Saya menghela napas. Kemudian saya berkata. “ Ada satu kesalahpahaman yang sering muncul pada mereka yang berambisi masuk ke dunia keuangan tingkat tinggi. Mereka mengira tujuan akhirnya adalah uang. Kekayaan. Angka. Padahal dalam pengalaman panjang para pelaku yang bertahan, uang tidak pernah menjadi tujuan. Ia hanyalah alat, alat yang keras, jujur, dan sering kali tidak berbelas kasih.

Dalam dunia bisnis dan pasar keuangan, uang bekerja seperti cermin. Ia tidak mengubah siapa diri kita, tetapi memperbesar apa yang sudah ada. Keserakahan menjadi lebih jelas. Ketakutan menjadi lebih nyata. Kesombongan menemukan suaranya. Karena itu, uang adalah guru yang paling efektif sekaligus paling berbahaya. Ia mengajarkan disiplin bukan melalui nasihat, tetapi melalui konsekuensi.

Pasar tidak memiliki moral. Ia tidak mengenal niat baik atau keadilan. Harga bergerak karena likuiditas, ekspektasi, dan rasa takut kolektif. Memasukkan moralitas ke dalam pergerakan harga adalah kesalahan awal yang sering dilakukan pemula. Bukan karena moral itu salah, melainkan karena ia ditempatkan di ruang yang keliru. Moral adalah kompas hidup, bukan alat navigasi harga. Ketika dua hal ini tercampur, emosi mengambil alih keputusan, dan di situlah kerugian biasanya dimulai.

Namun, memisahkan moral dan realitas bukan berarti menanggalkan nurani. Justru sebaliknya. Nurani dijaga agar tidak dikorbankan demi profit sesaat. Ia ditempatkan di wilayah yang lebih dalam: cara hidup, cara memperlakukan orang lain, cara memaknai keberhasilan. Di hadapan layar perdagangan, yang dibutuhkan bukan penilaian moral, melainkan kejujuran terhadap risiko.

Uang menguji manusia secara paradoksal. Bukan ketika ia hilang, tetapi ketika ia datang dengan mudah. Keuntungan cepat sering melahirkan ilusi keunggulan diri. Ego mulai merasa pintar, istimewa, bahkan kebal. Padahal di situlah banyak karier runtuh. Bukan karena pasar terlalu kejam, tetapi karena manusia gagal menahan dirinya sendiri. Dalam istilah teknis, ini bukan kegagalan strategi, melainkan kegagalan karakter.

Kerendahan hati terhadap uang bukanlah sikap pasif atau takut mengambil risiko. Ia adalah bentuk manajemen risiko paling mendasar. Kerendahan hati berarti memahami bahwa satu transaksi tidak mendefinisikan nilai diri. Bahwa bertahan lebih penting daripada menang besar. Bahwa tujuan utama bukan membuktikan siapa yang paling benar, tetapi memastikan sistem yang kita bangun cukup kuat untuk menghadapi siklus yang tidak bisa kita kendalikan.

Dalam dunia hedge fund dan bisnis strategis, yang dicari bukan kejeniusaan sesaat, melainkan ketahanan jangka panjang. Ini adalah disiplin spiritual yang jarang dibicarakan. Menerima bahwa tidak semua peluang harus diambil, tidak semua kerugian harus dilawan, dan tidak semua kemenangan harus dirayakan. Ada kebijaksanaan dalam menahan diri, dan itu sering kali lebih sulit daripada bertindak.

Pada akhirnya, uang hanya akan tunduk kepada mereka yang tidak berusaha memilikinya secara berlebihan. Mereka yang menjadikannya alat akan mampu mengaturnya. Mereka yang menjadikannya tujuan akan dikejar olehnya tanpa henti. Dan dalam pengejaran itu, banyak yang kehilangan arah.

Pasar tidak membutuhkan siapa pun. Uang tidak mengenal nama, gelar, atau niat baik. Yang diuji bukan kecerdasan, melainkan kedewasaan. Bukan seberapa cepat seseorang menghasilkan uang, tetapi seberapa tenang ia tetap menjadi dirinya sendiri ketika uang datang dan pergi.

Di situlah bisnis bertemu spiritualitas. Bukan dalam pengingkaran terhadap dunia, tetapi dalam penguasaan diri di tengah dunia yang bergerak tanpa belas kasihan. Dan hanya mereka yang mampu menjaga ketenangan batin di tengah volatilitas yang akan berjalan lebih jauh, lebih sunyi, dan lebih utuh. “

Dia terdiam dan terhenyak. “ Dalam situasi seperti itu, bagaimana mengelola nurani? Tanyanya.

“Nurani itu Anda bawa pulang ke rumah—ke keluarga, ke kehidupan pribadi, dan ke saat-saat sunyi ketika Anda berdiri di hadapan Tuhan. Di sanalah nilai diuji, niat diluruskan, dan makna hidup dirawat. Namun ketika Anda duduk di depan layar terminal trading, Anda harus jujur pada realitas. Tunduk pada hukum sunnatullah—hukum kausalitas yang bekerja tanpa emosi dan tanpa kompromi. Pasar tidak menilai niat, ia hanya membaca akibat.

Dalam hukum ini, orang yang rakus akan dimakan oleh mereka yang sabar. Orang yang hanya pintar akan dikalahkan oleh mereka yang lebih cerdas. Dan mereka yang paling cerdas pun, pada akhirnya, bisa tumbang oleh egonya sendiri jika kehilangan kesadaran diri. Itulah keseimbangan yang harus dijaga. Hati tetap tunduk kepada Tuhan, pikiran tetap patuh kepada realitas, dan ego selalu diawasi. Karena di dunia yang bergerak oleh sebab dan akibat, bukan kepintaran yang menentukan kelangsungan, melainkan kedewasaan.” Jawab saya.

“ Terimakasih pak, Nasehat yang sangat menyentuh “ Katanya. Saya panggil waitress untuk bayar bill. “ I wish you success, and may you one day find a firm ground on which your talent can truly stand.” Kata saya  dan berlalu.

***

Emas dan USD

Kenaikan harga emas ke level tertinggi sepanjang sejarah bukan sekadar dinamika pasar komoditas. Ia adalah indikator ketakutan sistemik (systemic fear indicator). Sebuah sinyal bahwa kepercayaan terhadap stabilitas tatanan ekonomi global kembali tererosi. Dalam perspektif ekonomi politik internasional, fenomena ini tidak berdiri sendiri dan tidak netral. Ironisnya, sumber utama ketidakpastian tersebut justru berasal dari negara yang selama beberapa dekade berperan sebagai penjamin stabilitas global. Yaitu AS. Namun pada saat yang sama, ketidakpastian inilah yang secara paradoks mereproduksi dominasi struktural Amerika Serikat dalam sistem moneter internasional, dengan dolar AS tetap bertahan sebagai ruling currency.

Ketidakpastian Global sebagai Determinan Harga Emas

Dalam teori moneter klasik maupun pasca-Keynesian, emas berfungsi sebagai store of value of last resort. Harga emas cenderung meningkat ketika tiga kondisi muncul secara simultan meningkatnya risiko geopolitik, ketidakpastian kebijakan makroekonomi, dan melemahnya kepercayaan terhadap mata uang fiat. Ketiga kondisi tersebut kini hadir bersamaan.

Kebijakan Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir. Mulai dari ancaman tarif sepihak, sanksi ekonomi ekstrateritorial, hingga eskalasi konflik geopolitik, telah meningkatkan apa yang dalam literatur disebut sebagai policy-induced uncertainty. Ketika kebijakan global menjadi sulit diprediksi dan rezim perdagangan internasional mengalami fragmentasi, pasar merespons dengan beralih ke aset yang dianggap bebas dari risiko yurisdiksi dan politik. Dalam konteks inilah emas kembali memainkan peran historisnya. Namun penting dicatat, bahwa emas hari ini bukan hanya logam, melainkan instrumen finansial.

Emas Kertas dan Finansialisasi Ketakutan

Lebih dari 95% perdagangan emas global berlangsung dalam bentuk emas kertas (paper gold), melalui futures, options, ETF, dan kontrak OTC. Dengan rasio klaim finansial terhadap emas fisik berkisar 50 : 1 hingga 100 : 1. Implikasinya krusial berupa ketakutan global tidak mendorong penarikan emas fisik,tetapi mendorong lonjakan transaksi kontrak emas, yang hampir seluruhnya diselesaikan dalam dolar AS.

Dengan demikian, emas tidak berfungsi sebagai pelarian dari sistem dolar, melainkan sebagai kanal internal bagi ketakutan global untuk tetap berputar di dalam sistem dolar. Ketika dunia “lari ke emas”, yang sesungguhnya terjadi adalah lonjakan permintaan likuiditas USD untuk margin, kliring, dan settlement. Paradoks inilah yang sering luput dari pembacaan populer.

Kerentanan Global dan Pengecualian Struktural Amerika Serikat.

Ketidakpastian global berdampak asimetris terhadap negara-negara di dunia. Negara berkembang menghadapi volatilitas arus modal dan tekanan nilai tukar. Negara maju non-AS dibatasi oleh masalah fiskal struktural dan tekanan demografis. Mata uang regional kehilangan daya tahan sebagai penyimpan nilai jangka panjang. Amerika Serikat, sebaliknya, tampil sebagai pengecualian struktural.

Dengan cadangan emas sekitar 8.133 ton—terbesar di dunia—AS memiliki posisi unik. Emas tersebut tidak digunakan secara operasional untuk membayar utang atau menutup defisit fiskal. Fungsinya lebih fundamental: sebagai jangkar kepercayaan terakhir (ultimate reserve of confidence). Negara lain membutuhkan emas untuk bertahan hidup dalam krisis. Amerika Serikat memilikinya sebagai opsi ekstrem yang hampir tidak pernah perlu diaktifkan.

Paradoks Sistemik.

Fenomena ini mencerminkan paradoks inti sistem moneter global kontemporer. Ketika ketidakpastian meningkat, harga emas naik. Ketika emas naik, dolar AS tidak runtuh. Ketika dolar tetap dominan, posisi Amerika Serikat sebagai pusat sistem justru menguat. Alih-alih menghancurkan sistem dolar, ketidakpastian global memperkokoh hegemoninya. Modal global tetap mengalir ke US Treasury sebagai aset aman paling likuid, sementara emas naik sebagai lindung nilai ekstrem. Kenaikan simultan kedua aset ini bukan tanda sistem yang sehat, melainkan sistem yang bertahan karena ketiadaan alternatif yang kredibel.

Deja Vu 1944: Logika Bretton Woods Tanpa Perjanjian

Situasi ini mengingatkan pada tahun 1944. Dunia pasca-Perang Dunia II berada dalam kondisi runtuh, cadangan emas terkonsentrasi di Amerika Serikat, dan sistem moneter internasional membutuhkan jangkar stabilitas. Hasilnya adalah Bretton Woods: dolar dipatok ke emas, mata uang lain dipatok ke dolar, dan Amerika Serikat menjadi pusat sistem.

Hari ini, meskipun tanpa gold standard formal, logika kekuasaan yang sama kembali bekerja. Emas kembali menjadi pusat kepercayaan, cadangan emas tetap terkonsentrasi di Amerika Serikat, dan dolar kembali berfungsi sebagai ruling currency—bukan karena keutamaan normatif, melainkan karena ketiadaan substitusi sistemik yang sebanding.

Kesimpulan

Kenaikan harga emas saat ini harus dibaca sebagai sinyal historis, bukan sekadar pergerakan pasar. Dunia kembali memasuki fase ketidakpastian sistemik yang membuat hampir semua negara berada dalam posisi rentan. Dalam konteks ini, Amerika Serikat—dengan cadangan emas terbesar dan kendali atas mata uang global—kembali menempati posisi unggul. Sebagaimana pada 1944, ketidakpastian tidak melemahkan Amerika Serikat. Ia justru mereproduksi kepemimpinan AS dalam tatanan moneter internasional. Emas naik karena dunia takut. Dolar bertahan karena dunia masih bergantung. Dan dari krisis inilah, kepemimpinan global kembali ditegaskan. Bukan melalui stabilitas, melainkan melalui ketegangan yang terus direproduksi.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Satu tanggapan untuk “Emas dan uang fiat.”

  1. Diawal tahun saya prediksi harga emas akan sampai 5000 tetapi mungkin diakhir tahun…. ehhh masih Januari saja sudah ATH

    Suka

Tinggalkan Balasan ke MKGinting Batalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca