Transformasi diri..

Tahun 2010 saya datang ke Bangkok untuk bertemu dengan relasi saya, Aroon.. Pagi datang. Rencana malamnya saya kembali ke Hong Kong dengan pesawat terakhir.  Janji makan siang di grand millenium hotel Bangkok. Dari bandara saya langsung ke Hotel. Jam 12.45 saya sudah di hotel. Aroon sudah menanti. Kedatangan saya untuk bertemu face to face dengan dia sekedar meyakinkan bahwa deal yang dilakukan Wenny adalah tanggung jawab saya. Dia tidak perlu ragu soal sikap Wenny. 

“ Terimakasih B, saya senang. Perubahan kontrak untuk supply nafta ke petrokimia kami tidak ada agenda lain, justru memperkuat posisi kami sebagai produsen downstream oil. Kami akan patuhi SOP supply chain dari Yuan. Termasuk standa sumber daya keuangan. Wah kami benar benar punya mitra solution provider. One stop service dan transfaran “ Kata Aroon.

Aroon tidak bisa lama lama. Dia harus kembali ke kantor. Tapi dia sediakan supir dan asistennya mendamping saya selama di Bangkok. Setidaknya sampai Sore. Ingat pesanan istri untuk beli lukisan tenun Thailand. “ Where can I get a woven handmade painting?.” Tanya saya kepada asisten Aroon. Wanita. Usia mungkin belum tiga puluhan. Namanya Achara.  

Dia menunjuk ke dinding cafe. ” Like that ya “ 

“ Ya.” Kata saya melirik ke arah lukisan di tempel di dinding.

“Just wait here. In 20 minutes, I’ll bring you the painting. “ Kata Achara.  Dia langsung berlalu. Saya tunggu aja sambil minum kopi dan baca news lewat laptop ukuran portable. Benarlah tak lebih 20 menit dia sudah datang dengan bukusan panjang. Dia perlihatkan isi bungkusan itu. Gambar gajah dengan benang tenun emas.  Halus sekali. “ Berapa harganya ? Kata saya. Mau ganti uangnya. 

“ Engga perlu pak.  Boss saya yang bayar” Kata Achara. 

“ Wah jadi merepotkan. “ 

“ We didn’t know what gift to give you, especially since you don’t enjoy Bangkok, style entertainment and your time here is limited.“ kata Achara. Saya menangguk dan tersenyum “ terimakasih”. Kata saya dan terus asik dengan komputer.  Achara tetap berdiri sedikit menjauh dari table saya. Namun dia siap untuk melaksanakan kebutuhan saya.

“ Pak, ..” Seru Achara.

Saya mendongak beralih dari komputer kepada Achara. “ Ada apa ?

“ Maaf, kalau terkesan naif.  Saya..”

“ Ya silahkan bicara. Engga usah sungkan” Kata saya melambaikan tangan “ Duduk di sini sajalah “ kata saya memintanya duduk disamping saya. Dia melangkah dengan santun. Setelah duduk dia masih diam.

“ Ada apa? Bicaralah “tanya saya dan berusaha tersenyum agar dia bisa relak. 

“ Saya punya keluarga di kampung. “ Katanya mulai berani bicara. “ Kami punya kebun jahe merah. Tapi bingung memasarkannya. Selama ini jual lokal dan ada juga ekspor dalam keadaan mentah ke Malaysia, India, dan China. Nilai tambahnya kecil. Apa mungkin kami dapat jalan bangun pabrik minyak jahe dan dapat dukungan sebagai supply chain industri.” Kata Achara. Saya membuka kacamata baca saya. Sempat berpiki sejenak. Saya sudah pengalaman di Indonesia. Yang paling sulit mendidik petani agar bekerja sesuai standar indusri.

“ Sudah produksi minyak jahe ? tanya saya.

“ Udah pak. Tapi dengan tekhnologi sederhana.”

“ Bisa saya dapat contoh barangnya..” 

“ Bisa pak. “ 

“ Ya udah. Kamu kirim ke alamat saya di Hong Kong.” Kata saya memberikan kartu nama. Dia senang.

***

Seminggu kemudian, sekretaris saya memberikan paket dari bangkok. Saya buka paket itu. Isinya sampel minyak jahe dalam botol. Saya hirup aromanya. Tidak begitu kuat. Memang home industri untuk pengolahan hasil pertanian tidak aplicable untuk spek kebutuhan industri minuman atau industri pharmasi. Saya ignore saja. Ini buang waktu untu di follow up. 

Dua hari kemudian, datang pria muda datang ke kantor saya. Dia menyebut nama Achara. Saya izinkan dia masuk ke kamar kerja saya. “ Saya tidak bisa bantu pasarkan produk minyak jahe kalian. Maaf. Sampaikan ke Achara.” Kata saya to the point.

“ Bisa tahu sebabnya.?

Saya ambiil file spec minyak jahe yang diperlukan industri pharmacy dan industri minuman. “ Kamu test minyak jahe ini di lab dan bandingkan dengan spec requirement untuk bahan baku industri minuman dan pharmacy.” kata saya. Dia mengangguk. Dengan tersenyum dia berkata akan segera mempelajari spec requirement dari saya.

***

Setahun kemudian, Achara telp saya.” Bapak saya Achara. Apakah anda masih ingat setahun lalu di Bangkok” Terdengar suaranya di seberang.

“ Ya ada apa?

“ Boleh ketemu anda ?

“ Loh anda kan kerja di Petrokimia.”

“ Saya udah berhenti. Saya ingin membantu bisnis keluarga” 

“ Oh ok.”

“ BIsa pak?

“ Saya sedang di Ho Chin Minh. Datanglah kemari.”

“ Siap pak,  terimakasih.”

Sore harinya dia sudah  ada di Hotel saya. Saya terima dia di lounge executive. Dia perlihatkan gambar lahan pertanian. Proses tanam dan panen. Pengolahan secara sederhana. Saya lihat satu persatu photo itu.” Maaf. Saya berharap bapak bisa meninjau lahan pertanian kami. “

Saya tatap lama wajah Achara. Ini wanita naif. Dia pikir siapa. Seenaknya provokasi saya untuk bisnis yang engga jelas. Saya senyum aja. Kesan saya tidak bisa ditutupi bahwa saya tidak tertarik masuk terlalu jauh dengan obsesinya. Terlalu banyak di dunia ini orang punya impian. Bisanya hanya mengeluh dan berharap too good to be true. Telp masuk dari luar.  Saya bicara cukup lama. Usai, saya kembai ke Achara. “ Nanti saya pikirkan. Tapi saya tidak janji apapun.” Kata saya cepat.  Achara menganguk. Dia maklum. Karena saya terus sibuk terima telp. Dia pamit. Saya mengangguk seraya menerima uluran tanganya untuk salaman.

***

Malam hari saya pergi makan di kawasan distrik 2 Ho Chin Minh. Sekretaris saya dampingi saya. Saat akan masuk ke dalam kendaraan, di luar lobi ada Achara. Dia tersenyum kepada saya.  Saya dekati. “ kamu engga pulang ? Dia terdiam. Wajahnya keliatan lelah dan muram. Artinya dia sudah lebih 5 jam menanti di luar lobi. Pertarungan yang tidak mudah diatas harapan yang sangat kecil.

“ Mau temanin saya makan malam ? tanya saya. 

“ Terimakasih pak..tapi “ dia keliatan ragu.

“ Ayolah..” Kata saya mempesilahkan pintu terbuka duduk di belakang dengan saya. Sekretaris saya duduk didepan bersama supir. Akhirnya dia mau juga masuk ke dalam kendaraan.

“ Pak..Serunya saat dalam kendaraan “  beri saya peluang. Arahkan saya apa sebaiknya yang harus saya lakukan. Itu aja saya harapkan dari bapak. Maaf pak. Mungkin saya terlalu naif.” kata Achara dengan mata berlinang. Mungkin dia sangat berharap dan kehilangan cara untuk memprovokasi saya. Saya termenung.  Sepertinya saya membaca pesan cinta dari Tuhan dari sikap naif nya itu. Tapi saya tidak bisa memberikan too good to be true. Bagaimanapun pertimbangan bisnis yang utama. 

“ Pak, kami usahakan ekspor 200 liter minyak jahe ke pabrik yang jadi member supply chain anda. Proses produksi sesuai dengan spec requirement. Saya akan bangun mini plant untuk proses sesuai standar industri supply chain. Mesin itu memastikan proses 80% tidak ada human touch. Higines dan nol kontaminasi sejak dari pencucian dan penggilingan, pemecahan sel, sampai destilasi uap. Destilasi uap itu cara efektif sebagai separator menghasilkan minyak atsiri. “ Kata Achara saat sampai di restoran. Saya terkesima. Penguasaan tekhnis luar biasa.  “ Pak, saya perlu USD 100.000 beli mesin minin industri “ Kata Achara dengan ragu ragu. Naif memang. 

Saya tatap lama dia. Sampai dia salah tingkah.” Saya akan sediakan USD 100,000. “ Kata saya akhirnya membuat keputusan.. “ Nah seebelumnya kamu harus ajukan quotation kepada divisi trading saya untuk kontrak 200 liter. Setelah kontrak, kamu akan dapat uang dari saya secara personal “ kata saya. Achara langsung berlutut depan saya. Dengan merapatkan kedua telapak di dadanya , dia mengucapkan terimakasih. 

**

Sebelum dana cair, saya meminta tim saya menilai proposal teknologinya. Ini bukan untuk menguji logam, tapi menguji nyali. Proposal Achara terdiri dari: Closed System Steam Distillation Unit kapasitas 200 liter per batch. Pre-treatment line: washing, slicing, enzymatic maceration.High-grade extractor untuk memecah struktur sel jahe. Multi-stage condenser untuk menjaga kestabilan gingerol fraction. SS 316L pipelines anti-korosi, food-grade. PLC automation 80% tanpa sentuhan manusia. Microbial control dengan UV sterilizer. Waste heat recovery system. IFRA compliance module

Total biaya: USD 98.400. Margin error Achara: hanya 1,6%.

Itu luar biasa untuk seorang wanita yang setahun lalu bahkan tidak bisa membedakan steam distillation dengan hydrodistillation. Saya akhirnya menghubunginya. “Achara, mesin kamu oke. Tapi ini bukan mesin pabrik. Ini mini plant. Ingat, mini plant bukan untuk untung. Ini untuk membuktikan value chain.”

Hening sejenak.
Lalu ia berkata dengan suara kecil. “Saya mengerti, Pak. Saya harus buktikan diri saya layak.”

Tepat. Mini plant bukan bisnis.
Mini plant adalah tesis. Saya memang sengaja menyarankan mini plant. Bukan karena saya hemat uang.
Tetapi karena saya tidak pernah membangun pabrik besar sebelum melihat budaya di baliknya. Teknologi bisa dibeli. Mesin bisa diimpor.
Tapi budaya disiplin petani—itu tidak dijual di katalog.

Mini plant memaksa Achara mendidik: petani, mandor, operator, QA, QC, logistic coordinator, auditor IFRA. Semua dalam skala kecil. Jika mereka gagal di mini plant,
jangan pernah mimpi tentang pabrik 10.000 liter.

Saya tidak ingin Achara bergantung pada kas keluarga.
Model pendanaan yang saya pakai adalah skema Personal Loan Non-Recourse. USD 100.000 saya berikan langsung ke Achara.
Tanpa bunga.
Tanpa jaminan.
Tanpa recourse. Tapi dengan satu syarat “Kamu tidak boleh menyerah. Kalau kamu berhenti sebelum waktunya, uang itu berubah menjadi hibah. Kalau kamu berhasil, uang itu berubah menjadi ekuitas.”

Ini bukan pinjaman.
Ini opsi masa depan.

Divisi trading saya menandatangani kontrak: pembelian 200 liter per bulan, harga premium atas spot price, syarat: IFRA compliance + full traceability, Ini menciptakan future receivable
yang bisa dijadikan agunan invoice, dasar cashflow, dasar scaling up plant, dasar proposal bank. Itu strategi hedge fund, membuat uang dari masa depan, bukan dari masa kini. Achara tidak sepenuhnya mengerti waktu itu.
Tapi ia hanya menangis dan berulang ulang mengucapkan terima kasih.

**

Dua tahun berlalu sejak hari ketika saya menyerahkan USD 100.000 pertama kepada Achara — modal yang ia terima dengan tangan gemetar namun dengan mata yang menyala seperti seseorang yang baru diberi kesempatan kedua dalam hidup. Saya tidak pernah mengharapkan keajaiban dalam dua tahun.
Tetapi Achara membuktikan bahwa kadang, industri kecil bisa bergerak secepat doa yang dipanjatkan oleh orang yang tidak punya pilihan lain selain berhasil.

Sejak mini plant itu beroperasi, saya memantau setiap batch melalui dashboard traceability: kadar gingerol stabil ±2%, densitas aromatik konsisten, microbial count selalu di bawah 10 CFU/gr, yield extraction stabil 0.24–0.27%, kontaminasi nol. Tidak ada deviasi liar yang biasa terjadi pada pabrik kecil.
Tidak ada batch yang di-downgrade.
Tidak ada manipulasi data. Yang paling penting adalah tidak ada penurunan kualitas meski volume naik tiga kali lipat. Itu menandakan satu hal, yaitu budaya kerja telah menggantikan sekadar teknologi.

Dan bisnis apa pun yang berhasil membangun budaya. Itu pasti siap naik kelas. Saya tahu saat itu bahwa Achara bukan lagi “gadis kampung dengan mimpi naif”,
tetapi seorang operator industri yang bisa di-build menjadi asset class. Itu alasan saya mengambil keputusan berikutnya.

**

Essential oil tidak hidup dari sawah. Essential oil hidup dari hotel spa chain, kosmetik dan skincare, functional beverage, pharma grade extraction, nutraceutical, fragrance house, aromatherapy chain, food flavoring company. Jika hanya bermain di hulu, bisnis akan stagnan di margin 8–12%.
Tetapi jika masuk ke hilir, margin bisa melompat menjadi 35–55%. Dan saya bukan orang yang puas dengan margin kecil. Karena itu saya membuat keputusan strategis. Saya harus menguasai hilir, bukan hanya memasok hulu.

Namun saya tidak ingin memulai dari nol. Saya tahu pasti bahwa membuat brand baru butuh waktu. Memulai pabrik baru butuh adaptation cost, Membangun channel butuh trust. Lebih cepat membeli yang sudah hidup. Karena itu strategi saya adalah akuisisi.
Lebih tepatnya adalah strategic bolt-on acquisition,  teknik hedge fund untuk menenun rantai nilai dalam satu genggaman.

Saya tidak memilih berdasarkan prestise.
Saya memilih berdasarkan kebutuhan bahan baku terbesar. Dan dunia essential oil hilir terpusat pada tiga wilayah:

1. Amerika Serikat

Pasar F&B dan nutraceutical terbesar di dunia.
Mereka lapar jahe — dari ginger shot, kombucha, hingga pharmaco-grade extract.

2. Eropa

Home base dari perusahaan spa, aromatherapy, fragrance house, essential oil blending, dan hotel chain.

3. Korea Selatan

Sentral dari industri kosmetik global, K-beauty, dan consumer aromatherapy. Jika saya kuasai hilir di tiga pasar ini, Achara akan menjadi: pemasok strategis, pemasok indispensable. Itu definisi ecosystem.

**

Rencana akuisisi yang sedang disusun oleh team SIDC AMG di New York  adalah seperti mesin perang besar, 
berlapis analis, lawyer, investment banker, dan risk committee yang tidak pernah tidur.
Tetapi saya tahu satu hal. Bahwa tidak ada akuisisi hilir yang bernilai tanpa jaminan bahwa hulu sanggup memberi makan.

Karena itu, sebelum tim M&A saya menandatangani apa pun,
saya memanggil Achara ke Hong Kong dan menyerahkan mandat baru
yang lebih besar daripada apa pun yang pernah ia bayangkan.

“Achara,” kata saya, “kamu bangun pabrik esensial oil berskala industri.”

Ia menatap saya lama.
Ada rasa gentar yang tidak bisa ia sembunyikan. “Pak… mini-plant kami saja baru berjalan stabil.
” Katanya tertunduk. ” Industri skala besar… saya belum pernah.” suaranya lirih.

Saya tersenyum kecil. “Belum pernah bukan berarti tidak bisa.
Dan kamu sudah buktikan kamu tidak lari dari yang kamu tidak tahu.”

Saya kemudian membuka blueprint rancangan fasilitas industri.
Pabrik sekelas intermediate factory, bukan home industry, bukan mini-plant. “Untuk sementara,” lanjut saya,
“kamu memasok pasar yang sudah Yuan kuasai di industri minuman premium,
 industri wewangian, industri pharmacy yang berbasis aromatherapy, dan beberapa beauty–cosmetic labs di Korea Selatan.”

Ia menelan ludah.

“Ini… besar sekali, Pak.”

“Tepat. Dan karena besar, hanya kamu yang bisa.”

Saya jelas tidak ingin Achara hanya menjadi figur simbolis dalam struktur merger.
Ia harus mengerti penuh apa yang ia bangun. Jadi saya jelaskan satu per satu elemen teknis yang ia perlukan.

1. Teknologi Inti: Steam Distillation (Destilasi Uap) Industri

Inilah jantung pabrik. Pada skala industri, destilasi uap bukan lagi menggunakan drum dan pipa kecil.
Tetapi memakai distillation chamber stainless steel 316-L
yang tahan suhu, korosi, dan kontaminasi organik.

Tahapan teknisnya: Pre-cleaning & Sorting. Bahan baku seperti jahe merah, sereh, sitrus peel, kayu manis, cengkeh
dicuci dengan water-jet sanitasi level food-grade.
 Cell-rupturing (Pemecahan sel)
, Menggunakan high-shear grinder 3 tingkat,
agar membran sel tanaman terbuka.
Tujuannya meningkatkan yield minyak.
Steam Injection. Uap superheated 120–160°C masuk ke chamber besar.
Uap itu naik membawa senyawa volatil—
itulah minyak atsiri.


Condensation Unit.
Uap didinginkan dalam multi-stage condenser
hingga terpisah menjadi dua lapisan:
hydrosol dan essential oil.
Separator Tank. 
Minyak atsiri dipisahkan otomatis
memakai gravity separator atau centrifugal separator.Polishing & Filtration. Menggunakan membran 0.2 mikron untuk menghilangkan partikel.
Inilah syarat utama untuk industri kosmetik & minuman internasional.
Storage Tank (Jacketed Tank). 
Suhu terjaga 20–25°C agar kualitas minyak tidak rusak.


Ini standard pabrik global dan Achara harus memaksanya jadi standard Thailand.

2. Bahan Baku yang Didukung Thailand.

Saya jelaskan kepadanya bahwa Thailand sebenarnya surga essential oil. Berikut tanaman yang paling potensial:

Bahan BakuKandungan UtamaKelebihan Thailand
Jahe MerahGingerol, ShogaolHasil tinggi, kualitas dunia
Serai (Lemongrass)CitralThailand salah satu eksportir terbesar
Kulit JerukLimoneneBanyak industri juice & food processing
Daun Jeruk (Kaffir Lime)CitronellalNilai premium di industri spa
CengkihEugenolDidatangkan dari Selatan Thailand
Kayu ManisCinnamaldehydeThailand punya budidaya lokal
Patchouli (Nilam)PatchoulolDiminati industri parfum Korea
Ylang-YlangLinaloolPremium grade untuk parfum Prancis

“Thailand,” kata saya kepada Achara,
“dikasih Tuhan bahan baku yang separuh dunia tidak punya.
Tugasmu hanya mengubah berkah menjadi industri.”

Ia mencatat semuanya.

3. Standard Internasional (Food-grade & Cosmetic-grade).

Saya tekankan kepadanya. “Kalau kamu ingin masuk ke supply chain kami,
kamu tidak boleh pakai standard lokal.”

Maka standard yang wajib ia penuhi: GMP (Good Manufacturing Practice). ISO 22000 (Food Safety Management). Kosher & Halal Certification untuk ekspor. IFRA compliance untuk parfum dan kosmetik.REACH compliance untuk pasar Eropa. MSDS dokumentasi untuk ekspor kimia “

Saya lihat wajahnya mulai pucat.
Itu wajar.
Tidak ada orang kampung yang siap mendengar standar global seperti itu.

4. Pembiayaan Industrinya.

Saya menjelaskan struktur pembiayaan. “Achara, ini tidak harus kamu biayai sendiri.”

Saya membuatkan tiga pilar pendanaan: Pertama. Capital Expenditure (Capex) meliputi, Mesin destilasi industry, Boiler, Storage tank, Wastewater treatment, Quality control lab. Kedua. Working Capital (Opex). Pembelian bahan baku. Tenaga kerja. Utilitas (steam, cooling, electricity). Logistics. Ketiga. Trade Financing dari Yuan. Yuan akan membeli dulu hasil produksi. Memberi kepastian pasar. Menjamin cashflow Achara stabil
Karena saya tidak pernah membiarkan “anak kecil berenang di laut besar tanpa pelampung.”


Setelah saya selesai menjelaskan semuanya,
Achara tidak langsung bicara.
Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi,
wajahnya seperti seseorang yang baru melihat gunung terlalu tinggi
tetapi tidak punya pilihan selain mendakinya.

“Pak… ini besar sekali.
Lebih besar dari apa pun yang pernah saya bayangkan.”

Saya menatapnya dengan lembut namun tegas. “Segala yang besar dimulai dari seseorang yang memutuskan
untuk berhenti menjadi kecil. Kamu bukan lagi Achara yang dulu.
Kamu kini bagian dari arsitektur global.
Dan pabrik ini akan menjadi bukti bahwa orang kampung
bisa berdiri di tengah peta industri dunia.”

Matanya mulai basah.
Tapi suara yang keluar dari bibirnya tidak lagi takut. “Saya siap, Pak.”

Saya tersenyum. Karena saya tahu,
di momen itulah Achara berhenti menjadi sekadar pemasok bahan baku,
dan mulai berubah menjadi pemain industri.

**

Dalam dua tahun proses pendirian industry esensial oil selesai dan sudah berproduksi. Selanjutnya Achara harus masuk proses akuisisi untuk mengintegrasikan bisnis nya dengan hilirisasi. Tidak mudah memasukkan seorang perempuan kampung ke meja negosiasi New York atau Seoul.
Di ruangan itu orang berbicara dengan bahasa yang lebih dingin daripada angka,
dan lebih tajam daripada pisau: valuasi, covenant, dilution, escrow, leverage ratio—
kata-kata yang bisa memotong harga diri orang yang tidak siap.

Tetapi Achara memiliki sesuatu yang tidak bisa dibeli
bahkan oleh para MBA Harvard yang mahal itu. Ap aitu ? ia tidak bisa memalsukan dirinya, dia bicara jujur tanpa scenario, dia tidak tahu bagaimana cara menipu. Dan justru karena itu, investor mempercayainya.
Bukan karena ia hebat—tetapi karena ia tidak berpura-pura.

Pada hari ketika saya memanggilnya ke Hong Kong,
saya lihat dirinya seperti seseorang yang belum selesai menjadi dirinya sendiri,
tetapi ingin mencoba.

“Achara,” kata saya, pelan namun tegas, “kamu ikut tim akuisisi.”

Ia terdiam.

Ponsel di tangannya hampir jatuh.
Bukan karena kaget—tetapi karena rasa minder yang selama ini ia sembunyikan
dalam senyumnya yang terlalu sopan.

“Saya? Tapi… saya tidak punya pengalaman apa pun,”
katanya dengan suara yang bergetar sedikit.

Saya menatapnya lama.
Kadang manusia perlu lebih lama ditatap daripada dijelaskan. “Justru karena kamu tidak punya pengalaman,”
kata saya, “kamu tidak punya trik kotor.
Kamu bicara apa adanya. Dan itu membuat orang percaya.”

Ia menunduk.
Ada jeda Panjang, jeda yang biasanya dimiliki seseorang sebelum ia memutuskan
apakah ingin melompat ke jurang baru
atau tetap di tanah aman yang membuatnya tidak berkembang.

Lalu dengan suara kecil namun pasti, ia berkata. “Saya akan belajar, Pak.”

Saya menggeleng.

“Belajar tidak cukup.
Kamu harus berubah.”

Ia mengangkat wajahnya, bingung.

“Jika hulu ingin bernapas, hilir harus diikat.
Dan kamu akan menjadi pengikat itu.
Tanpa kamu, ekosistem ini tidak akan pernah hidup.” Kata saya. Kata-kata itu seperti membuka pintu gelap yang selama ini ia takut masuki.

Seminggu kemudian, Achara sudah duduk di ruang rapat saya—
ruang rapat yang biasanya hanya ditempati oleh tim M&A yang mengenakan jas rapi, investment banker dari New York, legal counsel internasional dengan logat British, dan para analis yang hidupnya hanya membaca angka. Di antara mereka semua, Achara duduk tanpa make-up berlebih,
dengan rambut yang ia ikat seadanya,
dan pulpen yang ia genggam terlalu erat. Ia tidak berbicara banyak.
Tetapi saya melihat satu hal yang lebih penting dari kata-kata, tangannya gemetar.

Dan di dunia saya,
gemetar bukan tanda ketakutan, tetapi tanda seseorang sedang meninggalkan dirinya yang lama. Ada manusia yang berubah karena nasihat.
Ada yang berubah karena waktu.
Dan ada yang berubah karena hidup menempatkannya di meja yang terlalu besar
untuk ukuran rasa percaya dirinya. Achara duduk di meja itu. Ia tidak menyadari bahwa hari itu,
 ia baru saja melampaui batas yang ditetapkan oleh hidupnya sendiri.

***

Saya datang ke rumah Achara di Bangkok pada tahun 2022.
Achara sudah jadi industriawan. Mitra Yuan dan CEO Yuan unit bisnis Agro.. Punya lahan luas untuk bahan baku indutri esensial oil. Membina ribuan petani. Rumahnya sederhana, minimalis, tanpa simbol kekayaan mencolok.
Hanya ada aroma lembut serai dari diffuser—
aroma yang dulu pernah ia tawarkan sebagai contoh pertama hasil penyulingannya.

“Achara,” kata saya sambil duduk di ruang tamu,
“menikahlah. Kamu sudah 40 tahun. Kapan lagi mau menikah?”

Ia tersenyum.
Senyum yang menua bersama pengalaman, tetapi tetap membawa kesopanan khas pedesaan Thailand.

“Belum ada jodoh, Pak…”

Nada suaranya ringan,
tapi saya tahu ada ruang kosong di baliknya, 
ruang yang dengan disiplin ia abaikan demi pertumbuhan bisnisnya.

Saya minta izin untuk salat.
Ia berdiri dan mempersilakan saya menggunakan kamarnya yang rapi,
 teratur seperti pabriknya:
tidak ada tumpukan barang, tidak ada hiasan berlebihan.
 Hanya kesederhanaan, yang justru membuat ruang itu terasa megah.

Saya melangkah masuk.

Dan saya terhenti.

FOTO ITU

Di meja kecil dekat jendela,
dalam bingkai kayu mungil yang dipoles halus,
terdapat foto saya dan dia—tahun 2010,
saat saya menerima lukisan tenun emas dari tangannya. Foto itu sudah saya lupakan.
Tapi ia menyimpannya selama 12 tahun. Di bawah foto itu, dengan tulisan tangan yang sangat rapi, ia menulis. You’ve opened my eyes.
And showed me how to be smart and unselfishly. You showed me what it means to be human and what it means to give yourself without expecting anything in return.”

Saya mematung. Tahu tahu Achara sudah ada di sebalah saya. ” Saya sebenarnya anak yatim. Saya dibesarkan orang tua angkat. Mereka sekolahkan saya sampai jadi sarjana. Walau saya sudah mapan bekerja di perusahaan negara bidang Petrokimia, tapi saya tetap merasa berhutang kepada keluarga orang tua angkat saya. Makanya saya putuskan berhenti kerja. Saya ingin manfaatkan ilmu sarjana kimia  saya untuk  membantu mereka medapatkan keadilan atas sumber daya yang mereka punya. Tanpa sains tidak mungkin mereka bisa berkembang. Tapi saya tidak ada jalan dapatkan modal. Saya berdoa siang malam kepada Tuhan agar dapat jalan. Entah mengapa saat pertama bertemu bapak, seperti ada cahaya. Saya yakin. itu tanda dari Tuhan atas doa saya selama ini.” Katanya.

Saya senyum aja. 

Saya duduk perlahan di tepi tempat tidurnya,
menatap tulisan itu lama,
terlalu lama hingga adzan maghrib dari masjid kecil di ujung jalan terdengar sayup-sayup. Saat itu saya sadar: Yang kita bangun bukan hanya pabrik, bukan hanya bisnis,
tetapi manusia. Dan kita tidak pernah tahu
siapa yang tumbuh dari tangan kita,
atau siapa yang menyimpan kita dalam hatinya
tanpa pernah mengatakan apa-apa.

***

Indonesia sering berbicara tentang “transformasi ekonomi”, “hilirisasi”, “revolusi industri”, dan “green growth”. Namun apa yang terjadi di lapangan? Kita masih mengulang pola lama: membuka hutan, membakar lahan, dan memproduksi komoditas bernilai rendah yang membutuhkan tanah luas, modal besar, dan pada akhirnya melahirkan kerusakan ekologis yang tak terhingga.

Padahal dunia modern sudah memberi contoh bahwa Sumber Daya Alam tidak harus identik dengan kerusakan alam. Tekhnologi hari ini dapat mengubah tanaman kecil yang tumbuh di pekarangan desa menjadi komoditas bernilai tinggi.

Esensial Oil.

Serai, citronella, jahe merah, kunyit, patchouli, semua bisa ditanam petani skala kecil. Tidak perlu tebang hutan, tidak perlu bakar gambut, tidak perlu modal raksasa. Teknologi produksi modern seperti steam distillation, cold extraction, dan continuous feed processing memungkinkan petani menghasilkan minyak atsiri dengan kualitas ekspor global.

Dan harganya? Lemongrass oil: US$ 15–52 per kg. Artinya: US$ 15.000–52.000 per ton. Tanaman tumbuh setiap 3–6 bulan, bisa ditanam di pekarangan, ladang kecil, atau lahan desa. Tidak perlu raksasa perkebunan. Tidak perlu oligarki.

CPO.

Bandingkan dengan CPO: Harga hanya ±US$ 1.000 per ton. Modal: ratusan ribu hektar. Dampak: deforestasi, banjir, erosi, konflik agrarian. Risiko: kampanye boikot internasional, carbon penalty, eco-compliance. Nilai tambah CPO rendah, risiko ekologisnya tinggi, dan masa depannya suram ketika dunia beralih ke energi terbarukan dan minyak alternatif. Namun justru komoditas seperti inilah yang dipilih para pengusaha Indonesia.

Pertanyaan besar, mengapa kita memilih yang murah, kotor, dan merusak? Jawaban sebenarnya sederhana — dan pahit.

Karena mentalitas pengusaha kita lebih banyak broker, bukan industrialis.

Mereka tidak mau repot membangun R&D, quality control, dan supply chain bernilai tinggi.
Tanam sawit → tebang hutan → produksi massal → ekspor.
Cepat, kotor, dan mudah.

Karena mindset bisnis masih “feodal”, bukan “inovatif”.

Industri bernilai tinggi membutuhkan pengetahuan, bukan kedekatan politik.
Mereka memilih komoditas yang membutuhkan izin, bukan keahlian.

Karena kekayaan di Indonesia lebih banyak diwarisi dari rente, bukan pengetahuan.

Bukan rahasia bahwa sebagian besar orang kaya Indonesia bukan inovator, bukan industrialis, bukan penemu teknologi.
Sebagian besar kekayaannya berasal dari konsesi lahan, proyek negara, kedekatan kekuasaan, dan kontrol tanah.
 Ini melahirkan generasi predator:
kaya secara nominal, tapi miskin intelektual;
berkuasa secara politik, tapi miskin moral.

Padahal masa depan ada pada model seperti Esensial Oil. Tanaman yang tidak merusak alam. Tidak perlu lahan jutaan hektar. Menghidupi petani kecil. Industri skala rumahan bisa naik kelas. Nilai tambah tinggi. Ramah lingkungan. Tahan krisis global. Dan teknologi sudah tersedia:
mini refinery, continuous distillation, GMP-certified processing, bahkan traceability berbasis blockchain.Dunia sudah bergerak ke sana.
Hanya Indonesia yang masih menebang hutan demi komoditas murah.

Penutup.

Indonesia Harus Memilih Menjadi Cerdas, Bukan Menjadi Kaya. Sementara negara-negara maju membangun nilai tambah dari teknologi, inovasi, dan supply chain global.
Indonesia masih terjebak model primitif:
merusak ribuan hektar hutan demi produk US$ 1.000 per ton,
padahal ada industri bersih bernilai US$ 50.000 per ton yang bisa dikerjakan petani di belakang rumah. Ini bukan soal kemampuan.
Ini soal mindset. Selama pengusaha kita lebih suka rente daripada inovasi, selama kekayaan kita dibangun di atas lahan terbakar, selamanya kita akan miskin — moralnya, intelektualnya, dan akhirnya ekonominya. Saatnya meninggalkan mental predator.
Bangsa besar hanya bisa tumbuh dari industri yang bermartabat, bukan dari rakus yang membakar tanahnya sendiri.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

3 tanggapan untuk “Transformasi diri..”

  1. Terimakasih

    Suka

  2. triumphdelightfulff974b4a10 Avatar
    triumphdelightfulff974b4a10

    Sangat inspiratif, menumbuhkan semangat semakin mandiri dalam usaha

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Transformasi Diri | Raldi Artono Koestoer Batalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca