
Hong Kong, tahun 2013. Malam di kota ini selalu tampak gemerlap bagi mereka yang punya cukup uang, atau cukup alasan untuk memamerkan kekuasaan. Valentina Guebuza memilih restoran di lantai atas sebuah hotel yang jendelanya menghadap Victoria Harbour. Cahaya-cahaya kapal malam seperti ilusi. Air laut tampak hitam pekat, seperti masa depan yang enggan memberi kepastian.
Dia putri presiden. Duduk di hadapanku dengan gaun mahal, bibir merah, dan keluhan yang dibungkus dengan rasa lelah yang sombong.
“Ayahku sudah bekerja keras untuk negeri ini,” katanya memutar gelas anggur. “Ekonomi tumbuh 8% setiap tahun. Bansos jalan. Tapi oposisi tetap berisik. Mereka tak tahu terima kasih.”
Aku hanya mendengar. Sejak kecil aku tahu, anak yang dibuai kekuasaan sulit diajari bahwa hidup ini tak selalu soal pertumbuhan ekonomi. Kadang soal keadilan. Kadang soal harga diri.
Aku tahu bisnisnya berkembang seiring nama ayahnya makin dalam menggenggam negara. Holding company miliknya merasuk ke segala lini: properti, pelabuhan, tambang, TV kabel, perikanan, banking, telekomunikasi, logistik, bahkan kereta api. Semua dengan jubah kolaborasi asing yang manis di kontrak, getir di kenyataan. China di belakang, kekuasaan di depan. Tak ada yang aneh, begitu memang cara dunia ini bekerja.
“Apa saranmu?” tanyanya. Suaranya seperti meminta nasehat dari seorang pendeta di tengah dosa yang sudah kadung dipelihara.
Aku tersenyum kecil. Apa gunanya memberi nasihat kepada anak seorang penguasa yang tak pernah belajar hidup sebagai manusia biasa?
“Tidak ada kekuasaan yang sempurna. Gunakan oposisi seperti cermin. Tidak nyaman, tapi berguna. Mereka membuatmu tetap waras. Jangan jatuh cinta pada pujian rakyat. Rakyat miskin itu bukan karena bodoh, tapi karena Lelah dan miskin literasi. Mereka tak sanggup berteriak, kecuali dalam tepuk tangan.”
Dia termenung. “Tapi oposisi kadang terlalu keras. Mengganggu stabilitas.”
“Stabilitas apa?” tanyaku pelan. “Negara yang stabil bukan yang sunyi dari kritik. Tapi yang kuat menghadapi kritik. Jika kekuasaanmu hanya kuat karena mereka diam, itu bukan kekuasaan. Itu ilusi.”
Aku melihat ia menunduk. Mungkin untuk pertama kali, ia bertemu kalimat yang tak bisa ia beli.
***
Dua tahun kemudian, ayahnya turun. Rakyat menepuk tangan, tapi bukan karena hormat. Lebih karena lega. Kekuasaan yang terlalu lama duduk, biasanya lupa cara berdiri sendiri.
Kabar yang kudengar menyakitkan, meski tak mengejutkan. Valentina, perempuan yang dulu memandangku dari jendela restoran dengan angkuh, tewas karena kekerasan rumah tangga. Bukan karena politik. Tapi politik selalu punya cara mematikan dengan lambat, mulai dari harga diri hingga nyawa.
Ayahnya, Armando Guebuza, menyaksikan anaknya pergi. Kakaknya dipenjara karena korupsi. Menteri keuangan diadili di New York. Skandal utang rahasia menghantam Mozambik lebih keras dari badai. Dari kabinet, 11 orang masuk penjara. Dari intelijen, dua nama ikut terseret. Tak ada yang selamat. Kekuasaan memberi makan mereka, lalu menelan mereka hidup-hidup.
Aku teringat kalimat tua dari Machiavelli, “Siapa yang menggali lubang bagi musuh, lebih dulu mempersiapkan kuburan bagi sahabatnya.”
Guebuza mungkin mengira dirinya ahli bermain catur kekuasaan. Tapi sejarah sudah terlalu sering menulis: Yang bermain terlalu lama, justru lupa—di papan catur, raja pun akhirnya tumbang. Bukan karena kalah langkah, tapi karena habis waktu.
Kini Armando hidup tua dalam sepi. Dikelilingi hantu masa lalu, di mana setiap wajah yang dulu memuji kini menjelma wajah dalam berita korupsi. Tak ada istana yang kekal. Tak ada kerajaan yang diwariskan kecuali aib.
Kekuasaan memang tak pernah memberi warisan selain kehancuran. Dan keluarga, selalu jadi korban pertama yang lupa dihitung.
Jika kau hendak mengukur umur kekuasaan, jangan lihat angka. Lihat kuburan. Karena semua kisah tentang kekuasaan, akhirnya, ditulis dengan nisan.
***
Tahun 2025 Risa datang ke apartemen-safehouse- di Jakarta menemuiku. Kami bersahabat sejak usia muda. Aku mengenal kali pertama di Glodok sebagai pedagang kaset kaki lima. Dia lahir di Pontianak. Merantau ke Jakarta dengan bekal tamat SMA. Sama denganku. Setelah berpisah 20 tahun. Kami bertemu lagi di Hong Kong. Dia jadi TKW. Dan aku sudah punya holding. Aku tawari dia berkarir di SIDC. 10 tahun berkarir dia berkembang pesar. Dia memang cerdas. Lulus terbaik pada setiap level training. Kini dia sudah jadi eksekutif SIDC,

“Maaf terlambat,” katanya. Suaranya masih sama. Walau usia mendekati 60 tahun. Dia tetap cantik. Mungkin karena tidak pernah menikah. Tubuh terawat. Dulu mata perempuan miskin. Kini mata yang terbiasa melihat angka miliaran dolar seperti angka biasa. Itu bisa jadi membuat dia muda diusia menua.
“Aku dengar kau baru dari Maputo?” kataku membuka percakapan.
Dia tersenyum tipis. “ Ya aku tahu kamu berteman baik dengan Valentina.. .”
Aku kibaskan tangan. “ just friend. “ Kataku cepat.
Risa mengangguk. “Mozambik memang bukan soal Afrika tapi sistem yang ada di banyak negara berkembang. Itu soal bagaimana utang lebih berkuasa dari presiden.” Risa menyandarkan punggung. “Tak ada rezim yang jatuh karena terlalu banyak berpikir. Mereka jatuh karena terlalu banyak berutang.”
Aku tertawa kecil. “Dan selalu pola yang sama. Negara berkembang memimpikan kejayaan dengan cara yang salah: menjual masa depan, menggadaikan kehormatan, demi ilusi pertumbuhan.”
Risa menatap gelas kopinya. “Aku tahu soal Mozambik. Soal USD miliaran hidden loan skandal. Kamu ada dibalik itu bersama teman temanmu di London. Miliaran dolar pinjaman rahasia. Tak pernah masuk ke anggaran negara. Tak pernah dibahas di parlemen. Tak pernah diaudit. Tapi uangnya nyata. Dipakai beli kapal, senjata, radar… semua sekarang karatan di pelabuhan.”
Aku terseyum tipis.
“Negara kecil memang suka beli senjata, bukan untuk perang. Tapi untuk menciptakan musuh imajiner. Sebenarnya itu cara mereka mengintimidasi rakyatnya sendiri. Supaya presiden tetap punya alasan berdiri dan kekuasaan tetap eksis.
Risa tertawa kecil. “Dan di baliknya? Bank besar tersenyum. Credit Suisse, VTB. Selama fee cair, bunga berjalan, komisi dibagi, kapal mau karam atau tidak… bukan urusan mereka.”
“Kau tahu lebih baik dari aku, Risa. Di balik semua itu, tangan-tangan tak terlihat menjahit semuanya. Politisi, pejabat militer, pengusaha bayangan, bankir rakus, keluarga presiden.”
Risa menarik napas. “ Aku tahu kamu ada alasan mengapa ada dibalik skandal itu. Yang memang terbukti tidak ada jejak keterlibatan kamu..”
“Skema utang itu bukan buat rakyat. Orang Mozambik miskin bukan karena mereka malas. Tapi karena negara mereka dijual diam-diam” Lanjut Risa. “Cuma buat menjaga kursi kekuasaan tetap hangat. Supaya elite bisa terus beli rumah di Lisbon, sekolahkan anak ke Swiss, belanja di Dubai, pamer jam tangan di Davos.”
Risa menyeringai. “Lucunya, waktu skandal pecah, dunia pura-pura kaget. Seolah-olah mereka tak tahu utang rahasia itu lahir. Padahal semua pihak terlibat. Semua dapat bagian. Bukan konspirasi. Itu bisnis biasa.”
Aku menyimak saja.
“Dari Zurich ke Maputo. Dari London ke penjara. Di New York, menteri keuangan nya diadili. Di London, bank-bank didenda. Tapi uang tetap mengalir ke negara lain yang sama bodohnya.”
Risa tersenyum pahit. “Dan rakyat? Mereka cuma tahu harga beras naik. Subsidi pupuk hilang. Mata uang melemah. Anak-anak putus sekolah. Karena utang bukan sekadar angka. Itu darah. Masa depan yang dicuri diam-diam.”
Kami terdiam sejenak.
“Apa kabar Guebuza?” tanyaku.
Risa memutar gelasnya. “Masih hidup. Tak dipenjara. Tapi dikurung oleh sejarah. Rumah besar. Sepi. Dulu temannya Beijing, Washington, Paris. Kini cuma duduk menatap jendela. Anaknya dipenjara. Menterinya dipenjara. Rakyatnya lebih miskin dari saat pertama dia naik tahta.”
Aku tersenyum tipis.
“B, sejarah menertawakan orang yang pikir kekuasaan bisa diwariskan. Utang beda dengan kekuasaan. Ia tetap hidup bahkan setelah semua pejabat mati. Debt-to-GDP ratio. Creditworthiness. Political risk premium. Return on loan. Semua sudah ada dalam excel sejak sebelum presiden baru terpilih.”
Kami diam sejenak. Kadang, tidak ada kata yang lebih dalam dari diam di antara dua orang yang sama-sama pernah miskin dan kini sama-sama paham cara dunia bekerja.
“Aku tahu kenapa kau suruh aku berkunjung ke Mozambiek,” lanjut Risa pelan. “Engga usah kawatir. Konsesi IUP SIDC aman. Proses penambangan Rare earth kita berkembang. Rencana tahun depan kita bersama China masuk proses refinery disana.”
Aku mengangguk.
“ Termakasih sa..”
Risa menoleh padaku, seolah ingin memastikan aku masih B yang sama, B yang bijak mengajarinya bagaimana bertahan di dunia yang tidak ramah. “Mozambik itu cuma contoh kecil dari peta besar negara berkembang. Negara yang ingin tampil besar tanpa R&D yang terorganisir. Yang dicari pertama bukan pemikiran, bukan rakyat, bukan martabat. Tapi utang.”
“Kita kan tidak sedang bicara politik Risa.” Kataku lirih.
“Tidak, B. Kita bicara sistem. Sistem yang korup! Terjadi dimana mana. Termasuk di Indonesia…”
***
Tak berselang lama, Xiau Lin datang ke safehouse. Dia membungkuk depan Risa. “ Itu Lin, temanku. “ Kataku.
Risa mau pergi dari ruang itu. Tetapi aku tahan. “ Tetap disini aja.”
“SPV Proposal for Latin America Sovereign Development Fund.” Kata Lin mengirim file digital terenskripsi ke inbox. Aku tampilkan ke dinding presentasi.
Lin menatapku, nadanya datar. “ SPV itu hanya cara penguasa memisahkan antara negara dan privat. Pemisahan untuk memudahkan leveraging tanpa terdeteksi politik. Mereka pikir dengan bikin SPV di Delaware, menaruh branding ‘Sovereign Fund’, semua akan terlihat legitimate. Padahal isinya tetap sama: sovereign debt, yang pasti berujung debt trap.”
Aku tersenyum tipis.
“Begitulah cara Amerika Latin bertahan hidup. Mereka lebih piawai membuat illusion of solvency dibanding membuat surplus riil.” Kataku.
“Maaf boleh tanya” Kata Risa menyela. Aku menganguk. “ Jelaskan ke aku, B. Apa itu sovereign fund?
Aku memutar gelas.
“ Sovereign Fund, kataku “ secara teori dibentuk oleh negara dari excess reserve. Biasanya dari surplus perdagangan, windfall migas, surplus fiskal, cadangan devisa. Fungsinya? Stabilitas fiscal, counter-cyclical buffer. Penyimpanan kekayaan lintas-generasi atau future fund. Diversifikasi pendapatan negara berupa yield global assets. Contoh, Norway Pension Fund. Temasek Singapore Mereka tidak berbasis utang. Mereka berbasis aset riil yang sudah clean.
Nah SPV Sovereign Fund ala Amerika Latin ini? Beda. Basisnya bukan surplus, tapi leverage. Modalnya bukan cadangan negara, tapi pinjaman disguised as capital placement. Backing-nya bukan kekayaan nasional, tapi future cashflow dari proyek yang bahkan belum jalan.
Strukturnya lebih mirip ini, Negara buat SPV di Delaware. SPV itu buat bond issuance: sovereign label, green bond, ESG bond. Dana masuk ke SPV, bukan langsung ke Treasury negara. SPV masukkan duit ke proyek infrastruktur atau energy transition yang “katanya” future cashflow bagus. “
“Kalau proyek gagal? SPV collapse. Siapa tanggung jawab? Tanya Risa mengerutkan kening. Aku lirik Lin untuk jawab pertanyaan Risa. “ Sovereign guarantee langsung aktif dan efektif. “ Jawab Lin.
“ Siapa sovereign?
“ Negara. Artinya pajak rakyat.”
“Jadi ini bukan sovereign wealth fund. Ini sovereign liability factory.” Risa menyimpulkan. Dia memang cerdas. Lin senyum aja.
Aku mengangguk. “Tepat sekali. Ini bukan model Norwegia. Ini model Argentina 1998 yang didandani ESG.”
Risiko moral hazard? Risa mengerutkan kening. Aku minta Lin jawab pertanyaan Risa.
“ Otoritas fiskal akan main aman di politik, tapi agresif di SPV. Karena SPV di luar APBN, jadi mudah mainkan leverage lebih tinggi. Tak perlu DPR, cukup tanda tangan teknokrat. Over-optimistic IRR. Semua proyeksi dibuat seakan GDP tumbuh, yield energy 15%, green transition untung 10 tahun. Padahal tanahnya belum dibebaskan. Layering liabilities.
SPV pertama leverage ke SPV kedua, ketiga dan terus. Nanti debt waterfall complexity bikin utang hilang jejak. Kapan jatuh tempo? Nanti, setelah pejabat sekarang pensiun. Transfer risk to sovereign. Begitu SPV gagal bayar, investor invoke guarantee clause. Sovereign bayar. Bukan SPV. Pajak yang naik. Subsidy dipotong. Harga listrik disesuaikan. Inflasi? Rakyat tanggung.
Risa mengangguk, lebih getir daripada paham. “Jadi ini bukan financial innovation. Ini penjarahan masa depan yang dibungkus power point.”
Lin tertawa pelan dan menjawab “Ya. Ini bukan kebijakan fiskal. Ini ponzi versi negara. Selama ada willing lender, mereka terus mainkan. Lalu nanti headline media akan bilang: ‘Kita menarik investor asing, membangun masa depan hijau.”
“Lalu 10 tahun lagi, IMF datang. Surat hutang direstrukturisasi. Sovereign haircut. Rakyat yang kurangi makan, bukan pejabat yang kurangi makan malam.” Kata Risa dengan sinis. Risa bertanya terakhir kali: “Kenapa semua negara ini tetap main cara ini, B? Padahal tahu akibatnya.”
Aku tersenyum. “Karena hasilnya hari ini, dosanya ditagih 10 tahun lagi. Politik selalu berpikir dalam horizon pemilu. Bukan dalam horizon sejarah.”
Kemudian aku briefing Lin untuk tugas di ke Amerika latin. Setelah itu Lin minta izin undur diri untuk kembali ke Boston.
Tinggal aku berdua dengan Risa. Aku tersenyum menatap Risa.
“ Selah 15 tahun berkarir di SIDC dan 42 tahun bersahabat dengan kamu, barus sekarang aku tahu sisi lain dari kamu. “ Kata Risa dengan airmata berlinang. “ Sementara di SIDC semua good governance. Semua well organize. Itu bayi yang kamu lahirkan. Dan kamu jaga tetap bersih dan bermoral… “ Kata Risa seraya berdiri dan minta izin pamit. Dia harus kembali ke Hong Kong. Aku mengangguk. Tidak ada pelukan. Biarlah. Aku diam saja.
Karena pada akhirnya, Sa, hidup ini bukan apa yang kau dapat tetapi apa yang kau beri. Bukan apa yang kau pelajari tetapi apa yang kau ajarkan. Bukan apa yang kau pikirkan. Tetapi apa yang kau lakukan. Tuhan berkata “ Demi waktu sesungguhnya manusia itu hidup dalam keadaan merugi kecuali mereka yang berbuat baik dan berlaku sabar.”
Paham kan, Sa…
Di layar, angka-angka terus bergulir. Cashflow projection, IRR, DSCR, covenant breach scenario. Semua tampak ilmiah. Semua tampak legal. Tapi aku tahu: di balik angka, selalu ada darah. Di balik SPV, selalu ada anak-anak yang kelak tak bisa sekolah karena subsidi pupuk hilang demi membayar bunga utang yang bahkan tak pernah dipakai beli satu kilogram beras.

Tinggalkan Balasan ke MKGinting Batalkan balasan