
Sabarudin duduk di bale-bale teras, tubuhnya lelah, rokok masih berasap di tangan. Dari dalam, Marni keluar dengan langkah kecil tapi suara lembut. Wajah Jawa-nya yang lembut tak bisa menyembunyikan getir yang mengendap.
“Mas… sudah tembus enam belas ribu beras sekilo. Gula tujuh belas ribu. Listrik katanya mau naik lagi. BBM sebentar lagi ikut. Gas pun pasti. Pendapatanmu jalan lelet, beda jauh dengan harga yang melompat.”
Sabarudin, lelaki Minang dari tanah Sumatera itu, menoleh malas. “Tak paham aku ” katanya dengan nada pasrah. Ia menghela napas, menatap bara rokoknya. Dua budaya yang mereka satukan lewat pernikahan sering kali terasa seperti dua sungai berbeda: Udin yang keras kepala, Marni yang gemar bicara dengan logika panjang. Tapi di sanalah kehangatan mereka.
“Ya memang Mas tak paham,” jawab Marni, perempuan Jawa yang tak secantik artis tapi berhati jernih. “Tahunya kerja, setor gaji tiap bulan, selesai. Tapi Mas tak tahu, kerja keras Mas itu makin lama makin tak berharga. Aku yang sesak, mikir apa yang harus dihemat. Kau kira enak, Mas, jadi perempuan yang tiap hari berputar otak biar dapur tetap berasap?”
Udin tersenyum pahit. Ia tahu argumen itu benar. Ia tahu bahwa upahnya semakin tak mampu menahan arus waktu yang menggerus nilai setiap rupiah. Tapi ada sesuatu yang lebih dalam yang membuatnya terdiam: rasa malu, karena tak mampu memberi yang lebih baik kepada istri dan anak-anaknya; rasa amarah yang tak punya lubang untuk dialirkan; dan rasa takut bahwa anak-anaknya akan tumbuh di negeri yang menawar masa depan sebagai komoditas murah.
Hujan rintik mulai menaburi genting. Bunyi tetes menimpa atap yang bocor seakan APBN yang 30% bocor membuat berkah bagi elite untuk hidup mewah. “Rumah kita masih bocor,” Udin mengeluh, menengadah. “Belum bisa beli plastik penahan tiris.”
Marni terdiam, lalu matanya menerawang. Ia membayangkan sebuah toko roti kecil, jendela kaca yang berembun, kue tart berlapis krim dengan bunga-bunga kecil, tulisan Happy Birthday yang gemetar bila disentuh kebahagiaan. Gambar itu membuat dadanya sesak. Ia menempelkan tangan ke dada, seakan meraih sesuatu yang tak kasat mata.
“Kurang beberapa hari lagi, Mas,” ia berkata pelan. “Ulang tahun si kecil.”
Udin tertawa getir. “Beli roti bagaimana? Kita makan nasi dengan sambal saja sudah susah. Kau mau tart yang biasa pejabat makan? Itu makanan menteri, bupati, koruptor. Kau mimpi…”
Kata-kata itu tajam, tetapi di ujungnya ada keretakan; Udin sadar ia berbicara keras untuk menutupi air mata yang hampir jatuh. Marni tetap tenang. Ia menata rambutnya, memegang kain serbet yang sama, kemudian menunduk, menengadahkan wajahnya, memohon kepada sesuatu yang lebih besar dari dirinya.
“Ya Tuhan,” bisiknya, “beri aku hanya satu kali ini saja… biarkan aku memberi kue kecil itu pada anakku. Biar dia tahu apa itu ulang tahun.”
Udin meraih tangan istrinya. Hujan menjadi pelipur; ia berkata, “Biarkan tiris membasahi rumah kita. Itu rezeki kita: air.” Dan mereka tertawa kecil bersama, tawa yang setengah patah, setengah menghibur.
Malam datang lebih berat. Marni merebahkan kepala di pundak Udin yang masih memegang rokok. Ia bertanya lagi, suaranya lembut, hampir seperti bertanya pada dirinya sendiri, “Mas kan sarjana. Kenapa harga terus naik dan gaji kita kalah cepat dengan kenaikan harga? Terangi aku, agar aku tak lagi punya prasangka buruk pada suamiku.”
Udin menarik napas panjang. Kata-kata yang keluar tidak untuk menengahi atau menenangkan semata, melainkan hendak memberi peta: tentang uang yang mereka terima, tentang nilai yang semakin luntur. “Uang yang aku terima itu pada dasarnya surat utang pemerintah kepada kita. Pemerintah berjanji menukarkan surat itu dengan barang dan jasa. Tugas negara adalah menyediakan sistem produksi agar surat utang itu bisa dipertukarkan. Tapi kalau produksi lebih sedikit daripada uang yang beredar, terpaksa kita impor. Harga naik, itu inflasi. Itu depreciasi kurs. Pemerintah sebenarnya membayar dengan janji. Dan bila janji itu retak, kita yang dirugikan.”
Marni mengangguk, tertidur pelan di bahu suaminya, sementara kata-katanya mengalun seperti dongeng yang menceritakan paradox sebuah negara. Ia bercerita tentang stimulus yang mengalir ke bank tetapi tidak menemukan jalur ke sektor produktif; tentang 30 persen anggaran yang lenyap karena korupsi; tentang uang yang menumpuk di rekening segelintir orang; tentang industry ekstraksi sumber daya alam yang tak menghasilkan lapangan kerja luas namun merusak lingkungan. Tentang pesisir pantai yang di pagar beton untuk Kawasan mewah yang menghambat nelayan. Tentang perilaku hedonis elite yang mempertontonkan ketidakadilan secara vulgar .
***
Pagi itu, langit masih kelabu. Taksi berhenti di depan rumah kecil mereka. Koper lusuh diletakkan Udin di dekat pintu. Marni berdiri di ambang, matanya basah tapi bibirnya berusaha tersenyum.
“Mas… jadi juga kau pergi,” kata Marni, suaranya bergetar.
Udin meraih tangannya. “Marni… dengar aku. Aku orang Minang, dari kecil diajari jangan pernah menyerah. Tapi di negeri ini, kerja keras kita tak dihargai. Aku harus pergi dulu, demi kau dan anak-anak. Bukan berarti aku tinggalkan. Aku pergi, supaya kelak kita bisa hidup lebih baik.”
Air mata Marni jatuh. “Aku perempuan Jawa, Mas. Dulu moyangku bertransmigrasi ke sumatera membuka hutan untuk kehidupan baru. Tapi setelah itu kebun kami atas nama UU di jarah oleh pengusaha besar untuk kebun sawit. Dalam kemiskinan, aku bertemu denganmu. Mas nikahi aku. banyak yang mencibir: Minang keras, tak mungkin cocok dengan jawa yang lembut. Tapi lihat kita, Mas… 10 tahun berumah tangga, kita bisa bertahan. Dan sekarang kau bilang harus pergi? Aku takut…”
Udin menatap istrinya dalam-dalam. “Marni, percayalah. Aku pergi bukan untuk lari dari kau. Aku pergi supaya suatu hari kau tak lagi pusing hitung harga beras, gula, listrik. Aku ingin kau berhenti menangis karena dapur kosong.”
Marni menutup wajahnya, lalu memeluk suaminya erat. “Pergilah, Mas. Aku ikhlas. Tapi janji, jangan lupakan kami. Jangan lupakan anak-anak yang menunggumu pulang. Aku akan kuat di sini, meski sendirian.”
Udin menunduk, mencium kening istrinya. “Janji, Marni. Aku bukan hanya suamimu, aku bapak dari anak-anak kita. Minang dan Jawa boleh beda darah, tapi nasib kita satu. Aku akan kembali.”
Taksi itu menyalakan mesin. Udin masuk, menoleh sekali lagi. Marni berdiri, membawa nasi bungkus yang ia selipkan di pangkuan suaminya. Tangannya melambai, tapi hatinya seolah ikut dibawa pergi.
Di dalam taksi menuju bandara mata Udin sendu. Di dalam dada, ia membawa bukan hanya koper, melainkan berat meninggalkan keluarga di negara yang tak mampu menepati janji pada rakyatnya. Ia pergi bukan untuk melarikan diri, tetapi untuk menyelamatkan: menyelamatkan keluarga kecilnya dari sistem yang mengunyah masa depan.
Marni menatap dari belakang taksi yang melaju hingga lenyap, lalu menutup pintu rumah yang bocor dengan tangan yang gemetar. Ia tahu banyak yang tak berubah. Harga akan tetap melompat, para pejabat akan terus berdinas di gedung tinggi, korupsi mungkin akan bertahan, tetapi di perutnya ada nyala kecil yang tak padam: keyakinan bahwa satu tindakan, sekecil apa pun, bisa menyelamatkan anaknya dari lapisan kemiskinan yang terus mengental.
***
Waktu berlari cepat, seperti kereta malam yang hanya meninggalkan dengung di rel. Tiga bulan sudah berlalu sejak pagi itu, sejak Udin berangkat dengan koper lusuh menuju negeri jiran. Setiap bulan Marni terima uang kiriman dari suaminya. Memang tidak banyak namun tidak membuat dia bingung dengan harga yang naik.
Setiap sore, Marni duduk di teras rumah kecil mereka, menatap jalan berdebu, sambil menenangkan anak-anak yang kerap merengek meminta jajan. Pesan singkat dari Udin lewat hape datang seperti embun di musim kering. “ Mar, jaga anak anak, jaga sholat. “ dan Marni akan jawab singkat.” Mas, jaga makan ya.”
Malam itu, ketika hujan kembali menitik di genting, suara telepon bergetar. Jantung Marni berdegup. Ia angkat, dan terdengar suara yang dirindukannya: Udin. Suaranya lebih mantap, meski tetap ada serak yang akrab. “ Marni…” katanya lirih tapi tegas. “Aku bawa kabar baik. Lamaran kerjaku diterima di Qatar. Bukan kerja kasar lagi, tapi di perusahaan pengelolaan investasi. Rezeki ini datang seperti pintu yang dibuka Tuhan. Besok aku pulang. Aku akan jemput kau dan anak-anak, kita hijrah bersama. Perusahaan memberi fasilitas rumah untuk kita.”
Marni terdiam, matanya membesar. “Qatar, Mas? Negeri jauh itu?”
“Iya, Marni. Negeri gurun yang tandus, tapi kantongnya penuh minyak dan uang. Beda dengan negeri kita, yang minyaknya memperkaya elit menyengsarakan rakyat, yang tiap hari bingung menukar uang dengan beras dan gula. Tapi kau tahu, Marni… akhirnya keluarga kecil kita bisa berkumpul lagi, walau harus jauh dari negeri sendiri.”
Air mata Marni menetes, bukan hanya karena rindu, tapi juga harapan yang mulai tumbuh. “Mas… sejak aku menikah. Aku adalah makmun dan mas Imam ku. Apapun yang mas perintahkan aku patuh. Tapi ..Apa boleh aku kawatir karena jauh dari negeri sendiri..” Marni memang tamatan sekolah Guru. Udin kadang menganggap Marni guru madrasahnya.
Udin menarik napas panjang, seakan hendak menambatkan keyakinan di dada istrinya. “Aku orang Minang, kau orang Jawa. Dari awal, kita tahu menikah lintas budaya bukan hal mudah. Kita sudah tahan cibiran, kita sudah tahan lapar. Maka kini, biarlah kita juga tahan hidup di tanah jauh, asal demi anak-anak. Jangan takut, Marni. Aku akan selalu ada. Bukan lagi sebagai buruh kecil, tapi sebagai lelaki yang memperjuangkan harga dirinya. Dan lagi kita hanya hijrah, Cinta negeri tak akan tergantikan. Negeri ini tetap dihati kita..”
Sejenak, hening menyelubungi keduanya. Hujan di genting seperti menulis syair kecil: tentang cinta yang diuji jarak, tentang keluarga yang menolak menyerah pada nasib. “ Ya mas, kemana saja Mas bawa, aku ikut. Kita pergi bersama. Bukan karena kita tak mencintai negeri ini, tapi karena kita tak ingin hidup lebih rendah daripada hewan peliharaan tuan-tuan yang berkuasa. Kita pergi agar anak-anak tahu, bahwa hidup harus diperjuangkan, bukan sekadar dijalani.”
Di ujung telepon, Udin memejamkan mata, menahan haru. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa janji hidup yang sempat retak mulai kembali utuh.
Di sebuah negeri yang sering kali lupa kepada mereka yang paling kecil, ada keluarga kecil yang memilih bertahan dengan cara mereka sendiri: bekerja, berkorban, dan mencintai dalam kesederhanaan. Mereka tak menunggu janji besar dari atas; mereka membuat rencana kecil, membangun harapan setahap demi setahap. Dan pada suatu hari, ketika roti tart itu akhirnya hadir di meja sederhana dengan lilin kecil dan senyum lebar si anak, semua lelah berubah menjadi sesuatu yang tak terukur harganya, bukan karena persis nilai rupiahnya, tetapi karena ia adalah bukti: bahwa di tengah sistem yang culas, masih ada martabat yang tak bisa dijual dengan murah lewat bansos dari wajah hipokrit para elite, para bandit oligarki. Walau karena itu, ke rantau kita dahulu..

Tinggalkan Balasan ke milkshaketranquil785764a059 Batalkan balasan