Judi online dan cyber cash

Hong Kong, April 2016.
Jam menunjukkan pukul 00.47 dini hari, ketika deretan lampu neon masih bergelayut di jendela-jendela tinggi Central, seolah menolak kenyataan bahwa malam seharusnya waktu istirahat. Di kota ini, jam tidak berdetak dengan ritme manusia, melainkan mengikuti detak jantung bursa London dan New York. Dan seperti biasa, aku terjaga.

Pesan Cha datang hanya dua kata: “Come now.”

Aku tahu Cha bukan tipe orang yang mengumbar waktu untuk hal sepele. Apalagi jika menyangkut kata “now”.

Kami bertemu di sebuah bar semi-private di lantai 25 sebuah hotel butik. Lantainya marmer hitam, dengan tembok kaca yang memantulkan lampu pelabuhan Victoria seperti sungai cahaya. Para tamu kebanyakan trader mata uang, analis pasar komoditas, dan para eksekutor transaksi hedge fund. Mereka datang dengan mata lelah tapi jari-jari cepat, memantau layar terminal Bloomberg sambil meneguk whisky atau kopi.

Cha duduk di sudut, mengenakan jacket lusuh dan sepatu kulit yang tak lagi mengkilap. Tapi jangan tertipu penampilan: pria ini pernah mengatur barter logistik truk Iran dengan crude oil Venezuela, memindahkan jutaan dolar lewat sistem pembayaran non-bank, dan menyelamatkan aku dari kehancuran ketika tenggat pengiriman crude ke China nyaris gagal tiga tahun lalu.

Dia mengangkat gelas saat melihatku datang. “B, aku ingin kamu temui seseorang.”

“Sekarang?” tanyaku, setengah tak percaya.

“Ya. Dia wanita Filipina. Mendiang suaminya teman baik saya,” katanya.

“Peluang apa?”

Cha menyeringai, mengangkat bahunya. “Saya tidak tahu pasti. Tapi saya yakin kamu bisa bantu dia.”

Aku menatap Cha lama. Di dunia kami, kadang peluang tidak datang dari data. Ia datang dari relasi—dan intuisi.

Baru saja aku duduk, seorang wanita menyapaku.

“Mr. B?”

Suara itu lembut namun tak ragu. Wajahnya asing, tapi sorot matanya menyimpan keteguhan yang terasa dibangun dari luka. Rambut hitam legam digelung rapi, wajah oval dengan sedikit garis lelah di sekitar mata. Wajah yang pernah cantik tanpa cela, namun kini membawa jejak kenyataan.

“Cha bilang kulit Anda seperti philipino, berhidung mancung, rahang keras. Saya tahu itu Anda,” katanya sambil tersenyum.

Aku mengangguk.

“Boleh kita bicara di luar? Di dalam terlalu ramai,” lanjutnya.

Kami pindah ke teras. Di kejauhan, kapal-kapal kargo berlayar lamban menembus kabut. Aku memesan red wine. Dia memesan hal yang sama. Tapi tak menyentuhnya.

“Saya Lona,” katanya perlahan. “Dan saya sedang dalam masalah.”

Aku mengangguk. “Silakan ceritakan.”

Dia menarik napas panjang, lalu mulai berbicara—tanpa skrip, tanpa nada manja, dan tanpa topeng.

“Saya dan tim sedang membangun platform game online. Kami sudah selesai MVP dan beberapa fitur infrastruktur dasar. Investor seri A dari Tiongkok sudah keluar. Mereka pegang obligasi konversi senilai 3 juta dolar, dan menolak konversi ke ekuitas. Saya tak bisa masuk ke investor seri B tanpa lunasi itu.”

“Lalu kamu berharap saya?”

“Ya. Kita bisa kontrak venture. Saya yakin sekali kita bisa exit lewat IPO. Tapi saya perlu pembiayaan 6 bulan ke depan.”

Aku menatapnya dalam-dalam.

“Apa jaminan kamu bisa dapat investor seri B?”

“Pasar game online sangat besar. Ini sektor dengan tingkat pertumbuhan dua digit tiap tahun. Tahun 2008 pasar hanya 51 miliar dolar. Tahun 2015 sudah 92 miliar. Menurut PricewaterhouseCoopers, sektor ini lebih besar dari industri musik dan nyaris menyamai film. Di Eropa, terutama Belanda, industri ini sudah mempekerjakan lebih dari 3.000 orang dengan omset tahunan €200 juta.”

“Dan kamu?”

“Saya punya tim. Kami tahu caranya. Kami tahu algoritma perilaku pemain. Kami tahu membangun nilai yang bisa membuat pemain terikat. Kami bukan hanya ingin buat game. Kami bangun sistem pertukaran nilai. Token, koin, reward—yang bisa dibeli, dijual, atau dipertukarkan. Ini bukan sekadar bermain. Ini sistem ekonomi alternatif.”

Aku diam.

Dia menatapku gugup. Tapi aku tak langsung menjawab.

Akhirnya aku berkata, “Pastikan dulu kamu bisa yakinkan investor B. Setelah itu, baru kita bicara.”

Aku berdiri. Dia tampak ingin berkata sesuatu, tapi urung. Dia hanya mengangguk.

“Terima kasih, B.

Tiga jam kemudian, di apartemenku, aku mulai riset. Dan di sanalah aku menemukan sesuatu: tentang nilai. Bukan sekadar mata uang dalam game. Tapi nilai sebagai alat untuk menciptakan ketergantungan, transfer ilegal, bahkan eksploitasi yang dilegalkan oleh sistem virtual yang tak diatur hukum dunia nyata.

Dari FIFA hingga World of Warcraft, League of Legends hingga PUBG, semua memiliki mata uang internal—dan pasar gelap yang menyertainya. Ada situs, exchange, bahkan forum gelap tempat nilai-nilai ini diperdagangkan. Nilai yang bisa dibeli dengan kartu kredit curian, diperdagangkan lintas negara, dan dicuci melalui transaksi mikro.

Aku tutup laptop pukul satu dini hari. Aku tahu: aku baru saja membuka pintu ke dunia yang tak pernah diajarkan di Harvard atau Stanford.


Pagi berikutnya, langit Hong Kong tampak suram. Kabut laut menyapu jendela apartemenku di Mid-Levels. Di kejauhan, garis pelabuhan samar-samar tertutup kelabu. Tapi pikiranku tak serupa langit: justru semakin tajam dan terang.

Pukul 09.58, Lona sudah ada di kantor. Tepat waktu. Mengenakan blus putih dan rok hitam selutut. Ia tampak lebih tenang dari malam sebelumnya, meski gurat cemas belum sepenuhnya menghilang dari wajahnya.

Kami duduk di ruang meeting kecil. Hanya aku dan dia. Sebelum ia mulai bicara, aku menyerahkan selembar kertas.

“Ini pertanyaan dasar. Jawab sejujurnya. Setelah itu, baru saya pertimbangkan untuk bawa kamu ke partner saya, Steven.”

Dia menatap lembar itu. Sepuluh pertanyaan: Siapa pemilik saham mayoritas startup kamu saat ini? Siapa investor Seri A dan berapa ekuitas yang telah mereka akuisisi? Apa detail struktur obligasi konversi mereka? Apakah ada vesting clause untuk foundermu? Siapa CTO dan bagaimana stabilitas tim developer kamu Apakah kamu punya lisensi resmi sebagai penyedia layanan game daring lintas negara? Berapa Monthly Active User (MAU) saat ini? Apa model monetisasi utama: ads, in-game purchase, atau hybrid? Adakah third party wallet atau sistem pembayaran sendiri?

“ Dan, terakhir, apakah kamu menyimpan data nilai transaksi dalam server off-shore?

Dia tersenyum tipis. “Kau tahu terlalu banyak untuk investor biasa.”

“ Karena saya bukan investor biasa,” jawabku.

Lalu dia bicara.

Lona mendirikan startup bernama CypherOne Studios pada pertengahan 2014. Bersama dua orang rekannya, mereka mengembangkan game bertema urban-fantasy dengan mekanisme pertarungan berbasis “kontrak sosial digital”. Dunia gamenya dibangun dari konsep token: pemain bisa membuat aliansi, menyusun pemerintahan, berdagang, bahkan menghukum pemain lain secara kolektif.

“Konsep utamanya: meniru struktur ekonomi dan kekuasaan manusia, tapi dalam dunia virtual,” katanya. “Kami menggabungkan elemen dari MMORPG, simulasi ekonomi, dan bahkan blockchain—meski tidak terang-terangan.”

Investor Seri A adalah firma modal ventura asal Shenzhen bernama LongXun Capital, yang menyuntik dana 5 juta dolar dengan skema convertible bond. Mereka tidak mengambil saham langsung, tapi punya hak konversi menjadi 40% equity jika perusahaan tidak bisa membayar kembali dalam waktu dua tahun.

“Dan sekarang…?”

“Kami tak bisa lunasi. Uang habis. Kami hanya tinggal engine dan user base kecil yang tumbuh organik.”

Aku menyela, “Kenapa investor A tidak mau konversi? Bukankah itu standar exit route?”

Dia menunduk. “Karena mereka mengendus aroma krisis. Tahun lalu satu dari tim saya—CFO—terlibat penyalahgunaan dana. LongXun kehilangan kepercayaan. Mereka anggap saya gagal kelola tim. Mereka tak mau masuk lagi, dan memilih keluar total lewat jalur hukum.”

Aku menatapnya lama.

“Jadi sekarang kamu menghadapi deadlock. Kamu tak punya uang. Tak punya legal standing untuk lanjutkan fundraising. Dan semua tergantung kamu bisa lunasi 3 juta dolar?”

Lona mengangguk.

“Bisa saya lihat struktur obligasinya?”

Dia mengeluarkan satu berkas dari folder hitam. “Ini salinan dari perjanjian obligasi. Term sheet-nya cukup jelas.”

Aku membacanya pelan. Semua ada: tanggal jatuh tempo, pasal default, hak preferensi, anti-dilusi. Bahkan ada klausul hukuman jika startup melanjutkan fundraising tanpa pelunasan penuh kepada LongXun.

“Ini bukan obligasi konversi biasa,” kataku. “Ini trap.”

Dia mengangguk. “Saya tahu.”

“Dan kamu tetap ingin fundraising?”

“Saya ingin bertahan. Tim saya sekarang solid. Kami punya engine dan prototype. Kami butuh waktu enam bulan, paling lama. Setelah itu kami akan open beta dan monetisasi mulai jalan.”

Aku mengangguk pelan. Tapi tetap belum bicara.

“Kalau kamu bantu saya,” katanya, suaranya melemah, “Saya akan serahkan 15% saham founder ke kamu. Saya tahu kamu bukan angel investor biasa. Saya tahu kamu jaga reputasi. Tapi saya sudah tidak punya banyak pilihan.”

Aku berdiri.

“Sekarang kamu jawab pertanyaan ke-10. Apakah nilai transaksi kamu simpan di server luar?”

Dia menatapku, lama, lalu berkata pelan: “Ya. Di Singapura. Melalui API yang disewa dari vendor data wallet. Dan iya, kami pernah transaksi lewat stablecoin.”

Aku mengangguk. “Baik. Besok kamu datang lagi. Saya akan pertemukan kamu dengan partner saya. Tapi jangan terlalu banyak berharap. Dia lebih kejam dari saya.”

Lona hanya tersenyum. “Saya tidak butuh belas kasihan. Saya butuh kesempatan.”

Pukul 2 siang, aku menghubungi Steven. Kami bicara singkat:

“Ada satu kandidat,” kataku.

“Online game?” tanyanya cepat.

“Ya. Tapi juga shadow wallet dan nilai dalam sistem ekonomi digital. Potensi besar. Risiko lebih besar.”

Steven tertawa. “Sounds like my kind of woman.”

“Bukan wanita. Startup,” jawabku datar.

“Besok, jam 10 pagi. Kantor kamu.”

“Bawa juga tim legal kamu,” kataku.

“Selalu,” jawab Steven.


Kafe itu tidak pernah benar-benar sepi, bahkan saat waktu mendekati tengah malam. Suara denting gelas, bisik-bisik meja investor, dan sesekali tawa lepas membentuk latar belakang yang konstan di ruang tempat kami biasa membunuh waktu. Di panggung kecil, lampu kuning redup menerpa seorang wanita bergaun merah anggur. Rambutnya diurai, suaranya lembut—membawakan lagu lama Norah Jones yang membuatku berhenti sejenak dari pembicaraan dengan Steven.

Aku mengenal suara itu. Lona.

Dia di sana, menyanyi, seolah tak pernah bicara soal startup, utang, atau stablecoin. Aku terdiam, membiarkan suara dan liriknya mengalir. Ada kesedihan dalam cara dia menyanyikan bait demi bait, seolah bukan hanya lirik lagu—melainkan pengakuan sunyi dari seorang perempuan yang menolak tunduk pada nasib.

Usai lagu terakhir, dia turun panggung. Dengan anggun tapi lelah. Dia menghampiri meja kami, menyalami satu per satu. Saat tangannya menyentuh tanganku, ia berbisik pelan:

“Can I have a moment with you?”

Aku mengangguk.

Kami pindah ke meja kecil di sudut kafe. Jauh dari lampu. Jauh dari kebisingan.

“Visa saya tinggal tiga minggu lagi di Hong Kong,” katanya sambil menatap kosong ke arah jendela. “Saya ingin manfaatkan waktu ini untuk cari uang. Apa pun yang legal.”

Aku hanya menatapnya. Diam.

“Saya benar-benar bangkrut, B. Saya tidak bohong waktu bilang kalau startup saya sudah habis-habisan. Tapi saya masih hidup. Masih bisa berdiri.”

Ia menghela napas dalam.

“Jangan salah paham. Saya tidak menyesal. Tapi kadang saya merasa… dunia ini tidak pernah memberi saya kemewahan untuk memilih. Sejak suami saya meninggal, saya seperti jatuh tanpa siapa pun menadah. Dan ironisnya, saya bukan istri sah. Saya hanya second. Saya tidak punya hak atas warisan. Tidak ada tempat pulang.”

Aku melihat matanya berkaca-kaca.

“Sejak itu,” lanjutnya pelan, “saya menyanyi. Di tempat-tempat seperti ini. Kadang saya nyanyi, kadang saya harus tidur dengan pria-pria yang membayar cukup untuk sewa kamar selama seminggu. Saya tidak bangga. Tapi itu membuat saya hidup.”

Aku mengangguk pelan. Tidak dalam penghakiman. Hanya pengakuan.

“Aku akan pikirkan,” kataku. “Tapi aku tidak janji.”

Dia menggenggam tanganku sejenak, lalu melepaskannya.

“Terima kasih karena kamu mau mendengar.”

Malam itu, ketika aku kembali ke meja, Steven menyeringai.

“Kamu cepat sekali memukau wanita,” katanya.

Aku menatapnya. “Are you interested in startups? Online games?”

Steven mengangkat alis. “Do you have something?”

Aku mengangguk. “Mungkin.”

“Besok kita bahas di kantor. Saya bawa tim saya,” katanya santai, lalu berdiri dan menghilang ke keramaian bar.


Malam itu, setelah pertemuan dengan Steven dan perbincangan dengan Lona, aku duduk sendiri di depan terminal. Layar monitor menampilkan peta ekosistem game online global—tapi yang kulihat bukan hanya statistik atau tren pengguna. Yang kulihat adalah logika uang. Sirkuit nilai. Pola perilaku yang dibungkus kesenangan.

Jam 10 malam, aku membuka akses ke database keuangan dan tren teknologi melalui akun riset yang biasa kupakai saat membantu private equity fund melakukan valuasi sektor emerging. Di layar, grafik naik tajam: volume transaksi in-game purchases, pertumbuhan RTM (Real Money Trading), serta migrasi pemain dari model pay-to-win ke model earn-and-burn.

Semakin aku baca, semakin aku mengerti: yang dijual bukan game. Yang dijual adalah “nilai” yang diciptakan dari sistem internal game itu sendiri.

Di dalam game, nilai bukan ilusi. Ia nyata bagi pemain. Nilai itu bisa berupa: Koin, seperti dalam FIFA, Emas, seperti di World of Warcraft. Influence Points, seperti di League of Legends. Diamond, Credits, XP, Tokens, dan ratusan nama lainnya.

Nilai itu digunakan untuk: Membuka akses ke level baru. Membeli senjata atau avatar khusus. Mengakses skill tambahan. Bahkan membeli status sosial virtual.

Masalahnya? Semua nilai itu bisa dipercepat jika pemain membayar dengan uang sungguhan. Dan dari sinilah ekonomi paralel tumbuh: pemain yang malas atau sibuk, akan membeli nilai dari pemain lain.

Pasar ini tidak diatur. Tidak ada bank sentral. Tidak ada hukum perdagangan. Hanya logika sistem.

Aku membaca laporan PwC tahun 2015: nilai industri game global sudah menembus USD 92 miliar. Sementara laporan MarketsandMarkets memperkirakan pertumbuhan RTM bisa melebihi 20% per tahun hingga 2020.

Situs-situs seperti PlayerAuctions, G2G, dan OPSkins tumbuh bagai pasar gelap legal. Pemain bisa beli akun, beli koin, bahkan menyewa “joki” untuk naik level.

Ini pasar di bawah radar. Tapi uangnya nyata. Sangat nyata.

Bahkan, di dark web, ada komunitas yang menawarkan jasa “penambangan nilai”—menggunakan bot, phishing, dan malware untuk mengambil alih akun pemain lain dan mencuri nilai mereka. Nilai itu lalu dijual, lalu uangnya dicuci, diputar, dan akhirnya masuk ke dompet digital di belahan dunia lain. Tanpa pajak. Tanpa jejak.

Aku menarik napas dalam. Dunia yang dibangun Lona bukanlah sekadar game. Tapi sistem nilai virtual yang menciptakan ekonomi gelap—legal dalam bentuk, haram dalam praktik.

Aku berpikir tentang blockchain, tentang stablecoin, tentang ekosistem pembayaran lintas-negara yang kini makin mudah digunakan—bahkan oleh mereka yang tidak pernah lulus kuliah. Lona dan timnya bukan kriminal. Tapi sistem yang mereka bangun bisa digunakan oleh siapa saja—bahkan oleh mereka yang ingin mencuci uang narkotika, perdagangan manusia, atau pembiayaan politik ilegal.

Dan satu hal yang membuat semuanya mungkin: tidak ada satu pun regulasi global yang bisa mengontrol nilai dalam dunia maya.

Pukul 01.12 dini hari. Aku menutup laptop.

Kupandangi jendela. Lampu kota Hong Kong masih menyala. Aku tahu: di balik semua ini ada sebuah pertanyaan yang harus kujawab sendiri—apakah aku akan ikut menciptakan sistem yang membuat dunia makin sulit dilacak dan kebenaran makin mudah dibeli? Tapi… juga ada pertanyaan lain: Jika aku tak ikut masuk, siapa yang bisa mengendalikan sistem ini dari dalam?


Pagi itu hujan. Langit Hong Kong menggantung kelabu, dan kabut turun sampai menyentuh kaca kantor lantai 39 tempat aku biasa bekerja. Aku duduk di ruang rapat utama bersama dua gelas kopi yang belum disentuh.

Pukul 09.59, pintu terbuka. Steven masuk lebih dulu, dengan langkah cepat dan aroma parfum yang biasa ia pakai untuk urusan penting. Di belakangnya, Lona—berdiri tenang, rambut disanggul, mengenakan jas hitam di atas blus krem sederhana. Wajahnya lebih tajam dari malam sebelumnya. Bukan karena tidur yang cukup—tapi karena tekad yang telah diberi bentuk.

“Kenalkan,” kataku, “ini Lona. Yang kemarin malam kamu bilang punya suara bagus.”

Steven menyambut dengan senyum tipis dan jabatan tangan ringan. “Suara bagus biasanya punya kepala yang bagus juga.”

“Dan ini Steven,” lanjutku ke arah Lona. “Partner saya. Kami berbagi banyak hal, tapi tidak semua hal. Jadi santai saja.”

Lona tersenyum, lalu mengeluarkan laptop.

Kami duduk. Lampu ruangan diredupkan. Lona menyalakan presentasinya.

Slide pertama: CypherOne Studios – Reimagining Online Economies.

“Nama saya Lona. Saya bukan dari dunia venture capital. Saya juga bukan jebolan Stanford. Tapi saya membangun tim yang bisa menciptakan ekosistem digital dari nol. Kami membangun game, ya. Tapi kami membangun sistem ekonomi, itu yang lebih penting.”

Slide kedua: Masalah yang Kami Pecahkan. Fragmentasi nilai dalam gam. Ketergantungan pada wallet eksternal. Tidak ada sistem insentif terintegrasi antara pemain, pembuat konten, dan penyedia layanan. “ Kami melihat game bukan sekadar permainan, tapi sebagai sistem nilai yang bisa dikendalikan, disalurkan, dan dipertukarkan.”Slide ketiga: Solusi. Engine game dengan API terbuka untuk nilai. Dompet internal yang bisa dihubungkan ke stable-coin. Governance sederhana berbasis reputasi pemain. Slide keempat: Kenapa Sekarang? Lona bicara tenang, fokus. Seperti seseorang yang sudah berdamai dengan ketakutan. Ia tidak mencoba meyakinkan—ia menunjukkan realitas

“Selama dua tahun terakhir, pertumbuhan RTM (Real Money Trading) lebih tinggi dari pertumbuhan platform streaming. Pemain rela mengeluarkan uang untuk ‘mempercepat’ pengalaman mereka. Kami tak menjual game. Kami menjual waktu.”

Slide kelima: Permintaan Dana. Yang saya butuhkan: USD 6 juta.”

Steven mengangkat alis. “Untuk apa rinciannya?”

“ 3 juta untuk melunasi obligasi konversi yang memblokir saya dari fundraising. 3 juta lagi untuk operasional dan marketing 6 bulan ke depan hingga open beta.”

“ Dan jadwal pengembangan?” tanyaku.

“ Dua belas minggu. Kami sudah selesaikan sebagian besar engine dan UI. Kami hanya butuh waktu dan uang.

“ Steven berdiri. Tak menunggu presentasi usai. “ B, saya setuju kita masuk. Tapi pastikan jadwal bisa dipercepat jadi 3 bulan selesai. Saya ingin langsung on air. Waktu kita adalah nilai.” Dia menatap Lona. “Kami bukan malaikat. Kami investor. Tapi kamu pintar. Dan kamu sedang tenggelam. Saya suka bertaruh pada orang yang terdesak.”

Lona tersenyum. Tak ada ekspresi manja. Hanya determinasi yang dikembalikan.

“ Siap. Saya akan buktikan,” katanya.

Steven mengacungkan jempol. “Saya pergi dulu. Meeting lain.”Ia melangkah keluar. Tanpa bicara lagi.

Aku menekan interkom. “Panggil Tim Legal dan Business Development ke ruang rapat.”

Tak lama kemudian dua orang masuk. Aku menatap mereka serius. “ Proses kemitraan ini. Saya ingin term sheet dalam waktu 48 jam. Sederhana, cepat, dan tegas. Kita bukan main startup, kita sedang bikin sistem nilai digital.”

“Baik, Pak,” jawab kepala legal.

Lona menatapku. Matanya penuh cahaya. Seolah baru saja ia mendapat kembali nafas setelah tenggelam terlalu lama.

“Terima kasih, B.”

Aku mengangguk. Tapi dalam hati, aku tahu—ini belum selesai. Justru baru dimulai.


Shenzhen, seminggu kemudian. Uap tipis memenuhi ruang sauna di pusat spa paling eksklusif di Futian. Di sinilah aku dan Steven sering bertemu untuk membicarakan hal-hal yang tak tercatat dalam email atau perjanjian formal. Suhu tinggi dan keringat adalah cara paling tua untuk menyingkirkan alat sadap. Di ruangan ini, kata-kata lebih telanjang daripada tubuh kami.

Steven merebahkan tubuhnya di kayu pinus, matanya terpejam, tangannya menggenggam botol air mineral seperti sedang memegang kendali pasar.

“Lona sudah kerja cepat,” katanya membuka percakapan. “Saya sudah lihat draf alpha dari game engine-nya. Potensinya besar. Tapi saya ingin lebih.”

Aku melirik. “Lebih dalam hal apa?”

“B, kita harus buat sistem pembayaran internal. Multi-platform. Bukan hanya untuk in-game purchase, tapi juga untuk mengalirkan dana dari luar. Think like a wallet—tapi dengan lisensi. Legal.”

Aku diam.

“Lisensi dari mana?”

“Malta.”

Aku menghela napas pelan. “Saya tahu kamu punya koneksi di Malta. Tapi kamu juga tahu, itu jalur tipis antara kebijakan dan kompromi.”

Steven menyeringai. “That’s why we play in the shadows, my friend.”

Steven melanjutkan “ Ada asosiasi bola di Eropa Timur. Kami punya kerjasama dengan yayasan olahraga mereka. Dari situ kita bisa dapat surat dukungan untuk mengajukan lisensi pembayaran sebagai bagian dari sponsorisasi e-sports.”

“Kamu mau menyamarkan transaksi game online lewat kanal e-sports sponsorship?”

Dia mengangguk.

“Teknisnya sederhana. Kita integrasikan sistem point reward untuk pembelian konten bola digital. Tapi arsitekturnya bisa difungsikan sebagai payment processor untuk transaksi game. Bahkan bisa dipakai untuk RTM—asal tahu cara masking data IP dan transaksi.”

Aku menatapnya lama. “Steven, kamu tahu batas saya.”

“B, kamu orang yang paling paham batas. Tapi kamu juga orang yang paling tahu bahwa semua sistem butuh pelumas.”

Aku tak langsung menjawab. Pikiran melayang ke wajah Lona, pada caranya mempresentasikan bisnis dengan ketegasan tapi tanpa sandiwara.

“Kamu tahu siapa Lona?” tanyaku tiba-tiba.

Steven menoleh. “Maksudmu siapa dia sebenarnya?”

Aku mengangguk.

“Dia janda. Suami keduanya orang kuat dari Manila. Tapi tak ada warisan. Dia bertahan hidup dari nyanyi dan proyek kecil. Sampai dia bertemu developer muda dari Vietnam dan Filipina yang punya ide gila tentang membangun ekosistem game seperti simulasi kehidupan. Dia invest semua tabungannya, lalu dia tenggelam.”

Aku terdiam. “Dan kamu?”

“B, dia wanita cerdas. Tapi dia bukan milik siapa-siapa. Kalau dia bisa bekerja untuk sistem ini, saya akan bantu dia bangkit. Tapi kamu tahu, saya tidak akan pernah mengizinkan dia menyentuh struktur utama dari perusahaan kita.”

Aku mengangguk. “Dan saya tidak akan izinkan struktur utama kita menyentuh dia.”

Steven tersenyum. “Kompromi?”

“Bukan kompromi. Ini garis. Saya tidak akan biarkan bisnis kita menjadi saluran untuk pencucian dana kriminal, bahkan jika itu legal di atas kertas.”

Steven tak tersinggung. Dia justru duduk tegak dan menatapku serius.

“Kamu terlalu bersih, B.”

“Dan kamu terlalu licin,” jawabku. “Itu sebabnya kita bertahan.”


Malam itu, aku menelepon Lona. Kami janjian makan malam di sebuah restoran kecil di kawasan Kowloon. Bukan tempat mewah. Tapi cukup tenang untuk pembicaraan berat. Ia datang mengenakan gaun hitam sederhana, tanpa makeup mencolok, hanya rias tipis dan mata yang tampak lelah.

“Lona,” kataku dengan suara pelan. “Saya tidak bisa mendukung bisnis ini lebih jauh.”

Ia menatapku. Terdiam. Lalu wajahnya berubah. Air mata tak bisa dicegah.

“Tapi…” aku melanjutkan. “Steven tetap akan lanjutkan proyek ini. Dia percaya pada kamu. Dan dia akan pastikan kamu punya semua dukungan yang kamu butuhkan.”

Dia menghapus air matanya. “Terima kasih, B. Itu sudah cukup.”

“Namun kamu harus tahu,” kataku dengan lebih tegas, “Steven adalah pemain lama di dunia perjudian. Dan dia tahu cara menyamarkan dana dan transaksi. Jika kamu ikut dalam sistemnya, kamu harus tahu—tidak ada ruang untuk kompromi moral.”

“Aku tahu,” jawab Lona.

Lalu, seperti membuka rahasia yang ia simpan lama, ia berkata:

“B, tak ada game online yang benar-benar bersih. Semuanya menyimpan darkroom. Dalam industri ini, phishing, bot farming, dan account hacking adalah strategi terselubung. Akun pemain bisa diretas, dikuras nilainya, lalu nilai itu ditransaksikan via RTM. Ini cara tercepat menyalurkan uang kotor tanpa jejak. Bahkan sering kali akun-akun ‘budak’ itu sengaja diciptakan oleh tim kami sendiri. Kami menyebutnya puppet users.”

Aku menatapnya, lama.

“Dan kamu tahu apa yang lebih gelap?” lanjut Lona. “Kadang, para puppet itu adalah manusia sungguhan. Dipaksa bermain. Dikendalikan. Dan dieksploitasi untuk membersihkan uang—seolah mereka hanya karakter dalam permainan. Tapi mereka bukan karakter. Mereka korban.”

Aku menarik napas panjang.

“Mungkin kamu sudah terlalu jauh masuk, Lona.”

Dia menggeleng pelan. “B, saya janda dengan satu anak. Saya pernah tidur di lobi hotel demi tidak digusur. Saya tidak punya kemewahan untuk memilih alternatif. Saya hanya bisa bertahan.”


Singapura, Januari 2019. Langit malam di atas Marina Bay berkilau seperti permukaan cermin yang memantulkan ambisi dan pengkhianatan. Aku duduk di Lounge. Di depanku, segelas espresso yang sudah dingin. Musik klasik mengalun dari grand piano yang dimainkan otomatis. Seisi ruangan tenang, penuh pria dan wanita dengan jas mahal dan pandangan jauh.

Sampai suara itu datang.

“B?”

Aku menoleh pelan. Wajah itu muncul dari balik bayang ingatanku—tajam, penuh luka yang disembunyikan di balik senyum.

“Lona…”

Dia tersenyum, berjalan mendekat. Gaun hitam sederhana, sepasang anting mutiara. Ia tidak lagi tampak lelah seperti dulu. Tubuhnya lebih tenang. Matanya lebih jernih. Tapi aku tahu: itu bukan karena beban yang hilang, melainkan karena beban itu telah menjadi bagian dari dirinya.

“Apa kabar?” tanyanya sambil duduk tanpa menunggu izin.

“Seperti langit Singapura. Stabil tapi tak pernah jujur.”

Dia tertawa pelan. “Kamu masih suka kalimat filosofis.”

“Dan kamu masih memakainya dengan baik.”

Kami saling diam sejenak. Di meja seberang, dua banker dari Dubai sedang membahas skema obligasi green bond yang baru saja mereka susun. Aku mendengar nama Seychelles disebut, dan dalam hati tertawa kecil. Dunia ini memang kecil bagi yang tahu jalan pintasnya.

Lona menatapku dengan tenang. “Saya berhasil.”

Aku hanya menatap, menunggu ia lanjut.

“Saya bangun sistem backend modular untuk game online. Platform itu bisa diunduh siapa pun. Dari mana pun. Siapa saja sekarang bisa membuat situs game hanya dengan tiga klik. Dan semua transaksi terhubung ke wallet kami.”

Aku mengangguk. “Jadi kamu sekarang penyedia infrastruktur shadow economy berbasis game?”

“Begitulah,” jawabnya jujur. “Pasarnya luar biasa. Indonesia, Malaysia, Filipina, bahkan Thailand. Politisi dan aparat mudah dibeli. Semua ingin bagiannya. Dan kami… hanya memberi yang mereka inginkan.”

Dia meneguk wine-nya.

“Saya sekarang punya rumah di Manila, apartemen di Perth, jet pribadi di bawah SPV atas nama entitas Bermuda. Dan saya tidak menyesal, B. Karena kalau pun saya harus mati besok, saya tidak akan mati miskin dan terhina.”

Aku tetap diam. Tidak menghakimi. Tapi tidak juga memberi restu.

“Kadang saya ingin menghubungi kamu,” lanjutnya. “Saya kangen. Tapi Steven bilang: kalau saya mau bicara dengan kamu, harus lewat Safenet.”

Ia tertawa. “Apa itu Safenet, B?”

Aku tersenyum. “Saluran komunikasi terenkripsi. Sistem seperti itu dipakai untuk operasi yang tak ingin dikenali negara mana pun.”

“Kenapa Steven begitu protektif terhadapmu?”

“Karena saya tidak hidup di dunia dia. Tapi saya paham semua jalannya.”

Ia menatapku. “B, saya tahu kamu kecewa pada saya. Tapi saya ingin kamu tahu… saya tak pernah lupa satu hal. Bahwa kamu adalah satu-satunya yang menatap saya bukan sebagai aset. Tapi sebagai manusia.”

Aku menghela napas panjang. “Tapi dunia ini tidak pernah memaafkan manusia.”

“Ya,” jawab Lona. “Dan karena itu saya memilih menjadi mesin. Mesin yang tahu kapan harus dingin, kapan harus mematikan empati.”

Kami tidak bicara banyak setelah itu. Ketika aku bangkit meninggalkan lounge, dia tidak menahanku.

“Kalau kamu ke Manila, kabari,” katanya pelan. Aku mengangguk. Lalu pergi. Tanpa menoleh lagi.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Satu tanggapan untuk “Judi online dan cyber cash”

  1. “komprehensif dan terintegrasi”

    I don’t live in his world. But I understand all his ways.

    Suka

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca