Lailah, kau bukan sahabatku…

Saya ketemu Moni dan Mia di Safehouse. Mereka team shadow Yuan Capital.  Saya inginkan laporan atas target akuisisi. Target kami adalah bank kelas menengah di Eropa. Selama 6 bulan mereka melakukan investigasi secara diam diam lewat berbagai sumber terpercaya, tentu itu tidak gratis. Mana ada corporate yang steril dari kerahasiaan. Hedge fund player tidak pernah tergantung kepada laporan audit formal atau rating yang ditetapkan OJK, apalagi opini resmi corporate secretary.

Mia maju ke depan white board. Tidak ada Analisa di dalam bentuk file digital. Analisa harus dibuat di white board dan kemudian di hapus tanpa bukti apapun. Mia menulis di white board.  MARK-TO-REALITY = nilai pasar riil jika dijual paksa hari ini. “ Untuk aset tertentu seperti structured credit, CDO, obligasi grup, piutang macet, nilainya bukan 100, bukan 80,
bahkan bukan 50.
Nilainya yaitu  5–20% untuk obligasi yang pensiun kasnya tidak jelas. 0–10% untuk piutang macet yang direstrukturisasi berkali-kali. 0% untuk unit penyertaan reksadana busuk. Jika neraca bank berisi instrumen semacam ini, maka sesungguhnya, Modal bank = nol, bahkan negatif.

Mia menulis.  TRUE NET WORTH = REAL ASSET VALUE – REAL LIABILITY VALUE.

“ Kita abaikan Laporan bank yang biasanya memakai: Modal (Equity) = Total Aset – Total Liabilitas. Kita menggunakan rumus. True Net Worth = Realizable Asset × Haircut – Hard Liabilities”

Daftar haircut standar kami.

Jenis AsetNilai BukuNilai Riil (Haircut)
Obligasi pemerintah10095–98
Kredit korporasi sehat10070–90
Kredit macet (NPL)1000–20
Reksadana toxic1000–10
Saham tidak likuid10020–50
Properti non-core10040–70
Surat berharga grup1000–30

Ketika haircut diterapkan, bank membusuk dalam hitungan menit.

Kemudian Moni maju ke depan white Board. “ Regulator melakukan stress test per semester.
 Kami melakukannya setiap hari.” Kata Moni. Dia menulis di white board tentang LCR, NSFR,CAR.

A. LCR (Liquidity Coverage Ratio)

Apakah bank punya cukup kas untuk 30 hari jika semua deposan besar menarik uang? Investasi kami menggunakan formula:  True LCR = (Real Cash + Liquid Securities Haircut) ÷ (Expected Cash Outflow Stress). Jika angka < 1.0 →
bank dianggap “dead”.

“ Hasil Investigasi kami, 
Angka mereka sesungguhnya 0,3.” Kata Moni.

B. NSFR (Net Stable Funding Ratio).

Pendanaan jangka panjang cukup atau tidak? Jika < 1.0 →
bank hidup dari “utang jangka pendek untuk membiayai aset jangka panjang”.
Ini bom waktu klasik. “ Hasil investigas kami 
0,6 secara riil. “ Kata Moni.

C. CAPITAL ADEQUACY RATIO (CAR).

Regulator hitung dari buku.
 Kami menghitung dari kenyataan.

Setelah haircut: True CAR = True Equity ÷ Risk-Weighted Assets (Real)

Bank sehat: 14–20%
Bank sakit: 8–12%
Bank mati: < 4%

“ Hasil investtigas kami 
Minus 5%.” Kata Moni. “ Modalnya sudah hilang, tetapi laporan tahunan masih menulis angka positif. “ Mia menambahkan.

4. ANALISA PERILAKU (BEHAVIORAL SIGNALING)

“ Kami juga pelajari prilaku dari para eksekutif.  “ Lanjut Moni. Tanda klasik bank bangkrut/ CEO mengutus orang untuk bicara personal kepada Anda. “

Mia memperlihatkan photo wanita. “ Dia kenal kamu B. “

Aku terkejut.  Aku kenal wanita itu. Lailah.

“Biasanya, mereka akan mengatakan, Kami tidak bisa diselamatkan dengan peraturan biasa.
Tolong selamatkan reputasi kami sebelum neraca kami ditemukan membusuk.Solusi yang mereka minta adalah utang atau restrukturisasi.”

5. SIGNAL PASAR — “THE DEAD CANARY”

“ Kami juga membaca indikator pasar: Yield obligasi bank tiba-tiba naik tajam. CDS spread melebar. Volume interbank funding turun. Nank tidak lagi diterima untuk repo di luar negeri. Auditor minta informasi tambahan. Regulator diam , ini tanda paling bahaya. Dengan tiga sinyal itu  maka economically dead, politically alive.”

Aku tersenyum mendengar paparan Mia dan Moni. Aku paham bahwa regulator hanya menyatakan bank bangkrut ketika modal negatif secara buku.
Tapi kami menyatakan bank bangkrut ketika likuiditas tak cukup 30 hari, modal negatif setelah haircut
, aset tak bisa dijual kecuali dengan diskon besar
, investor besar lari
, CEO panik
. Perusahaan yang jadi target kami  memenuhi semuanya.

Aku menatap Mia dan Moni. “Bank ini bukan sedang menuju bangkrut.
 Bank ini sudah bangkrut.
Kita tinggal tentukan harganya sebelum orang lain mencium baunya.”

**

Akhirnya meeting dengan pihak target terjadi. Aku didampingi Tom dari SIDC AMG New York. Tom adalah sahabat dan juga mitra saya dalam business M&A. Ia investment banker kawakan, tipe pria yang bisa menghitung default probability sambil mengunyah cerutu. Bersamanya ikut seorang banker senior dari London.

Untuk pembicaraan sensitif, kami tidak pernah bertemu di ruang publik. Terlalu banyak mata, terlalu banyak mikrofon kecil yang bisa ditaruh di bawah meja.Karena itu, pertemuan diadakan di ruang sauna Hotel Bintang V—ruangan yang panas, basah, dan tanpa tempat bagi alat penyadap bertahan hidup lebih dari lima menit.

Sebelum masuk, di lounge SPA, aku melihat wanita dari masa laluku.

“Ale…” sapanya.

Nametag-nya memantulkan cahaya lampu temaram.
Aku membaca jelas nama bank tempatnya bekerja—bank yang CEO-nya sebentar lagi akan aku temui… dalam keadaan sama-sama telanjang di ruang sauna.

“Lailah… sehatkah kamu?”

Dia mengangguk. Waktu terlalu mepet. Aku hanya sempat melempar senyum tipis sebelum menuju pintu kayu sauna. Dia dan juga team lain menanti di lounge.

***

Kami semua bugil.
 Kadang dunia finansial memang lebih jujur saat tubuh tidak dilindungi pakaian.
Setiap orang terlihat apa adanya, tanpa simbol status, tanpa armor profesional.

Banker dari London melirik perutku dan Tom. “Kalian memang pria petarung. Tidak buncit. Keliatan terawat. Pasti jaga makan dan tidur.”

Tom tertawa pendek. “Bukan itu,” katanya. “Aku dan B tidak punya liabilities selain istri di rumah. Tidak punya selir dan tidak ada pacar. Tidak ada beban melobi elite politik, tidak ada amplop yang harus kami setorkan ke ring 1. Kami bisa happy dari tempat low class sampai high class.”

Banker itu mendengus sinis. “Ya… karena kalian predator. Kalian memangsa orang seperti kami. Gimana bisa stress? Kalian justru bahagia ketika kami takut.”

Aku dan Tom tertawa. Ada kebenaran pahit di situ. Kami duduk menyender pada dinding kayu panas sauna. Pembicaraan pun dimulai.

Tom membuka map tahan uap yang dibawanya. “B, reksadana mereka tinggal 10% nilai pasar. Mereka butuh likuiditas 10% itu.
Mereka mau repo aset busuk itu dengan harga tebus 5% lebih tinggi setahun kemudian.”

Banker London mengangguk pelan, wajahnya memerah bukan karena sauna, tapi karena malu.

Aku menjawab datar, “Boleh. Tapi kita tidak akan kasih cash. Kita hanya bantu hidupkan likuiditas reksadana itu sampai 10%. Setelah itu mereka bisa window dressing.”

Banker itu berseru. “Duh, B… kami sudah boncos karena kalian. Ulah kalian lewat short selling, price discovery agresif,
jual beli derivatif yang menekan valuasi, repo. Maka efeknya , nilai portofolio reksadana kami  turun drastic. Dan karena itu kami  memaksa pasar mem-price ulang aset toxic. “

Aku diam saja. Data dari Team Shadow, Mia dan Moni membuktikan Bank ini memegang structured credit, synthetic exposure, dan repackaged notes yang tidak likuid, valuasinya palsu, pendapatannya tidak nyata,
 risikonya direkayasa pada masa booming.
 Kami tidak membocorkan data itu dengan berita rumor. Tapi kami mengungkapkan nya lewat pasar.

“ Kenapa sekarang kalian suruh kami tipu market?” Lanjut banker itu.

Tom menatapnya, tajam seperti equity research yang menemukan fraud. “Ini bukan tipu market. Ini menunda kamu masuk penjara. Kamu masih dapat bonus tahun depan. Apa masih kurang baik kami?”

Banker itu gelisah. Keringat dingin bercampur uap sauna. Karena kami tidak mau jadi sinterklas. Menjadi pencuci piring atas pesta yang mereka lakukan. Kami justru menggiring mereka memanipulasi pasar lewat no cash injection. Atas dasar itu mereka bisa meningkatkan volume perdagangan secara artificial (market making),
menciptakan kesan ada harga & likuiditas,
 menaikkan NAV reksadana secara teknis, bukan secara fundamental.
Hanya window dressing.

Window dressing itu sama dengan
merekayasa tampilan laporan agar tampak sehat saat sebenarnya sakit. Secara teknis itu  transaksi dilakukan antar entitas terkait (cross trade),
 harga dinaikkan 2–3% untuk menciptakan “marking the close”, NAV reksadana naik, bank bisa lapor ke regulator bahwa unit trust mereka “stabil”.
 Secara hukum itu tidak illegal. Namun sangat dekat dengan praktik price manipulation.

Aku menambahkan “Atau begini saja. Kami akuisisi bank kamu lewat pasar negosiasi. Reksadana busukmu otomatis kami bailout. Gimana?”

“Itu hostile takeover!” katanya setengah berteriak.

Lalu dia keluar dari sauna, membawa drama dan aibnya. Aku dan Tom hanya tersenyum. Dalam dunia hedge fund, setiap orang punya harga. Jika bukan dengan negosiasi, ya dengan tekanan likuiditas.

Sebelum keluar hotel, aku memperingatkan Tom. “Pastikan dia dan CEO-nya tidak keluar dari hotel ini sampai aku sudah di bandara.”

Tom tertawa pendek.

“Perfect hidden, B. Mereka sekarang di bawah kendalimu.”

Dan memang begitu aturan mainnya. Reksadana mereka mengandung illiquid structured notes—aset mati yang sebenarnya bernilai nol. Bank menghadapi tekanan mark-to-market losses yang akan menembus CAR. Jika mereka tidak menutup defisit likuiditas, regulator akan memaksa mandatory resolution. Dan jika sampai ke tahap itu, saham mereka akan jatuh seperti batu ke laut. Artinya,  mereka tidak punya pilihan kecuali tunduk.

Ketika aku sudah duduk di Privat Jet, Tom menelpon.

“Dia setuju kita akuisisi banknya.”

Aku tidak terkejut.

“Ya udah, kita rock. Kirim tim ke London malam ini.”

“Siap, B.”

Telepon ditutup. Dan dalam satu desahan napas, aku tahu. Sebuah bank berusia ratusan tahun telah resmi memasuki fase controlled collapse atau transformasi, jika mereka ingin menyebutnya lebih elegan.

***

Ingatanku kembali ke 1984.
Tanjung Priok membara.
Suara toa memecah malam, memanggil massa untuk turun ke jalan, sementara kota dikepung ketakutan. Aku saat itu bukan aktivis, bukan jenderal, bukan siapa-siapa—hanya pedagang ikan yang kantornya berdiri di Jalan Cilincing Raya. Namun sejarah tidak pernah bertanya siapa engkau sebelum menyeretmu masuk ke pusarannya.

Malam itu, lampu padam.
Jeritan dan desingan peluru menjadi satu.
Seorang perempuan berjilbab berlari ke arahku.
Tentara mengejarnya. Ia melompat dari jembatan dan jatuh ke sungai.
Dalam sepersekian detik, aku ikut turun.
Wanita itu berpegang pada pilar jembatan, gemetar, basah, dan ketakutan.

“Mbak… saya bukan tentara. Ikut saya,” kataku. Ia mengangguk pelan. Kami bersembunyi tiga jam di bawah jembatan, menyatu dengan kegelapan.
Ketika keadaan mereda, tentara baret hijau menghampiri.
Aku menunjuk ruko-kantorku di Cilincing.
Ia hanya mengibaskan senjata, memberi jalan.

Di kantor, ia membersihkan tubuhnya, lalu kuberi kain sarung, satu-satunya yang kupunya untuk menghangatkan dirinya.
Esok paginya, barulah aku tahu namanya. Lailah, asal Garut.

Sejak itu kami sering bertemu.
Ia hidup di kampus, LSM, demonstrasi, wacana kiri-kanan.
Aku hidup di pelabuhan, pasar ikan, dan hitungan kilo demi kilo barang dagangan. Kami berjalan di dua dunia berbeda, namun satu hal menyatukan kami, ia bicara, aku mendengar.

Ia bercerita tentang Marx, Andre Gunder Frank, Soetan Sjahrir, hingga liberation theology.
Ia menuduh negara gagal, menuduh kekuasaan busuk, menuduh dunia tidak adil. Kadang aku berpikir, apakah ia membela “orang-orang kalah” atau ia sedang mencari jati diri? Tapi setiap kali hendak menanyakannya, aku urung.
Kawatir ia akan tersinggung lalu menyerangku dengan kutipan-kutipannya yang meledak-ledak.

Dia perempuan yang berperang dengan literasi.
Aku hanya lelaki SMA yang menyediakan kuping. Dan, entah kenapa, itu cukup baginya. Setelah diwisuda, ia menghilang seperti asap terseret angin.
Lalu kudengar ia mendapat beasiswa ke Harvard, kemudian bekerja di lembaga keuangan raksasa di London. Dan seperti kebanyakan orang yang naik kelas sosial,
ia tak pernah menanyakan kabarku lagi. Padahal dia yang mermprovakasi mengajak-ku tidur. Aku menerima itu.
Dan kini dia pergi seakan tidak ada kenangan tersisa. Seakan aku hanya sampah masa lalu. Setahun kemudian aku menikah dengan wanita pilihan orang tua.

Lalu, 30 Tahun Kemudian…

Pertemuanku di lounge SPA Singapura membuka kembali pintu yang sudah kukunci rapat.
Dia, Lailah, berdiri dengan badge bank internasional bank yang sedang kuincar dalam strategi akuisisi hedge fund-ku. Ada hal yang hanya bisa dijelaskan oleh Tuhan dan algoritma nasib. 
Mengapa orang yang hilang kembali muncul…
tepat ketika banknya hampir kutelan.

Ia meminta bertemu lagi.
Aku setuju.
Kami bertemu di Ritz. Sorot matanya tidak lagi semuda dulu, tetapi tetap tajam dan cemerlang seperti memori yang enggan mati.

“Sejak 2014 aku pembaca blog kamu,” kata Lailah.
“Aku tanya… kenapa pemerintah sekarang jatuh dalam pragmatisme? Politik transaksional? Ekonomi terdistorsi?”

Aku menarik napas. Lailah kembali kepada gaya lamanya. Hanya bicara soal pengetahuan. Dia memang tidak tertarik bicara omong kosong.

“Penyebabnya ada dua,” kataku sambil menyandarkan tubuh pada kursi kulit itu.
Nada suaraku datar, tapi setiap kalimat membawa beban puluhan tahun pengalaman sebagai trader, structurer, dan policy observer.

“Pertama,” lanjutku,
“lanskap ekonomi kita tidak ditopang oleh constitutional long-term development design. Tidak seperti Korea Selatan dengan Five-Year Plan yang rigid, atau China dengan National Development Strategy 2035, atau bahkan Vietnam dengan Central Planning Ordinance, Indonesia membuka peluang besar bagi setiap Presiden untuk mengubah haluan ekonomi sesuai kepentingan politik jangka pendek.”

Lailah menyimak dengan dahi berkerut, persis seperti dulu saat ia membedah paper ekonomi politik di kampus.

“Kekuasaan eksekutif dibatasi lima tahun. Secara teori itu baik untuk demokrasi.
Tetapi dalam praktik, masa jabatan pendek justru menciptakan insentif destruktif. Kebijakan harus menghasilkan nilai elektoral dalam dua–tiga tahun pertama. Makanya mereka jatuh pada populist spending,  program yang menambah efek elektoral,
bukan efek produktivitas.”

Ia mengangguk pelan.

“Yang kedua,” kataku, “gap pengetahuan antara teknokrat dan elite politik terlalu lebar.”

Aku menatapnya.

“Elite politik tidak memahami instrumen fiskal, yield curve dynamics, komposisi APBN, atau risiko cross-default. Mereka bergantung pada whisper advisors, orang-orang di lingkaran 5 meter Istana yang sebenarnya hidup dari rente dan kartelisasi komoditas.”

Lailah mencatat cepat—naluri bankirnya masih kuat.

“Inilah yang disebut state capture economy. Kebijakan bukan lagi instrumen publik,
tetapi mekanisme distribusi rente.”

“ Maksudnya ? Tanya Lailah.

“ Mereka menciptakan kartel perdagangan, monopoli input pangan, rente SDA, dan oligopoli BUMN.
Dampaknya bukan hanya merusak sistem keuangan negara, tetapi menghancurkan productive capacity nasional.”

“Artinya “ Kata Lailah. “ kamu tidak sependapat dengan program populis? Seperti rumah murah, subsidi angsuran, MSB Rp10.000 per anak per hari, atau pembiayaan koperasi desa 60 ribu unit?” tanya Lailah.

Aku mengangkat alis.

“Bukan soal aku sepakat atau tidak. Ini soal fiscal feasibility.”

Aku menjelaskan. “Jika semuanya dibiayai APBN, itu melanggar prinsip sekuritisasi PDB.
Investor institusi, baik domestik maupun offshore akan membaca itu sebagai unsustainable deficit path.”

Aku lanjutkan dengan tone akademis. “Indonesia tidak punya fiscal buffer besar.
Kombinasi program populis dan pinjaman konsumtif berpotensi menekan: Yield SBN naik,
rekayasa index bursa yang cepat naik dan pasti akan jatuh karena risk-off sentiment, trust perbankan melemah akibat mismatch kredit-konsumerisasi, sovereign rating turun.”

Lailah tampak menelan ludah—dia tahu itu benar secara teknis.

“Bagaimana dengan BPI Danantara? Mereka ingin membiayai PSN lewat sekuritisasi aset BUMN,” katanya.

Aku langsung menjawab “Tidak eligible.”

Ia menatapku, menunggu analisisnya.

“Kamu tahu struktur sukuk syariah negara?
Sebagian besar underlying-nya adalah aset BUMN: gedung, lahan, equipment, bahkan future cashflow.”

Aku memberi angka. “Total sukuk syariah per 2024 mencapai Rp 2.800 triliun.
Outstanding-nya Rp 1.600 triliun.
Sementara net worth BUMN konsolidasi hanya sekitar Rp 1.000 triliun.”

Lailah mendesah keras.

“Dengan kata lain,” lanjutku,
“underlying yang digunakan pemerintah saja sudah over-encumbered.
Menambah lagi untuk Danantara berarti menciptakan double-pledging—itu fatal breach dalam dunia pembiayaan institusional.”

Aku menegaskan “Itu bukan financial engineering. Itu namanya bunuh diri fiskal.”

Lailah memandangku lama. “Jadi menurutmu kita sebenarnya bisa maju kalau konsisten?”

“Kita bisa jauh lebih maju,” jawabku tenang. Aku uraikan seperti dosen ekonomi pembangunan. “Indonesia punya SDA melimpah, SDM besar, Sumber daya keuangan lewat sekuritisasi PDB, Geoposisi yang masuk Indo-Pacific economic corridor, Potensi industri manufaktur dan agro-processing.”

“Kita hanya butuh tiga hal,” lanjutku. Pertama. Visi jangka panjang yang tidak boleh berubah tiap pergantian presiden.
Kedua Institusi hukum yang independen agar korupsi turun, transparansi naik.
 Ketiga. Budaya R&D dan produktivitas, bukan populisme dan rente. Itu harga untuk menjadi negara maju. Tidak ada jalan pintas.”

Lailah menatapku lama, dengan mata yang tidak lagi hanya bicara sebagai seorang bankir—tetapi sebagai seseorang yang melihat realitas bangsanya yang lelah. “Kadang,” katanya pelan,
“aku lupa bahwa kamu bukan hanya trader atau hedge fund guy…
kamu sebenarnya seorang pembelajar.”

Aku tersenyum kecil. “Karena hanya pembelajar yang bisa bertahan dalam dunia yang berubah terlalu cepat.
Sementara pengekor akan terus jadi korban dari pemikiran yang mereka tiru.”

Hening memenuhi ruangan.
Dan dalam hening itu, antara aku dan Lailah—yang dulu pernah terseret dalam sejarah Tanjung Priok yang getir—tersimpan pemahaman baru. Bahwa masa lalu boleh hilang,
tapi kedewasaan hanya lahir dari luka yang pernah kita telan.

“Ale… kamu hanya tamat SMA. Tapi kamu pembelajar yang membentuk empat karakter sekaligus.
Aku? Aku cuma pengekor yang seluruh hidupnya mengadopsi pikiran orang lain.”

Aku terdiam.
Itu haknya menilai hidupnya.

“Aku diminta CEO bicara personal denganmu,” katanya.
“Dia berharap akuisisi bank kami tidak dilanjutkan.
Kami mohon kamu bantu likuiditas reksadana kami.”

Ah.
Jadi itu alasannya.
Bukan cinta lama.
Bukan rindu masa muda. Hanya urusan karier. Sebuah transaksi.

Ia menunduk. “Kenapa kamu berubah, Ale…? Sekarang kamu predator.”

Aku tersenyum kecil.

“Aku tidak memangsa orang miskin, Lailah.
Yang kuhajar adalah bangsawan-bangsawan seperti pemegang saham bankmu.
Mereka yang tidak pernah peduli padaku dulu—lelaki miskin yang kamu lupakan begitu kamu menemukan pijakan untuk berdiri kokoh.”

Ia menggigit bibir.
Matanya basah.

“Aku merindukan Ale yang dulu…” bisiknya.

Aku memanggil waitress, membayar bill. Sebelum pergi, aku berkata, “You take care, Lailah.”

Jalan kami sudah berbeda terlalu jauh.
Jika aku tetap menjadi Ale yang dulu. Naif, miskin, penuh harapan, Lailah tak akan pernah mencariku hari ini. Dan jika aku tetap menjadi Ale yang dulu…
mungkin aku yang akan dimangsa. Dalam dunia hedge fund, tidak ada ruang untuk nostalgia.
Hanya ada dua pilihan. Dimangsa atau memangsa. Dan aku memilih hidup.

Kalau Lailah benar sahabatku, wanita yang berela hati menyerahkan selaput daranya kepada pria yang dia cintai, ia akan percaya niatku. Bukan hanya menghakimi caraku. Betul, metode aku mengakuisisi bank tempatnya berkarier memang tidak sepenuhnya sesuai etika bisnis textbook. Namun mari jujur,  jika sebuah bank menerapkan prinsip manajemen dan good governance dengan benar, ia tidak akan mudah di-hostile takeover, bahkan dengan strategi yang dianggap tidak etis.

Dan satu hal lain yang sering dilupakan. Tidak etis belum tentu ilegal. Dunia bisnis tidak selalu berjalan di atas garis lurus teori; kadang ia adalah street fight—sebuah seni bertarung di ruang tanpa seragam, tempat siapa pun bisa tersungkur bila lengah. Di sana, yang kalah tidak perlu merasa terhina, dan yang menang tidak perlu merasa mulia. Itu hanya dinamika kompetisi.

Kalau aku mengambil alih bank itu, tentu bukan untuk menghancurkannya. Justru sebaliknya, menata ulang, membersihkan arsitektur governance-nya, mengembalikan value, dan menumbuhkan inovasi. Bank itu bisa lebih sehat, lebih efisien, dan lebih bernilai daripada saat dikelola dengan mental nepotime dan kolutif..

Namun kamu tidak percaya niatku. Bukan itu saja, kamu malah memintaku membatalkan akuisisi dan menggantinya dengan window dressing loan, sesuatu yang justru bertentangan dengan prinsip prudential banking. Saat itu aku mulai mengerti, yang berubah bukan aku, tetapi kamu. Dan perubahan itu bukan menuju kecerdasan, melainkan menuju sesuatu yang lebih menyedihkan, yaitu ketakutan yang dibungkus rasionalitas, dan kecerdasan yang terkikis menjadi kebodohan. Semua karena sifat rakus dan ego. Dia bukan lagi wanita yang dulu aku kenal. Aku tak ingin berharap..


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

3 tanggapan untuk “Lailah, kau bukan sahabatku…”

  1. Pilihan Hidup Menjadi Bermanfat

    Suka

  2. Tulisan Babo menambah darah segar dalam hidupku,aku semakin berani mengambil keputusan penting

    Suka

  3. luminous30b0889817 Avatar
    luminous30b0889817

    SE7 uda babo… hajar sesuai prinsip pragmatis yang benar… institusi keuangan yang keterlaluan kurang ajar, hanya bisa ditundukkan dengan kelak kelok “bacokan” dengan tegar!

    Suka

Tinggalkan Balasan ke MKGinting Batalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca