Oligarki yang gelisah.

Tahun 2022. Pesan dari Wenny datang dini hari melalui SafeNet: “Izin konsesi tambang iron di Amerika Latin bermasalah. Ternyata palsu.” Kalimat itu pendek, tapi terasa seperti alarm kebangkrutan. Dalam bisnis shadow finance, satu kata palsu bisa berarti miliaran dolar hilang. Saya segera membalas: I’ll be in Bangkok today. Let’s catch up there.”

Dari Jakarta. Pagi pagi saya terbang dengan pesawat komersial ke Bangkok. Saat saya datang, Wenny turun dari jet pribadi. Nya. Kami bertemu di bandara, wajahnya pucat, suara nyaris pecah.

“Arturio tipu kita. Konsesi itu sudah dijual ke China.”

Saya menatapnya tajam. “Kenapa seceroboh ini ? Kita kan punya  standar legal due diligence, audit kepatuhan, konfirmasi pejabat tinggi, semuanya harus clean and clear .”

Wenny menunduk. “Semuanya sudah dibeli Arturio. Hakim, pejabat, bahkan regulator. Di pengadilan, kontrak kita dianggap tidak sah. Bukti korespondensi legal kita tak ada artinya. China menuntut, dan kita kalah.”

Saya terdiam. Di balik setiap kata, saya membaca sesuatu yang lebih dalam: kerapuhan institusi negara. Hukum hanya dekorasi; di baliknya, oligarki mengatur segalanya.

Saya akhirnya berkata pelan, “Wen, jika kabar ini tersebar, reputasi saya habis. Dan saya tidak mungkin berperang dengan pejabat negara. Target kita hanya satu: Arturio. “

Sekarang Wenny benar benar takut. Dia mau berlutut depan saya.Tetapi saya cepat rentangkan tangan saya. Dia langsung peluk saya.“ Kamu tidak perlu merasa terbebani atas masalah ini. Toh gimanapun setiap keputusan bisnis atas restu saya. Artinya saya yang bertanggung jawab. Biar saya selesaikan masalah. Kamu pulang ke Hong Kong. Kerja seperti biasa. Private jet saya mau pakai untuk selesaikan kasus ini.” kata saya.

***

Begitu Wenny pergi, saya lsegera hubungi Viktor di Moscow lewat SafeNet “ Cari tahu tentang Arturio. “ kata saya seraya mengirimkan file profile Arturio.  “Siap B” Jawab Viktor cepat.

Saya tinggal di Hotel Mandarin Bangkok.  Sebelum pergi Wenny sempatkan belanja suite dress 3 stel untuk saya. Karena saya datang ke bangkok tidak bawa tas pakaian. Dalam satu jam saya dapat inbox via safeNet dari Viktor. Data tentang Arturio saya dapatkan. Saya pelajari di kamar hotel. Setelah baca, saya termenung. Memikirkan strategi untuk menjebak Arturio dan kemudian membuat rencana dalam kepala saya. 

Saya tahu, semua broker politik dan makelar kasus, punya koneksi dengan trader pasar uang. Itu cara mereka menyamarkan uang korupsi dan komisi haram. Yaitu melalui instrument pasar uang global. Arturio punya koneksi dengan trader di Dubai. Code terminalnya 009.

Dubai menjadi hub ideal bagi trader seperti Code 009 karena regulasi longgar dengan reputasi surga pencucian uang. Setelah Swiss dan London semakin ketat, Dubai menyediakan ruang abu-abu. Bank-bank di sana terbiasa menerima dana dari hidden fund, termasuk trust account politisi Amerika Latin, Rusia, dan Afrika. Trader seperti Code 009 bergerak di ruang ini karena bisa mengonversi instrumen keuangan SBLC, MTN, bond menjadi cash lintas negara dengan cepat.

Saya harus pancing code 009 masuk perangkap. Bond-backed SBLC dengan diskon 60% adalah honey trap. Bagi trader, membeli dengan harga USD 500 juta, lalu langsung repo atau discounting ke hidden fund dengan harga mendekati 100%, berarti 40% gain sekali putaran. Return ini sangat besar dibanding instrumen pasar reguler yang hanya memberi margin 5–10%.

Saya tahu, lewat deal tersebut, 009 bisa mengakses dana besar yang ditempatkan Arturio di hidden fund. Artinya, ia tidak hanya membeli instrumen, tapi juga memegang kunci likuiditasoligarki. Inilah bisnis bagi gatekeeper uang haram bernilai puluhan miliar dolar.

Tak terasa sudah jam 2 pagi saya masih sibuk dengan terminal komputer saya.  Akhirnya jam 3 pagi, offering saya di ask oleh  trader Code 009 dari Dubai. “ Kami siap lakukan pembelian kredit lewat SWAP. “ Katanya. Itu artinya penawaran saya atas bond backed SBLC senilai USD 500 juta dia setujui dengan harga diskon 60%. Dengan kata lain, Code 009 terpancing oleh greed: return abnormal, jalur legal semu, dan peluang mendapakan laba besar.

“ Kapan anda ke Dubai? tanyanya. Memang SWAP transaksi dilakukan lewat OTC yang mengharuskan walk in ke bank pembeli dan pada waktu bersamaan di depan pejabat bank saya harus perintahkan bank custody untuk pre confirmation atas offersheet bond backed SBLC itu.


” Pagi waktu Bangkok saya terbang ke Dubai. Malam kita bertemu di Cafe Isan, Menara Danau Jumeirah, Cluster B. “ kata saya.

“ OK.” 

Tadi sebelum sholat isya, saya hubungi Vitor di Moscow dan Tom di NY. Saya briefing mereka atas rencana saya. Mereka pahami dengan baik dan siap bergerak sesuai rencana.

***

Saya tahu semua rantai, dari Arturio, hidden fund, hingga trader. Code 009 trader hanya tahu satu sisi, yaitu profit cepat. Bagi dia: ini kesempatan emas. Bagi saya: ini jebakan reputasi. Dalam istilah akademis, ini contoh permainan strategi dengan information asymmetry: saya tahu lebih banyak, sehingga bisa mendesain game yang

Di dunia shadow finance, umpan bukan instrumen itu sendiri, tetapi narasi dan kredibilitas.  Saya tawarkan bond-backed SBLC yang jelas berasal dari first class bank. Dengan rating AAA dan didukung custody account di New York, instrumen ini terlihat bersih. Ini membuat trader yakin bahwa transaksi bisa ditutup dengan mekanisme DVP standar. Diskon besar memberi ilusi windfall profit. Trader seperti Code 009 terbiasa dengan margin tinggi di Dubai, tetapi jarang ada yang seagresif ini. Semakin besar diskon, semakin ia merasa ini sekali seumur hidup.

Saya sengaja mendorong settlement menggunakan mekanisme T+3. Artinya, ia harus segera mengunci deal, meskipun likuiditasnya belum cair dari Arturio. Inilah pancingannya: ia terpaksa masuk lebih dulu dengan janji dana datang, karena takut kehilangan instrumen yang terlihat sangat murah. Begitu offersheet pre-confirmed oleh custody bank saya, transaksi sudah terkunci di sisi saya. Sementara ia harus menunggu transfer dari Arturio yang saya tahu tidak akan pernah lolos. Karena tim Viktor dan Tom sudah menutup jalur cross-border itu.

Setelah terkunci, saya hanya menunggu. Setiap jam keterlambatan membuatnya kehilangan reputasi. Trader seperti Code 009 tahu bahwa gagal settle berarti mati sosial di komunitas OTC. Ketakutannya itulah yang saya manfaatkan.

***

Keesokan paginya saya terbang ke Dubai dengan private jet. Saat masuk pesawat, saya disambut pramugari. Di dadanya tersemat bet dengan logo Yuan. Ini privat jet jenis Bombardier 605. Memang di design untuk long flight diatas 9 jam. Setelah pesawat mencapai balancing di ketinggian settle saya terkejut.

Ada wanita dari cockpit keluar mendekati saya dengan senyum. Eh kenapa ada cewek indonesia di pesawat itu. Wajahnya seperti orang jawa pada umumnya. Kulitnya sawo mateng. Rambut pendek. Fostur tubuh sedang. Cantik memang.  “ Saya, Serina ditugaskan bu Weni untuk antar anda kemanapun anda mau terbang. “ katanya dalam bahasa inggris seraya menyalami saya. Saya senyum aja. 

“ Kamu udah lama jadi pilot Yuan? 


”Baru tahun ini. “


” Sebelumnya dimana ?


”Pilot privat jet SIDC di NY untuk Pak Tom dan  Ibu Aashna di London.” Katanya.


” Oh gitu.” 


” Akhirnya saya bisa ketemu dengan misterius man. “ katanya tersenyum. ‘ Ternyata memang sangat humble.” Lanjutnya.

” Oh ya kamu orang Indoensia” Kata saya dalam bahasa indonesia.


” Say again, sir “ katanya. Oh artinya bukan orang Indoensia. “ Darimana asal kamu? tanya saya dalam bahasa inggris lagi.

“ Suriname. Tetapi saya besar di Rotterdam, Belanda” katanya.

“ Udah berkeluarga? 

“ Belum.”Katanya. 

“ Gimana suka kerja di Yuan?

“ Suka sekali.”

Saya perhatikan dia pegang bungkusan. ” Ini underwear pesanan ibu Wenny.” Katanya menyerahkan bungkusan. “ Kemarin saya berusaha cari merek celana dalam yang diminta ibu Wenny. Ternyata ada di Siam Paragon Bangkok. “ Lanjutnya. Duh saya jadi malu. Padahal saya hanya minta Wenny belikan suite dress karena saya tidak bawa pakaian dari rumah. Ketahuan merek sempak saya. Ah biarin sajalah. Mending tidur aja.

***

Malam itu, kafe kecil di tepi Danau Jumeirah dipenuhi cahaya neon biru. Aroma kopi Arab bercampur parfum asing. Saya tiba lebih dulu, duduk di sudut ruangan dengan punggung menghadap kaca. Code 009 muncul, mengenakan jas linen abu-abu, wajahnya penuh percaya diri. Matanya menilai saya, cepat dan kalkulatif, seperti mata serigala yang mencium darah segar.

Saya sebutkan kode saya. Ia mengetik cepat di terminal kecilnya, verifikasi. Senyumnya tipis, puas.

“Apakah Instrumen Anda valid,” katanya.

“Settlement T+3. Delivery versus Payment,” jawab saya tenang menghapus keraguannya.

Ia mengangguk. “Besok kita ke bank. Proses akan cepat.”

Saya tersenyum samar. Ia tidak tahu, permainan sesungguhnya bukan di bank besok, melainkan dalam tiga hari ke depan. Hanya 45menit pertemuan usai. Saya kembali ke Atlantis The Palm hotel.  Saya tidur nyenyak karena besok akan jadi waktu yang panjang. 

***

Keesokan harinya, kami memasuki kantor pusat sebuah bank swasta di Dubai International Financial Centre. Suasana steril, sunyi, dinding kaca memantulkan bayangan kami. Pejabat bank hanya bicara seperlunya. “Pre-confirmation offersheet.” Pintanya. Saya kirim melalui terminal aman, custody bank di New York merespons dalam hitungan detik.

Pejabat itu mengangguk. “Rekening custody Anda telah  terkunci.”. Kemudian saya lakukan verifikasi rekening 009 leat akses terminal bank dan put  term settlement  DVG ( Delivery versus Payment) T+3. Proses selesai dalam waktu kurang dari lima belas menit. Tidak ada basa-basi. Tapi saya tahu, di balik wajah tenang Code 009, ada badai yang sedang menunggu.

***

Hari pertama dari T+3. Saya duduk di balkon kamar hotel Atlantis The Palm, menatap teluk buatan yang berkilau. Di layar terminal, grafik dana menunjukkan satu hal: likuiditas belum masuk. Dana dari Arturio seharusnya sudah dalam proses. Tapi rekening nya yang saya verifikasi sudah ditangan Victor.

Sore. Dubai masih menyala dengan kilauan emasnya. Tapi di balik cahaya itu, saya tahu ada badai yang sedang pecah ribuan kilometer jauhnya, di ibukota Amerika Latin tempat konsesi tambang itu diterbitkan. Viktor dari Moskow mengirim pesan singkat via SafeNet: “Funds frozen. Oligarchs restless. Panic spreading.”

Saya tersenyum. USD 25 miliar dana titipan para pejabat sudah terkunci. Dan saat uang berhenti mengalir, politik berubah menjadi kanibalisme. Saya tersenyum, menutup laptop, dan menikmati angin malam.

Hari kedua. Pesan masuk dari Code 009: “Sedikit delay. Clients saya dalam proses transfer lintas benua. Tidak masalah, besok settle.” Saya tidak membalas. Diam adalah bagian dari strategi.

Hari ketiga. Pukul 10 malam, pintu kamar saya diketuk keras. Code 009 berdiri di depan, wajahnya pucat, keringat membasahi kerah kemeja. “Saya gagal DVP. Clients saya tidak bisa cross-border.” Suaranya pecah, hampir berbisik.

Saya duduk tenang, menuangkan teh ke cangkir. “Kenapa bisa gagal?”

“Entah. Sistem compliance menolak. Padahal jalur ini sudah bertahun-tahun aman.” Ia gemetar, seperti seekor anjing yang menyadari perangkapnya mengunci.

Saya menatapnya lekat-lekat. “Kalau settlement gagal, asset saya aman. Tapi reputasi Anda habis. Komunitas trader akan delist Anda.”

Ia terdiam, wajahnya memucat lebih dalam. Ia tahu saya benar. Dalam dunia OTC, kegagalan DVP bukan hanya kerugian uang, tapi hukuman social. Pintu semua transaksi masa depan tertutup.

“Sebagai sesama member, beri saya solusi,” katanya akhirnya, suara memohon.

Saya menggeser sebuah kartu nama di meja. “Lawyer ini di New York bisa membantu. Hubungi dia. Mungkin Anda bisa dapat jalan keluar.”

Ia meraih kartu itu seperti memegang oksigen terakhir dan berlalu.

Saya menutup pintu, lalu berdiri lama menatap jendela. Dari lantai tinggi Atlantis, lampu Dubai berkilau, tapi saya tahu, malam itu, seseorang baru saja kehilangan segalanya. Dan saya? Hanya menunggu. Karena jebakan bukanlah soal kekerasan, melainkan membiarkan lawan menghancurkan dirinya sendiri.

***

Setelah pulang ke Jakarta. Lawyer New York yang dibayar oleh code 009, terus update setiap proses recovery 009. Di istana presiden, rapat darurat berlangsung. Elite politik, menteri, hingga jenderal saling menatap dengan wajah tegang. Sebagian menuntut presiden turun tangan menekan pengadilan internasional. Sebagian lagi memaksa agar Arturio dikorbankan sebagai kambing hitam, demi menyelamatkan dana mereka yang macet di rekening Code 009.

Satu orang di ruang itu, menteri senior, ring-1 presiden berteriak histeris. “Tanpa Arturio, tidak ada lagi saluran dana. Kita semua akan hancur!” Dadanya naik turun, lalu ia roboh. Stroke. Sejak hari itu ia lumpuh.

Politik tidak mengenal belas kasih. Dalam semalam, loyalitas yang dulu kokoh berubah menjadi persekongkolan untuk menyingkirkan Arturio.

Sebulan kemudian.  “Arturio ditangkap. Tuduhan resmi: penipuan konsesi, money laundering, collusion with foreign entity. Semua pejabat sepakat menjadikan dia tumbal.” Kabar itu datang ke saya lewat Wenny, suaranya bergetar

Saya menarik napas panjang. Saya tahu, bukan hukum yang menjatuhkan Arturio. Bukan pula rasa bersalah. Tapi mekanisme survival oligarki: siapa yang paling lemah, dialah yang dikorbankan.

Di penjara, Arturio kehilangan segalanya. Broker yang dulu begitu angkuh, yang bisa membeli hakim, menteri, hingga presiden, kini hanyalah angka dalam laporan investigasi. Ironinya, uang yang ia jaga, trust fund para pejabat tidak menyelamatkan dirinya. Justru dana itulah yang menghancurkannya. Saat rekening terkunci, para pejabat lebih memilih melepaskan dirinya ketimbang kehilangan harta mereka. Oligarki adalah kanibalisme. Mereka saling memangsa, tanpa loyalitas, tanpa sahabat.

***

Sebulan setelah itu, Wenny kembali menghubungi: “Kita dapat konsesi resmi. Tanpa uang jaminan, bahkan ada insentif bebas pajak untuk smelting.”

Saya menutup mata sejenak. Ironis sekali. Konsesi yang dulu kami beli dengan harga penuh lewat Arturio, kini jatuh ke tangan kami gratis. Apa pasal? Elite oligarki berterimakasih kepada kami karena lewat lawyer di NY, walau dana yang dibekukan tidak bisa lagi dicairkan namun perusahaan offshore yang terdaftar di Cayman bisa utilize dengan yield sebesar 4% setahun. Bagi oligarki itu lebh dari cukup untuk hidup aman seumur hidup. Mereka puas. Tapi sebenarnya mereka dapat receh. Yield lebih besar mengalir ke rekening Ale capital di Zurich, team shadow saya. Semua berjalan mulus, seolah-olah tidak pernah ada pertempuran hukum.

**

Malam itu, saya duduk lama di atas sajadah, termenung. Saya melihat pola yang sama berulang: Politik menguasai sumber daya, lalu menjualnya dengan licik. Hukum menjadi dagangan, bukan penjaga keadilan. Uang yang mereka timbun, akhirnya dirampok oleh predator pasar global.

Mereka rakus, tapi tidak cukup cerdas.

Mereka berkuasa, tapi tidak berdaya.

Dan rakyat? Tetap menunggu janji kemakmuran yang tidak pernah datang. Rasio GINI semakin melebar, karena negara yang dikendalikan oligarki bukanlah pelindung rakyat, melainkan sekadar clearing house untuk aliran dana gelap.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tag:

Tanggal:

3 tanggapan untuk “Oligarki yang gelisah.”

  1. woww… Apakah cara tersebut bisa di pakai untuk meruntuhkan para oligarki di NKRI, semoga agar Rakyat menjadi prioritas utama pemerintah. Dan buka sebagai budak di negeri sendiri.

    Suka

  2. Pola yang sama berulang: Politik menguasai sumber daya, lalu menjualnya dengan licik. Hukum menjadi dagangan, bukan penjaga keadilan. Uang yang mereka timbun, akhirnya dirampok oleh predator pasar global.

    Mereka rakus, tapi tidak cukup cerdas !

    Suka

  3. menunggu kejatuhan oligarki Indonesia

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan ke fancyf4e7e859be Batalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca