Mahalnya kejujuran…

Yvory datang ke Jakarta. Dia menginap di hotel di sebelah safehouse ku. Sejam lagi dia akan datang ke Safehouse. Yvory adalah CEO PE, Palma Capital di Zurich di bawah kendali Yuan Capital. Teringat masa masa awal bertemu dengan Yvory.

2009. Zurich, awal musim gugur. Udara sudah mulai menggigit, seolah menyimpan dingin dari kenangan yang belum sempat disimpan rapi. Malam itu aku keluar dari hotel tanpa tujuan jelas. Langkahku terhenti di sebuah minimarket 24 jam dekat sudut Bahnhofstrasse. Kumis yang tak sempat aku cukur sejak tiga hari lalu akhirnya membuatku menyerah.

Di balik meja kasir berdiri seorang perempuan muda, mengenakan seragam biru muda dengan kerah yang sedikit kusut. Ia menyambut dengan senyum profesional—dingin, tetapi sopan. Aku meletakkan alat cukur dan sebotol air mineral di konter, lalu menyodorkan selembar uang 100 Euro.

Dia tertegun. “Apakah Anda tidak ada uang kecil?” tanyanya, dalam bahasa Inggris yang bersih. Aku lalu melangkah pergi sebelum ia sempat berkata lebih.

Keesokan malam, aku kembali lagi. Rokok kali ini. Merek lama yang sudah kutinggalkan, entah kenapa ingin kucoba lagi. Aku menyodorkan lagi selembar 100 Euro. Ia tampak hendak bicara, tapi aku lebih cepat—meninggalkannya seperti malam sebelumnya.

Seminggu kemudian, di pojok jalan dekat stasiun metro, seseorang menegurku.

“Excuse me…”

Aku menoleh. Dia—si kasir minimarket—berdiri dengan coat abu-abu, rambutnya tergerai rapi. Rambut hitam sebahu. Wajahnya seperti perempuan Cina dari provinsi yang jauh, tapi matanya tidak sipit, dan sorotnya jernih. Tingginya mungkin hampir menyamaiku.

“Saya ingat Anda,” ujarnya pelan.

Aku mengangguk, sedikit canggung.

Ia membuka dompet kecil, mengeluarkan uang Euro. “Ini kembalian Anda,” katanya, menyodorkan lembaran pecahan 20-an.

Aku tertegun.

“Bukan karena uangnya. Saya hanya… saya tahu Anda terlalu banyak pikiran. Bahkan saat berdiri di depan saya, Anda seperti tak benar-benar di sana,” ujarnya dengan nada lembut. “Saya hanya tak ingin mengambil hak yang bukan hak saya. Apalagi mengambil hak orang yang tidak tahu apa apa”

Aku tersenyum kecil. “Saya baru kali ini lihat kasir yang begitu perhatian… Gimana kalau kita ngopi? Ada café kecil dekat stasiun.”

Dia ragu. Tapi kemudian mengangguk. Dan dari secangkir kopi pertama, semua mulai terbuka. Kemudian lanjut ke pertemuan berikutnya selama sebulan.

Namanya Yvory. Dulu ia kerja di sebuah perusahaan Asset Management di Zurich. Tahun 2009, setelah Lehman tumbang, ia termasuk gelombang besar PHK di sektor keuangan. Sejak itu, ia mencoba bertahan. Kerja serabutan. Hingga akhirnya jadi kasir di minimarket.

“Aku hanya junior di tim Fund Structuring,” katanya satu waktu “Lebih banyak kerja administrasi, supporting dokumen, compliance.”

“Tapi kamu tahu banyak,” kataku. “Kamu menyebut satu perusahaan pharma kemarin, kamu tahu profile-nya dengan detail.”

Ia tersenyum. “Aku suka riset. Itu satu-satunya yang menyelamatkanku dari merasa tak berguna setelah dikeluarkan dari dunia yang dulu kugenggam.”

Di bar hotel suatu malam, aku berkata, “Mau kerja dengan saya?”

Dia menatap heran. “Kerja apa?”

“Saya akan dirikan Private Equity Firm. Kamu jadi CEO nya. Legal di bawah Yuan Capital, eksekusi di tanganmu.”

Matanya berkaca-kaca. “Kenapa saya?”

“Karena kamu bukan hanya pintar. Kamu jujur. Dan kamu tidak pernah kehilangan rasa hormat pada hidup, bahkan saat ia memperlakukanmu dengan kejam.”

Setahun berlalu. Ia sudah punya kantor sendiri. Tim sendiri. Bahkan mulai masuk lingkaran profesional Zurich. Beberapa tahun kemudian. Sukses melakukan M&A berskala gigantic.

Suatu malam tahun 2019 kami bertemu di lounge yang dulu biasa kami datangi. Ia menatapku lama. “Mengapa sejak aku jadi bos di kantor, kamu menjauh? Tidak ada lagi charming sebagai sahabat.

Aku tersenyum.

“Kamu sekarang adalah aset bagiku. Sebagai trader portfolio, aku harus mengelola asset ku. Aku ingin kamu berkembang secara profesional dan fundamental. Tetapi bagaimana pun kamu adalah sahabatku, Tidak akan berubah. Kamu sudah membayarnya dengan kesetian tak berujung. Terimakasih.”

Ia diam. Lalu mengangguk perlahan.

***

Yvory datang ke Safehouse. Dia tersenyum dan memelukku. “ I missed you “ katanya lirih. Memang sudah 5 tahun engga ketemu. “ Bu Wenny minta aku ketemu kamu. Karena bisnis yang akan aku lakukan masuk katagori sophisticated. “ Ia menyerahkan dua map. Yang engga mungkin di buat file digital. Alasan confidential.

File 1: Tawaran dari hedge fund di New York—struktur offshore untuk pembiayaan proyek energi berbasis karbon transisi di Indonesia bagian timur. Termasuk opsi pembelian obligasi dengan peringkat hibrida sovereign-corporate.

File 2: Proposal dari Offshore Company. Sama-sama proyek infrastruktur. Tapi strukturnya jauh lebih rumit—melalui SPV yang terdaftar dari Cayman, dengan pembayaran kembali lewat kontrak swap hasil tambang di Indonesia.

Aku tatap Yvory sejurus. Dia makin cantik. Perpaduan Korea dan Itali. Memang agak sedikit gemuk. Justru karena itu dia semakin keliatan dewasa dengan payudara indah. Proposal nya terkait dengan geostrategis dan geopolitik. Aku termenung. Lalu, aku hubungi Tan di Singapore. Dengan menggunakan SafeNet saluran terenskripsi lewat Video Call.

“Selat Malaka adalah jantung Asia,” Kata Tan saat aku tanya soal geopolitik Indonesia. Dia team shadow ku yang ahli geostrategis. “Tapi seperti semua jantung, ia berdetak karena sistem—dan sistem itu, tidak dibangun oleh negara seperti Indonesia.”

“Aku kira kami yang menguasainya,” jawabku, menyulut cerutu. “Posisi geografis, garis pantai, volume kargo…”

Tan tersenyum tipis. “Kau terlalu percaya pada peta. Peta tidak menjelaskan siapa yang menggambar jalur distribusi. Dan siapa yang mengatur asuransi kapal, data pelayaran, serta harga logistik global.”

Aku tahu itu. Bahkan tahu bahwa dua perusahaan yang menguasai 70% data logistik regional bukan milik negara manapun—melainkan trust fund anonim yang terdaftar di Delaware dan Zug.

“Indonesia punya wilayah,” lanjutku

“Tapi kontrol?” Tan memotong. “Bahkan transaksi pembayaran lintas negara berjalan melalui jaringan SWIFT dan bank koresponden internasional. Rute lewat Frankfurt, London, atau New York “

 “Ini ada offshore company. Mungkin kau sudah dengar. Mereka masuk ke Bitung, Morowali, Natuna. Bukan sebagai investor resmi. Tapi lewat proxy lokal yang dibentuk dari private placement lintas yurisdiksi.” kataku

“Ini bukan investasi, B” kata Tan. “Ini desain sistem. Mereka tidak membeli tambang. Mereka membeli masa depan Indonesia.”

“  Bagaimana dengan posisi Indonesia dalam BRICS?

“Masalah Indonesia,” ujar Tan, “adalah berpikir bahwa kehadiran di BRICS berarti berdaulat. Padahal kedaulatan adalah soal siapa yang bisa menulis aturan, bukan siapa yang hadir di meja.”

Video Call selesai.

Aku menimbang.

File pertama menjanjikan ketertiban finansial. Tapi juga kontrol fiskal eksternal. File kedua menjanjikan kecepatan dan fleksibilitas. Tapi dengan risiko kedaulatan data dan sistem pengawasan yang nyaris tidak bisa disentuh hukum Indonesia.

Aku menyandarkan punggung. Menatap peta interaktif di layar dinding. Titik-titik merah menunjukkan proyek BRI yang sedang macet: Zambia, Sri Lanka, Pakistan. Semua dimulai dari optimisme. Dan semua berakhir dalam jerat pembayaran utang yang kian sulit dinegosiasikan.

Aku tahu, dunia sedang bergeser. Dan Indonesia berdiri di simpang jalan. Tapi ia merasa sendirian. Di Jakarta, terlalu banyak elite yang sibuk menjadi bagian dari pidato. Terlalu sedikit yang berpikir bahwa sistem itu dibangun jauh sebelum forum internasional diadakan. Padahal Indonesia sedang bertaruh dalam permainan global—tanpa peta, tanpa rencana, tanpa jaring pengaman.

Dari tadi Yvory tetap duduk tenang di sofa. Dia perhatikan aku dengan senyumannya tak pernah pudar. “ B, apa boleh aku undang Tom, datang kemari. Dia memang diminta Bu Wenny mendampingiku dalam business trip ini”  Tom

Aku mengangguk “ Sure!  dan duduk di sebelah Yvory. Aroma lembut parfurm terasa menggoda. Saat dia merebahkan kepalanya ke pundakku.

Tak berselang lama, Tom datang. Dia peluk aku. Tom CEO AF Fund di NY, mantan analis CIA. Tahun 2008 aku rekrut dia untuk SIDC AMG khusus mengelola portofolio emerging market. Tom mengaduk espresso-nya saat terhidang.

“Kenapa Indonesia ikut BRICS?” tanyanya balik saat aku minta pencerahannya soal Indonesia gabung ke BRICS. Suaranya santai, tapi ada nada dingin dalam irama kata-katanya.

“Multipolaritas,” jawabku. “Satu dunia tak cukup ditopang oleh satu pasar, satu mata uang, atau satu blok.”

Tom mendengus, lalu mendekati table terminal yang ada di meja dan  menekan tombol. Layar menampilkan grafik lonjakan premi risiko Indonesia—Credit Default Swap (CDS) yang naik drastis sejak pengumuman partisipasi Indonesia di BRICS. Disusul grafik lain: net sell asing dari pasar obligasi dan saham domestik.

“Pasar tidak menilai niat baik. Pasar hanya menilai prediktabilitas,” kata Tom tajam. “Bridgewater, PIMCO, BlackRock—mereka semua keluar. Bukan karena benci BRICS. Tapi karena tidak suka ketidakjelasan.”

Ia mencondongkan tubuh.

“Kau tahu masalah Indonesia?” tanyanya.

Aku hanya diam.

“Indonesia terlalu besar untuk diabaikan, tapi terlalu kabur untuk dipahami. Tidak punya brand seperti Korea. Tidak punya kontrol sistemik seperti China. Dan tidak punya disiplin fiskal seperti India. Tapi sekarang sok menantang dolar, sambil masih mendekap dollar sebagai Cadev.”

Aku menyeringai kecut. Aku tahu, kebenaran memang sering datang tanpa basa-basi.

Tom membuka satu folder dan meletakkannya di depan ku. “Ini rekomendasi makro: downgrade posisi Indonesia jadi borderline junk. Kalau Indonesia terus main geopolitik tanpa perhitungan ekonomi, pasar akan menganggap Indonesia bukan sebagai peluang, tapi sebagai risiko.”

Aku menatap laporan itu. Semua rasional. Semua logis. Dan semua dingin.

Tom berdiri.

“Indonesia  masih punya waktu,” katanya. “Tapi dunia tidak akan menunggu Indonesia belajar bermain catur. Dunia sedang bermain cepat. Dan satu-satunya cara bertahan adalah: pilih sisi, atau bangun sisimu sendiri.”

***

Tom dan Yvory ajak aku meeting dengan relasinya dari Indonesia. Itu terkait dengan proxy dari dua proyek yang diajukan Yvory. Dinding ruang rapat dilapisi panel kayu. Aroma kopi robusta menyelimuti meja panjang tempat penasihat informal elite duduk bersama. Mereka tidak mengenalku. Tapi mereka semua tahu: dalam ekosistem ini, suara AF Fund  didengar lebih dari yang lain.

“BRICS adalah peluang,” kata seorang ekonom senior. “Kita bisa diversifikasi mitra strategis. Tidak hanya bergantung ke Barat.”

“Peluang untuk apa?” tanya Tom datar. “Kalian  bukan Arab Saudi yang punya leverage minyak. Bukan UEA yang punya kekuatan logistik dan keuangan. Bukan Iran yang punya kendali selat Hormuz. Kalian  masuk BRICS bawa apa?”

“Komoditas. Nikel dan mineral kritis”

Tom menggeleng pelan.

“Kalian pikir nikel itu kekuatan? Ekstraksinya, smelter, Refinery-nya di bawah sistem Tiongkok. Nilai tambahnya? Hilang. Kalian hanya punya tanah dan air, bukan ekosistem ekonomi.”  

Salah satu dari mereka mencoba membalas, “Tapi kita bisa bangun aliansi strategis…”

“Apa arti strategi bila tidak punya cukup bargain power.” potong Tom.

Tom memperlihatkan file lewat notepad nya,  peta investasi China dan AS di Asia Tenggara. Vietnam muncul sebagai titik terang. Logistik solid, insentif stabil, dan relasi bilateral fleksibel.

“Vietnam tahu kapan diam. Kapan bicara. Kapan tunduk. Dan kapan memanfaatkan.”

Ruang itu hening.

“Kalian terlalu percaya diri. Kalian menganggap diundang ke panggung sama dengan jadi pemain. Padahal yang diundang kadang hanya jadi latar. Kalian  datang ke BRICS dengan pidato. Dan lupa bahwa yang bisa dinegosiasikan dalam dunia hari ini, bukan semangat, tapi bargain geopolitik.

“Vietnam main cantik,” kata Tom. “Ikut latihan militer dengan AS, tapi juga jaga harga diri di hadapan Beijing. Mereka tidak menyebut multipolar, mereka membangun jalur logistik dan mengembangkan infrastruktur dan cadangan devisa untuk menopang kekuatan ekonomi dan diplomatic “

Aku dan Yvory dari tadi hanya menyimak. Kami tahu ke mana arah pembicaraan ini.

“Tadinya tarif resiprokal Vietnam ditetapkan AS 46%. Kini jadi 20%. “ lanjut Tom. “Sementara produk kalian kena tarif tambahan. 35%.”

“Apa karena kami ambigu?”

“Karena kalian terlalu percaya retorika. Dan lupa bahwa pasar tak memberi harga pada retorika”

Lalu sunyi.

“Indonesia berpikir sedang memainkan geopolitik,” lanjut Tom, “padahal kalian sedang dimainkan oleh geopolitik.”

Salah satu dari mereka berkata pelan, “Kami terlalu lama hidup dalam logika kompromi. Berpikir selama tidak rubuh, maka semuanya baik-baik saja. Padahal, dunia sedang bermain cepat. Dan pion yang diam akan dimakan sistem.”

***

Malam hari kembali ke Safehouse. Aku membaca ulang memo internal dari tim riset Yvory di Zurich. Laporan itu berisi rincian delapan proyek BRI dari Tiongkok di Asia dan Afrika yang bermasalah: semua mengidap penyakit yang sama—biaya membengkak, teknologi terkunci, dan ketergantungan jangka panjang yang tidak bisa dinegosiasikan.

“Cost overrun mencapai rata-rata 2,8 kali dari estimasi awal.”

“Transfer teknologi di bawah 10%.”

“Tingkat kontrol lokal terhadap data operasional hanya 5%.”

Di tangan lain, aku menggenggam laporan IMF: dalam lima tahun terakhir, utang infrastruktur ke China di negara berkembang melonjak tiga kali lipat. Dan hampir semuanya memiliki zero exit strategy.

Aku menulis satu catatan singkat di ponselnya: “Kita tidak sedang memilih pihak. Kita sedang dipilih. Tapi kita belum menyiapkan apa-apa.”

Di layar televisi, berita tentang konferensi BRICS mengalun pelan. Kamera menyorot senyum pejabat-pejabat dari Selatan Global. Tapi bagi ku, itu bukan senyum kekuatan. Itu senyum diplomatik yang menyembunyikan kekosongan strategi.

***

Keesokannya. Kafe di kawasan Pecenongan. Langit Jakarta sore itu menggantung berat, seperti menahan hujan yang tertunda. Di sudut kafe semi-terbuka, Aku dan Yvory duduk bersantai.  Yvory mengenakan celana denim dan kaus tanpa kerah namun dibalut blazer.

“Sejak aku jadi CEO Palma capital, aku tidak pernah lagi bertemu dengan kamu. Tidak bisa juga menghubungi kamu. Semua harus atas izin dari ibu Wenny di Hong Kong. “ Kata Yvory.

Aku hanya tersenyum sambil menatap Yvory. ” Kamu cantik sekali, Viory ” Kataku pelan.

” Kamu selalu menyanjungku, tetapi tidak pernah mau sentuh aku.” Viory dengan wajah merona.

“Kalau harus memilih, B di pihak siapa? China atau AS?” Tanya Yvory.

Pertanyaan itu menggantung seperti kabut. Aku tidak langsung menjawab. Aku menatap ke kejauhan, ke jalan yang riuh oleh mobil-mobil mahal dan plakat politik murahan. Lalu aku kembali menatap Yvory.

“Ini bukan soal memilih China atau AS,” kataku akhirnya, dengan nada yang nyaris seperti desahan. “Ini tentang Indonesia… yang kehilangan arah bahkan sebelum kapal berlayar.”

Aku mencondongkan tubuh.  “Masalah Indonesia ada di dalam negeri. Di tangan segelintir komprador yang membonsai demokrasi jadi pot plastik. Mereka kendalikan partai, penentu anggaran, regulator, media, aparat hukum. Dan karena itu, kepemimpinan nasionla jadi bias. Yang ada hanya ketakutan untuk kehilangan kursi. Kompromi tak berujung. Akibatnya? melangkah tanpa kompas. Tidak ada arah dalam politik, kecuali satu hal: uang.”

Yvory diam.

Aku melanjutkan, lirih “ Indonesia selalu siap berdamai dengan siapa pun, selama mereka datang bawa capital. Tak peduli itu menjebak, tak peduli itu merendahkan.  Menjual posisi tawar, demi proyek jangka pendek yang hanya memperkaya satu-dua elite. Padahal… kekayaan tanpa sistem, itu bukan kekuatan. Itu umpan.”

Yvory menatap sejurus dan berkata lirih “Kalian punya nikel, batu bara, laut, rempah, bahkan bonus demografi. Tapi … Tidak ada bargain..”

“Jadi… BRICS bukan harapan?”

Aku menyandarkan tubuh. Kali ini aku tertawa kecil. Pahit.

“BRICS adalah arena, Yvory. Bukan pelabuhan. Bukan tempat berlindung dari badai.”

Aku menatap langit yang semakin kelam. “ Indonesia ? datang dalam forum BRICS dengan pidato, dengan jargon, dengan harapan. Padahal optimisme… tidak bisa dinegosiasikan. Yang bisa dinegosiasikan hanya bargain power geopolitik”

“ Ya. “ Yvory mengangguk pelan. “ Yang bisa dinegosiasikan hanyalah penguasaan terhadap ekosistem ekonomi, yang meliputi seluruh jaringan produksi, investasi, teknologi, rantai pasok global. Yang dibangun dan dimanfaatkan dalam kerangka geopolitik dan itu semua harus melalui R&D.”

Dengan kata lain, di era persaingan global abad ke‑21, bukan “retorika optimisme” yang menentukan kekuatan suatu negara atau kawasan—melainkan siapa yang mengendalikan ekonomi strategis, menggunakan pengaruh geopolitik, seperti kontrol infrastruktur logistik, pasar, teknologi, finansial, sehingga mampu menciptakan kekuatan struktural yang nyata.

Malam menjemput. Aku antar Yvory ke Hotel. Dalam perjalanan. “ B, besok aku pamit kembali ke Zurich. Tadi Bu Wenny CEO Yuan Holding sudah beritahu. Dua proyek yang aku ajukan, you have approved. Aku akan kerja keras. Apalagi Tom kirim dua anggota teamnya untuk memperkuat team ku. “  

Aku hanya senyum.

‘ Berapa usia kamu sekarang?

“ 45 tahun. “ Ujar Yvory.. “ Dan tidak pernah menikah. “

“ Mengapa ?

“ 15 tahun lalu, aku wanita dewasa kasmaran di depan seorang pria. Berharap cinta darinya, tapi tak bisa kugapai. “ katanya dengan wajah bersemu merah. “ Sendiri adalah lebih baik untuk memastikan cintaku tetap utuh untuk pria itu..” Lanjutnya. Aku terhenyak

***

Sampai di rumah aku membuka folder usang di laptopku. Di dalamnya, ada satu draft surat yang tak pernah terkirim. Ditulis suatu malam saat aku hampir saja memutuskan untuk jujur pada perasaan sendiri

Zurich, 12 Januari 2010.

Yvory,

Pernahkah kamu merasa ingin memeluk seseorang, bukan karena cinta, tapi karena kamu tahu hidup terlalu berat untuk ditanggung seorang diri?

Aku tidak tahu harus mulai dari mana, tapi kadang aku ingin mengucapkan terima kasih. Bukan karena kamu mengembalikan uang kecil itu, tapi karena kamu mengembalikan kesadaranku. Di tengah kebisingan angka dan tekanan pasar, kamu mengingatkanku bahwa hidup bukan hanya tentang untung-rugi, tapi juga tentang keberanian untuk tetap jujur.

Sejak kamu jadi CEO Palma Capital di bawah Yuan Capital, aku menjaga jarak. Bukan karena aku berhenti peduli. Tapi karena aku takut kehadiranku akan mencemari sesuatu yang sedang kamu bangun. Kamu terlalu berharga untuk hanya jadi kisah singkat dalam hidup seseorang yang sedang melarikan diri dari dirinya sendiri.

Maaf jika aku terlalu sering absen dalam diam. Tapi, jika suatu hari kamu merasa sendiri—ingatlah, ada seseorang yang pernah sangat bangga mengenalmu di sudut minimarket pada malam paling biasa.

Surat itu tak pernah kukirim. Aku yakin, Yvory bukan lagi perempuan yang butuh validasi dariku. Dia telah berdiri sendiri, bahkan melampaui bayangan yang pernah aku pikirkan. Besok pagi dia udah terbang ke Zurich. Closed file!


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

2 tanggapan untuk “Mahalnya kejujuran…”

  1. chocolatecreativelydc584c6ca2 Avatar
    chocolatecreativelydc584c6ca2

    Terima kasih

    Suka

  2. cinto kasiah ~ menanti kesadaran, perubahan yang abdi. terima kasih Babo

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan ke sejahteragirsang Batalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca