Struktur harapan

Jakarta, sore menjelang malam. Langit seperti kaca patri yang remuk. Cahaya keperakan terseret mendung dan debu kota, menciptakan warna langit yang tak bisa didefinisikan dengan palet biasa. Tapi kota ini tak pernah benar-benar diam. Selalu ada suara: klakson, gelas kristal, elevator hotel yang berhenti setiap dua lantai, dan derap langkah yang ingin naik sebelum anggaran habis.

Di lounge hotel bintang lima itu, B duduk di sofa kulit kelabu. Tubuhnya condong ke depan, tangan kiri menyangga dagu. Di hadapannya bukan hanya meja bundar dan dua cangkir kopi Arabika. Tapi ruang antara harapan dan realitas. Seperti peta dunia yang telah berubah garis-garisnya, dan kini harus dibaca ulang.

Laras duduk di depannya. Usianya 35 tahun. Cantik, lebih terkesan Jawa aristocrat. PhD bidang Urban Social Policy dari Belanda. Pernah menjadi peneliti di World Bank, sektor housing & fiscal resilience. Kini, kandidat magang terbaik di Yuan Capital—firma investasi asal Zurich yang lebih tertarik pada tata kelola ketimbang margin jangka pendek.

Tak ada aroma kesombongan pada dirinya. Yang ada justru gelisah. Ia terlalu tahu. Dan dalam dunia yang terlalu dikendalikan oleh yang pura-pura tahu, orang seperti Laras sering terdampar di batas antara percaya dan menyerah.

“Mas B,” katanya, pelan tapi jernih. “Saya punya mimpi: menyediakan rumah murah untuk orang miskin. Tanpa bunga. Angsuran hanya 15% dari UMR. Apakah itu utopis?”

B menatapnya lama. Senyumnya kecil, nyaris seperti tanda baca yang tidak selesai.

“Tidak. Itu semestinya menjadi dasar kita bermimpi,” jawab B. “Orang-orang pintar seperti kamu harus mulai dari yang ideal. Supaya ketika kenyataan mencabiknya, kamu masih punya sisanya.”

Laras menarik napas.

“Tapi bagaimana kalau fiskal negara tidak mampu? Subsidi tidak cukup. APBN sudah defisit. Apakah satu-satunya jalan adalah lewat APBN?”

B diam. Pertanyaan itu bukan pertanyaan seminar. B tahu itu datang dari seseorang yang ingin percaya pada sistem, walau tahu sistem itu sering dikuasai oleh mereka yang hidup dari kebingungan. “Ada jalan lain,” ujarnya akhirnya. “Tapi tidak semua pejabat berani menempuhnya.”

Laras menunggu. Tak menyela. Seperti membaca buku tua yang tak boleh dilewatkan satu halaman pun.

“Thematic bond. Diterbitkan lewat SPV. Off balance sheet APBN. Strukturnya bersih. Transparan. Tapi justru karena itu, banyak yang menolaknya. Mereka tak bisa bermain di dalamnya.”

Ia lalu menjelaskan, dengan bahasa yang hanya bisa datang dari seseorang yang telah lama menyepi di lorong sistem. Tentang bagaimana green bonds dan social bonds digunakan di negara-negara berkembang untuk membiayai perumahan sosial dan proyek transisi energi.

Tentang bagaimana SPV (Special Purpose Vehicle) dapat didirikan oleh BUMN atau pemerintah daerah, tapi tidak masuk dalam buku besar negara. Sehingga tidak menambah defisit. Tidak menggerus plafon utang. Tentang bagaimana proyek rumah murah bisa dibungkus dalam kerangka social infrastructure, dan dipadukan dengan teknologi ramah lingkungan: atap surya, instalasi air daur ulang, pengelolaan karbon mikro. Lalu dikemas dalam kerangka green-social bond yang bisa menarik dana ESG fund dan lembaga filantropi internasional.

Tentang true sale—pemindahan aset masa depan secara hukum kepada SPV, yang memungkinkan proyek itu dibiayai lewat penjualan arus kas masa depan. Tentang tranching, credit enhancement, dan rating yang membuat investor yakin tanpa harus menggadaikan nama negara.

“Kita bisa biayai perumahan tanpa utang negara. Tanpa bunga. Tanpa subsidi tunai. Tapi dengan struktur yang harus kita jaga tetap jernih,” kata B menyimpulkan.

Laras terdiam. Ia seperti baru masuk ke dalam dunia yang selama ini tertutup kabut. Dunia yang sunyi, dari orang yang hidup dalam sepi.

“Kalau begini,” katanya pelan, “kenapa tidak pemerintah gunakan ini?”

“Karena struktur ini terlalu terang. Tidak banyak ruang gelap di dalamnya,” jawab B. “Dan banyak orang hidup dari ruang gelap itu.”

Laras mencatat, tapi lebih dari itu—ia menyimpan. Ia tidak hanya ingin tahu. Ia ingin mencoba.“Saya ingin mempresentasikannya,” katanya. “Ke investor. Ke pemerintah. Ke siapa pun yang mau dengar.”

“Kalau begitu,” jawab B, “aku akan bantu. Tapi bersiaplah. Struktur ini bukan hanya menantang teknis… tapi juga moral.”

Laras tersenyum.

“Saya siap.”

Dan di luar jendela hotel itu, Jakarta mulai menyala. Seperti kota yang tak bisa tidur. Tapi di dalam ruang itu, dua orang baru saja menyalakan lampu lain—yang nyalanya mungkin tak cepat terlihat, tapi akan lama padamnya.

***

Hujan turun malam itu. Tidak deras, tapi cukup untuk menghapus suara-suara kota, menyisakan ruang yang tenang di dalam apartemen B. B, menyebut ini safehouse. Memang tidak ada signal hape, Wifi. Network data menggunakan cable F/O,

Di meja kerja kristal, B membuka laptopnya. Di hadapannya bukan hanya layar data, tapi sebuah jalan yang ingin ia buka. Laras duduk di seberangnya, menyalakan perekam suara, buku catatan terbuka, bolpoin mengambang di ujung jemari.

“Kita akan mulai dari grammar dasarnya,” kata B. “Kalau kita bicara pembiayaan publik yang inovatif, kita tidak bisa mengulang narasi lama: APBN sebagai satu-satunya solusi. Negara harus belajar menjadi fasilitator, bukan peminjam.”

Laras mengangguk. Ia tahu ini bukan sekadar pelajaran teknis. Ini adalah disiplin baru dari Mentor Yuan. Dia lulus terbaik dalam program magang Yuan. Ini kesempatan terbaik bagi dia untuk masuk ke dunia hedge fund.

“Thematic bonds,” lanjut B, “adalah obligasi yang digunakan untuk mendanai proyek tertentu yang punya tema sosial atau lingkungan. Misalnya: green bond untuk proyek energi bersih. Social bond untuk rumah rakyat. Sustainability bond untuk keduanya.”

Dari computer B memantul Video ke layar presentatasi lebar gambar saling terkait :lingkaran biru bertuliskan Green Projects, lingkaran merah Social Projects, di tengahnya—Sustainability.

“Banyak negara berkembang mulai menggunakannya. Tapi kesalahan pertama mereka adalah: menerbitkan thematic bond lewat negara langsung. Akibatnya masuk ke APBN. Meningkatkan utang. Menambah beban fiskal. Padahal ada jalan lain.”

Off-Balance-Sheet,  muncul tulisan.

“Caranya?” tanya Laras.

“Bangun SPV. Special Purpose Vehicle. Entitas hukum tersendiri. Milik negara, tapi berdiri sendiri secara legal dan akuntansi. SPV ini yang menerbitkan thematic bond. Karena SPV bukan bagian dari APBN, maka obligasi ini tidak tercatat sebagai utang negara. Tentu selama memenuhi prinsip ‘true sale’ dan pengalihan risiko yang sah.”

Laras mencatat cepat. Tapi matanya tetap pada B.

“Asetnya apa? Jaminannya dari mana?” tanyanya.

“Asetnya adalah arus kas masa depan dari proyek itu sendiri. Misalnya, kita bangun 10.000 unit rumah murah. Disewakan atau dicicil dengan skema terjangkau. Arus kas masa depan itu—kita sekuritisasi. Kita jual ke investor lewat obligasi yang diterbitkan SPV. Negara tidak keluar uang. Negara hanya fasilitator.”

Ia menyodorkan graphis: SPV dibentuk oleh BUMN atau BLU. SPV punya kontrak pembangunan proyek. SPV mendapat pengakuan arus kas (cicilan rumah, sewa, dll). SPV menerbitkan green-social bond. Investor membeli obligasi berdasarkan rating dan skema tranching. Dana hasil obligasi digunakan membangun rumah. Pembayaran ke investor dilakukan dari arus kas proyek.

“Jadi negara tidak berutang?” tanya Laras, memastikan.

“Tidak. Negara tidak mencatat utang. Karena secara hukum, SPV yang berutang. Dan SPV membayar dari hasil proyek, bukan dari APBN.” Jawab B dengan tetap terkesan santai dan berwajah senyum.

“Tapi tetap harus hati-hati. Kunci utamanya ada tiga: true sale, independent risk, dan governance. Kalau negara terlalu dominan di dalam SPV, rating akan jatuh, dan pasar anggap ini utang terselubung. Harus murni transaksi bisnis. Tanpa jaminan pemerintah.” Lanjut B.

B menyodorkan satu dokumen: struktur proyek air bersih di São Paulo, Brasil. Proyek ini menggunakan SPV dan green bond untuk membangun infrastruktur air, tanpa menambah utang negara bagian. “Mereka pakai SPV. Dapat rating investment grade. Dana masuk dari investor Swiss dan Kanada. Proyek jalan. Air mengalir. Rakyat senang. Dan APBN tidak bertambah beban.”

Laras memandang graphis itu. Ia tahu ini bukan fiksi. Ini nyata. Tapi belum cukup banyak yang percaya bahwa struktur seperti ini bisa dipakai di Indonesia.

“Tapi siapa yang mau jadi sponsor? BUMN? Pemda?” tanyanya.

“Bisa dua-duanya. Bahkan BUMDes pun bisa, kalau kita berani. Tapi yang penting: jangan izinkan satu pun campur tangan politik di dalamnya. SPV harus steril. Kalau tidak, kita kembali ke utang biasa dengan label baru.”

Ia tertawa kecil.

“Dan kita bukan sedang cari label. Kita sedang cari jalan.”

Malam semakin larut. Hujan belum reda. Tapi di dalam ruang itu, satu demi satu struktur terbentuk. Laras tidak hanya mencatat. Ia mulai membayangkan. Kota-kota kecil yang bisa tumbuh dengan rumah layak. Tanpa bunga. Tanpa utang negara. Tanpa kompromi.

“Apa semua ini bisa?” tanyanya akhirnya.

“Secara teori: ya. Secara praktik: hanya jika kamu bisa jaga struktur ini tetap jernih. Karena begitu kamu biarkan satu potong dari proposalmu dikotori—semua akan runtuh.”

“Saya akan coba,” bisik Laras.

Dan di luar jendela, hujan mulai reda. Seperti membuka ruang baru bagi pagi yang belum terlihat.

***

Marina Bay, Singapura. Menara kaca yang berdiri di atas teluk tenang, menyimpan puluhan triliun modal mengendap. Di dalam ruang presentasi berpanel kayu ringan, cahaya putih memantul dari layar lebar bertuliskan:

“Green Infra SPV for Affordable Housing Program – Republic of Indonesia”

Laras berdiri di depan panel investor. Rambutnya diikat rapi. Wajahnya tenang, tapi matanya menampakkan detak ketegangan yang tak bisa disembunyikan. Di belakang layar, siluet B tampak duduk di kursi sudut, membaur dalam bayangan. Ia hanya hadir sebagai “observer”. Tapi semua orang tahu, itu bukan posisi pasif. Semua mereka yang akan hadir itu network B.

Investor hadir dari berbagai negara:

Swiss—dari keluarga perbankan konservatif.

Jepang—perwakilan dari Jepang dan dua trust fund institusi sosial.

Norwegia—ESG sovereign fund yang sedang agresif mencari proyek transisi sosial hijau di Asia Tenggara.

Laras membuka dengan hal yang sederhana.

“Indonesia memiliki backlog perumahan 12,7 juta unit. Pemerintah sudah berupaya, tapi fiskal negara menghadapi keterbatasan struktural. Kami ingin menawarkan solusi yang tidak menambah utang negara, tapi tetap berdampak langsung ke rakyat.”

Ia lalu memaparkan struktur. SPV berbasis proyek perumahan di tiga kota pinggiran industri (Jakarta, Bekasi, Semarang, Makassar). Total kebutuhan dana: USD 3 miliar sebagai pilot project. Revenue stream: angsuran mikro berbasis UMR, tanpa bunga. Teknologi yang dipakai: panel surya lokal, tangki bio-septic, rumah modular ramah lingkungan. Penjaminan: dilakukan melalui credit enhancement dari fund hijau swasta. Tranching: AAA (ESG fund), mezzanine (bank pembangunan), equity tranche oleh SPV lokal

Laras memproyeksikan IRR investor di kisaran 1–2%, tapi dengan dampak sosial yang dihitung oleh impact rating agency. Ia tidak menjual profit. Ia menjual masa depan yang lebih adil.

“This is not just finance. This is trust engineering,” katanya.

Seseorang dari Swiss—berjas abu-abu dengan lambang lamb kecil di dasi—mengangkat tangan. “We like this. But we don’t see any guarantee. How can we be sure that the revenue stream is reliable?”

Laras menjawab cepat. “We partner with payroll cooperatives and worker unions to automate payment. Default risk is underwritten by philanthropic capital tranche.”

Investor dari Tokyo melirik koleganya. Anggukan kecil. Mereka tahu sistem ini tidak sempurna, tapi bisa dibangun. Seorang perwakilan dari Norwegia kemudian angkat bicara “This is smart. But will your own bureaucrats allow this to happen?”

Pertanyaan itu memantul di dinding ruangan. Seolah bukan ditujukan hanya kepada Laras, tapi pada seluruh ekosistem negara tempat ia berasal. Laras menatap sejenak ke sudut ruangan. Di sana, B duduk, wajahnya tenang. Tak sedikit pun memberi isyarat.

Laras lalu menjawab—dengan suara datar, tapi tajam “That is the real challenge. Not the market. But those who benefit from opacity.”

Ruangan sunyi. Seperti semua orang tahu kebenaran itu, tapi tak tahu harus menanggapi dengan apa. Investor tidak takut risiko finansial. Mereka takut pada ketidakpastian moral dan tata kelola. Namun di tengah senyap itu, keberanian justru lahir. Beberapa kepala mengangguk. Seseorang dari Jepang membisik ke koleganya: “Maybe it’s time to try something honest.”

Laras menyelesaikan presentasi dengan satu kalimat yang tidak ada di slide. “This structure is not perfect. But it’s the most ethical option we have—if we want to fund justice without mortgaging our children.”

Ketika ruangan bubar, satu per satu investor datang menghampiri. Mereka tidak menandatangani MoU malam itu. Tapi mereka meminta dokumen. Meminta term sheet. Meminta contoh kontrak. Dan itu lebih dari cukup.

Di balik jendela kaca, lampu Singapura berkilau. Tapi bagi Laras, malam itu bukan hanya tentang presentasi. Itu adalah malam ketika ia menyadari: struktur bisa menjelaskan moral lebih jujur daripada pidato politik.

Dan B, dari sudut ruangan, hanya menulis satu kalimat di notes-nya “Kalau bahasa kebijakan sudah gagal, biarkan struktur yang bicara.”

***

Jakarta. Dua minggu setelah presentasi di Singapura. Matahari di luar gedung kementerian tampak tumpul. Seperti enggan bersinar terlalu keras atas tempat yang terlalu lama menyimpan bayangan.

Laras datang tepat waktu. Mengenakan kemeja putih, rok hitam, dan ekspresi netral yang ia latih di cermin selama seminggu. Di tangannya—map biru berisi dokumen tebal: struktur lengkap SPV untuk perumahan rakyat berbasis green bond. Legal memo, model keuangan, proyeksi cash flow, stress test, ESG rating scenarios. Semuanya lengkap. Terlalu lengkap.

Di lobi kementerian, seorang staf muda dengan pin kecil partai di dadanya mengantarnya ke lantai enam. Lift berdering pelan. Hening. Ruang tunggu berisi beberapa pejabat yang saling melirik, berbicara setengah suara. Mereka tahu siapa Laras. Rumor proposalnya sudah lebih cepat beredar daripada berkas resminya.

Ia akhirnya masuk ke ruangan besar. Di balik meja panjang, duduk seorang pejabat senior. Usia sekitar lima puluh. Rambut disisir rapat, lencana merah di kerah, dan senyum yang hanya muncul ketika kamera menyala.

Laras menyerahkan proposal dengan dua tangan, sopan. Pejabat itu menerimanya… melihat sepintas… lalu meletakkannya di samping printer tanpa membuka.

“Yuan Capital dapat apa ?” tanyanya datar.

” Tidak dapat apa apa. Ini memang bagian dari program ESG Yuan sebagai investor global” Jawab Laras

Laras terdiam. Bukan karena tak tahu jawabnya. Tapi karena tahu: itu bukan pertanyaan teknis. “Saya mewakili tim inisiatif tematik bond berbasis SPV dari Yuan Capital, Pak,” jawabnya hati-hati. “Kami sudah dapat komitmen awal dari beberapa investor, dan perlu dukungan kebijakan agar SPV bisa difasilitasi secara regulative. Tanpa APBN, tanpa PMK tambahan.”

Pejabat itu menyeringai kecil. “Kamu kira negara ini seminar kampus, ya? Ini republik, bukan laboratorium idealisme. Jangan bawa-bawa nama negara seenaknya.”

Ia menepuk-nepuk meja. “Proposal ini… terlalu bersih. Kamu paham maksud saya?”

Laras tidak menjawab. Tapi matanya bicara. Ia paham. Terlalu bersih berarti: tidak ada ruang bermain. Tidak ada ‘alokasi adaptif’. Tidak ada kantong kecil di antara baris pasal.

“Pembangunan itu bukan cuma angka, Dik,” lanjut sang pejabat, sambil menyandarkan tubuh. “Kadang kita butuh fleksibilitas. Jangan sok steril. Negara ini dibangun dari kompromi.”

Laras tetap diam. Tapi tangannya mengepal di bawah meja.

Pejabat itu lalu berdiri.

“Saya titip satu saran. Kamu itu pintar. Tapi kalau mau berkarir di negeri ini, belajarlah membaca angin. Bukan membangun tiang bendera sendiri.”

Pertemuan selesai. Tanpa tandatangan. Tanpa minat. Hanya ruang yang perlahan berubah menjadi pengingat: bahwa sistem tidak selalu takut pada kebodohan. Ia lebih takut pada kejernihan.

Di luar gedung, Laras berdiri di bawah langit yang mendung. Ia membuka map, menatap halaman pertama proposal yang ia susun dengan idealisme, lembur, dan air mata. Di sana tertulis:

“Affordable Housing SPV – Trust-based Infrastructure for the Underserved.”

Ia menutup map perlahan. Lalu berjalan pelan ke luar Gedung kementerian. Di wajahnya, tak ada lagi ekspresi kecewa. Yang ada hanya tenang yang pahit—seperti seseorang yang akhirnya sadar, bukan soal rumus yang salah, tapi niat yang tak pernah benar.

Malam itu, Laras bertemu B. Mereka duduk di teras cafe di bilangan Menteng. Tidak ada formalitas. Hanya dua gelas kopi tubruk dan langit Jakarta yang tampak lebih suram dari biasanya.

“Saya tahu sekarang,” ujar Laras pelan, “kenapa Mas selalu pakai metafora saat bicara.”

B menoleh. Tak bertanya. Hanya memberi ruang.

“Karena kebenaran terlalu sunyi kalau disampaikan apa adanya. Dan terlalu berbahaya kalau disampaikan tanpa lapisan.”

B mengangguk pelan. “Dulu saya juga seperti kamu,” kata B akhirnya. “Pikir saya, kalau kita kasih struktur yang sempurna, mereka akan setuju. Tapi aku lupa, mereka bukan cari struktur. Mereka cari celah.”

Laras menatap jauh ke jalan yang dipenuhi lampu merah.

“Kenapa Mas biarkan saya masuk ke jalan ini? Kenapa tidak larang dari awal?”

B menjawab tanpa ragu. “Karena kamu harus tahu sendiri. Supaya ketika kamu memilih berhenti, itu bukan karena takut. Tapi karena sadar.”

Dan malam itu, di kota yang bising oleh kompromi, dua orang diam. B hanya bisa tersenyum menatap Laras. Anak muda ini sebelumnya kerja dibalik meja. Kini dia ada di lapangan. Yuan memberikan posisi sebagai Leader atas proyek ini. Yuan memberikan fasilitas cukup agar mimpinya terjelma, termasuk team professional.

***

Restoran Jepang di Kelapa Gading. Ruang tatami yang sunyi. Lampu redup dari lampion gantung menyorot meja kayu rendah. Sepasang teko keramik berisi teh hijau diletakkan di sisi mereka, mengepulkan aroma yang pelan namun akrab. Malam itu bukan untuk menyusun strategi. Tapi untuk memahami luka yang tidak ditunjukkan pada dunia.

Laras duduk bersila, diam. Ia menatap cangkirnya, tidak meminumnya.

B duduk di seberangnya. Matanya menatap Laras seperti seseorang yang sedang menatap cermin masa lalu.  Laras menarik napas. Ada sesuatu yang baru dimengerti. Bahwa kecerdasan bukan soal menjelaskan dengan logis, tapi menembus dengan bahasa yang bisa hidup di dua dunia: dunia moral dan dunia kuasa.

“Mas tahu saya tidak kuat,” ucapnya lirih. “Saya tidak siap kalau proposal saya dibengkokkan. Saya tidak sanggup melihat angka yang saya susun dengan nurani, diubah jadi komisi. Saya takut, Mas.”

B menatapnya dalam.

“Rasa takut itu sehat. Karena kalau kamu tidak takut, kamu akan jadi seperti mereka. Yang sudah kehilangan rasa takut—dan kehilangan rasa malu.”

Laras menunduk. Ada air yang diam di ujung matanya.

“Saya ingin berhenti. Tapi bukan menyerah. Saya ingin mengajar. Di kampus. Di ruang yang masih bisa saya jaga. Bukan untuk ubah dunia. Tapi mungkin bisa tanamkan sesuatu.”

“Itu pilihan yang terhormat,” kata B.

“Tapi Mas… kenapa Mas terus bertahan di sini? Padahal Mas tahu semuanya akan ditolak, dikompromikan, dibelokkan…”

B terdiam lama. Menatap langit-langit kayu di atas mereka. “Karena aku ingin satu hal saja: agar orang seperti kamu tidak merasa sendiri.”

Laras terisak kecil. Tapi ia tak menyeka air matanya. Ia biarkan ia jatuh. Seperti bagian dari upacara keikhlasan yang akhirnya diterima. B merentangkan kedua tangannya. Entah mengapa dia mendekap B dan larut dalam tangis.

Malam itu, mereka tidak bicara tentang bond, SPV, atau sovereign ceiling.

Mereka bicara tentang bahasa.

Tentang luka.

Dan tentang kekuatan orang-orang yang memilih diam—bukan karena kalah, tapi karena tahu, kadang diam adalah cara paling jernih menjaga bentuk kebenaran.

Sebelum mereka pulang, B berkata pelan. “Kita mungkin tidak bisa menyelamatkan sistem. Tapi kita masih bisa menyelamatkan manusia.”. Dan malam itu, Laras menyimpan kalimat itu bukan di buku catatan, tapi di hatinya.

***

Beberapa bulan kemudian, di Zurich, B dapat email dari team Shadow Yuan :

“An old housing finance model from Indonesia—once rejected—has now been adapted by three other nations using off-balance-sheet SPVs with ESG financing frameworks. Clean structures don’t die. They migrate.”

Dan B, membaca laporan itu sambil menyesap kopi pagi, hanya tersenyum. Ia tahu: ide tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu sampai pada tempat yang sebenarnya…


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

4 tanggapan untuk “Struktur harapan”

  1. heroic79dc2ce11a Avatar
    heroic79dc2ce11a

    Ini cerpen atau ….?

    Suka

  2. teringat dulu saat presentasi membawa produk saving energy dari teman di jepang.Ditolak karna tdk ber SNI… padahal sdh di uji di laboratorium teknik mesin ITS… diuji di beberapa perusahaan,sdh ada yg minat tp gagal import.Teman Jepang kesel dan sampai sekarang liburan jarang mampir ke Bekasi

    Suka

  3. “Kita mungkin belum bisa menyelamatkan sistem. Tapi kita masih bisa menyelamatkan manusia.”

    Suka

  4. Babo apakah bisa LSM menjadi SPV??????????

    Suka

Tinggalkan Balasan ke MKGinting Batalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca