Mafia Migas

Aku dapat email dari Petronyx Energy Trading Ltd. Mereka dapat rekomendasi dari Asset Manager di London untuk bertemu denganku. Kalau akhirnya aku mau bertemu karena mereka menyebut nama Scoth. Dia sahabat dan juga mentorku dalam dunia keuangan. Aku sempatkan membaca topik summary yang hendak dibahas. Kelihatan sederhana. Namun rumit. Mereka sedang ada masalah gagal bayar terkait denga transaksi forward Crude. Menjadi tanda tanya. Yang aku tahu mereka dibalik pemain minyak di Indonesia yang punya koneksi kuat di tingkat elite kekuasaan. Dan sudah berlangsung sekian decade. Kenapa selemah itu.

Aku perlu orang ahli bukan sekedar auditor. Analis tracing terbaik untuk flow perdagangan, arsitektur swap, dan akuntansi derivatif. Aku teringat dengan Cristina. Yang kini jadi CEO Gentech. Unit business Energy di bawah AMG Holding New York. Terakhir ketemu dia tahun 2013. Artinya sudah lima tahun aku tidak bertemu dengannya. Aku minta Tom, CEO SIDC AMG Holding agar mengirim Cristina ke Jakarta mendampingi ku dalam tugas khusus.  Keesokannya, Cristina sudah sampai di Jakarta dan bertemu di kantor private ku di Apartement-Safahoue di Kawasan Sudirman. Dia tetap cantik diusia 42 tahun.

Aku terbang ke Singapore dengan privat jet Cristina. Singapura. Negeri kecil, tapi bukan negeri biasa. Ia hidup dari kecemasan orang lain. Ia tumbuh dari selisih, dari margin, dari rasa takut bangsa-bangsa besar akan kekurangan. Bukan kekurangan uang. Tapi kekurangan akses. Kekurangan supply. Kekurangan waktu. Dari udara, Singapura hanya titik kecil. Dari daratan, hanya kota yang meminjam kekuatan orang lain untuk bertahan hidup. Tapi di peta arus uang, di peta perdagangan energi, di peta aliran devisa Asia, kota kecil ini lebih besar dari banyak negara dengan tentara.

Pertemuan di kantor Petronyx Energy Trading Ltd, di Clarke Quay. Mereka tidak memintaku membantu fresh money. Ruang rapat mereka tampak seperti teater keuangan modern. Layar Bloomberg 70 inci. Grafik futures. Kursi kulit. Coffee table dengan nama-nama besar: BP, Vitol, Trafigura, Shell. Semua itu ada. Semua tampak meyakinkan. Tapi aku tahu, semakin mewah panggung, semakin dalam lubang yang ingin mereka tutupi.

Chairman mereka bicara lebih banyak dari yang perlu.  “Kami percaya Anda, Mr. B. Bukan sekadar karena Anda paham angka, tapi karena Anda paham arah uang. Kami salah posisi. Forward contract 2 juta barel sweet light. Kami short. Market spike. Margin call meledak. CLSA tutup jalur. MUFG minta haircut. DBS menunggu kami jatuh.”

Aku membaca file yang mereka sodorkan. Rapi. Seperti biasa. Tapi aku bukan auditor. Aku tak peduli angka di neraca. Aku mencari pola. Dan polanya sama. Permainan hedge fund. Leverage. Panic sell. Margin call yang disengaja.

“ Siapa lawan kontrak kalian?”

“ Mercurial Holdings. Hong Kong desk. Financing via Dubai. Shipping dummy di Fujairah.”

“ Dan kalian pikir ini murni market?”

“ Kami pikir ini kecelakaan.”

Aku memandang mereka lama. Market tak pernah kecelakaan. Market selalu punya tuan. Market diciptakan oleh siapa yang lebih dulu menekan tombol panic.

Di sudut ruangan, duduk Cristina. Cristina tak banyak bicara. Karena dunia ini, baginya, bukan tentang bicara. Tapi tentang menelusuri jejak uang yang disembunyikan lewat kontrak, invoice, swap, dan dummy company. Dan aku membaca dari matanya: Dia sedang scan semua pembicaraan kami.

***

Sore harinya, aku dan Cristina diskusi di kamar hotel. Dengan keahliannya dan analisinya dia berusaha menggambar dianggrapm kasar.  Broker? Dummy. Financing? Layering via Dubai. Offtake? Settlement on paper. Tidak ada barang pindah. Shipping? Tak jelas. Semi-blending. Accounting? Swap disguised as hedging. Outcome? Margin call yang disengaja. Likuidasi terencana.

“Ini bukan soal gagal beli minyak, Pak B. Ini jebakan. Disusun. Dibiarkan. Dipanen saat waktunya tiba. Hedge fund pegang leverage. Petronyx? Tumbal.”

Cristina benar. Aku mempekerjakannya bukan karena dia mahir angka. Aku mempekerjakannya karena dia paham dunia ini bergerak bukan karena laba rugi. Tapi karena siapa yang menciptakan ketakutan lebih dulu. Karena dunia ini bukan soal supply and demand. Tapi soal siapa yang menekan tombol panic duluan.

Aku memandang keluar jendela. Sungai Singapura mengalir tenang, seolah tak peduli berapa miliar dolar yang sudah tenggelam di sepanjang pelabuhan ini. Di atas air yang tampak damai ini, ratusan kapal bergerak bukan karena supply nyata. Tapi karena swap. Karena margin. Karena permainan leverage. Aku tahu satu hal.  “Kita tak bicara solusi untuk Petronyx, Cristina. Kita bicara solusi untuk Indonesia yang terlalu lama hidup dari kompromi kartel.”

Cristina mengangguk.

“ B, aku sudah tracing semua. Nama pemain, dari logistic, trader dan financial.” Kata Cristina memperlihat layar laptop nya.

Aku baca dengan cermat semua informasi di layar computer itu.

“ Kalau begitu aku tahu siapa yang bisa aku ajak bicara dan menuntun kita keluar dari awan gelap. Mereka adalah  Leonard: Ex-Mercurial. Ahli dummy contract. Daniel: Ex-PetroBridge. Ahli mematikan output kilang demi kuota. Erich: Ex-hedge fund Zurich. Ahli swap dan opsi. Don: Hedge fund predator. Memegang arus uang. Memegang swap. Memegang panic. “ Kataku. 

“ Mari kita bergerak temui mereka.” Lanjutku. Tampa komando. Cristina mengenakan blazer nya dan melangkah ke arah pintu kamar hotel.

***

Malam di Clarke Quay. Kami bertemu Leonard di sebuah Bar, di antara gelas-gelas whisky yang lebih jujur daripada regulator. Leonard bicara dengan santai. Karena dalam dunia ini, semua rahasia hanya rahasia bagi mereka yang baru masuk.

“Kalian terlambat, Pak B. Ini bukan soal trading lagi. Ini soal kontrol jalur BBM ke Indonesia. Tender? Itu panggung. Pemenangnya sudah ditentukan, bukan di dokumen, tapi di meja kopi hedge fund.”

“Blend? Campuran? Bukan soal mutu. Itu soal kuota. Semakin banyak blend, semakin banyak alasan tender baru. Siapa pegang tender? Siapa pegang financing? Siapa pegang swap? Jawabannya sama: fund yang tak pernah mau tampil di media.”

Cristina menyimpulkan dengan tenang “Jadi yang terlibat bukan sekadar jaringan migas. Tapi sistem global. Dari kilang, broker, financing, hingga swap desk Zurich.”

Leonard menambahkan, sambil tertawa “Dan siapa yang berani memutus rantai ini… biasanya tak bertahan lama di industri ini.”

Aku tahu dari awal. Ini soal peta ketergantungan Indonesia yang sengaja dibiarkan tumbuh karena malas membangun ekosistem bisnis oil and gas. Ada satu hal yang tidak pernah diajarkan di sekolah bisnis: Tidak semua demand lahir dari kebutuhan. Banyak yang diciptakan untuk membenarkan tender. Karena pola ini selalu sama: Mulai dari kilang yang sengaja dimatikan, diakhiri oleh swap yang menghasilkan margin.

***

Hari berikutnya, kami bertemu Daniel, mantan eksekutif trading desk PetroBridge. Sekarang hidup nyaman sebagai broker independen, mengisi kekosongan regulasi dan menjual ‘solusi’ kepada siapa saja yang butuh alasan mengimpor lebih banyak.

Cristina membuka percakapan. Karena Daniel lebih hormat pada orang yang paham angka, bukan pada pejabat yang pamer jabatan. “Kami tidak sedang bicara minyak, Pak Daniel. Kami sedang bicara sistem. Bagaimana ketergantungan ini diciptakan, dikelola, dan diwariskan.”

Daniel tersenyum, seolah bertemu orang yang akhirnya paham panggung ini tak pernah netral.

“Ah, kalian datang ke tempat yang benar. Indonesia? Itu ladang paling subur. Kilang kecil. Storage kurang. Demand besar. Birokrasi lamban. Kombinasi sempurna untuk tender mendadak.”

 Daniel cerita Panjang lebar tentang permainan how to create demand from Thin Air. Produksi Kilang Dikurangi Sengaja. Maintenance diperpanjang. Output dibuat tampak defisit. Data produksi disesuaikan, bukan karena realita. Tapi karena rencana. Tujuan? Membuka alasan tender baru. Tender Spot Direkayasa. Diumumkan mepet. Pemenangnya sudah diatur. Lewat broker bayangan yang kelihatan netral, tapi sudah diikat di belakang layar. Financing Shadow Credit. Bukan L/C. Bukan escrow. Tapi guarantee fund berbunga tinggi dari hedge fund. Berlapis. Lewat Dubai, Hong Kong. Legal? Ya. Transparan? Tidak.

Blending, Oplosan, Spesifikasi Bohong. RON 90 dicampur jadi 92.

Volume ditambah di kertas. Mutu diturunkan di kapal. Invoice? Lebih gemuk. Exit via Swap / Forward. Hedge fund ambil posisi lawan. Broker masuk short. Tender dikeluarkan, harga spike. Margin call meledak. Hedge fund exit, panen alpha.

Aku perhatikan apa yang dipaparkan Daniel bukan sebagai strategi bisnis. Tapi sebagai anatomy of a scam. Ini bukan tentang supply minyak. Ini tentang siapa memegang tombol panic. Karena panic menghasilkan volatilitas. Volatilitas menghasilkan fee. Fee menghasilkan rente. Dan rente menghasilkan ketergantungan yang baru.

“Kenapa Indonesia tak pernah lepas?” tanya Cristina.

Daniel menghela napas, lebih karena lelah menjelaskan daripada karena simpati.

“Karena kartel migas domestik lebih takut kehilangan broker, daripada kehilangan devisa. Karena sebagian pejabat hidup dari fee, bukan dari hasil yang benar.”

Cristina mencatat tanpa banyak bertanya. Karena jawaban ini bukan baru. Sudah kami dengar sejak dulu. Tapi sistem selalu dipoles agar tampak baru.

***

Dua hari kemudian,  dengan private jet Cristina kami terbang ke Zurich. Bukan untuk jalan-jalan. Tapi untuk bertemu Erich, mantan fund manager yang lebih suka mengajari bank sentral kecil tentang bagaimana kalah dengan elegan.

Di lounge kecil Bahnhofstrasse, dia menyambut kami seperti guru yang akan memberi kuliah tentang bagaimana dunia bekerja, bukan bagaimana undang-undang ditulis.

“B, hedge fund tak pernah butuh minyak. Kami butuh ketakutan. Naik, turun, embargo, tender palsu. Itu alat.”

Cristina bertanya karena dia tahu, jawaban Erich akan lebih jujur daripada laporan manapun.  “Jadi swap itu bukan hedging? Bukan lindung nilai?” Tanya cristina.

“Swap itu alat. Menjebak. Hedge fund pegang dua sisi. Long via broker. Short via tender palsu. Siapa rugi? Negara yang tak punya storage.”

“Dan compliance?”

“Compliance dibuat untuk ditertawakan. Selama transaksi rapi, hukum tak bisa apa-apa. Yang remuk cuma moral.”

Erics cerita dengan gaya yang lugas tentang skema. Sovereign Weakness Cycle. Kapasitas kilang dikondisikan rendah. Tender spot dibuat mendadak. Broker dummy ‘menang’. Financing pakai shadow line. Hedge fund pegang swap lawan arah. Negara bayar margin call. Rakyat bayar harga lebih mahal. Cycle ulang.

Erich memandang kami lama. Bukan untuk mengintimidasi. Tapi karena dia tahu, jawaban ini tak akan mengubah dunia. Dunia tak pernah berubah karena tahu. Dunia berubah karena keberanian.

“Siapa rugi? Bukan kami. Kami dapat alpha. Siapa bodoh? Negara yang percaya minyak bisa dikelola tanpa strategi nasional.”

Cristina mencatat. Tapi aku tahu, yang dia serap bukan angka. Yang dia pahami hari itu: Compliance tanpa keberanian hanya jadi catatan kaki sejarah.

Cristina bertanya sambil menatap sisa kopi yang mulai dingin:

“Apa yang bisa memutus rantai ini?”

Erich tersenyum, seolah menjawab pertanyaan anak muda yang terlalu jujur.

“Storage sendiri. Tanker sendiri. Trading desk sendiri. Sovereign fund sendiri. Bukan mudah. Bukan cepat. Tapi itu satu-satunya jalan agar Indonesia berhenti jadi umpan.”

Aku mencatat di kepala. Karena aku sudah tahu jawabannya. Indonesia bukan kekurangan solusi. Indonesia kekurangan keberanian memutus kompromi. Dan keberanian itu tak bisa dibeli dari tender, swap, atau hedge fund. Keberanian hanya lahir dari satu hal: Martabat. Dan martabat tidak pernah diperoleh dari diskon minyak.

***

Dari Zurich kami kembali ke Jakarta. Di Safehouse. Cristina memberikan diagram skema bisnis. Diagram yang Lebih Jujur dari Laporan Audit. Aku pernah membaca satu kalimat di sebuah buku yang sudah tak terbit lagi “Kebenaran bisnis sering tersembunyi bukan dalam angka, tapi dalam alur uang yang dibiarkan samar.”

Cristina paham kalimat itu lebih baik daripada siapapun. Itulah sebabnya ia menyusun sesuatu yang lebih berguna dari laporan tahunan: peta. Peta bukan tentang arah. Tapi tentang siapa mengatur siapa. Siapa menggiring siapa. Dan siapa akhirnya memanen panic.

Di ruang persentasi, slide tampil di dinding lebar. Tanpa angka laba rugi. Tanpa grafik batang. Tanpa jargon auditor. Hanya garis-garis yang jujur: menghubungkan nama, entitas, jalur uang, kontrak bayangan.

Indikator valid.

Tender Spot Fiktif. Diluncurkan tiba-tiba. Bukan untuk supply, tapi untuk menciptakan demand palsu. Biasanya diumumkan oleh broker kecil, perusahaan yang tampaknya netral, tanpa sejarah buruk.

Broker Dummy. Entitas legal. Singapura atau Hong Kong. Tidak punya storage. Tidak punya tanker. Hanya legal paper. Mereka ‘menang’ tender karena pertemuan-pertemuan di hotel yang tak pernah masuk laporan pajak.

Shipping & Blending. Barang semi-legal. Blending dari Fujairah, UAE, atau Batam. Spesifikasi dimanipulasi. Volume dilipatgandakan di atas kertas. Kualitas? Tak penting. Harga? Penting, karena markup adalah celah.

Financing Layer. Trade finance bukan direct. Lewat Dubai, layered dengan shell company. Shadow credit line. Resmi? Ya. Legal? Ya. Etis? Tidak. Di balik semua itu: hedge fund yang tidak ingin dikenal.

Exit via Forward Contract. Forward jadi alat closing posisi. Mark-to-market valuation dipoles. Hasilnya digunakan buat menutup utang lama. Kalau gagal? Margin call. Kalau berhasil? Mereka keluar sebelum chaos.

Cristina menampilkan slide lain.

Mercurial Holdings.

PetroBridge Ltd.

NorthBlue Finance.

Semua bukan perusahaan minyak sejati. Mereka corporate position Mereka pegang swap. Mereka pegang panic. Mereka bukan penguasa supply. Mereka penguasa volatility.

“Astrade? Petronyx? Semua ini bukan gagal trading. Mereka korban. Dipancing short. Saat harga spike, margin call meledak. Hedge fund sudah pegang swap di sisi sebaliknya. Mereka tutup posisi, panen alpha. Yang rugi? Negara kecil.”

Aku tersenyum tipis.

Aku paham. Tender fiktif (spot tender palsu) itu lazim dalam manipulasi demand-supply oil trading. Broker dummy: SPV offshore yang dipakai untuk disguise risk, legal tapi nihil operasi riil. Blending oil (Batam, Fujairah) dikenal sebagai area grey area oil trade. Financing via Dubai, shell company, shadow line: praktik umum dalam trade finance layering. Forward contract dan mark-to-market sebagai alat manipulasi valuation untuk exit position. Hedge fund sering masuk di belakang layar via structured products, derivative swap. Negara berkembang sering jadi korban karena lack of storage, policy, and due diligence on trading desk.

Tak pernah berubah.

Karena selama negara berkembang seperti Indonesia  lebih percaya broker daripada membangun storage sendiri, selalu akan ada panggung baru untuk tender palsu.

Cristina menatapku.

Dia tahu aku tak akan bertanya lebih lanjut. Diagram ini cukup. Yang ia sampaikan sederhana: bukan minyak yang mereka jual. Tapi ketakutan.

Cristina menutup laptopnya.

“Kalau kita mau membantu Petronyx, kita harus masuk lebih dalam, B. Bukan soal utang mereka. Tapi soal siapa yang pegang arus minyak Indonesia.”

Aku menggeleng.

“Aku tak mau bantu Petronyx. Aku mau tahu siapa yang memegang tombol panic itu.”

Cristina mengangguk.

“ B, kalau kamu mau ini dibicarakan dengan pihak Indonesia. Aku sudah siap data dan solution.” Dia merperlihatkan slide di dinding. Semua data dan tahapa solution. Aku mengangguk.

***

Langitnya kelabu. Udara lembab oleh polusi, ruang rapatnya dingin oleh AC, lebih dingin lagi oleh ketakutan akan perubahan. Aku kembali bukan membawa solusi kilat. Bukan membawa tawaran bailout. Aku membawa sesuatu yang lebih sederhana tapi lebih subversif bagi sistem yang hidup dari kompromi: Blueprint.

Sebuah rancangan kecil. Bukan tentang utang. Bukan tentang swap. Bukan tentang siapa yang dapat fee tahun ini. Tapi tentang bagaimana Indonesia bisa, pelan-pelan, memegang masa depan energi sendiri.

Pejabat muda itu menemui kami. Wajahnya masih menyisakan idealisme. Suaranya masih memercik percaya bahwa reformasi bukan mitos. Tapi matanya… matanya sudah tahu: lawan terbesarnya bukan hedge fund. Tapi bangsanya sendiri.

“Kami ingin membangun Sovereign Energy Fund. Storage sendiri. Tanker sendiri. Trading desk sendiri. Offtake direct ke Afrika. Potong broker, hapus tender palsu. Pegang supply chain secara transfarance.” Pengantar Cristina.

Cristina membuka slide.

Slide pertama :  Direct Offtake Contract

Negara bicara langsung ke negara.

Nigeria. Angola. Guyana. Venezuela.

Supply langsung. Harga langsung. Volume langsung.

Tanpa broker bayangan. Tanpa dummy entity. Tanpa fee siluman.

“Ini bukan soal diskon. Ini soal kendali.”

“Offtake kita pegang. Storage kita kendali. Delivery kita awasi.”

Slide kedua : Dedicated Storage & Shipping

Bitung. Balikpapan. Tanjung Priok.

Bukan floating storage sewaan broker. Bukan kapal asing.

Terminal dan kapal milik sendiri. Supply jadi cadangan nasional.

Bukan angka di laporan. Tapi riil di dermaga.

“Storage adalah kedaulatan. Tanpa itu, kita selalu tunduk pada panic buying.”

Slide ke tiga : Trading Desk Sendiri (Dubai / London)

Bukan lagi via broker bayangan.

Trading desk kita sendiri, di luar negeri, memegang swap, option, forward.

Bukan sebagai korban. Tapi sebagai player.

“Swap bukan alat menjebak kita. Tapi alat melindungi kita.”

Slide ke empat.  Financing via Sovereign Bond, Bukan Shadow Bank

Tak ada lagi credit line dari hedge fund.

Kita pakai sovereign bond. Financing yang bisa diaudit.

Tak ada lagi biaya siluman yang hanya hidup di kertas, tak pernah dipertanggungjawabkan.

“Uang mahal itu bukan soal bunga. Tapi soal siapa yang kontrol jalurnya.”

Slide ke lima :  Hedging via National Strategy, Bukan Margin Call Asing

Kita hedge bukan karena takut.

Kita hedge karena paham arus. Karena kita punya data. Punya kapasitas. Punya kendali.

“Hedging bukan instruksi broker. Tapi keputusan negara.”

“Dari kilang ke nozzle, kita pegang semua. Bukan broker. Bukan cartel. Bukan fee hunter.”

Pejabat muda itu memperhatikan semua dari tadi setiap slide Tangannya bergetar halus. Bukan karena takut. Tapi karena tahu: jalan ini akan menyingkirkan banyak orang yang sudah terlalu lama hidup dari celah. Statusquo

“Apa B percaya ini bisa jalan?”

“Bukan soal bisa atau tidak. Ini soal mau atau tidak. Negara ini bukan kekurangan solusi. Negara ini kekurangan keberanian memutus kompromi.”

Aku tahu pejabat muda ini bukan orang sembarangan. Ia punya niat. Ia punya blueprint. Tapi aku juga tahu: niat tak pernah cukup jika hanya sendirian di meja penuh orang lapar rente.

“ Rencana seperti itu sudah kususun sejak satu dekade lalu. Tapi tak ada yang berani menyentuhnya.” Dia tersenyum kecil. “ESDM, BUMN, Kemenkeu, BPH Migas, DPR bahkan Presiden. Semua enggan membahasnya. Mereka sudah menikmati statusqo. Mereka hanya peduli kepada siapa yang menjamin fee diujung skema. Selain itu, engga penting.”

Aku keluar dari gedung itu. Jakarta tetap bising. SPBU tetap penuh. Harga tetap naik. Dan aku tahu, negeri ini akan terus begini selama lebih takut kehilangan fee hari ini daripada membangun kedaulatan untuk esok.

***

Di Singapura, Petronyx Masih Menunggu Jawaban. Di Zurich, hedge fund sudah menulis strategi baru. Di Jakarta, pejabat muda itu masih bertahan di antara ruang rapat penuh kompromi.

Aku dan Cristina duduk berdua, di safehouse. Tempat waras. Tempat untuk memastikan kami tak ikut jadi bagian dari dosa yang sama.

“Pak B, kita benar-benar tak akan bantu Petronyx?”

“Tidak.”

“Kenapa? Kita bisa. Kita punya blueprint. Kita tahu jalannya.”

“Karena aku tak mau jadi bagian dari tambal sulam sistem yang busuk.”

Petronyx bukan soal utang. Petronyx adalah cermin bangsa kami yang selalu menunda perubahan. Mereka tak butuh solusi. Mereka hanya ingin jerat itu ditunda sesaat. Agar bisa tender baru. Fee baru. Utang baru.

Cristina paham. Dia kembali ke New York.  Closed file, januari 2019.

***

Juni 2025. Sore itu, Florence datang. Ke apartemenku yang lebih pantas disebut safehouse.  Florence tak perlu izin masuk. Kami sahabat lama. Di ruangan itu, sinyal mati. Dunia luar mati. Yang hidup hanya lease-line yang menghubungkan terminal ke Bloomberg. Tak ada suara kecuali bisikan grafik, yield curve, dan teh hijau yang perlahan kehilangan panas.

Florence duduk di depanku. Wajahnya sama seperti dulu: rapi, elegan, tapi hari ini ada lelah yang ia bawa. Ia bukan perempuan biasa. Dia kepala perwakilan Holding MNC di Jakarta. Tapi sore itu, bukan eksekutif yang datang. Bukan perwakilan holding. Dia sahabat yang butuh kuping untuk mendengarnya.

Dia bacakan berita dari notepad nya.

Februari 2025. Kejaksaan Agung akhirnya bicara. Hasil penyidikan lima tahun terakhir — 2018 hingga 2023 — diumumkan. Pertamina ketahuan mengimpor BBM murahan, RON 88–90. Dioplos, dilabel ulang: Pertamax, RON 92. Harga? Tetap dibayar seolah premium, seolah negeri ini terlalu kaya untuk peduli. Dokumen rapi. Pembayaran lancar. Seolah-olah negeri ini memang didesain untuk ditipu.

Awal Maret 2025. Menteri BUMN menggertak lewat media. Evaluasi besar-besaran. Audit total. Tanggal 1–2 Maret 2025 jadi simbol: Hari di mana negara pura-pura baru sadar. Hari di mana rakyat diundang untuk percaya bahwa semua ini mendadak terungkap, seolah-olah ini pertama kali. Padahal ini bukan pertama. Ini hanya babak lanjutan dari cerita lama.

“Apa benar semua ini cuma permainan?” tanyanya.

Aku menatap tehku. Lama. Jawabanku pelan. “Tidak. Ini lebih dari sekadar permainan.”

Ia mengernyit. “Lalu apa namanya?”

Aku menghela napas. “Sistem.”

Aku mulai bicara, perlahan. Karena kebenaran tak boleh ditelan tanpa dicerna.

“Tata niaga impor BBM kita bukan soal aturan. Ini soal niat. Aturannya jelas. Bahkan berlapis-lapis. Tapi justru lapisan itulah tempat benih kepentingan tumbuh. Dari kilang yang sengaja dibiarkan sekarat. Dari tender yang diumumkan tengah malam. Dari angka RON yang bisa berubah lewat satu tanda tangan. Dari harga yang dimarkup seolah negeri ini tak kenal excel. Semua berjalan rapi. Seolah kelangkaan itu wajar. Padahal kekacauan itu diciptakan.”

“Mengapa harus begini?” Florence bertanya lirih.

Aku memandangnya. “Karena minyak, Florence… selalu jadi alat kompromi politik.  Minyak adalah petrodollar”

Pemainnya sama. Orangnya itu-itu juga. Bukan hanya di sini. Di Singapura sana, ada kantor sunyi. Orang-orang duduk membaca excel, bukan hukum. Mereka atur shipping, mereka atur blending, mereka atur harga. Mereka tak bicara politik. Tapi mereka pegang kunci. Kunci yang bisa buat APBN bocor atau utuh.

Di belakang mereka? Hedge fund. Nama-nama lama. Yang tak punya wajah. Tak butuh bendera. Mereka bergerak lewat angka, lewat kontrak, lewat derivatif.

“Kenapa hedge fund ikut main?” Florence bertanya.

Aku tersenyum. Senyum orang yang sudah terlalu lama melihat dunia ini dari balik layar. “Karena uang bukan soal barang, Florence. Uang soal momentum. Dan Indonesia… selalu penuh momentum.”

Kelangkaan. Darurat. Bencana. Subsidi. Itulah sumber keuntungan yang tak pernah habis. Selalu ada alasan. Selalu ada celah.

Trader? Hanya makelar. Yang panen? Mereka yang atur siapa menang tender, siapa kalah. Dan itu bukan orang-orang sepertimu. Bukan orang seperti aku. Itu orang yang sudah dua era duduk di ruang gelap kekuasaan. Selama ini, wajahnya sama. Oligarki. Lintas pemerintahan. Lintas generasi. Lintas moral.

Florence memandangku lebih lama dari biasanya. Lalu dengan suara yang tak lagi bertanya, lebih seperti menantang “Kalau kamu sudah tahu… kenapa tidak bantu ingatkan pemerintah?”

Aku tak langsung menjawab. Aku memandang dinding. Diam. Seketika ingatanku kembali ke tahun 2019. Tahun di mana aku pernah mengajukan program reformasi BBM. Transparan. Terbuka. Anti rente. Kemandirian financial resource. Tahun di mana proposal itu ditolak. Bukan karena salah. Tapi karena terlalu benar. Dan kebenaran, di negeri ini, tak pernah cukup kuat melawan jaringan kepentingan.

Aku memandang Florence. Tak perlu kata-kata panjang. “Karena mereka sudah memutuskan menolak, bahkan sebelum aku bicara.”

Florence diam.

Ia paham.

Di negeri ini, bukan ide yang menentukan arah. Tapi siapa yang pegang kuasa atas rente.

Aku menuang teh lagi.

Di negeri ini, kebenaran selalu datang terlambat. Dan ketika ia akhirnya tiba, yang lebih dulu menyambutnya bukan keadilan, tapi narasi. Lobi. Konferensi pers. Di negeri ini, skandal bukanlah bencana. Skandal hanyalah bagian dari manajemen waktu. Tak pernah ada hukuman kepada mastermind. Yang ada hanya pion yang sengaja dikorbankan. Memuaskan orang banyak. Selanjutnya apa ? Kursi baru. Skema baru.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Satu tanggapan untuk “Mafia Migas”

  1. Nov 2019 Ahok Komut Pertamina, apakah ndak coba langsung ke beliau saat itu Babo?

    Suka

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca