Mafia Impor Pangan

Tahun 2010, Jam tujuh malam. Aku keluar dari kamar. Menuju Rooftop  Bar Ritz‑Carlton & InterContinental Pudong di lantai 58. Menyuguhkan pemandangan spektakuler Sungai Huangpu dan Bund. Tempat orang-orang membunuh waktu dengan gelas mahal, percakapan kosong, dan senyum palsu. Aku? Hanya ingin duduk diam. Menikmati sepi di tengah kota yang terlalu cepat ini.

Semakin lama, sahabat semakin sedikit. Hidup di puncak piramida sosial kalangan financial player memang sunyi. Teman-temanku sibuk dengan hobi kaum hedon: yacht, golf, private island. Aku tak suka hidup seperti itu. Tak ingin kehilangan fokus. Bagiku, hidup ini hanya persinggahan sementara. Akan tiba saatnya aku harus kembali. Menjadi orang biasa, tanpa ambisi, tanpa permainan angka.

Aku memesan koktail. Duduk menghadap jendela kaca yang membentang luas. Di kejauhan, pemandangan spektakuler Sungai Huangpu dan Bund. Gedung-gedung menembus langit. Lampu-lampu menari di atas Huangpu. Meditasi bisa dilakukan kapan saja. Bahkan di tengah hiruk neon.

Dari jauh, aku melihat seorang wanita cantik duduk bersama pria. Aku tak peduli siapa mereka. Di kota ini, usia bukan lagi soal pantas atau tidak pantas. Uang lah penentunya.

Wanita itu menoleh ke arahku. Tersenyum.

Aku membalas anggukan kecil.

Lalu ia berdiri. Melangkah mendekat.

“Apakah Anda Mr. B?”

Aku tersenyum. Kalau dia tahu namaku, berarti pertemuan ini sudah direncanakan. Sudah ada riset sebelumnya.

“Teman saya ingin bertemu Anda.”

Mungkin karena aku tak menunjukkan penolakan, ia memanggil pria itu mendekat.

“Ini teman saya, Mr. Liu. Dan saya sendiri, Miss An.”

Keduanya menyerahkan kartu nama. Aku persilakan duduk.

“Ada apa?” tanyaku.

“Kami ingin menawarkan kerjasama bisnis,” kata Liu.

“Proyek apa?” suaraku tetap datar.

Dia menjelaskan. Kota baru. Pusat riset biotech. Di dalamnya, industri farmasi, herbal, dan pertanian organik.

Aku angguk kecil.

Setidaknya dia tahu bagaimana memulai pitching. AIDA mereka kuasai.

Liu melanjutkan, percaya diri.

“Pemerintah memberi payment guarantee 100% berupa bank guarantee. Dengan teknologi yang kami punya, margin bisa tembus 50%.”

Dia membuka dokumen di laptop. Legalitas, track record, semuanya terlihat rapi. Aku tak perlu banyak melihat. Aku sudah paham pola seperti ini.

“Nilai proyek 3,5 miliar USD. Tapi kami hanya perlu dana 350 juta. Anda dapat 30% share, kami 70%.”

An menambahkan. “Capex Anda kecil. Untungnya berlipat. Pembayaran aman.”

“Bisa saya dapatkan dokumennya untuk saya pelajari?”Kataku memberi alamat email.

“Tentu.” Dalam hitungan detik, file itu sudah masuk ke inbox-ku.

“Saya tidak janji. Tapi akan saya pelajari. Paling lambat seminggu saya kabari.”

Liu tersenyum. Jempol diacungkan. An melirik Liu. Semacam kode. Liu berdiri pamit.

Kini tinggal aku dan An. Dia mendekatkan kursinya. Senyumnya cerdas. Bukan senyum murahan.

“B,” katanya akrab. “Liu itu CEO kontraktor AAA di China. Saya counterpart khusus pembiayaan.”

Aku bertanya pelan, “Bagaimana kamu bisa mengundertake pembiayaan proyek dengan hanya 10% capex?”

Dia menjelaskan panjang lebar. Menunjukkan jaringan financial institution. Uang 10% cukup ditempatkan di rekening non-depletion. Dia janjikan stop-loss guarantee. Skema klasik.

Underlying hanya alat. Uang bukan dari proyek. Tapi dari sinking fund placement yang dibungkus menjadi derivative instrument.

Uang tunai diperoleh. Dipakai untuk margin short selling.

Kalau untung? Milik mereka. Kalau kalah? Ya, excuse.

Aku hanya tersenyum.

Dia bicara dengan semangat. Seperti anak magang yang baru pertama mencium aroma Wall Street.

Aku memesan menu tambahan.

Saat makanan datang, aku melirik ke arah payudaranya. Mengajaknya cheers.

Dia menyambut antusias.

Aku pamit ke toilet. Saat kembali, aku duduk tenang, menatapnya. Perlahan aku letakkan sebuah jam tangan RM di atas meja.

“Hah?” An terkejut. Tangannya reflek memegang pergelangan. Kosong.

“Kapan kamu ambil jam saya?”

“Saat kita cheers. Kamu sibuk merasa tersanjung karena aku memperhatikan tubuhmu. Saat itu, cukup satu jentikan jari ke pengait jam kamu. Luruh ke lengan jas saya.”

Aku tersenyum. Aku tahu, itu bukan jam tangan asli. Hanya duplikat sewaan. Model aslinya hanya ada 10 di dunia.

Wajahnya memerah. Malu.

“Tahu kenapa kamu tak sadar jam kamu diambil?”

Dia menggeleng.

“Karena kamu fokus ke aku. Bukan ke dirimu sendiri.”

Aku meneguk minuman.

“Begitu pula skema yang kamu tawarkan. Terlalu mudah membuat orang lengah. Mereka lupa memeriksa diri sendiri. Aku? Seumur hidup aku hanya fokus pada diriku sendiri. Tidak pernah kehilangan fokus.”

“Fokus apa?”

“Tidak ada yang too good to be true. Karena itu aku selalu waspada. Akal lebih dominan dari perasaan. Dalam bisnis, aku tak melihat penampilan orang. Tak terpengaruh retorika. Bisnis adalah akal sehat. Fokus ke dalam diri, kamu tercerahkan. Fokus ke luar, kamu tersesat. Camkan itu.”

Dia terdiam.

Akhirnya air matanya jatuh.

“Maafkan saya, B,” katanya lirih.

“Sudah tiga tahun saya kerja di perusahaan dengan modus seperti ini. Saya tahu, tentu salah. Banyak investor rugi karena skema fraud ini. Sekarang saya sadar. Maafkan saya.”

Dia berdiri, hendak pergi.

Aku pegang lengannya.

“Jangan pergi.”

“Kenapa?”

“Kamu tak salah. Kamu hanya bekerja. Lupakan.”

Dia mematung. Menunduk.

“Dunia ini hanya ada dua jenis manusia. Penakluk dan pecundang. 90% manusia adalah pecundang. Segelintir elite politik menaklukkan mereka lewat retorika populisme, citra peduli rakyat. Salah? Tidak. Itulah realitas. Orang bebas memilih. Tapi mayoritas memilih jadi pecundang.”

“Saya menanggung orang tua dan adik. Tapi tak apa. Besok saya akan resign.”

“Kalau kamu berhenti, aku akan carikan pekerjaan untukmu.”

Dia terkejut. “ Boleh aku memeluk mu? Aku mengangguk. Dia berbisik “Terima kasih.”

Aku tersenyum.

“Mari kita habiskan malam ini dengan bahagia. Hidup hanya sekali. Nikmati selagi ada.”

Dia terdiam. Lalu tersenyum. Kembali duduk di sampingku.

***

Aku tidak sekedar memberi harapan palsu kepada An, aku tahu dia punya potensi. Pengalaman ku dalam trading melatih intuisi ku dalam menilai. Tentu berdasar observasi fakta. An, bahasa Inggris nya bagus. Kemampuan komunikasi hebat. Dan dia menguasai masalah. Namun yang penting dia masih punya nurani.

Keesokan nya dia bertemu denganku di hotel. “ Mau kerja dengan ku?  Dia mengangguk cepat walau belum tahu apa kerjanya. Aku sarankan dia datang ke kantor SDIC Shanghai. Untuk ikut training. Tiga bulan kemudian dia bertemu denganku. Dia bekerja langsung di bawahku.

Aku duduk di depan Bloomberg Terminal. An duduk disebelah ku, “ An, ini bukan saham, bukan obligasi. Tapi data: flow impor kedelai, jagung, sejak 1998. Aku sudah kumpulkan semua: harga FOB, CIF, kuota tahunan, nama perusahaan yang berulang tiap tahun, margin keuntungan mereka, bahkan jejak afiliasi politik di baliknya. ini bukan sekadar data. Ini peta kejahatan struktural. “ kataku

“ Oh ini tentang Indonesia ? tanya An.

“ Aku tahu, melawan kartel pangan bukan soal perang dagang. Ini soal membongkar sistem uang. Shadow Finance. Karena semua rente di negeri ini selalu ujungnya soal satu hal: arus uang.

Aku udah lacak jalur pembayaran kuota itu, Semuanya lewat SPV kecil di Mauritius dan British Virgin Islands. Mereka main transfer pricing. Mereka buat cost CIF lebih mahal lewat shipping company milik sendiri. Margin lebih tebal. Lalu profitnya dicuci lewat swap, hedge, dan repo yang tak pernah disentuh pajak Indonesia.

“ Jadi ini bukan soal kedelai. Ini soal laundering uang rente.” Kata An. Aku tertegun. Hebat dia, Pantas hasil test training nya di London dan Rotterdam dengan predikat terbaik

“Betul. Termasuk jagung. Mereka buat CIF AS lebih mahal lewat shipping route muter-muter. Brasil selalu kalah bukan karena harga. Karena tak ada kongsi rente.” Jawabku

Aku tatap An dalam dalam . Nah tugas mu, akuisisi salah satu SPV yang mereka pakai. Aku akan dudukkan mereka di meja, bukan sebagai lawan dagang, tapi sebagai lawan hukum. Kamu buat alternatif importir baru. Kemudian bangun SPV legal di Eropa Timur, beli langsung dari Brasil, bypass kartel mereka. Lalu buat exposure datanya bocor, bukan ke pemerintah, tapi ke pasar.

An mengangguk tapi wajahnya keliatan tegang.

 “ Aku bukan pahlawan. Aku juga bukan dermawan. Tapi aku tahu, shadow finance hanya bisa dilawan dengan shadow finance yang lebih cerdas. Karena jika aku diam, rakyat Indonesia akan terus membayar harga pangan yang ditulis oleh tangan rente, bukan oleh pasar.”

Aku mengangguk

“ Di dunia ini, kebenaran bukan soal siapa benar, tapi soal siapa yang lebih dulu pegang data, pegang uang, pegang arus. Dan saat aku pegang arus itu, aku tahu, kartel itu tak lagi bisa bersandar pada pejabat yang pura-pura tak paham. Mereka akan tunduk. Karena uang mereka akan aku putar jadi senjata yang memukul mereka sendiri.”

***

Rotterdam, pelabuhan tua yang tak pernah tidur. Di sinilah sebagian besar rahasia dunia logistik disembunyikan. Di balik crane yang mengangkut kontainer, di balik angka-angka di layar shipping terminal, ada bisnis-bisnis kecil yang tak pernah masuk koran. Tapi di sinilah An mulai. Bukan di Jakarta. Bukan di Washington. Tapi di tempat yang bagi orang awam hanya sekadar pelabuhan.

An tidak datang sendiri. Ada aku. Kami bertemu seseorang yang paham permainan ini lebih dalam dari siapa pun. Namanya Dmitri Orlov. Mantan banker Rusia, kini penguasa kecil di bisnis ship chartering, komoditas agrikultur, dan SPV berbendera sipil Eropa Timur.

Dmitri Orlov, “ Kamu ingin jalur distribusi yang bersih, tanpa sentuh Amerika, tanpa sentuh kartel lama?”

“ Ya. Jawan An. “ Dari Brasil, direct ke Rotterdam. Lalu ke Indonesia. Tapi melalui jalur yang tak kelihatan di mata kartel Singapura atau Hong Kong. Aku tak mau lewat jalur klasik yang sudah mereka kuasai.”

Dmitri tertawa kecil, menyalakan cerutu. “ Kamu tahu kan… bisnis pangan ini lebih kejam dari bisnis senjata? Di sini, kelaparan lebih mahal harganya ketimbang perang.”

“ Justru itu sebabnya aku di sini.” Jawab An.

***

An  membangun SPV baru di Bulgaria, namanya Greenfield Agro Holdings. Legal, bersih, transparan. Tapi di belakangnya aku pegang semua koneksi ke shipping kecil yang selama ini jadi backdoor supply chain Rusia dan Brasil ke Afrika dan Eropa Timur.

Aku tak perlu volume besar. Aku cuma butuh jalur. Jalur kecil, tapi legal, dan tidak bisa disentuh oleh konglomerat yang selama ini main lewat Singapura dan Malaysia.

Struktur Jalur Baru. Brasil (Produsen) ➔ Greenfield Agro Holdings (Bulgaria SPV) ➔ Rotterdam (Freeport Zone) ➔ Indonesia (Under new trade license, bypass existing quota)

Aku pakai struktur off-take agreement forward contract, bukan spot. Jadi harga bisa kutekan lebih rendah, lebih stabil. Aku juga mainkan asuransi pengangkutan lewat reinsurance pool Eropa Timur, bukan Lloyd’s. Biaya turun hampir 7%.

An bertanya suatu malam, saat  kembali ke hotel di Rotterdam. “ Apa kamu percaya kita bisa rubah jalur ini? Kartel itu terlalu kuat, B. Mereka pegang birokrat, pegang bank, pegang akses politik.”

Aku menatap layar peta logistik. Pelabuhan demi pelabuhan. Kapal demi kapal. Semua ada dalam genggaman data. Dan aku tahu satu hal: Kekuasaan hari ini tak lagi soal senjata. Tapi soal logistik. Siapa kendalikan supply chain, dia yang menulis harga. Bukan pejabat, bukan kartel. Tapi kita yang pegang jalur.

Di balik papan nama SPV sederhana, tersimpan senjata paling halus: kemampuan membangun jalur baru. Di balik angka-angka di CIF, FOB, hidden tariff, tersimpan rahasia paling sunyi: bahwa siapa yang mengatur jalur pangan, dia yang menentukan siapa lapar, siapa kenyang.

***

2012.

Jakarta. Gedung-gedung tinggi yang sombong berdiri, seolah menyembunyikan rapuhnya akal sehat negeri ini. Di balik kaca rapat ruang pertemuan itu, An duduk di dampingi asset manager dari Hongkong dan aku. Rapat sudah selesai. Kopi sudah habis. Janji sudah dibuat, tapi An tahu… semua hanya akting belaka.

An sudah mencoba. Dengan data, dengan akal sehat, dengan peta jalur logistik yang bisa menyelamatkan rakyat dari harga pangan yang dikuasai rente tua itu. An sudah tunjukkan bahwa Brasil lebih murah, jalur lebih efisien, margin lebih sehat. Tapi pejabat itu, dengan senyum birokrasi yang memuakkan, hanya berkata:

“ Kami sudah punya partner lama. Kami tak ingin bikin gaduh stabilitas.”

Stabilitas? Aku hampir tertawa. Yang mereka maksud stabilitas adalah menjaga kantong kartel tetap penuh. Bukan menjaga rakyat tetap makan dengan harga wajar.

Aku keluar dari gedung itu dengan langkah ringan. Tidak marah. Tidak kecewa. Aku tahu, negeri ini bukan untuk orang seperti aku. Di sini, politik bukan soal akal sehat. Bukan soal kepentingan rakyat. Di sini, politik adalah soal siapa yang bisa menjaga bisnis rente berjalan abadi, siapa yang mau tetap jadi boneka, dan siapa yang mau tetap pura-pura bodoh.

Aku duduk di café hotel, menatap gelas kopi yang mulai dingin. Jakarta di luar sana tetap sibuk, tetap sombong, tetap buta. Tapi aku sudah selesai berharap. Aku sudah selesaikan tugasku: aku sudah mencoba. Tapi negeri ini menolak. Bukan aku yang kalah. Hanya mereka yang memang memilih tetap bodoh. Negeri ini tidak butuh pahlawan. Ia hanya butuh lebih banyak boneka yang tahu kapan harus diam.

Aku sedih. Tapi bukan sedih karena gagal. Aku sedih karena negeri ini terlalu takut melepaskan diri dari cengkeraman kartel yang membuat mereka nyaman. Negeri ini bukan tidak tahu. Mereka tahu. Tapi mereka lebih suka hidup dalam lingkaran rente yang manis, daripada mati dalam perang melawan kartel yang memang sudah mereka pelihara sendiri.

Aku tak marah. Aku hanya pergi. Aku akan bangun jalur pangan ini di negeri lain. China, Karena pasar yang lapar selalu lebih jujur daripada politik yang sudah kenyang. Jakarta, kota yang terlalu letih untuk mendengar akal sehat. Negeri yang lebih suka menjual kedaulatan pangan demi menjaga segelintir kaya tetap kaya. Aku melangkah pergi. Karena aku tahu, bukan semua perang harus dimenangkan di tempat yang salah.

***

Kini 2025. An menemuiku di apartemen yang kusebut safehouse. Sejak tahun 2012, An berkarir di SDIC. Berpindah pindah. Beijing, Shanghai, Kiev, dan terakhir di Singapore. Saat dia datang aku sedang bersantai dengan David dan Abeng.

“Jadi… sekarang Amerika masukin kedelai dan jagung ke sini, tarif 0%. Itu berita bagus buat kita, ya?” Kata Abeng.

David tersenyum sinus. “Bagus buat siapa? Buat rakyat? Bukan. Buat kartel. Selalu kartel.”

Menaruh tasnya, duduk malas. “Lho, harga lebih murah, kan? Kan bebas tarif?”

Aku terjemahkan kepada AN, untuk beri penjelasan. Agar dia jawab pakai bahasa Inggris kepada mereka.  “ Bulan iniHarga Kedelai Brasil FOB: sekitar 240 USD/ton. Sementara dari  AS FOB: sekitar 395–416 USD/ton. Harga jagung FOB Brazil relatif sama dengan AS. Tetapi kalau CIF, jelas lebih mahal impor jagung dari AS. “ Kata An.

“Harga dari AS itu lebih mahal dari Brasil.  Tapi kenapa kita tetap impor dari AS? Apakah itu wajib ? Tanya David.


“ Tidak wajib. Tetapi Kalau kita tidak beli, ya Amerika balikan lagi tarif 32%. PHK mengancam sektor Industri..” Kata Abeng. “ Dan lagi kartel itu sudah lama mencengkram Indonesia. Sejak era Soeharto.”


“Ya sebenarnya dibalik negosiasi tarif resiprokal ini, mafia rente impor ikut bermain. Kan tataniaga impor pakai Kuota. Kuota itu cuma segelintir pemain pegang. Namanya kuota, artinya bukan pasar yang main, tapi orang dalam.” Kata David.

“Betul. Selama ini kartel kedelai itu bukan soal dagang. Itu soal rente. Siapa dekat dengan birokrat, siapa dekat dengan Menteri, dia yang dapat kuota. Cargill, Wilmar, Japfa, atau grup lain, main di belakang layar. Semua diarahkan ke AS. Padahal harga Brasil lebih murah hampir 50%.” Abeng.

“ Kalau dulu kuota ditentukan elite, kini oleh Gedung Putih. Bisa aja pemerintah bilang kualitas dari AS lebih stabil, lebih aman. Itu alasan textbook buat bodohi media. Kedelai Brasil kualitasnya sama. Warna, kadar air, protein. Semua udah standar. Harga Brasil FOB 240 dollar per ton. AS 400-an. Beda jauh. Siapa yang tanggung? Ya kita. Harga di pasar? Tetap Rp 11.000 per kilo. Petani tempe, pengusaha pakan, rakyat kecil, semua kena.” Lanjut Abeng.

“Jadi ini bukan soal ekonomi. Ini soal rente yang dilestarikan. Ini warisan. Dari orde baru sampai reformasi, pemainnya ganti, modelnya sama.” sambung Abeng.

“Kita ini aneh. Negara 280 juta penduduk, pasar gede, kok malah mau disuruh tunduk sama AS.” David geleng geleng kepala.

Aki tersenyum dan menyimak saja.

“Karena pejabat kita engga paham permainan global. Mereka mikir politik, bukan bisnis. Mereka pikir kalau kita stop beli dari AS, kita dimusuhi. Dikasih tarif. Padahal ya silakan aja. Brasil nunggu. Argentina juga. Kita punya opsi. Tapi birokrat kita lebih takut ke Amerika daripada ke rakyatnya sendiri.” Kata David.

“Yang rugi siapa? Bukan pejabat. Bukan konglomerat. Tapi tukang tempe di pasar. Petani ayam di desa. Semua bayar harga karena elit main kuota.” Lanjut David.

“Lucunya ya, orang-orang terpelajar kita engga paham ini. Mereka pikir ini soal angka di neraca dagang. Padahal ini soal rente. Ini soal dokumen. Bukan soal dagang. Elit kita kaya raya karena dokumen, bukan karena produksi.” Kata Abeng.

“Itu penyakit bangsa kita. Feodalisme baru. Yang bodoh makin bodoh karena dijadikan jongos sistem. Yang pintar, diem karena takut kehilangan jabatan. Akhirnya kartel jalan terus.” Kata David.

“Tapi kita juga salah. Kita ikut diem. Kita cuma ngobrol kayak gini.” Abeng.

Aku tersenyum getir. “Beda kita, David. Kita ngerti. Kita engga pura-pura bodoh. Setidaknya sejarah mencatat, ada orang yang tahu tapi memilih tidak ikut makan rente itu.”

Aku menatap cangkir kopi. Di luar sana, 280 juta orang tak sadar mereka sedang dimiskinkan dengan harga pangan mahal karena sebuah dokumen bernama quota. Di negara ini, kedelai dan jagung bukan lagi sekedar pangan. Ia adalah komoditas rente yang lebih kuat dari hukum pasar. Lebih kuat dari akal sehat. Dan lebih kuat dari logika ekonomi.

***

David dan Abeng sudah pulang Tinggal aku dan An di safe house. Sengaja aku panggil ke Jakarta. Dia akan pegang posisi baru di London sebagai CEO Ale capital. Hujan turun sejak sore. Kota ini selalu tampak lebih jujur saat hujan turun. Lebih sunyi. Lebih lambat. Lebih telanjang. Tak ada yang terburu-buru saat hujan. Bahkan kesedihan pun berjalan lebih perlahan.

An duduk di depanku. Di sudut ruang tamu apartemen yang lebih sering jadi ruang rapat daripada tempat tinggal. Dia memegang secangkir teh. Tidak menyentuhnya. Hanya memegang. Tangannya gemetar kecil. Aku pura-pura tak melihat. Kami berdua sama-sama terlalu paham cara menjaga jarak di dunia yang dingin ini.  “ terakhir bertemu kamu tahun 2012 di Hong Kong. “ Katanya lirih.

“Besok aku terbang ke London,”

“Ya,” jawabku singkat.

Tidak ada ucapan selamat. Tidak ada basa-basi.

Dia menatapku lama. Tatapan perempuan yang sudah terlalu sering hidup di antara angka, laporan, dan rapat yang memuja laba, tapi diam-diam masih menyimpan ruang kecil untuk sesuatu yang lebih manusiawi. Sesuatu yang tak bisa ditulis di balance sheet: perasaan.

“Aku tahu… ini bukan waktunya, bukan tempatnya. Tapi aku ingin bilang sesuatu sebelum aku pergi.”

Aku menatapnya. Diam. Memberi ruang.

“Aku jatuh cinta padamu. Sejak kali pertama bertemu.”

Kalimat itu jatuh perlahan. Tidak meledak. Tidak dramatis. Seperti hujan yang menetes tanpa pernah ingin membuat banjir.

Aku diam.

Karena aku tahu, cinta yang jatuh dalam sunyi seperti ini bukan meminta balasan. Cinta semacam ini hanya butuh diakui, bukan dipelihara.

Dia menunduk. “Tapi aku tahu, bagimu… aku hanya kolega. Profesional. Tidak lebih.”

Nada suaranya tenang. Bukan kecewa. Lebih seperti seseorang yang sudah berdamai dengan fakta bahwa hidup memang tak memberi semua hal yang kita inginkan.

Aku menarik napas.

“An… jangan salah paham. Aku menghargai perasaanmu. Tapi bagiku, cinta itu punya dimensi tersendiri. Hakikat cinta itu, loyalitas, kesetiaan atas dasar tanggung jawab. Aku percaya pada kerja kerasmu dan kesetiaanmu kepada SIDC. Itu cukup dan kita akan selalu bersama di posisi kita masing masing.”

Dia tersenyum kecil. “Aku tahu.”

Kami diam cukup lama hingga hujan di luar seperti menjadi musik latar yang tak disewa.

“Aku tidak butuh jawaban. Aku hanya ingin kau tahu. Biar aku bisa pergi ke London tanpa menyimpan apa-apa lagi.”

Aku mengangguk pelan.

“Kamu akan memimpin Ale Capital. Itu bukan posisi kecil. Itu bukan amanah ringan. Di sana kamu bukan An yang sebelumnya. Kamu pemegang kendali. CEO. Kamu akan dihadapkan pada lebih banyak lelaki licik, lebih banyak godaan, lebih banyak permainan. Jangan biarkan hatimu melemah.”

“Aku tidak akan lemah, B. Aku belajar dari kamu.”

Aku tersenyum. “ Tapi menikahlah selagi ada kesempatan. Agar kamu lebih kuat.”

An tertawa kecil. Tawa yang lebih mirip sepotong perpisahan. “ Aku akan tetap sendiri…” katanya. Dia berdiri. Mengambil tasnya.

Aku mendekat. Untuk pertama kalinya, aku menyentuh bahunya. Tapi An langsung memelukku erat. Lama dan aku biarkan. Aku belai kepalanya.  Bukan sentuhan seorang atasan. Bukan sentuhan seorang lelaki. Tapi sentuhan manusia kepada manusia lain.

“London itu dingin, An. Tapi aku percaya kamu lebih dingin dari itu. Jangan pernah ragu pakai intuisi yang kamu punya.”

Dia memandangku. Mata yang basah tapi tak menangis.

“Terima kasih, B. Terima kasih sudah mengajarkanku bahwa dalam hidup… fokus itu lebih penting dari perasaan.”

Aku mengangguk. Dia tersenyum. Tapi aku tahu dia tak akan pernah kembali. Dunianya adalah karir nya. An tipe perempuan yang hanya tahu dua hal dalam hidup: menang atau hancur. Tidak ada setengah jalan. Dan aku sudah membuatnya seperti itu.

Dia melangkah ke pintu.

Aku menatap punggungnya. Dalam hati aku tahu… di dunia ini, cinta seperti An bukan untuk memiliki. Cinta seperti dia lahir dari sikap kagum dalam diam.

Aku kembali duduk. Menatap layar Bloomberg Terminal. Angka tetap berjalan. Pasar tetap bergerak. Dunia tak peduli apakah seseorang jatuh cinta atau tidak…


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tag:

Tanggal:

Up next:

3 tanggapan untuk “Mafia Impor Pangan”

  1. Belanda,Jepang….. kini USA menjajah Indonesia.Bangsa ini terjajah dan Tuna susila kah?

    Suka

  2. Kenapa kita tidak bisa produksi sendiri kedelai sesuai permintaan?

    Suka

  3. sogenerouslyfcd2d149b0 Avatar
    sogenerouslyfcd2d149b0

    Sebelum membaca ini sempat lihat di Google Chrome tentang Indonesia harus beli 50 Boeing 777 sebagai bagian dari kesepakatan tarif yang sudah seenaknya Trump olah untuk si Gemoy.

    Sambil membaca berita dari CNN Indonesia itu yang kebayang adalah sibuknya si Gemoy menikmati jabatannya sebagai presiden yang kadang kepikir apa yang dilakukannya sepertinya dia cuma sedang menikmati hasil ambisi yang sudah lama dipendam tanpa peduli apa yang sudah dijanjikannya tapi meluncurkan apa yang sudah diprediksinya Indonesia di tahun 2030.

    Entah bagaimana Indonesia Emas 2045 sepertinya sudah tidak banyak yang berharap karena tidak ada lagi yang membahasnya.

    Suka

Tinggalkan Balasan ke sogenerouslyfcd2d149b0 Batalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca