
Hong Kong, 2018. Langit malam menggantung berat di atas Victoria Harbour, memantulkan cahaya kota yang gemetar seperti napas terakhir lampu-lampu tua. Di lantai atas Conrad Hotel, Pacific Bar memantulkan aura eksklusif—cermin-cermin antik, sofa kulit mengkilap, dan gelas-gelas kristal yang seolah menyimpan rahasia tua para pemilik kekuasaan.
Saya duduk di pojok ruangan, membelakangi jendela yang memandang pelabuhan. Di seberang bar, pria yang menjadi target saya tengah tertawa kecil, dikelilingi tiga pria lain. Tidak ada berkas atau laptop di meja mereka, hanya whiskey tua dan percakapan yang mengalir seperti arus kecil tak terbaca. Tapi saya tahu, dalam tawa itu ada logika transaksi yang tidak tercatat di regulator mana pun.
“Dia kelola private fund. Dana orang-orang sangat kaya. Tapi bukan sembarang orang kaya. Mereka old money. Anti hedge fund. Mereka percaya hanya pada trust. Bukan performance report.”Suara itu datang dari arah kiri saya. Xiau Lin, team shadow saya—yang khusus datang dari Shanghai. Ia berdiri sejenak, lalu duduk tanpa suara.
Saya menoleh ke arah pria yang ia maksud. Mr. Sung. Sekilas tidak ada yang istimewa. Tapi gaya tubuhnya berbicara. Rambut panjang disisir ke belakang, setelan jas biru tua, arloji vintage model 1965. Ia tidak mencoba tampil muda. Tapi tidak satu detik pun ia tampak tua.
“Investor dia tradisional. Tapi cara dia mengelola dana tidak.” Xiau Lin melempar pandang.
Saya belum menjawab. Mata saya masih pada Sung—pria yang pernah disebut sebagai tangan kiri dari TCapital, hedge fund yang nyaris jadi legenda sebelum ambruk karena skandal dalam.
Pintu bar terbuka. Seorang wanita berjalan masuk dengan langkah ringan dan tegas. Saya mengenalnya: Alin, eksekutif Goldman Sachs yang wajahnya tak berubah sejak kami pertama kali bertemu sepuluh tahun lalu di London. Melihat Xiau Lin, ia hanya mengangguk singkat. Sebagai pembaca situasi profesional, Xiau Lin segera beranjak ke mejanya sendiri tanpa suara. Kami bermain sesuai peran.
“B, gabung yuk. Saya kenalin kamu ke mereka.” Alin menarik lengan saya ringan.
Saya pura-pura kebingungan. “Siapa dia?” tanya saya, memicingkan mata.
“Mr. Sung. Ayo. Saya kenalin.” Nada suaranya diplomatis, seperti sedang menawarkan saham sebelum harga IPO melonjak.
Kami berjalan ke meja mereka. Pria-pria itu menghentikan tawa mereka sebentar. Sung berdiri pelan, menyambut saya dengan tangan yang berat. Ketika Alin menyebutkan nama saya dan apa yang saya kerjakan, ia hanya mengangguk tipis—tanpa bertanya lebih lanjut. Tak ada kartu nama. Tak ada basa-basi seperti umumnya para banker. Ia tahu siapa saya, tapi memilih untuk tak mengakuinya.
Saya duduk. Di meja, pembicaraan kembali mengalir. Angka dan pasar menjadi tema, tapi tetap dalam nada tawa. Seolah uang hanyalah permainan kartu.
Lalu Sung menoleh ke saya. Suaranya tenang.
“Apa pandangan Anda tentang sektor IT di China?”
Semua mata menoleh. Saya angkat bahu sedikit, lalu tersenyum. “Pasarnya mendukung. Lebih dari 800 juta pengguna sosial media. Di situ uang berputar.”
Sung tertawa kecil. “Dan itu membuat pemerintah semakin gugup. Media sosial menggerus narasi ideologis. Tapi mereka tak bisa hindari kapitalisme digital. Kamu benar. Ini waktunya buat uang. Jangan tunggu Partai berubah pikiran.”
Saya menyandarkan punggung. “Negara satu suara bisa berubah haluan dalam semalam.”
“Ya. Tapi China tidak akan bodoh merendahkan dirinya dalam propaganda China Baru.” katanya tajam.
Yang lain ikut menyambung, sambil tertawa. Saya hanya diam. Setiap kata mereka menyimpan agenda. Setiap gurauan adalah kode.
Setelah tiga puluh menit, saya pamit. Alin memandang saya dengan senyum setengah mengerti. Saya keluar dari Pacific Bar dengan pikiran yang lebih berat dari langkah kaki saya. Langsung saya menuju hotel sebelah—Shangri-La—di mana Xiau Lin menunggu saya.
Di malam yang dibungkus velvet gelap, saya tahu satu hal: Sung bukan pebisnis biasa. Ia hidup dari persepsi. Dan dunia yang hidup dari persepsi adalah dunia tempat kepalsuanbisa dijual, jika kemasannya indah.
Di tempat seperti Pacific Bar, bukan siapa yang kaya yang berkuasa. Tapi siapa yang bisa tertawa sambil memegang peta persepsi publik. Dan malam itu, Mr. Sung memegang peta itu. Untuk sementara.
****
Malam belum benar-benar larut saat saya keluar dari Pacific Bar. Langkah kaki saya mengarah ke Shangri-La Hotel, hanya satu gedung dari Conrad. Dalam diam, saya menapaki lorong bawah tanah yang menghubungkan dua hotel itu. Suara langkah saya beradu pelan dengan denting lift dan bisik pengunjung yang memudar. Dunia malam Hong Kong tak pernah tidur, tapi saya butuh ruang yang sunyi. Di Shangri-La, ada seseorang yang sedang menunggu dengan tenang: Xiau Lin.
Ketika pintu kamar terbuka, ia mengenakan kaus tipis warna abu- yang membuat payudaranya membayang indah- dan celana pendek tanpa CD tentunya. Entah mengapa wanita China khususnya dari shandong, suka tidur dalam keadaan bugil. Rambutnya dikuncir asal, tanpa makeup, tapi wajahnya tetap seperti sinyal tak pernah padam: cantik, tajam, jernih, dan berbahaya.
Di meja kerjanya, bertebaran lembar-lembar print out, tulisan tangan, grafik, dan selembar notepad besar berisi skema alur dana. Ia bahkan sudah menyusun highlight dengan spidol merah.
“Sejak dari Shanghai aku pelajari semua yang bisa diakses soal Sung. Termasuk yang tidak bisa diakses secara formal,” katanya tanpa basa-basi. Saya tahu, informasi seperti ini tidak didapat dari Google atau Bloomberg Terminal. Xiau Lin punya jalannya sendiri. Ia tak menjual tubuh, tapi ia paham cara membuat pria membuka file yang paling rahasia.
“Dia alumnus TCapital. Pernah pimpin desk utama untuk emerging market. Tapi 2012, SEC US tangkap dia untuk kasus insider trading.” Suaranya datar.
Saya duduk. Mata saya mengarah ke notepad di meja, mencatat jejak hancur yang tersembunyi di balik baju rapi Sung.
“Dia lolos. Bayar denda 44 juta dolar ke SEC. Tapi setelah itu, namanya diblok di bursa Hong Kong selama empat tahun. Dia keluar dari hedge fund. Mundur ke balik layar. Tapi tidak berhenti. Justru mulai kelola dana pribadi, sekitar USD 200 juta.”
Saya mengangguk. Tapi itu bukan inti masalah.
“Nah, ini dia yang gawat.” Xiau Lin berdiri, menarik lengan saya ke meja. Di sana tertulis angka-angka, panah, dan skema: return SWAP, leveraged assets, garis merah menghubungkan bank investasi global.
“Dia enggak jalankan return SWAP seperti semestinya. Dia sewa aset dari bank investasi besar, lalu pakai aset itu untuk pinjam uang dari investor kaya.” katanya.
Saya mendekat, melihat rincian struktur. Aset-aset dummy digunakan sebagai collateral di satu sisi, lalu dialihkan ke skema pinjaman tertutup dari keluarga kaya lama di Hong Kong, Singapura, dan Dubai. Aset-aset itu muncul di laporan keuangan—namun sesungguhnya, tidak pernah dipegang penuh oleh Sung.
“Itu sebabnya valuasi hedge fund dia terlihat naik terus. Padahal itu balon. Dia tidak menjual kinerja. Dia menjual ilusi kontrol atas aset.”
Saya membaca satu halaman lainnya. Di sana tertulis nama beberapa entitas: Ascendia, New Vision Trust, dan Polaris Strategic—semuanya SPV terdaftar di Cayman, Luxembourg, dan Guernsey.
“Dia gunakan struktur off-balance-sheet. Tapi ini bukan creative finance. Ini fraud dengan packaging legal.” kata saya pelan.
Saya menoleh ke Xiau Lin. Ia berdiri dengan dagu terangkat. Saya tersenyum, lalu menariknya dan memeluk. “Kamu hebat.”
Ia tertawa kecil. “Ya, aku tahu. Tapi belum selesai.”
Saya menggendong tubuhnya sebentar, memutar-mutar ringan seperti sedang menari. Ia tertawa keras.
“Kamu dapat data ini dari mana?” tanya saya.
Ia meletakkan jari telunjuk di bibir saya, seolah berkata: jangan tanya cara. Hanya nilai akhirnya yang penting.
Saya menurunkannya pelan. Ia menggoyang pinggulnya sebentar, menggoda, tapi kami tahu diri. Tidak saling melibatkan diri secara emosional. Ini malam untuk merancang kehancuran seseorang. Saya berjalan ke arah jendela kaca. Pemandangan Hong Kong dari ketinggian tetap menawan, tapi tak ada keindahan yang bisa mengalihkan fokus saya.
“Sekarang, kamu cari semua aset target dia. Selain Baidu dan Tencent. Cari tahu apa yang dia incar untuk diswap. Saya perlu tahu titik lemahnya.”
Xiau Lin berdiri tegak.
“Siap. Kamu puas dengan kerjaku?”
Saya mendekat, menyentil jidatnya. “Fokus kerja. Ini baru awal. Aku harus pergi.”
Ia memeluk saya dari belakang. Saya biarkan sesaat, lalu melepas pelan. Ketika saya buka pintu kamar, saya tahu: Mr. Sung mungkin punya uang, tapi malam ini, kami punya peta—dan rencana.
Dalam permainan seperti ini, bukan kekuatan yang menang. Tapi informasi. Dan informasi tak selalu dicari. Kadang, ia didapat dari balik senyum perempuan yang pernah diperlakukan dunia seperti sampah.
***
Shenzhen, 2019. Udara pagi di luar Marriot terasa lengket. Kabut debu bisnis menyelimuti kota itu seperti aroma kloroform: membius, namun menyimpan bahaya di balik kenyamanan. Di lantai atas hotel, spa eksklusif untuk tamu prioritas menawarkan keheningan dan kehangatan yang menipu. Di sanalah saya bertemu Steven, pria yang bukan hanya mitra, tapi eksekutor diam-diam dari banyak operasi strategis.
Air hangat merendam kaki kami. Ruangan sunyi kecuali suara gemercik dari pancuran dinding dan dengus napas para tamu yang setengah tidur. Di balik aroma eucalyptus dan lavender itu, ada agenda yang tak bisa ditunda.
“Data dari kamu sudah aku pelajari, B.” kata Steven membuka pembicaraan. Ia menyeruput teh hitam sambil melihat ke arah kolam air panas. “Salah satu aset yang dipakai Sung buat SWAP adalah bisnis media digital. Itu target utamanya.”
Saya mengangguk pelan.
“Dia dapat bocoran dari dalam—pemain hedge fund juga. Katanya aset itu akan diangkat valuasinya tiga kali lipat dalam waktu tiga bulan. Dan dia sudah siap dengan return SWAP deal bersama para investment banker.” lanjut Steven.
“Nomura, Credit Suisse, UBS, Deutsche, Goldman, bahkan Morgan Stanley. Mereka semua ikut main.”
Saya diam, menatap permukaan air kolam yang beriak pelan.
“Saya tahu. Mereka ikut karena tidak peduli pada fundamental. Yang penting ada jaminan.” jawab saya.
Steven menoleh cepat. “Tapi kamu tahu ini fraud.”
Saya tertawa kecil. “Dan mereka juga tahu, tapi pura-pura bodoh. Kontraknya aman. SWAP ditandatangani, jaminan dipasang, return dijanjikan—biasanya LIBOR plus spread kecil. Mereka lihat itu legal.”
Steven mengangguk. “Tapi jaminan itu masalahnya. Aset yang dipinjam Sung dari bank, ia pakai untuk jaminan ke investor. Lalu dari investor dia dapat duit, dan uang itu diputar lagi lewat hedge fund.”
“Empat kali leverage.” saya menyahut cepat.
Ia tersenyum puas. “Dan kamu mau ganggu titik baliknya?”
Saya berdiri, berjalan ke pinggir kolam. “Aset media digital itu hanya salah satu titik. Tapi itu dominonya. Kalau jatuh, semua akan ikut runtuh.”
“Caranya?”
“Ubah program bisnisnya. Ganggu roadmap. Bikin investor kehilangan kepercayaan. Turunkan valuasi.”
“Jadi kamu mau main di level strategic sabotage?” tanya Steven pelan, tapi nadanya mengerti.
“Bukan sabotage. Ini hanya koreksi terhadap fantasi. Sung tak punya hak intervensi atas aset itu. Dia hanya pemilik diam. Kalau program berubah, dia tak bisa apa-apa.”
Steven mengangguk lambat.
“Kalau valuasi jatuh, dia harus topup. Kalau tak bisa, bank akan rush semua jaminan.”
Saya tersenyum.
“Dan kamu tahu, begitu satu jaminan runtuh, return SWAP-nya pecah. Semua terurai.”
Steven duduk tegak. “Oke. Saya akan masuk ke pemilik perusahaan media itu. Kita ubah arah ekspansi. Bikin tampak seperti kebijakan normal, tapi menggiring persepsi pasar.”
Saya kembali duduk. “Bagus. Setelah itu, biarkan pasar bekerja. Ketika persepsi pecah, itu bukan urusan kita. Itu urusan dia.”
“Dan setelah harga sahamnya jatuh?”
Saya menyandarkan punggung. “Tugas saya dimulai di situ.”
Pasar tidak menghukum yang paling bodoh. Pasar menghukum yang percaya tanpa verifikasi. Dan Sung akan dihukum bukan karena dosa, tapi karena terlalu yakin semua orang akan terus percaya padanya.
Saya bangkit dari kolam. Air hangat mengalir dari tubuh saya, menyisakan napas yang lebih dingin dari udara luar.
“Di mana cuannya, B?” tanya Steven.
Saya tidak menjawab. Saya hanya menoleh, tersenyum, dan melangkah ke ruang ganti.
Saya tidak butuh jawaban panjang. Dalam permainan ini, cuan bukan hasil dari prediksi—tapi dari kehancuran pihak yang terlalu percaya pada proyeksi. Dan saat Sung terpeleset, saya sudah siap membeli reruntuhan itu.
***
Maret 2021.
Tak ada yang benar-benar bisa memprediksi titik kehancuran. Tapi saya tahu: ia tidak datang dengan suara ledakan. Ia datang seperti embun pagi yang mengeras menjadi salju—diam, perlahan, tapi mematikan.
Pada awalnya, hanya kabar kecil yang muncul: harga saham perusahaan media digital anjlok lebih dari 20% dalam dua pekan. Alasan resmi: rencana ekspansi ke platform streaming terlalu agresif, membakar kas lebih cepat dari perhitungan pasar. Rencana right issue senilai USD 3 miliar diumumkan. Pasar panik. Investor ritel lari. Para analis mulai mengganti rating: dari buy menjadi hold, lalu menjadi dump.
Tapi ini bukan tentang media digital. Ini tentang efek sistemik.
Di Goldman Sachs, Alin menghubungi saya via SafeNet—saluran terenkripsi yang hanya dipakai ketika urusan menyentuh level yang tak boleh ada dalam email.
“Kami sudah putus hubungan dengan Sung. Sahamnya ambruk, jaminan dia jadi tidak cukup. Dia kena margin call. Dan dia tidak bisa top up.”
Saya hanya menjawab dengan satu kata: “Kirimkan terms penjualan.”
“Saya bisa tawarkan beberapa aset milik Sung, yang sempat dia gunakan sebagai collateral ke kami. Kalau Anda mau ambil, kita kasih diskon 60%. Tapi cepat. Yang lain sudah antre.”
Saya tidak langsung jawab. Tapi saya tahu, ini saatnya jadi pemakan bangkai. “ Saya akan kirim tim saya ke New York. Dalam waktu dua hari, Yuni—partner lapangan saya—sudah berada di jet pribadi menuju Goldman Sachs Tower, Wall Street.”
Di Hong Kong, saya hubungi Wenny.
“Kirim jet ke Singapura. Bawa Yuni ke New York. Hari ini.”
“Siap, B.”
Transaksi terjadi cepat. Aset senilai USD 5 miliar, saya beli hanya dengan pembayaran awal USD 1,5 miliar, sisanya dalam bentuk obligasi jangka menengah. Kami gunakan struktur yang sudah biasa dipakai oleh bank sentral bayangan: leverage aset-aset itu sampai USD 11 miliar, lewat beberapa SPV di Luxemburg dan Mauritius.
Kami tahu waktu kami terbatas. Tapi waktu itu cukup.
Sementara itu, dunia finansial mulai gemetar. Deutsche Bank, Credit Suisse, UBS—semua terseret. Total kerugian mereka menyentuh angka lebih dari USD 10 miliar. Tapi hanya Goldman Sachs, Wells Fargo, dan satu atau dua pemain cepat yang berhasil lolos dari kobaran api ini.
Hedge fund milik Sung runtuh hanya dalam 48 jam. Aset senilai USD 160 miliar menguap. Ia ditahan oleh otoritas Singapura atas permintaan ekstradisi AS. Tuduhannya: penipuan, manipulasi pasar, dan pelanggaran perjanjian pasar modal lintas batas.
Tapi itu semua hanya catatan publik. Di balik layar, dunia tahu: ini bukan sekadar kasus hukum. Ini eksekusi.
Pasar bukan tempat yang adil. Tapi ia jujur pada logika kehancuran. Ketika Sung berdiri di atas persepsi, kami berdiri di atas skema leverage dan cold calculation. Dia punya ilusi. Kami punya waktu.
Di kamar hotel saya, SafeNet kembali berbunyi.
Alin menulis:
“Semua banker rush. Jaminan-jaminan Sung ditarik. Semua linked dengan return SWAP hancur. Kami keluar. Tapi sungguh, kami sudah tidak percaya lagi.”
Saya hanya menatap layar. Diam. Lalu membalas:
“Thanks. You did well.”
Yuni kembali dari New York dengan senyum tipis. Di tangannya: dokumen lengkap transfer aset, terms swap baru, dan instrumen leverage. Kami tidak hanya beli bangkai, kami kuasai fondasi dari sistem yang runtuh. Dan kami tahu bagaimana menghidupkannya kembali.
Di saat Sung kehilangan kepercayaan pasar, kami justru membeli kejatuhannya dengan harga separuh napas. Di bursa, tidak ada belas kasihan. Hanya dua peran: predator, dan daging segar.
***
Di tengah riuhnya pasar yang runtuh, saya menyendiri di balkon suite hotel di Pudong, Shanghai. Di bawah, Sungai Huangpu mengalir seperti ingatan yang tidak pernah diam. Kota ini tak pernah tidur, tapi malam itu terasa lebih sunyi. Mungkin karena saya sedang merenungi sesuatu yang tak bisa ditulis dalam laporan keuangan: persepsi.
Dunia hedge fund bukan tentang uang. Ia tentang keyakinan. Dan keyakinan bukan soal benar atau salah. Tapi soal siapa yang lebih dulu membuat orang percaya.
Saya ingat betul bagaimana Sung menciptakan mimpi itu. Ia menjual janji—bukan data. Ia menjanjikan return lewat eksklusivitas, bukan kinerja. Dan semua banker jatuh cinta pada ilusi itu, karena mereka pun hidup dari hal yang sama: kebutuhan akan narasi, bukan angka.
Sama seperti yang terjadi pada Twitter. Sejak IPO tahun 2013 hingga kuartal pertama 2021, return saham Twitter negatif 12,4%. Nilai pasarnya melonjak dari USD 7 miliar menjadi hampir USD 14 miliar, tapi arus kas operasionalnya menurun drastis. Tahun 2018, Twitter masih mencatat cash flow positif USD 856 juta. Tahun 2021, defisitnya menembus USD 379 juta.
Lalu datanglah Elon Musk, menyihir dunia dengan satu kalimat:
“Twitter adalah masa depan. Abaikan fundamental.”
Dan pasar, seperti anak-anak yang melihat sulap, percaya.
Investor ritel menyuntik uang. Analis mengangkat rating. Semua lupa bahwa fundamental tak pernah berubah. Biaya operasional tetap tinggi. Basis pengguna stagnan. Tapi persepsi sudah terlanjur terbentuk.
Sama halnya dengan politik.
Di sana, pemimpin bukan dipilih karena kualitas. Tapi karena packaging. Propaganda. Simbol. Emosi. Politisi menganggap rakyat itu investor, dan pemilu adalah bursa IPO lima tahunan. Yang ditawarkan bukan pemimpin, tapi narasi. Soft propaganda atau agitasi terbuka—semuanya hanya teknik kampanye. Jika produk gagal, narasi akan bilang: itu wajar. Jika sukses, akan disulap jadi mukjizat.
Dan ketika pemilu usai, politik menjadi bursa gelap. Politisi tertawa, cerutu di tangan, menikmati kekuasaan tanpa risiko. Karena biaya kampanye ditanggung oleh “broker”—dalam bentuk sumbangan, jualan kaos, atau kontrak proyek setelah menang.
Investor (alias rakyat) hanya bisa menggigit jari.
Yang jadi korban? Mereka yang percaya terlalu dalam pada persepsi.
Karena dalam dunia modern ini, ilusi lebih cepat dari logika, dan simbol lebih kuat dari substansi. Itulah mengapa uang besar selalu jatuh ke tangan mereka yang paham cara menjual mimpi. Dan jatuh dari tangan mereka yang terlalu sibuk menganalisa kenyataan.
Pertanyaannya: apakah saya salah?
Saya tidak tahu.
Tapi satu hal pasti: inilah dunia investasi. Dunia tanpa belas kasihan. Dunia tempat otak gorila lebih percaya pada gaya Elon daripada data neraca keuangan. Dunia tempat retweet lebih kuat dari laporan KPMG.
Dan dunia itu bisa Anda kuasai jika Anda mengerti satu hal: Bahwa persepsi bukan sekadar alat bantu. Ia adalah mata uang sejati.
Saya menyimpan ponsel. Lampu kota Shanghai masih berpendar. Tapi malam itu saya tahu—satu putaran siklus persepsi telah saya menangkan.
Dalam hidup, hanya ada dua pilihan: jadi penakluk, atau jadi korban. Dan untuk jadi korban, hanya butuh dua modal: bodoh… dan halu.
***
Beberapa minggu setelah kasus itu memudar dari berita utama, saya bertemu dengan Wenny di lounge bandara Zurich. Ia mengenakan blazer putih, duduk santai sambil membaca Financial Times. “Sung bukan ditangkap karena penipuan. Tapi karena kalah narasi.” katanya.
Saya mengangguk. “Ia mengira dunia ini adil. Padahal hanya tampak adil.”
Wenny menyodorkan tablet ke saya. Ada grafik recovery aset media digital yang pernah kami beli. Valuasinya kembali naik perlahan. Investor baru masuk. Kami pelan-pelan menjual sebagian, menyamarkan keuntungan sebagai rebalancing.
“Ini bukan penjarahan. Ini redistribusi.” kata saya.
Wenny tersenyum sinis. “Ya. Dari tangan yang bodoh ke tangan yang tahu bermain.”
Kami tertawa.
Satu babak selesai. Tapi pasar tidak berhenti. Esok, selalu ada narasi baru. Selalu ada Sung baru. Dan saya tahu: peran saya bukan mengatur fakta. Tapi mengatur makna. Kebenaran tak akan mengantarkanmu pada kekuasaan Tapi persepsi yang dikendalikan dengan disiplin..

Tinggalkan komentar