Peluang bisnis efisiensi PLN.

Ada anak muda pembaca setia blog saya yang sudah 3 bulan minta ketemu saya. Yang membuat saya tertarik cara dia menulis email. Sangat terstruktur. Artinya dia orang yang suka membaca dan pasti terpelajar. Akhirnya saya temui juga. Karena dia tinggal di surabaya. Saya minta staf safehouse kirim ticket pesawat untuk dia. Ya karena saya yang undang tentu resiko saya tanggung.

Kami ketemu di cafe di PI. Ia duduk di depan saya dengan punggung sedikit membungkuk, seolah menahan beban yang tidak terlihat. Rambutnya rapi, bicaranya tertata. Dari caranya memilih kata, aku tahu: ia cerdas. Dari matanya yang gelisah, aku tahu: ia belum menemukan jalan. Laki laki mudah dilihat dan dibaca bahasa tubuhnya.

“Om,” katanya akhirnya, “ 5 tahun lalu saya tamat kuliah jurusan elektro. Sempat kerja. Tapi saya resign.”

“Kenapa?” tanya saya , singkat.

Ia tersenyum pahit. “Gajinya kecil. Pekerjaannya membosankan. Rasanya… tidak sepadan dengan energi dan mimpi.”

Saya mengangguk. Kalimat itu terlalu sering kudengar, tapi jarang diucapkan dengan kejujuran seperti itu.

“Kamu ingin jadi hebat,” kata saya pelan. “ Bukan sekadar aman.”

Ia terkejut. “Iya. Tapi saya tidak tahu mulai dari mana.”

Saya menyesap kopi, membiarkan jeda bekerja. Mikir apa yang harus saya sampaikan kepada anak muda yang galau dengan masa depannya. Padahal dia adalah aset bangsa. Setidaknya dia elit dari 90% populasi yang tidak pernah tahu apa itu kampus. Ah saya challenge aja dia.

“Kamu tahu betapa tidak efisiennya PLN?” Kata saya

Ia mengerjap. “PLN?”

“Ya,” kata saya . “Perusahaan listrik negara. Tulang punggung ekonomi. Tapi juga ladang inefisiensi yang luar biasa.”

Ia menggeleng pelan. “Maksud Om?”

“Setiap tahun,” lanjut saya , “PLTU di Indonesia membakar ratusan juta ton batu bara. Efisiensi rata-ratanya hanya sekitar tiga puluh lima persen. Artinya apa?”

Ia berpikir. “Lebih dari separuh energi terbuang?”

“Lebih dari itu,” jawabku. “Lebih dari enam puluh persen panas hilang. Itu bukan sekadar panas, itu uang. Triliunan rupiah menguap setiap tahun.”

Matanya mulai fokus.

“Sekarang,” kata saya , “bayangkan kamu tidak menjual listrik. Kamu menjual pengurangan pemborosan.”

Ia diam.

“Teknologi sCO₂—supercritical carbon dioxide,” lanjutku. “Turbin lebih kecil, loss lebih rendah, efisiensi bisa naik ke empat puluh lima sampai lima puluh persen. Batu bara yang sama, listrik lebih banyak. Konsumsi bisa turun dua puluh sampai dua puluh lima persen.” Kata saya. Saya berhenti, memastikan ia mengikuti.

“Kalau PLTU Indonesia hemat tiga puluh lima sampai empat puluh juta ton batu bara per tahun,” kata saya , “itu setara empat puluh triliun rupiah. Bukan teori. Itu angka konservatif.”

Ia menelan ludah. “Itu… besar sekali.”

“Dan kamu tahu yang menarik?” Saya tersenyum. “PLN tidak perlu bangun pembangkit baru. Cukup repowering—memperbaiki cara mengambil energi dari panas yang sama.”

Ia mencondongkan badan, kini giliran dia yang penasaran. “ bukankah sCO2 baru sebatas Lab? Tanyanya. Hebat ! Artinya dia memang insinyur.

“ Dua dekade lalu ya. Kini china sudah berhasil membangun dalam skala komersial dan sukses. “

“ Tapi saya siapa, Om? Anak baru lulus. Tidak punya modal dan tidak punya akses ke tekhnologi “

“ Saya tidak sedang beri kuliah. Sekarang kita sedang rapat bisnis. Artinya saya bicara tentu saya siap dukung modal dan akses tekhnologi. Tentu dengan syarat “

“ Apa syaratnya ? Tanyanya

“Kamu datangi pemerintah atau PLN dengan proposal,” kata saya . Kamu tawarkan solusi efisien dan business model. Skema berbagi penghematan. Performance-based contract. PLN bayar dari uang yang tadinya hilang. Kamu tidak minta subsidi. Kamu tidak minta janji. Kamu minta hasil.”

Ia terdiam lama. Saya bisa melihat pikirannya berlari.

“Om,” katanya pelan, “kenapa orang tidak banyak membicarakan ini?”

“Karena inefisiensi nyaman,” jawab saya . “Ia bisa ditutup subsidi. Bisa disembunyikan di neraca. Tapi suatu hari, ruang fiskal menyempit. Saat itu, efisiensi berubah dari pilihan menjadi kebutuhan.”

Saya menatapnya. “Dan di situlah orang seperti kamu dibutuhkan. Anak muda harus jago mendobrak status quo. Ajarin orang tua lewat kinerja dan keberanian berubah.

Ia tersenyum, kali ini berbeda. Bukan senyum bingung, tapi senyum orang yang baru melihat pintu.

“Jadi,” katanya, “bukan soal cari kerja?”

“Bukan,” kataku. “Soal membaca masalah besar dan mengubahnya jadi bisnis bermakna.”

Saya berdiri dan dia ikuti. Saya permisi undur diri. Sebelum pergi, saya menambahkan satu kalimat terakhir:

“Kalau kamu ingin jadi hebat, jangan cari tempat yang sudah rapi. Cari tempat yang boros, kacau, dan mahal, lalu tawarkan ketertiban.”

Ia mengangguk.

Dan untuk pertama kalinya sejak duduk di kafe itu, langkahnya terlihat ringan. Tapi berlalunya waktu, tiga bulan lewat dia tidak datang follow up. Memang cari proxy engga mudah.

***

Apa itu sCO₂

Ada teknologi yang selama puluhan tahun hanya hidup sebagai bisikan akademis. Ia dibahas di jurnal, dipresentasikan di konferensi, dipuji sebagai “masa depan”, tetapi tak pernah benar-benar hadir di dunia nyata.
Supercritical carbon dioxide (sCO₂) adalah salah satunya. Selama bertahun-tahun, sCO₂ dikenal sebagai konsep yang indah di atas kertas. Pertanyaannya selalu sama:
Apakah ia benar-benar bisa bekerja di industri yang keras, panas, dan tak mengenal kompromi? Hari ini, pertanyaan itu mulai terjawab.

Teknologi supercritical carbon dioxide (sCO₂) adalah sistem pembangkit listrik yang menggunakan karbon dioksida (CO₂) sebagai fluida kerja untuk memutar turbin—bukan uap air seperti pada pembangkit konvensional. Namun CO₂ yang digunakan bukan CO₂ biasa. Kondisi “Superkritis” CO₂ dioperasikan pada kondisi ekstrem: Tekanan sangat tinggi (di atas ±7,4 MPa). Suhu di atas 31°C (titik kritis CO₂). Pada titik ini, CO₂ memasuki fase superkritis—sebuah keadaan unik di mana batas antara gas dan cairan menghilang. Artinya?  CO₂ tidak lagi berperilaku sebagai gas ringan,
 tetapi juga bukan cairan biasa.
 Ia menjadi fluida dengan sifat gabungan yang sangat menguntungkan.

Mengapa Sifat Ini Istimewa? Dalam kondisi superkritis, CO₂ memiliki kepadatan tinggi seperti cairan, itu membawa energi besar dalam volume kecil. Tetapi tetap mengalir ringan seperti gas berupa gesekan ( losses ) sangat rendah. Inilah kunci keunggulan sCO₂. Dalam turbin konvensional berbasis uap. Uap bersifat ringan makanya perlu turbin besar. Terjadi banyak kerugian akibat kondensasi dan gesekan. Banyak energi hilang sebelum berubah menjadi listrik.

Sebaliknya pada turbin sCO₂, Fluida jauh lebih padat maka turbin bisa jauh lebih kecil. Aliran lebih stabil sehingga kehilangan energi berkurang drastic. Tidak ada proses kondensasi seperti uap air.  Karena sifat fisika CO₂ superkritis ini, maka ukuran turbin menyusut drastis (bisa hanya ±1/10 turbin uap).
 Losses aerodinamis menurun. Daya bantu sistem (pompa, pendingin) lebih kecil. Energi panas diubah menjadi listrik dengan efisiensi lebih tinggi.

Yang penting untuk dipahami bahwa kenaikan efisiensi ini bukan hasil trik finansial atau subsidi,
melainkan murni akibat hukum fisika dan termodinamika. Teknologi sCO₂ tidak mengubah sumber panasnya—bisa batu bara, gas, panas buangan, geothermal, atau nuklir. Yang diubah adalah cara mengambil energi dari panas tersebut. Karena itu, dengan panas yang sama, sistem sCO₂ mampu menghasilkan listrik lebih banyak, dengan mesin lebih kecil, dan energi terbuang jauh lebih sedikit. Inilah sebabnya sCO₂ disebut bukan sekadar teknologi baru,
melainkan cara yang lebih cerdas untuk menghormati hukum alam dalam pembangkitan energi.

Peluang pada PLN

Mayoritas PLTU Indonesia saat ini beroperasi dengan efisiensi bersih 33–38%.
Dalam bahasa bisnis, ini berarti dari setiap 100 unit biaya energi panas (batu bara), hanya 33–38 unit yang berubah menjadi produk yang bisa dijual (listrik). Lebih dari 60 unit biaya hilang sebagai panas buangan.
 Ini bukan sekadar isu emisi atau lingkungan.
Ini adalah inefisiensi struktural—uang yang dibakar setiap jam operasi. Dalam neraca, biaya bahan bakar tinggi, margin operasional tergerus, dan nilai aset stagnan.


Teknologi supercritical CO₂ (sCO₂) tidak mengubah batu baranya.
Ia mengubah cara panas dikonversi menjadi listrik. Secara operasional Turbin jauh lebih kecil (sekitar 1/10 ukuran turbin uap). Tidak ada kerugian kondensasi uap. Daya bantu turun (pompa, kipas, pendinginan lebih kecil). Output bersih naik dari panas yang sama.
 Hasil akhirnya lebih banyak listrik dijual dari biaya bahan bakar yang sama. Efisiensi sistem bisa naik ke 45–50%,
bahkan melalui repowering pembangkit lama, bukan hanya proyek baru.

Mari bicara angka

1. Penghematan Batu Bara.

Asumsi konservatif, Efisiensi lama: 35%, Dengan sCO₂: 45%. Kenaikan efisiensi: +10 poin. Dampak langsung kepada kebutuhan batu bara turun ±22–25%
Dengan konsumsi PLTU nasional sekitar 160 juta ton/tahun. Maka  penghematan 35–40 juta ton/tahun. Bila harga konservatif batu bara USD 70/ton. Nilai penghematan: Rp 40–45 triliun per tahun. Ini bukan proyeksi, ini pengurangan biaya nyata.

2. Listrik Tambahan Tanpa Bahan Bakar Baru.

sCO₂ juga meningkatkan output bersih (net output) sekitar 2–4%. Untuk total kapasitas PLTU sekitar 40 GW. Tambahan listrik setara 0,8–1,6 GW. Ada penanmbahan daya tanpa membangun pembangkit baru. Tanpa tambahan bahan bakar. Nilai ekonominya berupa  penghematan investasi pembangkit baru USD 1–2 miliar (one-off), plus penghematan Opex tahunan, plus percepatan waktu (time-to-market = nol)


3. Emisi

Penurunan konsumsi batu bara ±25% berarti penurunan emisi 70–80 juta ton CO₂ per tahun. Dalam konteks bisnis ini benefit terhadap pajak karbon, carbon pricing, CBAM dan border adjustment. ini adalah proteksi biaya masa depan.
Bukan isu moral—isu neraca dan daya saing.

Bisnis model.

Selama puluhan tahun, bisnis energi dibangun di atas satu logika sederhana: jual bahan bakar, bangun pembangkit, tambah kapasitas. Logika ini masuk akal di era pertumbuhan cepat dan energi murah. Namun di dunia hari ini—dengan margin tipis, tekanan iklim, dan keterbatasan fiskal—model lama itu mulai kehabisan napas. Paradoksnya, di saat semua orang sibuk mencari sumber energi baru, peluang bisnis terbesar justru tersembunyi di energi yang sudah ada—tetapi terbuang.

Mayoritas pembangkit listrik berbasis termal—termasuk PLTU—masih beroperasi dengan efisiensi bersih sekitar 33–38%. Artinya, dari setiap 100 unit energi panas yang dibeli, lebih dari 60 unit hilang sebagai panas buangan. Ini bukan sekadar isu teknis atau lingkungan. Ini adalah uang yang terbakar—tahun demi tahun. Dalam konteks bisnis, panas terbuang adalah aset tidur. Ia sudah dibayar lewat bahan bakar, tetapi tidak pernah dikonversi menjadi pendapatan. Selama ini, industri energi menerimanya sebagai nasib. Di situlah peluang muncul.

Teknologi supercritical CO₂ (sCO₂) mengubah cara pandang tersebut. sCO₂ tidak mengganti bahan bakar, tidak mengubah sistem besar, dan tidak menuntut pembangunan pembangkit baru. Ia hanya melakukan satu hal—tetapi sangat menentukan: mengambil energi lebih banyak dari panas yang sama. Dengan sifat fisika CO₂ superkritis, turbin menjadi jauh lebih kecil, kerugian energi turun drastis, dan efisiensi sistem melonjak ke 45–50%, bahkan pada pembangkit lama yang diretrofit. Ini bukan efisiensi hasil insentif atau subsidi. Ini efisiensi karena hukum alam bekerja lebih optimal.

Pasar keuangan tidak membeli teknologi karena terlihat hijau. Investor membeli arus kas yang stabil dan bisa dihitung. Dan di sinilah sCO₂ menyeberang dari dunia riset ke dunia bisnis. Kenaikan efisiensi 10 poin persentase berarti penghematan bahan bakar 22–25%. Tambahan listrik 2–4% tanpa bahan bakar. Penundaan kebutuhan pembangkit baru. Penurunan emisi yang dapat dimonetisasi di masa depan. Dalam bahasa neraca,  biaya turun, pendapatan naik, risiko regulasi berkurang.

Monetisasi Efisiensi.

Yang membuat sCO₂ menarik bukan hanya teknologinya, tetapi model bisnisnya. Ia memungkinkan pendekatan yang sebelumnya jarang ada di sektor energi.

Efficiency-sharing model: penghematan bahan bakar dibagi antara pemilik pembangkit dan penyedia teknologi.


Build–Own–Operate (BOO): unit sCO₂ dimiliki investor dan menjual listrik tambahan lewat PPA.


Waste Heat to Power as a Service: panas terbuang dikonversi menjadi listrik tanpa bahan bakar baru.


Lisensi teknologi & engineering margin: menjual desain dan keahlian, bukan sekadar megawatt.


Semua model ini memiliki satu kesamaan yaitu  tidak membebani pemilik aset dengan CAPEX besar, tetapi langsung menciptakan nilai dari aset yang sudah ada. Dalam ekonomi energi modern, ada satu hukum tak tertulis:
energi baru mahal, efisiensi selalu lebih murah. Ketika harga bahan bakar fluktuatif, regulasi karbon menguat, dan tekanan fiskal meningkat, bisnis yang bertahan bukan yang paling banyak membangun, melainkan yang paling sedikit membuang energi.

sCO₂ bukan sekadar turbin baru. Ia adalah bisnis efisiensi—dan efisiensi, baik dalam sains maupun dalam keuangan, selalu menemukan pembelinya. Di tengah transisi energi global, mungkin pertanyaan terpenting bukan lagi dari mana energi kita berasal, tetapi seberapa cerdas kita menggunakannya. Dan di sanalah, peluang bisnis terbesar hari ini sedang menunggu untuk diambil.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Satu tanggapan untuk “Peluang bisnis efisiensi PLN.”

  1. wildlyleftb4c5aa0b8c Avatar
    wildlyleftb4c5aa0b8c

    Babo, kasi langkah teknis yang bisa kami lakukan, mulai dari buat proposal sampai cara menyakinkan pihak PLN.

    Suka

Tinggalkan Balasan ke wildlyleftb4c5aa0b8c Batalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca