
Jakarta baru saja mengangkat wajahnya dari kelam pandemi. Mal dan hotel mulai dipenuhi langkah kembali, lampu berkilau, musik lobby berpura-pura riang. Namun, di sela riuh yang dipoles, ada sepi yang menetes, sepi yang tak bisa ditutupi oleh denting piano atau senyum resepsionis.
Usai sholat Maghrib di musholla mall, saya melangkah cepat menuju hotel tempat Wenny menginap. Koridor hotel terasa temaram, lampu kuningnya menebarkan cahaya samar, seakan menyembunyikan rahasia yang hendak terbuka.
Wenny telah menunggu di café hotel. Ia berdiri, melambaikan tangan, senyumnya hangat menyejukkan ruang. “I miss you, B,” katanya, memeluk erat. Setahun terpisah oleh COVID, kini wajahnya kembali berbinar; bugar, cerah, seperti pagi yang bersih.
“Kamu sehat. Itu yang penting,” saya tersenyum. “Bisnis naik-turun, ritme kehidupan memang begitu.”
Senyumnya meredup. Ada keseriusan yang melintasi matanya. “B… maaf, saya harus sampaikan sekarang. Kita punya masalah besar di Amerika Latin.”
Saya menaruh cangkir. Hening yang pendek.
“Sejak tahun lalu, konsesi downstream kita ditekan otoritas federal,” ujarnya pelan.
“Dan kini,” Wenny menahan napas sejenak, “aktivis lingkungan menggandeng masyarakat adat. Penolakan total. Mereka menyebut proyek kita ‘proyek kematian’. Menuduh penambangan di hutan hujan Amazon akan merobek ekosistem, memutus urat hidup komunitas di sana.”
Saya menyandarkan tubuh sambil tersenyum. Seakan tidak terkejut dengan berita yang baru saya terima.
“Wen, kita tak pernah ambil konsesi tambang emas, tembaga, mangan, timah, niobium, nikel, atau aluminium, estate food. Kita tak menggali tanah. Kita membangun smelter di sana dan mengapalkannya ke pusat industry kita di China, Kanada dan Spanyol. Itu bisnis kita. Soal luka di tanah, itu urusan negara dan para oligark yang memegang IUP”
Nada saya mengeras tipis. “Jika hutan rusak, itu bukan tangan kita yang menggenggam cangkul. Tugas kita mengolah apa yang sudah terangkat ke permukaan. Value added ada pada teknologi dan modal, dua kunci yang mereka tak miliki. Pada ujungnya, rantai nilai tetap kembali ke meja kita.”
Wenny terdiam, lalu mengeluarkan map dari tas. “Ini, B. Teguran resmi. Pembangunan smelter diminta berhenti sementara sampai audit lingkungan rampung.” Stempel pemerintah menatap saya dingin. Regulasi yang biasanya lentur seperti rotan, tiba-tiba kaku seperti besi: dari alat penata, berubah senjata.
“Brasil ini surga SDA, Wen. Kedelai, daging sapi, bijih besi, bauksit, sampai bioekonomi di Amazon. Kekayaan alam yang seharusnya jadi berkah, malah jadi ajang tarik-menarik antara oligarki domestik dan pemain finansial global.”
Wenny meneguk kopinya, lalu bertanya lirih, “Oligarki di sini siapa?”
“Para agronegócio, perusahaan tambang, dan konglomerat energi. Mereka menguasai lahan luas, bahkan bisa mengatur kursi politik lokal. Tapi untuk naik kelas ke level global, mereka butuh mitra, butuh dukungan dari bank investasi, hedge fund, pengelola aset internasional. Di situlah persekutuan itu lahir.”
Saya menghela napas, lalu melanjutkan. “BTG Pactual, misalnya. Dijuluki Goldman Sachs of the Tropics. Bersama IFC dan koalisi bioekonomi internasional, mereka menghimpun miliaran dolar. Katanya untuk hutan, energi, dan agribisnis berkelanjutan. Tapi di balik narasi ESG itu, yang terjadi adalah eksploitasi yang lebih halus.”
Wenny menatap saya serius. “Maksudmu bagaimana?”
Saya menjawab pelan. “Lihat contoh kredit karbon. Mereka tanam eukaliptus, lalu menyebutnya restorasi. Padahal monokultur itu mengancam keanekaragaman dan menguras air tanah. Atau privatisasi energi: BTG jadi penasihat penjualan saham Eletrobras, membuka pintu investor global ke aset strategis. Bahkan ekspor kedelai, gula, dan daging sapi sekarang dikendalikan lewat derivatif komoditas—futures, swaps—yang ujung-ujungnya mendorong deforestasi Amazon.”
Wenny menghela napas panjang. “Jadi semua yang tampak hijau itu hanya cat di permukaan?”
Saya mengangguk.
“Ya. Polanya jelas: oligarki lokal sediakan tanah dan izin. Bank investasi global dan hedge fund beri likuiditas. Lembaga internasional seperti IFC atau DFC kasih stempel hijau. Negara? Hanya fasilitator regulasi. Akhirnya, tanah, hutan, bahkan karbon diperlakukan seperti angka dalam return on investment. Bukan lagi sebagai sumber kehidupan.”
“Lalu dampaknya bagi rakyat kecil?” tanya Wenny.
“Deforestasi, degradasi lahan, komunitas adat tersingkir. Petani kecil kalah dengan konglomerat. Dan negara makin tergantung pada ekspor SDA untuk menambal fiskal. Padahal setiap dolar yang masuk justru mengunci ketergantungan itu lebih dalam.”
Saya menatapnya lama, lalu menambahkan “Inilah yang jarang orang pahami, Wen. Oligarki lokal bukan sekadar aktor ekonomi. Mereka adalah proxy dari jaringan finansial global. Mereka memastikan SDA Brasil tetap jadi sumber yield bagi hedge fund, sekaligus alat geopolitik bagi kapitalisme dunia.”
Wenny terdiam, wajahnya sendu. Dari luar kaca, lampu kota São Paulo berkilau bagaikan bintang buatan. Tapi saya tahu, di balik cahaya itu, ada hutan yang ditebang, sungai yang tercemar, dan kontrak keuangan yang menggadaikan masa depan bangsa.
Saya menghela napas panjang. “Minta Tom di New York, hubungkan saya dengan Felix lewat SafeNet sekarang.”
Wenny menekan nomor. Tak lama, layar ponsel menyala.
“B, kamu di Jakarta?” suara Felix terdengar bersih.
“Ya.”
“Bisa bertemu besok? Waktu terserah.”
“Ritz, Singapura. Pukul delapan malam,” ucap saya.
“Baik.” Sambungan terputus. Saya menutup ponsel, mengusap wajah. Di lounge ini larangan merokok dipasang rapi; kepala saya malah terasa lebih berat.
Selepas itu, pikiran saya bekerja seperti mesin yang dipanaskan. ESG risk—lingkungan, sosial, tata Kelola, sering kali tidak murni urusan etika. Di banyak tempat, ia menjelma menjadi alat politik: menunda, menekan, atau menyisihkan pemain asing tanpa menodai tangan.
Di Amerika Latin, masyarakat adat diangkat menjadi panji; Amazon dijadikan narasi moral global. Namun di balik layar, saya tahu, ini adalah perang sunyi tentang siapa yang mengukir hak atas jalur nilai mineral dunia. Perusahaan hanya pion. Yang menggerakkan papan adalah negara—dan hedge fund yang menulis naskahnya.
***
Pagi itu, bandara Halim Perdanakusuma masih setengah mengantuk. Udara lembab pagi bercampur aroma aspal basah, sementara di apron, jet pribadi Yuan Holding menunggu dalam diam. Sayapnya berkilau disapu cahaya matahari pertama, seolah hendak terbang bukan hanya menembus langit, tapi juga nasib sebuah konsesi bernilai miliaran dolar.
Tangga lipat dinaikkan, pintu ditutup rapat, dan deru mesin perlahan menyapu keheningan. Saya duduk di kursi kulit berlapis kayu maple, meja kerja mungil terbuka dengan tumpukan dokumen yang terasa lebih berat daripada isi kabin. Di hadapan saya, layar digital menampilkan rute singkat: Jakarta–Singapura, hanya dua jam. Namun dua jam ini bisa menentukan arah sebuah negara kecil di peta, dan arus besar modal global yang menungganginya.
Saya membuka map berlogo Yuan Holding. Lembar-lembar tebal tersusun: perintah penghentian pembangunan smelter, laporan gugatan aktivis, analisa geostrategis dari tim London—peta aktor politik, oligarki tambang, hingga pergerakan NGO internasional. Di antara semua itu, memo intelijen politik terasa paling menusuk: tarik-menarik di lingkaran kekuasaan Presiden, wacana perpanjangan masa jabatan tiga tahun, dan pemilu yang mungkin ditunda hingga 2025.
Saya menatap memo itu lama, seolah huruf-hurufnya berdenyut. Political risk selalu lebih tajam dari market risk, batin saya, lirih. Wenny duduk di seberang, blazer biru dongker melekat sempurna, laptop terbuka dengan cahaya yang memantul ke wajahnya. Rautnya tegas, tapi mata tetap menyimpan waspada.
Ia menghela napas sebelum bicara. “Ada upaya dari lingkaran Presiden untuk memperpanjang tiga tahun. Dalihnya: pemulihan pasca-COVID. Tapi oposisi keras menolak. “
Saya telp dan berbicara sebentar dan setelah itu menatap Wenny “Saya akan usahakan pemilu tetap berlanjut. Kekuasaan presiden harus diganti. “ kata saya dengan tatapan tajam. “ Bahkan Tadi saya barusan bicara dengan whitehouse. Mereka akan pressure secara politik. Amerika sudah muak dengan gaya Populisme. Memang duri peradaban populisme itu. Ia menari dengan retorika moral, namun tetap tunduk di altar transaksi. “ Saya menyesap kopi hitam dari cangkir porselen, pahitnya menyisakan gema.
“Kalau pemilu tetap berjalan, siapa yang paling masuk akal untuk kita dukung?”
“Nanti saya akan bicarakan dengan Felix dan Dimon di SIngapre. Mereka juga punya kepentingan. Karena investasi mereka besar di sana. Dan juga sudah muak dengan presiden yang berkuasa sekarang.
Wenny menatap saya seperti dengan penuh tanda tanya. Dia mengangguk pelan. “ Oligarki domestik dalam negara dengan CPI rendah, utang tinggi, dan kurs labil bukan sekadar aktor ekonomi, melainkan proxy politik bagi hedge fund global. Mereka memastikan agenda finansial global tetap aman, bahkan jika harus mengganti rezim. Dalam lanskap seperti itu, demokrasi kehilangan substansinya: suara rakyat hanya tirai, sementara panggung sebenarnya ditentukan oleh modal yang keluar-masuk.” Katanya.
“Di negeri dengan hutang yang rapuh, presiden tidak dipilih di bilik suara, melainkan di layar Bloomberg.” Kata saya tersenyum.
***
Di negara dengan indeks korupsi rendah, beban utang tinggi, dan kurs labil, oligarki domestik berperan sebagai proxy bagi agenda hedge fund dan pemodal global. Namun, dampaknya bukan hanya ekonomi, melainkan juga politik. Pergantian rezim di negara-negara semacam ini sering kali “ditentukan” lebih dulu oleh arah modal global, bukan oleh kotak suara.
Seperti dikemukakan Hellman, Jones & Kaufmann dalam konsep state capture, ketika institusi rapuh, pengaruh finansial tidak hanya membentuk aturan ekonomi, tetapi juga menyeleksi siapa yang duduk di kursi kekuasaan. Investor global menggunakan oligarki domestik sebagai jembatan: memodali kampanye, menguasai media, menekan pembuat regulasi, hingga mendesain koalisi politik.
Dalam praktiknya, hedge fund dan private equity tidak sekadar mengejar keuntungan portofolio. Mereka membeli obligasi negara, CDS, atau repo dengan kalkulasi politik: siapa presiden berikutnya akan menentukan apakah kontrak mereka dihormati atau dinegosiasi ulang. Rezim yang dianggap “tidak ramah pasar” cenderung disingkirkan melalui kombinasi capital flight, depresiasi kurs, dan delegitimasi politik.
Di negara dengan original sin—yakni ketergantungan pada utang valas—pergantian rezim sering kali berawal dari tekanan kurs. Depresiasi tajam menaikkan rasio utang terhadap PDB, memicu krisis neraca pembayaran, dan membuka ruang intervensi IMF atau kreditor internasional. Dalam kondisi itu, oligarki domestik yang bersekutu dengan investor global mendorong munculnya figur politik yang dianggap “pro-reformasi” namun pada dasarnya pro-pasar.
Contoh kasus: Argentina (2001, 2018–2020): kejatuhan presiden selalu beriringan dengan krisis utang dan tekanan holdout creditors. Mozambique: skandal hidden debt bukan hanya meluluhlantakkan fiskal, tetapi juga merombak lanskap politik domestik. Asia Tenggara 1997–1998: arus keluar modal global memicu kejatuhan rezim yang dianggap gagal menjaga stabilitas, dan membuka jalan bagi pemimpin baru yang lebih diterima pasar.
Dalam negara dengan CPI rendah, oligarki menjadi “tangan domestik” bagi investor global untuk memastikan transisi politik aman bagi kepentingan finansial. Bentuknya antara lain: Capital strike: investor menahan dana, membuat defisit membengkak, kurs anjlok, inflasi naik—tekanan sosial-politik meningkat. Bond vigilantes: pasar obligasi “menghukum” pemerintah dengan menaikkan yield, sehingga ruang fiskal makin sempit. Political engineering: kampanye calon pemimpin “ramah pasar” dibiayai melalui jaringan oligarki domestik, sementara oposisi didelegitimasi sebagai anti-investasi.
Hasil akhirnya: rezim berganti bukan karena rakyat sepenuhnya memilih, tetapi karena investor global telah menentukan siapa yang menjamin kontrak utang, siapa yang mematuhi kesepakatan, dan siapa yang siap tunduk pada siklus modal global.
***
Saya menoleh ke jendela. Awan putih berlapis bergulung di bawah sayap, seperti tirai yang menutupi segala intrik di daratan. Dalam hati saya ingin menyalakan sebatang rokok, tapi aturan kabin melarang. Saya tersenyum getir: bahkan arsitek financial tak bebas untuk sekadar menghisap nikotin. Namun begitulah dunia, kebebasan selalu relatif.
“Wen,” saya akhirnya berkata, “hubungi Victor di Moskow. Suruh dia ke Singapura. Saya butuh dia besok.”
Wenny segera menekan nomor satelit. Lima menit kemudian, ia mengangguk. “Victor sedang di Palma, Spanyol. Ia langsung terbang malam ini.”
Saya menutup map, menyandarkan tubuh, dan memejamkan mata. Di luar, mesin jet berderu, mendorong kami menembus udara. Di dalam, saya tahu: besok, di Singapura, mungkin sebuah sejarah kecil akan ditulis, bukan di ruang rapat formal, tapi di sauna Ritz, tempat kabut uap menyamarkan wajah kapitalisme yang sebenarnya.
***
Jam menunjuk pukul tujuh malam ketika saya melangkah masuk ke Ritz-Carlton, Singapura. Hotel itu berdiri seperti istana modern, lampu kristal berjatuhan dari langit-langit, marmer lobby memantulkan langkah-langkah tamu, dan aroma bunga segar berkelindan dengan udara pendingin yang dingin. Namun janji malam ini bukan di lounge megah yang benderang, melainkan di ruang sauna: sebuah ruangan panas, lembab, sunyi, tempat uap air menjadi selubung bagi percakapan yang tak boleh terdengar dunia luar.
Felix memang sengaja memilih tempat itu. Sauna bukan sekadar ruang relaksasi, melainkan metafora: panas tubuh bercampur panas intrik, pandangan terhalang kabut, sebagaimana politik global selalu bergerak dalam samar.
Begitu pintu kayu terbuka, saya melihat Felix duduk santai hanya dengan selembar handuk putih. Senyum dingin menggantung di bibirnya, wajahnya tenang namun menyimpan bara. Di sebelahnya, Dimon, diam penuh kalkulasi, matanya tajam menimbang.
“B,” sapa Felix, suaranya pelan namun menguasai ruang, “Anda tidak berubah sejak Geneva. Apa kabar?”
Saya duduk di sisinya, uap hangat menyelimuti kulit. “Kabar baik. Dunia tetap gaduh, tapi modal selalu menemukan jalannya.”
Felix menghela napas, menatap kosong ke arah uap yang naik perlahan. Lalu suaranya berubah tajam, seperti senar biola ditarik terlalu kencang.
“B, ingat kata-kata Reagan tahun 1986? Saya dari Pemerintah, dan saya di sini untuk membantu—sembilan kata paling menakutkan. Masa itu, pasar bebas dielu-elukan. Thatcher di London melucuti cengkeraman negara. Kapitalisme merayakan pestanya.”
Ia berdiri, menatap kami dengan sorot mata yang menahan amarah.
“Tapi zaman telah berganti. Free market telah usang. Tahun 2023, dunia memasuki babak baru: Catalyst Government. Negara kembali mengambil alih kendali, menata ekonomi, mengatur inovasi. Pasar hanya pelengkap. Tugas kita? Menguasai presiden terpilih, agar negara bekerja untuk kita.”
Saya terdiam, menyimak irama baru dari orkestra kapitalisme.
Felix melanjutkan, nada suaranya penuh kepastian: “Fokus global kini dua: mempertahankan energi fosil, sekaligus mendorong industrialisasi hilir di negeri-negeri tambang. Biarkan mereka puas dengan lapangan kerja dari smelter, biarkan mereka merasa mendapat nilai tambah. Tapi teknologi dan modal tetap di tangan kita. Nilai akhirnya selalu kembali ke kita, karena mereka tak akan pernah mampu memiliki dua hal itu.”
Dimon menimpali, suaranya datar namun tegas, “B, Petanaha harus kalah di pemilu Amerika Latin. Kita dorong calon pilihan kita. Kamu kendalikan utara lewat proxy, saya tekan basis selatan. Jika dua kutub itu kita genggam, negara itu jatuh ke tangan kita tanpa peluru, tanpa perang.”
Uap sauna semakin pekat. Tubuh kami berkeringat, namun pikiran kian dingin, rasional, kejam. “Besok,” kata Felix, “tim kita duduk bersama. Kita susun detailnya.”
Saya mengangguk. “Baik.”
Tidak ada tanda tangan. Tidak ada tinta. Kesepakatan ditutup hanya dengan keringat, uap, dan tatapan mata. Begitulah bisnis global berjalan: kontrak besar lahir bukan di ruang rapat marmer, melainkan di ruang sederhana seperti sauna hotel.
Ketika saya keluar, udara malam Singapura menampar wajah. Lampu kota berkilauan, orang-orang bercengkerama riang, tak menyadari bahwa di sebuah ruangan panas tadi, arah sebuah bangsa telah diputuskan.
Kapitalisme memang paradoks: kadang ia ditulis dalam laporan setebal ribuan halaman, kadang ia hanya secuil obrolan di ruang berkabut. Namun dampaknya sama: jutaan jiwa akan merasakan hasilnya, tanpa pernah tahu siapa yang menyalakan api pertama.
Saya terdiam, merenungi kata-kata Felix. Kapitalisme tak lagi tentang deregulasi, tak lagi tentang pasar bebas. Ia telah menjelma wajah baru: regulasi yang dikendalikan modal. Free market capitalism sudah usang. Catalyst government adalah masa depan. Oligarki lokal hanyalah pion. Hedge fund global, dalang di balik panggung.
Sauna itu menjadi saksi: keputusan kecil, di ruang berkabut, bisa mengguncang takdir jutaan rakyat yang tak pernah tahu siapa yang mengatur hidup mereka. Saya teringat ucapan seorang filsuf pasar: “Kapitalisme bukan sistem ekonomi. Ia adalah teater. Pemerintah pemeran utama, rakyat penonton, tapi investor yang menulis naskahnya.” Dan malam itu, kami sedang menulis babak baru dari teater itu.
***
Pagi berikutnya, suite Ritz telah berubah menjadi ruang perang yang tenang. Meja dipenuhi dokumen kampanye: peta wilayah pemilu dengan garis-garis merah yang membelah utara dan selatan, laporan survei dengan angka-angka kering yang sesungguhnya bernapas, memo konsultan politik yang baunya seperti tinta segar bercampur darah masa depan.
Ketukan pintu terdengar. Wenny masuk, suaranya singkat “B, Victor sudah tiba dari Palma. Dia langsung terbang semalam, tak tidur.”
Tak lama, sosok itu muncul. Tubuh tegap, setelan hitam sederhana, rambut disisir rapi, wajah dingin tanpa ekspresi. Victor, adala team shadow saya. Dia punya team IT dan jago rekayasa propaganda, terbiasa dengan bayang-bayang rezim otoriter dan demokrasi semu yang hanya indah di layar televisi.
“Selamat datang, Victor,” sapa saya.
“Kampanye di Amerika Latin akan berbeda dengan Moskow,” katanya pelan, seperti membaca kalimat yang sudah dihafalnya ribuan kali. “Tapi prinsipnya tetap: kuasai narasi, kendalikan uang, dan pastikan aparat hanya terlihat netral di permukaan.”
Saya menyerahkan map tebal: daftar nama proxy. Ada tokoh muda karismatik, jenderal pensiunan, pemuka adat yang mudah dibeli. Wajah-wajah yang kelak menjadi topeng demokrasi.
“Gunakan mereka,” kata saya, “jadikan corong. Kita tak perlu tampil. Biarkan mereka yang berbicara tentang perubahan.”
Victor membuka lembar demi lembar, matanya bergerak cepat.
“Skenarionya jelas,” ucapnya datar. “Narasi: Petanaha adalah populis gagal—janji tanpa hasil. Figur alternatif: Kandidat kita, reformis pro-rakyat di depan, tunduk pada modal di belakang. Mobilisasi akar rumput: NGO lingkungan dan adat dipakai melemahkan JB. Pendanaan: hedge fund mengalir lewat yayasan sosial, campaign PAC, perusahaan cangkang.”
Saya tersenyum tipis. “Sebuah color revolution, tapi dengan selimut korporasi.”
Dimon masuk membawa laporan. “B, dua poros sudah dipetakan. Utara: industri, tambang, teknokrat yang kamu kuasai. Selatan: kantong tradisional, mudah digerakkan janji populis, itu wilayah saya.”
Saya menimpali, “Jika keduanya kita genggam, Petanaha kehilangan panggung. Bahkan jika ia curang, modal internasional sudah tak berpihak padanya.”
Felix yang duduk di ujung meja menambahkan, “Pasar obligasi senjata kita. Jika Petanaha melawan, capital outflow bisa menghantamnya. Seminggu saja yield naik, kurs jatuh, inflasi melonjak, pemilih berbalik arah.”
Apa yang dikatakan Felix keliatan sederhana dan mudah. Namun sampai dia berkata begitu karena negara itu sudah melewati proses dilemahkan lewat operasi financial engineering. Financial engineering” bukan sekadar soal derivative atau obligasi. Ia adalah senjata geopolitik: kombinasi utang, kurs, komoditas, dan instrumen legal yang dipakai untuk menekan, mengatur, bahkan menjatuhkan rezim. Bedanya dengan kudeta militer: darah mungkin tak langsung tumpah, tapi harga pangan, PHK, dan inflasi bisa jauh lebih mematikan. Begini tahapannya..
Pertama. Instrumen Utang sebagai Senjata lawat skema Sovereign Bonds & Hidden Debt. Negara didorong menerbitkan obligasi dengan bunga mudah atau tenor pendek (misalnya global bond 5 tahun). Investor global membeli dalam jumlah besar. Begitu rating negara turun atau rumor politik muncul, investor yang sama menjual cepat (dumping), memicu yield spike (bunga melonjak). Akibatnya, biaya utang naik, APBN jebol, dan rezim terpojok. Contoh mekanisme: Crowding-out ratio tinggi → swasta kesulitan akses kredit → ekonomi real stagnan → rezim disalahkan.
Kedua. Currency Attack (Serangan Mata Uang) lewat Carry Trade & Shorting. Hedge fund meminjam USD murah di luar negeri, lalu menjual Rupiah (atau mata uang target lain) secara masif lewat pasar derivatif (NDF – Non Deliverable Forward). Depresiasi kurs terjadi, inflasi impor. Dampaknya pasti, yaitu gejolak harga pangan/energi → protes sosial. Efek Domino. Bank sentral terpaksa menaikkan suku bunga maka sektor riil tercekik dan PHK massal meluas. Tekanan sosial tumbuh,legitimasi rezim runtuh.
Ketiga. Manipulasi Pasar Komoditas atau Food & Energy Weaponization. Hedge fund menguasai kontrak future beras, gandum, CPO, atau minyak. Lalu menciptakan artificial scarcity (pasokan ditahan di pelabuhan, repo financing ditarik, atau kontrak digoreng di bursa). Harga pangan/energi melonjak di dalam negeri. Rakyat marah karena pemerintah dianggap gagal.
Keempat. Structured Default & Litigation Trap. Skema SPV & Off-Balance Sheet. Konsultan global mendorong pemerintah/BUMN menandatangani proyek infrastruktur via SPV offshore (contoh: Cayman, BVI). Kontrak berisi cross default clause dan arbitration London/Singapore.Begitu gagal bayar sedikit saja, kreditor menggugat → aset strategis (bandara, tambang, pelabuhan) disita. Rezim jatuh karena dianggap menjual kedaulatan.
Kelima. Data Sovereignty & Tech Finance. Fintech & Digital Payment Penetration. Global player menguasai sistem pembayaran (dominan e-wallet, cloud server di AS/China). Begitu ingin tekan rezim, payment switch bisa dihambat, cross-border transaction diperlambat. Efeknya: UMKM dan ekonomi informal lumpuh → trust publik runtuh.
Keenam. Orkestrasi Rating Agencies & IMF/WB. Downgrade & Conditionalit. Rating agency menurunkan outlook negara akibatnya investor kabur. Negara terpaksa lari ke IMF/WB, yang dipaksa syarat reformasi (austerity, subsidi dicabut, privatisasi BUMN). Rakyat menjerit, rezim kehilangan dukungan. Contoh sejarah: Argentina (2001), Yunani (2010), Sri Lanka (2022).
Ketujuh. Oligarki Domestik sebagai Proxy. Arsitek finansial global tidak pernah bekerja sendirian. Mereka butuh kaki dalam negeri. Yaitu Oligarki yang menikmati rente (kredit murah, lisensi impor). BUMN kroni yang diberi backdoor guarantee. Politisi yang siap jual data & regulasi. Ketika oligarki ini “di-switch off” oleh sponsor global, rezim kehilangan sokongan finansial domestik.
Kedelapan. Financial Chaos, Political Collapse. Skema di atas menghasilkan triple crisis: Moneter (kurs jatuh, inflasi naik). Fiskal (utang melonjak, APBN bocor). Sosial-politik (harga pangan/energi naik, PHK). Semua diarahkan agar rakyat marah, aparat represi berlebihan, dan rezim kehilangan legitimasi → regime change.
***
Siang itu, konsultan kampanye berdatangan. Dari Washington, London, Buenos Aires. Mereka semua network Victor. Mereka membawa algoritma, simulasi psikografis, desain iklan politik yang menyusup ke layar ponsel tiap pemilih.
“Target sederhana,” ujar salah satunya, “turunkan elektabilitas petanaha di bawah 45%, angkat kandidat kita ke atas 47%. Selisih tipis cukup. Sisanya biar logistik di TPS yang menyelesaikan.”
Victor mengangguk ringan. “Kemenangan tipis lebih elegan. Dunia akan percaya ini demokrasi.”
Saya menatap keluar jendela. Dari ketinggian, Singapura tampak damai: gedung-gedung berkilau, laut selat tenang. Namun di bawahnya, modal global sedang menyiapkan operasi senyap.
Dunia memang teater. Di depan panggung, rakyat mendengar pidato tentang kedaulatan, kesejahteraan, lingkungan. Di belakang panggung, hedge fund menentukan siapa presiden, siapa oposisi, siapa pemenang. Dan saya? Hanya arsitek finansial yang menyiapkan peta, memastikan pion bergerak sesuai naskah.
Sore menutup hari. Rapat kami berakhir.
“Victor, kamu pimpin operasi di lapangan. Tetap di luar sorotan kamera. Semua komunikasi lewat SafeNet. Mia akan mengatur arus dana. Dimon tangani logistik selatan. Felix koordinasi keuangan dengan capital group. Aku hanya turun bila situasi genting.”
Mereka mengangguk. Tak ada protes.
Malam itu, suite kembali sunyi. Angin pendingin ruangan berhembus lembut, namun dalam dada saya, desau lebih berat berputar. Satu negara sedang dipertaruhkan. Dan taruhannya bukan hanya kursi presiden—melainkan seluruh konsesi mineral, smelter, dan rantai hilir bernilai ratusan miliar dolar.
***
Oktober 2022. Di sebuah café wine di Jakarta, televisi menyalakan berita Bloomberg. Tulisan merah berderet di bawah layar, berkilat seperti luka yang baru terbuka: “kandidat kita memenangkan pemilu dengan selisih 1% dari petanaha.”
Saya menatap layar itu tanpa ekspresi, hanya meneguk Bordeaux merah yang meninggalkan jejak getir di lidah. Tadi malam Victor kirim pesan lewat SafeNet. “The mission accomplished “ Di balik headline sederhana itu, saya tahu: sebuah negara baru saja dipindahkan kepemilikannya, bukan kepada rakyatnya, melainkan kepada jaringan modal global.
Keesokan hari, pasar menari cepat. Obligasi negara melonjak, yield jatuh mendadak. Mata uang menguat, arus spekulatif masuk deras. Bursa lokal mencetak rekor baru, seolah kemenangan tipis bisa mengubah nasib jutaan. Namun di balik euforia angka, struktur ekonomi negara itu kini digenggam erat koalisi hedge fund: Capital Group. Nama-nama raksasa itu berdiri di belakang tirai, memegang tali kendali, sementara publik hanya melihat bayangan yang menari.
Di layar televisi, presiden terpilih berdiri di podium, senyum lebar menghiasi wajahnya. Ia bicara tentang perubahan, kesejahteraan, kedaulatan. Namun saya tahu, setiap kalimatnya telah dikurasi tim konsultan kami. Untuk rakyat, ia menjanjikan lapangan kerja dari smelter. Untuk dunia, ia berbicara tentang komitmen lingkungan.
Sumber daya alam—emas, tembaga, nikel, aluminium—dijadikan jaminan pinjaman baru. Smelter Yuan dibangun dengan kebijakan fiscal dipaksa membuka ruang insentif pajak dan tax holiday. Regulasi lingkungan berbasis ESG.
Praktis, negara itu kini hanyalah Special Purpose Vehicle (SPV)—legal di atas hukum, tapi dikendalikan penuh oleh hedge fund. Di balik panggung global, rakyat hanya melihat janji. Masyarakat adat yang dahulu menolak tambang kini dilumpuhkan dengan kompensasi kecil, sementara hutan Amazon terus teriris, daun demi daun, batang demi batang.
Di pasar rakyat, harga pangan tetap tinggi. Upah buruh nyaris tak berubah. Bagi mereka, perubahan hanyalah slogan di layar kaca—gema kosong dari podium jauh.
Seperti biasa, kapitalisme bekerja dengan pola yang sama: janji manis di depan, beban berat di belakang. Saya meletakkan gelas wine di meja. Di benak saya, satu kalimat berulang: “Negara ini sudah dibeli.” Bukan lewat kudeta militer. Bukan lewat intervensi asing terang-terangan. Tapi lewat modal, leverage, dan proxy politik. Inilah wajah baru imperialisme: tidak lagi dengan senjata, melainkan dengan obligasi, ETF, dan konsesi downstream.

Tinggalkan Balasan ke MKGinting Batalkan balasan