
Ada teman nitizen mengirim proposal bisnis ke saya. “ Pak, mohon waktu bapak. Saya mau diskusi soal rencana bisnis saya ini. Saya perlu nasehat bapak.. “ Tulisnya dalam email. Setelah sebulan saya balas emailnya. Saya bersedia bertemu. Saya undang dia ngobrol santai di Café yang ada di Mall PI. Karena menyatu dengan Gedung Rep Office Holding MNC, yang kebetulan saya sebagai advisor. Jadi saya tidak perlu jalan keluar dari Gedung untuk ketemu.
Saat ketemu. Dia perkenalkan dirinya. Namanya Vivian. Sarjana Tekhnik dari PTN. Usianya mungkin belum 40 tahun. Tentu proposalnya terkait dengan keilmuan dia.
“ Gimana pendapat bapak dengan proposal saya.” Tanya Vivian.
“ Membuat platform IT untuk clearing dan sekaligus trading bukan big deal. Era sekarang semua tersedia. Bisa beli kok tehnologi itu di pasar. Yang esensi dari platform clearing dan trading itu adalah jaminan ekosistem. Yaitu ketersediaan jaminan stok minimal, dukungan logistic, trade financing atau liquidity provider. Untuk hal itu tidak bisa menggunakan kemitraan saja. Karena clearing itu terkait dengan trust. Artinya kamu harus kuat di offline, bukan hanya online. “ Kata saya. Waitres datang menawarkan menu. Saya pesan kopi dan dia pesan juice jeruk
“ Kamu tahu kan Singapore dan Malaysia? “ Tanya saya. Dia mengangguk. “ Singapore bisa jadi clearing perdagangan crude oil dan BBM, juga CPO karena punya ekosistem dan fasilitas hub trading komoditi. Malaysia lead dalam system perdagangan derivative CPO, itu juga dengan alasan sama. Yaitu tersedianya ekosistem. Walau Indonesia penghasil CPO dan Minyak lebih besar dari dua negara itu, kita hanya jadi follower saja. “ Kata saya. Dia menyimak dan terhenyak.
“ Mengapa Indonesia tidak sehebat Singapore dan Malaysia dalam hal perdagangan global komoditi. Padahal SDA kita besar sekali? Tanya Vivian.
“ Karena kita tidak punya kapabilitas membangun ekosistem bisnis Kita engga punya trust. ” kata saya tersenyum. “ Sehingga engga qualified terhubung dengan clearing international seperti Hong kong, Boston dan hub trading utama lainnya di dunia. “ Sambung saya.
“ Pasti karena tidak ada kepastian hukum” Tebaknya. Saya senyum aja. Memang rumit membahas soal kepatian hukum di Indonesia. Salah salah kita bisa dianggap oposan. Walau kita menerima demokrasi namun kita belum siap transfaransi. Itu masalahnya.
Dia terdiam. Saya seruput kopi dan hisap rokok.
“ Pak..” serunya. “ Apalagi peluang bisnis yang bisa saya kerjakan. Please advice ? pintanya. “ Saya single parent. “ Katanya. Saya diam saja namun berusaha memberi sikap empati. “ Sejak menikah saya sudah bisnis bersama suami. Tetapi karena COVID business kuliner kami collapse. Saya banting setir jadi trader batubara. Kandas lagi. Akhirnya rumah tangga saya juga ikut tumbang” Sambungnya.
Saya diam namun saya berpikir dan merasakan. Wanita depan saya ini petarung dalam kehidupan. Dia tidak akan mudah dikalahkan. Dari matanya kelihatan dia punya semangat no way return. Sekali tekad berbisnis dia tidak akan surut, The show must go on.
“ Kamu tahu citronella oil? Tanya saya kemudian. Dia menggeleng. “ Daun sereh tahu? Tanya saya lagi. Dia mengangguk tegas. “ Daun sereh itu kalau diolah jadi minyak esensial harganya per kg mencapai Rp.600.000. Biaya produksi termasuk daun sereh per kg hanya Rp. 150.000. Untung Per kg Rp. 450.000. Nilai tambahnya 300%. Kalau dimurnikan minyak esensial itu, harganya jadi Rp 1 juta per kg. Kalau dilanjutkan lewat proses difraksinasi harganya jadi Rp 5 juta per kg. Apa ada bisnis dengan nilai tambah sebesar itu ? “ Kata saya seraya seruput kopi.
Saya memang suka provokasi kaum terpelajar untuk membangun hilirisasi pertanian dalam skala industri. Peluang bisnis dan kaya dari hilirisasi pertanian. Daripada focus kepada Industri high tech yang tak mungkin kita menang bersaing dengan negara maju, lebih baik bermain di bidang yang kita kuasai dari segi bahan baku, SDM dan market domestic. Ini peluang bagi kaum terpelajar
Apalagi kehadiran Industri sangat membantu sebagai market undertaker. Pasar yang terjamin akan membuat likuiditas lancar. Petani jadi bergairah. Karena bukan lagi sekedar survival tetapi memang growth menjadi kaya. Tapi itu tidak mudah. Industri butuh penguasaan business process terkait dengan product knowledge, market vision, tekhnologi, financial dan management. Hampir tidak mungkin dipahami oleh petani yang tidak terpelajar. Makanya terjadinya transformasi Industri tanpa visi ekologi pertanian hanya akan melahirkan estate food dan pada gilirannya merugikan rakyat kecil dan lingkungan.
“ Market nya gimana? “Tanya Vivian. Saya tersenyum. Ini ciri khas orang terpelajar yang sudah pengalaman bankrupt. Sangat concern dengan market. “ Sampai hari ini kita masih impor minyak esensial. Yang impor pabrik phamasi, kosmetika, farfum dan F&B. Total market global tahun kemarin aja sudah diatas USD 15 miliar atau Rp. 200 triliun lebih. “ kata saya.
“ Negara mana saja pesaing Indonesia? Tanya Vivian lagi. Ini pertanyaan terkesan hati hati. Sangat concern dengan factor kompetisi.
“ Sebenarnya persaingan itu tidak ada. Karena tiap negara kan punya produk esensial oil sendiri. Tergantung apa yang mudah ditanam massal. Contoh India, menguasai 80% market Mint oil. Itu dari tanaman Mint. China menguasai market untuk tea tree oil, garlic oil, camphor oil. Nah Indonesia kan bisa focus ke minyak sereh, jahe dan bisa juga Frankincense essential oil atau menyan. “ Kata saya.
“ Oh I see. “
“ Jadi engga usah kawatir dengan persaingan. Yang jelas permintaan tinggi dan trend nya terus meningkat dari tahun ke tahun. “ kata saya seraya seruput kopi.
“ Apakah tekhnologinya tersedia? Tanyanya. Nah ini lagi lagi ciri khas orang terpelajar. Paham hukum kausalitas. Tida ada yang too good to be true.
“ Sejak seabad lalu sudah ditemukan tekhnologinya. Seperti cara Penyulingan Uap. Cara itu masih dilakukan oleh pengrajin informal di desa. Yang agak canggih mengunakan Solvent Extraction atau Ekstraksi dengan Pelarut seperti etanol. Yang canggih dan modern dalam skala industry biasanya menggunakan CO₂ Supercritical Extraction. Mesin untuk proses produksi tersedia di pasar, seperti Ketel distilasi uap, Kondensor dan oil separator, Pompa uap atau boiler, CO₂ extractor untuk high-end, Lab QC chromatography, viscometer, dll “ Kata saya.
“ Kira kita apa resikonya ? Tanya Vivian. Nah ini ciri khas kaum terpelajar. Selalu ingin tahu tantangannya. Dan biasanya setelah tahu, rasa takut gagal lebih dominan. Akhirnya rencana itu kandas begitu saja. Makanya engga banyak kaum terpelajar mau terjun ke bisnis.
“ Critical point nya ada pada pengadaan bahan baku. Apakah bergantung kepada petani atau langsung masuk ke hulu dengan menanam sendiri atau bermitra dengan petani. Ketiganya pilihan beresiko tentunya. Titik kritis berikutnya ada pada proses produksi. Terkait dengan quality yang sangat sensitive.”
“ Contohnya apa yang dimaksud dnegan sensitive ? Tanya Vivian antusias.
“ Maklum skala industri kan mass production. Harus well management. Kesalahan 5-10 % saja dalam proses distilasi, itu pasti reject. Diatas 0,2% saja kadar air yang ada pada esensial oil, reject. Ada saja sedikit jamur pada stok atau bakteri pada alat, ya rejeck juga. “ Kata saya tersenyum. “ disamping itu harus tersedia stok bahan baku yang secure dari kontaminasi jamur. Maklum kalau jadi supply chain industry global harus on time delivery. Kalau stok tidak terjamin, produksi bisa terlambat delivery. Pasti kena reject market “ Kata saya.
“Wah..besar juga resikonya. Udah seperti pabrik obat. “ Kata Vivian dengan serius. Sepertinya dia mikir. “ Kira kira dalam skala industri menengah berapa investasinya? Tanya nya.
“ Sekitar USD 1 juta, untuk kapasitas produksi 800 Kg essential oil per hari dengan mengolah 0,5-1 ton bahan baku per jam. Itu tidak termasuk tanah dan bangunan pabrik. Tentu belum termasuk modal kerja “ kata saya,
Dia terdiam seperti nya mikir untuk mengatakan sesuatu tapi ragu. Ya saya diamkan saja. “ Pak, bisa engga saya awali jadi trader. Saya beli esensial oil dari UKM dan saya jual ke bapak “ katanya.
“ Maaf, saya engga bisa bantu. “ kata saya tersenyum.
“ Apakah kalau saya berniat masuk ke industry hilirisasi pertanian, bapak bisa bantu? Tanyanya. Saya senyum aja. Dia maklum. Kemudian pembicaraan tidak lagi ke bisnis. Setelah 1 jam, saya panggil waitress untuk bayar bill. “ saya masih ada janji ketemu orang. Sehat dan tetap semangat ya” kata saya mengakhiri pertemuan.
Sikap Vivian itu wajar. Itu mindset survival. Cari jalan cepat untung. Dia sedang berproses. Tentu belum pengalaman bagaimana membangun network. Saya trader sejak usia 20 tahun. Saya kuasai product knowledge dan market. Tentu engga mungkin saya deal dengan orang yang sedang coba coba. Bisnis itu berlaku hukum besi. Engga qualified ya tersingkir. Mana ada yang too good to be true dari berharap uluran tangan orang lain. Semua butuh proses. Semoga dia paham sikap saya.

Tinggalkan Balasan ke butteryelectronic2309f9a470 Batalkan balasan