
“ Saya pernah merasa sangat dekat dengan Tuhan? Sehingga saya tidak merasakan apapun kecuali euphoria yang sulit digambarkan. “ Kata saya kepada Piory, CEO SubHolding Yuan. Ingat kali pertama kenal dengan Piory di pesawat. Penerbangan dari Tokyo – Hong Kong. Saat itu usia saya 40an tahun. Usianya 35 tahun. Kini kami sudah menua. Tetap bersahabat dan bermitra dalam bisnis.
Ceritakanlah..Kata Piory tersenyum
Tahun 1984 ketika saya sedang sholat ashar di Masjid Benhil. Listrik dimatikan seketika. Semua orang yang sholat ditangkap. Digiring ke Laksus. Saya baru dibebaskan 10 hari kemudian. 10 hari terberat kata orang. Karena selama 10 hari saya disiksa setiap hari. Luka dikepala kering sendiri tanpa diobati. Saat itu saya merasa sangat dekat dengan Tuhan. Saya merasakan euphoria yang amazing.
Saya tidak memelas kepada Tuhan dengan perlakuan aparat itu. Saya hanya berizikir. “ La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minaz-zalimin. Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. “. Ya, saya bukan pemberontak. Saya pedagang. Saya berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Ini bukan antara saya dan rezim Soeharto. Tetapi antara saya dan Tuhan.
Medio akhir tahun 90, Saya pernah ikut program healing di Ponpes di suatu desa di Banten. Saya harus melalui ritual puasa selama 40 hari. Saya hanya berbuka puasa dengan air putih dan nasi putih tanpa sayur. Setiap hari seusai sholat melakukan wiritan. Setiap tengah malam bangun untuk sholat tahajud tanpa tidur lagi sampai subuh. Setelah beberapa hari disana ada pengalaman yang menarik. Tengah malam seusai sholat tahajud saya melihat Tuan Guru sedang duduk seperti orang bersemedi di masjid.
“ Saya perhatikan setiap malam kamu bangun dan melaksanakan ritual sholat. Sangat khusu. “ Terdengar suara. Tapi saya tidak tahu dari mana sumber suara itu. Tuan Guru nampak tersenyum ketika melihat saya kebingungan mencari sumber suara. “ Itu saya yang bicara. Saya menggunakan telepati bicara dengan kamu. Dengan bahasa ibumu“ Nampak wajahnya tersenyum. Langsung saya duduk menghadap dia.
“ Bagaimana anda bisa bicara dengan saya menggunakan bahasa ibu saya “
“ Persepsi saya tentang kamu bukanlah kamu seperti ujud mu.”
“ Jadi apa ?
“ Gelombang pikiran, dan itu adalah energi. Makanya tidak sulit bagi saya masuk kedalam pikiran kamu, melalui gelombang itu.”
“ Bukankan energi manusia dibatasi oleh ruang dan waktu. Jadi bagaimana mungkin anda bisa masuk kedalam pikiran saya.”
“ Energi memang dibatasi ruang waktu tapi pikiran membebaskan itu.”
“ Pikiran apa ?
“ Tentang persepsi. Bahwa semua materi itu tidak ada. Yang ada hanya Tuhan.”
“ Lantas kita dan alam ini apa ?
“ Itu hanya visualisasi dari pikiran kita saja. “
“ Bagaimana dengan perasaan lapar, lelah, kecewa, dan senang, sakit, itu nyata ada dalam diri setiap manusia “
“ Itu manifestasi dari pikiran kita.”
“ Apa artinya itu semua? Bingung saya”
“ Semua yang ada disemesta ini tidak ada. Semua yang kita rasakan juga tidak ada..
‘ Tida ada ? Yang ada apa ?
“ Yang ada hanyalah Tuhan. Tuhan memvisualkan semesta kepada kita agar kita mengagungkan Dia. Tuhan memanifestasikan pikiran lewat perasaan untuk kita mengagungkan Dia. Semua karena Dia. “
“ Oh…bagaimana dengan agama ?
“ Agama adalah kunci kamu memasuki gerbang keagungan itu dan menemukan rahasia tentang Tuhan.”
“ Caranya ?
“ Tiap agama punya cara yang diajarkan langsung oleh Tuhan melaui utusanNya.”
“ Untuk apa rahasia Tuhan ditemukan kalau toh pada akhir kita tidak ada.”
“ Untuk menunjukan Dia Maha Agung, tak terdefinisikan oleh apapun. Yang lain lenyap, bahkan kampung akhiratpun tidak kekal. Yang kekal hanya Tuhan, karena memang existensi Tuhan adalah Tuhan itu sendiri, bukan yang lain.
Setelah pembicaraan itu , sehabis sholat subuh saya lebih banyak tafakur tentang Tuhan. Lambat laun persepsi saya tentang Tuhan terbentuk. Bahwa tiada ada apapun di semesta ini selain Tuhan. Hanya Tuhan semata. Makanya tanpa disadari saya terus bertafakur tetang itu saja. Tanpa disadari saya tidak lagi merasa lapar bila makan sekali sehari. Yang lebih mencengangkan adalah saya bisa bangun tidur tepat waktu sesuai kehendak saya tanpa di bangunkan oleh alarm. Cukup saya berkata kepada diri saya “ Tuhan bangunkan saya jam 3 pagi.” Maka terjadilah.
Hari ke 40 usai sudah ritual healing saya di Ponpes. Malamnya saya bermimpi entah darimana suara datang namun saya melihat cahaya dibalik suara itu “ Kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau belaka. Dan sesungguhnya disisi Tuhan kekal, disisi makhluk lenyap. Maka tidakkah kamu memahaminya?
Jangan kuasai perasaan kamu karena kebencian, amarah, cinta, pujian, kepada manusia. Jangan kuasai pikiranmu karena sakit dan sehat. Jangan kuasai pikiranmu karena harta, jabatan dan kepintaran. Apapun yang terjadi di alam ini adalah cara Tuhan menampakan diriNya dan menyebut diriNya Maha Agung, penuh pengasih lagi Penyayang. Maka ikhlaslah selalu.
Piory terkesima mendengar cerita saya.
“ Bagaimana kamu bisa dalam situasi hidup mati dan terzolimi, kamu tetap tidak mengeluh kepada Tuhan. Tidak bertanya, mengapa saya. Bahkan kamu mengutuki diri sendiri dalam zikir.” Tanya Piory
“ Saya tidak takut kehilangan nyawa. Yang saya takut kehilangan iman “ Kata saya.
“ Bagaimana bisa sesabar itu dan terkesan naif di tengah kehidupan yang kadang tidak ramah.”
“ Sebenarnya memilih sabar adalah puncak kecerdasaran spiritual tertinggi. “ jawab saya.
“ Mengapa? Piory mengerutkan kening. Saya terdiam. Berpikir bagaimana mencerahkannya. Dia terpelajar. Lulusan Universitas di Belanda. Logika dan sains nya kuat sekali.
“ Hidup ini dibentuk oleh persepsi, kata saya. “ Realitas, dan materi hanyalah persepsi. Bahwa “sekarang” merupakan konstruksi otak, bukan kenyataan objektif; waktu dan “present moment” adalah tipuan budaya dan biologis. Makanya sikap bersabar adalah kesadaran universal yang sejati.”
“ Saya tahu kamu menjawab atas dasar teori yang berusaha menyatukan sains dan agama. Maaf saya tidak percaya kepada Tuhan.” Kata Piory. Saya tahu orang tidak percaya kepada Tuhan bukan karena kebodohan, bukan jahat. tetapi tepatnya arogansi terhadap realitas yang dia yakini. Apa yang tidak bisa dia lihat, itu bukan fakta. Harus ditolak. Saya senyum aja.
“ Mengapa kamu percaya Tuhan itu ada? Tanya Piory lagi. Nah ini harus saya jawab.
“ Memahami eksistensi Tuhan itu tidak dengan analogi, seperti Tuhan yang bersinggasana di langit. Tuhan yang ada di klenteng atau masjid. Di Kuil yang harus disembah. Tuhan tidak terdefinisikan oleh persepsi. Karena Ia bukan ilusi, Tetapi eksis. Yang ilusi justru kita dan semesta ini. Tuhan tanpa awal, tanpa akhir. Tapi Dia hadir dalam setiap bentuk dan peristiwa. “ Kata saya tersenyum.
“ Itukan teori. Semua bilang begitu. Tapi sulit dipahami oleh sains.” Kata Piory. Sikap ini wajar. Telah menjadi topik diskusi dan perdebatan sepanjang zaman. Saya tidak ingin berdebat tentunya.
“ Apakah kamu pernah melihat energi? Tanya saya.
“ Tentu tidak, namun saya bisa melihat benda bergerak karena energi dan merasakan akibat adanya energi. “ jawabnya cepat. Logis.
“ Menurut hukum fisika. Energi tidak diciptakan dan tidak bisa dimusnahkan. Tidak berwujud, tapi menciptakan wujud. Ia tidak terlihat tapi menjadi dasar semua yang terlihat. “ Kata saya. “ Memahami energi saja kita menjadi bukan siapa siapa. Apalagi mempertanyakan keberadaan Tuhan.” Sambung saya. Ya hanya memberi pemahaman kepada dia untuk bersikap dengan akalnya
“Apa maksud kamu bahwa kita bukan siapa siapa?
“ Tidak ada yang sungguh sungguh ada di alam semesta ini. Semua materi termasuk mahkluk hidup dilihat dari fisika kuantum hanyalah getaran energi dalam ruang kosong. Atom yang tadinya kita tahu sebagai pembentuk materi, kini terbukti adalah pola pola probabilitas yang serba tidak pasti. Partikel bukan benda, melainkan gelombang energi. Artinya semua itu ilusi, kecuali energi. Jadi energi sumber dari semua sumber. “ Kata saya merusaha menjelaskan lewat pendekatan sains
“ Bagaimana denga realitas dan fakta?
“ Semua realitas dengan beragam fakta di alam semesta ini sebenarnya satu saja. Mereka terhubung satu sama lain oleh medan energi universal “
“ Artinya energi itulah Tuhan. Begitu ? Piory dengan raut tanda tanya.
“ Saya tidak menyimpulkan begitu. “ Jawab saya cepat. “ Saya hanya mengajak kamu memahami Tuhan. Bahwa Tuhan bukanlah sesuatu yang jauh, misterius. Tetapi bagian dari denyut kehidupan. Kita semua berasal dari pancaran energi yang sama.“ kata saya.
“ Oh I see..” Piory berusaha memahami. “ Kalau kita berasal dari energi yang sama. Mengapa ada yang baik dan buruk. Ada yang kaya dan miskin. Mengapa ? Tanyanya.
“ Dalam fisika modern, khususnya di ranah Quantum Field Theory. Segala sesuatu memang dianggap terlahir dari satu medan kosmik universal, yang kemudian berinteraksi dan memunculkan berbagai gaya fundamental dan partikel-partikel saling berlawanan. “ Kata saya.
” Apa itu Quantum Field Theory? Piory mengerutkan kening.
“ Menyatakan bahwa semua partikel adalah kuanta atau partikel diskrit dari medan yang meliputi seluruh alam semesta. Misalnya, elektron adalah kuanta dari medan elektron, foton dari medan elektromagnetik, dan seterusnya. Dalam kerangka ini, fenomena seperti pasangan materi-antimateri, electron–positron muncul dari interaksi medan kuantum, mencerminkan kekuatan berlawanan yang saling mengimbangi. Nah, baik-buruk, kaya-miskin hanyalah dua sisi dari satu kesatuan. Tanpa salah satu, energi tidak akan seimbang. “ Kata saya.
“ Tapi kan, justru karena itu ketidak adilan terjadi. “ Kata Piory.
“ Itukan persepsi kamu. Tapi bias.. “ Jawab saya cepat.
“ Ya mengapa ?
“ Dalam mekanika kuantum suatu sistem berada dalam superposisi, berbagai kemungkinan. Artinya setelah kita memilih dan peristiwa terjadi, probability runtuh. Dalam konteks sosial, ini mirip aturan, prosedur, agenda publik, atau cara survei dilakukan menentukan hasil keputusan. Ini disebut order effect, yang mengakibatkan beberapa potensi seperti opini, suara, dianggap tidak ada. Akibatnya, sistem sosial yang terlihat netral bisa menghasilkan hasil yang timpang, karena pengukuran sudah bias, bukan karena niat jahat tapi struktur.” Kata saya.
“ Ya mengapa harus begitu ?
“ Itulah tarian kosmik. Tanpa dua bertolak belakang tidak tercipta tarian indah. Saya, kamu dan seluruh alam semesta tercipta. Peristiwa meliputinya. Itu semua sebagai cara Tuhan membanggakan dirinya sendiri. Apapun peristiwa tidak akan mengurangi keagungan Tuhan” Kata saya.
“ Walau saya bingung. Namun jujur saya katakan, ini mencerahkan. “ Kata Piory dengan tersenyum. “ Bagaimana dengan definisi dosa? tanyanya
“Dalam sejarah peradaban. Bahkan Adam dan Hawa keluar dari sorga dan jatuh ke bumi karena berbuat dosa. Artinya manusia pada dasarnya pendosa, namun punya kecenderungan baik. Nah dosa dan kebaikan itu memang imajiner. Kamu tidak bisa memahaminya dengan hukum kausalitas. Hanya melalui ritual agama bisa memahaminya. Dengan agama kita memahami Bahasa Tuhan. Jadi pahami Tuhan dengan bahasa cinta dan pengakuan. “ kata saya.
Piory tertegun
“ Nah, kalau saya bersabar karena sebenarnya saya tidak deal dengan manusia dan peristiwa. Itu hanya antara saya dan Tuhan saja. Dan Tuhan lewat rasul telah mengajarkannya untuk bersabar. Saya patuh karena itu.” Lanjut saya.
“ Luar biasa. Bertautlah agama dan sains. Sederhana dipahami. Mulai sekarang saya harus percaya kepada Tuhan. “ Kata Piory. Saya mengangguk dan tersenyum cerah. Piory pindah duduk sebelah saya. Dulu waktu masih muda, dia charming. Tapi berlalunya waktu persepsi dia tentang saya berubah. Dia hanya ingin jadi sahabat saja.
” Seperti halnya ketika kamu create product hedge fund. Sebenarnya yang kamu create persepsi. Hanya aja dilakukan dengan pendekatan matematika quantitive. Terkesan pasti dan benar. Sejatinya hanya ilusi. Yang kalah maupun yang menang. Yang rugi dan yang untung, hanyalah tarian kosmik..” Kata Piory dalam nada satire dan saya tersenyum masam. Saya rangkul pundak dia dan dia merebahkan kepalanya ke pundak saya. Suasan hening.

Tinggalkan Balasan ke sharkbriefly5304ee00ce Batalkan balasan