
Dalam kabut politik yang lebih pekat dari malam Dunsinane, Lady Macbeth mungkin akan menoleh ke negeri ini dengan senyum kecil dan berkata lirih “Lihatlah, anakku, inilah negeri yang paling paham benar caraku bermain. Tampak bagai bunga lugu di pagi hari, namun akarnya melilit kuat, mencengkeram seperti ular.”
Di republik ini, kekuasaan tumbuh seperti benalu di pohon tua: tampak hijau, tampak segar, tapi hidup dari hisapan diam-diam. Di balik senyum sederhana Jokowi, yang dijual dengan label “merakyat”, ada kekuatan yang lebih tua umurnya daripada masa jabatan presiden mana pun: oligarki kapitalisme.
Bukan oligarki gagasan, bukan oligarki visi, melainkan oligarki yang memahami bahwa politik adalah soal akses, sumber daya, dan pengamanan hukum, bukan soal pidato atau janji.Di balik tiap jabat tangan penuh senyum, ada daftar panjang: siapa duduk di mana, siapa pegang tambang mana, siapa pegang jalur distribusi mana, dan siapa yang dijamin tak akan tersentuh hukum sampai anak-cucunya puas menjarah.
Kini, panggung berpindah. Prabowo akhirnya duduk di kursi puncak yang ia idam-idamkan sejak sejarah bangsa ini masih menulisnya sebagai mantan jenderal yang pernah gagal. Tapi bukan keberanian yang membawanya ke sana. Bukan pula mandat penuh rakyat. Ia tahu betul, istana itu bukan dibangun dari tulang punggungnya sendiri, melainkan dari kompromi panjang dengan tangan-tangan tua yang tak pernah terlihat di kamera.
Tangan-tangan itulah yang menyodorkan tiket menuju kekuasaan. Dan tiket itu, seperti biasa, tak pernah gratis. Ada harga. Ada hutang. Ada “keep silent and obey” yang harus ditebus, entah hari ini, entah besok.
Di negeri ini, hukum bukan soal benar dan salah. Ia soal garis lingkaran: siapa yang di dalam, aman. Siapa yang di luar, tunggu giliran jadi kambing hitam. Maka jangan heran jika musuh lama Jokowi tetap dibungkam. Bukan karena Prabowo mau. Tapi karena sistem sudah lama ditulis begitu. Mesin sudah berjalan, operator boleh berganti, tapi SOP tetap sama.
Kalau kau bertanya soal siapa penguasa ekonomi di negeri ini, jawabannya tak sulit. Bahkan anak SMU yang suka main catur pun sudah hapal bidaknya.
Pertama, Politisi yang Punya Bisnis.
Siang mereka bicara “rakyat” di ruang sidang. Malam mereka bicara tambang, kuota impor, dan PSN di ruang makan hotel bintang lima. Mereka bukan perwakilan rakyat. Mereka franchise dari pemodal, dengan bonus kursi kekuasaan. UU? Aturan? Semua bisa dinego, asal tahu pintu mana yang harus diketuk.
Kedua, Konglomerat Elite.
Mereka ini seperti roh gentayangan: tak terlihat, tapi selalu hadir. Dari Orde Lama, Orde Baru, Orde Reformasi, hingga Orde Kawan Lama. Mereka menanam bibit: bibit partai, bibit caleg, bibit presiden. Jangan heran, mereka tidak percaya Tuhan, tapi percaya betul return on investment.
Siapa raja tambang? Siapa raja lahan? Siapa raja bank? Semua kita tahu. Tapi kita bungkam, sebab kebenaran di sini lebih mudah disebut hoaks daripada dijadikan berita.
Ketiga, Proxy Partai.
Mereka bukan siapa-siapa. Tapi tangan mereka menjangkau kemana-mana: hutan, tambang, laut. Mereka mitra setia modal asing. Tugasnya sederhana: menjarah, mencuci, lalu memerah. Dibalut jargon nasionalisme di seminar, dibaliknya sudah siap kontrak ekspor hasil bumi ke Singapura. Bendera boleh merah putih. Tapi rekening tetap asing.
Keempat, Ring Kekuasaan.
Mereka tak tercatat di bursa. Tak terdaftar di Kadin. Tapi mereka bisa memuluskan tambang ilegal, menyelundup tanpa ditangkap, merampok dana pensiun, menjual investasi bodong.Mereka pakai seragam, ormas, badge relawan. Dan mereka lebih paham hukum daripada jaksa sendiri.Mastermind? Tidak ada. Karena mereka bukan hidup di bawah hukum, tapi di bawah kompromi kekuasaan.Dan semua orang tahu. Semua orang diam. Semua pura-pura sibuk mencari solusi. Padahal semua tahu, ini bukan soal ideologi. Ini soal giliran.
Negeri ini bukan lagi republik rakyat. Ia panggung wayang. Lakon tetap sama: empat raja menari di atas penderitaan yang tak pernah habis dibahas di talkshow TV.
Yang tertawa selalu mereka.
Yang menjerit selalu kita.
Dan kita?
Seperti biasa. Nyalakan rokok, seruput kopi sachet, lalu menunggu babak berikutnya. Siapa Presiden? Siapa Kaya? Jawabannya sudah selesai bahkan sebelum pemilu dimulai. Karena seperti kata Lady Macbeth: “Be the serpent under’t.”

Tinggalkan komentar