
London.
Angin musim dingin menyusup dari celah jendela. Tapi kehangatan tetap terasa di dalam Ritz Restaurant. Tempat itu selalu punya cara membuat siapa pun merasa seolah mereka bangsawan—dengan dinding berlapis emas, tirai berat bergelombang anggun, dan suara denting sendok teh di cangkir porselen.
Aku duduk di kursi sudut yang menghadap ke Green Park, menunggu seseorang yang sudah lama tidak kutemui. Tehku belum kusentuh. Ketika pelayan datang membetulkan letak serbet di pangkuanku, aku hanya tersenyum. Mataku menatap pintu masuk, dan tak lama kemudian, dia muncul.
Dia datang dengan angin London yang menggulung pelan di balik tubuhnya. Rambutnya tersisir rapi, di balik long coat nya dia mengenakan blazer hitam, syal merah muda melingkar ringan di lehernya, dan rok panjang biru tua yang menjuntai anggun. Alice.
“Aku tidak menyangka kau akan datang tepat waktu,” kataku sambil berdiri menyambutnya.
“Kau tahu aku,” jawabnya. “Waktu bukan hanya kesopanan, tapi juga strategi.”
Dia duduk, menyilangkan kaki, dan meletakkan tas kulitnya di sebelah kursi. Senyumnya seperti biasa: profesional, namun cukup hangat untuk membuat siapa pun lengah.
Kami memesan makanan ringan. Aku memilih sup jamur dan roti panggang, dia seperti biasa memilih teh Assam dan potongan salmon kecil.
“Sudah berapa lama sejak terakhir kita bertemu?” tanyaku sambil menyendok sup.
“Empat tahun, sejak seminar itu di King’s College,” jawabnya. “Kau duduk di belakang, dan baru menyapaku saat keluar ruangan.”
“Dan setelah itu kita hanya bertukar email. Sampai minggu lalu kau kirim file misterius itu.” Kataku.
Dia tersenyum, mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah map berwarna hitam. Dia meletakkannya pelan di atas meja.
“Buka saja,” katanya. “Isinya ringkas.”
Aku membuka map itu. Di dalamnya hanya beberapa halaman, penuh dengan diagram, istilah teknis, dan peta jaringan.
“Software?” tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari kertas.
“Bukan sembarang software,” jawabnya. “Kami menyebutnya Sigmaware.”
Aku menatapnya. “Nama yang… terdengar seperti sistem persenjataan.”
“Karena pada dasarnya memang begitu,” katanya. “Kami merancang perangkat lunak ini untuk membaca data yang tidak terstruktur—bukan tabel dan angka seperti di Excel, tapi email, memo, pesan instan, notulen rapat. Apa pun yang secara alami muncul dalam komunikasi manusia.”
Aku mengangguk pelan. “Lalu?”
“Dari data itu, sistem bisa memetakan pola perilaku. Siapa bicara dengan siapa. Tentang apa. Dalam emosi seperti apa. Bahkan bisa menangkap niat.”
Aku meletakkan map itu. “Jadi intinya, ini mesin untuk membongkar rahasia?”
“Bukan membongkar. Membaca. Dan menafsirkan.”
Dia berhenti sebentar, menyesap tehnya. “Kalau digunakan dengan bijak, software ini bisa jadi alat yang luar biasa untuk riset pasar, investigasi fraud, atau bahkan analisis politik tingkat tinggi.”
“Dan kalau tidak bijak?”
Alice menatapku lekat. “Maka ia bisa memantau siapa saja. Termasuk CEO, hakim, politisi, bahkan Presiden.”
Sunyi sejenak. Hanya terdengar pelayan yang menuangkan teh di meja sebelah. Aku menghela napas. “Kau tahu, Alice , aku tidak datang jauh-jauh ke sini hanya untuk teh dan dongeng sains.”
“ Elit bisnis tidak butuh dongeng, aku tahu,” jawabnya sambil tersenyum. “Tapi kau akan tertarik dengan orang-orang yang akan kau temui nanti.”
“Siapa?”
“Tim Sigmaware. Mereka sedang di London. Dan mereka ingin bertemu langsung denganmu. Untuk menjelaskan visinya.”
Aku menyandarkan punggung ke kursi. “Kalau aku tak tertarik?”
“Kau akan tetap tertarik. Karena software ini adalah mata ketiga. Dan di era seperti ini, siapa yang punya mata ketiga… menang.”
Aku menatapnya dalam. Kalimatnya terlalu dramatis, tapi entah mengapa terasa benar.
“Baik. Di mana kita bertemu mereka?”
“Rivoli Bar. Masih di Ritz. Pukul tiga.”
Aku mengangguk. “Tapi satu hal harus kau ingat.”
“Apa?”
“Aku tidak pernah membeli mimpi. Aku membangun nilai.”
Alice tersenyum. “Kau belum berubah.”
***
Jam dinding di Ritz berdetak pelan menuju pukul tiga. Aku dan Alice berjalan menyusuri koridor panjang menuju Rivoli Bar, tempat yang memadukan keanggunan era art deco dengan suasana eksklusif kaum aristokrat yang enggan terlihat mencolok.
“Kau gugup?” tanyaku sambil membukakan pintu untuknya.
“Tidak,” jawab Alice . “Tapi mereka mungkin ya.”
Kami mengambil tempat di pojok ruangan, di dekat jendela. Cahaya London musim dingin menembus tirai tipis, menambahkan efek dramatis pada pertemuan yang belum dimulai.
Lalu tiga orang masuk. Dua pria, satu wanita. Semuanya berpakaian formal, tapi tidak berlebihan. Wajah-wajah cerdas, usia antara empat puluhan. Mereka menyalami kami satu per satu.
“Max,” kata pria berkacamata bulat yang tampak seperti profesor matematika.
“Dan saya Ellen,” ucap si wanita dengan suara ringan, namun tegas.
“Kami dengar banyak tentang Anda,” kata pria ketiga yang tak menyebutkan namanya, hanya meletakkan map di meja.
“Aku juga mendengar cukup banyak,” jawabku, santai. “Jadi, siapa yang ingin mulai?”
Max menarik napas. “Kami tak ingin membuat Anda bosan dengan presentasi PowerPoint.”
“Bagus,” potongku cepat. “Aku juga tidak bawa remote presentasi.”
Mereka tertawa. Tegangan di meja seketika mengendur.
“Kami membangun Sigmaware bukan untuk menciptakan produk,” kata Ellen pelan. “Kami membangun kerangka kerja untuk membaca dunia.”
“Kerangka kerja?” ulangku.
“Bayangkan dunia sebagai percakapan. Ribuan, jutaan orang bicara setiap detik—di email, WhatsApp, Telegram, Slack, dan lainnya. Percakapan itu menyimpan motif, strategi, bahkan niat tersembunyi. Sigmaware membaca semuanya, menghubungkan titik-titik itu, dan menyusun narasi tersembunyi.”
“Bukan seperti Google?” tanyaku.
Max menggeleng. “Google mencari kata. Kami mencari makna. Kami tidak hanya membaca teks, tapi konteks.”
“Contoh?” Aku mulai serius.
Ellen menjawab, “Jika CEO sebuah perusahaan mulai menghindari kata ‘revenue’ dalam percakapan internal, dan banyak memakai kata ‘survive’, sistem akan menandai itu. Ia lalu mencocokkan pola serupa di industri yang sama, memperkirakan potensi restrukturisasi. Bahkan sebelum laporan keuangan keluar.”
Aku diam sejenak. Lalu bertanya pelan, “Apakah kalian tahu apa yang sedang kalian mainkan?”
Max tersenyum. “Kami tahu. Karena itu kami datang ke Anda. Kami ingin membangun value, bukan menjual ide.”
Aku menyandarkan tubuh ke kursi. “Cerdas.”
“Tapi,” lanjutku, “50% dari yang kalian sampaikan masih asumsi. Sisanya? retorika yang dibungkus mimpi. Dan aku tidak membeli mimpi.”
“Kami tahu,” kata pria ketiga yang dari awal hanya diam. “Tapi kami juga tahu, Anda adalah satu-satunya yang bisa membantu kami mengubahnya jadi nyata.”
Aku menatap Alice sejenak. Dia hanya mengangguk.
“Baiklah,” kataku. “Mari kita luruskan ini. Aku tidak akan mendanai operation cost kalian. Bukan bayar gaji, bukan sewa kantor, bukan maintenance server. Aku hanya akan bantu bangun value yang bisa dikapitalisasi.”
Mereka mendengar dengan seksama.
“Dan value itu,” lanjutku, “dimulai dari rumah. Software ini tak ada artinya tanpa rumah, tanpa infrastruktur. Kita perlu akuisisi gateway internet, data center, dan F/O. Setelah itu, baru kita hitung valuasi Sigmaware.”
“Berarti…” Max menunjuk map kosong di mejanya. “Kita bicara akuisisi besar-besaran?”
Aku mengangguk. “Ya. Tapi bukan dengan uangku.”
Suasana sejenak hening. Mereka saling pandang.
“Jadi,” kata Ellen akhirnya, “kami tidak terlibat sama sekali dalam utang yang Anda create lewat produk hedge fund itu?”
“Tidak sama sekali.”
Max tersenyum. “Ini luar biasa.”
“Tidak. Ini logis,” kataku sambil berdiri. “Tapi hanya jika kita jalankan dengan satu syarat: jangan ada kebohongan dalam angka. Jangan ada retorika dalam eksekusi. Aku tidak mainkan dunia startup. Aku bangun bisnis yang bisa dibeli oleh raksasa.”
“Deal,” kata Max sambil menjabat tanganku.
“Kita bahas detailnya besok di kantor kalian,” tambahku. “Bawa semua data. Termasuk kebutuhan infrastruktur, laporan keuangan, dan rencana ekspansi.”
“Baik.”
Alice tersenyum padaku.
Kita melangkah keluar dari Rivoli Bar seperti dua jenderal yang baru menyusun taktik perang.
***
Pagi berikutnya, langit London masih kelabu. Aku dan Alice menaiki taksi hitam ke arah timur menuju Docklands. Di kejauhan, gedung-gedung kaca berdiri seperti sumbu lilin di tengah dingin yang pekat. London memang selalu seperti itu: dingin, sibuk, tapi tak pernah kehilangan wibawa.
“Kau yakin tentang mereka?” tanya Alice , matanya menatap keluar jendela.
“Tidak,” jawabku jujur. “Tapi aku yakin pada peluang yang bisa dipoles.”
Dia tersenyum. “Kau tak pernah mencari kepastian, ya?”
“Kepastian hanya ada di penguburan,” kataku. “Dalam bisnis, yang penting adalah struktur dan narasi.”
Kami tiba di kantor Sigmaware—sebuah bangunan bergaya industrial di dekat kanal. Tidak mewah, tapi fungsional. Interiornya bersih, penuh layar dan peta jaringan data. Di meja-meja kerja, belasan staf muda duduk dalam diam, seperti para biarawan digital yang sedang membangun sesuatu yang lebih besar dari mereka sendiri.
Ruang meeting sudah disiapkan. Max menyambut kami bersama Ellen dan dua orang baru dari tim teknologi.
Presentasi dimulai. Mereka menunjukkan arsitektur teknis dari Sigmaware: cara kerja parser semantik mereka, engine pembelajaran bahasa alami, dan bagaimana mereka membangun relasi antar-entitas dalam jaringan komunikasi global.
Aku mencatat, mendengar, dan sesekali mengajukan pertanyaan. Tapi aku tahu, fase teknis hanya permukaan. Permainan sesungguhnya ada di belakang layar: ekuitas, leverage, dan kontrol.
Setelah satu jam, aku letakkan pulpen. “Cukup untuk sekarang,” kataku. “Sekarang kita bicarakan hal yang sebenarnya.”
Max menutup laptop. “Silakan.”
Aku keluarkan dua lembar kertas dari map. “Ini daftar target akuisisi.”
Mereka membacanya cepat. Di sana tertera nama-nama perusahaan: operator jaringan tier-1 di Eropa Timur, penyedia gateway terenkripsi di Belanda, dan satu pusat data di Finlandia yang dikenal paling stabil secara politik dan iklim.
“Software kalian butuh rumah,” kataku. “Aku ingin kita akuisisi rumahnya. Lalu kita isi dengan engine kalian. Itu baru value.”
Ellen menatapku. “Berapa besar investasi ini?”
“Bullion USD something. Bergantung pada negosiasi dan leverage vendor.”
Max tampak kaget. “Kami bahkan tak bisa membayangkan angka segitu.”
“Kalian tak perlu membayangkannya,” jawabku. “Karena aku akan danai semua.”
“Dari mana?” tanya Ellen.
“Mutual fund. Private placement. Aku bentuk hedge fund khusus. Aku jual ke investor institusi dengan diskonto 20% dari face value. Tanpa bunga. Zero coupon. Tiga tahun nanti, aku buy back 100%.”
Mereka terdiam. Hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak.
“Dengan begitu,” lanjutku, “aku dapat dana murah. Dan kalian dapat infrastruktur.”
“Dan kau ambil bagian sebagai pemilik?” tanya Max.
“Melalui SPV. SPVC namanya. Aku ambil 20% saham dari valuasi exit kalian. Sisanya milik kalian. Tapi jalan, akses, dan pintu belakang—punyaku.”
Ellen menatapku serius. “Dan jika produk hedge fund itu gagal terjual?”
Aku mengangguk pelan. “Maka kita semua tetap di titik ini. Tapi percaya padaku… narasi seperti ini, di tahun 2011, akan lebih seksi dari investasi emas.”
Max tersenyum. “Aku mulai percaya kenapa banyak bankir takut padamu.”
Aku balas senyumnya. “Karena aku tidak pernah bermain dengan kartu penuh. Tapi aku selalu pastikan lawanku ikut menang, agar aku bisa keluar lebih dulu.”
“Kapan kamu akan mulai?” tanya Ellen.
“Hari ini juga. Aku punya tim di Zurich. Mereka akan bentuk entitas legal dan buat struktur fund. Alice akan jadi penghubung. Dan kalian… siapkan dokumen, due diligence, dan kebutuhan infrastruktur detail. Jangan beri aku angka yang tidak bisa diaudit.”
“Kau ingin business plan?” tanya Max.
Aku menunjuk dua lembar kertas tadi. “Itu business plan-nya. Sederhana, tajam, dan bisa dieksekusi.”
Mereka tertawa. Bukan karena lucu, tapi karena sadar: mimpi yang semalam mereka simpan di slide presentasi, hari ini sedang berubah menjadi bangunan konkret.
Alice mendekat saat kami turun lift.
“Kau gila,” katanya sambil menyikut lenganku.
“Aku tahu.”
“Dan mereka akan menurut padamu?”
“Bukan karena takut. Tapi karena ini satu-satunya jalan bagi mereka keluar dari status ‘startup kecil’.”
“Kau sadar kan, dengan strategi ini, kamu juga sedang membangun mata-mata global dalam bentuk paling elegan?”
Aku menatapnya sejenak. “Bukan mata-mata. Hanya jendela. Dan semua orang akan membayar mahal untuk bisa mengintip lewat jendela itu.”
***
Zurich, tiga minggu kemudian.
Langit Eropa seperti biasa, menggantung kelabu dengan salju tipis yang belum sempat turun. Dari jendela ruang meeting di Bahnhofstrasse, aku menatap trotoar basah, penuh jejak sepatu para banker yang bergerak dalam ritme yang tak pernah berubah.
Di dalam ruangan, meja kayu besar dipenuhi kertas legal, akta perusahaan, bagan SPV, dan laporan valuasi aset.
“SPVC sudah jadi,” lapor Felix, direktur trust fund dari kantor hukum yang kutugaskan. “Kita pakai model Luxembourg—struktur tiga lapis dengan trustee Swiss, tapi beneficial owner tetap Anda.”
Aku mengangguk.
“Entitas hedge fund akan bernama Sigma Future Fund,” tambahnya. “Target raise Bullion USD somthing. Disusun dalam tranche private placement. Kita tawarkan ke sovereign fund, family office, dan dua fund of funds yang Anda sebut kemarin.”
Alice duduk di sebelahku, menyisir dokumen dengan mata elang. Sekarang ia tak lagi sekadar penghubung, ia menjelma menjadi direktur compliance untuk semua proyek Sigmaware.
“Ada satu hal lagi,” katanya tanpa menoleh. “Aku butuh verifikasi hukum atas vendor yang akan kita akuisisi. Jangan sampai ada konflik kepemilikan lintas negara.”
“Sudah aku minta tim di Hong Kong cek beneficial owner mereka,” jawabku. “Kita main bersih. Tapi bukan berarti kita main lambat.”
***
London, minggu berikutnya.
Max dan Ellen sudah menunggu di ruang pertemuan. Tumpukan file tebal terlihat di atas meja.
“Kami telah siapkan semua daftar kebutuhan infrastruktur,” kata Max. “Kami bagi menjadi tiga fase: connectivity, storage, dan security.”
Aku menatap daftar itu, membaliknya cepat.
“Yang gateway kamu dapatkan di Belanda?” tanyaku.
Ellen mengangguk. “Operator tier-1. Mereka butuh dana untuk ekspansi. Sangat terbuka untuk diakuisisi.”
“Pusat data Finlandia?” tanyaku lagi.
“Sudah kita hubungi. Mereka siap negosiasi, dengan syarat kendali operasional tetap di tangan mereka.”
“Bisa dinegosiasikan,” jawabku.
Alice menambahkan, “Untuk backbone fiber ke Asia, aku sedang bicara dengan dua vendor di Baltik. Kita akan masukkan sebagai fase dua.”
Aku menyandarkan tubuh ke kursi. “Bagus. Sekarang, kalian harus mengerti satu hal.”
Aku menatap mereka satu per satu.
“Perangkat lunak itu—Sigmaware—adalah otak. Tapi yang kita bangun sekarang adalah tulangnya, darahnya, bahkan kulitnya. Kita bukan jual teknologi. Kita jual sistem. Dan sistem itu harus berdiri di tanah kita sendiri.”
Max mengangguk. “Kau ingin integrasi vertikal.”
“Ya. Bukan karena ego. Tapi karena hanya itu cara untuk menjamin kontrol. Kalau kita sewa server dari pihak ketiga, suatu hari mereka bisa menutup kita. Tapi kalau kita punya semuanya, tak akan ada yang bisa tarik kabel kita.”
Ellen menatapku dengan mata yang menyala. “Kita sedang membangun negara digital.”
“Bukan negara. Tapi istana. Dan hanya sedikit yang tahu pintu masuknya.”
Mereka terdiam. Tapi aku tahu, benih ambisi sudah tumbuh di dalam kepala mereka.
***
Tiga akuisisi berhasil diselesaikan. Gateway Belanda, pusat data di Finlandia, dan satu vendor jaringan kecil di Baltik resmi menjadi bagian dari SPVC.
Struktur ini disembunyikan rapi dalam jaringan holding yang terikat trust dan nominee. Tak ada yang terlihat dari luar selain nama legal dan kepemilikan umum. Tapi di dalamnya, semua jalur terkunci padaku.
Investor hedge fund masuk bergelombang. Kami hanya butuh waktu lima bulan untuk mengamankan seluruh dana dalam dua tranche.
Laporan media yang kami siapkan melalui konsultan komunikasi kelas dunia—bernama Strategic Signal—berhasil membentuk persepsi yang kami butuhkan: bahwa Sigmaware adalah masa depan keamanan siber, governance digital, dan ekonomi informasi yang lebih bersih.
“Ini gila,” bisik Max saat kami menandatangani dokumen terakhir.
“Tidak,” jawabku. “Ini arsitektur.”
***
Malam itu di apartemen Alice , kami duduk di dekat jendela sambil menyesap wine merah dari Italia.
“Kau tahu,” katanya pelan, “software ini awalnya hanya proyek kampus. Kami tak pernah membayangkan…”
Aku menatapnya. “Kalian membangun kunci. Tapi tidak tahu akan membuka pintu ke mana.”
Dia tertawa. “Dan kau membawanya ke ruang kontrol.”
Aku diam sejenak, lalu bertanya, “Alice , kau tidak takut?”
“Takut apa?”
“Kalau software ini suatu hari digunakan bukan untuk efisiensi, tapi untuk dominasi?”
Dia tersenyum kecil. “Yang paling ditakuti bukan software-nya, tapi siapa yang pegang dashboard-nya. Dan sejauh ini… itu kamu.”
Aku tak menjawab. Hanya memandang lampu kota London dari ketinggian. Semua tampak indah. Tapi aku tahu, keindahan itu bukan milik semua orang.
***
Dalam bisnis, waktu adalah ilusi. Tapi nilai adalah kenyataan.
Sejak kami menyelesaikan akuisisi infrastruktur, Sigmaware seperti bergerak dengan tenaga yang tak lagi bisa dihentikan. Tim Max mulai menandatangani kontrak dengan lembaga negara, perusahaan energi, dan bank multinasional.
Setiap klien ingin satu hal: informasi.
Informasi yang tidak mereka miliki. Atau lebih tepatnya, tidak berani mereka cari sendiri.
***
Di ruang konferensi Hong Kong, layar besar menampilkan peta komunikasi digital lintas negara. Sistem Sigmaware memetakan hubungan tak kasat mata antar pejabat negara dan pengusaha, berdasarkan kata kunci seperti “subsidi”, “perpanjangan izin”, “kompensasi”, dan “menjaga citra publik”.
Max menjelaskan fitur baru: adaptive narrative engine—mesin yang bisa menyusun narasi berdasarkan pola data mentah.
“Kami bisa memprediksi kapan krisis akan terjadi,” katanya, menunjuk grafik yang bergelombang tajam. “Bahkan sebelum pasar mengetahuinya.”
Seorang eksekutif dari sovereign fund Singapura yang hadir langsung berseru, “Ini seperti Bloomberg, tapi dengan kaca pembesar moral.”
Aku tersenyum tipis. Moral? Tidak. Ini kaca pembesar kekuasaan.
***
Pada tahun kedua, kita mulai menjual lisensi ke Asia dan Afrika.
Alice menelponku dari Nairobi. “Mereka ingin gunakan Sigmaware untuk melacak korupsi. Tapi sejujurnya, mereka lebih tertarik pakai untuk memata-matai oposisi.”
“Kau sudah tahu jawabanku, kan?”
Dia tertawa. “Ya. Kita jual teknologi. Etikanya urusan mereka.”
Persis.
***
Di Zurich, Alice menyerahkan laporan lengkap dari Strategic Signal, tim konsultan komunikasi global yang kami bayar mahal untuk satu hal: membentuk persepsi.
Mereka mempublikasikan whitepaper tentang digital transparency, menggelar konferensi virtual tentang masa depan data governance, dan menyisipkan artikel-artikel di media seperti The Economist dan MIT Tech Review, semua disponsori anonim melalui jaringan yayasan.
“Sekarang semua percaya Sigmaware bukan hanya software,” kata Alice bangga. “Tapi simbol dari era baru.”
Aku hanya mengangguk. Karena dalam pikiranku, aku tahu fase ini akan segera selesai.
***
Aku menerima panggilan dari Boston.
Suara di ujung telepon memperkenalkan diri dengan sopan. Dia dari HedoPlace—ya, HP. Raksasa teknologi Amerika. Mereka sedang mencari software yang bisa dikembangkan untuk platform enterprise mereka.
“Kami mendengar tentang Sigmaware,” katanya. “Dan kami tertarik.”
Aku tidak langsung jawab. Aku minta mereka kirim proposal, lengkap dengan valuasi dan rencana integrasi.
Dua bulan kemudian, kami bertemu di Swiss. HP datang membawa tim akuisisi lengkap. Negosiasi berjalan cepat. Mereka ingin membeli 60% saham Sigmaware untuk USD 11 miliar.
Max gemetar saat membaca angka itu. Ellen menutup wajahnya dengan tangan. “Kami cuma ilmuwan,” katanya pelan. “Kami bahkan tak tahu harus berbuat apa dengan uang sebanyak itu.”
Aku menepuk bahu mereka. “Kalian membangun mesin waktu. Wajar dibayar mahal.”
***
Transaksi selesai. HP transfer dana sebesar USD 11 miliar ke holding SPVC.
Aku menerima bagian sesuai struktur awal: 20% dari total exit—yakni USD 2,2 miliar. Dari uang itu, aku langsung melakukan buy-back terhadap mutual fund yang kami terbitkan tiga tahun lalu. Total nilai: USD 1 miliar.
Investor puas. Return mereka 25% per tahun dalam bentuk capital gain.
Sisanya?
Margin bersih yang kuterima: USD 1,2 miliar.
***
Malam itu aku dan Alice duduk di teras kecil apartemenku di Zürich. Angin musim semi belum benar-benar hangat. Tapi kelegaan memenuhi udara.
“Aku tidak percaya,” katanya. “Kita benar-benar sampai di sini.”
Aku menatap langit gelap. “Ini baru permulaan.”
“Kau akan buat Sigmaware lagi?” tanyanya pelan.
“Tidak,” jawabku. “Satu sudah cukup. Tapi aku akan bangun sesuatu yang lebih besar. Bukan hanya membaca percakapan orang. Tapi mengendalikan arah komunikasi global.”
Dia mengerutkan kening. “Kau ingin jadi raja dunia?”
“Bukan,” kataku sambil menatapnya. “Aku ingin jadi arsitek sistemnya. Raja bisa digulingkan. Tapi yang membangun peta, tetap abadi.”
Dia tertawa. “Kau selalu punya cara membuat sesuatu yang dingin terdengar puitis.”
Aku tidak menjawab. Aku hanya tahu satu hal: Sigmaware sudah selesai. File ditutup.
Tapi dunia baru saja terbuka.
***
Musim panas di Inggris Utara punya caranya sendiri memanggil kenangan. Langit tidak lagi kelabu, tapi juga belum benar-benar biru. Udara menyimpan kelembutan yang jarang—seperti seseorang yang telah memaafkan tapi belum lupa.
Kami duduk di sebuah bangku kayu di tepi bukit Yorkshire. Hamparan rumput memanjang sampai ke kaki langit. Di kejauhan, laut terlihat seperti guratan perak yang tak bergerak. Angin menyisir rambut Alice pelan-pelan.
“Ini tempatku setiap aku ingin ingat rumah,” katanya.
Aku mengangguk. “Tenang.”
“Tidak. Ini bukan ketenangan. Ini… semacam jarak.”
“Jarak dari apa?”
“Dari ambisi, dari kekuasaan, dari uang. Dari semua yang kita bangun selama tiga tahun terakhir.”
Aku menatap langit senja yang mulai menggaris oranye.
“Kau suka senja?” tanyanya.
Aku tersenyum tipis. “Tidak pernah memikirkannya.”
“Kau serius?”
“Senja terlalu romantis untuk hidupku yang penuh spreadsheet.”
Dia tertawa. “Kau tak pernah bermain di pantai waktu kecil? Lari mengejar ombak, lalu duduk diam saat langit mulai merah?”
“Tidak. Pantai tempatku tumbuh penuh lumpur dan bau solar.”
Alice diam sejenak. Lalu pelan-pelan berkata, “Senja itu bukan tentang warna langit. Tapi tentang jeda. Antara terang dan gelap. Antara pergi dan tinggal.”
Aku mengangguk. Tapi di hatiku, aku tidak yakin mengerti sepenuhnya.
“Kalau begitu,” kataku, “buatkan aku video senja yang paling indah.”
Dia tertawa kecil. “Video itu tidak hidup. Semua sudah direkam, sudah dipotong, sudah diberi musik. Tidak ada yang benar-benar utuh.”
“Lalu, di mana kau bisa melihat senja yang utuh?”
Alice menunjuk ke depan. “Di sini. Di bukit ini. Dari rumah orangtuaku. Dulu, waktu aku masih sekolah, aku suka duduk di sini. Kadang aku membayangkan jadi awan. Kadang jadi burung.”
Aku memandangi langit. Burung-burung tampak terbang menuju barat, perlahan, beriringan.
“Seolah mereka tahu ke mana pulang,” kataku pelan.
“Dan tahu bahwa rumah mereka ada di ujung cahaya.”
Kami duduk diam. Tidak ada yang perlu dibicarakan. Dan mungkin, untuk pertama kalinya, kami merasa tidak perlu jadi siapa-siapa.
Kami kembali ke penginapan kecil yang disewa Alice . Sebuah rumah batu tua, dengan taman lavender dan dinding-dinding penuh buku. Dia menyeduh teh, dan kami duduk di ruang baca yang hangat.
“Aku selalu membayangkan hidup yang tenang seperti ini,” katanya. “Tidak ada tekanan. Tidak ada klien. Tidak ada angka.”
“Tapi kau pilih sebaliknya.”
Dia tersenyum. “Karena aku menemukan panggung. Dan di panggung itu… kau muncul.”
Aku menatap cangkir tehku. Uapnya mengambang perlahan.
“Alice ,” kataku pelan, “aku senang kau ada di tim. Tapi setelah ini, kita harus jaga jarak. Kita sudah bukan lagi sekadar dua orang yang bicara soal ide. Kita sudah masuk ke teritori yang lebih luas. Dan lebih berbahaya.”
Dia diam. Lalu mengangguk pelan.
“Karena itu aku ingin kita duduk di sini hari ini,” katanya. “Bukan sebagai pelaksana proyek, bukan sebagai pemilik saham, tapi hanya sebagai dua orang yang pernah punya cerita yang sunyi.”
“Cerita yang tidak bisa dimasukkan ke dalam proposal bisnis.”
“Ya,” katanya. “Dan tidak perlu ada NDA-nya.”
Kami tertawa kecil. Kemudian hening kembali.
Waktu lewat. Tapi kali ini, kami biarkan saja ia lewat—tanpa jam tangan, tanpa kalender, tanpa target IRR. Malam itu kami berlayar di danau yang tenang. Esok paginya, sebelum matahari terbit, aku bersiap kembali ke Swiss.
Alice mengantarku sampai ke stasiun kecil di ujung desa. Kabut masih menggantung di antara pepohonan.
“Satu hal terakhir,” katanya sebelum aku naik kereta.
“Apa?”
“Kalau suatu hari nanti dunia berubah dan semua data jadi senjata, aku harap kamu tetap jadi orang yang tahu kapan harus melepaskan.”
Aku menatap matanya. Tak ada senyum, hanya harapan yang bersandar pada rasa percaya.
“Kalau aku lupa,” kataku, “tolong ingatkan.”
“Selalu.”
Kereta bergerak perlahan. Aku melihatnya berdiri di peron, menghilang ditelan kabut. Senja memang tidak muncul pagi hari. Tapi pagi itu, aku merasa telah meninggalkan sesuatu yang tak bisa kubawa pulang: jeda.
Dan di dunia kami yang terus berlari, jeda adalah kemewahan yang paling langka.
***
Zurich, akhir 2013.
Pagi itu, Alice masuk ke ruang kerjaku dengan wajah serius. Tak seperti biasanya, ia tak membawa map atau dokumen. Hanya koran cetak yang sudah dilipat dua. Aku hanya tersenyum. Bukan urusan kami. Kami sudah exit lama. Saat kami lepas sigmaware, semua clean. Yang bermasalah, pihak setelah kami, yang terlalu rakus memanfaatkan sentimen pasar.
“Baca ini,” katanya, meletakkannya di mejaku.
Judulnya menonjol di halaman depan:
“Otoritas Inggris Mulai Investigasi Sigmaware: Tuduhan Manipulasi Akuntansi dan Overvaluation”
Aku membaca cepat. Isinya bukan hal baru. Tuduhan klasik: valuasi yang dianggap terlalu tinggi, transfer pricing antara entitas SPV, dan penggunaan dana hedge fund yang “tidak transparan.”
“Siapa yang buka data ini?” tanyaku sambil tetap membaca.
“Orang dalam dari HP,” jawab Alice . “Mereka terdesak. Saham mereka jatuh setelah akuisisi Sigmaware diumumkan. Para pemegang saham minta penjelasan atas harga akuisisi.”
Aku meletakkan koran itu. “Berapa lama sampai ini menjadi resmi?”
“Sudah. Surat panggilan pemeriksaan dikirim ke kantor pusat kita di London.”
Aku berdiri, berjalan ke jendela.
“Jadi sekarang semuanya akan ditelanjangi?”
“Belum tentu,” kata Alice . “Tapi akan ada tekanan dari media, dari regulator, dan dari rival yang sudah lama tak suka pada kita.”
Aku diam. Memandangi salju yang mulai turun tipis.
***
Dua minggu kemudian, kantor Sigmaware di London disegel. Komputer disita. Server dibekukan. Beberapa direktur dipanggil untuk diperiksa. Max sendiri menelponku dari tempat tinggalnya di Lisbon.
“Aku tak pernah bayangkan ini akan sejauh ini,” katanya dengan suara berat. Aku hanya tersenyum. Dia pikir bisa copy paste jalanku untuk dapatkan value dari harga saham di bursa. Dunia hedge fund, dunia ide dan persepsi. Itu dibangun dari agenda. Yang tak diajarkan di Kampus.
“Ini hanya bagian dari permainan,” jawabku. “Kita sudah terlalu besar untuk tidak mengganggu yang lain.”
“Aku hanya ingin membangun alat yang berguna,” katanya. “Bukan mesin yang membahayakan.”
“Alat itu berguna,” kataku. “Tapi gunanya tidak hanya untuk satu tangan.”
***
Tahun 2023.
Langit malam memantul sempurna di permukaan kaca Marina Bay Sands. Angin tropis meniup pelan, membawa aroma asin dari pelabuhan dan kilauan lampu dari kapal-kapal yang terus bergerak.
Aku melangkah masuk ke rooftop bar, tempat kami pernah bertemu beberapa tahun lalu. Kini, suasananya lebih ramai, tapi ingatanku tetap tajam: sofa di sisi barat, cahaya lampu gantung berwarna tembaga, dan satu kursi di pojok menghadap Marina Bay.
Di sanalah dia duduk. Alice .
Ia melambai ringan. Tubuhnya tegak, rambutnya lebih pendek dari terakhir kali kulihat. Tapi sorot matanya tetap sama: tenang, tapi menyimpan badai yang belum tumpah.
“I missed you,” katanya sambil memelukku singkat.
“Aku tak menginap,” kataku cepat. “Setelah makan malam, aku langsung ke bandara.”
Dia mengangguk, lalu membuka tablet kecil dari tasnya.
“Langsung ke inti,” katanya, seolah tahu aku tak ingin nostalgia. “ Aku dapat info dari Eropa Timur: seorang mantan pemegang saham minoritas Sigmaware, warga negara Rusia, membawa sebagian source code dan sistem backend ke Moskow. Dengan bantuan lembaga yang diduga berafiliasi dengan intelijen, dia mendirikan platform baru, mirip Sigmaware, tapi lebih rahasia, lebih agresif, dan lebih gelap. “ Kata Alice.
“ Dia perlihatkan dari gadget nya. Di layar, ia menampilkan sebuah foto. Dua orang pria, duduk di ruang konferensi. Di sudut atas foto, tertulis: Moscow, 2019. “ Salah statu pria itu adalah kamu”. Kata Alice dingin.
Aku tidak bereaksi.
“ Sistem baru bernama Oktagon digunakan untuk memetakan komunikasi internal elite politik di negara-negara berkembang, dan hasilnya digunakan untuk pemerasan politik.
“Modelnya seperti ini,” kata Alice “ Mengumpulkan data pribadi, percakapan gelap, urusan korupsi, affair, dan transaksi gelap. Lalu disodorkan pilihan: tunduk, atau hancur.”
Aku hanya diam. Alice menatapku dengan wajah yang sulit diterjemahkan. Ada rasa kecewa, ada kemarahan, dan ada yang lebih dalam—kekecewaan terhadap sistem yang tak pernah bisa menjaga sesuatu tetap bersih.
“Ini dia,” kata Alice . “Pemegang kode asli. Dialah yang membangun ulang sistem. Bukan hanya Oktagon, tapi platform lanjutan bernama Black Veil. Lebih tersembunyi, lebih luas. Dan itu adalah team shadow kamu.” “
“Sejak 2013, otoritas Eropa menyita sebagian besar aset Sigmaware. Tapi bukan kode. Kode itu sempat dibackup di server di Arkhangelsk sebelum semuanya disita. Dan sejak itu, mereka membangun ulang.”
“ Dan sekarang…” Alice menyentuh layar. Peta muncul. Titik-titik merah memenuhi wilayah Brasil, Eropa Timur, Afrika Tengah, dan Asia Tenggara.
“Mereka melayani klien sangat selektif,” jelasnya. “Bukan perusahaan, tapi kekuasaan. Para klien itu adalah aktor negara—yang ingin tahu segalanya tentang siapa yang bisa mereka tekan.”
Aku menarik napas panjang.
“Lihat saja Brasil,” kata Alice cepat. “Pemilu 2022. Kemenangan Lila selisih hanya 1%. Tapi semua tokoh oposisi diam. Para hakim diam. Tidak ada gugatan. Karena semua tahu, mereka… diawasi.”
“Diperas! Alice makin kencang suaranya. “Disandera dengan informasi. “Chat pribadi. Perselingkuhan. Kontrak gelap. Bahkan percakapan antara istri dan sopir.”
Aku memejamkan mata sejenak. Bukan karena kaget, tapi karena tahu: Alice memang cerdas.
“Di AS juga begitu,” lanjutnya. “Kemenangan Biden di 2020 lebih halus. Tapi aku punya cukup bukti bahwa sistem semacam ini dimanfaatkan untuk menganalisis dan menarget elite GOP yang bisa melemahkan gugatan Trump. Beberapa di antaranya kemudian diam… atau keluar dari sorotan.”
Aku meminta pelayan mengangkat gelas kami. Makan malam belum datang. Tapi kami sudah terlalu kenyang oleh kenyataan.
“Dan sekarang?” tanyaku. “Setelah kamu tahu semua. Apa kamu mau keluar ? dan menjauh dariku?”
Dia menatap keluar. Cahaya kota memantul di pupilnya.
“Aku ingin kamu seperti imaginasiku. Pria yang baik dan tahu memperjuangkan keadilan dengan cara bermartabat..”
Dia diam, menatap mataku. Aku menatap gelas kosongku. Lalu membuka file, dan menghapus foto yang tadi ia tunjukkan. Termasuk cache-nya. Termasuk folder ‘Deleted’.
Alice menatapku. “Kau ?” matanya melotot dan berkerut. ” Memang tidak ada satupun yang kamu percaya, bahkan kepada wanita yang pernah kamu tiduri..”
“ Kau melewati batas, Alice..”
Dia diam. Lalu berdiri.
“Aku terbang malam ini ke Swiss. Aku tidak ingin keluar. Aku akan tetap melawan ketidak adilan. Aku akan bergabung dengan tim George, menjadi team shadow kamu.”
Aku mengangguk.
Dia mengecup pipiku, ringan, seperti embun di malam tropis.
“Selamat tinggal, B,” katanya.
“Bukan selamat tinggal,” jawabku. “Hanya pindah medan.”
Dia tersenyum dan melangkah ke arah lift. Tubuhnya tegak, langkahnya mantap.
Aku tetap duduk. Memandang ke arah pelabuhan. Di dunia yang dikendalikan oleh data, kadang satu-satunya kebebasan adalah diam.

Tinggalkan Balasan ke MKGinting Batalkan balasan