
Saat saya masuk cafe. Dari jauh Akok berdiri melambaikan tangan ke saya. “ Tidak akan pernah negara maju itu ingin negara berkembang itu menjadi negara maju. Dia mau kita tetap menjadi budaknya, begitu kata LBP “ Terdengar Akok berkata saat saya sampai di tablenya. Dia sedang bersama temannya. “ Ini kenalkan teman saya. Ale “ Kata Akok kepada temanya. “ Handoko. “ Katanya menyalami saya.
” Lue mau ketemu orang ? tanya Akok.
“ Ya. Ada tamu dari Hong Kong mau ketemu di Ritz. Tapi nanti sejam lagi “ kata saya seraya tersenyum kepada Handoko, yang meresponse saya dengan anggukan ramah. ” Duduk di sini aja dulu? Kata Akok.
” Ganggu engga ? Kata saya. Maklum dia sedang bersama tamunya yang tidak saya kenal sebelumnya.
:” Ah engga. Kita lagi santai saja. ” Kata Akok menegaskan dia tidak sedang business meeting. Ya udah. Saya duduk dan pesan kopi.
“ Ya, benar. “ kata Handoko melanjutkan pembicaraan yang tadi sempat terhenti karena kedatangan saya. “ Pak Presiden bahkan bilang Asing biayai LSM untuk adu domba kita “ lanjutnya. Saya terkejut. Hutang negara udah tembus Rp. 9000 triliun. Index PMI kontraksi. Udah dua bulan berturut turut terjadi deflasi. Angka pengangguran terus bertambah. Daya beli merosot. Tetapi pemerintah tuduh asing mau budaki kita dan gunakan LSM adu domba kita. Itu sama saja tak pandai menari lantai yang berjungkit disalahkan.
“ Menurut saya’..” Terpaksa saya bicara. ” engga ada asing mau budaki kita apalagi mau adu domba. Yang ada karena kita sendiri mau dibudaki dan mau diadu domba. “ kata saya seraya tersenyum. Saya tidak kenal siapa itu Handoko. Tapi Akok teman lama saya. Kami sudah saling kenal pribadi masing masing. Dulu chaos tahun 1998, saya gunakan koneksi saya untuk minta tentara kawal rumah Akok agar tidak kena amok massa.
“ Oh ya” Kata Handoko. “ Gimana perspektif anda ? tanyanya.
“ Disaat sekarang hubungan budak itu hanya ada pada term sheet hutang. Sejak era Orba kita yang undang asing datang lewat utang bilateral atau multilateral IGGI dan CGI. Karena itu Freeport kangkangi kita lewat KK. Kemudian era reformasi kita berhutang lewat SUN dan tahun 2008 kita perluas skema hutang jadi SBN. Kita bukan lagi dikendalikan negara asing tetapi pasar. Mereka orang kaya yang kendalikan kita. Itu lebih mengerikan.” Kata saya sambil nyalakan rokok dan seruput kopi.
“ Semua negara kan berhutang. Perusahaan juga berhutang“ kata Akok berusaha berargumen seakan utang itu biasa saja. “ Benar. Hutang itu keniscayaan di era modern” kata Handoko mendukung argument Akok.
“ Kan tadi saya katakan utang terkait dengan Term sheet. Artinya kelayakan berhutang dalam posisi equal ada pada term Sheet, yang diukur dari tingkat yield. Semakin rendah yield maka semakin tinggi bargain negara debitur itu dihadapan kreditur. Tidak ada penjajahan. Hubungan equal. Itu smart namanya.” Kata saya tersenyum.
“ Maksud anda negara lain utang itu bukan terjajah? Darimana tahunya? “ Kata handoko mengerutkan kening.
“ Contoh di ASEAN. Yield obligasi tenor 10 tahun untuk Malaysia berkisar 3-4%. Thailand dan Singapore berkisar 2-3%. Vietnam 4-5%. Apalagi Jepang 1,07%. Rendah sekali. Nah bandingkan Yield SBN berkisar 6-7% Yield tinggi itu menjajah. Bukan lagi business as usual.” Kata saya.
“ Mengapa begitu besar perbedaannya ? Tanya Akok.
“ Investor tahu bahwa bagi kita utang itu sudah ketergantungan. Bukan lagi berhutang untuk investasi tetapi termasuk belanja rutin, bayar utangpun pakai utang“ kata saya dengan tersenyum dan hembuskan asap rokok. “ Nah bayangkan. Kalau di perusahaan dalam kondisi seperti itu. Saya yakin lender udah tempatkan Watchdog dalam management. Lama lama kena hostile. Di rumah tangga, tiap hari ribut dengan bini. Lama lama bisa bubar rumah tangga.” Sambung saya. Handoko tersenyum pahit dan Akok tersenyum renyah.
‘ Tapi kan debt to PDB ratio kita termasuk terendah dibandingkan negara lain “ kata Handoko.
“ Walau debt to PDB ratio mereka lebih tinggi dari kita. Namun Yield obligasi mereka tetap rendah. Artinya bagi mereka, utang itu bagian dari business as usual. Semakin besar utang, semakin tinggi trust. Lihat aja data DSR mereka rendah. Beda dengan kita. Walau debt to PDB rendah namun sifatnya aneksasi. Mengapa? Tahun ini saja, lebih 1/3 atau 45% penerimaan pajak habis untuk bayar bunga dan cicilan. Itu kan merantai tangan pemerintah. Semakin sempit ruang fiskal. Makanya yield surat utang kita tinggi “ kata saya dengan santai.
“ Tapi pertumbuhan ekonomi kita termasuk tertinggi di antara negara G20, dan negara berkembang. Masalahnya dimana? “ Tanya Handoko lagi.
“ Benar. “ Kata saya mengangguk.” Namun bukan berarti kita lebih baik. Karena angka pertumbuhan itu tergantung pendekatan politik ekonomi masing masing negara. Bagi negara lain pendekatan pertumbuhan bersifat inklusif. Sementara kita kan pendekatanya masih bersifat ekstraksi. Yang kaya semakin kaya yang miskin semakin blangsat. “ Kata saya seraya seruput kopi.
“ Kalau begitu, anda anggap kami di pemerintah dan DPR tolol semua. Engga ngerti bagaimana seharusnya mengelola negara. “ Kata Handoko mencibir. Saya agak kaget kala mendengar dia sebut “ kami” artinya dia bagian dari elite. Oh baru saya ngeh. Akok kan bisnisnya rente. Pasti temanya kebanyakan elite.
“ Menurut saya mereka tidak tolol. Tapi smart. Smart mengelola bendahara negara menjadi financial resource. “ kata saya acungkan jempol. Handoko tersenyum senang. “ Tapi smart sebatas kekuasaan lima tahun saja. Tidak berspektrum jangka panjang.” sambung saya. Handoko tersenyum masam.
“ Maksudnya ? Handoko mengerutkan kening
“ Perhatikan. Tiap tahun PDB meningkat, tentu semakin besar peluang berhutang tanpa menabrak pagu hutang yang ditatapkan UU. Artinya APBN itu memang di desain ekspansif. Agar PDB meningkat dan bisa di-leverage untuk menutupi defisit. Sehingga pemerintahan bisa terus berjalan termasuk ongkosi populisme untuk dapatkan acceptable rate dari rakyat“ Kata saya seraya hembuskan asap rokok.
“ Hanya saja, hutang engga bisa dibayar pakai PDB. Harus cash. Harus pakai uang pajak. Dan tax ratio rendah. Akibatnya DSR semakin membesar. Cash flow APBN terganggu dengan menyempitnya ruang fiskal. Apes nya itu terjadi pada era Prabowo. “ Sambung saya.
Handoko terdiam. Tak berapa lama tamu saya datang menemui saya di table. Wanita bule. Dia tetap berdiri saat bicara. “ They’re all at the Ritz waiting for you.” katanya. Saya kibaskan tangan untuk dia pergi dulu. “ I’ll catch up later. “ Kata saya singkat. Saya melirik Akok dan Handoko dengan tersenyum. “ Ale ini teman lama saya. Sejak tahun 2004 dia hijrah bisnis ke China. Engga tahu saya apa bisnis nya. Yang pasti dia berbisnis dengan mitra globalnya.” Kata Akok. Saya berdiri dan menyalami Akok dan Handoko untuk undur diri.
And to maintain our liberty, we must not allow our rulers to burden us with perpetual debt. We must make a choice between economy and liberty, or luxury and immortality. I am in favor of a truly frugal and simple government, applying all possible savings in the public revenue to pay off the national debt; and not an increase in the number of officials and salaries merely to make the people partisan, and increase, by all means, the public debt, on the principle that it is a public blessing.- Thomas Jefferson –

Tinggalkan komentar