
Saya sedang di Starbuck. Menikmati secangkip Capucino. Seorang wanita muda mendekat ke table saya. “ Maaf, pak. Kursi nya kosong ?
Saya mengangguk seraya tersenyum. “ Tentu. Silakan. Ini bukan resto yang table nya di book. Bebas aja.”
Dia buka laptop nya. Saya perhatikan. Wajahnya keliatan unhappy. “ Kamu bisnis online ? tanya saya sepontan. Sekedar tanya tak harap dibalas serius
“ Ya. Saya jual produk herbal. Omzet bisnis saya anjlok sebulan terakhir. Tiap malam saya bikin konten, balas chat customer. Tapi sekarang… order makin sepi. Saya takut. Takut gagal. Takut bangkrut.”
“ Jangan takut gagal. Karena sekali kau merasa takut, saat itu juga kau kalah. “ Kata saya.
“ Oh ya pak. “ Dia sepertinya tersentuh dengan kata kata saya barusan.
“ Kau tahu, omzet itu seperti air sungai. Kadang deras, kadang surut. Tapi hutan tetap tumbuh, bukan karena sungai, tapi karena akarnya kuat. Jangan hanya melihat angka. Lihat akar bisnismu.
“ Maksudnya, Pak ?
“ Kau berdagang apa?
“ Herbal kesehatan. Tapi saya kemas modern. Targetnya anak muda yang peduli gaya hidup sehat. “
“ Bagus. Artinya produkmu bukan hanya soal jualan jamu. Tapi soal gaya hidup dan trust. Sekarang tanyakan pada dirimu: Apakah kamu membangun komunitas atau sekadar posting promo?
Dia terdiam. Tak langsung jawab pertanyaan saya.“ Mungkin… saya terlalu fokus ke promo.
“ Itulah. Bisnis bukan cuma soal menjual. Tapi membangun hubungan. Omzet itu output. Tapi input-nya? Empati. Nilai. Konsistensi.
“ Tapi sekarang pasar lesu. Semua orang jualan. Rebutan perhatian. “ katanya.
“ Justru karena semua orang berteriak, kamu harus belajar berbisik dengan makna. Tawarkan edukasi, bukan hanya diskon. Bawa cerita, bukan cuma harga. Orang tidak membeli produkmu. Mereka membeli alasan untuk percaya padamu.
“ Tapi kalau sampai dua bulan lagi belum balik modal…?
“ Lakukan pivot. Tapi jangan panik. “ Kata saya.
“ Apa itu pivot ? tanyanya.
“ Mengubah pendekatan pemasaran, termasuk segmen pasar yang dituju, saluran iklan, atau gaya komunikasi pesan merek”
Dia mengangguk.
“ Jadi Evaluasi, produk mana yang bergerak? Siapa customer paling loyal? Apa channel marketing paling efisien? Jika perlu, turunkan ekspektasi.Bisnis itu bukan tentang menang cepat, tapi tahan napas paling lama.
“ Pak, boleh saya jujur? Saya nggak tahu siapa bapak. Tapi rasanya, saya kayak lagi ketemu mentor yang udah ngalamin semuanya. “ Katanya tersenyum. “ Kenalkan nama saya, Amy” Dia menjulurkan tangannya dan saya membalasnya dengan hangat, Ale, saya kenalkan diri saya.
“ Saya cuma orang yang sudah cukup sering tenggelam, sampai belajar berenang. Saya sudah tua. Dan kamu, Amy, masih muda. Masih bisa tumbuh, masih bisa gagal dengan harga yang lebih murah daripada orang tua. Asalkan kamu terus belajar dan belajar. Apalagi di era Internet, pengetahuan mudah diakses.”
“ Terima kasih, Pak Ale”
***
Jika hari ini engkau merasa lelah karena omzet menurun, toko sepi, telepon jarang berdering, dan pelanggan mulai berpaling. Tenanglah. Jangan langsung menilai itu sebagai akhir. Dalam dunia bisnis, penurunan omzet bukanlah tanda kiamat. Itu adalah tanda: bahwa sesuatu sedang berubah, dan kamu sedang diuji, bukan untuk jatuh, tapi untuk naik kelas.
Lihatlah ulang catatan penjualanmu. Bukan untuk menyalahkan, tapi untuk belajar. Apa yang berubah? Selera pasar? Strategi pesaing? Pola perilaku konsumen? Ingat, omzet itu hasil akhir. Tapi penyebabnya adalah sistem. Dan sistem bisa diperbaiki.
Peter Drucker bilang, “The best way to predict the future is to create it.” Artinya, jangan tunggu pasar pulih. Ciptakan pasarmu sendiri. Jangan tunggu pelanggan datang. Bangun hubungan yang membuat mereka rindu kembali.
Omzet Turun? Mungkin Saatnya Naikkan Nilai
Jangan buru-buru banting harga. Tapi naikkan kualitas layanan. Perbaiki branding. Evaluasi apakah value proposition yang kamu tawarkan masih relevan. Kadang, bukan produknya yang salah, tapi cara kita menyampaikannya yang kurang menyentuh hati. Ingatlah: pelanggan tidak beli barang, mereka beli kepercayaan.
Gunakan Masa Sepi untuk Merapikan Dapur
Omzet menurun bisa jadi anugerah tersembunyi. Waktu yang biasanya habis untuk melayani pelanggan, kini bisa dipakai untuk:
• Memperbaiki SOP,
• Melatih tim penjualan,
• Review biaya operasional,
• Bangun sistem digital marketing.
Warren Buffett pernah bilang: “Only when the tide goes out do you discover who’s been swimming naked.” Saat omzet surut, kamu bisa melihat lubang dalam bisnismu yang dulu tertutup gelombang ramai.
Bangkitkan Tim dengan Visi, Bukan Sekadar Target
Ketika omzet turun, tim bisa patah semangat. Di sinilah peran seorang pemimpin sejati: bukan sekadar menghitung angka, tapi menyalakan harapan. Ajarkan pada tim bahwa bisnis bukan cuma soal jualan, tapi misi melayani, menyelesaikan masalah, dan membangun solusi. “Turunnya omzet hari ini, adalah cara semesta mengajarkan bagaimana cara tumbuh lebih kokoh esok hari.”
Belajar dari Data, Bergerak dengan Empati
Gunakan data penjualan. Lihat produk mana yang stagnan. Lihat jam buka toko, tren harian, engagement media sosial. Tapi jangan hanya lihat angka. Tapi dengarkan pelangganmu. Apa yang mereka butuhkan sekarang? Apa yang mereka takutkan? Apa yang mereka rindukan? Empati adalah senjata marketing terbaik dalam krisis.
Jangan Takut Berubah
Kadang omzet turun bukan karena kesalahan, tapi karena dunia sedang berubah. Maka ubahlah cara berbisnis. Transformasi digital, kemitraan strategis, kolaborasi komunitas, dan diversifikasi produk adalah beberapa cara keluar dari kebuntuan. Bila memang lingkungan ekonomi, social, politik tidak mendukung kamu berkembang. Jangan stuck. Dunia ini luas. Ini Era globalisasi. Hijrah dari satu kota ke kota lain. Bahkan bila perlu hijrah ke negara lain, itu biasa saja..
Semua pengusaha hebat pernah mengalami masa surut. Bahkan Steve Jobs pernah dikeluarkan dari perusahaannya sendiri. Tapi mereka yang bertahan adalah mereka yang memilih tumbuh, bukan tumbang.
Selagi kamu berwira usaha. Kamu orang besar. Kamu adalah pemilik harapan. Kamu bukan sekadar pedagang, kamu adalah penggerak ekonomi keluarga, bahkan peradaban negara.
Turunnya omzet bukan akhir cerita. Itu adalah jeda. Gunakan jeda itu untuk merapikan strategi, menyusun kekuatan, dan membangun ulang semangat. Karena bisnis bukan soal siapa yang paling cepat naik, tapi siapa yang paling teguh bangkit setiap kali jatuh. Petarung hebat bukan yang kuat memukul. Tetapi yang tahan pukulan berkali kali dan selalu bangkit “Badai tak akan bertahan selamanya. Tapi karaktermu, akan membawamu menjemput fajar yang baru.”

Tinggalkan Balasan ke MKGinting Batalkan balasan