Emas dan pencucian uang…

Pukul sembilan malam di Hong Kong. Kota itu seperti arteri tak tidur, aliran lampu-lampu kaca memantul di dinding pencakar langit, berdansa di tubuh malam seperti kenangan yang enggan padam. Saat aku tiba di apartemen, suara notifikasi menggema dari ponsel—sebuah email, pendek tapi mengguncang:

“B, saya ada di Hong Kong. Saya yakin kamu di sini. Bisa kita bertemu? Saya menginap di ShangriLa Hotel, Central HK.”

Sudah enam jam sejak pesan itu terkirim. Tapi waktu tidak menghapus makna. Aku tak membalas. Aku langsung menelponnya.

“Amy,” ucapku.

Suara di ujung sana gemetar—mungkin karena dingin Januari, mungkin karena rindu yang terlalu lama beku. “Benarkah itu kamu?” katanya lirih.

“Aku datang malam ini.”

Langkah kakiku menyentuh trotoar yang dingin. Angin dari Victoria Harbour menyelusup ke dalam jaket Armani-ku, bukan hanya menusuk kulit—tapi juga membuka kembali kerinduan yang sudah terlalu lama dipendam. Tapi malam ini berbeda. Nama Amy tidak hanya muncul di inbox. Ia kembali hadir—nyata, penuh nyawa.

Kami pertama bertemu tahun 2007, dalam seminar bullion market di London. Dia—lulusan Cambridge, profesional LBMA; aku—lulus dari pasar, belajar dari fluktuasi harga dan kegagalan. Ilmu kami berbeda, tapi justru di sanalah percikan itu lahir.

Kami bertemu di bar hotel Shangri-La, Two Pacific Place, Admiralty. Tatapannya masih sama. Rambut cokelat, mata cerdas yang menyimpan rahasia.

“Long time no see,” ucapnya, memelukku.

“2007 ke 2010. Tiga tahun yang memutar dunia,” jawabku.

Kami memesan wine. Percakapan mengalir seperti aliran sungai yang lama tertutup batu, lalu akhirnya pecah oleh derasnya hujan.

“Aku tak pernah merasa jauh darimu,” kataku. “Setiap emailmu semacam kuliah diam-diam tentang dunia yang tak diajarkan di mana pun.”

Amy tertawa kecil, lalu air matanya jatuh.“Aku takut kamu bosan… Kupikir kamu pria tipikal—datang, lalu lupa,” ucapnya pelan, nyaris berbisik.

Aku menggeleng. “You were always on my mind.”

Kupeluk dia lebih erat, seolah waktu bisa berputar ulang.

“Kamu tahu, dari kamu aku paham emas itu bukan sekadar logam. Itu uang. Dan uang punya aturan sendiri yang tak tertulis. Pasar emas banyak berada di contango, harga masa depan lebih tinggi dari harga spot. Tak pernah tekor. Apalagi saat inflasi merajalela.”

Amy mendengarkan, senyum tipisnya muncul.

“Tidak seperti instrumen finansial yang diawasi ketat, emas longgar. Banyak negara bahkan tak mewajibkan laporan transaksi mencurigakan. Emas seperti hantu: bernilai, bergerak, tapi sulit dilacak.”

“Dan sangat cocok untuk pencucian uang…” sambung Amy pelan.

Aku mengangguk. Lalu dia keluarkan kertas dari tas kulitnya.

“Aku di sini karena teman dari Afrika ingin jual emas. Kamu tertarik?” tanyanya.

Aku menyandarkan tubuh. Mataku membaca skema. “Penjualnya perusahaan cangkang. Sumber dari tambang Afrika. Kamu mau aku jadi jembatan ke buyer di Dubai?”

Dia mengangguk. “Kamu hanya perlu closing. Sisanya, lewat aku. Buyer kamu bisa untung 10% langsung dari OTC.”

Tawaran itu menarik, tapi tak pernah sederhana. Transaksi emas seperti permainan catur di meja yang licin.

***

Seminggu kemudian aku di Dubai. Udara gurun menyambut dengan panas yang tidak kenal kompromi. Aku tak datang sebagai broker. Itu bodoh. Dalam bisnis seperti ini, tidak ada tempat bagi makelar yang tak punya posisi..

Aku mendirikan Ale Investment Corp. di DMCC Free Zone—zona perdagangan yang berdiri di Jumeirah Lakes Towers sejak 2002, tempat lebih dari 21.000 perusahaan memanfaatkan insentif bebas pajak dan kepemilikan penuh asing. Aku merancangnya agar masuk kategori “Qualifying Free Zone Person”, sehingga pendapatan dari perdagangan komoditas bisa bebas pajak 0 %.

Di UEA, asal-usul emas tak wajib diungkap—yang diperlukan hanyalah Air Waybill dan dokumentasi ekspor. Maka, untuk memenuhi permintaan seller, kubuat credit enhancement berupa bank draft dari bank ternama, atas nama perusahaan cangkang Hongaria. Setelah diverifikasi, kontrak pun diteken.

Untuk buyer di Dubai, aku menampilkan data OTC dari Amy—semuanya tervalidasi, memastikan kepercayaan yang dipasang tak runtuh. Ketika pesawat kargo itu lepas landas dari Afrika, aku segera kirim Air Waybill ke buyer. Dana cair. Begitu emas tiba, pembayaran mengalir ke seller. Marginku terkunci. Emas dilepas langsung ke pasar via OTC.

Dokumen seperti Master Airway Bill yang menandai “Air Freight Pre‑Paid” dan kode HS 71081210 wajib ada untuk kepabeanan dan kepatuhan refineri. Semua berjalan seperti simfoni ritual perdagangan global.

Di permukaan, semuanya tampak sederhana. Tapi setiap helaan nafas di gurun ini menyembunyikan ambisi, risiko, dan strategi

***

Dua tahun bisnis itu berputar. Lalu suatu malam, pesan dari George, timku di London:

“B, Dubai masuk radar Financial Action Task Force. Cepat keluar!”

Tanpa pikir panjang, aku tutup operasional. Emas boleh jadi raja pasar gelap, tapi tidak ada raja yang bisa menang melawan negara.

Amy masih mencoba beberapa kali menawarkan skema baru—emas ilegal dari tambang di Asia, penawaran dari member LBMA untuk legalisasi, bahkan jalur ekspor-impor yang dimanipulasi. Aku tolak semuanya.

“Aku belajar dari kemiskinan masa remajaku, Amy. Walau miskin harta tapi aku kaya spritual. Dan aku baik baik saja.,” kataku.

Amy memandangku dengan mata sendu. Ia menatapku dengan kecewa. Tak marah. Justru terluka. Ia pamit dalam diam, meninggalkan air mata yang tidak minta dikeringkan.

Bulan berganti. Suatu hari, email datang dari Amy “Tadi hidupku terperangkap uang mudah. Tapi setelah berteman denganmu, aku melihat cahaya. Aku jadi dosen sekarang. Lupakan aku. Aku akan baik-baik saja.”

Aku simpan semua emailnya. Semua file OTC, semua seminar, semua foto. Sebab dalam dunia tanpa wajah, hubungan seperti itu jadi satu-satunya kompas moral.

Karena bagi dunia seperti kami—yang hidup di bayang-bayang uang, hukum, dan emas—hubungan sejati adalah mereka yang mampu mengingatkan kita akan batas.

Gerimis jatuh di Cambridge. Di depan cangkir teh yang mengepul, aku membuka surat tulisan tangan dari Amy. “B, Aku memilih tidak menikah. Mungkin karena aku terlalu mencintai dunia yang tak pernah membalas cinta: uang. Tapi sejak mengenalmu, aku mulai percaya, bahwa hidup bukan soal akumulasi, melainkan soal pulang dengan utuh.”

Mataku tertutup. Angin mengangkat daun maple yang jatuh seperti kenangan. Amy kini mengajar etika komoditas. Ia bicara tentang praktik kotor dengan jujur, tanpa cuci tangan, tanpa glorifikasi. Ketika kami terakhir bertemu, ia hanya membawa satu buku: Gold Wars karya Ferdinand Lips.

“Untuk mengingatkanmu… bahwa kita pernah bermain di medan perang ini.”

Ia juga menyerahkan kartu nama lembaga filantropinya. “Kalau kamu punya uang lebih, sisihkan. Dunia ini terlalu dingin untuk dibiarkan tanpa api.”

Dunia sudah berubah. Emas bukan lagi satu-satunya alat pelarian. Sekarang crypto mengisi ruang bayang-bayang itu. Tapi prinsipnya sama: uang tanpa wajah, nilai tanpa asal. Dunia tak pernah benar-benar ingin transparan—hanya ingin terlihat rapi.

Aku sesekali kirim email ke Amy. Kadang dibalas singkat, kadang tidak. Tapi tak mengapa. Aku tahu dia hidup dengan tenang. Mengajar, menulis jurnal, dan kadang jadi pembicara di forum anti-korupsi internasional.

Lalu, suatu malam di 2023, aku menerima sebuah paket kecil dari Cambridge. Di dalamnya, satu flashdisk, satu jurnal ilmiah, dan surat tangan:

“B,

Di akhir kuliah, aku selalu tutup dengan satu pertanyaan: ‘Apakah Anda siap menghadapi kehidupan setelah uang? Karena setelah segalanya selesai, setelah pasar tutup, setelah semua rekening dibekukan atau diwariskan, hanya satu yang tersisa: siapa kita ketika tidak ada yang bisa kita beli.”*

Aku tidak membalas. Tapi aku simpan surat itu di dalam dompet, menggantikan kartu nama dari Ale Investment Corp yang dulu selalu kubawa ke mana-mana.

Sekarang usiaku 60. Aku tidak lagi berbisnis. Rumahku sederhana. Laptopku masih penuh file Excel dan dokumen emas, tapi sudah jarang kubuka. Aku sesekali diundang untuk bicara di forum terbatas anti-kejahatan keuangan.

***

Pagi di pinggiran kota Jakarta, meski dunia di luar layar terasa makin panas. Aku berjalan kaki pulang ke rumah bersama istri usai sholat subuh berjamaah di mushola. Sampai di rumah, istri menyediakan secangkir kopi. Di hadapanku, secangkir kopi arabika dan laptop yang mulai lambat. Lalu satu notifikasi masuk—email dari domain Cambridge.

Subject: “From Your Friend’s Student”

*Dear Mr. B,

Nama saya Laila. Saya mahasiswa doktoral bidang Illicit Finance di Cambridge, dan saya adalah salah satu murid terakhir Amy. Kami kehilangan beliau tahun lalu karena leukemia. Namun sebelum wafat, beliau berpesan agar saya menghubungi Anda. Beliau bilang:

‘Jika kamu ingin memahami akar dari semua ini, temui B. Dia tidak suci, tapi dia jujur.’

Saya mohon waktu Anda. Saya sedang telusuri jaringan baru pencucian uang melalui logam mulia berbasis green transition yang kini difasilitasi lewat crypto-wrapped metal funds. Saya percaya Anda tahu lebih banyak dari siapa pun.”

Yang aku terkejut nama Amy bukan nama sebenarnya. Disitu tertulis titelnya professor. Begitu hebatnya dia merahasiakan namanya, bahkan dihadapan pria yang katanya teman sejati. Tanganku menggenggam gelas. Bergetar. Mengapa dia tidak pernah kabari aku tentang penyakit Leukemenia nya? Aku hanya berdoa agar Amy mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan.

Aku balas email itu singkat:

“Saya akan ke London minggu depan. Kirimkan tempat dan waktu.”

***

Di London, musim semi mulai menghijaukan Hyde Park. Kami bertemu di sebuah café kecil di belakang South Kensington. Laila mengenakan blazer hitam, wajahnya seperti Amy dua puluh tahun lalu—tegas, jernih, tapi menyimpan luka yang belum terucap.

“Terima kasih sudah datang,” katanya sambil menjabat tanganku.

“Kalau Amy yang minta, aku pasti datang.”

Laila mengeluarkan dokumen dari tasnya. “Saya sedang telusuri jaringan transaksi logam mulia—terutama emas dan rare earth metals—yang diklaim sebagai bagian dari green supply chain. Tapi transaksinya sarat manipulasi. Banyak yang dikemas dalam wrapped-crypto product. Faktanya, itu jalur pencucian uang berbasis metal-backed tokens. Dan mereka mencuci uang dari kejahatan lingkungan, human trafficking.”

Aku mengangguk pelan. Dunia memang makin canggih. Tapi pola dasarnya tetap sama: mengubah sesuatu yang haram menjadi bersertifikat halal, dengan menggunakan wajah hukum.

“Amy bilang, Anda pernah bermain di struktur mirip itu, hanya bedanya dulu belum ada blockchain,” kata Laila.

Aku menghela napas. “Ya. Dulu kami gunakan dokumen konvensional: Air Bill, BL, surat otorisasi dari buyer dan seller. Sekarang kalian pakai smart contract dan tokenisasi. Tapi tetap saja, itu semua hanya casing untuk dusta.”

Laila membuka laptopnya. Menampilkan struktur token E-MT (Electronic Metal Token) yang diperdagangkan di bursa kecil di Malta.

“Ini. Salah satu tokenisasi emas dari tambang artisanal di Myanmar dan Afrika Tengah. Mereka jual lewat decentralized exchange, dijamin oleh ‘vault’ di Hong Kong yang tak pernah diaudit. Dana mengalir ke wallet-walet anonim, lalu masuk ke startup carbon credit. Bersih. Tapi fiktif.”

Aku menatap grafik itu, lalu tersenyum kecut. “Dunia hanya ganti bungkus, tapi bau darah tetap sama.”

Laila memintaku bantu buka jalur—bukan untuk mencuci, tapi untuk membongkar. Dia ingin tahu bagaimana struktur keuangan dunia dibangun oleh kompromi dan ketamakan. Aku ragu. Aku bukan whistleblower. Aku hanya seseorang yang selamat karena tahu kapan harus berhenti.

Tapi Laila keras kepala. Seperti gurunya. Seperti Amy.

“Kamu tahu,” kataku suatu malam saat kami duduk di tepi Thames, “ Dari kecil aku selalu dilindungi oleh ibuku. Karena aku tidak sepintar adik adik ku. Ibuku tahu bahwa aku tidak mungkin jadi sarjana. Dia melatihku dengan gigih untuk aku gemar membaca. Hanya itu harapannya aku bisa belajar tapi dicomoohkan orang lain. Dia berharap tentu agar aku bisa mandiri menaklukan dunia. Ada satu nasehat ibuku yang tak pernah aku lupa.”

“Apa itu?” tanya Laila.

“Yang benar itu mungkin tidak menguntungkan, tapi ia tidak akan membuatmu kehilangan wajah di depan Tuhan”

Laila diam. Matanya memerah. Aku menatap gadis muda itu. Di tangannya kini bukan sekadar riset. Tapi juga warisan: harapan, idealisme, dan mungkin kesempatan menebus dosa generasi kami.

“Apa yang kamu butuhkan?” tanyaku akhirnya.

“Testimoni. Petunjuk. Dan satu peta jaringan dari masa lalu. Kamu pernah buatnya. Saya tahu. Amy menyebut nama Ale Investment Corp.”

Aku mengangguk. “Masih ada. Di hard drive yang sudah tak pernah disentuh. Di rumahku. Tapi kamu harus datang ke Indonesia.”

***

Laila datang ke Jakarta. Aku serahkan satu map hitam dan satu hard drive. Semua dosa lama, dijadikan pelajaran. “Ini warisan dari dunia abu-abu. Jangan jadikan hitam, tapi juga jangan pura-pura putih.”

“Prof. Amy bilang… setelah pertemuan terakhir kalian tahun 2017, dia baru tahu. Semua uang hasil transaksi emas bersama dia, kamu alihkan ke filantropinya. Kamu juga kirim ke dia jurnal trading. Ternyata kamu tidak pernah ambil satu sen pun uang itu. Dia pikir kau menikmati uang itu. Itu membekas… menghantuinya… dan akhirnya, penyakit leukeminia membawanya ke Tuhan dalam damai. ” Kata Laila dengan aitama berlinang.

***

Sekarang aku di rumah kecil di pinggiran Jakarta, aku hidup tenang. Tidak kaya. Tapi cukup. Karena aku tahu, akhir dari semua ini bukanlah saldo rekening, bukan pula reputasi. Tapi satu pertanyaan: siapa kita ketika tak ada lagi yang bisa kita beli?

Dan ketika hujan turun pelan sore itu, aku membuka email terakhir dari Amy.

“B, kau tidak pernah mencuriku, tidak pernah memperdayaku. Tapi kau mencuri satu hal: keyakinanku bahwa orang yang lahir di dunia kelam tetap bisa membawa cahaya. Terima kasih.”

Aku menatap jendela.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku—aku merasa bersih.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

3 tanggapan untuk “Emas dan pencucian uang…”

  1. Menarik dan menunggu tulisan Babo setiap hari

    Suka

  2. voidthoughtful138d0f7928 Avatar
    voidthoughtful138d0f7928

    You make a good decision not to take that blood money to your business or personal use. Amy make a very good decision too; to get out of that business and create philanthropy for the sake of her peace of mind. May she Rest in Peace in eternity. Take a deep breath and hope that young woman will be able to do what she meant to do. – Dian –

    Suka

  3. arbiterkrispycfb64bc6ca Avatar
    arbiterkrispycfb64bc6ca

    Luar biasa, babo sudah mengajarkan dan mempraktikkan tentang makna hidup yg tidak diajarkan di sekolah…. Siapa kita ketika tak ada lagi yang bisa kita beli?

    Suka

Tinggalkan Balasan ke arbiterkrispycfb64bc6ca Batalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca