Menggapai asa dalam gelap

Porselen putih di bawah kaki kami memantulkan sinar lampu dengan tenang, seolah menyambut setiap langkah. Dinding kaca menjulang tinggi, membingkai lobi IM dalam ketegasan modern. Di pojok, meja resepsionis berdiri seperti penjaga sunyi, penuh percaya diri, menanti kedatangan kami. Aku melangkah bersama Burhan, sepatu kami beradu di lantai berkilau. Suara langkah kami bergema pelan—bagian tersendiri dari simfoni keseriusan suasana. Warna netral dan garis tegas ruangan menumbuhkan rasa profesionalisme yang tak bisa diabaikan.

Dewi muncul dari balik pintu kaca, bidang otoritas yang kurasakan sejak pandangan pertama. Dirut IM itu mengenakan blazer berpotongan rapi, memancarkan ketenangan seorang profesional matang. Rambutnya tertata sempurna, senyumannya samar namun mengandung kehangatan, memberi kesan hospitality.

“Selamat datang,” suaranya lembut namun tegas. Aku mengangguk, memalingkan pandang ke meja resepsionis yang kini seolah mengangguk pula—ruangan ini memiliki ritmenya sendiri.

Aku tahu ini bukan sekadar mengikuti protokol. Di sini, atmosfer bercerita: tentang visi bisnis yang tinggi, tentang keseriusan yang dibungkai oleh estetika minimalis. Dan saat Dewi berjalan ke arah kami, langkahnya bersahaja namun percaya diri. IM bukanlah perusahaan biasa. Dahulu, ia berada di tangan asing. Namun dua tahun lalu, keadaan berubah. Awi, sahabatku sejak semasa muda —bersama mitranya dari Hong Kong, berhasil mengambil alih kendali.

Awalnya, direktur perusahaan itu adalah Afin, teman lama kami. Sebuah pilihan alami bagi Awi. Tapi dalam dunia bisnis, loyalitas saja taklah cukup. Kapasitas adalah kunci utama. Maka, hadir sosok Dewi untuk menakhodai IM. Ia lolos seleksi ketat: gelar Sarjana Ekonomi dari universitas negeri ternama, MBA dari Amerika, dan segudang pengalaman di perusahaan multinasional Untuk menyusun strategi dan menentukan arah bisnis, Awi mempercayaiku sebagai penasihat. Peran ini datang dengan tanggung jawab besar—karena masa depan IM kini bergantung pada keputusan-keputusan yang kami ambil, dan aku tak akan menyia-nyiakannya.

Belum sempat aku tenggelam dalam pemikiran, tangan Dewi memberi isyarat. Kami melangkah mantap ke ruang rapat. Kabin kaca di ujung koridor itu menanti penuh arti.

“Burhan, ini Dewi,” suaraku ringan, namun penuh penghormatan. Dewi menyambut dengan senyuman penuh profesionalisme, mengulurkan kartu namanya. Burhan membalas, menyerahkan kartu namanya pula. Satu sapuan pandangan cukup untuk menyadari: ini bukan sekadar ritual perkenalan—ini adalah awal dari sebuah kolaborasi yang penuh harap.

 “Okay, Pak. Apa yang bisa saya bantu?” Kata Dewi.

Burhan terdiam sejenak seakan berpikir darimana mengawali yang efektif. .“Investor dari Hong Kong ingin ekspansi ke Indonesia. Bisnis utama mereka adalah industri rantai pasok global. Mereka berencana membangun ekosistem supply chain di Tanah Air, mencakup e‑commerce yang menghubungkan produsen langsung ke pasar, pusat transformasi untuk perakitan CKD serta pengolahan bahan baku, disertai fasilitas warehousing dan logistik, plus saluran penjualan dan layanan pelanggan.”

Ia berhenti sejenak, menatap Dewi yang mencatat setiap kata dengan seksama.“Mereka butuh lahan strategis—dekat bandara dan pelabuhan—untuk membangun semua fasilitas tersebut. Kebetulan saya punya akses untuk mendapatkannya.”

Di wajah Dewi, terpancar kilatan perhatian. Ia mengangguk, memproses setiap detail yang dilempar Burhan. Ujung meja menjadi panggung diam; hanya kata-kata yang berseliweran tajam, membentuk bayangan masa depan bisnis yang tengah dibangun.

Dewi mengangguk. “Jantung dan urat nadi ekonomi,” gumam Dewi menyimpulkan business profile investor itu.

“Aku sangat berharap mereka benar-benar masuk,” kata Burhan, nadanya mengandung lebih dari sekadar harapan—ada tekanan tanggung jawab di balik suaranya. “Karena ini bukan cuma soal suntikan modal. Ini peluang besar untuk republik ini. Untuk transfer pengetahuan, teknologi, dan best practices dalam bisnis supply chain global.” Ia menatap Dewi dalam, seolah ingin memastikan bahwa kata-katanya tidak menguap di antara suara AC dan halaman-halaman presentasi.

“Mereka terhubung ke lebih dari 80 kota besar di dunia, membangun mata rantai yang efisien dan terintegrasi. Kami sudah berusaha meyakinkan mereka sejak tahun lalu. Mereka adalah entitas korporasi dengan peringkat triple-A, sangat profesional. Tapi sejak awal tahun, mereka mulai menunda. Tidak pernah secara eksplisit menyatakan mundur, hanya… wait and see. Mereka ragu karena situasi ekonomi Indonesia yang tidak stabil. Terutama pasca pemilu dan presiden baru.”

Burhan, lalu menambahkan, “Karena itu, kami berharap IM bisa bantu. Setidaknya untuk membangun keyakinan mereka. Lahan strategis dekat bandara di Jawa Barat sudah tersedia, dan itu bisa jadi titik awal untuk kawasan ekosistem bisnis ini.”

Ia lalu menyodorkan sebuah berkas tebal. Business plan. Dewi menerimanya dengan gerak tenang, membuka halaman-halamannya cepat, membaca dengan mata seorang eksekutif yang terbiasa menyaring esensi dari angka dan skenario.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan profesional, hanya suara lembaran yang dibalik cepat. Lalu, senyum kecil muncul di wajah Dewi.

“Problem mereka bukan pada feasibility. Tapi lebih pada satu hal: makroekonomi kita sedang tidak baik-baik saja,” katanya akhirnya, nada suaranya bersahaja, namun menyimpan bobot analisis yang tajam.

“Apa masalah esensial dari kondisi makroekonomi kita sebenarnya?” tanya Burhan, matanya tak lepas dari Dewi.

Dewi menatapnya dengan serius. “Cashflow,” jawabnya lugas. “Sama seperti dalam dunia usaha—kalau penerimaan merosot sementara pengeluaran tetap besar, hasil akhirnya adalah tekanan akut.”

Ia diam sejenak, membiarkan kalimat itu meresap. Lalu melanjutkan dengan nada yang lebih berat, “Pendapatan negara hingga Mei 2025 hanya mencapai Rp 995,3 triliun. Turun 13 persen dibanding tahun lalu. Itu angka terendah dalam lima tahun terakhir, baik secara nominal maupun proporsional terhadap target.”

Burhan tertunduk pelan, seolah tengah mencerna bilangan dan kenyataan yang datang bersamaan. Dewi melanjutkan, tidak menunggu reaksi.

“PNBP juga anjlok 5,9 persen. Itu akibat langsung dari jatuhnya harga komoditas minerba sebesar 17 persen. Di sisi lain, dana asing mulai keluar, rupiah melemah, dan pasar global mengetat. Semua itu menggerus ruang fiskal kita dari segala sisi.”

Suara di ruangan sejenak menghilang, digantikan oleh gema fakta. Lalu Dewi menambahkan, nadanya lebih dalam, “Sekarang ini kita termasuk negara dengan rasio penerimaan terhadap PDB yang paling rendah di antara negara-negara berpenghasilan menengah. Bahkan di tingkat ASEAN, kita nyaris berada di dasar klasemen.”

Sekretaris masuk membawakan minuman. Dewi berdiri, berjalan mendekati meja tempat aku dan Burhan duduk. Ia meletakkan cangkir dengan tenang, lalu kembali duduk dengan sikap tak berubah.

Burhan mengangkat wajah. Kali ini lebih tajam. “Berarti APBN kita yang katanya ekspansif, yang digadang-gadang bisa dongkrak PDB lewat utang, justru gagal total?”

Dewi mengangguk pelan. “Kita tahu sebabnya. Belanja negara yang boros, tidak produktif, dan penuh kebocoran. Korupsi yang sudah struktural—sudah seperti penyakit kronis. Lihat saja, data ICOR kita di atas enam. Itu alarm bahwa uang yang dibelanjakan tidak menghasilkan pertumbuhan yang sepadan.”

Dewi menghela napas panjang. “Dan dampaknya langsung terasa ke rupiah. Mata uang kita kini termasuk yang paling lemah di Asia Tenggara. Bahkan, masuk daftar sepuluh mata uang terburuk di dunia tahun ini.” Ia menatap keluar jendela sejenak, sebelum melanjutkan, “Karena pemerintah gagal mendorong produksi barang dan jasa—yang seharusnya jadi fondasi penerimaan negara.”

Burhan mengangguk pelan, tak menyela. Aku sendiri hanya memandang teh di tanganku yang mulai mendingin.

“Dan yang menyakitkan,” lanjut Dewi, suaranya pelan namun jelas, “ini semua bukan kejutan. Polanya sudah terlihat sejak 2022. Rasio penerimaan waktu itu masih 13,5%. Tahun 2023 turun jadi 13,3%. Dan tahun depan? Diprediksi hanya 11,9%. Ini bukan sekadar sinyal gelap… ini lonceng alarm.”

Ia berhenti sejenak, mengatur nada bicaranya yang nyaris berubah menjadi nada frustrasi. “Tapi di ruang publik, semua dibungkus dengan narasi optimisme semu. Pemerintah sibuk menunjukkan angka pertumbuhan PDB, seolah semua terkendali. Padahal struktur penerimaannya rapuh.”

Dewi mengangkat alis tipisnya, suaranya meninggi sedikit, tapi tetap tenang. “Mereka jadikan angka Manufacturing Value Added sebagai kebanggaan. Katanya kita sudah bangkit dari lumpur. Tapi itu cuma ilusi statistik. MVA hanya menghitung output dikurangi input. Tidak menunjukkan kekuatan riil industri nasional.”

Lalu senyum tipis, yang lebih mirip guratan getir, muncul di wajahnya. “Kita hidup di antara angka-angka, tapi kebenaran sering dikalahkan oleh narasi.”

Kami terdiam. Hanya suara sendok menyentuh pinggir cangkir dan detak jam dinding yang terdengar. Di luar, langit tampak kelabu. Awan menebal, seolah ikut menyerap kesuraman data makroekonomi yang baru saja kami bahas.

Dewi meraih cangkirnya, menyesap pelan, lalu berkata dengan lirih namun tajam, “Sementara pemerintah enggan melakukan penyesuaian APBN—tetap ngotot pada proyek-proyek prioritas yang lebih bersifat populis. Padahal, cash flow utang dan bunga tahun ini mencapai Rp1.258 triliun. Itu sama dengan 60% lebih pendapatan pajak. Dan negara hanya bisa menutupnya dengan menerbitkan surat utang baru—sekadar untuk membayar bunga dan pokok utang lama.”

Ia menunduk sejenak, seolah hendak meredam amarah yang tenang itu.“Kita sedang masuk spiral pembiayaan. Ini sudah spiral negatif,” bisiknya. “Kalau tidak ada reformasi struktural yang nyata dan berani… maka kita sedang melangkah perlahan ke arah krisis.”

Kami terdiam. Burhan yang sejak tadi menyimak dengan seksama kini tampak gelisah. Wajahnya mengeras, seolah memikul beban data yang baru saja diurai Dewi. Rapat ini, yang semula terasa formal dan teknokratik, perlahan berubah menjadi ruang pengakuan batin—sebuah kesadaran bersama bahwa sistem ini tak bisa lagi ditambal dengan kosmetika politik dan narasi sukses palsu.

“Kita cuma tumbuh 4,87% di kuartal pertama 2025,” ucapku, memecah keheningan. “Angka itu yang terendah sejak 2021. Deflasi mulai tampak. Daya beli masyarakat terus melemah. Tapi sayangnya, pemerintah lambat merespons.”

“ Bahkan, beberapa menteri masih sempat membantah data,” timpal Dewi, nadanya pahit.

Burhan mengangguk dengan ekspresi getir. “Stimulus pun datang terlambat. Inpres No. 1/2025 memangkas anggaran Rp306 triliun… tapi justru menyasar program publik yang menyentuh rakyat banyak. Bukan sumber pemborosan yang sebenarnya.”

Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Lalu, dengan suara pelan, Burhan bertanya, “Lantas bagaimana caranya meyakinkan investor itu, Bu?”

Dewi menarik napas panjang. “Secara teknis, kita bisa susun laporan yang rapi. Kita bisa tampilkan peta jalan, skenario mitigasi risiko, dan narasi peluang. Tapi investor itu cerdas. Mereka bukan hanya lihat angka. Mereka tahu akar masalahnya adalah politik. Kalau tidak ada perubahan dalam sistem politik, semua itu hanya akan jadi angin lalu.”

Matanya menatap ke luar jendela. Gedung-gedung kota berdiri kaku, tertimpa cahaya senja yang mulai redup—seolah ikut tenggelam dalam bayang keraguan.

“Prabowo mewarisi birokrasi yang lamban dan korup,” lanjut Dewi. “Reformasi nyaris mustahil kalau wajah-wajah lama masih duduk di kabinet. Informasi tidak transparan, kebijakan seringkali reaktif. Tidak ada arah yang jelas.”

Aku mengangguk perlahan. “Elite capture,” gumamku. “Kekuasaan bukan lagi alat untuk melayani, tapi jadi tameng untuk mengamankan proyek, anggaran, dan kontrol sumber daya”

Tidak ada yang menyahut. Tapi hening itu bukan kosong, ia penuh kesadaran akan realitas yang selama ini diabaikan.

“Kita butuh keberanian…” kataku, menyapu pandang ke arah Dewi dan Burhan, “untuk menyusun laporan yang tak hanya bicara kepada investor, tapi juga kepada hati nurani bangsa.”

Aku menarik smartphone dari saku, membuka berkas yang sudah kusiapkan. “Pengangguran per Februari 2025: 4,76%. Tapi secara absolut, itu berarti 7,28 juta orang tak punya pekerjaan. Angka kemiskinan resmi 8,57%—setara 24 juta jiwa. Tapi kalau kita pakai standar global PPP, lebih dari 60% warga hidup di bawah $6,85 per hari.”

Ruangan terdiam. Hanya suara datar dari proyektor dan detak jam yang terdengar samar.

“Orang lain lihat ini cuma angka,” kataku, suara sedikit bergetar. “Tapi aku lihat manusia. Kita harus punya empati pada angka itu. Karena di balik statistik itu ada napas, ada nadi, ada harapan. Kalau pendekatannya cuma ROI, jelas proyek ini tidak akan masuk akal. Tapi ini bukan semata bisnis. Ini tentang keputusan: apakah kita hanya ingin untung, atau kita ingin berarti.”

Aku menatap Dewi, berharap kata-kataku tidak hanya sampai ke pikirannya, tapi juga menyentuh sesuatu yang lebih dalam.

Burhan ikut menambahkan, nadanya tenang tapi penuh keyakinan. “Kita ajukan proyek ini ke investor Hong Kong… karena negara sendiri tak punya cukup dana. Kecuali untuk MBG dan IKN. Tapi proyek ini berbeda. Ia bisa ciptakan lapangan kerja. Infrastruktur supply chain ini bisa jadi tulang punggung untuk program koperasi desa. Membuka pintu bagi UMKM masuk pasar global.”

Dewi menunduk, seperti menyusun ulang pikirannya. Lalu ia berkata pelan, “Tapi investor… yang pertama mereka tanya: berapa banyak orang yang masih belanja setiap hari? Karena kalau daya beli jatuh, ekonomi melambat. Mereka mundur. Lalu cari tempat lain.”

Ia membuka slide presentasi. Grafik muncul di layar. “Arus modal keluar dari Asia Tenggara tahun ini sudah mencapai US$4,16 miliar. IHSG dalam dolar AS turun 16% sejak awal tahun. Konsumsi rumah tangga di Q1 hanya tumbuh 4,89%. Sementara China masih dianggap lebih menarik, stabilitas politik, stimulus fiskal, kontrol pasar. Indonesia… belum siap, di mata mereka.”

Burhan tak berkata apa-apa. Ia hanya menunduk, jari-jarinya meremas perlahan buku catatan di pangkuannya.

Aku menatapnya. Dalam wajahnya, aku melihat bayangan dari wajah murung pengusaha kecil dan menengah. Mereka yang awalnya optimis, sekarang mulai sadar bahwa krisis tak selalu datang dengan dentuman badai. Kadang ia datang perlahan, dalam bentuk senyuman, dan perasaan ditinggalkan oleh arus modal. Ditinggalkan lapangan kerja. Ditinggalkan oleh harapan.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

2 tanggapan untuk “Menggapai asa dalam gelap”

  1. arbiterkrispycfb64bc6ca Avatar
    arbiterkrispycfb64bc6ca

    Tulisannya menyadarkan tentang kondisi negeri yang ku tinggali… Sebagai orang awam saya haya bisa berucap la haula wala kuwata Illa Billah…. Hasbunallah wani’mal wakil ni’mal maula wani’man nashir

    Disukai oleh 1 orang

  2. moeryonomoelyo Avatar
    moeryonomoelyo

    Opportunity dan SDA yang menjanjikan tidak diimbangi SDM yg Taft dalam segala Medan.

    Gen z yg di brain wash melalui vokasipun tidak akan berbuah manis, sementara generasi di atasnya punya akses komunikasi dan kemampuan pressure terhadap kreatifitas

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan ke arbiterkrispycfb64bc6ca Batalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca