Menguasai arus…

Jakarta. Sore itu safehouse tenggelam dalam cahaya senja yang redup. Dinding beton tebal menyimpan suara kota di luar, seolah dunia lain sedang berlangsung tanpa perlu diketahui siapa pun di ruangan ini. Minggu lalu B minta George CEO Ale Capital di London untuk mengirim team shadow ke Jakata, Mia, Moni dan Lastri. Hari ini jadwal mereka datang.

Moni dan Mia datang hampir bersamaan. Pakaian kasual, gerak tubuh santai, terlalu santai untuk ukuran dua orang yang tahu benar arti sebuah “cuti” dari B.

“Kalian dapat cuti dua minggu,” kata B tanpa menoleh dari layar.
“Sampai awal minggu pertama 2026.”

Moni dan Mia saling pandang. Mereka mengangguk. Tidak bertanya. Tidak tersenyum berlebihan. Mereka tahu, ini bukan liburan. Ini jeda sebelum medan baru dibuka.

Tak lama kemudian, pintu terbuka lagi. Lastri masuk. Mia dan Moni memeluknya bergantian. Pelukan saling merindukan. Mereka punya latar belakang berbeda, namun esensinya sama. Sama sama orang yang pernah terabaikan dan terhina oleh kehidupan yang tidak ramah, dan B temukan mereka di jalanan. B memperhatikan dari kejauhan, senyum tipis di sudut bibirnya.

“Moni dan Mia sempat setahun bareng Lastri di AMG-New York, Waktu dia magang” kata Mia sambil menatap B.
“Habis itu Lastri dapat program sekolah di Swiss. Lanjut pelatihan Praha.”

“Ya,” sambung Moni. “Kami juga pernah ikut pelatihan itu.”

“ Ya, kalian senior saya.” Kata Lastri.

“ Tapi kamu lulus terbaik selama Ale capital adakan program pelatihan. “ serga Mia. Lastri hanya tersenyum. Senyum orang yang tahu, keunggulan sejati tidak perlu diumumkan.

“Setelah Praha, Lastri gabung Ale Capital Swiss, terus ke London,” lanjut Moni.
“Lima tahun kemudian, kami ketemu lagi di New York. Kali ini dia sudah punya kantor sendiri. Tapi kita jarang ketemu. Lastri sibuk banget. Dia banyak travelling ke Afrika dan Amerika Latin.’

“I got a mission from B, but things aren’t that hectic anymore since the Ale Capital team is fully on board now. Hopefully, in about three months, the Yuan team can join the roundtable meeting and wrap things up.”” jawab lastri melirik B.

B mengangguk.
“Oke,” katanya singkat. “Kita mulai briefing.”

Suasana berubah seketika. Tidak ada lagi keakraban. Tidak ada lagi nostalgia.

B berdiri, mematikan layar terminal, lalu menyalakan layar besar di dinding. “ Yuan Holding punya unit bisnis mineral dan energi. Selama ini Yuan  mengelola bisnis mineral dan energi lewat ekosistem supply chain untuk industry bateray, electronic. Selama ini baik baik saja. Namun keadaan kedepan akan lebih rumit. Karena sumber daya mineral kritis sudah masuk perang geopolitik antara AS dan China. Tidak lagi dalam tataran diplomasi lewat Lembaga multilateral, seperti WTO dan lainnya. Tetapi lewat perang dagang frontal. Head to head.

B menyandarkan tubuhnya di kursi dan menatap mereka satu persatu.” Tugas kalian amakan posisi masa depan Yuan. Caranya? Kuasai bisnis aggregator lewat M&A. Pastikan saat Yuan masuk secara formal negosiasi dengan pihak target,  semua hambatan sudah bersih “ Katanya

B menekan tombol berikutnya. Layar menampilkan skema yang lebih teknis. Peta aliran barang, data, dan pembayaran.

“Agregator itu bukan sekadar logistik,” kata B. “Dia coordination layer.” Ia menunjuk diagram. “Profil teknisnya begini. Pertama. Physical Layer.
Mereka punya kontrak pengangkutan, konsolidasi, dan gudang transit. Tapi aset fisik bukan sumber kekuatan utama. Yang penting adalah hak kontrol atas slot. Jadwal kapal, kapasitas kontainer, dan prioritas muat-bongkar di pelabuhan. Dalam mineral, satu minggu keterlambatan bisa mengubah harga dan penalti kontrak.


Kedua. Contract Layer.
Agregator ini memegang kontrak multi-party—dengan tambang, smelter, trader, dan end-buyer. Mereka mengunci hubungan lewat take-or-pay clauses. Artinya kalau volume tak terkirim, tetap bayar,
quality adjustment formulas. Mereka menentukan value harga terhadap kadar Ni/Co/Cu,  delivery windows yang menentukan penalti dan premi.


Ketiga. Data Layer. Ini yang paling mahal. Agregator mengumpulkan data yang orang lain tidak punya dalam satu layar, Seperti posisi stok real-time  atau stockpile & warehouse reconciliation),
kualitas batch per lot meliputi assay, moisture, impurity, ETA kapal dan deviasi rute,
histori delay, klaim, dan dispute.
Data ini adalah sumber pricing power. Karena data mengurangi ketidakpastian.


Keempat. Finance Layer.
Mereka terhubung ke pembiayaan perdagangan. Ada invoice, LC, SBLC, factoring, dan supply chain finance. Mereka tahu siapa yang kekurangan likuiditas, siapa yang mulai gagal bayar, siapa yang ‘sehat’ hanya karena rollover.
Dalam rezim suku bunga tinggi, siapa yang menguasai pembiayaan rantai pasok menguasai napas industry.

Kelima. Compliance/ESG Layer.
Di era sekarang, agregator menjadi pintu ‘legitimasi’ traceability atas asal-usul material,  chain of custody dokumen, audit pemasok,
 jejak karbon logistik dan energi proses.
Bagi buyer Barat, tanpa itu barang bisa ditolak. Bagi bank, tanpa itu pembiayaan bisa dihentikan. Jadi agregator bukan cuma pengantar barang, dia penjaga pintu uang.”


B berhenti. Membiarkan mereka menelan.

“Kalau kita kuasai aggregator,” lanjut B pelan, “kita bisa mengatur arus tanpa terlihat mengatur. Kita bisa menggeser prioritas pengiriman, menahan volume, mempercepat tertentu—tanpa sekali pun mengubah kepemilikan tambang.”

Lastri mengangguk kecil. Ia paham. Ini bukan sekadar akuisisi. Ini penguasaan simpul.

B mengirim file terenkripsi ke akun secure email Safenet mereka satu per satu. “Baca profile target dan pahami protokolnya,” kata B. “Di dalamnya ada struktur pemegang saham,
 daftar klien top-10 dan ketergantungan pendapatan,
pola cash conversion cycle,
kontrak kunci dan klausul penalti,
eksposur kredit dan undisbursed facilities,
dan peta relasi mereka dengan regulator.”


Mereka mengangguk serempak.

B menatap mereka tajam.
“Paham?”

“Yes, sir,” jawab mereka hampir bersamaan.

B mengangguk pelan. “Bagus,” katanya. “Karena mulai minggu pertama 2026… misi kalian di aktivasi oleh London.” Ia berhenti sejenak. “ Markas kalian di Singapore. Nanti George akan atur pendirian SPV disana.  Laksanakan tugas kalian dengan baik dan jaga kesehatan.” Lanjutnya.

Ruangan kembali hening.
Dan dalam hening itu, mereka tahu, permainan sebenarnya baru akan dimulai. Bukan di tambang, bukan di meja diplomasi, melainkan di simpul yang mengendalikan arus dunia.

***

Kesokan malamnya B bertemu mereka di restoran di Kawasan Kota Tua Jakarta. Ini dalam rangka menyamakan persepsi. Malam itu Kota Tua berpendar redup. Lampu-lampu tua memantulkan bayangan bangunan kolonial yang seolah masih menyimpan rahasia masa lalu. Tentang kekuasaan, dagang, dan siapa yang sebenarnya mengatur arus dunia.

B duduk santai, punggungnya bersandar pada kursi rotan. Sebatang cerutu menyala di antara jemarinya. Asap naik perlahan, seperti waktu yang sengaja diperlambat. “Bagaimana perspektif kalian?” tanya B ringan usai makan, seolah ini hanya obrolan biasa selepas makan malam.

Lastri menatap gelasnya sejenak, lalu mengangkat kepala. “Persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok hari ini,” katanya pelan, “tidak lagi dipertarungkan lewat tarif atau retorika dagang. Sejak pertengahan 2010-an, medannya bergeser ke lapisan yang lebih dalam—dan lebih sunyi.” Ia berhenti sebentar, memastikan semua mendengar. “Penguasaan mineral kritis,” lanjutnya, “nikel, tembaga, kobalt, lithium. Fondasi industri energi, teknologi, dan pertahanan abad ke-21.”

Moni mengangguk, lalu menyambung tanpa ragu. “Menurut World Bank 2020 dan IEA 2023 jelas,” katanya. “Transisi energi itu mineral-intensive, bukan energy-light. Tanpa pasokan mineral yang stabil, tidak ada baterai EV, tidak ada grid penyimpanan, tidak ada sistem persenjataan modern.”

Mia menyilangkan tangan. “Artinya,” katanya, “ini bukan kompetisi komoditas biasa. Ini pertarungan arsitektur industri global.”

B tidak menyela. Ia hanya mengisap cerutunya perlahan.

Lastri melanjutkan, suaranya tenang tapi tajam. “Dalam ekonomi politik klasik, mineral hanyalah factors of production. Tapi dalam ekonomi geopolitik kontemporer, mineral kritis sudah berubah menjadi aset keamanan nasional.”

Ia menatap B sejenak, lalu ke Moni dan Mia. “Ketergantungan industri pada input yang terkonsentrasi secara geografis menciptakan strategic vulnerability yang tidak bisa diselesaikan pasar.”

“Dan Amerika paham itu,” kata Moni cepat. “Inflation Reduction Act bukan sekadar kebijakan iklim. Itu industrial statecraft. Subsidi, konten lokal, syarat asal material. Semuanya dirancang untuk memastikan rantai pasok tidak bergantung pada rival strategis.”

Mia tersenyum miring. “China beda,” katanya. “Mereka datang lebih awal. Sejak awal 2000-an, mereka bangun keunggulan lewat volume, kecepatan, integrasi vertikal. Tambang, smelter, manufaktur. Semua diikat.” Ia menghela napas. “Strategi itu efektif di era globalisasi lama. Tapi rezim itu sudah retak.”

Lastri mengangguk. “Masalahnya,” katanya, “persaingan AS–China ini asimetris. China main volume dan kecepatan lewat skema pre-financing, resource-backed loans, menyerap risiko politik negara sumber mineral kritis, menekan harga lewat overcapacity.” Ia berhenti sejenak. “Amerika main standar dan legitimasi. ESG sebagai financial screening mechanism. Traceability sebagai tiket masuk pasar. Keamanan pasokan sebagai bagian dari kebijakan industri dan pertahanan.”

Moni menimpali, setengah tersenyum. “Rodrik sudah bilang lama. Kekuasaan ekonomi jangka panjang bukan soal siapa produksi paling banyak, tapi siapa yang menetapkan aturan institusional.”

Mia mengangguk pelan. “Jadi kemenangan bukan soal siapa paling banyak menggali,” katanya, “tapi siapa yang menentukan aturan main.”

B akhirnya bicara. “Lalu Indonesia?” tanyanya pelan.

Lastri menarik napas. “ Indonesia tidak kekurangan gagasan. Dalam dua dekade terakhir, hampir semua dokumen kebijakan menyebut kata yang sama soal hilirisasi, nilai tambah, industrial upgrading. Di atas kertas, konsepnya tampak sempurna. Namun di lapangan, hasilnya jauh dari harapan. Hilirisasi berjalan dangkal, rapuh, dan sering kali hanya menjadi slogan. Masalahnya bukan pada niat, melainkan pada struktur kekuasaan dan pembiayaan yang timpang.

Ambil contoh sektor sawit. Pemerintah mendorong downstreaming CPO, tetapi realitasnya sebagian besar pengusaha nasional tidak memiliki modal, teknologi, maupun akses pasar untuk membangun industri hilir yang kompleks seperti oleokimia, material maju, atau bio-resin. Perbankan nasional pun enggan menanggung risiko proyek jangka panjang berteknologi tinggi. Akibatnya, proyek hilir berhenti di level sederhana dan ber-margin rendah.

Sementara itu, arus keuntungan justru mengalir ke luar negeri. Banyak kebun sawit di Indonesia dibiayai modal asing, terutama dari Singapura. Indonesia menjadi lokasi produksi, tetapi pusat pembiayaan, perdagangan, dan pengambilan keputusan berada di luar negeri. Pengusaha lokal sering kali hanya berperan sebagai perantara—menghubungkan konsesi dengan investor—bukan sebagai pemilik teknologi atau pengendali rantai nilai.

Situasi serupa terjadi di sektor mineral kritis, termasuk batubara. Retorika hilirisasi digaungkan keras, tetapi modal, teknologi, dan pasar tetap dikendalikan pihak asing. Smelter memang dibangun, namun ekosistem industrinya tidak sepenuhnya dikuasai nasional. Akibatnya, nilai tambah yang sesungguhnya tetap mengalir ke luar negeri, sementara Indonesia menanggung biaya sosial dan ekologis.

Ironinya, beban lingkungan justru dipikul oleh pelaku lokal. Pemegang IUP tambang dan HGU sawit menjadi sasaran kemarahan publik akibat kerusakan lingkungan dan konflik sosial. Padahal dalam banyak kasus, mereka hanyalah mata rantai paling lemah dalam struktur global yang dikendalikan oleh pembeli dan pemodal besar dari luar negeri.

Lebih ironis lagi, aktor asing yang menjadi pembeli utama komoditas Indonesia sering tampil sebagai “penjaga moral lingkungan”. Dengan standar ESG dan kampanye deforestasi, mereka menekan harga, menyaring pasokan, dan menempatkan diri sebagai hakim etika global. Akibatnya, harga komoditas jatuh, sementara keuntungan justru dinikmati di hilir—di negara mereka sendiri.

Indonesia pun terjebak dalam paradoks. Sumber daya dieksploitasi, lingkungan rusak, pajak terbatas, tetapi nilai tambah tidak tinggal di dalam negeri. Ketika penerimaan negara melemah, utang meningkat. Ketika kemiskinan muncul, ia ditutupi oleh narasi pertumbuhan. Yang terjadi bukan industrialisasi sejati, melainkan ilusi kemajuan.

Persoalan mendasarnya adalah kegagalan membangun arsitektur industri nasional yang utuh. Hilirisasi tidak cukup dengan larangan ekspor atau pembangunan pabrik. Ia membutuhkan pembiayaan jangka panjang, penguasaan teknologi, riset, perlindungan pasar domestik, serta keberanian negara menjadi risk taker. Tanpa itu, hilirisasi hanya menjadi slogan politik.

Lebih dari itu, diperlukan keberanian untuk mendefinisikan ulang relasi Indonesia dengan modal global. Selama kita hanya menjadi pemasok bahan mentah dan pasar konsumsi, posisi tawar akan selalu lemah. Negara harus hadir bukan sekadar sebagai regulator, tetapi sebagai arsitek industrialisasi—mengatur pembiayaan, mengarahkan teknologi, dan memastikan nilai tambah tinggal di dalam negeri.

Kita tidak kekurangan sumber daya. Kita juga tidak kekurangan konsep. Yang kurang adalah konsistensi, keberanian struktural, dan kemauan untuk keluar dari posisi nyaman sebagai pemasok murah dunia. Jika tidak, maka hilirisasi akan terus menjadi mantra kosong. Lingkungan rusak, utang bertambah, dan kemiskinan diwariskan. Sementara itu, pihak luar tetap tersenyum—mendapat bahan baku murah, reputasi hijau, dan keuntungan berlapis.” Kata Lastri. Walau dia pernah luka di negeri nya sendiri tetapi dia punya concern besar kepada negeri dia dilahirkan.

“ Pertanyaannya sederhana,” Kata Moni. ” Apakah Indonesia ingin benar-benar naik kelas, atau cukup puas menjadi penonton dalam permainan yang dikuasai orang lain?

Lastri menarik napas dalam. “Indonesia berada di posisi strategis,” katanya. “Cadangan besar, posisi geografis penting. Tapi juga rentan.” Ia menatap meja. “Larangan ekspor dan hilirisasi dibingkai sebagai kedaulatan. Secara teori late development, itu sah. Tapi dalam praktik geopolitik hari ini, kebijakan itu menimbulkan friksi.”

“Karena pasar tidak menilai niat,” sambung Moni, “mereka menilai tata kelola.”

“Betul,” kata Lastri. “Masalahnya bukan hilirisasi, tapi ketidaksinkronan antara ekspansi ekstraksi dan kesiapan lingkungan, energi, dan sosial. Hilirisasi tanpa ESG yang kredibel dibaca sebagai risk amplification, bukan value creation.”

Mia tersenyum pahit. “Paradoks klasik,” katanya. “Indonesia mau naikkan daya tawar lewat kontrol hulu. Pasar global menilai daya tawar lewat governance credibility.”

Moni menyandarkan punggung. “Dan perang mineral kritis,” katanya, “tidak dimenangkan lewat sanksi formal. Tapi lewat pembatasan financial resource. “ Ia mengangkat alis. “Farrell & Newman sudah jelaskan. Kekuasaan finansial itu disciplinary mechanism. Investor tidak melarang. Mereka pergi menjauh saja. Efeknya sistemik,” lanjut Moni. “Biaya modal naik. Tenor pendek. Proyek tertunda. Mineral strategis berubah jadi liabilitas.”

Mia mengangguk. “Karena medan perang sebenarnya bukan di tambang,” katanya. “Tapi di supply chain. Logistik. Aggregator. Data. Offtake contract.” Ia tersenyum kecil. “Graham & Marvin menyebutnya infrastructure power. Kuasai simpul koordinasi, kamu bisa mengatur aliran tanpa berhadapan langsung dengan negara.”

Sunyi sejenak.

B mengisap cerutu terakhir, lalu mematikan apinya di asbak. “Di sinilah kegagalan negara terlihat,” katanya akhirnya. “Negara terlalu sibuk tampil. Terlalu keras bersuara. Terlalu percaya bahwa deklarasi sama dengan kendali.” Ia menatap mereka satu per satu. “Negara berdebat di forum. Sistem bayangan bekerja di arus.”

Lastri tersenyum tipis. “Negara mengejar legitimasi politik,” katanya.
“Sistem bayangan mengejar keberlanjutan fungsi.”

B mengangguk. “Tambang bisa dipolitisasi. Smelter bisa disandera kebijakan,” katanya.
“Tapi ketika aggregator berhenti bergerak…”

“…semua orang panik,” kata Mia pelan.

B tersenyum. “Inilah bedanya,” katanya. “Negara sering gagal bukan karena kurang sumber daya, tapi karena salah membaca medan. Sistem bayangan berhasil bukan karena licik, tapi karena ia menyesuaikan diri lebih cepat dari negara.” Ia seruput kopinya “Dalam dunia pasca-Paris Agreement,” lanjut B, “mineral kritis tak bisa dipisahkan dari perubahan iklim, pembiayaan, dan reputasi. Negara dihadapkan bukan pada pilihan pembangunan atau lingkungan, tapi penyesuaian dini atau penyesuaian paksa.”

B menatap mereka, yakin. “Hegemoni abad ke-21,” katanya pelan, “tidak dimenangkan oleh yang paling keras bersuara. Tapi oleh yang membangun sistem yang dipercaya.” Ia tersenyum. “Dan hari ini,” katanya, “trust—not volume—is the scarcest currency.”

Moni, Mia, dan Lastri saling pandang.
B merasa puas. Mereka akan mampu melaksanakan tugasnya. Semua mereka lulusan Harvard dengan predikat terbaik.

“Mia “ seru B. “ Kamu engga liburan ke Medan. “

“ Mia engga punya siapa siapa disana, pak.” Jawab Mia.

“ Kamu, Moni. “ kata B.” Kamu engga ke Menado?

“ Di Manado engga ada siapa siapa. Kan mama di NY ikut Moni.” Jawab Moni.

“ Dan kamu lastri? Engga ke Yogya, Gunung Kidul”

Lastri terdiam. “ Lastri engga punya siapa siapa lagi, Pak..”

Mereka menatap B bersamaan. “ Kami hanya punya bapak..” kata Mia berlinang air mata. B rentangkan kedua tangan. Mereka bertiga berhamburan memeluk B bersamaan.

“ Kalian kan dapat hak cuti dua minggu. Semua atas biaya Ale Capital. Pergilah kemana kalian suka. “ Kata B.

Mereka saling pandang. “ Kita mau menghabiskan liburan di Indonesia saja. Rencana kita mau ke Lombok dan terus ke Raja Ampat. “  Kata Mia.

“ Pak..” seru Moni. Dia yang paling charming dengan B. “ Boleh engga kita pergi liburan tanpa pengawalan dari team George.?

“ Emang kenapa? Tanya B. “ Emang bodyguard ganggu privasi kalian? Kan mereka hanya shadow aja..” Kata B tersenyum. Mereka terdiam dan akhirnya mengangguk serentak.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Satu tanggapan untuk “Menguasai arus…”

  1. TRIO Macan atau TRIO Kwek-Kwek ini Babo hehehe

    Suka

Tinggalkan Balasan ke MKGinting Batalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca