
Herman dan Abeng minta ketemuan di PIM Golf. Katanya ada hal penting mau dibicarakan. Saya datang ke PIM didampingi Winarsih. Besok sore Tom dan Winarsih kembali ke NY. Jadi daripada Winarsih sendirian di hotel, ya saya ajak jalan. Saat ketemu Herman dan Abeng. Mereka terkejut melirik ke Win. “ Ini baru lihat saya. Siapa ini Ale? Tanya Abeng.
“ Ini Win, anak buah saya dari NY “ Kata saya kenalkan. Win serahkan kartu namanya kepada mereka berdua. “ Geostrategis analis. Apaan itu Ale? Tanya Herman setelah baca kartu nama Win
“ Oh itu terkait dengan geographis, sumber daya ekonomi dan kebijakan politik suatu negara. Dalam bisnis Asset Management Global, Analisa itu sangat penting untuk menilai dan menentukan portfolio investasi terkait dengan emiten berskala global dan obligasi negara. Pasar global itu sangat kompleks. Tidak statis. Ia bereaksi terhadap geopolitik. “ Kata Win mencoba menjelaskan dalam Bahasa inggris.
“ Maksudnya ? semacan CSIS itu ya.” Tanya Herman.
“ Geostrategis itu diplomasi yang disusun berdasarkan elemen ruang dan diukur dari perspektif bisnis dan ekonomi. Bukan ideologi abstrak. ” Kata Win berusaha menjelaskan. Saya senyum aja melihat Herman mengangguk angguk.
“ Mbak orang Indonesia ya.” Tanya Abeng kepada Win.
“ Ya. “ Kata Win mengangguk.
“ Pakai Bahasa Indonesia aja bicaranya” Kata Abeng.
“ Udah menikah.” Tanya Herman. Win menggeleng dan tersenyum.
“ Karir nya keren dan cantik lagi. ” kata Herman. “ Udah lama di AS ? tanya Herman.
“ Udah 2 tahun. “ Win tersenyum.
“ Jadi juga AS serang Iran. “ Seru Herman setelah kopi terhidang. “ AS gunakan 7 pesawat B-2 Spirit stealth bombers yang dilengkapi Bom Penembus Bunker dan didukung lebih dari 30 rudal Tomahawk yang diluncurkan dari kapal selam dan kapal permukaan untuk menyerang fasilitas pengayaan nuklir Iran di Fordon, Natanz dan Isfahan. Mission completed, kata Trump dengan bangga. “ Sambung Herman.
“ Itu hanya symbol aja. Engga big deal “ Kata saya tersenyum. “ Tujuan serangan itu adalah mengajak Iran dan Israel ke meja perundingan. Tanpa kedua belah pihak kehilangan muka. Bukan tidak mungkin serangan AS itu mengclaim tidak ada lagi nuklir sebagai alasan Israel menyerang Iran dan sanksi ekonomi Iran bisa dicabut.. “ Sambung saya.
“ Ah kamu terlalu berteori dan berandai andai tanpa berdasar. “ Kata Herman. Saya senyum aja.
“ AS tidak bodoh. Kalau sampai hancur, radiasinya bisa kemana mana. Yang kena bukan hanya iran tetapi tetangganya. Itu dampaknya lama sekali. “ Kata Abeng ikut menimpali. “ Gitu aja kamu engga paham. “ Abeng tersenyum.
“ Itu berita resmi dari AFP. “ Kata Herman lagi.
“ Dalam situasi perang engga bisa kita percaya dengan berita media. Apalagi perang asimetris. “ Kata Abeng cepat.
“ Menurut saya, Win mencoba meluruskan. “ Tiga situs itu kedalamannya kurang lebih 800 Meter dibawah tanah. Bom bunker‑buster seberat 15 ton hanya bisa menembus kedalaman 60 meter. Dijatuhkan dari pesawat udara sebanyak 6 bomb di Fordow. Itu hanya mencapai kedalaman 360 meter. 8 bomb lagi ke Natanz dan Isfahan. Jadi kerusakan tidak significant. Makanya Badan Atom Internasional mengkonfirmasi tidak ada peningkatan radiasi diluar situs, menandakan tidak ada ledakan kritikal atau kebocoran nuklir besar. “ Demikian Win. Abeng keliatan terkejut dengan Analisa Win.
“ Tapi Trump sendiri yang umumkan bahwa misi pemboman tiga situs nuklir iran itu sukses.” Kata Herman ngotot.
“ Data survei 60% rakyat AS tidak percaya dengan omongan Trumps “ Kata Winarsih tersenyum. Herman bengong dan terdiam. Dia seruput kopi. “ Man, kebetulan ada anak pintar. Mending kita tanya aja cuan dibalik perang. “ Kata Abeng.
“ Ah saya sudah tahu itu. “ seru Herman. “ Saya tidak percaya soal jargon Iran ingin hancurkan Yahudi dan Israel ingin hancurkan rezim Shiah. Perang soal idiologi udah kuno. Pasti ada agenda bisnis dibalik perang ini. Mana ada era sekarang engga berujung soal bisnis. Engga ada yang lebih penting kecuali bisnis ” Kata Herman bergaya seperti ekonom.
“ Terus apa agenda bisnis dibalik serang AS ke tiga situs itu? Tanya Abeng kepada Herman. Nah bingung Herman jawab. Saya beri kode Win untuk jawab pertanyaan Abeng itu.
“ Ya motive take advantage aja dari situasi yang ada . “ Kata Win menjawab ringan. “ Reuters melaporkan bahwa, Yield obligasi pemerintah AS turun. Kekhawatiran atas perang di Iran meningkatkan permintaan obligasi AS sebagai aset safe haven. Yang untung pemain hedge fund, yang sekian lama suffering akibat yield obligasi AS terus naik. Tetapi itu hanya shock response aja. Tergantung situasi “
“ Kalau Iran blockade selat Hormuz. Itu akan membuat harga minyak naik. Inflasi akan terkerek naik dan potensi langkah The Fed menaikan suku bunga, dan ini bisa membuat yield naik lagi, alih-alih terus turun. “ Kata Herman.
“ Iran akan lebih focus serang langsung Israel. Dan berusaha menyudutkan Israel agar posisi tawar Israel lemah dalam negosiasi keamanan dan ekonomi dengan AS dan negara sekutu “ Jawan Win. “ Jadi opsi kemungkinan iran blockade selat hormuz kecil sekali. “ lanjut win.
“ Mengapa? Tanya Abeng mengerutkan kening.
“ Penutupan selat Hormuz bisa paralisis ekspor minyak Iran yang mencapai 1,6–3 juta barel/hari. Kalau engga ada income, darimana perang dibiayai? Belum lagi itu akan membuat marah mitra Iran, seperti China dan India, yang terganggu pasokan minyaknya. “ Kata Win.
“ Apa mungkin Iran serang pangkalan militer AS yang ada di Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Bahrain, Abudhabi.” Tanya Abeng lagi.
“ Kalaupun dilakukan dengan sangat terbatas. Hanya pangkalan militer AS. Tidak meluas ke wilayah di luar itu. Karena kalau meluas akan memancing sekutu teluk masuk dalam medan perang. Mereka mungkin tidak terlibat langsung perang tapi supply uang ke Israel. Yang untung ya Israel. Apalagi Israel sedang pusing cari duit untuk ongkosi perang. Pastinya Industri pertahanan Israel akan dapat banyak order untuk buat senjata perang. “ Jawab Win dengan enteng.
“ Make sense…” Abeng mengangguk. Saya senyum aja.
“ Terus mengapa Israel ngotot kuasai Gaza? Pasti ada agenda bisnis ? Engga mungkin sekedar politik idiologi “ kata Herman lagi.
“ Ya benar. Faktor bisnis lebih dominan “ Win mengangguk. “ Gaza berada di pesisir Laut Mediterania timur, yang memiliki potensi sumber daya alam besar. Di perairan lepas pantai Gaza ditemukan cadangan gas alam, dikenal sebagai Gaza Marine. Israel ingin miliki sumberdaya ini. Apalagi krisis energi global, sumber daya ini jadi penting secara ekonomi dan geostrategi, khususnya sebagai alternatif pasokan energi ke Eropa. Jadi tidak tergantung kepada Rusia lagi. “ sambung win
“ Gila ya, seru Abeng “ Pantas Perancis, Jerman dan Inggris bantu Israel “ kata Abeng maklum “ Dan pantes juga Israel marah ke Iran. Karena Iran bantu Hamas pertahankan Gaza. Akibatnya mereka tidak bisa leverage sumber daya Gaza“ sambung Abeng,
“ Apa keuntungan ekonomi Iran bantu Hamas di Gaza ? Tanya Herman lagi.
“ Keuntungan langsung engga ada. Tetapi daya tawar Iran tinggi dihadapan Rusia mitra aliansinya.” Kata Win tersenyum dengan sikap Herman yang kepoan. “ Coba perhatikan ini. Israel berambisi membuka jalur pipa gas ke Eropa lewat Mediterania dalam proyek EastMed Pipeline. Tapi karena Gaza, Lebanon selatan, dan Suriah proyek itu engga bisa jalan. Itu penyebabnya Iran mendukung Hamas di Gaza dan Hezbollah di Libanon. Karena itu Eropa tetap bergantung Impor gas dari Rusia. Itu big bisnis dan captive market bagi Rusia. “ kata win
“ Terus kenapa China mau bantu Iran ? Kan engga mungkin politik. Agama aja beda. Idiologi juga beda. Pasti urusan cuan “ tanya Herman lagi.
“ Kita semua tahu. 70-80% sumber daya REE, Rare earth elements dunia kini dikuasai China. Politik mineral kritis seperti REE itu efektif membuat China memenangkan perang dagang dengan AS. Karena tidak ada satupun perusahaan tekhnologi yang tidak tergantung dengan mineral REE ini. Nah disamping China, Iran juga memiliki cadangan REE terbesar di dunia. Lokasi tambang nya ada di Khorasan, Yazd, Semnan, dan Kerman. Tentu China berusaha menarik Iran dalam aliansi strarategis. Mempertahankan hegemoni nya dalam bidang mineral kritis .
Nah mungkin dari pengalaman tarif resiprokal Trumps kemarin, AS dan Eropa berubah sikap terhada geostrategis nya di Timur tengah. Tak lagi sepenuhnya kepada minyak dan gas. Tapi REE. Artinya mereka harus bermitra dengan Iran. Tapi karena Sanksi ekonomi Iran, itu sulit. Makanya mereka berusaha main cantik agar sanksi ekonomi Iran dicabut dan perang dihentikan. Itu akan membuka peluang ber-mitra dengan Iran. “ Win mencoba jelaskan.
“ Apa sudah di exploitasi tambang REE di Iran? Tanya Abeng lagi semakin penasaran.
“ Belum “ jawab saya. “ Iran bersama MNC China sedang lakukan riset memisahkan 15 unsur lantanida ditambah scandium dan yttrium. “ Sambung saya.
“ Apa mungkin kemitraan dengan Eropa dan AS bisa terjadi? Tanya Abeng. Saya lirik Win agar dia jawab.
“ Selagi Mullah yang ada sekarang berkuasa di Iran. Sulit. “ Jawab Win seraya habiskan hot tea nya
“ Kenapa ? Abeng mengerutkan kening.
“ Mullah itu kan kuat sekali menjaga identitas Iran. Mereka engga mau jual mentah atau dalam bentuk downstream level 2. Mereka juga engga suka bisnis rente tambang seperti di Indonesia. Apalagi sejak tahun 2013, riset Iran dibidang REE progress nya significant. Sementara AS dan Eropa maunya larangan ekspor mentah itu dihilangkan. Itu bisa dilihat dari komunike G7, yang berfokus pada diversifikasi rantai pasok guna menekan dominasi China dalam hal REE dengan memperkuat kemampuan pemrosesan di negara-negara seperti Prancis, Inggris, Australia, dan AS” Kata Win.
“ Oh pantes sekarang Issue nuklir Iran udah basi. Diganti dengan target membunuh Ayatollah Sayyid Ali Hosseini Khamenei. Tentu agenda Israel dan AS mengganti rezim Iran yang tanpa kekuatan system mullah. Ya semacam kekuatan oligarki yang hanya bicara soal cuan. “ Kata Abeng cocok logi. Saya senyum aja. Kemudian saya dan Abeng bersama Herman bahas bisnis. Jam 6 kami bubar. Karena saya dan Win mau sholat maghrib.
War always aims at business. It’s about money circulating, and unfortunately there’s a lot of anxiety, a lot of fear, and a lot of doubt. Ideological narratives such as “destroy the regime” or “fight fascism” are often used to garner support. However, history and analysts show that economics and profit are the main factors, even catalysts, behind major conflicts.

Tinggalkan Balasan ke moeryonomoelyo Batalkan balasan