
“ Ale, apa kabar ? Bisman langsung sapa saya saat masuk ke room. Achia memang undang kami makan malam. Di room itu sudah ada Vani, Akim dan Achia sendiri. Bisman salami dan peluk saya. “ Terakhir kita ketemu tahun 98 ya.” Kata Bisman. “ Kudengar cerita kau bisnis di cungkok. Jauh sekali kau berlayar” Sambung Bisman.
“ Ya biasa sajalah. Namanya laki laki. Dimana ada uang, kesana kemudi kapal diarahkan. “ kata saya bergurau. ‘ Dan kau, dari Medan merantau jauh ke Ausi. Pindah pula warga negara. Aku tetap merah putih “ Sambung saya.
“ Tapi darahku tetap merah putih, Ale.” Bisman, sahabat lama kami. Tahun 98 paska krismon dia hijrah beserta keluarganya ke Ausi. Buka bisnis property di sana.
“ Ale, bisa tanya? Seru Akim “ Apa benar empat pulau yang sekarang diributkan itu ada kandungan gas nya ? tanyanya.
“Emang kenapa ? tanya saya balik.
“ Terdengar lebay sekali Aceh itu. Pulau kosong doang. Sampai diributkan. Apalagi ditebar issue ada gas di empat pulau itu. Kejauhan ngayalnya. “ Kata Vani yang duduk di sebelah Bisman. Saya tersenyum kepada Vani.
“ Mending dengar apa kata Ale. Dia tahu banyak soal bisnis Gas” Kata Akim kepada Vani.
“ Secara resmi, sampai sekarang belum ada pengumuman SKKMigas soal ditemukan cadangan gas di Pulau Panjang, Mangkir besar dan kecil dan Lipan ” Kata saya cepat. “ Yang pasti ada tentu potensi wisata. Tetapi engga significant untuk dikembangkan secara international.” Lanjut saya.
“ itu kan berita resmi. ‘ Sela Bisman. “ Kan engga mungkin ada asap kalau tak da api. Tak mungkin diributkan kalau tak ada apa apanya di sana? lanjut Bisman. Saya tersenyum dan bingung gimana jelaskannya. Apalagi mereka engga berbisnis exploitasi Gas. Tapi karena sudah jadi issue nasional. Engga ada salahnya saya jelaskan secara sederhana.
“ Gini ya. “ saya mencoba menjelaskan. “ Tahun 2024 Perusahaan energi dari UEA, sudah menemukan cadangan gas dalam pengeboran Tangkulo-1, Blok South Andaman. Nah lokasi ini berada di lepas pantai barat Sumut, dekat Tapanuli Tengah. Berhadapan dengan lokasi 4 pulau itu . “ Kata saya.
“ Terus apa hubungannya dengan empat pulau itu? Kan jauh banget dengan jarak lokasi explorasi gas. Ya mungkin jaraknya sekitar 60 KM offhsore “ Kata Vani.
“ Ya benar. “ Kata saya. “ Aceh hanya berhak mengelola wilayah laut hingga 12 mil dari pantainya. Tapi UNCLOS mengakui pulau sebagai titik pangkal untuk ZEE, hingga 200 mil. Artinya kalau empat pulau itu punya Aceh, tentu Aceh berpotensi dapatkan PI pada blok Tangkulo-1, termasuk kompensasi. Secara politik Aceh punya bargaining nego dengan pemerintah pusat. “ sambung saya.
“ Oh I see “. Seru Vani ” Dan bagi Aceh, income dari block gas itu bisa jadi sumber daya membuat rakyat nya makmur. Make sense.”
“ Berapa potensi Migas disana? Tanya Bisman yang mulai antusias.
“ Kalau engga salah…” saya berusaha mengingat. “ Ya minyak aja lebih 1000 barel per hari kondensat. Kalau gas besar banget. Diatas 2 Triliun kaki kubik. “ sambung saya.
Menu datang. Kami mulai makan
“ Emang siapa sekarang pemilik konsesi Block Andaman itu ? tanya Akim sambil buka botol Macallan dan tuangkan ke gelas untuk masing masing kami. Resto itu engga ada miras tapi Akim bawa sendiri dari luar.
“ Mubadala Energy 80 % idan 20% Harbour Energy. Skema investasinya dengan SKKMigas PSC gross split“ Jawab saya.
“ Sudah beroperasi ? Tanya Vani.
“ Belum. Kan baru ditemukan Mei 2024 kemarin. “ jawab saya spontan “ Sejauh ini masih dalam tahap exploration, dan belum memasuki fase produksi komersial. Rencana beroperasi tahun 2028. Tapi salah satu offtaker nya PT. Pupuk Indonensia. Mereka udah tanda tangan agreement” Kata saya.
“ Seharusnya kan Pertamina explorasi sendiri Tengkulo 1 itu “ kata Bisman.
“ Eksplorasi migas itu big risk. Potensi kegagalan tinggi. Itu udah seperti judi. Apalagi Blok South Andaman Tengkulo 1 itu reservoir nya dalam banget. Bisa 4 Km dalamnya. Belum lagi posisinya kadang berada pada zona tektonik aktif, dekat subduksi lempeng, SDM kita belum ada yang mampu. “ kata saya. Bisman mengangguk maklum.
“ Kan engga ada masalah kalau empat pulau itu punya Sumut. Kan sama sama wilayah Indonesia. Apalagi Sumut mau kerjasama “ Kata Vani.
“ Aceh itu beda dengan provinsi lain. Aceh itu punya dasar yang kuat atas wilayah, yaitu UU 24/1956. Menurut UU itu, Wilayah Aceh mencakup wilayah administratif lama dari Karesidenan Aceh di zaman Hindia Belanda. Termasuk wilayah Tamiang dan Singkil. Jadi Engga semudah itu geser wilayahnya. Bisa bisa kesabaran mereka habis dan membuat mereka bersatu merebutnya. Kan ribut jadinya. Apalagi ini terkait dengan perjanjian damai Helsinki” Kata saya tersenyum.
“ Benar juga ya. “ Seru Achia. Dia seperti mikir sesuatu. “. Coba dech, kalau empat pulau itu punya Aceh, maka dari PSC yang hak pemerintah, 70% jadi punya Aceh dan 30% Pusat. Tetapi kalau punya Sumut, pembagian terbalik. Sumut jadi 30%. Pusat 70%. Pastilah Aceh pertahankan hak nya atas empat Pulau itu. Ini kan bisnis” Sambung Achia. Keluar dah paranoia liar.
“ Emang ada UU menyebutkan kalau pulau itu masuk wilayah Aceh ? Tanya Vani penasaran dengan mengerutkan kening.
“ Memang Secara hukum positif, tidak ada satu pun UU yang menetapkan Pulau Panjang, Mangkir Besar, Mangkir Kecil, dan Pulau Lipan adalah bagian dari Aceh.”
“ Terus masalahnya apa sampai ribut ? Tanya Vani mengerutkan kening.
“ Karena UU itu sendiri bias. Engga jelas menetapkan batas wilayah darat dan laut. Dalam Undang-Undang UU No. 11 Tahun 2006 menyebutkan Penetapan batas wilayah Aceh dilakukan berdasarkan data yuridis, historis, geografis, dan sosiologis. Jadi engga bisa hanya berdasarkan data dan peta geographis saja. Inilah yang jadi patokan Aceh memperjuangkan empat pulau itu menjadi kembali milik nya. “ Kata saya sambil cicipi Maccalan. Engga mau terlalu banyak minum. Karena istri sudah peringatkan. Engga boleh miras.
“ Ya fight di PTUN aja’ Kata Achia.
“ Yang saya dengar Aceh engga mau ke PTUN. “ Jawab saya.
“ Karena mungkin engga yakin bakal menang. Mereka milih penyelesaian lewat lobi politik. Menurut saya itu wise “ Kata Achia berpendapat atas sikap Pemda Aceh yang tak ingin ribut di pengadilan. Memang wise. Tak elok bersengketa dengan saudara sendiri apalagi bertetangga. Musawarah adalah jalan terbaik. Berbicara dengan bahasa hati lebih mendamaikan.

Tinggalkan komentar