
Saya datang ke kantor Awi jam 7 pagi. Mau ambil dokumen penting. Satpam udah kenal saya. Saya langsung ke kamar kerja Awi. Dia belum datang. Padahal saya udah janjian. Dia mau temanin saya ke Singapore. Saat saya datang, kamarnya sedang dibersihkan oleh petugas Cleaning service. Wanita muda. Mungkin usianya dibawah 25 tahun.
Saya berdiri aja dekat pintu masuk. Saya perhatikan. Dari cara dia bersihkan kamar kerja keliatan sekali profesional dan telaten. Sampai toilet di kamar kerja Awi dibuat cingklong. Dia tersenyum kepada saya. “ Bapak supir kantor ya.” Katanya. Saya tahu, perusahaan sediakan kendaraan dan supir untuk staf tugas luar kantor.
“ Kamu udah lama kerja? Tanya saya. Dia engga jawab. Mungkin dia engga dengar. Karena sedang pakai vacum cleaner. Kemudian ketika dekat saya. “ Berapa gaji kamu sebulan ? Tanya saya. Dia tatap saya dengan wajah tanda tanya “ Yang pasti gedean bapak lah. Gaji supir lebih besar dari cleaning service. .” jawabnya sambil terus kerja. ‘ Rp. 5 juta sebulan. Belum termasuk BPJS” sambungnya.
“ Kemarin saya ajukan kas bon Rp 3 juta untuk bantu adik sekolah di kampung. Moga hari ini kantor beri “ katanya dengan wajah sendu. Begitulah keluarga Indonesia.. Gotong royong menyelesaikan masalah. Kakak berkorban untuk adik, itu sudah biasa. Saya juga maklum. Demand lapangan kerja jauh lebih sedikit daripada pasokan tenaga kerja. Tentu posisi pekerja sangat lemah. Apalagi untuk pekerja dengan standar UMR. Perusahaan merasa engga peduli dengan segala keluhan setelah membayar upah.
“ Lulusan apa ?.” tanya saya.
“ D3 ” Jawabnya sambil lalu. Setelah selesai dengan vacum cleaning. Dia ambil kotak sampah di balik kursi kerja. Dia masukan ke dalam kantong plastik. Kemudian dia isi ulang botol pengharum ruangan yang sekaligus pembunuh bakteri.
Saya paham. Ijazah keserjanaan tidak menjamin hidup layak. Bagi wanita itu bekerja sebagai cleaning service adalah cara dia survival di tengah terbatasnya lapangan kerja. Apalagi akibat margin pabrik semakin menurun. Tidak cukup laba untuk bertahan. PHK adalah pilihan yang rasional untuk bertahan. Makanya engga aneh bila gelombang PHK meluas. Maka kerja adalah berkah yang harus disukuri. Rasa sukur itulah membuat survey Harvard menetapkan Indonesia negara paling sejahtera di dunia. Membuat pemerintah happy. How fortunate for governments that the people they administer don’t think, kata Hitler.
Saya keluar ruangan. Duduk di ruang tunggu. Dia lanjut bersihkan ruang tunggu kamar kerja Awi. Duh saya pikir dia mau bersihkan lantai dua. “ Uang jaman sekarang susah nyarinya pas dapat seperti engga ada harga. Semua pada mahal. “ Katanya. Saya terhenyak dengan kata katanya. Terdengar philosofis tetapi itulah realitas.
Inflasi resmi per tahun berkisar 3%. Namun inflasi real terkait dengan biaya transfortasi dan sewa rumah berbeda jauh. Itu dirasakan langsung oleh rakyat. Kenaikannya rata rata 10% per tahun. Biaya itu memenggal 30% dari pendapatan UMR. Sementara selama kurun waktu 10 tahun, kenaikan upah pertahun rata rata 6%-7%. Artinya, kalau deflasi terjadi sekarang, itu bukan karena intervensi pemerintah dalam hal tarif. Tetapi memang daya beli melemah. Vulgarnya walau harga relatif tidak naik namun tidak cukup uang untuk belanja. Mengapa?
Faktanya memang tingkat upah real turun sekitar dua digit. Mengapa? Depresiasi kurs, nilai uang pada tahun 2014 terpenggal hampir saparuh di tahun 2025 terhadap USD. Pada waktu bersamaan produk consumer good naik akibat bahan baku impor. Bahkan kenaikan harga beras dari tahun 2014 sampai 2025 mencapai lebih 100%. Karena nya ruang konsumsi terbatas, apalagi suku bunga KPR naik yang tentu menambah cash out bulanan. Yang kelas middle up menikmati kenaikan suku bunga deposito akibat likuiditas ketat. Namun itu juga alasan mereka menahan belanja.
Tak berapa lama Awi datang. Dia setengah berlari. “ Maaf Ale. Gua tadi malam pulang pagi.” Saya hanya mengerutkan kening dengana alasan keterlambatannya.
“ Wi, tolong beri dia uang Rp 3 juta. “ Kata saya melirik wanita itu. Awi masuk kamar kerjanya. Mengambil dokumen yang saya butuhkan dan setelan pakaian saya. “ Cepat!. Kita kejar waktu boarding” Saya terus melangkah ke lobi kantor.
“ Pak, maafkan saya. “ terdengar suara cleaning service di belakang punggung saya. Saya menoleh. “ Saya pikir tadinya Bapak supir kantor “ lanjutnya dengan menunduk depan pintu kantor
“ Engga apa apa.” Kata saya tersenyum mendekatinya. “Tetap semangat ya. “ Saya tepuk pindaknya. Saya salut dengan sikap wanita cleaning service itu. Walau kerja dengan upah Rp. 5 juta sebulan, tapi punya passion luar biasa. Andaikan di negeri sendiri tidak ada ruang untuk orang seperti dia, mungkin hijrah ke luar negeri bukan pilihan yang buruk. Setidaknya mengurangi beban pemerintah yang kesulitan menyediakan lapangan kerja dan mensejahterakan pekerja. “ Wi, jaga karyawan dengan baik. “ Kata saya. Awi mengangguk sambil setir.

Tinggalkan Balasan ke arbiterkrispycfb64bc6ca Batalkan balasan