SDA kita dikelola tanpa martabat

Kafe itu tidak terlalu ramai sore itu. Di sudut dekat jendela, Hilman sudah duduk lebih dulu. Seorang dosen ekonomi yang lebih terlihat seperti pejuang idealis yang tersesat di dunia akademik yang terlalu birokratis. Kacamata bulat, pakain sederhana.

Aku menghampirinya.

“Udah lama, Man,” kataku.

Hilman tersenyum tipis. “ Baru 10 menit.”

Aku tertawa kecil. Kami pesan kopi—hitam tanpa gula. Kami berdua tidak suka basa-basi.

“Smelter Gresik berhenti lagi, bro,” kata Hilman membuka percakapan.

“Aku lihat beritanya,” jawabku. “Narasinya klasik, perbaikan teknis, sementara berhenti, ekspor tetap jalan. Drama yang sudah hafal ending-nya.”

Hilman menatapku. “Menurut kamu ini kecelakaan atau strategi?”

“Ini bukan kecelakaan, ini koreografi,” jawabku. “Freeport sudah menunda hilirisasi sejak 1997. Dari era Soeharto sampai sekarang, cerita intinya sama, ulur, ekspor, ulangi.”

Hilman mengangguk pelan. “Aku mulai curiga ini bukan soal tembaga lagi.”

“Ya,” jawabku pendek. “Karena memang bukan.”

Aku mengambil tissue dan menggambar diagram sederhana—alur produksi tembaga dari tambang ke smelter. Lalu aku lingkari bagian kecil bertuliskan anode slime.

“Kamu tahu ini?” tanyaku.

“Limbah pemurnian katoda tembaga,” jawab Hilman. “Kenapa?”

“Karena di sinilah permainan sebenarnya,” kataku.

“Ada emas, perak, platinum…” sahut Hilman.

“Dan mineral kritis,” potongku. “Yang lebih mahal dari tembaganya sendiri.”

Hilman kini menatap serius.

“Palladium, rhenium, germanium, iridium… dan satu unsur yang sedang dicari dunia,  tellurium. Material solar panel masa depan.”

Hilman menepuk meja pelan. “Jadi itu alasannya Freeport nggak mau smelter selesai di Indonesia…”

“Ya. Kalau smelter jalan, komposisi mineral di dalam konsentrat akan terdeteksi. “

Hilman menyandarkan punggungnya. Nafasnya berat. “Berarti selama ini negara cuma dikasih tembaganya doang, sementara mineral kritisnya dibawa keluar diam-diam?”

Aku menatapnya. Diam adalah jawaban yang lebih keras dari kata-kata.

“Lalu gimana dengan saham 51% Indonesia di Freeport?” tanya Hilman.

Aku tersenyum miris. “Mayoritas kertas.”

Hilman mengerutkan dahi. “Maksudnya?”

“INALUM beli saham itu pakai utang Global Bond 144A unsecure bond. Di bawah hukum Amerika. Yang pegang kuasa hak jaminan? Lender. Bukan Indonesia.”

Hilman membeku beberapa detik. “Jadi kita ini pemilik, tapi sebenarnya nggak berdaulat?”

“Selamat datang di kenyataan,” jawabku tersenyum masam.

Hilman meminum kopinya. “Kalau begini, kita sudah kalah sejak awal, ya?”

“Kita kalah bukan karena Freeport terlalu kuat,” jawabku. “Tapi karena pejabat kita kalah kelas membaca permainan.”

“Masih bisa dibalik?” tanya Hilman.

“Masih,” jawabku. “Tapi bukan dengan demo, bukan dengan politik bising, bukan dengan nasionalisme karbitan. Caranya cuma satu.”

Aku meraih pulpen dan menulis dua kata di tisu.

Audit teknis.

“Mulai dari mana?” tanya Hilman.

“Audit anode slime. Di situlah kebenaran disembunyikan.”

Hilman terdiam.

“Jadi benar,” gumamnya. “Hilirisasi kita cuma ilusi.”

“Selama kita tidak mengolah mineral kritis, hilirisasi hanya poster politik,” jawabku.

Hilman menatap keluar jendela. Jalanan sudah mulai gelap.

“Kopi kita pahit,” katanya akhirnya.

“Lebih pahit dari kedaulatan yang dijual murah,” jawabku.

Kopi sudah tinggal separuh ketika Hilman kembali menatapku. “Ale, aku mengajar ekonomi politik sumber daya alam, tapi jujur, urusan anode slime yang kamu bilang tadi—hampir tidak pernah dibahas di kampus. Kenapa?”

Aku tersenyum kecil. “Karena selama ini yang diajarkan hanya teori ekonomi yang steril, bukan realitas ekonomi yang penuh intrik. Dunia tambang itu tidak sesederhana ‘ekspor – impor – investasi’. Di baliknya ada perang supply chain.”

Hilman mencondongkan tubuhnya. “Oke, jelaskan lagi soal anode slime. Aku masih penasaran.”

Aku mengambil serbet kertas dari meja dan menggambar alur cepat: Bijih Tembaga → Konsentrat Tembaga → Smelter → Katoda Tembaga. Proses itu menghasilkan limbah atau ANODE SLIME.

“Bagian yang bawah ini,” kataku menunjuk tulisan anode slime, “adalah inti persoalan yang selama ini ditutupi.”

“Limbah ini?” tanya Hilman.

“Ya. Orang awam lihatnya limbah. Pemerintah pun seolah lupa memikirkan itu. Padahal nilainya bisa jauh lebih besar dari katoda tembaga.”

“Karena isinya mineral kritis tadi?”

Aku mengangguk. “Di sinilah Freeport memainkan kecerdikan kelas dunia. Mereka senang sekali kalau Indonesia sibuk berdebat soal smelter harus jadi atau tidak. Itu isu permukaan. Isu sebenarnya: siapa yang menguasai anode slime.”

Hilman mengerutkan dahi. “Tapi kalau isinya semahal itu, kenapa pemerintah tidak bicara atau transparan soal ini?”

“Karena tidak ada kewajiban keterbukaan komersial soal kandungan rare elements dalam anode slime menurut kontrak Freeport masa lalu. Bahkan setelah diambil alih 51% oleh Indonesia pun, kontrak tetap mengikuti koridor lama.”

“Kamu tahu topik panas dunia hari ini?” tanyaku.

Hilman berpikir sebentar. “AI, semikonduktor, energi hijau.”

“Benar,” kataku. “Dan tiga hal itu punya kebutuhan bahan baku yang sama: critical minerals. Dan tebak apa yang Indonesia punya?”

“Let me guess,” kata Hilman. “Bukan cuma nikel. Tapi juga Tellurium, Germanium, Palladium, Rhenium, Iridium—semuanya ada di Papua.”

Aku mengangguk.

“Kalau Indonesia mau punya posisi tawar global, kita tidak boleh lagi jualan bahan mentah. Kita harus masuk permainan tingkat lanjut, kontrol material teknologi.”

“ Jadi paham kenapa smelter Gresik selalu ditunda” kata Hilman terpaku beberapa detik. “Karena kalau smelter beroperasi penuh, produksi anode slime tidak bisa disembunyikan. Dan kalau anode slime tidak bisa disembunyikan, kandungan mineral kritis akhirnya terbaca. Nilai ekspor mereka terdeteksi. Pajak naik. Bagi hasil untuk negara naik. Keuntungan mereka turun.” Lanjutnya.

Aku tersenyum. “Selamat datang di permainan sesungguhnya.”

Hilman menghela nafas panjang. “Berarti ini bukan lagi soal ekonomi. Ini soal kedaulatan material.”

“Kedaulatan material,” ulangku. “Ya. Siapa yang menguasai material masa depan, dia yang menguasai teknologi masa depan. Dan siapa yang menguasai teknologi, dia yang menguasai dunia.”

Hilman menatapku serius. “Kalau begitu, kalau negara tidak bergerak…”

Aku memotong pelan. “Maka anak-anak kita hanya akan jadi buruh di negeri sendiri selamanya.”

Suasana mendadak sunyi. Di luar, langit sudah gelap. Tapi pembicaraan belum selesai. ***

Telurium.

Telurium adalah unsur kimia dengan simbol Te dan nomor atom 52. Termasuk golongan metaloid, bukan sepenuhnya logam, tetapi juga bukan nonlogam. Secara fisik, warnanya keperakan dengan kilap logam. Yang membuat telurium penting bukan bentuknya, tapi sifat elektroniknya. Telurium memiliki konduktivitas listrik yang stabil dan sensitif terhadap cahaya serta panas, membuatnya sangat bernilai dalam industri semikonduktor, solar panel, dan teknologi baterai.

Karakter penting telurium: Unsur langka (hanya 1 ppm di kerak bumi). Tidak ditambang langsung, tetapi byproduct dari pemurnian tembaga. Bisa mencapai kemurnian 99.999% (5N grade) untuk industri elektronik. Masuk daftar Critical Minerals Amerika Serikat (USGS)

Negara Produsen Telurium Dunia

Total produksi telurium dunia hanya 500–600 ton per tahun, sangat kecil dibanding produksi tembaga (25 juta ton/tahun). Pasokannya terkonsentrasi hanya di beberapa negara.

NegaraPangsa PasarKeterangan
China60–70%Produsen terbesar dunia
Amerika Serikat8–10%Produksi dari Freeport-McMoRan
Kanada5–7%Teck Resources
Peru5–6%Southern Copper
Jepang4–5%Sumitomo Metal Mining
Rusia3–4%Norilsk Nickel
UE (Jerman, Swedia)2–3%Aurubis, Boliden

China menguasai supply chain telurium dunia, menjadikannya komoditas yang sensitif secara geopolitik, seperti halnya gallium dan germanium.

Aplikasi Telurium dalam Industri

Telurium digunakan dalam teknologi energi masa depan:

AplikasiProdukKeterangan
Energi SuryaCadmium Telluride (CdTe) Solar PanelDigunakan oleh First Solar (AS)
Baterai EV & GridLithium-Telluride (Li-Te)Kapasitas lebih tinggi dari Li-Ion
SemikonduktorBi₂Te₃ & PbTeCharge control dalam chip
TermoelektrikGenerator panas listrikDipakai di satelit & militer
Paduan LogamBaja & tembagaTingkatkan daya tahan

Telurium adalah material kunci untuk solar panel generasi masa depan karena lebih efisien dari silikon pada kondisi panas dan minim cahaya.

Ekosistem Rantai Pasok Telurium

Tellurium hampir tidak pernah ditambang langsung. Ia produk ikutan dari pemurnian tembaga. Jadi pusat “tambangnya” justru ada di smelter–refinery Cu (bukan di tambang bijih). Berikut penjelasan teknis, alur-proses bagaimana tellurium (Te) “lahir” dari industri tembaga sampai menjadi bahan untuk panel surya/semikonduktor.

1) Bijih tembaga → smelter → anoda.

Bijih Cu (chalcopyrite, dkk.) dilebur jadi matte lalu dimurnikan termal menjadi blister copper (~98–99% Cu). Blister dicor menjadi anoda untuk elektrorefining (larutan H₂SO₄–CuSO₄). Di sel elektrolisis: Anoda (Cu) larut: Cu → Cu²⁺ + 2e⁻. Katoda menumbuhkan Cu murni. Unsur “mulia”/sulfida (Au, Ag, Se, Te, Pd…) tidak larut → mengendap sebagai anode slime di dasar sel. Di slime, Te biasanya berbentuk tembaga-tellurida (Cu₂Te, CuTe) tercampur dengan selenida, perak/emas, dan jejak logam lain.

2) Anode slime → pra-pengolahan kimia

Slime dikeringkan & diproses berurutan agar Te/Se terpisah: Decopperization: leaching asam (H₂SO₄ + O₂) untuk melarutkan Cu/Ni/As yang tersisa. Pemisahan Se vs Te memakai oksidasi/penyanggaan pH: Selenium dioksidasi jadi asam seleniosa (H₂SeO₃) yang larut (sering dengan Na₂SO₃/ClO₃⁻ sebagai agen). Tellurium diubah jadi oksida/oksianion: Roasting ringan (oksidatif) → TeO₂ (padat), atau Leach basa (NaOH + oksidator) → tellurit/tellurat TeO₃²⁻/TeO₄²⁻ (larut). Tujuan tahap ini: memindahkan Te ke fase yang bisa dipisahkan dari Se/Ag/Au, sambil mengurangi pengotor (Cu, Pb, Bi).

3) Ekstraksi & pemurnian TeO₂ (intermediat)

Larutan/ampas yang mengandung Te diproses dengan kombinasi: Presipitasi selektif → mengendapkan TeO₂ (dengan pengaturan pH/oksidasi). Solvent extraction/ion exchange (mis. TBP, Alamine 336) untuk menurunkan Se/Bi/Pb ke level ppm. Hasilnya TeO₂ “semikonduktor-grade” siap direduksi/elektrowin.

4) TeO₂ → logam tellurium (Te)

Dua rute umum: Reduksi kimia: larutkan TeO₂ → reduksi dengan SO₂ atau hydrazine/NaHSO₃ → Te logam (bubuk), lalu peleburan & zone-refining untuk mencapai 99.7–99.999%. Elektrowinning: dari larutan klorida/asam, spesies HTeO₂⁺ dideposisikan di katoda sebagai Te → peleburan & refining. Kontrol kritis: pH, potensial, dan impuritas (Se) karena sedikit saja Se menurunkan kualitas elektronik Te.

5) Logam Te → material hilir

CdTe (cadmium telluride): leburkan Cd murni + Te stoikiometrik, lalu deposisi film tipis (mis. close-spaced sublimation, sputtering). Aplikasi: modul surya thin-film. Bi₂Te₃ (bismuth telluride): peleburan stoikiometrik + hot pressing/SPS dengan doping (n/p-type). Aplikasi: termolistrik (pendingin kecil, waste-heat recovery). Lainnya: Ge–Sb–Te (phase-change memory), aditif baja, optik IR, komposit baterai (niche).

6) Mengapa titik cekiknya ada di refinery?

Ketersediaan Te bergantung pada volume anoda Cu dan pada apakah refinery memasang sirkuit pemulihan Te. Menambah pasokan tidak bisa cepat: perlu CAPEX proses, izin lingkungan (penanganan Se/Te), know-how kimia, dan integrasi ke operasi elektrolisis.

Rantai pasokan telurium terhubung langsung dengan industri smelter tembaga dan fotovoltaik surya. Negara yang punya smelter tembaga—punya peluang masuk bisnis telurium.

Perusahaan Kunci yang Menguasai Pasar

PerusahaanNegaraPeran
China Nonferrous MetalsChinaProdusen terbesar
Yunnan Tin GroupChinaProdusen chalcogen
Freeport-McMoRanASProduksi byproduct dari copper refinery
Teck ResourcesKanadaPemasok industri solar CdTe
5N PlusKanada/BelgiaProdusen material CdTe untuk First Solar
Aurubis AGJermanSmelter multi-logam Eropa
BolidenSwediaSupply CdTe dan paduan
Sumitomo Metal MiningJepangPasokan untuk industri teknologi

Harga telurium tidak transparan, karena tidak diperdagangkan di bursa seperti LME atau COMEX. Harga kontraknya off-market.

BentukHarga
TeO₂ Industri$120–180 per kg
Telurium 99.9%$200–350 per kg
Telurium 99.999% (5N grade)$700–1,200 per kg

Harga bisa melonjak lebih dari $2.000/kg saat suplai terganggu (contoh: 2021–2022 ketika China menahan ekspor).

Telurium senjata Geopolitik bagi China.

Ada yang membuat China tidak mudah dikendalikan oleh AS dan negara maju lainnya. Dan setiap mereka membuat kebijakan tarif yang merugikan daya saing China, mereka harus membayar mahal atas aksi balasan dari China. Apa itu ? Tellurium (Te)  dipakai China sebagai “senjata geopolitik” lewat kontrol ekspor.

Tellurium bukan ditambang khusus. Ia sebagian besar muncul sebagai produk ikutan dari lumpur anoda pada pemurnian tembaga elektrolitik. Artinya, siapa yang menguasai smelter–refinery tembaga dan sirkuit pemulihan lumpur anodanya, dia menguasai pasokan Te. Ini persis area yang dibesarkan Tiongkok selama satu dekade terakhir.

Menurut USGS Mineral Commodity Summaries 2025, Tiongkok adalah produsen refined tellurium terbesar, sekitar ~75% dari output global pada 2024—seiring melonjaknya kapasitas pemurnian tembaga Tiongkok ±60% dalam 10 tahun. Dengan pangsa setinggi ini, perubahan kecil pada izin ekspor saja sudah bisa mengguncang harga dan ketersediaan dunia.

Total pasokan tellurium dunia hanya ratusan ton/tahun, sehingga sedikit pengetatan di titik ekspor langsung memicu volatilitas harga dan bottleneck industri hilir (PV tipis, memori PCM, termolistrik Bi₂Te₃, aditif baja, dsb.). Di pasar setipis ini, lisensi ekspor yang diperlambat saja bisa menjadi alat tekanan yang efektif.

Pada 4 Februari 2025, Tiongkok mengumumkan kontrol ekspor untuk lima logam/produk kritis termasuk tellurium (juga tungsten, indium, bismuth, molybdenum); eksportir wajib memperoleh persetujuan khusus sesuai Export Control Law. Media industri dan arus utama mengonfirmasi Te termasuk dalam daftar. Ini memberi pemerintah tuas administratif: kuota, kelonggaran selektif, atau slow-walk izin.

Ada  laporan bahwa senyawa kunci seperti cadmium telluride (CdTe)—bahan inti panel surya thin film—juga masuk cakupan kontrol tertentu. Mengatur unsur Te sekaligus senyawanya memperluas jangkauan kebijakan hingga ke produk antara rantai pasok.

PV tipis CdTe (banyak diproduksi di luar Tiongkok) sangat bergantung pada Te. Sementara rantai PV Tiongkok didominasi kristalin silikon yang tidak butuh Te. Artinya, kontrol ekspor Te lebih menyakiti pesaing teknologi PV non-silikon ketimbang melukai manufaktur domestik Tiongkok sendiri.  Te juga dipakai di GeSbTe (phase-change memory), Bi₂Te₃ (termolistrik), aditif baja, dan optik IR. Dengan paket kontrol (Te + indium + bismuth + molybdenum/tungsten), Tiongkok memperoleh bundling leverage lintas subsektor teknologi.

Memulihkan Te dari lumpur anoda butuh proses kimia multi-tahap (pelindian, pemisahan Se/Te, ekstraksi pelarut, presipitasi). Banyak smelter di luar Tiongkok belum memasang sirkuit pemulihan penuh karena capex, perizinan lingkungan, dan historisnya harga Te rendah—sehingga lead time membangun kapasitas non-Tiongkok bertahun-tahun. Ini memperpanjang masa efektivitas kontrol ekspor.

Bagaimana “senjata” ini dipakai—sketsa mekanismenya. Lisensi selektif: izin ekspor Te/senyawa (mis. CdTe, TeO₂) diperlambat/dipersempit → produsen hilir mengalami kekurangan bahan baku. Sinyal kebijakan,  hanya pengumuman/pengetatan parsial sudah cukup mengangkat harga karena pasar tipis.  Bundling, kontrol paralel pada indium/bismuth/tungsten menambah efek gabungan ke elektronik, termolistrik, dan pertahanan.

Substitusi? beberapa aplikasi punya pengganti, namun efisiensi/biaya turun (mis. PV silikon menggantikan CdTe; alternatif material untuk termolistrik/memori).  Daur ulang & retrofit? pemain besar bisa meningkatkan recycling dan memasang sirkuit pemulihan Te di smelter non-Tiongkok, tapi butuh waktu, izin, dan capex. Diversifikasi? sebagian anode slimes bisa dialihkan ke refiner di luar Tiongkok—lagi-lagi memakan waktu karena kontrak teknis & lingkungan .

Secara teknis, keunggulan Tiongkok terletak pada dominasi pemurnian (±75%), kebijakan kontrol ekspor yang menyasar unsur & senyawa, pasar global yang tipis, serta koherensi industri (kontrol Te relatif minim “luka balik” ke rantai PV domestik berbasis silikon). Kombinasi ini membuat tellurium efektif sebagai tuas geopolitik—kecil volumenya, besar dampaknya.

***

Penyitaan saham Nexperia di Belanda adalah tanda zaman. Keputusan pemerintah Belanda mengambil alih kepemilikan China pada Smart Photonics tidak bisa dibaca sekadar sebagai sengketa bisnis. Ini adalah deklarasi politik: bahwa teknologi semikonduktor kini sama pentingnya dengan kedaulatan negara.

Selama bertahun-tahun, Eropa menikmati investasi China dalam skala besar — dari pelabuhan Yunani hingga perusahaan robotik Jerman. Namun ketika investasi itu menyentuh urat nadi pertahanan dan daya saing digital, reaksi Eropa berubah total.

Smart Photonics bukan sekadar pabrik chip. Ia adalah akses menuju masa depan 6G, komputasi kuantum, hingga persenjataan presisi. Dan Nexperia bukan sekadar pemegang saham. Ia adalah perusahaan yang 100% dikendalikan investor China, yang oleh Barat dipandang sebagai kepanjangan tangan negara.

Maka langkah Belanda jelas:

“Mencegah teknologi krusial berpindah ke rival strategis. Eropa Memilih Amerika sebagai Penjaga Masa Depannya ”

Keputusan Den Haag selaras dengan tekanan Amerika Serikat yang sejak 2019 menekan Eropa untuk: membatasi transfer teknologi ke Tiongkok melarang ekspor mesin EUV ASML menyaring ketat FDI di sektor strategis

Eropa akhirnya sepakat: Jika keamanan teknologi menjadi taruhan, hubungan dagang dengan China tidak lagi prioritas utama. China Meradang — tapi Masih Memegang Kartu As. Respons Tiongkok tegas: menuduh Belanda melakukan diskriminasi ekonomi. Namun reaksi mereka tidak akan berupa retorika, melainkan realpolitik: pembatasan ekspor gallium & germanium tekanan terhadap sektor otomotif Eropa di China memperkuat blok teknologi BRICS+. Kita harus mengingat: China menguasai >90% supply chain logam strategis untuk chip.

Barat melindungi IP teknologi →China mengamankan bahan bakunya. Inilah Cold War baru — versi industri. Implikasi untuk Dunia Bisnis: Risiko Baru, Peta Baru. Perusahaan global kini harus membaca ulang arah angin geopolitik: Teknologi kritikal bukan lagi objek pasar bebas.Akuisisi oleh modal China mencapai batas baratnya. Fragmentasi supply chain menjadi keniscayaan. Regulasi FDI akan semakin proteksionis

Sejak kasus ini, satu pelajaran sangat jelas:

Investasi lintas negara tidak lagi dinilai dari ROI, tetapi dari siapa yang akan menguasai masa depan.

Kesimpulan

Telurium adalah mineral kecil dengan nilai strategis besar, terutama dalam energi terbarukan dan semikonduktor. Di masa depan, telurium akan menyamai posisi litium dan nikel dalam geopolitik energi. Indonesia punya peluang emas: membangun hilirisasi telurium dari smelter tembaga. Ini bukan tambang baru – ini bisnis teknologi berbasis limbah bernilai tinggi. Begitu besar peluang nya namun belum ada pabrik pengolah telurium di Indonesia. Oleh Antam dan Freeport masih diekspor sebagai limbah anode slime ke Jepang/China. Nilai tambah hilang besar. Mengapa? Pemimpin kita tidak punya visi besar menggunakan sumber daya alam sebagai senjata geopolitik dan bermartabat sebagai bangsa berdaulat.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Satu tanggapan untuk “SDA kita dikelola tanpa martabat”

Tinggalkan Balasan ke Ayam Merak yang Elegan | Raldi Artono Koestoer Batalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca