Uang mengalir…

Asap teh melati mengepul dari cangkir porselen putih. Di luar, Beijing diselimuti udara dingin awal musim gugur. Langit kelabu, seakan ikut menyimpan rahasia yang tak boleh diucapkan. Chang duduk di seberang meja, tatapannya setenang seorang dokter yang akan menyampaikan diagnosis mematikan.

“Ada uang USD 250 miliar di London,” katanya pelan. “Tersebar di beberapa bank offshore, diatur lewat rekening trustee. Ini hasil transaksi ilegal hampir satu dekade. Iran memanfaatkannya untuk berdagang bebas, meski sistem keuangannya dibekukan oleh sanksi PBB.”

Saya meneguk teh perlahan, membiarkan kalimat itu larut bersama rasa pahit di lidah. “Bagaimana bisa tanpa channeling legitimate?” tanya saya.

Chang mengangkat alis. “Mereka pakai bank kecil di Xinjiang, terhubung ke Kazakhstan, dibantu Rusia.”

Saya tersenyum tipis. Tidak mungkin itu berjalan tanpa restu intelijen Beijing. Dalam geopolitik, saya sudah hafal satu hukum tak tertulis: jika Barat bergerak, Timur menyeimbangkan. Negara ketiga hanyalah papan catur, dan Iran—berbeda dari kebanyakan—tahu cara bermain dengan rapih: mempersatukan rakyat, memanfaatkan musuh dan sekutu untuk tujuan nasional.

“ Ok. Tempatkan di designated account saya. Sisanya biar saya yang urus,” kata saya.

“Kita bersaudara dalam persahabatan dan kemanusiaan. Antar sahabat, tidak ada kecewa,” jawab Chang sambil memeluk saya.

Kepercayaan, pikir saya, adalah mata uang yang nilainya tak pernah tertera di bursa, tapi justru menentukan siapa yang akan menang di medan perang finansial.

Setelah itu , Chang membawa saya ke KTV eksklusif di Beijing. Ladies academy escort, wanita yang, selain paras, menguasai alat musik untuk menghibur tamu dengan profesional. Malam itu santai, tapi saya tahu ini bagian dari diplomasi informal.

Saat pulang ke hotel, Chang menyerahkan kartu nama. “Patricia. Suaminya banker di London, dia sendiri punya bisnis di China. Target kita adalah keterlibatan suaminya untuk membantu kita mengutilisasi aset,” ujarnya.

***

Keesokan harinya, Patricia datang dengan map biru. Wanita Hong Kong berdarah Inggris itu duduk di seberang saya, nada suaranya penuh percaya diri.

“Saya akan ikut tender. Kalau menang, saya butuh dukunan financial untuk buka Letter of Credit. Bisnis rel kereta. Bantalan kayu akan diganti beton. Offtaker sudah ada.”

Dokumennya rapi. Underlying jelas, tender resmi, margin aman. “Saya hanya bisa sediakan blocking fund dari bank papan atas di Zurich,” jawab saya.

Dia mengangguk. Suaminya yang banker di London akan memastikan jalur likuiditas terbuka.

Keesokan hari saya menelepon Chang. “Kirim block fund USD 1 miliar.”

“Besok cek di bank kamu,” balasnya.

Saya kirim blocking payment itu ke bank suami Patricia.

“Untuk LC cukup USD 250 juta. Sisanya?” tanya sang suami.

“Jadikan blocking fund on-call,” jawab saya.

Diamnya uang di posisi yang tepat sering kali lebih berbahaya—dan lebih menguntungkan, daripada uang yang terus diputar tanpa arah.

Suami Patricia kemudian mengenalkan saya pada Peter Cha, agen trader di Hong Kong dengan koneksi ke Jepang.

***

Saya tidak yakin Peter Cha berhati malaikat.  Dia memang sering bicara tentang humanitarian seperti sales MLM. Saya kenyang terhina karena kemiskinan dan kelemahan. Seumur hidup saya tidak pernah dapat deal yang too good to be true. Bagi saya yang terlahir dari situasi yang keras dan tidak ramah, omongan Cha bagaikan orang bermimpi bersama secangkir kopi. Saya tahu diri saja. Kalau ada yang menawarkan kemudahan, itu artinya dia sedang berbohong dan sekaligus ingin jadikan saya keset kaki. Saya engga mau begitu.

Koneksinya dengan teman malaikatnya di Tokyo itu sesuatu yang lain. Jonson, trader di Hangseng pernah cerita ke saya soal kecanggihan lobi trader tersebut di BBA. Dengan mengandalkan kehebatan tradernya itu, Peter berusaha membujuk orang punya uang bertaruh  dan kemudian berharap di masa depan laba berlipat. Ya semacam HYIP. Saya bukan tidak suka laba berlipat tetapi tidak suka tergantung mimpi dari orang lain. Saya ingin hidup dengan kedua tangan dan otak saya saja. Hidup dalam realitas dan tahu diri, itu aja.

Kedatangan saya di Tokyo pada musim dingin tahun 2009 disambut oleh Peter.  “ Kalau bukan karena rekening offshore kamu di Eropa engga mungkin ular kobra mau keluar dari lubang setelah dia makan kenyang mangsanya. Mungkin sifat rakus ada pada setiap predator” Kata Peter. Dia seakan menyiratkan ke saya bahwa pertemuan dengan trader ini adalah peluang besar. Tidak semua orang punya kesempatan deal dengan trader itu. Kalaulah hasil DD terhadap rekening saya tidak qualified, tidak mungkin dia mau bicara bisnis.

Di ruang VVIP khusus ala shogun dengan taburan kesederhanaan yang ekslusif bersama Geisha berkimino dan bergincu tebal,  pria AS tersenyum menyambut saya dan Peter. Dia peluk Peter dan menyalami saya. “ David. “ Katanya memperkenalkan diri. Saya mengangguk saja.

“ Ada ratusan trilion kontrak derivative secara global. Kita akan jual CDS dan pasti menang. Sedikitnya 0,05% setiap hari ”Katanya mengawali tanpa basa basi. “ 0,05% per day! katanya menjentikan jari seraya menghembuskan asap cigarnya. Saya hanya mengangguk dan David puas. Malam itu Peter jamu kami dengan palayanan Geisha dan sake berkualitas tinggi. Walau setiap pria yang ada dalam ruang VVIP itu dapat jatah dua wanita Geisha, tetapi saya memilih tidak menerima layanan itu. Alasan saya masih lelah dan kurang tidur.

Keesokannya, Peter atur saya rapat dengan David di Kantornya. Dalam presentasi bisnis, memang David sangat ahli. Metode trading  LIBOR dia kuasai sekali. Apalagi dia menggunakan pendekatan matematika yang rumit. Itu semua cara dia membenamkan persepsi ke pada saya. Dia lupa bahwa saya benar orang Asia tapi saya petarung di hadapan Barat. Sehebat apapun dia, tanpa uang cash tidak mungkin skema Libor dapat terlaksana. 

Money is the king. Dia bisa saja hebat mengakses financial instrument berbasis LIBOR tetapi cash di tangan lah yang bisa meleverage peluang itu. Saya paham posisi saya di hadapan David.  Pertanyaan dasar saya adalah siapa yang menggerakan bunga Libor. Kalau masih manusia, maka itu artinya sistem yang pasti korup. Walau harus deal dengan sistem busuk itu, namun saya tidak ingin di leverage mereka. Saya harus leverage David, dan setidaknya menggiring dia kelubang toilet untuk saya buang tinja setelah kenyang makan.

***

Patricia duduk di café di Macao dengan mata sembab. “Saya kalah lelang di China. Maafkan saya,” katanya.

Saya meremas jemarinya untuk menentramkan hatinya. Dari awal saya sudah yakin bahwa dia pasti gagal tender di China. Target saya bukan berbisnis dengan dia tetapi dengan suaminya. Akses informasi ke orang dalam.  “Saya pengusaha, siap gagal sebelum berhasil,” jawab saya, meski di kepala saya menghitung bunga pinjaman yang harus saya bayar.

Suaminya di Hong Kong memberi tawaran lain “Gunakan dana itu untuk SWAP. Saya punya terminal untuk akses pergerakan LIBOR harian. Kamu bisa leverage di pasar derivatif. DTC memungkinkan transaksi dihapus. Tidak ada jejak.” Saya tersenyum. Rubah masuk perangkap.!

Saya paham. Interest Rate Swap (IRS). Tukar arus kas bunga fixed ke floating berbasis LIBOR. Saya akan memanfaatkan leverage tinggi (misalnya 20x) di pasar derivatif OTC. Dengan akses terminal yang memonitor pergerakan LIBOR harian (dan mungkin prediksi submission), saya  bisa masuk dan keluar posisi dengan timing presisi.

Contoh: Posisi: Bayar fixed 1,5% – Terima floating LIBOR. Jika saya tahu LIBOR akan naik 5 bps besok (0,05%), nilai swap melonjak. Dengan notional USD 5 miliar, selisih itu bisa berarti keuntungan USD 2,5 juta dalam sehari.

Saya tahu, kenaikan bunga adalah mesin perampok debitur; penurunan bunga adalah tambang emas bagi pemegang CDS. Pilihannya cuma dua: korban atau pengorban. Kapitalisme tidak memberi ruang ketiga.

Dalam praktik real, trade novation atau cancel & replace di DTC bisa membuat catatan transaksi derivatif OTC tidak terlihat dalam bentuk final di beberapa sistem publik. Artinya, layering dan position cycling dapat dilakukan tanpa meninggalkan bukti langsung di buku akuntansi publik. Saya  bisa mengganti lawan transaksi tiap kuartal, seperti sehingga audit trail makin kabur.

Setahun penuh saya tidur hanya tiga jam sehari. Kontrak derivatif OTC lintas mata uang, ganti posisi setiap tiga bulan, ganti lawan, selalu menang. Cash collateral saya aman, keuntungan mengalir seperti arus deras di sungai pegunungan.

Naluri saya berkata: “Berhenti.” Saya keluar dengan profit sebesar puluhan miliar dollar AS. Tahap berikutnya saya harus  layering profit ini lewat 144A.

***

Salju tipis menempel di kaca jendela ruang dealing di Zurich. Dari lantai dua puluh, kota ini tampak seperti maket raksasa. Rapi, teratur, dan dingin. Di meja oval panjang, laptop, telepon satelit, dan map dokumen berserakan.

Saya berdiri di dekat jendela, menatap arloji. Tepat pukul 09.00 waktu Swiss, pintu terbuka. Seorang wanita mengenakan blazer abu-abu masuk. Usianya sekitar 40an, matanya tajam dan tetap cantik. Namanya Marie. Saya sudah setahun mengenalnya dalam wine party VVIP  di Hong Kong. Dia menaruh sebuah map hitam di meja. “ I’d like to shift some of my portfolio into Medium-Term Notes (MTNs), specifically AAA-rated notes offered under Rule 144A. “ Kata saya.

Marie mengangguk. Rule 144A, saya mengenalnya seperti seorang pilot mengenal jalur udara rahasia. Mekanisme ini diciptakan untuk memberi kelonggaran likuiditas, tapi di tangan yang tepat, ia menjadi mesin transformasi uang.

Marie menjelaskan struktur nya. Langkah Pertama: Menyamar di Buku Besar. USD 8 miliar saya park di custody account atas nama SPV di Cayman. Nominal ini tidak muncul sebagai “uang tunai” dalam laporan bank, melainkan sebagai “bond settlement pending”. Di mata auditor, itu bukan kas bebas, tapi kewajiban sementara. Cukup untuk menutupi rasa ingin tahu regulator.

“Dana ini akan menjadi cash collateral penerbitan MTN. Kita buat ISIN khusus, tanpa peringkat kredit publik,” jelas Marie

Langkah Kedua: Penempatan Lewat 144A Penerbitan MTN dilakukan dalam tranches, masing-masing USD 500 juta, dengan tenor 3–5 tahun. Pembeli adalah qualified institutional buyers (QIB), dana pensiun, asuransi, dan endowment fund universitas di AS.

“Kamu tahu, B, di mata regulator, transaksi ini sah. Placement memo jelas, ada legal opinion, dan semua tanda tangan notaris. Compliance check? Ada, tapi formalitas,” katanya sambil tersenyum miring. Saya tahu. Compliance adalah panggung teater. Selama skripnya rapi, penonton (regulator) akan percaya.

Langkah Ketiga: Melapisi Jejak. Setiap tranche MTN dijual kembali di pasar sekunder Eropa, dibeli oleh fund di Luksemburg, lalu dialihkan ke trust di Guernsey. Dari situ, hasil penjualan masuk kembali ke rekening berbeda di Zurich, kali ini atas nama charitable foundation yang bergerak di bidang pendidikan.

Saya mengangguk. “ tetapi cukup sampai pada MTN saja. Selanjutnya saya akan layering sendiri lewat proyek underlying yang reputabale. “ Kata saya.

Bagi publik, uang itu berubah wujud: dari collateral derivatif menjadi aset produktif yang mendanai beasiswa. Inilah yang saya sebut compliance mirage. Semua orang melihat kebajikan, hanya segelintir yang paham siapa yang sebenarnya diuntungkan.

Saya memandangi dokumen yang ditandatangani pagi itu. Bagi kebanyakan orang, puluhan milaran USD adalah jumlah yang terlalu besar untuk dibayangkan. Bagi saya, itu hanyalah angka di layar, sama rapuhnya dengan nyawa, sama fana dengan janji politik. Kapitalisme modern tidak membedakan antara uang halal dan uang haram; ia hanya mengenal satu hal: kecepatan putaran. Semakin cepat uang berpindah, semakin sulit ia dilacak, dan semakin tinggi nilainya.

Saat  meninggalkan ruang meeting, Marie  berkata. “B, ingat, uang ini sekarang bersih di mata siapa pun. Tapi jangan lupa, semua yang bersih suatu hari bisa kotor, dan semua yang kotor bisa jadi bersih, tergantung siapa yang memegang pena di laporan audit.”

Saya tersenyum. Dalam dunia ini, pena kadang lebih tajam daripada pedang, dan tanda tangan bisa lebih mematikan daripada peluru.

****

Langit sore di Hong Kong berwarna tembaga, memantulkan cahaya dari gedung-gedung kaca Causeway Bay. Saya duduk di bar lantai 57, menatap kapal-kapal kargo yang antre masuk pelabuhan. Di sebelah saya, James Direktur SIDC berjas biru navy membuka map tebal berlogo International Infrastructure Alliance.

“B, ini kesempatan yang datang sekali dalam satu dekade,” katanya. “Negara ini sedang krisis fiskal, utang jatuh tempo USD 9 miliar. IMF siap masuk, tapi Presiden mereka ingin opsi lain,  opsi yang tidak membuat mereka jadi boneka Washington.”

Saya membuka map. Di dalamnya, feasibility study tiga proyek strategis: Pelabuhan deep-sea di pantai barat, kapasitas 12 juta TEU per tahun. Rel kereta yang menghubungkan lokasi tambang biji besi ke smelter dan Jaringan LNG terminal untuk suplai energi.

Semua proyek itu bernilai USD 12 miliar. Modal awal yang diminta? USD 3 miliar sebagai equity injection.

Saya menatap James. “Modal saya berbentuk MTN. Peringkat AAA. Bisa kita repo ke sovereign fund Timur Tengah untuk dapatkan cash upfront.”  James acungkan jempol.

Dua minggu kemudian, saya berada di Abu Dhabi, duduk di ruang rapat berkarpet tebal di kantor Al-Hayat Sovereign Fund. Di ujung meja, Direktur Investasi mereka memandangi lembar term sheet MTN saya. “Tenor MTN ini pas untuk struktur infrastructure-backed bond. Kami bisa berikan 70% loan-to-value,” katanya. “Artinya, dari USD 12 miliar nominal, kamu dapat USD 8,4 miliar cash upfront.”

Saya mengangguk. “Saya hanya butuh USD 1 miliar untuk equity. Sisanya bisa kita masukkan ke syndicated lending dengan margin 2,75% di atas LIBOR.”

Pria itu tersenyum tipis. “LIBOR sudah sunset, B. Sekarang SOFR yang jadi acuan.” Saya membalas dengan senyum yang sama tipisnya. “Nama bisa berubah. Mekanismenya tetap. Spread adalah nyawa kita.”

***

Dua bulan kemudian, saya mendarat di ibu kota negara tropis itu. Udara lembab, bau solar bercampur dengan aroma laut. Menteri Infrastruktur menunggu di kantornya, gedung tua era kolonial yang catnya mengelupas. “B, kami butuh mitra yang tidak hanya bawa uang, tapi juga mengerti geopolitik. Kami tidak mau pelabuhan ini jadi pangkalan militer asing,” katanya tegas.

Saya meletakkan map kontrak di mejanya. “Uang saya bersumber dari instrumen pasar modal, bukan dana militer. Kami ingin revenue stream dari pelabuhan ini, bukan mengibarkan bendera.”

Mata menterinya melembut. “Kalau begitu, kita akan tandatangani MOU minggu depan. Presiden ingin bertemu Anda langsung.”

Bagi banyak orang, proyek ini hanyalah infrastruktur. Bagi saya, ini adalah entry point. Sebuah pintu masuk untuk menanamkan pengaruh ekonomi. Pelabuhan deep-sea adalah cash register yang berdetak 24 jam sehari. Rel kereta ke smelter adalah lifeline industri. LNG terminal adalah energy choke point. Jika tiga simpul ini saya pegang, maka arus ekspor-impor negara itu akan lewat dalam genggaman. Dan semua berawal dari MTN yang dulu hanyalah collateral derivatif.

Investor publik akan melihat ini sebagai public-private partnership yang sehat: equity injection jelas, syndicated loan terstruktur, risiko terbagi. Tidak ada yang akan bertanya bagaimana MTN itu terbentuk. Dalam kapitalisme modern, sumber dana hanyalah catatan kaki. Yang dilihat adalah cash flow projection dan internal rate of return.

Malam terakhir sebelum kembali ke Hong Kong, saya duduk di balkon hotel, menatap lampu-lampu pelabuhan yang belum dibangun. Saya tahu, begitu proyek ini berjalan, negara itu akan berutang budi pada saya. Dan utang budi, jika dipegang di waktu yang tepat, jauh lebih berharga daripada bunga obligasi.

Saya menemui Presiden bersama Menteri Perdagangan negara itu. “B, kami menerima dua proposal besar,” katanya pelan. “Satu dari konsorsium Amerika yang menawarkan pembiayaan lewat DFC (U.S. International Development Finance Corporation), satu lagi dari BUMN China yang siap membangun dengan skema EPC penuh.”

Saya tahu apa artinya, ini bukan sekadar tender proyek, ini ujian kesetiaan politik. DFC datang dengan syarat: compliance penuh pada standar AS, pembatasan mitra dari negara yang masuk daftar sanksi, dan klausul security review. China datang dengan tawaran lebih cepat, lebih murah, tapi mengikat negara ini dalam kontrak pasokan jangka panjang yang pada dasarnya menjadikan pelabuhan itu “kawasan pengaruh” Beijing.

Usai pertemuan itu, saya duduk di ruang pertemuan privat hotel bintang lima. Pertemuan ini diatur oleh Menteri perdagangan dan investasi. Dua diplomat senior AS dan China hadir, bergantian memaparkan “keuntungan” jika saya memilih pihak mereka.

Diplomat AS menatap saya tajam. “B, jika Anda masuk bersama kami, proyek ini akan menjadi bagian dari Indo-Pacific Economic Framework. Anda akan dapat akses pasar AS, tarif ekspor ke Amerika bisa ditekan nol persen untuk lima tahun pertama.”

Saya tidak langsung menjawab. Hanya menyesap kopi dan mencatat di kepala: akses pasar itu berarti likuiditas ekspor , tapi juga membuka pintu bagi regulasi yang bisa berubah sesuai kepentingan politik Washington.

Diplomat China tersenyum, suaranya lembut. “Kami tidak mengatur politik dalam negeri Anda. Kami hanya ingin arus barang berjalan lancar. Tarif impor ke China bisa kami hapuskan untuk komoditas strategis Anda.”

Saya tahu kalimat itu hanya separuh benar. China tidak mengatur politik secara langsung, tapi mereka memegangnya lewat infrastruktur dan utang.

Setelah pertemuan itu, saya kembali ke kamar hotel, menatap peta dunia yang tergantung di dinding. Saya sadar, mengambil salah satu pihak berarti membuka front perang dengan yang lain.

Jadi saya memilih jalur yang lebih licin: saluran ganda. MTN saya, yang menjadi modal awal, saya tranching ulang: 40% dialirkan lewat special purpose vehicle (SPV) yang masuk ke proyek bersama konsorsium AS. 40% lagi masuk ke SPV terpisah yang terhubung ke jaringan EPC China. 20% sisanya saya simpan sebagai liquidity reserve di Zurich.

Dengan skema ini, kedua pihak merasa memiliki kepentingan, dan saya berdiri di tengah sebagai gatekeeper arus keuangan dan logistik.

Banyak orang mengira politik tarif hanya soal angka bea masuk dan persentase ekspor-impor. Padahal, tarif adalah bahasa diplomasi yang paling kejam. Di meja perundingan, angka 5% atau 10% bisa menentukan hidup-matinya ribuan pekerja, kelangsungan industri, bahkan nasib pemerintahan. Saya tidak ingin menjadi pion yang dikorbankan di papan catur ini. Saya ingin menjadi tangan yang memindahkan pion itu.

Dua bulan setelah strategi saluran ganda dijalankan, tarif impor ke AS untuk komoditas negara itu turun 50% dalam kesepakatan bilateral, sementara China menghapus bea masuk untuk nikel dan LNG dari pelabuhan baru kami. Presiden negara itu memuji “diplomasi seimbang” mereka. Tidak ada yang tahu, keseimbangan itu dibeli dengan MTN yang dulunya hanyalah collateral derivatif.

Saya tersenyum tipis. Dalam dunia ini, kesetiaan tidak diukur dari bendera yang dikibarkan, tapi dari arus kas yang masuk setiap bulan.

***

Saya tiba di Dubai untuk menghadiri off-the-record meeting dengan enam eksekutif yang mewakili perusahaan logistik, trading house, dan perusahaan energi. Mereka bukan direksi publik; mereka adalah nominee directors dari entitas bayangan.

“B, jika kita gabungkan throughput pelabuhan dengan kontrak suplai LNG dan ekspor nikel, kita bisa ciptakan konsorsium tertutup,” kata seorang pria asal Lebanon, mantan banker HSBC yang kini menjadi pengatur shadow shipping network di Timur Tengah.

Saya mengangguk. “Konsorsium ini tidak boleh terlihat seperti kartel. Kita pakai tiga lapis holding structure. Lapisan 1: Perusahaan publik di bursa Singapura untuk citra transparansi. Lapisan 2: Private equity di Mauritius untuk kontrol kepemilikan. Lapisan 3: Trust di Guernsey untuk beneficial ownership.”

Mereka mengerti, setiap lapisan adalah cermin yang memantulkan bayangan lain, membuat regulator kebingungan.

Dengan consortium agreement, semua kargo yang keluar-masuk pelabuhan wajib melalui sistem clearing kami. Biji besi dari tambang? Kami atur jadwal pengiriman dan harga freight. LNG ke pembangkit? Kami tetapkan kontrak take-or-pay lima tahun. Impor bahan konstruksi? Kami pastikan mark-up logistik masuk ke kas konsorsium.

Tidak ada yang sadar bahwa billing system diatur lewat offshore software yang server-nya berada di Estonia — membuat data tidak sepenuhnya dapat diakses otoritas lokal.

Banyak yang menganggap kendali rantai pasok berarti memiliki aset fisik — pelabuhan, kapal, rel, gudang. Padahal, kendali sejati ada pada node informasi: who ships what, when, and at what price. Jika Anda menguasai data itu, Anda bisa menentukan siapa yang kaya dan siapa yang mati perlahan. Inilah seni membangun kekuatan di era kapitalisme bayangan: mengendalikan arus tanpa terlihat memegangnya.

Saya tahu, setiap kekuatan finansial tanpa perlindungan politik adalah undangan bagi kehancuran. Maka saya mendanai policy think tank negara itu, menyokong kandidat parlemen yang pro-investasi, dan memberi hibah riset ke universitas untuk proyek “supply chain resilience”.

Bagi publik, saya adalah investor filantropis. Bagi orang yang paham, saya adalah pemegang kendali atas sistem distribusi yang menentukan harga dan ketersediaan barang di seluruh negeri.

Dua tahun kemudian. Di layar dashboard kantor saya di Zurich, tiga indikator menyala hijau: Pelabuhan deep-sea sudah operational. Rel kereta ke smelter berjalan tepat jadwal. LNG terminal pertama menerima kargo perdana.

Bagi publik, ini adalah keberhasilan public-private partnership. Bagi saya, ini adalah tiga simpul yang jika diikat menjadi satu, akan mengendalikan seluruh nadi perdagangan negara ini EBITDA konsorsium melonjak 37%. Sementara itu, politisi di dua kubu besar negara itu bersaing untuk mendapat dukungan dari “grup investor” yang namanya tidak pernah muncul di media.

Saya duduk di ruang kerja, menatap laporan bulanan. Semua ini dimulai dari MTN yang dulu hanyalah collateral derivatif. Kini, ia menjadi jaring laba-laba yang menghubungkan keuangan, logistik, dan politik. Dan seperti laba-laba, saya tahu kapan harus bergerak, dan kapan harus diam.

***

Saya menghubungi CEO holding di Hong Kong lewat panggilan aman. “Kita ubah kepemilikan aset fisik menjadi long-term concession rights. 25 tahun, renewable, dengan opsi buyback.”

Dengan begitu, aset fisik resmi “milik” negara, tapi arus kasnya tetap terikat ke perusahaan kami. Nilainya di neraca jadi intangibles, yang bisa dijual sebagai portofolio ke investor baru tanpa repot memindahkan batu bata atau baja.

Di Dubai, saya bertemu eksekutif senior dari TransGlobal Port Holdings, salah satu konglomerat logistik terbesar dunia.

“Kami akan ambil semua SPV dan trust structure Anda,” katanya.

“Harga penawaran: 14 kali EBITDA.”

Saya tidak menawar. Menjual kepada pemain besar artinya transfer risiko politik ke mereka. Mereka punya lobi di setiap ibu kota; saya tidak perlu bertarung dengan pemerintah baru nanti.

Uang  miliar dollar AS hasil penjualan dialirkan lewat multi-layer escrow di Guernsey, kemudian ditransfer ke family office saya di Liechtenstein. Dari sana, saya memecahnya menjadi: 40% dalam bentuk global index ETF — wajah resmi, rapi, dan membosankan. 35% dalam bentuk convertible notes pada proyek teknologi energi terbarukan di Skandinavia. 25% dalam bentuk art investment dan koleksi barang langka yang disimpan di freeport Geneva.

Sebulan setelah penjualan final, saya menerima laporan bahwa TransGlobal resmi mengambil alih pengelolaan. Pemerintah baru memuji “kerjasama strategis” ini di media nasional. Tak ada yang tahu bahwa yang mereka sebut investor asing adalah orang yang sama.

Dalam catatan publik, saya hanyalah investor konservatif dengan portofolio terdiversifikasi. Tak ada yang mengaitkan dengan pelabuhan di negeri tropis itu.

Bagi banyak orang, keluar dari bisnis berarti menutup buku dan mengucapkan selamat tinggal. Bagi saya, keluar adalah seni. Anda harus menghilang seperti kabut pagi,  tidak ada jejak, tapi meninggalkan kelembapan yang membuat tanah tetap subur. Yang penting bukan hanya berapa banyak yang Anda bawa keluar, tapi bagaimana Anda memastikan tidak ada yang punya alasan untuk mengejar.

Malam itu, di balkon apartemen Hong kong, saya menatap kota yang tenang, jauh dari pelabuhan bising di negeri tropis itu. Semua ini berawal dari MTN yang hanyalah collateral derivatif. Kini, saya keluar dengan bersih, tanpa sengketa, tanpa headline buruk. Dalam dunia kapitalisme bayangan, kemenangan sejati bukanlah menguasai selamanya, tapi tahu kapan harus meninggalkan meja, membawa semua chip, dan membuat semua orang mengira Anda hanya tamu yang lewat.

***

Tahun 2013, skandal LIBOR meledak. Suami Patricia ditangkap aparat. Bukan karena saya tetapi karena keterlibatanya dengan trader di Tokyo, David.

Patricia menemui saya di Singapore. “ Hampir 4 tahun setelah terakhir kita ketemu. Kamu tetap fresh. Saya sendiri sudah bercerai. “ katanya. Saya menampakan wajah empati. Dia justru mengkawatirkan saya karena skandal LIBOR itu. Itu saya rasakan ketika dia menatap saya. Seakan dia tidak ingin terjadi hal yang buruk terhadap saya.

Tetapi saya baik baik saja. Karena asal usul uang saya clean dan itu berasal trade financing yang legitimate. Pada setiap putaran transaksi didukung kontrak yang legal. Semua bank dan institusi keuangan yang terlibat memilih membayar denda atas skandal itu. Tapi korban akibat itu, sampai ini masih membekas dan membuat sistem moneter di Eropa dan AS semakin rentan. Tentu berimbas kepada negara ketiga. 

“ Uang membuat suami saya liar. Setiap hari dia mabuk dan pesta sex dengan teman temannya” Kata Patricia dengan wajah sendu dibalik selimut saat bersama saya di Conrad Hotel. Bagi saya dia wanita rapuh. Alert risk management saya bergetar.  Saya harus exit dari perasaannya terhadap saya. Setelah dapat uang cukup dari saya untuk umbrella hidupnya, dia tidak pernah menghubungi saya lagi. Case closed.

Entah siapa yang salah, ku tak tahu. Tetapi kapitalisme memang menyediakan medan bertarung. Yang kuat yang menang. Yang lemah jadi pecundang.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Satu tanggapan untuk “Uang mengalir…”

  1. joyfullyagletb2843c28b8 Avatar
    joyfullyagletb2843c28b8

    Ini bacaan berat untuk saya pahami, tapi saya suka Babo punya kendali untuk bisnis ini.
    Seandainya saya punya kesempatan untuk belajar lebih dalam tentang pasar uang, saya hanya ingin mengenal dan mengenang satu anak manusia sebagai mentor : yaitu Babo.

    Suka

Tinggalkan Balasan ke joyfullyagletb2843c28b8 Batalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca