Cinta yang bertepi…

Tahun 1992, Jakarta berdandan dengan kesombongan Orde Baru. Lampu-lampu kota bersinar seperti pesta yang tak pernah selesai, namun di bawahnya mengalir kesenjangan yang semua orang tahu, tapi pura-pura tidak melihat. Aku bekerja di sebuah bank swasta asing yang sedang menikmati gelombang awal liberalisasi. Di luar kantor, negeri ini hidup dari rumor, lisensi, dan hubungan yang dibungkus rapi dalam basa-basi kekuasaan. Semua orang sedang berusaha naik kelas—dengan cara yang tak selalu mulia.

Di tengah arus itu, aku bertemu Ale.

Pertemuan pertama kami sederhana. Ia datang sebagai nasabah priority banking di tempatku kerja. Ia tidak menggoda, tidak merayu. Ia hanya mengajakku makan siang, dengan nada yang tenang dan mata yang jernih. Entah mengapa aku menerimanya. Dan entah bagaimana, sejak hari itu aku menyukainya.

Ale berbeda. Cara ia mendengar bukan sekadar sopan santun. Ia mendengarkan dengan seluruh dirinya. Wajahnya tenang, tersenyum kecil, seolah mengamini dunia tanpa ingin menguasainya. Setelah pertemuan pertama, datanglah pertemuan kedua, ketiga, dan seterusnya. Kebersamaan kami tumbuh begitu alami, seperti air yang menemukan alirannya sendiri.

Aku berwajah Indo—ibuku dari Jawa, ayahku dari Jerman. Ale hitam dan kurus, dengan tampilan yang membuat orang mengira hubungan kami tak lebih dari sekadar dua kenalan yang kebetulan akrab. Mereka tidak tahu apa yang terjadi setiap kali tatapan kami bertemu.

Ale lahir dari keluarga miskin. Pendidikan SMA. Tapi pikirannya luas, dan tutur bahasanya jujur, tidak dibuat-buat. Ia berbisnis ekspor-impor, bidang yang tampak biasa, namun penuh kawat berduri. Di baliknya ada kartel, monopoli, dan orang-orang yang hidup dari kedekatan dengan kekuasaan. Ale berada di bagian paling bawah rantai itu: ia menanggung risiko terbesar, tapi menerima bagian keuntungan paling kecil.

Aku sering bercanda padanya, “Kau terlalu jujur untuk dunia seperti ini, Ale.”
Ia hanya tertawa kecil — senyum yang tidak menyindir, hanya menerima. Senyum orang yang tahu dunia keras, tapi memilih tidak menjadi keras.

Kadang aku mengagumi keteguhannya. Kadang aku iba. Dalam pikiranku, hidup adalah arena di mana kecerdasan dan strategi menentukan segalanya, bukan sentimentalitas atau kesetiaan. Aku ingin menyelamatkannya dari dunia yang kupikir tidak layak untuknya. Aku ingin ia tumbuh, naik kelas, menjadi lebih. Tapi jauh dalam diriku, aku tidak mengerti bahwa ia sedang tumbuh dengan caranya sendiri.

Kami sering duduk di sebuah kafe kecil di hotel tua dekat Cikini, tempat para pedagang dan kontraktor dari Timur Tengah biasanya singgah. Dari balik kaca, lampu kendaraan menyorot wajahnya. Aku ingat tatapannya seperti sedang memandang jauh, bukan pada jalanan, tapi pada doa yang belum terjawab. Ada harapan di sana. Ada luka juga. Dan ada mimpi yang terasa terlalu besar untuk ruang sesempit itu.

Saat itu, aku belum tahu, bahwa pertemuan dengan Ale adalah awal dari perjalanan panjang yang akan menelanjangiku, bukan sebagai banker, bukan sebagai perempuan berpendidikan, bukan sebagai seseorang yang menang dalam kompetisi hidup. Tapi sebagai manusia, yang harus belajar apa arti cinta yang tidak meminta imbalan,
yang tidak menuntut dimiliki,
yang hanya ingin bertumbuh bersama waktu.

***

Tahun 96. Malam di Bali menyisakan kelembapan laut yang menempel di kulit, seolah udara pun enggan berpisah dari kenangan. Di teras sebuah vila kecil di Seminyak, angin membawa aroma garam dan bayangan ombak yang tak terlihat. Di kejauhan, lampu-lampu hotel memantul di permukaan air seperti bintang yang memilih turun ke bumi.

Ale duduk di hadapanku, diam, dengan segelas kopi hitam yang sudah dingin di tangan kanannya. Aku menatapnya lama. Seakan waktu diatur oleh detak jantung kami, bukan oleh jam. Besok aku akan meninggalkan Indonesia. Aku telah diterima bekerja di bank asing di Hong Kong, sebuah keberhasilan yang lahir dari ujian panjang, disiplin, dan kecemasan yang tak pernah tidur. Masa depan ada di depan; gemerlap dan angkuh. Tapi malam itu, masa depan terasa seperti sesuatu yang harus kubayar dengan sangat mahal.

Aku ingin terlihat tegar. Namun di dalam diriku, cinta dan ambisi tengah saling mencakar. Aneh, bahwa pada saat aku bersiap pergi, justru cinta itu tumbuh paling bising. Selama bertahun-tahun, Ale tidak pernah menggoda, tidak pernah menyentuhku, tidak pernah memaksa. Ia hadir tanpa menuntut hadir kembali. Ia mencintaiku sebagai sahabat.

“Kalau nanti terjadi kekacauan politik di Jakarta,” kataku akhirnya, menatap langit yang gelap, “menyusullah ke Hong Kong. Aku akan menunggumu.”

Ale tersenyum. Senyum yang selalu membuatku ingin menangis tanpa sebab. Ia tidak berjanji apa pun. Ia hanya menatapku dengan cara yang membuatku merasa dikenali, bukan diukur. Kemudian aku berkata pelan, hampir seperti mengaku kepada Tuhan, bukan manusia: “Aku ingin memastikan hanya pria yang kucintai yang berhak menyentuhku.”

Ale mengangguk perlahan, dan jawabannya bukan romansa yang meledak, tapi keheningan yang paling dalam. “Aku berdoa,” katanya, lirih, “semoga pria itu akan datang bersama takdirmu untuk menjemput surga yang kau cari. Dan apa pun statusmu, ijinkan aku tetap menjadi sahabatmu.”

Kalimat itu menembusku seperti cahaya tipis yang masuk dari celah jendela di pagi hari. Pelan, tapi mengubah segalanya.

Malam itu aku menangis dalam diam,
bukan karena takut kehilangan,
tapi karena aku sadar. Aku sedang berjalan menjauh dari seseorang yang kucintai,
yang mencintaiku tanpa pernah memintaku untuk tinggal.

Keesokan paginya, di bandara, saat pesawat bersiap meninggalkan landasan, aku menatap jendela dan membisikkan sesuatu pada diriku sendiri: Mungkin cinta memang harus berjarak agar tetap suci. Namun takdir, seperti pasar, punya volatilitasnya sendiri. Ada garis waktu lain yang mulai bergerak saat aku terbang meninggalkan Indonesia. Garis yang akan membawaku kembali kepadanya, dalam bentuk yang lebih pahit, lebih sunyi, dan lebih jujur.

***

Desember 2001.
Langit Hong Kong berwarna perak keabu-abuan, seperti lembar neraca yang belum ditandatangani. Masa depan yang menunggu keputusan, tetapi penuh koreksi yang belum tuntas. Dari jendela apartemenku yang menghadap ke Harbour Kowloon, lampu-lampu kota memantul di permukaan air seperti grafik volatilitas pasar yang tidak stabil. Kapal-kapal feri bergerak pelan, seolah mengantar kenangan yang enggan tenggelam.

Aku duduk diam, memegang secangkir teh melati yang sejak tadi kehilangan hangatnya, seperti hatiku. Hari itu Ale datang menemuiku, setelah sekian lama kami tidak bertemu. Namun langkahnya bukan lagi langkah seorang pria penuh keyakinan. Ia datang sebagai seseorang yang baru saja selamat dari reruntuhan hidupnya sendiri.

Krisis finansial Asia telah merobohkan banyak perusahaan, termasuk bisnis Ale. Arus modal asing keluar drastis, kredit macet melonjak, dan investor lebih memilih menyelamatkan diri daripada menyelamatkan mimpi. Ale kehilangan modal, kredibilitas pasar, dan jejaring bisnis yang dahulu menopangnya.

Namun yang ia bawa kepadaku bukan keluhan.
Melainkan sebuah proposal akuisisi aset BPPN.  Rapi, terstruktur, disusun dalam bahasa finansial yang matang.

“Ini jalan untuk bangkit, Na,” katanya tenang, memanggilku dengan nama yang hanya dia yang boleh memendekkannya — Estherina.

Aku membuka dokumen itu. Ada pemetaan aset, valuation discount dari BPPN, struktur pembiayaan lintas yurisdiksi, dan strategi debt-to-asset conversion melalui special purpose vehicle di Singapura. Secara konsep, proposal itu feasible. Ia memahami bahwa krisis menciptakan peluang bagi mereka yang berani memegang aset ketika orang lain ketakutan. Namun aku melihat sesuatu yang lain. Bukan rencana,
melainkan luka yang sedang menyamar sebagai ambisi.

“Naif sekali, Ale,” ucapku dingin. “Dunia tidak akan memberi kredit pada orang yang pernah jatuh. Pasar hanya percaya pada reputasi, bukan niat baik.”

Ia menatapku, bukan marah, bukan kecewa, hanya… menerima.

“Aku tidak mencari belas kasihan,” katanya. “Aku hanya ingin mencoba sekali lagi sebelum semua pintu tertutup.”

Dan itulah kesalahan pertama yang kumulai. Aku memperkenalkannya kepada Daniel, mantan kolega global banking, kini eksekutif konsorsium investasi multinasional. Daniel melihat peluang yang Ale tawarkan, tetapi dari perspektif yang jauh lebih pragmatis.

Selama satu tahun Ale bekerja memenuhi seluruh due diligence, KYC, AML compliance, background clearing, cashflow projection, hingga land title verification. Semua sesuai standar Basel II dan protokol cross-border asset takeover.
Proyek itu matang… secara struktur.

Tapi masalahnya bukan di struktur. Masalahnya adalah Ale. Ia tidak punya: sponsor politik,
anchor investor,
 atau institutional signature untuk menutup sindikasi pembiayaan.
 Sementara Daniel memiliki semuanya. Dan ketika seorang pria yang tidak punya kuasa membuka peta emas, dunia akan datang bukan untuk bermitra, tetapi untuk mengambilnya.

Daniel mengambil proposal itu, masuk ke lelang BPPN, dan menang.
Ale tersisih. Namun Daniel mau menerima  usulanku untuk bersedia rekrut Ale sebagai CEO. Dengan gaji 6 digit setahun. Aku memang ingin Ale bekerja dibawah naungan modal besar dan dia bisa naik kelas. Tapi Ale menolak dengan halus. Aku meradang. “Na… kalau memang benar proyek itu tidak layak, mengapa Daniel mengerjakannya? Mengapa ia menawariku posisi setelah ia mengambil semuanya? Ia tidak menghormatimu. Dia hanya memanfaatkan kamu dan dengan kekuasaannya dia ingin menguasai semua orang.”

Kalimat itu menembus lebih dalam dari pengakuan dosa. Aku tak menjawab.
Karena aku tahu jawabannya. Aku telah menjual mimpinya atas nama logika.
Karena aku lebih memilih ia aman, daripada ia menjadi dirinya sendiri.

Ia berjalan keluar. Pelan.
Seperti seseorang yang membawa seluruh hujan dalam langkahnya. Aku berdiri menatap pantulan wajahku di kaca jendela.
Wajah yang telah menang secara logika, tapi hancur sebagai manusia. Malam itu, aku mengerti sesuatu yang tidak pernah diajarkan bank atau pasar. Bahwa mencintai seseorang dengan kepala dapat menghancurkan mereka.
Dan mencintai seseorang dengan hati adalah keberanian yang belum kupelajari. Dan itulah awal dari penyesalan paling panjang dalam hidupku.

***

Sudah 10 tahun berlalu sejak malam itu di Hong Kong.
10 tahun yang panjang dan sunyi, seperti kalimat yang berhenti di tengah halaman,
menunggu keberanian untuk diselesaikan.

Sejak Ale pergi, hidupku berjalan rapi… tetapi tanpa warna.
Aku duduk di kursi CEO Bank papan atas di Hong Kong, memimpin rapat, menandatangani perjanjian, membicarakan pasar, valuasi, risiko, dan kebijakan moneter. Namun setiap malam, ketika lampu kota padam dan jendela gedung-gedung mulai gelap,
yang tersisa hanya satu wajah,  wajahnya.
Samar, jauh, namun tak pernah pergi.

Aku mencarinya.
Diam-diam, terus, tanpa henti. Nomor teleponnya sudah tak aktif.
Kantor lamanya telah berubah menjadi toko elektronik.
Email yang kukirim—puluhan, mungkin ratusan—menghilang tanpa jawaban.
Seorang teman berkata mungkin ia bangkrut, mungkin ia pergi, mungkin ia menyerah.
Tapi aku tahu.  Ale bukan tipe yang menyerah.
Ia hanya pandai menghilang ketika dunia terlalu bising untuk mendengarkan hatinya.

Aku pernah terbang ke Jakarta, hanya untuk duduk seharian di lobi hotel tempat kami dulu sering mengobrol.
Di sudut dekat piano tua, tempat dulu aku memandang matanya saat kami tertawa sebagai anak muda.
Pegawai hotel yang masih mengingat kami berkata pelan, “Pak Ale sudah lama tidak pernah datang ke sini, Bu.” Kalimat itu menutup hari seperti pintu yang dikunci dari dalam. Sejak saat itu aku tahu,
Ale memilih cara paling sunyi untuk menyelamatkan dirinya,
ia memutus semua jembatan, termasuk aku.

Jika dulu aku merasa tidak bersalah,
kini aku tahu aku telah berdosa kepadanya. Sahabat macam apa aku ini?
Ketika ia sedang bertumbuh perlahan, jujur, penuh luka, aku justru memakai statusku, network-ku, kecemasan yang kusamarkan sebagai “kepedulian,”
untuk mengintervensi hidupnya. Aku mencintainya. Tapi cinta yang kuberikan adalah cinta yang ingin menguasai,
bukan cinta yang membebaskan. Ale tidak pernah melukaiku.
Tidak sekali pun. Justru aku yang sering menusuknya dengan kata-kata tajam,
hanya karena aku takut kehilangan kendali atas dirinya.

Ia selalu diam.
Diam yang seperti laut menelan batu tanpa memantulkannya kembali.
Ia tidak pernah mengeluh, tidak pernah menyudutkan aku.
Jika ia menginginkan sesuatu, ia mengatakannya dengan logika yang jernih, bukan tuntutan.
Dan jika aku menolak, ia hanya berkata, “Aku mengerti.” Kalimat yang sederhana,
tapi justru itu yang membuatku hancur.

Di tengah penyesalan itu, aku belajar berdamai dengan diriku sendiri.
Aku larut dalam pekerjaan, lalu perlahan tenggelam dalam spiritualitas.
Setiap malam aku berdoa, memohon ampun karena telah mengkhianati cinta paling tulus yang pernah datang padaku. Dan di setiap doa itu, namanya selalu kusebut perlahan: Tuhan, jagalah Ale. Kalaupun aku tak pantas lagi berada di sisinya,
setidaknya biarkan ia dicintai dengan cara yang lebih baik dari caraku. Namun sebelum tidur, wajahnya kembali hadir.
Jernih.
Tenang.
Tak tergantikan.

Aku masih mendengar suaranya, “Na… maafkan aku kalau kadang membuat kamu tertekan karena sikapku.
Maklumi aku orang kampung yang tidak terpelajar seperti kamu.” Setiap kali mengingat kata-kata itu, air mataku jatuh.
Karena di balik kesederhanaannya, tersimpan cinta yang tidak menuntut balasan, yang hanya tahu memberi, bahkan setelah disakiti.

Aku hanya punya satu harapan:
sebelum ajal memanggilku,
aku ingin bertemu dengannya sekali lagi. Bukan untuk meminta kembali apa pun. Hanya untuk memeluknya dan berkata: “Maafkan aku, Ale.
Bukan karena aku tidak mencintaimu.
Tetapi karena aku mencintaimu dengan cara yang salah.”

***

2011, di Kowloon. April, musim semi. Jam delapan malam.
Bel apartemenku berbunyi, memecah kesunyian yang telah menjadi kebiasaan. Aku menatap layar intercom,  dan jantungku berhenti berdetak sejenak.
“Ale.” Aku hampir tak percaya. Ia berdiri di depan pintu lobi dengan jas hitam sederhana, wajahnya tampak matang dan damai. Sorot matanya tetap sama: tenang, dalam, dan sulit dibaca.

Aku berlari ke arah lift tanpa alas kaki, lupa bahwa aku hanya mengenakan lingerie dan jubah tipis. Aku tak peduli. Tujuh tahun penantian tak mungkin kuhadapi dengan tata krama. Saat pintu terbuka, ia sudah di sana.
Aku tak berkata apa-apa. Aku hanya memeluknya, keras, seolah ingin memastikan bahwa yang kupeluk bukan kenangan. Ia memeluk balik, tanpa kata, tanpa penjelasan. Dalam pelukan itu, semua doa yang pernah kupanjatkan seolah dikabulkan dalam satu tarikan napas.

Setelah beberapa saat, aku mundur sedikit, menatapnya.
Ia tersenyum.
“Aku datang..,” katanya pelan. “Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja.”

Kami berbicara lama di ruang tamu, di bawah cahaya lembut lampu gantung. Ia bercerita dengan nada tenang, bukan nada orang yang kalah, tapi seseorang yang telah melewati badai dan belajar berdamai dengan angin. Ale bukan lagi lelaki murung dan kumuh yang dulu meninggalkan Hong Kong. Kini ia membawa aura seseorang yang telah menemukan caranya sendiri untuk terbang.

“Bagaimana kau bisa bertahan?” tanyaku akhirnya.

Ia tersenyum samar. “Aku tidak punya jalan untuk kembali. No way return” Jawab Ale dengan humble. Dan itu apa adanya. Tanpa bisa dibendung airmataku jatuh.

Aku menatapnya dalam-dalam. Tak ada kebencian di matanya, tak ada luka yang dituduhkan padaku. Seolah waktu telah membersihkan semua amarah yang dulu kutakutkan. Ia tidak menyinggung masa lalu, tidak juga membicarakan pengkhianatanku yang membuatnya kehilangan proyek itu. Ia hanya bercerita tentang hidupnya, tentang membangun kembali kepercayaan orang, sedikit demi sedikit, seperti menanam pohon di tanah yang dulu tandus.

Tahun itu, aku belajar satu hal: cinta sejati tidak menuntut tempat, tidak meminta pengakuan. Ia hanya ingin melihat yang dicintai baik-baik saja.
Dan Ale, dengan segala ketenangannya, membuktikan itu lebih baik daripada semua teori yang pernah kupelajari di dunia perbankan.

***

2013. Dua belas tahun telah berlalu sejak musim semi terakhir aku dan Ale berada dalam satu ruang waktu yang sama. Lalu tiba-tiba, namanya kembali muncul, bukan lewat pesan, bukan lewat telepon, tetapi lewat layar berita ekonomi internasional. Ale bukan lagi lelaki yang dulu datang dengan proposal dan mimpi yang seperti perahu kayu di tengah ombak.
Ia kini memimpin sebuah holding company lintas benua. Mengendalikan rantai pasokan energi dan tambang dari Asia Tengah hingga Pasifik. Ia tumbuh dari reruntuhan. Ia berdiri bukan di bawah bayanganku, tetapi di atas tekadnya sendiri.

Dan pada saat keagungan itu sedang menanjak, datanglah nama yang pernah kupercayai, Daniel. Nama itu seperti luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Dulu aku yang memperkenalkan kepada Ale.
Dulu aku yang membuat Ale percaya padanya.
Dulu pula aku yang berdiri diam ketika Daniel mengambil mimpi Ale atas nama “rasionalitas.” Sekarang Daniel menjabat sebagai CEO konsorsium investasi global. Dan ia tidak datang membawa peluang, tetapi perang.

Holding Ale yang mengelola tambang besar di Mongolia sedang berada dalam tekanan likuiditas.
Harga batu bara anjlok. Kebijakan lingkungan berubah.
Untuk menjaga operasi tetap berjalan, Ale mengambil bridge financing jangka pendek dari konsorsium luar negeri. Langkah yang logis dan profesional. Yang tidak ia ketahui adalah:
Struktur pinjaman itu dirancang Daniel.

Beberapa bulan kemudian, ketika bunga jatuh tempo menumpuk dan pasar masih gelap,
Daniel mengalihkan hak tagih pinjaman—memperoleh leverage hukum yang memberinya kendali penuh atas tambang. Itu langkah klasik hostile takeover:mendekati aset bukan dari sisi kepemilikan, tetapi dari kewajiban. Setiap pintu kemudian ditutup dari luar. Bank Eropa menarik fasilitas kredit. Lembaga rating menurunkan outlook proyek.
 Firma hukum internasional yang dulu bekerja untuk Ale tiba-tiba mundur.
 Mitra lokal menjauh, seolah mengikuti angin yang sudah diarahkan.


Ale dikepung bukan oleh hukum, tetapi oleh ketakutan pasar. Aku melihat semua itu, dan aku — lagi-lagi — memilih logika.

“Menyerahlah. Jangan lawan Daniel,” kataku dengan suara yang sengaja kubuat tegas.

“Kenapa, Na?”
suara Ale sangat pelan,  bukan lemah, tapi jernih.

“Karena aku tahu batasmu!”
teriakku, tanpa kusadari suaraku pecah.
“Kau bukan anak konglomerat! Kau tidak punya pelindung! Dunia ini bukan tentang siapa yang benar, tapi siapa yang punya pengacara lebih banyak!”

Ia terdiam.
Lalu dengan suara yang sangat lembut, ia berkata, “Aku memang tidak punya siapa-siapa.
Tapi aku punya Tuhan yang akan menjagaku siang dan malam.”

Bagiku saat itu, kalimat itu terdengar naif.
Seolah ia membawa pisau kayu ke medan perang baja.
Aku marah, tapi sesungguhnya aku marah pada diriku sendiri. 
Karena aku tidak sekuat imannya.

Seperti biasa, ia tidak membalas kemarahanku.
Diamnya adalah ruang yang tak bisa kuruntuhkan.

Aku bisa membantunya.
Sebagai banker senior, aku bisa menulis comfort letter.
Aku bisa menggerakkan jaringan hukum.
Aku bisa memberi napas pada struktur pembiayaan itu. Tapi aku tidak melakukannya.
Aku menutup pintu, meyakinkan diriku bahwa aku sedang “melindunginya.” Berharap Ale menyerah dan menerima kompensasi dari Daniel untuk hidup tenang.

Padahal sesungguhnya,
aku takut.
Takut jika aku berdiri di sisinya dan ia kalah,
maka aku juga akan ikut hancur, bukan secara finansial,
tetapi secara batin. Setelah itu Ale berhenti menghubungiku.

Namun aku tahu. Ale tidak menyerah.
Ia menghubungi Sovereign Wealth Fund Tiongkok,
membawa presentasi bukan hanya tentang aset, tetapi geostrategi: Jalur kereta lintas stepa Mongolia, integrasi pelabuhan Tianjin, konversi tambang menjadi pusat logistik batubara bersih, dan keamanan rantai pasokan energi Asia Timur.


Yang ia tawarkan bukan proyek—tetapi kepentingan negara. Itu bahasa yang hanya dipahami oleh kekuasaan. Dan kekuasaan menjawab. Dalam hitungan minggu, dukungan likuiditas datang dengan kekuatan seperti gelombang pasang.
Tim Ale membeli kembali hak tagih konsorsium Daniel.
Daniel membalas dengan gugatan internasional, strategi memaksa lewat waktu, biaya, dan tekanan psikologis.

Ale kembali ke Jakarta.
Bertarung bukan dengan kekayaan, tetapi dengan keyakinan yang tak bisa dibeli. Ia mencoba menghubungiku sekali lagi. Aku tidak menjawab.

Malam itu, aku berdiri di jendela apartemenku.
Hong Kong berkilau — dingin, presisi, logis — seperti sistem keuangan yang kuanggap rumahku. Dan hanya pada malam itu aku sadar. Aku membangun karier untuk menguasai dunia,
tetapi kehilangan satu-satunya manusia
yang membuatku merasa hidup. Untuk pertama kalinya dalam hidupku,
aku menangis bukan karena kehilangan kendali,
tetapi karena cinta yang kubangun dengan logikatelah berubah menjadi kehancuran yang indah.

***

2018

Musim dingin di Zurich seperti lembaran kertas putih. dingin, tenang, dan memberi ruang bagi siapa pun untuk menulis ulang hidupnya.
Lima tahun sudah sejak kabar terakhir tentang Ale. Lima tahun aku menanggung beban antara doa dan penyesalan.  Hari itu, tengah Desember, aku menghadiri konferensi Global Wealth Integrity Forum di Zurich. Di tengah pembicaraan tentang compliance, shadow finance, dan post-crisis trust rebuilding, moderator tiba-tiba memperkenalkan pembicara tamu dari Asia. Namanya disebut pelan, tapi cukup untuk membuat darahku berhenti mengalir.
“Mr. Ale, Founder SIDC Holding.

Aku mematung. Dunia di sekelilingku seolah kehilangan suara. Dan lalu, ia naik ke podium. Ale.
Dengan jas abu-abu lembut dan dasi biru tua, langkahnya tenang, wajahnya teduh. Tidak ada lagi bayangan luka masa lalu di matanya, hanya kedalaman yang lahir dari ketenangan panjang. Ia berbicara tentang sustainability, tentang etika keuangan, tentang kepercayaan yang tak bisa direkayasa oleh algoritma. Semua orang bertepuk tangan. Aku hanya menunduk, berusaha menahan air mata yang sudah siap jatuh.

Setelah sesi usai, aku berjalan ke arah pintu keluar. Tapi langkahku berhenti ketika ia menatapku dari kejauhan. Tatapan itu lembut, tanpa tanya, tanpa marah, hanya pengakuan diam bahwa waktu akhirnya mengembalikan yang pernah hilang.

Kami bertemu di luar ruang konferensi, di bawah langit Zurich yang mulai turun salju.
“Na,” katanya lirih.


“Bagaimana kau bisa di sini?” suaraku nyaris patah.


“Aku diundang,” jawabnya sambil tersenyum kecil. “Dunia kadang aneh. Ia menutup pintu yang salah, tapi membuka jendela yang benar.”

Kami berjalan menyusuri tepi sungai Limmat, salju menumpuk di bahu jasnya. Ia bercerita, bukan untuk menyombongkan diri, tapi sekadar membagi perjalanan yang panjang. Ia memenangkan kasus itu. Pengadilan internasional berpihak padanya. Daniel kalah, bukan karena Ale lebih kuat, tapi karena ia lebih sabar. “Aku tidak membalas,” katanya. “Aku hanya membuktikan bahwa kejujuran kadang butuh waktu lebih lama untuk dimengerti.”

Aku menatapnya, dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, aku melihat Ale dalam bentuk yang seutuhnya. Bukan pengusaha, bukan kekasih, bukan bayangan masa lalu. Ia adalah manusia yang telah menaklukkan dirinya sendiri.
Aku menahan napas. “Kau tidak membenciku?”


Ia menggeleng pelan.

 “Kalau aku membencimu, aku tidak akan pernah bisa berdamai dengan diriku sendiri.”

Kami duduk di sebuah kafe kecil. Uap teh jahe menghangatkan udara yang menggigit. Ia memandang keluar jendela, memperhatikan kepingan salju jatuh.
“Dulu aku marah,” katanya lirih. “Tapi setelah semua ini, aku sadar.  Setiap orang mencintai dengan cara yang ia pahami. Kau mencintaiku dengan logika. Aku mencintaimu dengan kesunyian. Dan dua cara itu tidak perlu saling mengalahkan. Hanya perlu waktu untuk mengerti satu sama lain.”

Aku menunduk. Air mataku jatuh di atas meja kayu.
“Maafkan aku, Ale.”


“Tidak perlu,” katanya lembut. “Aku sudah lama memaafkan. Bahkan mungkin, sejak hari aku pergi.”

Beberapa hari setelah itu, kami kembali ke kehidupan masing-masing. Tak ada drama, tak ada janji. Tapi di dalam diriku, sesuatu berubah. Beban bertahun-tahun terasa terangkat. Untuk pertama kalinya sejak dua dekade, aku bisa bernapas tanpa rasa bersalah.

Aku membaca berita beberapa bulan kemudian: SIDC Holding mencatatkan rekor baru dalam cross-border acquisition, dengan dukungan Sovereign Wealth Fund dari China dan Timur Tengah. Tapi yang lebih menarik, tidak ada pernyataan agresif dari Ale, tidak ada perayaan. Ia tetap tenang, seperti gunung es di tengah samudra. Aku tersenyum.
Ale telah menjadi elang yang dulu kuimpikan, bukan karena kekuatannya, tapi karena kebijaksanaannya untuk terbang tanpa kebencian.

Setahun kemudian, pada usia 57 tahun aku memilih pensiun dini sebagai banker.  Aku ingin jadi dosen. Ale menawariku posisi di SIDC holding sebagai Kepala litbang dan Diklat. “  Sumber kekuatan SIDC ada di R&D dan Diklat. Pimpinlah Na. “ Kata Ale.

***

2023

Mentari pagi di Bali menembus tirai bambu, menumpahkan cahaya keemasan ke dinding batu kapur rumah kecil yang berdiri di tepi laut.
Burung camar terbang rendah, ombak memecah pelan di karang, seolah mengulang ritme waktu yang pernah berhenti di antara aku dan dia. Dua puluh enam tahun telah lewat sejak malam di Seminyak, malam ketika aku mengucapkan sumpah paling jujur dalam hidupku,
bahwa aku hanya akan menyerahkan tubuhku pada lelaki yang kucintai. Dan janji itu tetap tinggal seperti ukiran yang tak pernah luntur.


Aku kembali ke Bali bukan sebagai banker, bukan sebagai perempuan yang mengejar pembuktian diri.
Aku kembali sebagai jiwa yang telah selesai berlari. Rumah ini adalah janji Ale, 1996.
Ia pernah berkata dengan suara yang ringan namun yakin. “Na… suatu hari aku akan membelikanmu rumah di Bali, agar masa tuamu kembali tenang kepada laut.” Ia menepati janji itu tanpa selebrasi, tanpa pesan manis.
Ia menepatinya dengan diam, bahasa cintanya yang paling konsisten.

Kini usiaku melewati enam puluh.
Di hari libur. Setiap pagi aku menulis, melukis, berbicara sesekali di seminar mengenai banking ethics dan financial integrity.
Para peserta menganggapku legenda.
Mereka tidak tahu bahwa di balik nama,
ada seorang lelaki sederhana yang mengajariku definisi paling utama dari keuangan: Integritas adalah satu-satunya nilai yang tidak bisa dijadikan instrumen spekulasi.

Suatu sore, Ale datang ke rumah itu.
Rambutnya mulai beruban, tubuhnya tetap tegak, langkahnya masih ringan. Kami duduk di beranda menghadap cakrawala yang perlahan menjadi jingga. Tidak ada kata “cinta.”
Tidak perlu lagi. Yang ada hanya dua jiwa yang akhirnya mengerti,
bahwa cinta tidak selalu harus memiliki ruang fisik;
kadang ia hanya perlu ruang di dalam batin.

“Dulu di tempat ini,” kataku pelan,
“aku bersumpah hanya akan menyerahkan tubuhku pada lelaki yang kucintai. Dan sampai hari ini aku masih menunggu sentuhan itu.”

Ale menunduk.
Ia tahu lelaki itu adalah dia.
Dan ia tidak menyentuhku, bukan karena tidak mau,
tetapi karena ia tidak ingin mencederai cinta yang sudah mencapai bentuk paling beningnya.

Diam kami panjang, namun penuh.

“Aku ingat katamu dulu,” ucapku,
“bahwa manusia hanya perlu berdamai dengan arah angin.”

Ale tersenyum kecil.

“Dan kau akhirnya melakukannya.”

“Aku pikir demikian,” jawabku, memandang laut.
“Walau terkadang… angin juga membawa penyesalan.”

“Penyesalan itu bukan beban, Na,” katanya lembut.
“Itu tanda bahwa hatimu masih hidup.”

Beberapa bulan kemudian, seorang kurir muda datang dengan amplop bersegel lilin — logo Ale Capital, Zürich Office. Di dalamnya ada satu foto:
Ale berdiri di tepi Danau Zürich, mantel abu-abu, syal hitam, senyum yang kukenal sejak 1992. Dan ada sepucuk surat

Esther,

Aku memilih meninggalkan dunia bisnis.Bukan karena aku kalah, melainkan karena aku akhirnya mengertibahwa kemenangan sejati tidak pernah ditentukan oleh grafik indeksatau tepuk tangan pasar,melainkan oleh hati yang mampu beristirahat tanpa gelisah.

Aku ingin menutup sisa perjalanan ini bersama istriku. Ia perempuan sederhana yang tetap menggenggam tangankuketika dunia tidak memandangku apa-apa.Di dalam diam dan doanya,ia membentukku, bukan menjadi raja,tetapi menjadi elangyang tahu kapan harus terbang tinggidan kapan harus pulang.

Kini aku hanya ingin membayar hutang itu padanya,hutang yang tidak terukur oleh angka,tetapi oleh waktu yang tersisa dalam hidupku.

Ale.

Air mataku jatuh, bukan karena kehilangan,
tetapi karena aku tahu Ale kembali ketepiannya.

***

Beberapa minggu setelah itu, Dewan SIDC resmi mengangkatku sebagai Chairman.
Aku menerima, bukan sebagai warisan jabatan, tetapi sebagai warisan nilai. Kini di setiap ruang rapat SIDC — Beijing, Shanghai, Hong Kong, London, Zurich — terukir satu kalimat: “Integrity outlasts ambition.”. Cinta kami tidak hancur.
Cinta kami selesai dengan indah.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Satu tanggapan untuk “Cinta yang bertepi…”

  1. Notifikasi Moral tingkat tinggi.Susah mengalah kan diri sendiri… semoga suatu saat saya mampu

    Suka

Tinggalkan Balasan ke MKGinting Batalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca