Siapa penguasa dunia?

Kemenangan Amerika Serikat (AS) dalam Perang Dunia II bukan semata hasil superioritas militer atau kapasitas industri, melainkan keberhasilan dalam merancang struktur kekuasaan global yang bertahan hingga kini. Dalam kerangka teori Antonio Gramsci, ini merupakan bentuk hegemoni, yakni dominasi yang disertai persetujuan kolektif melalui institusi dan norma global.

Melalui serangkaian agenda sistemik, AS tidak hanya membentuk tatanan dunia baru, tetapi juga menjadikan dirinya sebagai pusat orbit kekuasaan ekonomi, politik, dan ideologis dunia. Saya akan mengelaborasi tiga pilar hegemoni AS: sistem moneter global, perdagangan internasional, dan dominasi geopolitik, dengan memanfaatkan lembaga-lembaga multilateral, transformasi teknologi finansial, serta kontrol terhadap narasi keamanan dan keberlanjutan global.

PILAR PERTAMA.

Konferensi Bretton Woods (1944) menjadi momen kunci dalam pembentukan sistem moneter global pascaperang. AS, yang saat itu menguasai lebih dari 75% cadangan emas dunia, berhasil menempatkan dolar sebagai satu-satunya mata uang yang dikonversikan langsung terhadap emas (USD 35/ounce). Semua mata uang dunia pun dipatok terhadap dolar, bukan lagi terhadap emas—sebuah pergeseran besar dalam arsitektur moneter global.

Barry Eichengreen (2011) menyebut fenomena ini sebagai exorbitant privilege, yakni kemampuan negara pemilik mata uang cadangan dunia untuk mengekstraksi surplus likuiditas global tanpa beban setara. Sistem ini, meskipun diklaim untuk stabilitas global, pada kenyataannya menciptakan asimetri kekuasaan yang luar biasa. Michael Hudson (2003) menyatakan bahwa dolar tidak lagi ditopang oleh emas, tetapi oleh kepercayaan paksa pasar global.

Pembentukan IMF dan Bank Dunia sebagai produk Bretton Woods juga menjadi instrumen kontrol AS atas sistem keuangan global. Dengan sistem hak suara berdasarkan kontribusi modal (weighted voting system), AS memiliki kekuatan veto (16,5% suara di IMF), menjadikannya regulator fiskal global de facto (Kaya, 2015). Joseph Stiglitz (2002) bahkan menyebut IMF sebagai “instrumen politik” yang melucuti kedaulatan fiskal negara-negara berkembang.

Ketika sistem konvertibilitas emas dihentikan secara sepihak oleh Presiden Nixon pada 15 Agustus 1971 (Nixon Shock), dunia memasuki rezim floating exchange rate. Namun, dolar tetap menjadi jangkar global. Ini membuka jalan bagi manipulasi likuiditas tanpa batas oleh AS, yang mengekspor inflasi secara global tanpa risiko instabilitas domestik.

Lahirnya sistem petrodollar pasca-embargo minyak OPEC 1973—hasil kesepakatan rahasia AS-Saudi—memperkuat ketergantungan global terhadap dolar. Seluruh perdagangan minyak diwajibkan dalam USD, sementara surplus perdagangan Saudi diinvestasikan kembali dalam US Treasury Bonds. Negara berkembang pun terjebak dalam lingkaran utang dolar, dan mengalami gelombang krisis utang di era 1980-an.

Krisis demi krisis global (Amerika Latin, Asia 1997, krisis global 2008) senantiasa diselesaikan dengan intervensi IMF, yang selalu membawa syarat liberalisasi keuangan, privatisasi, dan deregulasi. Wall Street pun memperoleh akses atas sumber daya negara berkembang, dengan pembiayaan yang bersumber dari utang dolar dan suku bunga yang dikendalikan oleh The Fed.

PILAR KEDUA.

Dominasi AS atas sistem perdagangan internasional dimulai melalui General Agreement on Tariffs and Trade (GATT, 1947) dan mencapai puncaknya dalam pembentukan World Trade Organization (WTO) pada 1995. WTO tidak hanya mengatur tarif, tetapi juga mencakup layanan (GATS), kekayaan intelektual (TRIPS), serta penyelesaian sengketa lintas negara yang berpijak pada prinsip hukum Anglo-Saxon (Shaffer, 2003).

Dengan memaksakan liberalisasi melalui perjanjian multilateral, AS mampu menciptakan standar yang menguntungkan korporasi global dan mempersempit ruang kebijakan industri domestik negara berkembang.

PILAR KETIGA.

Dalam konteks geopolitik, AS mengonsolidasikan kekuasaannya melalui Perang Dingin (1947–1991) melawan Uni Soviet, Marshall Plan, pendirian NATO, dan intervensi di Korea serta Vietnam (Gaddis, 2005). Kunjungan Nixon ke Tiongkok (1972) adalah manuver strategis untuk memecah kekuatan komunis dan memperluas pasar global kapitalisme.

Dukungan terhadap pendirian Israel (1948) dan aliansi strategis dengan Arab Saudi menciptakan fondasi konflik abadi di Timur Tengah, di mana AS memanfaatkan politik identitas sektarian untuk mendestabilisasi kawasan (Bayat, 2013). Intervensi militer di Irak (2003), revolusi di Suriah, serta krisis di Yaman adalah bagian dari strategi creative destruction untuk mempertahankan dominasi regional.

Pasca-2001, pasca-Serangan 11 September, hegemoni AS bergeser ke arah keamanan global dan pengawasan (surveillance). “War on Terror” menjadi pembenaran atas ekspansi lembaga keuangan internasional ke negara-negara Muslim. IMF pun berubah menjadi agen reformasi struktural di negara-negara seperti Mesir, Pakistan, dan Lebanon, dengan narasi There Is No Alternative (TINA) terhadap neoliberalisme (Harvey, 2005).

TUMBUHNYA HEGEMONI BARU.

Krisis keuangan 2008, yang dipicu kebangkrutan Lehman Brothers, menandai pergeseran dari hegemoni negara ke dominasi korporasi keuangan. Sistem keuangan global beralih dari perbankan tradisional ke shadow banking: penciptaan dolar dilakukan melalui pasar repo, Eurodollar, derivatif, dan skema keuangan offshore (Pozsar, 2014). Lebih banyak dolar beredar di luar AS ketimbang di dalamnya—dan negara-negara berkembang menjadi sandera volatilitas global yang tak mereka kendalikan.

Pandemi COVID-19 mempercepat restrukturisasi kekuasaan ini. WHO dijadikan pusat legitimasi global atas kebijakan lockdown, vaksinasi massal, dan mobilisasi fiskal besar-besaran. Akibatnya, lebih dari 25 negara menjadi debitur permanen IMF akibat utang pandemi (UNCTAD, 2021), dengan kedaulatan fiskal yang makin terkikis (Pistor, 2020).

Donald Trump dan Rekonstruksi Hegemoni Koersif

Kebijakan Donald Trump secara tegas memperkuat posisi dolar sebagai instrumen koersif. Melalui sanksi sekunder terhadap Iran, Venezuela, dan Rusia, serta ancaman terhadap SWIFT system, Trump mengubah sistem keuangan global menjadi senjata politik aktif. “We have total economic power. They all need our dollar,” katanya dalam wawancara Fox News (2018).

Trump mempromosikan strategi Energy Dominance, menjadikan AS eksportir LNG dan shale oil terbesar. Ini membangun petrodollar 2.0 dan memaksa negara lain menggunakan USD untuk perdagangan energi. Ia juga menolak reformasi IMF dan memperkuat ekosistem dolar melalui renegosiasi NAFTA menjadi USMCA.

Di balik retorika anti-globalisasi, Trump justru mengonsolidasikan sistem global berbasis dolar melalui tekanan terhadap institusi multilateral, ekspansi QE, dan penekanan terhadap The Fed untuk menurunkan suku bunga. Seperti ditulis Adam Tooze (2020), “Donald Trump did more to weaponize the dollar than any president before him.”

Era Baru Imperialisme Finansial: Kekuasaan Tanpa Negara

Hari ini, dominasi dolar berkembang menjadi bentuk kolonialisme finansial modern. Sistem pembayaran global, pasar ESG, dan proyek stablecoin seperti USDC menciptakan infrastruktur baru yang semakin mengunci negara-negara dalam ekosistem dolar. Upaya de-dollarisasi melalui e-CNY (Yuan Digital), sistem BRICS Pay, dan bilateral swap belum mampu menyaingi dominasi ini (Zakaria, 2022).

Hegemoni keuangan kini tak lagi digerakkan oleh negara, melainkan oleh elite finansial global: manajer dana, trader komoditas, dan arsitek shadow banking. Mereka tidak muncul dalam forum G20, tidak dipilih dalam pemilu, namun menentukan nasib moneter dunia.

Javier Blas dan Jack Farchy (2021) mengungkap dalam The World for Sale bahwa kekuatan riil dunia kini ada pada para pedagang komoditas dan jaringan keuangan tak kasat mata: shadow money is empire (Bullough, 2018).

PENUTUP.

Dalam peta formal, negara masih dipandang sebagai aktor utama geopolitik. Namun dalam kenyataan ekonomi global, kita menyaksikan munculnya kekuasaan tak terlihat yang mengendalikan data, utang, energi, dan nilai. Hegemoni global AS dibangun bukan hanya melalui senjata, tetapi melalui investor confidence, ESG, dan institusi yang menjanjikan stabilitas.

Kapitalisme hari ini bukanlah sekadar sistem ekonomi, melainkan arsitektur kekuasaan global. Dan dolar AS bukan hanya alat tukar, melainkan simbol dari tatanan dunia yang mengatur siapa berdaulat, siapa tunduk, dan siapa dikorbankan.

REFERENSi

Cox, R. W. (1987). Production, Power, and World Order: Social Forces in the Making of History. Columbia University Press. Stiglitz, J. E. (2002). Globalization and Its Discontents. W. W. Norton & Company. Woods, N. (2006). The Globalizers: The IMF, the World Bank, and Their Borrowers. Cornell University Press. Gaddis, J. L. (2005). The Cold War: A New History. Penguin Press. Shaffer, G. C. (2003). Defending Interests: Public-Private Partnerships in WTO Litigation. Brookings Institution Press. Harvey, D. (2005). A Brief History of Neoliberalism. Oxford University Press.

Bayat, A. (2013). Life as Politics: How Ordinary People Change the Middle East. Stanford University Press. Chomsky, N. (2010). Hopes and Prospects. Haymarket Books. Pistor, K. (2020). The Code of Capital: How the Law Creates Wealth and Inequality. Princeton University Press. UNCTAD. (2021). Trade and Development Report 2021: From Recovery to Resilience. Schwarcz, S. L. (2021). “ESG and Systemic Risk,” Northwestern University Law Review, 116(2), 371-398. Blas, J., & Farchy, J. (2021). The World for Sale: Money, Power and the Traders Who Barter the Earth’s Resources. Oxford University Press.

Tooze, A. (2018). Crashed: How a Decade of Financial Crises Changed the World. Viking. Bullough, O. (2018). Moneyland: Why Thieves and Crooks Now Rule the World and How to Take It Back. Profile Books. Kaya, A. (2015). The IMF and the Politics of Financial Globalization.” Political Studies Review, 13(1), 53–63. Eichengreen, Barry. Exorbitant Privilege: The Rise and Fall of the Dollar (2011). Steil, Benn. The Battle of Bretton Woods (2013). Hudson, Michael. Super Imperialism: The Economic Strategy of American Empire (2003).

Stiglitz, Joseph. Globalization and Its Discontents (2002). Mitchell, Timothy. Carbon Democracy (2011). Pozsar, Zoltan. Shadow Banking (IMF Working Paper, 2014). Cooley, Alexander & Nexon, Daniel. Exit from Hegemony (2020). Raghuram Rajan. Fault Lines: How Hidden Fractures Still Threaten the World Economy (2010). Galbraith, James K. The End of Normal (2014). Javier Blas dan Jack Farchy (2021). The World for Sale.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Satu tanggapan untuk “Siapa penguasa dunia?”

  1. USA menjepit kita layaknya rentenir

    Suka

Tinggalkan Balasan ke MKGinting Batalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca