
Di kota yang tak pernah benar-benar lelap, di mana suara truk datang seperti dentang takdir dan peluit pelabuhan menjerit seperti rindu yang tak terjawab. Tinggallah seorang perempuan muda bernama Lastri. Ia bukan siapa-siapa dalam daftar warisan atau silsilah kuasa. Tidak ada ijazah sarjana tergantung di dinding kamarnya, tak ada gelar akademik yang bisa menyulap namanya jadi undangan rapat. Ia hanya tamatan SMA dari kota kecil yang pelan-pelan dicerabut dari peta harapan. Sejak usia lima belas, ia hidup tanpa ayah. Sejak lama pula, ibunya hanya hadir dalam foto usang di dinding kontrakan sempit. Tapi Lastri tak pernah meminta dikasihani.
Lastri punya Doni. Mahasiswa dari kampus negeri. Dia percaya dengan cinta Doni. Dia berkeja pada perusahaan logsitik. Gaji dari kerja kerasnya lebih banyak untuk menopang biaya kuliah Doni. Tidak ada salahnya dia berkorban untuk kekasihnya. Cinta tanpa pengorbanan tidak ada maknanya.
Di balik seragam logistiknya yang lusuh sepulang kerja, ia mengantarkan makan malam ke kos Doni. Menyeterika pakaian Doni. Mengambil pakaian Doni untuk dia cuci di tempat kos nya. Semua ia lakukan tanpa banyak kata. Setiap hari. Karena bagi Lastri, pengorbanan bukan untuk dipuji melainkan untuk dijaga, seperti doa yang tidak butuh disaksikan siapa-siapa
Tugas akhir skripsi Doni butuh biaya tidak sedikit. Biaya fotokopi, ongkos perjalanan ke dosen pembimbing. Sementara uang bulanan mulai tersendat dari orang tua Doni. Semua mendesak seperti tali yang pelan-pelan melilit leher.
“Las,” kata Doni suatu sore di kamar kosnya, suaranya pelan seperti bisikan yang takut didengar dunia, “Temanku bilang… ada cara cepat.”
Lastri menatapnya dengan mata yang mulai bergetar. Ia tahu ke arah mana kalimat itu mengarah, tapi ia ingin percaya bahwa cinta tak akan segelap itu.
“Maksud Mas?”
Doni menunduk. “Ada pria. Dia bisa bantu. Sekali saja. Nanti setelah aku lulus, aku kerja, dan kita menikah. Aku akan jaga kamu, Las. Sepanjang hidupku.”
Lastri terdiam. Ia menatap Doni, mencoba melihat kembali pria yang dulu ia kenal, yang bercita-cita jadi insinyur, yang menggenggam tangannya di bawah pohon, yang bersumpah akan menulis nama mereka berdua di langit.
“Mas mencintaiku?” bisiknya lirih.
Doni mengangguk. “Dengan seluruh yang aku punya.”
Dan Lastri, dengan air mata yang tak sempat jatuh, mengangguk pelan. Menerima. Bukan karena ia bodoh. Tapi karena ia percaya. Karena dalam cinta, kadang yang berkorban tidak kalah, hanya sedang memeluk dunia yang belum sempat mengerti.
Di dalam kamar hotel setelah pria membayarnya. Lastri memandang bayangan dirinya di cermin. Gadis muda dengan mata sembab dan hati yang perlahan diremas waktu. Dan di situlah semuanya bermula. Bukan dengan jeritan. Tapi dengan kesunyian yang dalam. Seperti malam yang tidak tahu cara membedakan antara bintang dan luka. Setidaknya dengan uang itu, dia punya harapan. Kekasihnya Doni bisa menyelesaikan kripsinya. Selanjutnya ia akan di wisuda. Selanjutnya mereka menikah… Malam itu, di luar, daun-daun kering terbang bersama angin.
***
Sore itu. angin di halaman tempat kos membawa wangi daun jatuh. Lastri menemui Doni di kamar kos.
“ Las, aku sudah lulus. “ Doni mengabarkan. Lestari memeluk Doni dengan air mata berlinang. Terasa indah sekali. Perjuangan panjang selama ini membuat Doni pantas jadi Insinyur. Menjadi segelintir orang yang jadi sarjana di negeri yang mayoritas lulusan SD dan SMP.
“Las… aku harus pulang. Minggu depan.” Kata Doni menunduk.
“Pulang? Tapi… bukankah Mas harus menanti waktu wisuda”
Doni ragu sejenak. Lalu seperti petir yang menghancurkan pohon sunyi, “Orang tuaku sudah menjodohkan aku. Dengan anak teman ayahku.” kata-kata itu keluar dari kekasih yang dibelanya dengan pengorbanan terdalam.
Lastri terdiam. Dunia seperti terlipat ke dalam dirinya sendiri. Ia menatap Doni, mencari isyarat bahwa ini hanya gurauan yang kejam. “Mas… apakah mas mencintai wanita itu? Atau akankan wanita itu mencintai seperti aku mencintai Mas.?
Doni menunduk, lalu menjawab pelan, hampir seperti bisikan. “Dia temanku dari kecil. Ayahnya anggota DPRD. Sudah janji bantu aku jadi pegawai Pemda.”
Lastri terdiam. Menyerahkan bungkusan pakaian Doni yang sudah dicuci dan diseterikanya. Tak terasa airmatanya jatuh. “Bukankah menikah… butuh cinta, Mas?”
Dan Doni, pria yang pernah ia lindungi dengan tubuh dan hidupnya, menatapnya datar. “Aku butuh kerjaan, Las. Bukan cinta.”
“ Lantas apa arti hubungan kita selama ini? Tanya Lestari. Sebenarnya ia tidak butuh jawaban. Itu pertanyaan lebih kepada dirinya sendiri. Doni hanya diam. Lastri tidak menyalahkan Doni. Dia menyalahkan dirinya sendiri.
Walau airmatanya jatuh tetapi dia tidak bersuara. Tapi di dadanya, ada suara yang patah. Seperti kaca retak yang menahan air terlalu lama. Apakah ini harga yang harus dia bayar karena terlalu berharap kepada manusia. Apakah selama ini dia naif mencintai seorang pemuda yang terpelajar. Dan punya keluarga utuh. Sementara dia hanya tamatan SMU dan yatim piatu. Di tatapnya untuk terakhir kalinya wajah kekasihnya itu. Dia mengangguk.” Semoga Mas Bahagia.” Katanya dan berlalu.
Ia berjalan pulang melewati toko-toko yang tutup setengah, lampu-lampu jalan yang menyala setengah hati, dan bayangan dirinya yang tampak seperti tubuh orang lain. Rapuh, terbuang, dan tak punya nama.
Doni benar-benar pergi. Tanpa pelukan perpisahan, tanpa kata sesal, tanpa kalimat terakhir yang pantas untuk cinta yang pernah dibangun dari serpihan. Ia hanya meninggalkan pesan singkat di ponsel. “Nanti acara wisuda tunanganku dan kedua orang tuaku akan mendampingiku. Jaga dirimu. Terimakasih”
Pesan itu Lastri baca berulang kali. Kata-kata ‘terima kasih’ justru terdengar seperti cemooh. Karena di dalamnya, terkubur seluruh impian yang ia pupuk dengan perih. Menjadi istri, menjadi bagian dari cerita keberhasilan seseorang yang dulu ia cintai seperti memeluk kehidupan itu sendiri.
Di kamar kosnya malam itu, Lastri memandang langit-langit yang lembab. Tak ada air mata. Hanya hening. Ia tak ingin meratapi dirinya. Dia sadar. Pengorbanannya tidak salah. Yang salah karena dunia memang tidak ramah kepada orang miskin yang bodoh sepertinya. Yang mudah menerima dikorbankan dan akhirnya ditelantarkan.
Lastri tak lagi mengantarkan makanan malam. Tak lagi menyetrika baju Doni dengan hati-hati. Ia hanya memandang bayangan dirinya di cermin. Wajah yang masih muda tapi sudah letih seperti perempuan yang terlalu sering menunda tangis.
***
Ia mencoba bertahan. Pekerjaannya di perusahaan logistik mulai dipenuhi bisik-bisik, tentang Manager yang selalu menggodanya yang tak pernah dia tanggapinya. Tentang rumor yang tak pernah ia jawab karena tak ingin merendahkan dirinya. Akhirnya istri manager yang juga keluarga dari pemilik perusahaan logistic itu melabraknya di kantor dengan kata kata kasar. Hingga akhirnya, HR memanggilnya dan hanya berkata singkat, “Terima kasih atas jasanya. Kami ingin menjaga reputasi perusahaan.”
Reputasi. Ya Doni tak ingin menikahnya tentu demi reputasi sebagai insinyur. Dan tak ingin mengundangnya acara wisuda juga karena reputasi. Dia memang bukan siapa siapa, dan tak pantas mendapatkan reputasi walau dia berkorban dengan jujur. Walau dia bekerja keras untuk perusahaan, tidak ada artinya. Bahkan dia tak berhak membela diri. Rumor telah menjadi pembenaran, bahwa orang seperti dia memang pantas dikorbankan.
Sore itu, Lastri berjalan sendiri menyusuri jalanan kota dengan selembar surat pemberhentian kerja dan sepatu yang mulai sobek di tumit. Ia melihat pantulan dirinya di kaca halte bus. Tak ada yang tampak seperti seseorang yang pernah punya mimpi.
Biaya hidup semakin mahal, uang kos juga naik. Sementara dia tidak punya income. Tinggal di kota besar. Itu mimpi buruk. Dia bisa saja kerja sebagai ART dengan upah harian. Tetapi dia tidak mau kalah begitu saja. Dia harus kuliah. “ Ya aku harus jadi ayam merak, walau aku hanya ayam kampung. “ bisiknya. Hari itu dia telah berbulat tekad. Menjual asset tersisa yang ada pada dirinya. Yaitu tubuhnya.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidup, ia berdiri di trotoar yang salah. Dalam balutan riasan tipis dan baju pinjaman dari teman lama yang sudah lebih dulu menyerah pada hidup. Ia menatap mobil-mobil mewah yang melambat, menatapnya dengan cara dunia menatap perempuan yang tidak punya perlindungan. Ia merasa dirinya mati. Tapi tubuhnya tetap hidup. Dan hidup, bagaimanapun, harus dijalani, meski dengan menjual sesuatu yang tak pernah ia bayangkan akan dilelang.
Setelah malam pertamanya menjual diri, ia pulang ke kos kecil dan muntah berkali-kali. Ia tak bicara kepada siapa pun. Ia mencuci bajunya sendiri, berulang-ulang, meski tidak kotor. “Mereka bilang yang penting kerja halal. Tapi apa itu halal kalau dunia memaksa orang hidup dalam sistem yang haram bagi yang lemah? Aku tidak minta dikasihani. Aku hanya ingin dunia tahu bahwa dosa bukanlah pilihan bagi kami yang tak punya pilihan.”
Ia mengambil kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta. Biaya masuknya ia cicil dengan honor-honor gelap. Ia menyimpan semua bukti bayar dalam map khusus. Di atas map itu tertulis tangannya sendiri. “Aku belajar bukan untuk lari dari masa laluku, tapi untuk melampauinya.”
Waktu tak pernah bersedih atas apa yang dialami manusia. Ia hanya lewat, seperti angin yang tak menoleh pada daun yang gugur. Begitu pula hari-hari Lastri. Hidupnya seperti potongan waktu yang retak. Malam di trotoar, pagi dengan kantung mata, dan sore di Kampus dalam kelas ekonomi pembangunan yang membahas “ketimpangan sebagai produk dari sistem produksi.” Lastri duduk di deretan paling belakang, bukan karena malas. Tapi karena ia tahu, di dunia ini, siapa yang datang dengan malu harus tahu cara mengatur jarak dengan dunia.
Ia memilih jurusan ekonomi karena ia ingin mengerti mengapa hidupnya bisa sejauh ini disingkirkan. Mengapa sistem bisa sedemikian kasar pada mereka yang lahir miskin dan perempuan. Ia membaca bukan hanya buku-buku wajib, tapi juga tulisan-tulisan tua tentang struktur hutang negara, colonial finance, dan laporan IMF yang isinya seperti doa palsu untuk negara miskin. Dia juga melahap buku buku filsafat, David Hume, Immanuel Kant, Hegel, Tan Malaka, Tentu dia juga membaca buku teologi agama.
Ia hidup di antara waktu siang untuk jadi mahasiswi dan malam-malam gelap yang penuh transaksi hampa. Ia seperti hidup dalam dua tubuh. Siang hari, ia adalah mahasiswa yang mencatat tentang prinsip keadilan dalam ekonomi pembangunan. Malamnya, ia perempuan tak bernama yang disewa dalam hitungan jam. Hidup jadi dua dimensi, impian dan kenyataan. Dan di antara keduanya, hanya kesunyian yang menghubungkan.
Kosnya masih kecil dan pengap. Di dindingnya, ada kalender bekas dan secarik kertas bertuliskan kutipan yang ia tulis sendiri. Jangan mati sebagai korban. Kalau pun kau jatuh, pastikan kau jatuh saat sedang melawan.
Setiap hari, ia berwudhu dan sholat. Walau hidupnya penuh dosa, Namun dia tidak pernah menganiaya manusia ciptaan Tuhan. Dia tidak pernah dendam dengan manusia, apalagi membenci. Walau dalam derita tak tertanggungkan, namun Cintanya mengalahkan benci dan dendam. Dosanya hanya antara dia dan Tuhan saja. Dia percaya bahwa uhan mahal adil dan bijaksana. Prasangkanya utuh bahwa Tuhan penuh kasih dan sayang. Sebesar apapun dosanya, lebih besar lagi ampunan Tuhan. Karenanya dia tidak ingin mengeluh dalam doa. Sholat baginya hanya untuk menyapa Tuhan dan pastikan bahwa dia tidak sendiri menghadapi hidup yang tidak ramah.
***
Suatu malam, seusai ujian tengah semester, Lastri duduk sendirian di halte. Hujan turun seperti dunia sedang meratap. Di pangkuannya ada nilai ujian. A. Nilai penuh. Ia menatap angka itu lama sekali, lalu tersenyum tipis. Bukan bahagia, tapi lega. Ia tidak bodoh. Hanya terluka. “Aku bukan sisa. Aku belum mulai.” bisiknya dalam hujan. Dan di sanalah ia mulai menata hidup secara diam-diam.
Pertama tama dia berhenti kerja malam. Mulai menerima jasa mengetik, menerjemahkan artikel Bahasa inggris untuk mahasiswa lain, dan membantu di perpustakaan kampus kecilnya. Lastri mulai menulis esai tentang hubungan antara kemiskinan perempuan dan ketidakadilan sistem fiskal. Ia ikut lomba esai dan kalah. Tapi esainya menarik perhatian salah satu dosen tamu. seorang akademisi dari luar negeri yang mengisi kuliah umum. Namun dia abaikan saja. Dia focus kepada hidupnya. Tak ingin lagi jadi pecundang.
Gelar sarjana tak menjamin pintu terbuka, apalagi jika yang mengetuk adalah perempuan dengan masa lalu seperti Lastri. Ijazah yang ia banggakan terasa tak lebih dari kertas kosong dalam dunia yang menilai orang dari silsilah dan latar, bukan dari luka dan perjuangan.
Ia sudah melamar ke belasan perusahaan. Semua menolak, atau tak pernah membalas. Beberapa HR hanya tersenyum simpul melihat alamat kosnya dan nama kampusnya yang tidak dikenal. Ada yang bahkan menyindir, “Terus terang, kami ragu dengan… background Ibu.”
“Ibu?” Ia hanya 25 tahun, tapi dunia sudah memperlakukannya seperti sisa.
Lelah, lapar, dan malu, ia akhirnya melamar pekerjaan yang tak perlu tes wawancara. Cleaning service di gedung perkantoran di bilangan Jakarta Barat. Ia bekerja malam, menyapu, mengepel, memungut sisa tisu di ruang meeting yang tadi siangnya dipenuhi orang-orang berdasi yang membahas investasi dan strategi. Lastri mendengar semua itu dari balik dinding kaca sambil mengepel. Ia mengerti istilah-istilah itu. “funding gap”, “valuation”, “balance sheet”. Ia bahkan menulis skripsi tentangnya. Tapi siapa yang peduli?
Malam itu, tubuhnya tak lagi kuat. Ia belum makan seharian. Saat sedang membersihkan toilet eksekutif, pandangannya kabur. Dunia seperti berputar. Tubuhnya lemas. Asam lambungnya naik, mencengkram perutnya seperti taring yang sudah lama menunggu saatnya menggigit. Ia pingsan, di antara bau karbol dan gemerlap toilet marmer.
Ketika sadar, ia sudah terbaring di sofa kulit hitam. Ruangan itu luas, dingin, dan layar data di dinding. Di hadapannya duduk seorang pria berjas gelap tanpa dasi. Usianya belum lima puluh, tubuhnya tegap, namun matanya tenang seperti danau yang menyimpan badai. Pria itu menyodorkan segelas air dan roti.
“Kamu belum makan, ya?” katanya lembut.
Lastri menunduk. Wajahnya pucat. Malu, takut, lelah.
“Saya… maaf… saya hanya cleaning service.” Katanya seraya hendak bangkit.
“Saya tahu,” Pria itu menahannya.. “Tapi saya juga tahu kamu bukan hanya itu.”
Mata Lastri menatapnya penuh tanda tanya.
“ Saya baca catatan di tasmu,” lanjut pria itu sambil menunjuk notes kecil yang jatuh dari tas Lastri saat ia pingsan. Di situ ada coretan tentang sovereign risk dan derivatif pasar negara berkembang. Bahasa yang tidak biasa untuk petugas kebersihan.
“Aku cuma suka baca, Pak…” gumamnya, gugup.
“Lastri, ya?”
Ia mengangguk pelan.
“Aku B.”
Ia tidak menanyainya tentang masa lalu. Tidak menghakimi. Tidak bertanya mengapa seorang sarjana menjadi cleaning service. Tetapi Lastri sendiri yang cerita tentang masa lalu yang gelap dan Yatim piatu. B hanya diam, lalu bertanya. “Kamu mau kerja dengan aku?”
Lastri kaget. “Kerja… apa?”
“Belajar ulang. Dunia kita butuh orang-orang seperti kamu. Yang tahu luka, tapi masih percaya bahwa ilmu bisa jadi cahaya.”
“ Mengapa aku ?
“ Dan kamu bukan cuma suka baca. Kamu sedang bertahan. Dengan cara yang terlalu sunyi untuk dunia ini pahami. “ Kata B dengan bijak.
Malam itu, dalam ruangan senyap beraroma kopi dan cahaya layar Bloomberg yang menyala, nasib Lastri berubah. B tidak menjanjikan kebahagiaan. Tapi ia menawarkan satu hal yang selama ini dunia tolak darinya, kesempatan.
“ Ini uang untuk kamu” Kata B memberinya 50 lembar pecahan USD 100. “ Pulanglah. Cari tempat tinggal yang layak. Saya akan bayar. Setelah itu kembali kesaya, dengan wajah, penampilan yang baru. “ Lanjut B.
***
Tiga hari kemudian. Lastri menemui B. Lastri tidak langsung bekerja. Ia tidak diberi meja, tidak juga dijanjikan berapa terima gaji. Ia diberi ruang di sebuah Apartement di Jalan Thamrin Jakarta. Ada terminal komputer yang punya akses ke database literasi keuangan dunia dan satu set buku keuangan internasional di rak. Di sana, tak ada rekan kerja. Dia hanya sendirian.
“Bacalah dulu, sebelum kamu bisa bertanya.” Begitu pesan pertama dari B. Begini cara B memberinya kesempatan. Dari kesempatan itulah semua bermula. Perjalanan Lastri menjadi sosok yang tak lagi cuma dibentuk oleh dosa masa lalu, tapi oleh keberanian. “ Semua orang ingin menghapus masa lalunya. Tapi saya ingin kamu selalu mengingatnya. Bukan karena dendam. Tapi karena mungkin, yang paling suci bukan yang tak pernah jatuh. Tapi mereka yang bangkit karena kesadaran untuk berubah menjadi lebih baik. “ Begitu nasehat B.
Hari-harinya seperti ziarah dalam sunyi. Ia membaca ulang seluruh struktur sistem keuangan global, bukan dari PowerPoint dosen kampus, tapi dari notulen meeting lembaga multinasional, laporan keuangan BUMN yang dimanipulasi, dan dokumen rahasia tentang utang negara kecil yang dijerat skema derivatif.
B bukan hanya mengajarinya memahami angka. Tapi memintanya mengenali struktur di balik struktur, Mengenal wajah tamak elite yang mengenakan dasi. Mengenali dosa para pemimpin yang menebar BLT untuk electoral Pemilu. Memahami subsidi yang menipu rakyat dan menebar toxin populisme.
Suatu hari, B memanggilnya ke ruang kerja.
“Kamu akan saya kirim ke Singapura. Ada program singkat Quantitative Economics. Saya tidak ingin kamu hanya paham filosofi pasar. Tapi juga algoritma yang menggerakkannya.” Kata B. Lastri mengangguk. Tidak ada yang bisa ditolak dari pria itu. Ia bukan atasan, bukan penyelamat. Tapi semacam jembatan antara dirinya yang dulu dan dirinya yang seharusnya ada.
***
Singapura menyambut Lastri bukan lagi sebagai tamu asing yang menumpang waktu, tapi sebagai peserta resmi dari program yang hanya diikuti oleh mereka yang dipilih bukan karena latar, tapi karena potensi. Hari pertama, ia duduk di ruang kaca ber-AC tinggi, berdampingan dengan mahasiswa dari Zurich, Tokyo, Mumbai, dan Seoul. Mereka semua membawa nama institusi. Wharton, NUS, LSE, Stanford. Lastri hanya menulis, “Lastri – Indonesia.” Tidak ada kampus di belakangnya. Dan itu cukup.
Sesi pertama dimulai dengan pemetaan resiko negara berkembang. Topik hari itu: “how sovereign CDS reflects fiscal fragility in low-income countries.” Semua bicara cepat. Bahasa mereka penuh istilah, yield compression, contagion spread, swaption volatility. Lastri mendengarkan. Seperti mendengar percakapan alien yang ia tahu suatu hari akan ia kuasai. Ia tidak mencoba menyaingi. Ia menyerap.
“Jangan bicarakan pasar sebelum memahami bagaimana rakyat kecil kehilangan makanannya demi membayar bunga utang.” Begitu catatannya di sela diskusi.
Hari ketujuh, ia mulai unjuk gigi. Saat semua peserta diminta membuat simulasi skenario gagal bayar obligasi bilateral dalam kondisi kenaikan suku bunga The Fed dan depresiasi mata uang lokal, Lastri membuat model dengan pendekatan hybrid. Menggabungkan tekanan eksternal dengan ketidakmampuan domestik dalam mendesain ulang APBN tanpa jebakan politik.
Profesor pengampunya, pria India lulusan Princeton, menyimaknya dalam hening. “Miss Lastri, do you always model crisis like this?”
Lastri menjawab sederhana, “I don’t model it. I’ve seen it. I’ve lived in it.”
Dan kelas pun diam.
Malam-malam, Lastri menulis di jendela hostel kecilnya, di Singapura bagian timur. Sambil memandangi pelabuhan yang sibuk bahkan saat dini hari, ia mencatat. “ Mereka bisa mendefinisikan risiko dalam angka. Tapi aku tahu, risiko adalah ibu-ibu yang tidak bisa bayar listrik. Risiko adalah pelajar di pedalaman yang tidak bisa sekolah karena dana BOS dipotong untuk cicil utang global.” Ia menulis bukan untuk nilai. Tapi untuk menanam kembali nalar pada dunia yang terlalu sibuk merayakan surplus, sambil menenggelamkan realitas.
Minggu keempat, setiap peserta diminta menulis satu makalah final. Lastri menulis. “The Anatomy of Invisible Default: How Trust Funds, Credit Enhancers, and Shadow Finance Hijack the Sovereignty of Emerging Nations.” Ia tidak menulis seperti mahasiswa. Ia menulis seperti penyintas yang berubah menjadi penantang. Ia menyebut negara-negara yang “ditolong” tapi dimiskinkan. Ia menyebut nama lembaga yang mendikte anggaran negara lewat skema soft conditionalities. Ia bahkan menulis satu kalimat yang membuat profesornya berdehem saat membacanya: “Some debts are not fiscal. They are political weapons, wrapped in the language of liquidity support.”
Profesor pengampunya memanggilnya di akhir sesi presentasi: “You read risk not like a mathematician, but like someone who knows what it costs to get it wrong.”
Ia lulus terbaik. Tak ada perayaan. Tak ada foto. Hanya amplop kecil dari penyelenggara yang berisi sertifikat dan catatan kecil. “This participant demonstrated exceptional clarity and real-world insight in modeling sovereign vulnerability.”
Hari penutupan program, ia tidak berdiri di podium. Ia hanya menerima satu surat kecil. “Outstanding participant in policy realism and systemic risk modelling.” Ia menyimpannya dalam map lusuh, lalu naik MRT menuju bandara. Tak ada koper besar. Hanya satu tas berisi dokumen, dan satu kepala penuh pertanyaan.
Dan di atas pesawat, menatap keluar jendela ke langit malam yang penuh bintang, ia menulis. “Dulu, aku menolak hidupku karena malu. Kini aku memeluknya, karena hanya dari luka, aku bisa belajar bahasa baru: bahasa data, yang membawa suara mereka yang tak sempat bersuara.”
Ia turun dari pesawat seperti orang yang tak lagi menawar tempatnya di dunia. Dulu, ia datang ke kota ini dengan luka yang dibungkus rapi dan harapan yang disisipkan di sela sepatu yang sobek. Kini, ia lulus terbaik dari 12 nama dalam daftar peserta program Quantitative Economics yang dirancang untuk membentuk pemikir system, bukan pengikut data.
Kepulangannya ke Jakarta disambut sunyi. B memberinya Amplop warna coklat. Di dalamnya ada tiket pesawat ke New York, visa magang, dan surat resmi penerimaan magang dari AMG Capital—salah satu entitas shadow finance yang memiliki koneksi ke sovereign fund dan multilaterals di seluruh dunia.
“ Kamu magang setahun. “Kata B. “ Setelah itu kamu akan mengikuti pelatihan di boarding school di St. Gallen, Swiss—Institut auf dem Rosenberg. Sekolah yang tidak mencetak murid, tetapi mencetak team shadow para konglomerat Financial. Kalau kamu lulus. Selanjutnya kamu akan ikut pelatihan di Praha. Itu pelatihan tentang survival dan pemahaman social engineering. “ sambung B.
“Kenapa aku?” bisiknya pelan.
Dan B, dengan senyum yang hanya muncul di detik-detik paling sunyi, menjawab, “Karena kamu pernah tahu apa itu kehinaan. Maka kamu akan tahu arti kekuasaan dengan cara yang tak korup.”
B menatapnya dengan teduh.
“Di dunia ini, kadang kita belajar dari kampus. Tapi kebangkitan sejati lahir dari rasa lapar, malu, dan tidak menyerah saat kita diludahi sistem. Kamu akan dilatih dengan keras. Bukan untuk menjadi siapa-siapa. Tapi untuk tahu sampai di mana luka bisa disulap menjadi keberanian.” Lanjut B.
Bulan januari tahun 2019 dia terbang ke New York. “Aku pernah menjual tubuh untuk hidup. Tapi hari ini aku melihat bahwa elite politik pun menjual kedaulatan negara dengan cara lebih sopan dan tak terlihat. Dan orang bodoh memuja mereka. Yang terpelajar beharap jabatan. Yang miskin berharap Bansos dan BLT.
***
Januari 2019. Salju tipis menyelimuti trotoar Manhattan. Jalanan penuh taksi kuning dan desah napas manusia yang mengepul. New York tidak hanya kota. Ia adalah dunia yang dikompres dalam kecepatan, kegelisahan, dan kompetisi yang tak pernah berhenti.
Lastri menjejakkan kaki di tengah jantung kapitalisme global. Kota bagian dari AS inilah yang membuat pemimpin negerinya melawan artinya jatuh. Berkompromi artinya menyembah alias takluk.
Di balik bangunan batu dan kaca itu, AMG Capital berdiri megah. Entitas yang tidak dikenal publik, tapi dikenali oleh seluruh sistem keuangan dunia. AMG adalah tempat di mana keputusan investasi tidak hanya mengubah neraca, tapi juga mengguncang anggaran negara, bahkan pemerintahan.
Ia datang dengan satu koper, satu surat penempatan magang, dan segunung pertanyaan tentang ke mana arah dunia akan ditentukan—dan oleh siapa. Dengan gaji sebagai pegawai magang USD 5000 per bulan.Ia ditempatkan di unit yang tak tercantum di website resmi, Sovereign Risk Intelligence Unit. Departemen tempatnya magang bertugas mengukur rasio utang, dan membaca arah politik fiskal negara-negara berkembang. Tim itu memodelkan kemungkinan perubahan kabinet, konflik elit, dan moral hazard menteri keuangan yang terlalu dekat dengan investor lokal.
Atasannya, Mr. Lowell, pria kulit putih berambut abu-abu, mantan IMF economist, kini analis senior AMG. Menyapanya. “So… you’re the girl B sent from Jakarta.”
“I’m Lastri,” jawabnya pelan, sopan.
Lowell menatap catatannya, lalu berkata dengan suara tenang, “We don’t usually take interns from non-Ivy backgrounds. But B said, she reads risk with a survivor’s instinct. Let’s see if that’s true.”
Hari-harinya di New York bukan glamor. Ia datang paling pagi, membuka laptop dengan spreadsheet CDS, laporan off-balance sheet liabilities dari negara-negara Sub-Sahara dan Asia Selatan. Ia menyusun regresi, mengecek volatilitas spread, dan menganalisis structured liabilities dalam proyek bilateral.
Namun yang membuatnya menonjol bukan sekadar kecakapan teknis. Lastri menambahkan satu kolom dalam modelnya, “Rakyat impact index.” Kolom itu menghitung bukan hanya risiko finansial, tapi seberapa besar dana pendidikan dan kesehatan rakyat yang akan dikorbankan jika restrukturisasi utang berjalan dalam skema linear. Bukan sekadar makro, tapi mikro yang berdarah.
Lowell membacanya, terdiam sejenak. “No one ever puts this kind of variable here. Are you trying to moralize the model?”
“I’m trying to humanize it,” jawab Lastri.
Lowell tak menjawab. Tapi sejak hari itu, ia mulai mengajak Lastri ikut dalam sesi rapat tertutup dengan klien hedge fund yang hendak membeli bond negara Zambia, Libia, Sri Lanka, dan Indonesia. Ia tidak lagi hanya melihat sistem dari luar. Ia duduk di meja tempat rencana disusun.
Di sela makan siang, ia menulis di notes-nya. “Aku pernah menjual tubuh demi hidup. Tapi hari ini aku melihat para elite menjual kedaulatan dengan cara lebih sopan, lebih berpendidikan, dan lebih diagungkan. Mereka menjual tanah, hutan, laut, dan masa depan generasi dengan lembar presentasi berjudul partnership. Dan rakyat bertepuk tangan.”
Minggu ke-7, ia diajak Lowell dalam briefing dengan sovereign wealth fund Eropa yang ingin menjajaki cross-holding dalam proyek energi di Asia Tenggara. Salah satu investor berkata, “Kita akan gunakan SPV di Cayman untuk layering. Agar tidak mengganggu DSR mereka.”
Lastri menyela. “Tapi layering itu akan memotong revenue 11% dari penerimaan fiskal negara mereka.”
Investor itu tersenyum. “Mereka tak akan tahu. Yang tanda tangan sudah setuju.”
Dan di situlah Lastri menyadari. Kekuasaan bukan lagi soal siapa yang memimpin negara. Tapi siapa yang mengatur tanda tangan di balik pinjaman, di balik kontrak, di balik trust.
Di apartemennya yang kecil di Queens, ia merenung malam itu. Lampu-lampu kota berpendar di jendela. Salju perlahan turun. Dunia sedang tertidur, tapi dalam dirinya, kesadaran justru menyala. “Yang paling suci bukan yang tak pernah jatuh. Tapi mereka yang bangkit, dan membawa yang lain ikut keluar dari lumpur. Dan kadang, jalan itu tidak dari mimbar. Tapi dari meja data.”
Ia kirim email ke B:
Subject: Thank You.
Message: “Saya tidak sedang belajar tentang uang. Saya sedang belajar bagaimana dunia menyusun luka menjadi neraca, dan bagaimana saya akan membongkarnya—bukan dengan marah, tapi dengan pengetahuan.”
B hanya membalas satu kalimat “Kamu sudah di dalam. Kini waktumu menyusun jalan keluar.”
Tahun 2020, dunia berubah dalam senyap. Pandemi menyapu planet ini seperti koreksi besar-besaran terhadap semua narasi pertumbuhan dan kemajuan. Namun di balik masker dan lockdown, sistem keuangan global justru tumbuh semakin lihai. Utang naik, stimulus membanjir, dan para pemain besar menyusun ulang strategi.
Lastri, yang saat itu masih di New York, menjalani program daring dari AMG—kursus financial engineering sambil WFH. Ia menghabiskan malam-malam panjang di apartemen sempitnya, membaca kontrak pinjaman negara-negara miskin yang menandatangani “dukungan likuiditas” dengan jaminan masa depan rakyatnya.
Saat pandemi mereda, ia dikirim ke Zurich untuk ikut pelatihan. Kota sunyi di tepi danau itu menyimpan rahasia lebih dari sekadar cokelat dan jam tangan. Zurich adalah pusat dari apa yang tidak disebut: trust fund, family office, private banking, dan aliran uang yang tak terlihat namun mengendalikan banyak hal. Usai pelatihan, dia kembali ke AMG.
Di sebuah gedung tanpa papan nama, di Ruemistrasse, Lastri bekerja di divisi sovereign wealth strategy. Ia melihat bagaimana kekayaan negara tidak lagi dikelola oleh menteri keuangan, tapi oleh manajer investasi yang bertanggung jawab bukan pada konstitusi, tapi pada portfolio performance. Ia membaca dokumen tentang bagaimana utang Uganda dibayar melalui hasil tambang kobalt yang telah dijaminkan ke investor Norwegia. Bagaimana dana pensiun Perancis membeli hak operasional air bersih di Peru selama 40 tahun. Bagaimana investor asing menganeksasi Air minum warga DKI dan Banten. Bagaimana kota kecil di Afrika disulap menjadi proyek carbon offset tanpa warga tahu harga karbon yang dijual atas nama hutan mereka.
“Kedaulatan kini tinggal bunyi di pidato. Yang berdaulat adalah spreadsheet yang disetujui oleh board room, bukan parlemen.” Begitu tulis Lastri di catatan digitalnya.
***
Tahun 2022, setelah pelatihan di Praha. Ia pindah ke London. Di kota ini, ia tidak lagi hanya mengamati. Ia masuk dalam team yang diundang dalam roundtable confidential dengan bank sentral, investor sovereign fund, dan think tank global. Ia duduk dalam lingkaran kecil, tempat arah global south dibicarakan tanpa satu pun wakil dari selatan. Topiknya: “Debt Realignment and Post-Pandemic Recovery.”
Lastri diam sepanjang sesi, hingga satu investor senior berkata. “We need to incentivize governments in Southeast Asia to adopt regulatory reforms favorable to impact investors.”
Dan Lastri pun bicara. “Apakah yang Anda maksud dengan ‘reform’ adalah pencabutan subsidi dan privatisasi infrastruktur dasar?”
Ruangan sunyi. Semua menoleh. “Karena jika iya, itu bukan reformasi. Itu akuisisi diam-diam. Hanya saja dalam format policy paper.” Tak ada yang membantah.
Tapi setelah pertemuan, CEO salah satu lembaga multilateral mendekatinya. “Kau tahu, kami butuh orang sepertimu. Yang tahu lapangan. Tapi juga bisa mengartikulasikan sistem dalam bahasa para penguasa. Tetap bersama kami.”
Lastri tersenyum. “Saya tidak menolak sistem. Saya hanya menolak kebohongan yang mengendalikannya.”
Di London, ia sering berdiri sendiri di tepi Sungai Thames malam hari. Gemerlap kota menyala seperti pasar tanpa suara. Ia melihat Tower Bridge yang tenang. Tapi dalam kepalanya, selalu ada ribuan suara dari kampung-kampung yang tak pernah muncul di grafik GDP. Ia menulis, “Ada yang lebih berbahaya dari keserakahan, yaitu sistem yang menganggap keserakahan itu sebagai efisiensi.”
***
Tahun 2025, surat datang dari AMG NY. Sederhana. “ B memintamu ke Jakarta. Lastri menatap boarding pass-nya: London–Jakarta. Ia tahu, kepulangannya bukan untuk mengulang luka. Tapi untuk menuntaskan misi. Bukan lagi sebagai mahasiswi miskin, yang pernah terpaksa menjual diri, bukan pula sebagai cleaning service. Tapi sebagai saksi sistem yang tak gentar lagi melihat angka, karena ia tahu siapa yang berdarah di baliknya.
Setelah enam tahun menapaki koridor-koridor keuangan global—dari Singapura ke New York, Zurich ke London—Lastri kembali ke kota yang dulu menelannya dalam senyap, Jakarta. Bandara Soekarno-Hatta menyambutnya seperti dahulu, hanya kini ia bukan lagi gadis dengan koper kecil dan mata was-was. Ia melangkah mantap. Tubuhnya tegap, wajahnya jernih, dan sorot matanya bukan lagi mencari pengakuan—melainkan arah.
Ia naik taksi menuju sebuah apartemen di Jalan Thamrin. Di situlah, enam tahun lalu, hidupnya berubah. Tempat pertama kali ia ditempa B. Tempat pertama kali seseorang membaca catatan derivatifnya dari tas cleaning service, bukan karena gelarnya, tapi karena nilainya.
Ia membuka pintu dengan kode yang tak pernah diubah. Dan di balik pintu itu, duduklah B. Masih sama, sedikit lebih tua, lebih tenang, rambutnya lebih perak. Tapi auranya tetap, seseorang yang tidak membicarakan kebenaran, tapi membentuknya.
“Lastri…”
“B,” jawabnya, nyaris berbisik.
Tanpa aba-aba, B berdiri. Lastri melangkah cepat, dan mereka berpelukan. Sebuah pelukan yang bukan perpisahan atau pertemuan, tapi pernyataan, kita masih di sini. Belum selesai.
B menatapnya dari ujung rambut hingga mata.
“Kamu bukan lagi perempuan inferior. Dengan gaji sebesar USD 300,000 pertahun kamu sudah seperti wanita Columbia Business School,” kata B dengan tawa ringan. “ Kamu cantik Lastri. Si hitam manis yang eksotik. Wanita Yogya kelahiran Gunung Kidul akan tetap jadi wanita Jawa yang kokoh. Walau banyak negeri dilaluinya”
Lastri tersenyum , tersipu.
Mereka tidak banyak berbasa-basi. Beberapa menit kemudian, mereka duduk berdua di ruang rapat kecil di sudut ruang apartemen. Meja kayu, dua gelas kopi, dan selembar whiteboard digital yang kosong.
“ Saya mau tanya soal koperasi. Apa pendapat kamu ? apakah itu layak dikembangkan di era digital dan globalisasi seperti sekarang? Tanya B.
Lastri menarik napas. “ Koperasi bukan hanya badan hukum. Ia adalah janji yang belum lunas dari Republik ini kepada rakyatnya. Bahwa ekonomi bisa adil, bahwa keuntungan tidak harus menindas, bahwa kekayaan bisa dibagi tanpa menciptakan kemiskinan baru.
Tapi janji itu tertahan. Tertahan di ruang-ruang rapat yang berdebu, dan pada paradigma lama yang takut berubah. Dan di sinilah kita berdiri hari ini—di persimpangan antara mati perlahan, atau hidup kembali dengan cara yang berbeda.”
“ Apakah kamu sependapat dengan slogan, Koperasi Merah Putih dan Jalan Baru Menuju Masa Depan:” Tanya B. “ Di tengah dunia yang dipenuhi disrupsi dan ketimpangan, kita bertanya. Apa yang tersisa bagi ekonomi rakyat? Ketika modal global bergerak lebih cepat dari moral, dan teknologi menggantikan tenaga, masihkah koperasi relevan? Ataukah ia tinggal artefak sejarah yang disinggahi sesekali saat kampanye?
“ Jawabannya ada pada keberanian untuk berubah. Dan inilah saatnya: Koperasi Merah Putih harus bertransformasi.” Kata Lastri.
“ Transformasi apa ?
“ social entrepreneurship, “ Kata Lastri tegas. B mengangguk. Memberi kesempatan Lastri menjelaskan.
“ Social entrepreneurship bukan pilihan gaya-gayaan. Ia adalah evolusi logis dari cita-cita keadilan ekonomi. Ia adalah cara baru menjalankan koperasi tanpa mengorbankan nilai-nilai dasar—sebaliknya, justru menghidupkannya kembali dalam dunia nyata yang keras dan kompetitif.
Kita tidak diminta untuk meninggalkan nilai. Kita hanya diminta menyatukan nilai dengan strategi. Membangun koperasi bukan hanya sebagai wadah simpan pinjam, tetapi sebagai entitas bisnis yang menyelesaikan masalah sosial dan tetap tumbuh.
Bayangkan koperasi yang bisa, membangun pembangkit surya komunitas di desa terpencil, mengelola jasa PDAM, menciptakan platform digital untuk petani menjual langsung ke konsumen, membuka akses pasar global bagi pengrajin lokal lewat traceable blockchain, dan membiayai UMKM desa dengan bond sosial yang dibeli oleh impact investor global dan akses ke filantropi fund. Bukan mengandalkan kepada APBN, yang pasti akan menimbulkan moral hazard seperti sebelumnya. Yang kaya pengurusnya, dan elite.
Semua itu mungkin. Tapi hanya jika kita bersedia keluar dari kerangka lama, dan masuk ke dunia yang berani, adaptif, dan berjiwa besar. Kita hidup di zaman ketika perubahan bukan lagi pilihan—tapi keharusan. Dan koperasi, jika ingin bertahan, harus menjadi mesin inovasi sosial yang bergerak dengan nilai dan angka sekaligus. Agar bisa bertranformasi, menjadi kekuatan ekonomi paling manusiawi yang pernah dimiliki bangsa ini. Koperasi Merah Putih harus tidak menjadi alat politik populis. Dan ini harus dilakukan sekarang.”
“ Mengapa Harus Sekarang? Tanya B.
“Karena keterlambatan adalah bentuk pengkhianatan terselubung. Karena setiap tahun koperasi stagnan, generasi muda makin menjauh. Dan ketika anak-anak desa mulai berjualan di TikTok, sementara koperasinya masih mencatat utang di buku tulis, maka kita harus jujur: ada yang salah dengan sistem kita.
Pesan dialektika nya. Jangan hanya berharap koperasi disukai rakyat karena uang mudah dan bisnis rente. Itu toxin. Tapi jadikan ia solusi bagi masalah rakyat. Bukan dengan menambah birokrasi, tetapi dengan membangun struktur hybrid yang modern. Bukan dengan sekadar program dana pendampingan, tetapi dengan membuka akses ke impact investing dan teknologi. Beri koperasi ruang untuk bernafas dalam ekosistem global. Jadikan ia kendaraan untuk mewujudkan keadilan yang bisa diukur, bukan sekadar diucapkan.”
B menyimak.
“Koperasi Merah Putih yang bertransformasi menjadi social entrepreneur akan mampu menyatukan komunitas dan kapital, menghubungkan semangat lokal dengan logika global, menjadi jembatan antara idealisme dan mekanisme pasar. Ia bukan hanya milik para petani atau nelayan. Tapi milik siapa pun yang percaya bahwa bisnis bisa memberi makna, bahwa laba bisa berdampingan dengan cinta.” Kata Lastri.
B tersenyum dan puas.
“ Nah tugas mu sekarang. Buat studi menyeluruh tentang social entrepreneur. Juga Analisa studi kasus negara yang sudah sukses menerapkan Social entrepreneur itu. Jadikan itu sebagai platform untuk membantu rakyat Indonesia. “ kata B.
“ Platform yang bisa mengkakses skema financial global dan mendapatkan dukungan dari filantropi fund, green fund, ESG Fund dan humanitarian capitalism fund. Tidak membebani APBN dan pajak rakyat” Lastri menegaskan perintah B itu.
B mengacungkan jempol.
“ Berapa lama kamu bisa siapkan itu semua ?
“ 1 tahun. Termasuk fund nya.” Kata lastri dengan tegas.
“ Ok lakukan. “ Kata B segera berdiri menyalami Lastri. “ Kembali ke pos kamu di NY. Satu tahun lagi saya tunggu di sini. “ Lanjut B.
Di pesawat dalam penerbangan ke NY. Lastri sadar. Bahwa sejarah hidupnya adalah sejarah rakyat Indonesia kebanyakan. Yang luka karena janji manis. Yang berkorban dengan tulus untuk cinta, namun teraniaya dan diabaikan. B, memang sengaja membentuknya dari luka masa lalu untuk menjadi petarung masa depan. Bukan lewat revolusi bau amis darah tetapi lewat social engineering untuk lahirnya social entrepreneur.

Tinggalkan Balasan ke moeryonomoelyo Batalkan balasan