Berjalan bersama Tuhan.

Dulu, tahun 1982, saya merantau ke Jakarta.
Bukan dengan koper mewah atau rencana besar.
Hanya satu tas kain, sepasang baju, dan pesan panjang dari mandeh. “Bermurah hatilah dengan induk semang.Perbanyak sabar menghadapinya, walau sampai batas tak tertanggungkan.Jangan beratkan langkahmu.Kalau gagal di satu tempat, jangan sedih.Artinya Tuhan menyuruhmu pindah ke tempat lain.Rezeki itu luas, seluas bumi yang dibentangkan Tuhan.Bangunlah lebih dulu dari ayam.Dan jangan sekali-kali tinggalkan sholat, dalam keadaan apa pun.” Pesan itulah yang saya bawa, dan itu modal saya.

Saya hanya tamatan SMA.
Seminggu di Jakarta, saya tidak menunggu nasib.
Saya keliling Tanah Abang dan Senen, dari kios ke kios, dari pintu ke pintu. Bukan transkrip nilai yang saya sodorkan,
melainkan kalimat sederhana:
“Saya dari kampung. Saya bisa menjahit dan memasak.” Belum lewat sehari waktu berjalan, saya sudah dapat kerja sebagai penjahit konveksi.
Plus tempat tidur di gudang. Saya tidak tanya berapa upah.
Baru kemudian saya tahu. Upah kodian.
Alhamdulillah.

Hari Minggu saya tidak kerja menjahit.
Tapi saya tidak diam.
Saya datangi rumah makan Padang, bukan untuk makan,  tapi menawarkan tenaga. Saya kerja malam, dari jam 11 sampai subuh. Kemudian 3 bulan di Jakarta. Saya sudah hapal jalan. Saya jadi broker tekstil. Menghubungkan pedagang Kota dengan Tanah Abang dan Mayestik. Di waktu senggang hari minggu. Saya juga jadi guide tourist di Pelabuhan  Sunda Kelapa.

***

Matahari Jakarta waktu itu kejam.
Bukan sekadar panas, tapi seperti menumpahkan seluruh amarah langit ke kulit orang-orang kecil. Sudah sejak pagi saya di Pelabuhan Sunda Kelapa.
Tidak ada sarapan.
Tidak ada mie instan.
Tidak ada sebatang roti pun. Perut saya kosong dari subuh,
tinggal suara angin laut dan gemerisik kapal Phinisi yang menemani.

Saya duduk di dekat pos penjaga pelabuhan,
menunggu turis yang mau saya dampingi. Seorang perempuan Jepang. Masih muda. Rambutnya dipotong pendek, sedikit berantakan. Bertopi, berkemeja kotak-kotak, celana panjang longgar seperti anak band. Bukan tipe turis halus yang banyak bertanya dengan suara pelan. Dia berdiri di depan saya, mengamati kapal-kapal kayu dengan mata tajam.

“Are you a guide?” tanyanya cepat, langsung.

Saya berdiri.
“Yes. Do you need help?”

Dia mengangguk singkat.
“My group went to the museum. I hate museums. Too silent. Too dead. I want a living place. This one… is alive.”

Saya tersenyum. Mengikutinya jalan masuk ke dalam Pelabuhan. “ Welcome to Sunda Kelapa Harbor,” Kata saya mengawali. “ This is not just a port. This is where Indonesia first learned to speak with the world. These are phinisi ships,” saya menunjuk ke Kapal layar.
“They are not just vessels. They are a heritage.
Built by the Bugis and Makassarese people of South Sulawesi, designed to conquer monsoon winds, and shaped by generations of sailors who could read the stars better than maps.”

Dia menyimak

“For centuries,” Lanjut saya
“these ships carried spices, cloves, nutmeg, pepper. From the eastern islands to every corner of the world.
Back then, spices were not just flavoring.
They were power. They were currency.
They were reason for empires to travel across oceans.”

Kami terus jelan ke keliling palabuhan “These waters, were once the bloodstream of the global spice trade.
From here, ships sailed to Malacca, India, the Arabian Peninsula, and Europe.
They carried not only goods, but cultures, beliefs, languages, and blood.”

Dia tanya soal kedatangan Belanda.

“In the 17th century, this harbor changed destiny.
The VOC,  the Dutch East India Company  arrived.
They did not come as traders only, but as masters of monopoly.”

Saya menunjuk Gudang  tua yang ada di pelabuhan. “They built fortresses.
They imposed taxes.
They controlled who could sell spices and at what price.
The port became rich…
but the people became poor.”

Dia menyimak..

“But before the VOC, before the cannons and contracts,” Lanjut saya. “ this port belonged to the Bugis sailors.
Men who trusted wind more than gold.
Men who believed the sea was not to be owned,
only to be respected.”

Saya tersenyum lambat. “For them, the ocean was not an enemy. It was a teacher.”

Dia terdiam. Saya tahu dia tidak hanya melihat Pelabuhan tetapi melihat perjalanan sejarah peradaban.

“Why Indonesian people always smile when they are tired? In Japan, if tired, we just show tired.” Tanyanya

“Why you don’t complain about the heat?” tanya saya balik.

Dia tersenyum. “How much do fishermen here earn? Why is the government so poor taking care of them?”

Cerewet.
Tapi bukan cerewet kosong.
Cerewet yang ingin tahu. Saya ikut menjawab semuanya. Sambil bicara,
mata saya kadang kabur pelan. Bukan karena silau.
Tapi karena perut. Sudah jam tiga sore.
Lidah saya terasa pahit.
Perut seperti diremas dari dalam.
Langkah kaki saya mulai ringan seperti orang mau pingsan.

Tapi saya tidak berhenti. Dia ingin ke Kota Tua.

“Taxi?” saya tawarkan.

Dia menggeleng cepat. “Walk. I hate taxi. I want to feel the city. No glass between me and the street.”

Kami berjalan kaki.
Dari Sunda Kelapa ke Kota Tua.
Dengan matahari yang seolah sengaja menguji kesabaran. Dia terus bicara. Tentang Tokyo.
Tentang dia yang benci kantor.
Tentang dia yang berantem dengan bosnya.
Tentang dia yang ingin melihat dunia sebelum “jiwanya dibunuh oleh jam kerja”.

Saya dengarkan. Kadang saya hanya mengangguk karena energi sudah habis.

Di tengah jalan, saya berhenti sebentar.

“I need to pray. May i…”Kata saya.

Dia terdiam.
Lalu berkata. “Okay. I wait..”

Di masjid kecil,
saya sholat dengan badan lemas dan kepala ringan. Dalam sujud, perut saya berteriak.
Tapi hati saya tenang.

Setelah itu kami lanjut ke depan Museum Bank Indonesia. Saya ceritakan tentang sejarah rupiah.
Tentang penjajahan Belanda. Tentang uang yang dulu hanya alat tukar,
dan sekarang jadi alat pemisah manusia. Dia menyimak sambil duduk di bangku taman. Jam sudah hampir empat. Wajah saya sudah pucat. Saya diam sebentar. Dia menatap saya.
“You are tired. Did you eat?”

Saya tersenyum. “I’m okay.”

Dia menatap lebih lama.
Matanya menyempit. “Liar. You didn’t eat since morning, didn’t you?”

Saya tidak menjawab.

Dia berdiri. “I need to go back to my hotel. Thank you. You were a good guide.”

Dia mengulurkan tangannya. Saya jabat. “Thank you.” Ia melangkah pergi.

Tanpa memberi uang tip. Tanpa apa pun. Saya berdiri di tempat itu beberapa detik.
Tidak marah.
Tidak kecewa. Saya melangkah ke warung kecil pinggir jalan.
Uang saya tinggal Rp200. Saya mau membeli bubur kacang hijau. Tapi saat hendak masuk,
saya melihat seorang wanita dan anak kecil tergeletak di pinggir jalan. Anaknya diam.
Matanya cekung.
Mulutnya kering. Saya langsung bayar bubur itu. Saya serahkan pada mereka. Penjualnya melirik saya. “Lu ini aneh-aneh aja hidupnya. Laper begini malah kasih orang.”

Saya hanya tersenyum tipis.

Dalam hati saya berkata. Tuhan…
Dia tidak tahu betapa laparnya tubuh ini.
Tapi Engkau tahu betapa laparnya jiwaku juga.
Jangan biarkan aku jadi manusia yang hanya kenyang perut tapi kosong hati.

Langit mulai jingga. Dan saya berjalan lagi…
 Langkah saya terasa ringan meski perut kosong.
Aneh.
Seolah ada hukum tak kasat mata yang mulai bekerja. Saya teringat pada buku yang saya baca di perpustakaan SMA. Suatu konsep dalam fisika modern, Quantum Field Theory. Para fisikawan mengatakan bahwa alam semesta ini bukanlah kumpulan benda padat semata,
melainkan sebuah lautan energi tak terlihat. Sebuah medan kuantum
tempat semua partikel hanyalah getaran. Elektron, proton, cahaya, waktu. Semuanya bukan benda mati,
melainkan vibrasi dalam medan energi semesta.

Dan di dalam Islam, saya teringat firman Allah, “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”(QS. Al-Qamar: 49). Ukuran di sini…
bukan hanya ukuran fisik,
tetapi juga ukuran hukum alam,
hukum kesadaran,
dan hukum takdir.  Di fisika kuantum ada konsep yang disebut  Observer Effect.
Bahwa sebuah partikel tidak memilih wujudnya
hingga ia diamati. Begitu disadari,
realitas mengunci dirinya ke satu kemungkinan.

Dalam bahasa iman,
niat manusia adalah bentuk pengamatan paling halus terhadap realitas. Niat bukan hanya kehendak,
ia adalah gelombang kesadaran
yang memengaruhi bagaimana kenyataan menampakkan diri. Rasulullah ﷺ bersabda “Sesungguhnya segala amal itu tergantung niatnya.”

Hari itu, saya lapar.
Tubuh saya lemah.
Dunia terasa sempit. Namun saat saya menyerahkan bubur itu kepada ibu dan bayinya, sesuatu di dalam medan jiwa saya berubah. Secara kuantum,
saya sedang mengubah frekuensi kesadaran.
Saya tidak lagi berada pada mode kekurangan (scarcity),
tetapi pada mode tawakkal. Dan dalam Islam,
tawakkal bukan pasrah buta,
tapi sinkronisasi kehendak manusia
dengan kehendak Allah.

Doa adalah bentuk interaksi paling halus
antara kesadaran manusia
dan hukum semesta yang diciptakan Tuhan. “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan.”(QS. Ghafir: 60.). Jika dalam kuantum,
medan energi merespons getaran,
maka dalam iman?
Allah merespons kesungguhan hati. Bukan karena Dia butuh,
tetapi karena Dia Maha Mengasihi.

Di saat itu saya paham. Kesulitan bukan dinding.
Ia hanya medan kuantum
yang belum kita selaraskan frekuensinya. Selama pikiran tetap fokus pada niat,
selama kesadaran tidak menyimpang ke putus asa,
selama langkah tidak berhenti dari ikhtiar… Maka energi ilahi di dalam diri manusia
yang oleh para ilmuwan disebut potential quantum reservoir,
akan mulai bekerja. Dalam Islam,
itulah yang disebut karamah tak terlihat. Bukan mukjizat,
bukan sihir,
tapi buah dari tiga hal, – Ikhtiar
– Niat
– Tawakkal.

Dan Tuhan tidak mengubah keadaan suatu kaum
hingga mereka mengubah apa yang ada di dalam diri mereka. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”(QS. Ar-Ra’d: 11). Maka saya terus melangkah.
Dengan perut kosong,
tetapi hati penuh. Dengan saku hampir kosong,
tetapi jiwa terisi. Karena saya  tahu, 
di balik setiap kesulitan
ada medan kuantum yang sedang menunggu
diaktifkan oleh iman.

Saya jalan menuju masjid di Jalan Lada. untuk sholat Maghrib. Lalu Isya di masjid itu. Usai sholat. Ada orang memanggil saya di teras masjid. “Kamu kan yang sering antar turis ke toko saya?”

Saya mengangguk. Dia kasihkan saya Rp 5.000.
Katanya itu komisi. Saya hampir tidak percaya.
Bagi orang lain mungkin kecil. Tapi bagi saya itu seperti hujan di padang pasir. Malam itu saya naik metromini ke Tanah Abang.


Di kamar kos, saya tulis surat ke ibu saya “Mak, nasihat amak selalu kuingat.Sholat tidak pernah kutinggalkan.Dan setiap kali Tuhan menyuruhku berbagi, walau aku lapar, aku laksanakan.Aku sekarang tahu…Tuhan tidak pernah membiarkan aku jatuh sendirian.Kalau kita dekat pada-Nya dan ikhlas memberi,Tuhan yang akan menjaga hidup kita.Terima kasih, Mak.Doakan anakmu selalu.”

***

1983. Selama setahun. Uang dari pekerjaan serabutan itu saya tabung. Uangnya saya gunakan untuk kursus pembukaan Bond A/B. Saya juga ambil kursus Salesmanship. Saya sadar, saya orang kampung yang hanya tamatan SMA. Saya perlu skill modern agar bisa naik kelas.

Hujan gerimis jatuh tipis di Jakarta pagi itu.
Tidak deras, tapi juga tak sepenuhnya reda.
Langit seperti enggan memihak terang maupun gelap —
seperti jiwaku yang sedang berdiri di antara keraguan dan harapan. Saya melangkah menuju sebuah gedung tinggi di kawasan Jalan Sudirman.
Perusahaan Jepang.
Saya membaca iklannya di koran “ Japanese Trading Company — Recruit Sales RepresentativeFluent English RequiredStrong Mentality & Integrity Preferred. Minggu lalu saya masukan lamaran. Dan hari ini saya dipanggil untuk wawancara.

Saya datang dengan sepatu karet yang sudah mengelupas di sisi kanan.
Celana dril yang warnanya telah memudar seperti senja kota tua.
Dan kemeja putih yang dulu bersih,
kini hanya tinggal kenangan tentang putih. Di ruang tunggu, empat orang pelamar duduk rapi.
Sepatu mengkilap.
Parfum mahal mengambang di udara.
Wajah-wajah yang seperti sudah diampuni dunia sebelum sempat berdosa.

Saya duduk di ujung bangku kayu,
membungkus rasa minder dengan keheningan. Lalu pintu terbuka. Seorang wanita masuk. Langkahnya tegas,
posturnya lurus seperti disiplin yang dibangun sejak kanak-kanak.
Rambutnya dikuncir rapi,
kemeja putih-biru dengan logo perusahaan Jepang terjahit di dada kiri.
Tanpa riasan berlebihan.
Hanya wajah bersih, 
wajah seseorang yang telah berdamai dengan dirinya sendiri.

Dada saya mendadak membeku. Dia. Perempuan Jepang itu. Yang setahun lalu bersama saya berjalan kaki dari Pelabuhan Sunda Kelapa ke Kota Tua.
Yang cerewet, tomboy.
Yang tertawa tanpa henti.
Yang tidak membayar sepeser pun setelah saya menemaninya seharian dalam kondisi lapar. Tapi kini…
dia bukan turis.

Matanya menyapu ruangan.
Tenang.
Tajam.
Profesional. Lalu berhenti pada saya. Tiga detik.
Empat detik.
Lima detik. Ada sesuatu berubah di sorotnya.
Seperti gelombang kecil yang menggetar di permukaan danau yang tenang. Dia mengenali saya. Tapi dia seorang profesional.
Dia tidak menunjukkannya. Dia terus melangkah masuk ke dalam ruangan. Tak berapa lama. Dia keluar dari ruangan dengan menunjuk ke saya. “ You, come in.” Katanya.

Ia membalik lembar seleksi di tangannya dan berkata dalam bahasa Inggris yang formal dan dingin. Oh ternyata dia adalah HRD Menager. Namanya Keiko. Yang bertugas mewawancarai pelamar kerja yang dipanggil “This interview is not just about selling products.
It’s about selling trust.” Katanya. Keheningan menyelimuti ruangan. Lalu dia mulai bertanya.
 “Your name is Ale, right?”
Suaranya datar.

“Yes,” jawabku pelan.

Dia berdiri dari duduknya melangkah mendekati saya.
Wangi parfumnya sama seperti setahun lalu.
Samar, tapi tegas.
Seperti ingatan yang menolak pudar. Lalu tiba-tiba dia bicara dalam bahasa Bahasa inggris.

“Aku tetap ingat kamu.” Katanya berdiri dan saya tetap duduk.  “Aku ingat kamu di Pelabuhan Sunda Kelapa.
Aku ingat bagaimana kamu bicara dengan lembut.
Tidak pernah menatap mataku terlalu lama.
Seperti ingin menjaga jarak,
tapi pada saat yang sama menjaga hormat.”

Nafas saya tertahan.

“Aku tahu kamu lapar.”
Katanya lebih lirih.
“Wajahmu pucat.
Tapi senyummu tidak berubah.
Etosmu tidak goyah.
Dan kau tetap memastikan aku nyaman…
sebagai tamumu.”

Saya hanya diam.

“Hidupku sangat disiplin,” katanya melanjutkan.
“Aku lulus universitas di Tokyo di usia 22 tahun.
Langsung bekerja di perusahaan besar.
Karirku mulus.
Semua orang mengira aku beruntung.”

Ia berhenti sejenak.

“Tapi jiwaku kosong.
Hidupku hanya rutinitas.
Bangun, bekerja, pulang, tidur, ulangi lagi.
Makanya aku sering bepergian…
mencari sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak tahu apa.”

Ia menarik napas panjang.

“Lalu di Jakarta aku bertemu kamu.
Kau ingat kata katamu dulu. Hidup bernilai bukan karena kita bahagia,tetapi karena kehadiran kita membuat orang lain bahagia.’

Saya  tertegun.
Saya bahkan lupa pernah mengucapkannya.

“Ternyata…”
katanya dengan mata mulai berkaca,
“kalimat itu bukan mengubah rencanaku.
Tapi menyelamatkan jiwaku.”

Dia kembali ke duduk
Mengambil lembar seleksi.
Membubuhkan tanda. Lalu berkata, pelan tapi tegas  “You’re accepted.
Not because of your English.
Not because of your background.
But because you already passed the most difficult test.
Being human.”

Saya menunduk. Bukan karena malu.
Tapi karena sesuatu masuk ke dadaku lebih dalam dari sekadar pekerjaan. Dalam hati aku berbisik: “Ya Tuhan…Engkau benar-benar Maha Adil.Kadang Engkau tidak membalas dengan uang,tapi dengan makna.”

***

Lulus wawancara, bukan berarti langsung kerja. Tetapi harus mengikuti proses training. Hari pertama training dimulai jam 07.30 tepat. Bukan delapan.
Bukan lewat.
Bukan karet. Jam 07.30.

Saya datang jam 07.15 karena naluri hidup di jalanan mengajarkan satu hal,
orang lapar tidak pernah datang terlambat. Ruangan training sederhana.
Meja kayu panjang.
Kursi besi berderit.
Di dinding ada tulisan besar dalam huruf Kanji: 誠 – Makoto
(Ketulusan). Di bawahnya tertulis dalam bahasa Inggris:
“Salesmanship begins with sincerity.”

Dia berdiri di depan.
Turis Jepang yang dulu cerewet itu,
kini menjadi pelatihku. Namanya: Nakamura Keiko. Tidak ada lagi wanita tomboi itu.
Yang ada adalah perempuan Jepang yang wajahnya tenang,
posturnya tegak,
dan sorot matanya seperti pisau halus. “Before learning how to sell,”
katanya pelan,
“you must learn how to listen.”

Ruangan diam.

Saya menatap papan tulis.
Ada diagram sederhana: Customer → Trust → Value → Transaction.

Dia memutar badan menghadap kami. “Kalian lihat ini sebagai alur bisnis,”
ia berkata,
“tapi bagi kami orang Jepang,
ini adalah alur moral.”

Lalu dia menunjuk satu kata:
Trust.

“Jika kepercayaan runtuh,
nilai runtuh.
Jika nilai runtuh,
transaksi hanyalah perampokan yang dilegalkan.”

Saya  mengangguk pelan. Dalam hatiku terlintas bayangan
para calo,
para broker,
para pedagang licik yang dulu kutemui di jalanan.
Berapa banyak manusia menjadi kaya
dengan merusak kepercayaan? Di Jepang,
penjualan bukan profesi.
Ia jalan hidup.

Hari kedua, kami masuk ke simulasi. Kami duduk berpasangan.
Satu jadi sales.
Satu jadi klien. Saya berhadapan dengan Keiko langsung.

“Kau jual apa?” tanyanya.

“Textiles,” jawab saya.

“Kenapa saya harus beli dari kamu?”
suara dingin.
tajam.
tanpa senyum. Saya terdiam. Lapar masa lalu muncul lagi.
Bukan lapar perut,
tapi lapar harga diri.

“Aku bukan menjual kain,” kataku pelan.
“Aku menjual rasa aman.” Jawabku.

Dia mengangkat alis. “Jelaskan.”

“Aman karena aku tahu kualitas barangku,
aman karena aku tidak menjual apa yang tak kumengerti,
dan aman karena kalau kain ini cacat,
aku datang sendiri menjemputnya kembali.” Jawabku menjelaskan. Bukan teori tetapi emang itu nature yang terbentuk dari didikan orang tua.

Hening. Dia menatapku lama. “Orang Jepang tidak mencari salesman,”
katanya pelan,
“mereka mencari penjaga reputasi.”

Hari hari berikutnya semakin ketat pelatihan,
mereka ajarkan teknik Silent Negotiation.
Cara menjual tanpa mendorong.
Cara mempengaruhi tanpa memaksa. Product knowledge. Metode dasar riset dan lain lain.

“Ale,”
katanya seusai kelas. “ Dari 10 trainer hanya kamu tamat SMA, hanya 3 yang lulus, termasuk kamu. Kamu tahu mengapa kamu diterima ?

Saya  menggeleng.

“Sales terbaik bukan yang mengejar closing,”
lanjutnya,
“tapi yang tidak terikat pada hasil.”

Saya  teringat ayat,  “Dan kewajibanmu hanyalah berikhtiar, hasil itu urusan Tuhan.” Mungkin inilah yang disebut
harmoni antara disiplin bumi dan ketundukan langit.

“ Jangan kecewakan aku..” Katanya kemudian. Saya tersenyum kecil dan mengangguk tegas. Takdir memang suka berputar,
tapi ia berputar dengan makna.

***

Surat untuk Amak

Jakarta, 12 Juni 1983

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Amak tercinta…

Amak, bagaimana kabar di rumah.
 Di sini, di Jakarta, hujan sering turun sore hari.
Udara lembab, panas, dan penuh debu.
Tapi hari ini rasanya lebih ringan, Mak.

Aku ingin Amak tahu…
anak amak sudah diterima kerja. Bukan di kios.
Bukan di pasar.
Bukan di jalanan. Tapi di sebuah perusahaan Jepang, Mak.
Gedung tinggi di Jalan Sudirman.
Orang-orangnya rapi.
Bicaranya terukur.
Waktunya tidak pernah terlambat.

Aku diterima bukan karena pintar,
bukan karena ijazah tinggi,
tapi karena kata mereka
aku punya hati yang kuat. Aku ingat nasehat Amak.  “Bangun lebih awal dari ayam.
Jangan tinggalkan sholat walau dunia runtuh.” Itu nasehat aku pegang  erat, Mak disetiap kali lapar.
Setiap kali sendirian.
Setiap kali rasanya ingin pulang karena tidak sanggup.

Hari ini aku bersyukur, Mak.
Bukan karena dapat kerja.
Tapi karena ternyata setiap kalimat yang Amak tanam di hatiku,
pelan-pelan tumbuh menjadi perahu penyelamat.

Aku masih tinggal di kos kecil.
Masih makan di warung sederhana. Masih naik metromini dari Tanah Abang. Tapi sekarang aku tidak lagi bertanya:
“Kenapa hidup sesulit ini?” Sekarang aku bertanya, “Tuhan sedang membentuk apa di balik semua ini?”

Mak, doakan agar aku tetap istiqamah.
Tetap rendah hati.
Tetap kuat. Aku tidak ingin besar karena dunia,
aku ingin kecil di hadapan Tuhan. Cita cita terbesarku, hanya satu. Aku ingin ajak amak ke Baitullah..

Pekerjaan sebagai salesman hanya setahun. Dari komisi yang saya tabung. Saya gunakan modal awal untuk business.  Tahun 2010, saya bertemu lagi dengan Keiko di Tokyo. Sampai kini kami tetap bersahabat.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

6 tanggapan untuk “Berjalan bersama Tuhan.”

  1. Mantap sekali ceritanya Babo…sungguh berkesan di hati…

    Saya juga ingin anak saya tidak pernah meninggalkan sholat 5 waktu…tapi susahnya minta ampun…

    Semoga saja jika saya share cerita ini, bisa menjadi renungan buat anak saya…

    Disukai oleh 1 orang

  2. koalashadowya920541651 Avatar
    koalashadowya920541651

    Inspiratif. Thanks Babo

    Suka

  3. Babo… Boke lah share ilmunya lbh banyak tentang salesman… saya berharap banyak bisa belajar seperti tulisan Babo tentang financial engginering

    Disukai oleh 1 orang

    1. Dita Leny Rafiyah Avatar
      Dita Leny Rafiyah

      inspiring. Saya pembaca setia blog ini sejak situs milik pak Erizely Bandaro yg lain down/mati bulan Juli 2025

      Suka

  4. Hidup bernilai bukan karena kita bahagia,
tetapi karena kehadiran kita membuat orang lain bahagia.

    Suka

  5. Terimakasih Babo untuk mutiara hikmahnya 🙏🏻🙏🏻🙏🏻

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Ka_eM Batalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca