Israel dan Iran ?

Di changi Airport Singapore sehabis meeting. Saya dan Dewi duduk santai di lounge sebelum jadwal boarding ke Jakarta. Di tayangan TV terlihat serangan operation rising Lion Israel ke pangkalan militer dan fasilitas nuklir Iran.  “ Mengapa Iran dalam situasi sanksi ekonomi oleh PBB bisa terus survive terutama dalam bisnis migas. “ Tanya Dewi saat

“ Ah itu kan politik hegemoni AS. Negara lain mungkin patuh terhadap sanksi ekonomi itu dan ikut mengisolasi Iran. “ Kata saya seraya tersenyum. “  Tapi kan ada juga negara tidak patuh.”

“ Kalau engga patuh, berarti illegal dong dagang dengan Iran. Gimana transaksinya? Gimana delivery nya ? payment nya ? tanya Dewi penasaran.“ Ah itu bukan big deal” Jawab saya cepat  dalam posisi duduk melunjurkan kaki dan luruskan pinggang.

” How come ?

“ Lewat shadow broker dan trader, transaksi dilakukan dengan counter trade dan COD. Soal shipment, Iran dapat dukungan dari Malaysia sebagai hub logistic. Soal payment, Iran terhubung dengan China’s Cross-Border Interbank Payment System. Belakangan pembayaran udah bisa menggunakan E-CNY. “ Kata saya.

“ Jadi walau tidak dapat dukungan ekonomi dari AS, Eropa dan negara lain, Iran bisa dapatkan dari China.” Dewi menyimpulkan.

“  Nah apa yang tidak ada di China? Semua ada. Murah dan mudah lagi. So what gitu loh” saya tersenyum. “ Ya, jelas Cina tidak lakukan secara terang terangan. “ Kata saya menatap ke arah tayangan TV. Saya lirik Dewi pergi ambil kopi dan kue.

“ Apa mitra dagang  Iran hanya China? Tanya dewi seraya letakan kopi di meja untuk saya.


“ Bukan hanya China. Contoh, Iran juga ekspor truk dan alat medis serta obatan ke Venezuela. Itu dilakukan counter trade. Venezuela bayar dalam bentuk Crude, tetapi crude dikapalkan ke China. Iran dapat CNY dari China. Begitu juga halnya perdagangan dengan Malaysia, Suriah, Irak, UEA, Afganistan, Rusia, india, dan Turki. “ Kata saya dan seruput kopi.

“Kok mereka mau ? Dewi mengerutkan kening.

“ Ya karena ada diskon. Misal beli minyak mentah dari Iran dapat diskon sampai USD 10/barel” Kata saya tersenyum.

“ Oh tetap aja bisnis alasannya. “ Dewi kemudian terdiam. Sepertinya dia mikir. 
“ Kan engga mungkin hanya andalkan bisnis minyak dan Gas. Apa lagi keunggulan Iran selain produsen minyak nomor 4 dunia dan Gas nomor dua dunia?  Tanya Dewi kemudian.

“ Iran itu lead di Asia Barat untuk biotechnologi. Top 10 dunia dalam hal Nanotekhnologi, dan key player dalam produksi Drone. Khusus Drone tempur, Iran nomor 5 dunia. Iran menempati ranking 15 dari 145 negara dalam penguasaan teknologi Alutista. Rudal buatan Iran mampu melesat dengan kecepatan antara Mach 13–15. Ini bukan rudal balistik biasa. Ia bisa membuatnya sangat sulit dilacak dan dicegat oleh sistem pertahanan rudal, Iran create itu secara mandiri.  Pendapatan ekspor Iran dari produk teknologi itu lebih besar dari ekspor migas kita.” Kata saya.

“ Wow..” Dewi terpukau.” Gimana bisa tekhnologi  mereka begitu maju padahal sejak tahun 1979 Iran kena sanksi ekonomi?

“ Iran itu kan bangsa Persia.” Saya tersenyum menatap sejurus ke Dewi.  Bisnis dan finance jago dia, tapi geopolitik lemah apalagi geostrategis. “ Persia itu bangsa dengan peradaban tertua dan paling maju dalam sejarah manusia. Bahkan, banyak kemajuan Iran saat ini, baik dalam ilmu pengetahuan, teknologi, maupun filsafat berakar dari warisan intelektual dan budaya ribuan tahun lalu.  Jadi engga aneh bila 90% lebih rakyat Iran itu punya literasi tinggi. Mereka engga doyan dengan Youtube dan sosmed. Jadi kebijakan pengembangan sains oleh negara mudah di apply” kata saya

“ Mana lebih unggul, Persia atau Yahudi? Dewi tersenyum.

“ Gua ogah jawab. “ kata saya cepat. Saya diam aja. Karena saya anggap setiap manusia terlahir sama. Hanya lingkungan yang membuat manusia berbeda “ Ale, jangan anggap gua bawel. Yang gua suka sama lue ya ngobrol. Apalagi gua tahu lue udah lama punya bisnis dengan Teheran. Dan punya mitra global orang Yahudi“ Kata Dewi sambil urut pundak saya dari belakang. Duh mulai gaya lama. Bujuk.

“ Dua bangsa itu punya keunggulan sama. “ terpaksa jawab juga” Misal, Yahudi hebat dalam hal logika, sains, Persia jago dalam hal filsafat dan rekayasa.  Kan sama saja. Sama sama cerdas tentunya.” Kata saya.

“ Jadi apa akar masalahnya sampai mereka musuhan?

“ Akar masalahnya Iran berseteru dengan AS.  ” Saya perbaiki duduk saya. “ tadinya waktu Iran era shah reza Pahlevi yang jadi golden boy AS, hubungan Iran dan Israel bagus sekali. Kerjasama intelligent terjadi. Bahkan iran termasuk yang mengakui negara Israel secara de facto. Tetapi sejak 1979, Shah dijatuhkan oleh revolusi Islam Iran, sejak itulah hubungan iran dan Israel berubah jadi permusuhan. “

“ Oh karena alasan idiologi dan agama ya? Dewi menyimpulkan.

“ Waduh Dew, ini bisa panjang ceritanya” saya berdiri mau luruskan kaki. “ Apapun alasan tidak penting lagi. Yang jelas antar mereka udah to be or not to be. “ sambung saya sambil jalan ke arah smooking room. Eh Dewi malah ngikuti.

“ Apa alasan esensi AS musuhan dengan Iran? Tanya Dewi saat sampai di smooking room.

“ Awalnya setelah perang dunia ke dua, AS ingin menancapkan pengaruh geopolitik dan geostrategis di Timur Tengah. Tapi setelah tampilnya rezim shiah di Iran. Keadaan jadi lain. Iran juga mau tancapkan pengaruh syiah-nya di Lebanon, Palestina, Yaman, Irak, Suriah. Itu kan lingkungan geostrategis AS. Tentu saling berhadapan antara AS dan Iran” Kata saya sambil hembuskan asap rokok.

” Hanya saja AS gunakan Israel sebagai watchdog di Timur Tengah dan terlibat dalam proxy war. ” Sambung saya.

” Mengapa Israel mau jadi proxy?

” Panjang lagi ceritanya. ” Jawab saya dengan tersenyum. ” Namun yangn menjadi rumit belakangan China dan Rusia tumbuh  jadi negara maju. Yang juga punya kepentingan geostrategis di timur tengah. Ya manjang dah mainnya. Karena Rusia dan China bantu Iran secara politik, dan ekonomi. Gitu aja.” Lanjut saya. Terdengar panggilan boarding.Kami segera ke gate departure.

“ Mengapa harus ada perang dan jatuh korban. Mengapa ? Kata Dewi kepada dirinya sendiri setelah di dalam pesawat.

“ Perang era sekarang engga seperti 10 tahun lalu. Yang mengandalkan manusia dan senjata serbu konvensional. Sekarang era electronics warfare, cyber warfare, information warfare, high tech dan AI. Jadi bisa diminimalkan korban prajurit. Hanya menyasar target militer. Kalaupun sipil kena ya engga fatal. Bahkan udah engga ada lagi dogfight seperti di film Top Gun. Sekarang pesawat tempur lawan bisa dijatuhkan dengan jarak lebih 100 KM, bahkan saat mau take off udah di lock oleh target rudal udara ke udara. “ kata saya.

Terkadang Tuhan tidak mengubah situasi, karena Dia ingin situasi itu mengubah kita. Itu pelajaran bagi kita yang berakal untuk dapatkan hikmah. Tentu rakyat Iran dan Israel paham itu. Dan mereka sedang menjalani takdirnya. Dua bangsa yang punya sejarah panjang dan identitas yang kuat, berhadapan dalam satu medan berseteru. Yang pasti mereka bangsa yang cerdas. Tidak mungkin perang saling menghabisi. Akan selalu ada cara mereka berdamai

Mengapa kita tidak belajar dari kehebatan orang Yahudi dalam bisnis. Kegigihan mereka menciptakan kreatifitas dan inovasi untuk cara mereka survival sebagai etnis minoritas di planet bumi ini. Mengapa kita tidak belajar dari orang Persia yang bisa survival ekonominya tanpa kehilangan dignity. Mandiri dalam bidang technology walau diembargo.

Lantas apakah kita sebagai bangsa Indonesia mendapatkan hikmah dari mereka ? Atau hanya rame membahas dan membela jagoannya masing masing ? saya berusaha memejamkan mata untuk tidur di dalam pesawat


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Satu tanggapan untuk “Israel dan Iran ?”

  1. kawaiiscrumptiously73df0ce117 Avatar
    kawaiiscrumptiously73df0ce117

    yahudi hebat dalam bisnis, tapi dungu dengan dogma bangsa pilihan tuhan, mau menyelenggarakan ritual yg mereka yakini ritual itu dapat menguasai dunia

    Suka

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca