Family Office

Pertemuan pertama itu tak lebih dari sebuah sandiwara kecil antara klien yang lihai dan lawyer yang ingin tampak profesional. Aku datang membawa agenda akuisisi, dia menyambut dengan senyum yang sudah terlatih. Ruang kerjanya bersih, mahal, dan terasa steril dari ilusi. Namanya Elena. Aku sudah baca profile nya sebelum bertemu. Phd Harvard Law School. Etnis Taiwan-China. Sebelum membuka kantor sendiri di London, dia berkarir sebagai associate lawyer di Firma hukum terkenal di London.

Kecantikannya bukan sekadar tampilan, tapi lebih pada cara ia menyusun kata dan menyimpan jeda. Seperti wine tua, ada rasa yang disimpan lebih lama dari seharusnya.

“Aku akan pelajari rencana Anda. Lalu menyusun langkah legal yang presisi,” katanya sopan.

“Aku tidak suka permainan waktu. Aku ingin sekali pukul selesai.”

Dia mengangguk. “Saya paham. Anda bukan tipikal orang Eropa yang suka menang karena menunggu orang lelah.”

Kami bicara tentang NF Industries, sebuah perusahaan farmasi yang tengah merayap menuju lubang. Portofolio obat obesitas mereka kuat, tapi bleeding. Promosi mahal, kompetisi brutal, riset yang mulai dilupakan. Namun, mereka punya satu hal: infrastruktur yang sudah jadi. Gudang. Distribusi. Branded. Itu lebih dari cukup.

***

Ritz London, Sebulan Kemudian.

Elena duduk di seberangku. Malam itu anggur merah lebih jujur dari kebanyakan percakapan bisnis.

“Dua pemegang saham pengendali NF terhubung dengan keluarga kerajaan Saudi,” katanya. “Perusahaan ini sudah merugi tiga tahun. Tapi saham mereka masih terhormat di pasar.”

Dia tersenyum sambil menyebut angka, memamerkan bahwa dia paham siapa aku: seorang pemain ekuitas.  Kami berbicara banyak hal. Diskusi jadi hidup. Karena wawasannya sangat luas. Aku lebih banyak mendengar ketika dia bicara geostrategis dan geopolitik. Tentang bagaimana ketergantungan banyak negara kepada korporat. Yang sehingga melahirkan shadow government. Fenomena oligarkhi, yang menjadi toxin demokrasi.

“B ..” serunya katanya dengan lirih dibalik selimut. “Kenapa kamu ingikan NF ? Dan kenapa harus cepat proses akuisisi nya?”

Aku hanya tersenyum dan mendekapnya.. “Lakukan saja apa yang sudah kamu mulai.”

Dia mengerti dan percaya.

***

Boston, Tiga Bulan Kemudian.

Dia datang dengan jet pribadi yang kukirim. Masuk ke suite hotel dengan wajah lelah.

“Saham NF naik. Aneh. Padahal negosiasi belum jelas. Pemegang saham tak respon. Kreditur malah menentang keras.”

Aku mengernyit. “Naiknya harga karena apa?”

Dia diam. Lalu bicara seperti pengacara yang takut kehilangan reputasi, “Semua penawaran saya aman secara hukum. Tidak bocor. Semua ke bursa sudah dilaporkan.”

Aku tahu dia berkata benar. Tapi pasar bergerak bukan karena hukum, melainkan karena rumor. Dan rumor kadang sengaja diciptakan.

***

Hong Kong, Financial Club.

Aku serahkan bank draft fee ke tangannya. Dia menunduk, kecewa. “Maafkan saya. Karena gagal melaksanakan tugas. “

“ Elena, kamu sudah melaksanakan tugas lebih dari cukup. Soal berhasil atau gagal itu resiko saya. Keputusan saya. “ Kataku.

“B, ada satu perusahaan baru. Donatun. Mereka sedang riset hormon sintetis mirip glukagon. Orang jadi cepat kenyang. Cocok di tengah gaya hidup hedonis yang sedang cinta sehat. Mereka kehabisan dana.” Dia mendekat duduk di sebelahku. Seakan berusaha untuk meyakinkanku. Bahwa dia bisa diandalkan dan tidak akan membuat aku gagal lagi.

“Urus saja. Aku setuju.” Kataku kemudian setelah berpikir cukup lama.

Empat bulan kemudian, financial closing rampung untuk akuisisi Donatun. USD 15 juta untuk akuisisi, USD 30 juta untuk riset.

Saham? Aku pegang 90%.

Fee Elena? USD 1 juta.

Bagiku? Aset baru. Celah baru.

Setelah Donatun resmi aku kuasai, skema merger dengan NF Industries hanya tinggal soal waktu. Tapi waktu bukan sekadar momentum. Ia harus dipoles dengan narasi.

Donatun mengumumkan breakthrough riset GLP-1 synthetics, dengan media yang sudah kami atur. Satu bulan penuh headline tentang “obat masa depan, revolusi gaya hidup, end of obesity. Saham NF perlahan rebound. Investor retail mulai masuk. Institutional investor mulai repositioning. Kami desain price action-nya. Rumor merger bocor ‘tak sengaja’. Bloomberg menulisnya. FT mengutipnya. Reuters menyebarkan ke Asia. Pasar? Percaya.

Harga naik bukan karena fundamental. Tapi karena supply demand saham dikendalikan. Free float diatur, volume dikoreksi, block trade dipecah. Semua terlihat alami. Padahal hasil operasi.

Setelah merger diumumkan resmi: Valuasi NF naik 300%. Bursa London menyambut. Otoritas puas karena melihat ‘penyelamatan sektor farmasi’ oleh venture capital.

Investor percaya karena media berkata: “This is the future of anti-obesity medicine.” Aku buat IPO ulang via reverse merger untuk Donatun dengan NF sebagai kendaraan. Valuasi pre-money: USD 800 juta. Valuasi post-IPO: USD 1,8 miliar. Market Cap inflate: Retail memelihara narasi. Bond issuance USD 500 juta dengan rating investment grade karena ekuitas sudah gemuk.

Kreditur lama NF? Dibayar lunas dengan harga diskon lewat refinancing bond. Mereka keluar puas. Tidak peduli neraca masa lalu.

Laporan keuangan Donatun pasca-merger tampak cantik: Revenue forecast growth 20% CAGR. EBITDA margin naik karena sinergi distribusi NF. Capex dikecilkan. Opex ditata agar tampak efisien. Free Cash Flow positif karena DSO dipersingkat lewat factoring.

Semua bank besar kini mau refinancing. Convertible Bond tranche USD 500 juta. ESG-linked loan USD 200 juta. (Obesitas dianggap bagian dari social impact.) Hedge fund masuk pre-IPO placement. Narrative lock: Anti-obesity = future healthcare. ESG compliance. Healthcare supply chain redefined.

Aku keluar di puncak valuasi. Sell-down block shares ke sovereign wealth fund. Repo sebagian saham ke private bank Swiss sebagai collateral. Hedge dengan derivative synthetic short.

Net profit? USD 1,2 miliar bersih. Semua legal. Semua audited. Semua compliant.

***

Setahun Kemudian, Hong Kong. Elena datang ke kamar kerjaku. “ Kamu brengsek, B. Setelah pengumuman riset Donatun keluar, saham NF jatuh. Lalu muncul Palma Investment akuisisi NF. Aku selidiki. Palma itu kamu juga.”

Aku duduk santai menyilangkan kaki.

Dia lanjut. “Dari awal kamu sudah tahu mereka pakai shadow distributor, window dressing AR, manipulasi DSO, semua rekayasa neraca. Bahkan cashflow mereka cuma rotasi invoice antar SPV.”

Dia benar. Aku tahu semua itu sejak awal. Bahkan aku tahu creditor structure meeker penuh hidden guarantee off-balance sheet. Aku tahu debt covenant mereka sudah breach sejak dua tahun lalu, tapi bank tutup mata demi refinancing fee.

“Elena, bisnis ini bukan soal etika. Ini soal timing. NF butuh exit. Mereka butuh rumor untuk jual di harga tinggi. Aku bantu mereka buat rumor itu. Donatun jadi magnit. Market buy the story. Lalu sell-off dimulai.”

Dia menatap tajam. “Jadi kamu dan pemegang saham NF bagi bagi uang. Kamu buat harga naik, mereka exit, lalu kamu beli balik di titik paling rendah. Pakai media, fund manager, influencer, bahkan otoritas. Semua kamu atur.”

Aku angguk.

“Investor retail, bondholder, semua korban.” Teriak Elena.

“ Ya free entry free Fall. Tapi semua clean. Semua legal. Semua compliant.” Jawabku santai.

Elena tertawa kecut. “Kamu predator sejati.”

 “Aku tidak hidup untuk citra. Dunia ini bukan tempat utopia.”

“ Kenapa kamu tak pernah membuka ruang sedikit saja, B? Untuk aku percaya, bahwa kamu bukan predator?”

Aku tersenyum. Tak kujawab. Karena aku tahu, cinta bukan mata uang yang berlaku dalam hidupku.

Setelah itu, Elena tak lagi kembali. Dia pergi tanpa pamit, seperti wanita yang sudah paham bahwa hatinya tak cukup kuat untuk bertahan di tengah permainan yang hanya mengenal angka, bukan rasa. Aku tahu, sejak awal dia jatuh. Bukan jatuh oleh permainan saham. Tapi jatuh oleh ilusi yang lebih halus: harapan bahwa aku bukan predator yang dia kira.

***

Zurich, Dua Tahun Kemudian.

Acara amal. Gedung tua bergaya neoklasik. Bernhardstrasse. Para tamu datang dengan gaun mahal, tuxedo licin, dan senyum pura-pura peduli pada kemanusiaan. Aku hadir bukan karena ingin. Hanya bagian dari permainan citra yang kadang harus kulakukan. Di panggung, nama-nama besar memamerkan donasi mereka. Healthcare, education, renewable. Semua untuk pajak, semua untuk reputasi.

Di sudut ruangan, aku melihatnya.Elena. Dua tahun tak bertemu. Wajahnya tak berubah. Hanya matanya lebih dewasa, lebih pahit, lebih mengerti bagaimana dunia bekerja. Dia datang menghampiriku. Tak ada senyum. Hanya sisa kenangan yang belum selesai.

“Kamu makin bugar ,” katanya datar.

Aku angkat gelasku. “Kamu makin cantik.”

Dia duduk di kursi sebelah. Anggunnya tetap.

“Setelah pertemuan terakhir kita di Hong Kong. Aku sempat down berbulan bulan. Akhirnya aku tutup Firma hukumku. Melamar kerja di Yayasan Filantropi untuk penyakit stunting bagi anak anak di negara miskin seperti Indonesia dan lainnnya. Dan ternyata..” Elena terhenti dan tersenyum getir. “ Donaturku? Orang-orang sepertimu. Ironis ya?” katanya setengah menertawakan diri sendiri.

“Dunia ini kecil. Takdir kadang malas mencari orang baru,” jawabku.

Kami diam sejenak. Musik jazz lembut mengisi ruang. Lalu dia menatapku. Tatapan yang tak butuh kata lagi.

“Dulu aku jatuh cinta padamu.” katanya perlahan, “ aku tidak pernah menyesal tidur denganmu. Bahkan kenangan itu membuat aku merasa sangat sempurna sebagai wanita  Tapi hanya di tempat tidur. Di luar itu kamu terlalu dingin. Terlalu fokus pada angka. Pada exit. Pada value. Bukan pada manusia.”

Aku tak menjawab. Hanya menatap lampu kristal di langit-langit yang tak pernah peduli pada perasaan siapapun.

Dia melanjutkan. “Kamu tahu? Aku bukan marah dulu. Aku hanya kecewa. Karena aku berharap salah. Tapi ternyata aku benar. Kamu memang predator.”

Aku tersenyum kecil. “Predator tak pernah jatuh cinta, Elena. Kami hanya jatuh pada timing.”

Dia tertawa kecil, getir. “Aku tahu. Itu sebabnya aku pergi.”

Aku tahu Elena sudah lelah bertarung sendirian. Aku tahu dia telah sampai pada titik ketika membenci dunia tak lagi memberikan kelegaan, hanya sisa-sisa frustasi yang kering.. Dia duduk di sebelahku. Masih Elena yang sama. Tapi kini matanya lebih jernih, karena dia telah berdamai dengan luka, bukan karena luka itu sembuh, tapi karena dia sudah mengerti: Luka yang lama hanya berganti nama jadi pengalaman.

Aku menatapnya lama sebelum bicara. Tidak ada sales pitch. Tidak ada bujuk rayu murahan. Yang kuberikan hanya satu: refleksi tentang dunia ini.

“Elena…,” ucapku pelan. “Kamu bisa terus lari. Bisa terus mengutuki orang-orang serakah yang membuat sistem ini kotor. Bisa terus berteriak soal etika dan moral sambil duduk di belakang meja mengelola dana-dana yang justru membuat kekuasaan itu semakin kekal.”

Dia menatapku. Tidak membantah. Karena dia tahu aku benar.

“Kamu pikir semua ini akan berubah? Kamu pikir dunia akan tiba-tiba memihak orang jujur? Tidak. Sistem ini tidak rusak. Ia memang diciptakan begitu sejak awal.”

Aku mencondongkan tubuh. Bersuara lebih pelan. Lebih dalam. Lebih seperti seorang sahabat yang berbicara dari seberang jurang pengalaman.

“Kamu terlalu cerdas untuk jadi korban. Terlalu sadar untuk terus jadi penonton. Dan terlalu kuat untuk hanya hidup mengutuki kapitalisme dari pinggir panggung.”

Dia diam. Memandang wine yang sudah lama tak disentuh di mejanya.

“Elena,” ucapku lagi. “Kamu bisa benci aku. Kamu bisa benci semua orang yang bermain di dalam sistem ini. Tapi apa gunanya? Membenci tidak pernah mengubah apapun. Yang mengubah dunia… adalah mereka yang memegang peta, bukan yang melempar batu dari luar pagar.”

Aku menambahkan minuman.

“Kamu tahu, hidup ini tak pernah tentang benar atau salah. Tapi tentang bagaimana kita memberi makna pada kekuasaan yang kita pegang.”

Dia tersenyum tipis. “Kamu selalu tahu cara membuat orang berhenti berpura-pura, ya?”

“Bukan soal pura-pura. Soal kesadaran. Bahwa kita lebih baik menciptakan sesuatu daripada hanya jadi komentator yang lelah.”

Lalu dia bangkit dari kursinya. Menatapku untuk terakhir kali malam itu. “Semoga kamu bahagia.. .”

Aku angguk. “Dan semoga kamu juga bahagia..”

Dia berjalan menjauh. Siluetnya hilang di keramaian gaun mahal dan pria berjas. Aku tahu, Elena tidak akan bisa lari dariku. Dia pasti akan kembali kepadaku. Kami berdua saling memahami. Tapi tak pernah benar-benar bisa saling memiliki.

***

Zurich, Tahun Berikutnya.

Kota ini tenang. Terlalu tenang untuk uang yang begitu bising berputar di balik dinding-dinding tebal private bank dan law firm. Zurich bukan tempat orang jatuh cinta. Zurich tempat orang jatuh pada godaan terakhir: kendali.

Aku mendirikan family office di kota ini. Bukan untuk warisan. Bukan untuk anak cucu. Tapi untuk satu hal: Menguasai sistem keuangan tanpa terikat regulasi. Family office adalah wajah legal untuk apa yang sebenarnya adalah jaringan shadow banking. SPV di Cayman, nominee di BVI, bond vehicle di Luxembourg, discretionary trust di Guernsey. Semua terhubung, semua bersih, semua tak tersentuh.

Aku butuh orang. Bukan hanya pintar hukum tetapi juga negosiator yang ulung dan punya koneksi kalangan super rich. Saat itu juga aku ingat Elena. Entah mengapa, seminggu kemudian dia telp aku.

“ B, aku siap bekerja untuk mu “ katanya.  Sepertinya batinnya tidak pernah lepas dariku. Dia kembali. Tanpa syarat. Tanpa luka. Tanpa romantisme. Bukan karena aku membujuk. Tapi karena dia akhirnya memahami: Bertahan di dunia ini butuh lebih dari sekadar moral. Butuh keberanian untuk menyentuh kenyataan, bahkan yang paling kotor sekalipun.

“Aku ingin bangun sesuatu. Bukan untuk membuktikan. Tapi untuk mengendalikan. Karena aku lelah jadi korban dari sistem yang aku tahu bisa aku kendalikan kalau aku cukup berani.” Katanya.

Aku hanya mengangguk. “ Selamat datang kembali, Elena. Kini kamu bukan lagi penonton. Kini kamu pemain.” Kataku mengakhir telp.

Keesokannya dia datang ke kantorku. Mengenakan blazer abu-abu lembut, tanpa perhiasan mencolok. Kecantikannya kini bukan karena wajah, tapi karena dia telah berdamai dengan luka masa lalu.

“CEO? Kenapa aku?” katanya sambil duduk di seberangku, setelah tawaran posisi CEO Ale Capital kubuka begitu saja.

“Karena kamu sudah selesai bertanya soal benar-salah.” Jawabku tersenyum.

Dia tersenyum tipis. “Terimakasih. Aku terima mandate kamu. Akan bekerja keras penuh dedikasi sebagai CEO”

Aku tahu dia sudah berubah. Tidak lagi mencari alasan moral. Kini dia paham: shadow banking bukan tentang uang. Tapi tentang kekuasaan yang tidak perlu menjelaskan apapun.

Aku hanya briefing. Selanjutnya Elena tahu apa yang harus dia kerjakan. Dia punya kompetensi, networking dan cinta utukku..

Kami mulai dari yang paling dasar: Holding di Zug. Tax friendly. SPV di Cayman. Untuk structured notes. Trust di Guernsey. Untuk estate planning klien ultra-wealthy, Advisory di London. Untuk legitimacy. Fund di Luxembourg. Untuk akses Eropa.

Elena mengatur semua. Tak perlu lagi lawyer lain. Dia kini lebih lihai dari mereka yang dulu menertawakan idealismenya.

“ Target kita?” tanyanya suatu malam di rooftop Hotel Dolder.

“ Energy, Healthcare, Agritech. Semua yang masih bisa diciptakan bubble.” jawabku. Dia mengangguk. Paham. Karena dalam dunia ini: Bubble bukan musuh. Bubble adalah alat.

Selanjutnya Elena mulai masuk tahap jaringan yang kumiliki,  Elena kini mengelola jaringan: Fund layering: Luxembourg – Cayman – BVI. Asset stripping: Corporate vehicle – nominee – repo structure. Debt recycling: Structured note – CDS – TRS – synthetic ETF. Market manipulation: PR agency – social media – fake analysts – paid ratings. Semua disusun dalam arsitektur rumit, cukup untuk membuat bank sentral pun lelah menelusuri.

Di satu malam setelah rapat, dia berkata “ Dulu aku ingin kamu jadi rumah. Kini aku ingin kamu jadi peta.”

Aku jawab singkat: “Rumah bisa runtuh. Peta membawa kita ke mana pun kita mau.”

Tidak semua orang kembali karena kalah. Ada yang kembali karena mereka sudah cukup paham, bahwa kekuasaan yang benar bukan tentang siapa yang paling baik. Tapi siapa yang paling paham cara kerja dunia ini. Dan Elena… akhirnya memilih berdiri di sisi yang menciptakan arah. Bukan lagi yang menyesali arah yang ada.

***

Jakarta 2025. Sore yang biasa. Lalu lintas yang tetap bising, langit yang tetap kusam. Tapi ada hal-hal yang tidak pernah berubah dari kota ini. Ia selalu menyediakan ruang untuk pertemuan yang tidak benar-benar kita rencanakan untuk selesai.

Aku duduk menunggu Elena di Apartement-Safehouse. Jam 5 sore, seperti yang kami janjikan. Terakhir kali bertemu dia, 2013. Umurnya 35 tahun. Hari ini dia datang sebagai CEO Ale investment, Zurich. Langkahnya ringan, tapi matanya tak lagi sama. Ada keletihan yang sudah lama selesai berdebat dengan hati.

Dia langsung duduk di sebelahku di sofa. Memelukku lama. Aku biarkan dia melapas rindu. Sampai dia melepaskan pelukannya. “ Kamu tampak lebih gemuk tapi fresh. Terlalu humble untuk seorang predator.” Katanya tertawa.

“ Kamu kemari dengan private Jet Ale ? Tanyaku.

“ Ya. Business trip ku sebenarnya ke Singapore. Ada rencana sampingan ke Jakarta. Karena kolegaku, pejabat Indonesia sudah lama ingin bertemu denganku. Aku selalu tunda. Tetapi entah mengapa, aku ingat kamu lagi. Aku coba coba hubungi Bu Wenny di Hong Kong. Berharap dapat izin untuk bertemu kamu. Eh ternyata dia izinkan. “

Dia peluk lagi aku dengan ceria.

Lalu, tiba-tiba dia menatapku lebih dekat, lebih dalam.  Di balik matanya yang dewasa, di balik blazer yang mahal dan status yang telah tinggi, aku masih bisa melihat sisa-sisa luka yang dulu ia rawat sendirian. Dia mendekat, suaranya lebih pelan, lebih seperti bisikan seorang perempuan kepada laki-laki yang pernah diam-diam menggores hatinya.

“Kamu tahu, B… satu kejujuran yang tak pernah hilang dari batinku, yang membuat aku tak pernah benar-benar bisa jauh dari kamu…”

“Itu bukan soal bisnis. Bukan soal uang. Bukan soal Ale Capital, bukan soal M&A, bukan soal hedge fund, bukan pula soal strategi.”

“Yang tak pernah hilang… adalah saat pertama kali kamu mendekatiku. Saat kamu merekrutku. Cara kamu mengajakku makan malam, cara kamu berbicara. Semuanya terasa begitu hangat, penuh perhatian, begitu halus… begitu lembut.”

“For the first time in years, I felt genuinely special.”

Aku diam.

Karena aku tahu, kadang tak perlu jawaban untuk kebenaran yang begitu jujur.

Dia menatapku lagi, kali ini lebih tenang. “Mungkin bagimu itu cuma bagian dari taktik. Bagian dari cara mendekati target. Tapi bagiku, kenangan itu tetap tinggal. Ia tumbuh di tempat paling sunyi dalam hatiku.”

Aku hanya menarik napas perlahan. Dalam bisnis ini, kita terbiasa memanipulasi angka, persepsi, bahkan manusia. Tapi kita tak pernah benar-benar bisa memanipulasi hati yang sudah sempat percaya.

“Elena,” kataku akhirnya. “Yang kita lalui… bukan tentang cinta atau tidak cinta. Itu soal pilihan. Kamu memilih bergabung bukan karena aku membujuk. Tapi karena kamu tahu, kamu punya tempat dalam sistem ini.”

Dia tersenyum. Senyum yang tak lagi berharap apa-apa.

“Ya, B… dan aku sudah berdamai dengan itu. Tapi izinkan aku tetap menyimpan satu hal: aku pernah merasa sangat istimewa. Itu cukup. Aku tidak akan jatuh cinta untuk kedua kalinya.”

Lalu, seperti sore yang perlahan habis ditelan malam, kami berpisah lagi. Hanya dua orang yang kini lebih paham. Ada kenangan yang memang tak perlu dimiliki. Cukup diingat.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tag:

Tanggal:

2 tanggapan untuk “Family Office”

  1. Memilih berdiri di sisi yang menciptakan arah.. berbekal “Peta” yang membawa kita ke mana pun kita mau !

    Terima kasih Babo

    Suka

  2. Tulisan yang setiap hari bisa mencerahkan dan menambah wawasan…

    Sehat selalu ya Pak Erizeli Bandaro…

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Ka_eM Batalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca