
Jakarta malam itu tidak ramai. Hanya deru AC dari gedung-gedung pencakar langit dan pantulan lampu di aspal basah, seperti genangan waktu yang tidak pernah benar-benar kering. Disebuah safahouse di Jalan Sudirman, tempat yang terdaftar sebagai apartement, saya menunggu Mia. Dia adalah team shadow Yuan yang saya minta memantau secara economist semua negara dimana Yuan beroperasi.
Dia datang sepuluh menit lebih awal. Tak nampak lelah walau long flight NY -Jakarta. Rambutnya diikat rendah. Mengenakan T-Shirt warna hitam dan celana denim. Wajahnya tenang, tapi di balik retina matanya saya tahu: ia baru saja menarik garis dari neraca luar negeri Argentina ke meja kerja saya.
“Maaf,” katanya singkat. “Jaringan di Buenos Aires mendadak ramai. Banyak yang panik.”
Saya tersenyum tipis.
“Argentina selalu ramai saat panik,” jawab saya. “Dan selalu sunyi saat bangkrut.”
Dia duduk. Menyilangkan kaki. Menyodorkan tablet berisi data yang tak perlu saya sentuh. “Argentina itu seperti orang kaya yang selalu bangkrut…”
Saya menyimak.
“Pak…” ia memulai pelan, “Simon Kuznets pernah bercanda, atau mungkin bukan bercanda. Bahwa di dunia ini hanya ada empat jenis negara: negara maju, negara terbelakang, Jepang, dan Argentina.”
Saya tersenyum.
Mia melanjutkan “Jepang hancur perang tapi bangkit. Argentina tanahnya subur, tidak pernah hancur perang… tapi justru runtuh berulang-ulang.”
Ia menggeser satu grafik ke depan saya. Garis peso yang terus jatuh seperti dosa yang tak pernah lunas.
“Pak tahu yang ironis?” katanya lagi, “Argentina selalu kaya. Tapi selalu bangkrut.”
Saya menyeduh teh lebih dulu. Baru bertanya “Bagaimana Milei dilihat dari dalam?”
Mia tersenyum. Tapi bukan senyum bahagia. Senyum orang yang sering melihat sejarah mengulang kebodohannya.
“Presiden Javier Milei menjual harapan dengan bahasa libertarian radikal,” katanya. “Dan dunia barat menyukainya. Trump, Wall Street, Davos, mereka semua senang.”
Ia berhenti sejenak.
“Bahkan Niall Ferguson memujinya. Bukan karena keberhasilannya, tetapi karena popularitasnya.”
Saya tertawa pendek.
“Bukan karena ekonomi membaik, tapi karena narasi terlihat berani?” tanya saya.
“Ya,” jawabnya. “Bahkan dia bicara dengan arwah anjingnya, Conan. Dan sebagian orang menganggap itu ‘visionary’.”
Kami terdiam sejenak.
Lalu Mia melanjutkan. “Padahal kebijakan Milei itu deja vu. Sama seperti masa Carlos Menem. Sama seperti Macri. Dan bahkan akar neoliberal era junta militer.”
Saya mengangguk pelan. “Kebijakan yang gagal tiga kali… dan akan gagal keempat kali, hanya dengan aktor baru.”
“Mereka bilang krisis karena pengaruh Peronis, Pak…” kata Mia.
“Tapi sebenarnya bukan itu akar utamanya.”
Saya mengangkat kepala.
“Terus apa?” tanya saya.
“IMF.” Ia menjawab tanpa ragu. “IMF yang memaksa pelepasan kontrol modal. IMF yang memaksakan band nilai tukar. IMF yang mendorong liberalisasi di saat cadangan devisa Argentina rapuh.”
Dia geser grafik kedua.
“Peso jatuh dari 1.000 ke 1.400 per dolar bukan karena populisme. Tapi karena pasar tahu Argentina tidak punya cukup senjata untuk bertahan.”
Saya memejamkan mata sejenak. “Dan dolar seperti selalu,” gumam saya, “datang sebagai penyelamat… sekaligus penjajah.” Kata saya lirih.
“Amerika memberikan swap line. SDR. Pinjaman. Bukan karena cinta pada Argentina. Tapi karena Argentina adalah papan catur geopolitik.” Kata Mia.
Saya mengangguk pelan
“Pak…” suara Mia berubah lebih lirih, “Argentina itu bukan miskin. Mereka hanya terus diseret ke dalam siklus yang sama.”
Saya menoleh.
“Siklus apa?” tanya saya.
“Siklus utang. Ketergantungan kepada pinjaman, moral hazard melahirkan stabilisasi semu lewat survey dan data statisik nasional yang bias, dan influencer politik. Bergaya ekspansi demi citra. Ya terjadilah krisis akibat gagal bayar, negara bailout. Itu akan terus berulang lagi.”
Ia menarik napas panjang.
“Dan di setiap siklus itu, yang untung selalu sama: Hedge fund. Bank internasional. Elite lokal yang simpan duit di Swiss.”
Saya termenung.
“Seperti ritual,” bisik saya.
“Ya,” jawab Mia. “Dan Argentina selalu jadi altar.”
Saya menghela napas.
“Jadi menurutmu…” saya menatapnya, “Argentina bisa exit?”
Mia menggeleng pelan. “Sistem global dirancang untuk membuat negara seperti mereka selalu bergantung. Hutang mereka bukan kesalahan semata, tapi desain sistem.”
Saya tersenyum pahit.
“Seperti kata mereka…” Saya menirukan kalimat yang muncul di tablet. Sistem ini tampaknya dirancang untuk menjadikan ketidakstabilan menguntungkan.
Mia mengangguk.
“Pak… di dunia seperti ini, stabilitas bukan tujuan. Tapi komoditas politik.”
Hening sejenak.
Lalu saya berkata “Lalu bagaimana posisi Yuan di sana?”
Ia tersenyum tipis.
“Kita harus hati-hati. Argentina bukan soal bisnis… tapi soal membaca retakan sistem dunia.”
Saya berdiri. Melihat keluar jendela safahouse, lampu Jakarta masih berdenyut seperti pasar yang belum tutup lukanya.
“Mia…” saya berkata pelan, “Argentina bukan hanya tentang peso dan IMF.”
Dia menoleh.
“Itu tentang bagaimana dunia memperlakukan yang lemah agar tetap lemah.”
Mia mengangguk. “Dan bagaimana yang kuat memastikan siklus itu tidak pernah putus.”
“Pak tahu yang paling ironis apa?” tanya Mia.
“Hmm?”
Mia mendekati saya dan berdiri disamping saya.
“Semua elite… tidak pernah benar-benar percaya pada Argentina. Mereka pegang dolar. Anak-anak mereka sekolah di AS atau Eropa. Aset mereka di offshore.”
Saya tertawa pelan.
“Jadi siapa yang percaya?”
“Orang miskin. Miskin harta karena miskin literasi. “ Jawab Mia.

Ada bangsa yang tidak runtuh karena perang. Tidak tumbang oleh bencana. Tidak ambruk karena kekurangan sumber daya alam. Ia retak… pelan… dari dalam, bukan karena tanahnya tandus. Bukan karena lautnya tak lagi melimpah. Melainkan karena kepercayaannya bocor, melalui tangan mereka yang seharusnya menjaga.
Di banyak negara berkembang, termasuk di Amerika Latin, Afrika, dan Asia Tenggara, tragedi terbesar bukanlah kemiskinan itu sendiri, tetapi krisis kepercayaan yang sistemik. Ketika elite politik dan ekonomi tidak lagi percaya pada masa depan bangsanya sendiri, maka kehancuran hanya tinggal menunggu waktu.
Lihatlah pola yang berulang. Elite menyimpan aset dalam dolar, anak-anak mereka disekolahkan ke luar negeri, kekayaan mereka disamarkan di offshore. Secara kasat mata, ini tampak seperti strategi keamanan finansial. Namun secara moral dan struktural, ini adalah pernyataan tanpa kata, “Kami tidak percaya kapal ini akan selamat.”
Dan ketika nakhoda tak lagi percaya pada kapalnya, apa yang tersisa bagi para penumpang? Rakyat kecil tetap tinggal. Mereka yang tak punya rekening luar negeri. Tak punya akses ke lindung nilai global. Tak punya pintu pelarian. Mereka percaya, bukan karena bodoh, tetapi karena tidak diberi pilihan. Inilah yang dalam ekonomi politik dikenal sebagai asymmetric trust, sebuah kondisi ketika kepercayaan hanya dituntut dari bawah, namun dikhianati dari atas.
Kepercayaan yang timpang ini melahirkan bentuk kemiskinan baru, bukan hanya kemiskinan materi, melainkan kemiskinan makna dan kesadaran. Ketika rakyat terus disuapi jargon kesejahteraan, tetapi tidak pernah dibekali literasi, maka demokrasi pun kehilangan fondasinya. Demokrasi seharusnya ruang nalar. Tempat rasionalitas diuji. Tempat argumen bertarung. Tempat kebijakan dikritisi. Namun dalam kondisi kemiskinan literasi, demokrasi berubah menjadi panggung reaksi emosional. Bukan lagi ruang berpikir, tetapi ruang digerakkan. Kemiskinan literasi membuat rakyat mudah dipanaskan, mudah ditenangkan, mudah dilupakan. Dan di ruang kabut itulah gerombolan bandit politik menemukan habitatnya.
Bandit politik tidak takut rakyat miskin. Mereka takut rakyat yang paham. Karena rakyat yang paham tidak bisa digiring. Mereka hanya bisa diajak berdialog. Maka strategi mereka bukan mencerdaskan, tetapi membelokkan kesadaran. Bukan mengangkat daya pikir, tetapi menciptakan kabut. Ketika elite memindahkan dolarnya ke luar negeri, bandit politik memindahkan kesadaran rakyat ke ruang hampa.
Kemiskinan kemudian bukan hanya akibat samping, tetapi menjadi alat. Ketidaktahuan bukan lagi masalah, tetapi dijadikan senjata. Dan demokrasi, yang seharusnya menjadi mekanisme koreksi kekuasaan, merosot menjadi dekorasi prosedural. Bukan negara yang gagal. Bukan pula semata sistem. Melainkan cara berpikir yang sengaja dikerdilkan.
Selama kemiskinan literasi dibiarkan, demokrasi akan terus rapuh. Bukan karena musuh dari luar. Tetapi karena keropos dari dalam. Dan mungkin, tragedi terbesar sebuah bangsa bukan ketika mata uangnya runtuh, tetapi ketika elite tetap hidup nyaman, rakyat tetap disuruh percaya, dan kebenaran dibiarkan berjalan sendirian di lorong sunyi sejarah.
Saya mengangguk pelan. Bukan karena sepakat secara instan. Tetapi karena ada luka yang terasa logis di dalam kata-kata Mia.
Udara sejenak terasa lebih berat. Bukan karena kelembapan, melainkan karena beban ingatan yang tiba-tiba jatuh di antara kami. Lalu, tanpa suara, air matanya mengalir. Bukan jatuh. Tetapi meluncur pelan, seperti sungai kecil yang akhirnya menyerah pada gravitasi sejarahnya sendiri.
“Pada 2010…,” suara Mia bergetar, “saya bertemu bapak dan bapak selamatkan saya…” Ia menghela napas. Seperti ingin membuang masa lalu, tapi tahu itu tak pernah bisa benar-benar pergi. “Saya lahir sebagai yatim… dan tumbuh sebagai piatu. Hidup saya nyaris terbuang dan dilupakan. Bukan hanya karena orang tua saya tiada, tapi karena negara pun tak pernah benar-benar hadir.”
Matanya memandang kosong. Seperti sedang menatap seseorang yang tak lagi ada. “Saya pernah jatuh ke tempat yang tak pernah dipilih siapa pun dengan sadar… menjadi tubuh yang disewa. Karena sistem yang gagal menyediakan jalan.”
Suara itu hampir pecah.
“Kalau bukan karena bapak dan proses rekrutmen Yuan… kalau bukan karena seleksi itu begitu keras, begitu kejam, tapi juga begitu adil… saya mungkin masih menjadi angka di statistik kelam”
Saya tidak menyela. Karena ada kesunyian yang memang harus dibiarkan berbicara. “Setelah pendidikan di luar negeri… setelah latihan sebagai tim Shadow… saya baru mengerti…” ia tersenyum pahit, “bahwa kejahatan paling berbahaya bukan dilakukan di gang-gang gelap, tetapi di balik meja rapat berlapis marmer.”
Mia menatap saya. “Elite politik itu bukan sekadar bandit, Mereka adalah arsitek kelaparan, yang menata ulang penderitaan agar tampak seperti kebijakan.”
Lalu dia tertawa kecil, tawa yang lahir bukan dari bahagia, tapi dari rasa muak yang sudah terlalu lama dipendam. “Mereka membagikan bansos, mendistribusikan BLT, seolah mereka sedang memberi sedekah dari kantong pribadi.”
Ia menggeleng pelan.
“Padahal itu bukan uang mereka. Itu uang dari hutang. Dan harus dibayar dari darah keringat rakyat yang dikumpulkan lewat pajak.”
Nada suaranya mulai lebih tenang, tapi lebih tajam. “Uang itu seharusnya bukan dibakar jadi subsidi yang mematikan daya juang, bukan dibuang ke toilet politik lewat BLT yang membuat rakyat terus tergantung… tetapi dipakai untuk menciptakan pekerjaan, membangun ekosistem usaha, menguatkan daya hidup.”
Lihat negara maju. Mereka memberikan juga subsidi bansos itu bukan uang berasal dari utang. Tetapi uang berasal dari surplus penerimaan pajak. Nah uang itu dikembalikan lagi ke rakyat lewat program universal bantuan tunai. Itu karena ekonomi iklusif tumbuh dan menjadi mesin penerimaan pajak.”
Ia menarik napas dalam.
“Ketika mayoritas rakyat miskin literasi. Yang terpilih sebagai pemimpin adalah bandit. Maka kemiskinan jadi desain permanen. Dan di atas puing-puing itulah para bandit politik mendirikan istananya.”
Saya terdiam. Bukan karena tidak tahu harus menjawab apa. Tapi karena di hadapan saya sekarang, bukan sedang berdiri seorang analis, bukan pula shadow operative. Melainkan seorang manusia yang pernah hampir ditelan sistem namun memilih untuk menggigit balik kenyataan. Dan mungkin, itulah bentuk jihad paling sunyi dalam dunia modern. Yaitu bertahan dengan kesadaran, di tengah peradaban yang sengaja membuat manusia lupa cara berpikir.

Tinggalkan Balasan ke saein saein Batalkan balasan