
Senja bergelayut di balik jendela kaca apartemen yang menghadap langit kelabu Sudirman. Dari balik tirai tipis, aku menanti tim eksekutif Yuan Holding dari Hong Kong. Sambil menunggu, aku membaca ulang memorandum bisnis yang dikirim CFO mereka pekan lalu. Satu simpulan tegas tertulis: wait and see untuk investasi di Indonesia. Ekspansi GI, yang sejak tiga tahun lalu dipersiapkan ditunda. Bukan karena pasar menolak. Tapi karena pemerintah gagal memberi sinyal tegas soal arah kebijakan fiskal dan makro.
Aku letakkan laporan itu. Tertegun.
Di balik tabel-tabel angka, kurva, dan baseline assumptions yang tertulis rapi, aku tahu: cara keluar dari situasi ini sebenarnya sederhana. Tetapi butuh political will. Dan sejarah selalu memberi pelajaran yang sama: tidak ada pemulihan ekonomi tanpa keberanian menanggung risiko kebijakan yang getir.
Lihatlah Argentina.
Selama puluhan tahun mereka tersesat dalam defisit fiskal struktural, subsidi populis, inflasi tak terkendali, utang luar negeri yang menggila. Baru di bawah Javier Milei, mereka memilih jalan pahit: fiscal consolidation, subsidy cuts, bureaucracy downsizing, monetary tightening.
Hasilnya? Untuk pertama kali dalam dua dekade, Argentina mencetak primary fiscal surplus. Pasar mulai percaya. Sovereign bond spreads menyempit, FX reserve membaik. Argentina belum pulih sepenuhnya, tapi arahnya jelas: dari ilusi menuju realitas.
Indonesia belum separah itu. Kalau serius dan punya keberanian membenahi, siap tidak popular, hanya perlu 1 tahun semua masalah bisa selesai. Indonesia akan melangkah pasti ke depan dengan gagah. Tapi kalau terus mengandalkan narasi, bukan reformasi, jangan berharap beda nasib
Atau ingat Korea Selatan pasca krisis 1997: conglomerate dismantling, banking sector restructuring, fiscal discipline, regulatory overhaul. Mereka tak membangun kekuatan dari slogan, tapi dari painful reform. Hari ini, mereka berdiri sebagai ekonomi teknologi kelas dunia.
Irlandia, usai krisis 2008: public sector cuts, banking clean-up, FDI liberalization. Lima tahun kemudian, mereka kembali menjadi European tiger.
Vietnam? Dari krisis perbankan, hiperinflasi, mereka bangkit lewat SOE reform, fiscal tightening, monetary prudence, trade liberalization. Kini mereka menjadi the rising star of Asia’s manufacturing belt.
Apa pelajarannya?
Indonesia hanya punya dua pilihan: reformasi total atau stagnasi abadi. Bukan reformasi kosmetik. Bukan tambal-sulam demi menjaga popularitas. Tapi reformasi yang menyentuh akar: fiscal reorientation, structural adjustment, legal certainty.
Cut excessive spending.
Eliminate populist subsidies.
Downsize bloated bureaucracy.
Reprofile debt exposure.
Abandon vanity projects.
Prioritize fiscal credibility.
Karena satu hal pasti: pasar tak peduli popularitas presiden. Pasar hanya percaya pada governance dan credibility. Kalau kita terus menunda, terus membungkus realitas dengan statistik manis, bersiaplah menghadapi pelemahan daya beli, widening deficit, deteriorating credit rating, weakening currency, evaporating trust.
Di ujung kompromi itu bukan sekadar krisis ekonomi—tapi krisis legitimasi. Dan sejarah sudah banyak memberi contoh.
***
Jam 5 sore. 3 orang dari Yuan Holding tiba. Dari bandara langsung ke safehouse-apartemenku di kawasan Sudirman. Aku butuh klarifikasi langsung soal penundaan investasi mereka di Indonesia. Padahal rencana ekspansi ini sudah disiapkan sejak tiga tahun lalu. Semua sudah matang. Tapi akhirnya terpaksa ditunda.

Yuni, CFO Yuan Holding, memperkenalkan satu per satu. “Asim, Chief Investment Officer. “ Dia menunjuk pria India. Usia 40an. PhD di bidang Economics dan Industrial Technology.” “Grace, Chief Risk Officer.” Dia menunjuk wanita, etnis Philipina. “ PhD in Economics and Finance”
“ Ok coba jelaskan kepada saya tantang nota bisnis ini yang saya terima minggu lalu.” Kata saya.
Grace Tarik nafas. “ “Proyeksi GDP Indonesia tahun ini direvisi turun menjadi 4,7%. Padahal di awal tahun pemerintah cukup confident menetapkan target 5,5%. Ini warning sign, Pak. Artinya upaya mitigasi macro risk tidak berjalan efektif.” Dia memang ahli resiko di Yuan.
B, angka itu bukan sekadar proyeksi. Itu sinyal bahaya. 4,7% buat negara emerging market dengan populasi sebesar Indonesia. Itu stagnan. Household consumption Indonesia sudah di bawah 5%. Padahal itu tulang punggung PDB. Kalau konsumsi lemah, multiplier effect ke industri ikut redup.
Grace buka laptop, tunjukkan grafik. “ Saya baru presentasi tentang starategi investasi Yuan di hadapan Investor Associate di London minggu lalu. Lihat data ini: Indonesia fiscal stress projection 2025-2027. 40% probability default risk on state infrastructure payment 2025. 30% in 2026. 24% in 2027. Tapi penurunan itu bukan karena improvement revenue, melainkan karena banyak project terminated. Bukan karena fiscal capacity membaik. “ Penjelasannya sangat luas dan detail. Lengkap dengan data dan graphic. Ya ciri khas risk officer.
“ Jadi ini bukan siklus ya? Bukan badai pasti berlalu seperti biasa? “ tanyaku mempertegas.
“ Bukan. “ Kata Asim. “ This is structural stagnation. Bahkan IMF literature sudah jelas, ketika purchasing power stagnates, investment stagnant, fiscal space tighten, itu sudah masuk middle income fiscal trap. Indonesia trapped karena excessive subsidy burden, non-performing infrastructure, and mounting debt exposure.”
Asim menampilkan data tambahan: Government Debt-to-GDP Ratio: 41.2% Banking Sector NPL: 3.5%. Food Inflation: 8.1%. ICSB Consumer Index: 72/100. Penjelasannya juga detail. Ini Analisa economy quantitative. Lengkap dengan berbagai scenario dampak dari ekonomi global.
“ Itu semua sinyal terang benderang. “ Kata Yuni. “ Tapi sayangnya, Jakarta selalu beri narasi palsu soal stabilitas.
“ Tapi data terbaru dan sesuai dengan pidato Presiden. Investasi sudah mencapai target, kemiskinan menurun!”? Kataku.
“ Karena pidato selalu pakai data yang setengah matang. “ Kata Yuni. Dia CFO, Etnis Medan, Indonesia. Hanya dia yang tamatan SMA dalam jajaran eksekutif Yuan. Tetapi dia pembelajar yang hebat. Otodidak sejati. “ Foreign Direct Investment kita malah turun 2% YoY. Investor itu bukan bodoh. Mereka lihat real indicator, bukan poster-poster optimis di Sudirman. Capital inflow stagnan. Portfolio outflow diam-diam naik. Itu yang bikin rupiah rapuh. Engga ada logika nya kemiskinan turun. Bahkan meningkat. Tuh lihat data World Bank.”
“ Kalau mau lebih jujur lagi, APBN Indonesia tahun ini sudah pakai model survival, bukan development. Primary balance walau masih surplus tetapi trend nya terus turun, melemah. Pelebaran defisit mendekati 3%. Tekanan belanja terus terjadi. Efisiensi gagal. Dan lebih dari 30% penerimaan pajak dipakai bayar bunga dan utang. Ini textbook ponzi finance phase. Kata Minsky, gali lubang, tutup lubang. Bukan growth. “ Lanjut Yuni.
Aku tarik napas, geleng kepala. “ Jadi Indonesia gelap itu bukan sekadar metafora. Ini memang gelap secara struktural.” Karena aku menggunakan Bahasa indonesa. Asim dan Grace tidak mengerti. Yuni hanya tersenyum dan berkata. “ Because data is cold, but honest. And truth is often uncomfortable for power.”
Asim menimpali. “In London, we already categorize Indonesia as fragile market: high volatility, low growth potential. Market knows. Investors know. Only Jakarta pretends otherwise.”
Aku sembari melirik headline di ponsel. “ Tuh, Presiden barusan bilang, “Jangan percaya orang-orang yang sok pintar, seperti pengamat. Mereka sok tahu soal ekonomi kita gelap. Mereka itu pesimis, suka menakut-nakuti. Faktanya, Indonesia tetap kuat.” Kataku dalam Bahasa Indonesia. Asim dan Grace saling tatap.
Yuni tertawa kecil, getir. “ Sudah biasa kan. Di negara ini, data dianggap kurang ajar kalau tak sesuai narasi kekuasaan. Orang yang pakai logika dan angka dibilang pesimis. Padahal justru kita bicara angka karena kita peduli. “ kata Yuni. “ Semua investor global, anggap Indonesia itu exciting. Mereka juga geram dengan sikap pemerintah Prabowo yang tidak serius benahi makro.”
” Kalau di London, pernyataan kayak gitu sudah jelas masuk kategori political deflection. Kita tahu, pemerintah lebih takut kehilangan sentimen optimisme daripada kehilangan pertumbuhan ekonomi. Optimisme semu lebih penting buat jaga politik daripada data pahit yang mengancam kredibilitas.” Lanjut Yuni.
“ Tapi kenapa mereka ngotot? Kenapa bukan transparansi data yang dipakai buat perbaiki kebijakan? Kataku tanpa berharap mereka menjawab.
“ Karena kekuasaan di sini sudah lama hidup dari narrative economy, bukan real economy. Selama rakyat percaya semua baik-baik saja, kursi mereka aman. Tapi kalau bicara data, transparan, jujur, ya ketahuan boroknya: utang makin berat, fiskal nyaris meledak, pangan mahal, daya beli jatuh. “ kata Yuni.
Aku mengangguk.
Yuni lanjut jelaskan dalam Bahasa inggris.“ Pemerintah sadar, krisis kepercayaan jauh lebih berbahaya ketimbang defisit APBN. Makanya retorika tetap diatur, narasi tetap dijaga. Indonesia itu sekarang dikelola bukan untuk pertumbuhan ekonomi riil, tapi untuk pertumbuhan persepsi. Bukan soal benar atau salah. Ini soal menjaga ilusi. Di atas kertas mereka butuh angka pertumbuhan, butuh headline positif, butuh indeks kepercayaan publik tetap di atas 70%.
Karena begitu rakyat sadar kebenaran angka-angka itu… Bahwa 40% proyek bisa gagal bayar. Bahwa APBN makin tercekik bunga utang. Bahwa daya beli mereka jatuh bukan karena nasib, tapi karena sistem yang cacat… Maka yang runtuh bukan sekadar ekonomi, tapi legitimasi kekuasaan itu sendiri.
Maka jangan heran kalau data, fakta, bahkan akal sehat pun akan dilawan oleh pidato. Dan jangan heran kalau orang pintar yang bicara pakai angka selalu dicap “sok tahu.” Karena bagi kekuasaan, lebih baik rakyat hidup dalam terang ilusi, daripada menyalakan lampu kecil kebenaran yang menyakitkan. “
“ Investor doesn’t care about narrative. Only cares about data.” Kata Grace.
“Alright. Clear. I’ll finalize Yuan’s expansion decision in Indonesia after speaking directly with your CEO, Mrs Wenny.” ” Kataku. Dalam hati aku berkata. Disaat semua orang ragu, terutama asing. Its time to invest in Indonesia. Pejabat dan elite Indonesia itu mudah diajak bicara dan mudah sekali kompromi.. Konstitusi kita smart. Yang memberi ruang berdamai dengan cepat. Cepat pula recovery. Mengapa? karena tidak ada yang tidak mencintai Indonesia. Hanya kadang lupa aja.
Asim tiba-tiba berkata. “Pak, sejak berkarir di Yuan, baru kali ini bertemu Bapak. Boleh minta foto? Istri saya ingin lihat saya sempat bertemu Bapak.”
Grace tersenyum. “Saya juga, Pak. First time.”
Aku tertawa kecil. “Tentu. Mari.”
Kamipun photo bersama. Apa bangganya photo dengan gaek, juru doa.

Tinggalkan komentar