Ikhlas…

Sore itu Jakarta gerimis. Saya dan David duduk di Burgundy Café Grand Hyatt, kaca jendela berembun, lampu-lampu kota mulai menyala. Aroma kopi hitam pekat bercampur suara hujan yang menetes di kanopi.

 “Ale, terima kasih sudah mau mampir ke Pabrik gua kemarin. Kamu bisa lihat sendiri, pabrik gua seperti kehilangan nyawanya.”

“Kenapa sampai segitu parah, David?”

Ia menarik napas panjang. “Gas. Itu sumber masalahnya. Pasokan gas yang dijanjikan pemerintah dengan harga HGBT dibatasi. Tadinya kami butuh 100%, tapi yang datang cuma 70%. Kalau mau tambah, harus bayar mahal, dua kali lipat dari harga biasa.”

Saya mengernyit. “Tapi bukannya Indonesia masih produksi gas 5 miliar kaki kubik per hari?”

David tertawa pahit. “Produksi memang ada. Tapi entah kenapa, gas lebih gampang mengalir ke kapal ekspor daripada ke pabrik dalam negeri. Katanya demi devisa, padahal apa artinya devisa kalau ratusan ribu pekerja kehilangan pekerjaan?” Saya bisa merasakan kecemasan karyawan waktu kemarin ke pabriknya : sebentar lagi gaji terancam tak turun, dan PHK bisa jadi kenyataan.

“Ale,” kata David lirih, “saya baru saja merumahkan 450 orang. Mereka itu bukan sekadar angka. Mereka punya keluarga, punya anak yang sekolah. Bayangkan, gara-gara gas, mereka kehilangan mata pencaharian.”

Saya menatapnya serius. “Inilah masalah tata niaga migas kita, Vid.  Seharusnya jadi energi untuk membesarkan industri, bukan jadi komoditas rente. Ada yang lebih senang jual keluar negeri, karena harganya lebih tinggi. Sementara industri di dalam negeri dibiarkan kelaparan.”

David mengangguk pelan. “Kalau terus begini, pabrik seperti saya bisa tutup. Saya pindah aja ke Vietnam atau Thailand. Di sana gas lebih murah, lebih pasti. Sementara di sini, kita hanya jadi korban kebijakan yang berantakan.”

Saya menepuk bahunya. “David, yang kamu alami adalah cermin lebih besar dari negeri ini. Kita bukan kekurangan gas. Kita kekurangan tata kelola. Dan kalau itu tidak dibenahi, maka yang hilang bukan hanya ribuan pekerjaan, tapi juga masa depan industrialisasi bangsa.”

David menatap kosong. “ Ale, kalau saja gas itu bisa bicara, mungkin ia akan berkata: aku ada, tapi sengaja tidak dikirim untukmu. Karena ada orang-orang yang lebih sibuk menghitung rente daripada memikirkan masa depan negeri ini.”

Saya terdiam. Sore itu, pabrik keramik David menjadi saksi: gas memang melimpah, tapi industri tetap kelaparan.

***

Tak berselang lama, Aling  datang. David segera undur diri. Saya perhatikan. Sapaan David kepada Aling serba canggung. Maklum  20 tahun lalu mereka pasangan suami istri dan akhirnya memilihn bercerai. Sebelum menikah dengan David, Aling pacar saya. David yang kudeta Aling dari saya. Tetapi saya ikhlas. Tidak pernah mempermasalahkan. Sampai kini mereka tetap sahabat saya dan kami baik baik saja.

Aling duduk di hadapan saya dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. “ Ceritakan tentang George Soros.”

George Soros lahir di Budapest  pada 12 agustus 1930 namun perang dunia kedua, keluarganya hijrah ke AS. Dia lahir dari keluarga Yahudi. Banyak pihak mengutuk George Soros sebagai penyebab krisis moneter di Asia.  Banyak juga yang anggap dia sebagai genius pasar uang dan dikenal pemain hedge fund legendaris. Menurut saya apa yang dilakukan oleh Soros bukanlah hal yang terlalu fenomenal. Dia hanya berbeda sudut pandang dengan orang lain, terutama terhadap harga yang dibentuk oleh pasar. Misal, orang anggap pasar selalu benar. Bagi Soros, pasar selalu salah. Dalam hal ini dia ada benarnya walau tidak selalu benar.

Tahun 1990an ekonomi Thailand tumbuh diatas 10%. Menjadi keajaiban Asia.  Sama seperti Indonesia yang dikenal dengan istilah macan asia. Pasar uang bergairah dan banjirnya modal masuk. Mata uang menguat. Namun dibalik pujian pasar itu, Soros bersikap lain. Menurutnya pasar telah tertipu. Setiap pertumbuhan diatas wajar, pasti ada masalah. Setidaknya moral hazard. Di balik confident market, data ekonomi Thailand berkata lain. Pertumbuhan itu dibiayai dari utang luar negeri. Pabrik berdiri dengan ketergantung supply chain impor. Itu growth diatas istana pasir.

Makanya saat Soros masuk ke pasar dengan niat mempecundangi Baht, itu dianggap oleh sebagian besar orang dia berjudi. Padahal itu hanya perbedaan sudut pandang aja. Dengan kendaraan Quantum Fund, dia fundraising. Menjual product hedge fund kepada investor dan lembaga keuangan. Dari uang yang terkumpul itu dia leverage lewat kontrak berjangka ( future trading) dan opsi.  Operasi keuangan itu memang dibenarkan dalam system keuangan dunia. 

Contoh, dia pasang posisi baht dalam future trading. Katakanlah pada kurs USD 1 sama dengan 25 baht Thailand di bulan juni 1997. Kemudian dia banjiri pasokan baht di market. Itu memungkinkan. Karena dia masuk lewat leverage. Misal untuk transaksi USD 100 juta, dia hanya bayar premium opsi 0,08%. Bayangin aja kalau dana hedge fund nya ada USD 10 miliar. Itu raksasa sekali volume transaksinya. 

Ya wajar kalau karena itu mendorong supply baht meningkat significant terhadap permintaan mata uang USD.  Ya hukum demand and supply. Bisa ditebak endingnya. Kalau pasokan tinggi, harga jatuh. Nah disaat kurs baht jatuh ke 50/USD pada januari 1998, product hedge fund nya untung  dua kali lipat. Apalagi karena itu Bank central lakukan devaluasi mata uang.

Apa yang terjadi pada Thailand tahun 1998, juga sama dengan yang terjadi pada Malaysia ringgit, Korea Won, Indonesia IDR.  Kalau sudah terjadi, keliatannya sederhana. Tetapi sebelum itu terjadi, semua mengatakan tindakan Soros spekulatif. Apalagi IMF dan World bank memuji ekonomi Thailand dan Indonesia yang lentur dan resilience terhadap goncangan eksternal. 

Dan kalau akhirnya Soros untung miliaran USD, itu karena lawan tradingnya banyak, yang semuanya berlawanan arah dengan Soros. Sebenarnya langkah Soros itu sebelumnya sudah dia lakukan pada inggris tahun 1992. Apa yang dikenal dengan Black Wednesday. Crash money market pond. Dia memanfaatkan kerentanan Poundsterling secara fundamental. Tapi orang banyak tidak pernah belajar dari sejarah. Memang pasar itu seperti sihir. Mudah mengecoh orang yang irrasional. Tetapi tidak bagi pemain hedge fund.

Tetapi berbeda dengan Hong Kong, yang juga diserang oleh Soros tahun 1997. Awalnya Hong kong sempat kewalahan. Karena cadev nya hampir habis menghadapi serangan Soros. Sementara Soros sudah untung banyak. Tetapi akhirnya Beijing masuk lewat pasar Hangseng melindungi Hong Kong. Dengan kekuatan candangan devisa China, justru Soros harus perintahkan team nya untuk retreat dari Hong Kong. Sementara setelah itu Hong Kong semakin tinggi trust nya di pasar uang dunia. 

“Ale,” katanya sambil merapikan blazer. “Saya bertemu seseorang. Dia menyebut kamu ghost trader. Orang yang berperan membuka jalan stabilitas kurs Asia Tenggara setelah dihantam George Soros. Akibatnya, hedge fund besar macam LTCM pun tumbang.”

Aku diam saja. Ya, Soros membuktikan bahwa pasar bisa menggulingkan negara. LTCM membuktikan bahwa pasar bisa mempermalukan para jenius. Keduanya terjadi hanya dalam rentang setahun, menandai akhir 1990-an sebagai era ketika kapitalisme finansial lebih perkasa daripada regulasi negara.

“Saya ingin tahu… apa sebenarnya yang kamu lakukan?”

Saya tetap diam. Namun Aling mendesak. “Ceritakanlah. Toh ini sudah lama lewat, sudah expired. Saya hanya ingin belajar.”

Saya tersenyum tipis, memutar cangkir kopi. “Baiklah. Anggap ini kelas singkat tentang dunia trading. Tapi jangan kaget, Aling. Di balik angka-angka, ada kisah tentang kesombongan, disiplin, dan waktu.”

Saya mengambil pena dan serbet kertas, lalu menggambar dua garis yang melebar lalu perlahan mendekat.

“Kenal LTCM? Long Term Capital Management. Hedge fund paling terkenal akhir 90-an. Isinya profesor Nobel, pakar matematika. Strateginya disebut arbitrase konvergensi. Mereka membeli obligasi yang undervalued, lalu short obligasi yang overpriced. Harapannya, harga dua instrumen itu akan kembali bertemu.”

Aling menatap coretan itu. “Jadi semacam taruhan bahwa pasar akan normal kembali?”

“Ya. Masalahnya, spread yang mereka incar hanya beberapa basis poin. Untuk membuatnya berarti, mereka gunakan leverage gila-gilaan: 25 banding 1, bahkan sampai 250 banding 1. Dengan modal USD 4,7 miliar, mereka kendalikan portofolio USD 1,25 triliun.”

Saya menatap serius. “Agustus 1998, Rusia default. Investor panik. Semua lari ke US Treasury, disebut flight to liquidity. Spread bukannya menyempit, malah melebar. Setiap basis poin pelebaran membuat LTCM rugi miliaran dolar. Dalam hitungan minggu, ekuitas mereka ambruk tinggal USD 400 juta.”

Aling terperangah. “Jadi mereka bukan mati karena salah hitung, tapi karena ukuran posisi terlalu besar?”

“Betul. Mereka percaya model. Tapi pasar punya cara sendiri mempermalukan kesombongan.” Saya mencondongkan tubuh, berbisik lebih pelan. “ Saya berbeda. Saya tidak menunggu konvergensi. Saya justru menunggangi divergensi.”

“Maksudmu?”

“ Saya menutup semua posisi berisiko lebih cepat. Lalu berbalik: short obligasi emerging market, long US Treasury. Dengan modal hanya USD 150 juta, leverage 20x, saya  kendalikan posisi USD 3000 juta. Saat panic selling, yield Treasury turun, harga naik. Emerging bonds hancur. Dari situ profit mengalir deras.”

Saya menatapnya dalam. “Perbedaannya sederhana, Aling. LTCM menunggu konvergensi yang tak kunjung datang. Saya menunggangi divergensi yang nyata di depan mata.”

Ia menghela napas, lalu tersenyum samar. “Jadi yang menyelamatkanmu bukan rumus, melainkan disiplin. Kamu tahu kapan harus menutup posisi.”

“Tepat. Dalam trading, bukan yang paling pintar yang bertahan, melainkan yang paling cepat mengakui kesalahan.”

Aling masih penasaran. “Tapi saya dengar kamu sempat dikejar petugas Simex?”

Saya tertawa kecil. “Ya. Simex kan bursa derivatif Singapura. Semua posisi futures harus clearing lewat sana. Saat pasar chaos, margin call melonjak. Kalau ada trader untung besar di tengah kerugian massal, mereka curiga. Mereka khawatir saya  melakukan market abuse.”

Aling membelalakkan mata. “Lalu?”

“Ya. Begitu saya  melewati imigrasi, yurisdiksi mereka habis. Saya hapus semua file settlement Clearstream dan DTC. Dana sudah kuparkir di Cayman. Di mata mereka, saya hanya ghost trader, hantu yang untung besar lalu lenyap.”

Aling tertawa, meski ada nada khawatir. “Hantu yang menakutkan bagi sistem, ya?”

Saya menatap ke luar jendela, melihat lampu mobil berpendar di jalan basah. “Hantu bagi mereka, tapi penyelamat kurs. LTCM di-bailout The Fed, pasar kembali jinak, dan investor lagi-lagi berburu yield di emerging markets. Harga minyak serta komoditas mulai pulih. Rupiah pun menata kembali kepercayaan, dari Rp 17.000 per dolar, berangsur ke Rp 6.000.”

Saya meletakkan pena, menatap Aling dengan serius. “Kuncinya, Aling: leverage itu pedang bermata dua. LTCM memakainya untuk mengejar kepastian model. Aku memakainya untuk menunggangi ketidakpastian pasar. Yang membunuh mereka bukan kesalahan analisis, melainkan kesombongan. Yang menyelamatkanku: disiplin dan timing.”

Aling menunduk, merenung. Lalu ia berbisik lirih, “Jadi dunia trading bukan soal siapa yang paling jenius, tapi siapa yang tahu kapan harus berhenti.”

Saya mengangguk. “Tepat sekali. Pasar selalu benar. Yang salah adalah kita yang keras kepala. Dan dalam krisis, berhenti lebih cepat sering jadi satu-satunya cara bertahan hidup.”

Sore makin larut. Hujan mereda, menyisakan aroma tanah basah. Aling menatapku lama, seakan ingin merekam setiap kata. Saya hanya menatap cangkir kopi yang kosong, lalu berbisik dalam hati: “Konvergensi memang selalu datang. Tapi sering kali, sebelum itu tiba, modalmu sudah habis.”

Usai di café kami pulang. Aling mengantarku. Dalam perjalanan ia berkata, “Aku ingat di tahun 99… pulang dari Singapura kamu meneleponku. Katamu, uangmu di kantong hanya Rp 100.”

“Dan besoknya kamu transfer ke rekening saya  USD 10.000. Dengan uang itulah saya memulai hidup baru dan bangkit” kata saya dengan nada getir. “ Padahal saya bisa ambil semua hasil trading itu untuk memperkaya diri, tapi saya memilih tidak..”

Aling menyentuh tangan saya. “Terima kasih sudah melibatkan aku dalam cinta pada negeri ini. Dalam ikhlas tak bertepi” ujarnya pelan.

Saya termenung.

Di malam sunyi, saya sering bertafakur merenungi makna keikhlasan. Dalam tradisi Islam, ikhlas bukan sekadar berbuat tanpa pamrih, tetapi melepaskan hati dari segala keterikatan selain kepada Allah. Al-Ghazali menyebutnya tathhîr al-niyyah—penyucian niat: amal yang dipersembahkan bukan demi pujian manusia, bukan pula karena takut celaan, melainkan hanya berharap ridha Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan niatnya.” (HR. Bukhari-Muslim). Hadis ini menjadi fondasi filsafat ikhlas: yang menilai bukanlah besarnya amal di mata manusia, melainkan kejernihan niat di hadapan Allah.

Dalam pandangan filsafat Islam, keikhlasan adalah bentuk taharrur—pembebasan. Orang yang ikhlas terbebas dari belenggu kebutuhan akan pengakuan. Ia tidak menjadikan manusia sebagai hakim tertinggi, melainkan Allah sebagai satu-satunya tujuan. Ia tahu, kebaikan itu bisa jadi tidak langsung ia rasakan, bahkan mungkin harus ia bayar dengan pengorbanan pribadi.

Namun, justru di situlah letak keindahan ikhlas: ia menanam tenaganya di ladang yang mungkin tak sempat ia panen. Ia yakin, hasil panen itu akan menjadi rezeki banyak orang. Dan Allah yang Maha Adil akan mencatat setiap tetes keringat, meski manusia tidak pernah menoleh.

Jika Islam memberi dimensi transendental, sains modern memberi dimensi biologis dan sosial. Neurosains menemukan bahwa ketika manusia berbuat altruistic, menolong tanpa pamrih, otak melepaskan hormon oxytocin dan endorphin, yang menghadirkan damai dan kebahagiaan batin. Altruisme bukan kelemahan, melainkan strategi bertahan hidup yang diwariskan oleh evolusi: komunitas yang anggotanya rela berkorban demi orang banyak akan lebih kuat bertahan dibandingkan komunitas yang hanya mementingkan diri sendiri.

Dengan kata lain, ikhlas berkorban adalah hukum semesta: ia dibenarkan wahyu, sekaligus diakui sains. Alam semesta sendiri tunduk pada hukum pengorbanan. Matahari terbakar demi memberi cahaya, air menguap demi hujan, atom melepaskan energi demi kehidupan.

Ketika pemimpin yang amanah memerintahkan sesuatu demi kemaslahatan umat, seorang mukmin ikhlas menjalankan. Ia tidak menimbang dengan neraca pribadi, melainkan dengan neraca maslahat. Ia sadar: dalam sejarah Islam, para sahabat Rasul rela berkorban jiwa dan harta bukan demi pujian manusia, tetapi demi ridha Allah dan tegaknya masyarakat yang adil.

Keikhlasan adalah seni menghilangkan “aku” dari amal. Yang tersisa hanyalah lillahi ta’ala. Ia laksana cahaya yang menerangi, tak peduli apakah orang berterima kasih atau justru melupakannya. Karena ia yakin, Allah tidak pernah lalai mencatat.

Saya menatap aling dari samping , lalu berkata lirih “Cinta yang ikhlas adalah doa tanpa suara; hadir tanpa syarat, bertahan tanpa pamrih, dan pulang hanya kepada Allah. Bukankah begitu, Aling?”


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

2 tanggapan untuk “Ikhlas…”

  1. renungan pagi…

    Suka

  2. Nasihat hari ini menyentuh sekali.Setiap hari saya masih belajar trading,technical basic,trading plan newbie, dll…. kuncinya seperti kata Babo diatas, TIMING & DISPLIN… Tahun 2015 saat awal trading sdh untung saya yakin pasar akan bullish terus ehh malah boncos.Sekarang ketika harga sdh naik 1.5% saya TP dan analisa lg saham lain… Berkat disiplin dan terus belajar saya tidak pernah CUT LOSS

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Suryadi Kasma Batalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca