
Di Hong Kong. Ketika masuk cafe saya lihat Esther dan Wenny ada di table yang sama. Kami bersahabat sudah lama. Saya gabung dengan mereka “ Rudal modern saat ini memang semakin cerdas dan presisi, menjadikannya bukan hanya senjata penghancur, tetapi juga alat strategis untuk menekan kekuatan musuh tanpa harus menghancurkan rakyatnya secara langsung. Ini merupakan bagian dari evolusi menuju precision warfare. Warfare electronic era coming” Kata Wenny.
” Hebatnya rudal itu seperti punya mata. Bisa mengarah langsung ke target strategis militer dengan korban manusia minimal. Bahkan Pemerintah bisa memperingatkan lebih dulu agar rakyat sipil keluar dari target sebelum serangan dilakukan. Jadi benar benar dalam perang yang dilumpuhkan itu adalah system pertahanan dan moral rakyat lawan” Kata Esther. Saya senyum aja saat mereka ngobrol soal perang Iran dan Israel. Tentu membahas soal politik. Wanita kalau lagi santai yang dibahas berita TV padahal sama sama nonton.
“ Melihat perang antara Israel dan Iran, yang berjarak 1500 KM, tanpa tentara berhadapan dalam jumlah kolosal seperti era jadul, kita seakan tersadarkan betapa destruktif nya teknologi tanpa kebijakan.“ Kata Esther. Saya asik memperhatikan pemain piano. Cantik dan sangat piawai jemari nya melakukan improvisasi. “ Ya benar. Kuncinya ada pada system Radar. “ kata saya dengan mata tetap ke pemain piano.
“ Oh ya. Gimana ? Tanya Esther pegang lengan saya dengan wajah sedikit kesal atas sikap saya yang masih focus ke pemain piano. Saya tahu diri. Segera menatap Esther. “ Yang menuntun rudal mengarah ke target di darat maupun di udara adalah radar. Fungsi radar itu mendeteksi dini musuh dari jarak jauh. Pelacakan target multi-layer. Mengontrol arah rudal dan membedakan antara decoy dan target nyata. Radar itu diback-up dengan system elektronik yang bisa membutakan radar musuh. Menipu radar musuh dengan sinyal palsu. Dan anti-jamming, frequency hopping.” Kata saya
Esther Keliatan masih bingung dan tidak paham dengan penjelasan saya. Saya lirik Wenny untuk bantu saya menjelaskan.
“ Jadi kalau ada serangan udara, radar bisa membelokan arah rudal lawan dari target dan kemudian menembaknya dengan rudal darat udara atau dengan pesawat termpur rudal udara ke udara. Atau ketika menyerang, radar bisa mengecoh musuh denga sinyal palsu sehingga gagal intercept serangan udara itu. Ya. Siapa yang menguasai spektrum elektromagnetik, dia yang memenangkan perang modern. “ kata Wenny menjelaskan dengan cara sederhana mudah dipahami.
“ Wah canggih. Negara mana saja yang punya tekhnologi radar secanggih itu.? Tanya Esther
“ Amerika, Rusia, Israel dan China.” Jawab Wenny .
” AS itu yang riset dan produksi, Raytheon, Northrop Grumman. Rusia oleh Almaz-Antey. China oleh CETC, Nanjing Research Institute. Israel oleh ELTA Systems, Rafael” Saya menambahkan.
“ Seperti apa kecanggihan produk mereka? Tanya Esther mengerutkan kening. Memang topik menarik karena adanya perang Iran-israel yang sudah menerapkan perang electronik
“ AS kan terkenal dengan Patriot PAC-3, THAAD. Itu anti-rudal balistik, terintegrasi dengan system NATO. Rusia dengan S-400,S-500. Jarak tembak 400 km lebih, multi-target. Israel dengan Iron Dome, David’s Sling. Akurasi tinggi, tapi khusus untuk roket dan rudal jarak pendek. China dengan HQ-9B dan HQ-22. Mirip S-300, tapi integrasi sistem pertahanan terpusat. Lebih rumit. “ Kata Wenny mencoba menjelaskan.
“ Terus Iran dapat tekhnologi Radar dan Rudal darimana? Siapa yang pasok ? Itulah salah satu sifat Esther. Rasa ingin tahunya besar sekali. Ya maklum dia berkarir sebagai banker puluhan tahun. Pertanyaannya taktis.
“ Iran menggunakan tekhnologi sendiri. “ jawab saya cepat.
“ So…
“ Hanya memang tidak terkenal dan belum dipasarkan secara umum. Dari perang yang ada. Kita bisa lihat Iran mampu membuat Rudal balistik. Rudal jelajah dan drone untuk fleksibilitas serangan. Itu dibackup dengan Radar 3D dan OTH. Sekelas stealth bisa lumpuh. Dari segi tekhnologi tak perlu diragukan, Engga kalah denga produk AS, Rusia, Israel dan China. “ Kata saya,
“ Bagaimana mungkin Iran bisa mengembangkan tekhnologi radar dan rudal itu. Apalagi kelas kompetitornya negara maju semua ? tanya Esther
“ Ah itu bukan big deal “ saya kibaskan tangan. “ Walau tehnologi radar itu rumit namun setiap negara bisa bikin. Yang rumit adalah untuk membuat device electronic Radar diperlukan mineral Gallium Arsenide. Nah tidak semua negara bisa memproduksinya.” Lanjut saya.
“ Binatang apalagi Gallium Arsenide itu? Esther mengerutkan kening. Wenny tersenyum
“ Gallium itu Material yang sangat penting dalam teknologi frekuensi tinggi seperti radar militer, komunikasi satelit, dan perangkat elektronik berkecepatan tinggi. Karena memiliki karakteristik listrik dan optik yang lebih unggul dibanding silicon. Mampu menahan panas tinggi. Makanya kecepatan hipersonik bisa dilakukan. Tanpa material itu tidak bisa diciptakan processor berkecepatan diatas terrarbite.” Kata saya sambil seruput kopi.
“ Gallium itu bahan tambang Ya ? Kejar Esther
“ Gallium itu mineral yang terperangkap dalam Bauksit. Setelah bauksit diolah jadi alumina dan masuk proses aluminium, nah sampingannya adalah Gallium. Tapi untuk dapatkan gallium masih harus melalui proses pemurnian yang rumit. Tekhnologi ini tidak semua negara punya. Begitu strategis nya material ini, sehingga tidak dijual bebas kecuali alasan politik. Nah Iran punya material itu” Kata saya tersenyum.
“ Gila ya. Kamu ngerti banget, “ Esther menatap aneh kesaya. ” Pasti karena ada bisnis dari tekhnologi ini. Makanya kamu kejar peluang itu” Sambung Esther dengan nada satire.
“ Yuan punya pabrik alumina dan aluminium di China. Sampinganya berupa Gallium kita produksi di Rusia “ kata Wenny cepat,
“ Betul kan.! “ Esther nunjuk saya dengan melotot. “ Di dunia ini yang punya tekhnologi menghasilkan Gallium siapa saja? Tanya Esther.
“ AS, Jerman, Taiwan, China dan Jepang. “ Kata saya. “ Iran punya tekhnologi pemurnian gallium. Tapi tidak besar kapasitasnya. Karena material bauksit iran tidak banyak. Sebagian besar Gallium yang diproduksi dipakai sendiri dan ada juga dijual tetapi hanya kepada mitranya seperti Korut, Pakistan, Rusia dan China.” Lanjut saya.
Esther terdiam dan menghabiskan koktail nya. Dia mengangguk. “ Kalau semua tekhnologi setara dan tentu ada kelebihan kekurangannya. Lantas apa yang menentukan kemenangan dalam perang? Tanya Esther dengan tersenyum.
“ Ya timing, first see first win. Karena ukuranya udah millidetik, engga lagi jam. Dan itu ada pada kekuatan intelligent dalam cyber war” Kata saya “ Siapapun bisa kena, kalau meleng. Tuh lihat lapangan terbang Angkatan udara Rusia hancur oleh Drone Ukraina. Rudal Rafael punya India engga berfungsi dalam perang dengan Pakistan. Bahkan Rafael nya ikut rontok dihajar Rudar udara ke udara buatan China“ Kata saya.
“ Dan perang narasi lewat sosial media. Dulu AS enak aja fitnah Sadam Husen punya senjata kimia, itu jadi alasan AS menyerang Irak. Karena informasi belum terbuka lebar. Sekarang dengan adanya Sosmed, rakyat sedunia termasuk rakyat AS dan Israel tahu kalau yang duluan menyerang itu Israel dan Iran membalas sebagai upaya melindungi diri dari aneksasi Israel. Rakyat AS pasti marah kepada pemerintahnya kalau malah bantu Israel. Apapun alasannya. Apalagi mereka udah lihat lewat video kerusakan akibat serangan rudal. “ Wenny menambahkan.
” Saya bisa mengerti. Kecuali Israel diserang lebih dulu. Ini kan Israel yang memulai ya Israel sendiri yang harus mengakhiri. Engga bisa ajak negara lain bantuin” Kata Esther memaklumi. Namun saya tidak tertarik diskusi politik.
Saya keluar cafe untuk merokok. Di ruang smoking ada orang Jepang , Korea , China yang sedang merokok. “ Mengapa kalian tinggalkan wanita di dalam hanya karena ingin merokok.” Kata salah satu wanita yang juga sedang merokok. Wanita itu asal Spanyol.
“ Dia punya hak tidak merokok dan saya punya hak merokok. Makanya ruang dipisahkan. Untuk menghormati privasi masing masing” Kata pria Korea.
“ Apakah anda tidak pernah berpikir bahwa sikap anda itu mementingkan diri sendiri. “Kata wanita itu.
“ Ngomong apa sih kamu.” Kata pria Jepang. “ Ini soal privasi. Tidak ada saling paksa. Saling hormat adalah menghormati perbedaan. Tanpa harus judge sikap masing masing” Lanjutnya ketus.
“ Tetapi kan mereka wanita. Saya bisa rasakan perasaannya. Karena saya wanita.”
“ Itulah masalah wanita. Terlalu banyak meminta kesempurnaan terhadap pria. Kalau tidak terpenuhi mereka merasa dirugikan. Kami pria. Kami tidak punya waktu berpikir terlalu jauh soal perasaan. “ Kata pria China.
“ Sebagai pria yang saya tahu hanya satu yaitu delivery commitment kepada wanita. Saya pacarin, saya nikahi. Saya jaga dia. Itu aja. Selebihnya, dia engga suka dengan saya perokok, pemabok, itu bukan urusan saya. Kalau karena itu dia minta pisah atau tidak suka, saya tidak akan ragu berpisah dan tidak perlu sakit hati. Kalaupun nanti saya berhenti merokok dan dapat pacar yang merokok saya juga tidak akan minta dia berhenti merokok” kata pria Korea
Saya hanya tersenyum mendengar dialogh itu. Wanita itu juga tersenyum. “ Lantas mengapa anda sendiri merokok” Kata saya kepada wanita itu.
“ Tadinya saya benci merokok. Suka dengan pria yang juga tidak merokok. Tetapi setelah kami ML. Kami memutuskan berpisah. Dan sejak itu saya merokok” jawab wanita itu
“ Mengapa ? tanya pria Korea. Wanita itu mengangkat bahu, Kami senyum aja. Kedamaian itu sederhana caranya. Hargai perbedaan. Menghargai perbedaan berarti mengakui dan menerima keberagaman dalam pikiran, budaya, agama, pilihan hidup, dan latar belakang sebagai bagian dari kekayaan peradaban — bukan sebagai ancaman. Ini mencerminkan kedewasaan moral dan intelektual, serta menjadi dasar dari masyarakat yang damai dan adil.

Tinggalkan Balasan ke moeryonomoelyo Batalkan balasan